
Teriakan yang dilakukan Alberto saat memanggil nama Ziya itu terdengar hingga keluar ruang kamar pribadinya. Biasanya suara yang dikeluarkan dari ruang kamar pribadi Alberto ini sama sekali tidak bisa didengarkan oleh siapapun.
" Ziya,,,," Teriak Alberto memanggil Ziya ketika melihat Ziya sudah melemah dan tidak sadarkan diri.
Tapi, karena suara Alberto terlalu besar sekali itu sehingga suaranya menggema dan mampu menembus sistem kedap suara dari ruangan itu. Semua pengawal diluar begitu terkejut ketika mendengarkan suara teriakan dari dalam ruangan Alberto ini.
" Itu suara Tuan Besar ?" Gumam Vena saat mendengarkan suara teriakan Alberto yang sedang memanggil nama majikannya itu.
Karena, Vena saat ini sedang berada di dalam kamarnya Ziya dan Ziya sendiri tidak tahu bahwa kamarnya Ziya ini sengaja direnovasi baru oleh Alberto tepatnya di dalam ruangan penelitian khusus untuk Ziya. Ruangan itu sengaja diberikan sebuah penyekat sistem suara sehingga siapapun yang berteriak saat berada di dalam kamarnya Ziya maka, orang yang berada di dalam kamarnya Alberto pasti akan mendengarkan teriakan itu. Dan, juga sebaliknya ketika ada seseorang yang berteriak dari kamarnya Alberto maka seseorang yang sedang berada di kamar itu akan mendengarkannya juga.
" Haah!! kenapa sepertinya suara Tuan Besar berteriak memanggil nama Nyonya,," Gumam Vena yang tidak terlalu jelas nama siapa yang sedang dipanggil oleh Alberto saat ini. Karena, Vena hanya sedikit mendengar bahwa Alberto sepertinya sedang memanggil nama Ziya atau Zoya.
" Lebih baik aku segera memeriksakannya kemungkinan ada sesuatu yang terjadi pada Nyonya,," Ucap Vena segera keluar dari kamarnya Ziya.
Seperti disaat ini Vena yang sedang berada di dalam kamarnya Ziya, sehingga Vena sedikit jelas mendengar suara teriakan dari Alberto. Karena, merasa khawatir dengan keadaan yang ada di dalam kamar Tuan Besarnya itu, Vena segera berlari keluar menuju depan kamar Tuan Besarnya itu.
" Kenapa tidak ada suara dari kamarnya Tuan,," Gumam Vena ketika langkahnya itu telah sampai di depan pintu kamarnya Alberto.
Lalu, karena merasa penasaran dengan pendengarannya itu, Vena segera bertanya kepada seorang pengawal yang sedang menjaga di depan kamar pribadi Alberto.
" Maaf saya mau bertanya, apakah kalian mendengar suara Tuan Besar, berteriak ?" Tanya Vena kepada pengawal Alberto.
Ketika Vena memberikan pertanyaan itu kepada pengawal yang ada di depan pintu kamar pribadinya Alberto. Wajah pengawal itu spontan berubah menjadi penasaran akan ucapan yang disampaikan oleh Vena saat ini.
" Kami tidak mendengarkan suara apapun Vena,," Jawab pengawal itu sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi, saya mendengarkan suara Tuan Besar dari dalam sedang berteriak memanggil nama Nyonya Zoya," Ucap Vena dengan begitu yakin dan meyakinkan semua pengawal itu.
Vena saat ini begitu serius dan juga yakin atas pendengarannya itu. Namun sayangnya semua pengawal itu seolah tidak mempercayai ucapan yang disampaikan Vena saat ini kepada mereka.
" Kau jangan berbohong Vena, Tuan Besar sedang di dalam bersama Nyonya Zoya istrinya sendiri, dan tidak mungkin Tuan Besar berteriak dari dalam kamar, hanya kau saja yang mendengarkannya, sementara kami sama sekali tidak mendengarkan apapun dari dalam kamar pribadi Tuan." Bilang pengawal itu dengan keyakinan kepada Vena.
" Tapi, saya mendengarkan suara teriakan Tuan dari dalam kamar Nyonya Zoya." Ucap Vena lagi sambil memberitahukan tentang kebenaran ucapannya itu.
" Heemm tapi sampai saat ini kami tidak mendengarkannya sedikitpun,," Jawab pengawal itu yang bersikeras dengan pendengarannya sendiri.
" Ya sudah kalau kalian tidak percaya, mari ikut saya ke kamar Nyonya Zoya dan kalian bisa mendengarkan sendiri suara Tuan Alberto yang sedang berteriak histeris memanggil nama Nyonya Zoya." Ucap Vena untuk meyakinkan semua pengawal dan membuktikan kebenaran dari ucapannya itu.
" Jelas sekali kalian tidak bisa mendengar suara teriakan dari Tuan Besar, karena, kalian semua pasti sudah tahu bahwa di dalam kamar pribadi Tuan Besar ini sudah terpasang kedap suara. Jadi, semua orang yang berada diluar tidak akan bisa mendengarkan suara dari dalam ruangan ini." Ucap Vena sedikit menggerakkan pikiran dari semua pengawal itu.
" Benar juga yang kau katakan Vena," Jawab pengawal itu sedikit tergerak karena Vena mendengarkan penjelasan kebenaran yang ada di dalam ruang kamar pribadi Alberto.
" Heemm, benar jika kalian sudah mendengarnya maka kalian bisa tahu apa yang sedang terjadi kepada Tuan dan juga Nyonya." Ucap Vena lagi kepada semua pengawal itu sehingga semua pengawal yang mendengarkan perkataan Vena dengan segera beralih masuk ke dalam kamar pribadi Ziya.
Saat semua pengawal itu masuk ke dalam kamar pribadi Ziya, ternyata begitu jelas bahwa terdengar suara tangisan Alberto memanggil nama Ziya.
" Ziya,,, jangan pergi seperti ini, kau harus sembuh,," Suara Alberto yang terdengar oleh pengawal sedikit samar-samar pada pendengarannya itu.
Karena, merasa perkataan yang baru saja disampaikan oleh Vena betul semuanya, dengan segera semua pengawal itu berpisah menjadi dua bagian bagian pertama berinisiatif untuk segera menggedor pintu kamar Alberto. Dan bagian kedua dengan segera memanggil Axeloe adiknya Alberto yang terkenal akan keahliannya dalam dunia kedokteran.
" Kau benar Vena,," Ucap pengawal itu kepada Vena.
" Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Nyonya Zoya, sehingga Tuan Besar berteriak memanggil namanya." Gumam pengawal itu seketika membuat Vena kaget dan cemas.
" Apa?? ada sesuatu yang terjadi kepada Nyonya ?" Tanya Vena ketika mendengarkan perkataan pengawal yang memperkirakan keadaan sedang terjadi.
" Ya, dan mari kita berpencar, kau segera panggilkan Tuan Axeloe sekarang juga dan kita segera membuka pintu kamar Tuan, untuk memastikan kejadian yang ada,," Ucap pengawal pribadi Alberto yang begitu cepat melakukan sebuah strategi.
Tanpa memikirkan waktu yang panjang lagi dengan segera seorang pengawal yang sudah mendapatkan sebuah tugasnya untuk memanggil Axeloe melangkahkan kakinya dengan cepat ke lantai bawah. Sedangkan pengawal lainnya sibuk menggunakan alat yang diletakkan di telinganya untuk menghubungi Alberto. Dan satunya lagi sebisa mungkin harus segera membuka pintu kamarnya Alberto.
Dan, Vena sendiri dengan wajah penuh kekhawatiran dan kecemasan sehingga hanya bisa melangkah mondar-mandir sambil berdoa supaya tidak terjadi apa-apa kepada majikannya yang begitu baik bagaikan seorang bidadari.
" Oh God, aku mohon jangan berikan Nyonya masalah yang begitu memberatkan dirinya. Nyonya orang yang begitu baik, tolong kasihi dia, semoga tidak terjadi apa-apa pada Nyonya ku tuhan,," Ucap Vena sambil melangkah mondar-mandir dan berdoa terhadap keselamatan majikannya saat ini.
Ketika beberapa pengawal itu berusaha untuk membuka pintu kamar pribadinya Alberto, tiba-tiba pengawal yang sedang melakukan tugasnya ini seketika kaget melihat wajah Alberto memang seperti orang yang sudah menangis dan segera memerintahkan mereka untuk memanggil Axeloe saat ini juga.
Ketika beberapa pengawal itu berusaha untuk membuka pintu kamar pribadinya Alberto, tiba-tiba pengawal yang sedang melakukan tugasnya ini seketika kaget melihat wajah Alberto memang seperti orang yang sudah menangis dan segera memerintahkan mereka untuk memanggil Axeloe saat ini juga.
" Panggil Axeloe sekarang juga,," Ucap Alberto yang memberikan perintahnya itu kepada semua pengawal yang ada di depan pintu kamarnya itu.
" Sudah ada yang kuberi perintah untuk memanggil Tuan Axeloe, Tuan,," Jawab pengawalnya itu dengan jelas.
" Heemm setelah dia datang, segera saja masuk ke dalam,," Gumam Alberto kepada pengawalnya itu.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal itu sambil mengangguk.
Karena, melihat Alberto sedang keluar dari kamarnya itu sambil memberikan sebuah perintah kepada pengawalnya. Vena segera melangkahkan kakinya maju ke depan tepat di hadapan Alberto saat ini. Saat ini wajah Vena begitu cemas dan takut akan sebuah kejadian yang terjadi pada majikannya itu. Sehingga membuat Vena sendiri ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Ziya majikannya saat ini.
" Eemm, Tuan apakah Vena dibolehkan untuk masuk ke dalam ?" Tanya Vena langsung pada Alberto.
" Silahkan, Vena,," Jawab Alberto mengangguk.
Sambil tersenyum senang Vena segera melangkahkan kakinya akan masuk ke dalam kamar pribadinya Alberto. Namun, Alberto mengingat kembali pesan ucapan yang disampaikan Ziya kepadanya itu, jangan sampai ada orang yang tahu tentang penyakitnya ini.
" Tapi, Vena, lebih baik saat ini kau persiapkan saja semua kebutuhan majikanmu di dalam kamarnya,," Ucap Alberto yang sengaja mengalihkan pembicaraannya kepada Vena.
Alberto berkata seperti itu kepada Vena hanya untuk mengalihkan tindakannya yang secara tidak langsung mencegah Vena untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan, dengan pintarnya Alberto segera memerintahkan Vena untuk mempersiapkan semua kebutuhan Ziya yang akan digunakannya nanti atau esok, supaya Vena tidak terlalu mencurigai pencegahan dari Alberto saat ini padanya itu.
" Ooohh baiklah Tuan,," Jawab Vena sambil mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar pribadi Alberto.
Dengan segera Vena melangkahkan kakinya menuju kamar pribadi Ziya untuk menyiapkan semua kebutuhan Ziya yang sudah diperintahkan oleh Alberto padanya itu. Dan, saat ini Alberto melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam ruang kamar pribadinya itu. Saat Alberto masuk ke dalam kamarnya itu, Alberto sejenak terperanjat senang ketika melihat Ziya bergerak sambil meringis memegang kepalanya.
" Nnggg,, aduh," Gumam Ziya terdengar seperti sedang meringis menahan kepalanya.
Ketika melihat Ziya meringis itu dengan segera Alberto meloncat naik ke atas tempat tidurnya dan langsung memeluk erat tubuh Ziya.
" Ada apa sayang, heemm ?" Tanya Alberto lembut pada Ziya.
" Al, ber to,," Panggil Ziya lembut pada Alberto.
" Iya sayang, aku disini jangan takut ada apa, heemm ?" Tanya Alberto kembali sambil mengelus lembut kepala Ziya.
" Jangan panggil siapapun, aku tidak mau semua orang mengetahui sakitku,," Bilang Ziya dengan suara lembutnya yang masih memejamkan matanya itu.
Tersentak Alberto sedikit kaget mendengar pernyataan Ziya yang menyatakan bahwa ia melarang Alberto untuk memberitahukan kepada siapapun. Sedangkan, saat ini Alberto sendiri sudah memerintahkan pengawalnya untuk segera memanggil Axeloe datang ke kamarnya. Dan, Ziya sendiri tidak menginginkan sakitnya itu sampai ketahuan orang lain, karena, jika sampai ketahuan oleh orang lain, maka musuh utama Alberto akan terlalu mudah untuk menjatuhkan kelemahan Alberto sendiri.
" Kenapa sayang, kau tidak mau untuk memberitahukan tentang penyakitmu ini pada orang lain ?" Tanya Alberto langsung pada Ziya.
" Karena, aku tidak mau jika sakitku ini bisa mempermudah musuh-musuhmu untuk bertindak melawanmu, Alberto,," Gumam Ziya sambil membuka perlahan kedua bila matanya itu.
" Heemm, kau jangan takut sayang, mereka tidak akan berani melakukan tindakan itu,," Ucap Alberto sambil menatap wajah Ziya dengan penuh senyuman.
" Tapi, aku masih khawatir akan keselamatan padamu Alberto," Ucap Ziya lagi sambil menatap wajah Alberto dengan tatapan sendu.
" Eemmm kau jangan khawatir ya sayang, yang terpenting saat ini kau harus cepat sembuh, jika kau terus sakit seperti ini kemungkinan Demian selalu menangis sama seperti aku yang tidak sanggup kehilanganmu Sayang,," Bilang Alberto lembut sambil mengelus tangan Ziya ke wajahnya sendiri.
" Alberto, sebenarnya rasa sakit yang kurasakan saat ini seperti sedang memberikan sebuah petunjuk kepadaku, disaat aku merasakan sakit itu, kenapa selalu datang sebuah bayangan yang begitu nyata dan jelas kepadaku,," Ucap Ziya jujur dengan penglihatannya itu.
" Heemm," Jawab Ziya mengangguk.
Karena, hanya berdua saja di dalam kamar pribadi Alberto ini, Ziya segera mengucapkan apa saja yang ia lihat dan ia bayangkan di dalam ingatannya itu. Namun, ketika Ziya sedang serius akan menceritakan sebuah bayangan ingatan kepada Alberto. Alberto sendiri dikagetkan dengan panggilan yang masuk dalam alat di telinganya itu.
" Sesungguhnya, disaat kepalaku sedang kambuh rasa sakitnya itu, bayangan itu selalu ada disela rasa sakit itu,," Gumam Ziya langsung pada Alberto.
" Hah! terus sayang,," Ucap Alberto sambil mengangguk dan mendorong Ziya untuk tetap menceritakan ceritanya itu.
Dan, tiba-tiba alat yang menempel pada telinganya itu berkedip sehingga Alberto langsung saja menerima panggilan itu tanpa menjauhi tubuhnya dari Ziya saat ini.
" Sayang, apakah aku boleh menerima panggilan ini ?" Tanya Alberto lembut pada Ziya.
" Ya, silahkan Alberto, aku juga sudah tidak merasa sakit lagi,," Jawab Ziya yang memberikan izin kepada Alberto.
" Baiklah terima kasih sayang, aku berjanji akan menerima panggilan itu disini dan tetap selalu berada di sampingmu,," Bilang Alberto begitu lembut sambil mengelus rambut Ziya.
Dan, saat ini Ziya perlahan menyunggingkan senyumannya kepada Alberto. Sambil menekan tombol pada alat yang menempel di telinganya itu, terdengarlah suara dari Axeloe saat ini.
" Kak, baru saja pengawalmu datang menemuiku, katanya ada yang sedang terjadi di antara kau dan kakak ipar ?" Tanya Axeloe langsung pada Alberto.
" Heemm, iya, tapi sekarang sudah tidak apa-apa,," Jawab Alberto langsung pada Axeloe.
" Oh ternyata benar perkataan yang disampaikan oleh pengawalmu ini, bagaimana apakah aku harus segera kesana untuk memeriksakannya ?" Tanya Axeloe lagi kepada Alberto.
Alberto sedikit memberikan tatapan lembut kepada Ziya. Dan, Ziya sendiri terlihat sedang memejamkan matanya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Karena, merasa cukup penat ketika dirinya baru tersadar seperti saat ini.
" Heemm, lebih baik kau segera mendapatkan ide penawar yang kau sebutkan itu,," Ucap Alberto sedikit mengubah perkataannya untuk Axeloe supaya tidak dimengerti oleh Ziya.
" Baiklah, sebenarnya aku sudah mendapatkan obat penawarnya, namun aku belum memastikan reaksi penawar ini untuk mengobati penyakitnya itu, Kak,," Jawab Axeloe dengan suaranya yang hanya terdengar oleh Alberto.
" Heemmm, aku percaya denganmu,," Ucap Alberto yang memberikan semangat untuk adiknya yang bernama Axeloe supaya bisa dengan cepat mendapatkan obat penawar untuk Ziya.
Setelah selesai menerima panggilan dari seseorang yaitu adiknya sendiri, Ziya memang terlihat tidak terlalu mendengarkan pembicaraan antara Alberto dan juga Axeloe secara langsung. Namun, Ziya sendiri tahu dan mengerti maksud dari perkataan yang sedang dilakukan oleh Alberto kepada Axeloe tadi, bahwa Alberto ingin segera memberikan sebuah kesembuhan untuk Ziya saat ini.
Dan, setelah selesai Alberto menerima telepon dari Axeloe, Alberto segera meletakkan ponselnya ke dalam saku jasnya, menatap wajah Ziya dengan penuh kelembutan bahwa hanya Ziya sajalah seorang perempuan yang mampu membuat hatinya luluh.
" Ziya,," Panggil Alberto terhadap Ziya yang sedang terlelap di dalam pangkuannya.
" Sayang,," Panggil Alberto lagi kepada Ziya.
Alberto merasa heran dengan keadaan Ziya yang tidak merespon panggilannya itu, sehingga Alberto sedikit mengguncangkan tubuhnya Ziya, sambil memanggil nama Ziya dengan raut wajah kecemasan.
" Ziya, Sayang, Ziya, Sayang,," Panggil Alberto dengan raut wajah kecemasan.
" Ada apa, Alberto ?" Tanya Ziya dengan suara perlahan dan tetap memejamkan matanya.
" Sayang,, aku pikir kau,," Gumam Alberto langsung memeluk tubuh Ziya dengan erat.
" Aku tidak apa-apa, jangan takut,," Ucap Ziya sambil memberikan senyuman kepada Alberto.
" Heemm, aku tidak akan takut jika kau selalu bersama denganku,," Ucap Alberto sambil menciumi kening Ziya.
" Terima kasih, Alberto kau telah menyayangiku sebesar ini,," Gumam Ziya sambil membuka matanya dengan perlahan.
" Heemm iya Sayang, karena, rasa sakit ini baru saja kambuh dan kau merasa lelah, lebih baik sekarang kau istirahat saja,," Ucap Alberto yang menyuruh Ziya untuk segera berisitirahat.
" Heemm baik, Alberto, tapi aku ingin kau tidak pergi dari sisiku,," Bilang Ziya menatap wajah Alberto dengan tatapan lembut.
" Baiklah, aku akan berbaring di sampingmu sayangku,," Ucap Alberto segera berbaring di sampingnya Ziya.
Setelah melihat tubuh Alberto telah benar-benar berada di sampingnya tubuhnya itu, dengan spontan Ziya memberikan senyuman dan juga kecupan lembut untuk Alberto. Alberto begitu bahagia ketika melihat Ziya masih menyayangi dirinya, padahal Ziya sedikit mengetahui siapa sebenarnya Alberto dulu padanya itu.
" Alberto, aku ingin terlelap di sampingmu dan aku ingin agar kau tidak meninggalkan sendiri di kamar ini, aku takut,," Ucap Ziya setelah melepaskan ciumannya dari kening dan juga pipi Alberto.
" Iya sayang, aku berjanji, aku tidak akan kemana-mana, aku akan selalu di sampingmu dan aku akan selalu menjagamu,," Jawab Alberto lembut dan membuat Ziya akhirnya bisa terlelap dengan tenang.
Cukup lama Alberto menimang lembut tubuhnya Ziya, sambil mengelus lembut rambut Ziya hingga akhirnya Ziya memang benar-benar terlelap di sampingnya. Alberto berpikir tentang kejadiannya di waktu dulu kepada Ziya. Ia tidak menyangka jika gadis remaja secara tidak sengaja menabraknya itu adalah Ziya istri cantiknya yang sedang terlelap di sampingnya ini.
" Jika, aku tahu bahwa kau selama ini mengalami penderitaan yang begitu besar, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu setelah aku menikahimu di pagi itu, kenapa aku sampai tega meninggalkan perempuan kecil yang baru saja aku paksa untuk memuaskan hasrat dalam tubuhku, hanya karena, tidak menginginkan dia mengganggu kehidupanku waktu itu,," Gumam Alberto sambil menatap wajah Ziya dengan tatapan lembut.
" Jika, waktu itu aku langsung membawamu bersamaku kembali ke kediamanku ini, maka tidak akan mungkin kau mengalami penderitaan yang begitu lama Ziya. Maafkan keegoisan sifat yang kumiliki disaat itu." Ucap Alberto lagi sambil memandang wajah cantik Ziya yang sedang terlelap di sampingnya.
" Dan sekarang untunglah waktunya tidak terlambat bagiku untuk membuatmu selalu bahagia dan menjadi ratu dalam hidupku, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di dalam hatiku, Ziya,," Ucap Alberto lagi sambil mengelus lembut pipi Ziya.
" Setelah semua masalah ini selesai, maka kita akan bersama untuk membina rumah tangga dengan penuh kebahagiaan bersama anak-anak kita dan tidak ada orang yang bisa mengganggu kebahagiaan kita nanti sayang,," Ucap Alberto terakhir yang ikut terlelap di sampingnya Ziya.
Saat ini Alberto sudah merasa tenang karena, ia sendiri telah berhasil maju satu tahap dalam mempertanggung jawabkan perbuatan kejahatannya selama ini kepada Ziya walaupun hasilnya membuat Ziya merasa sakit di kepalanya itu, namun Alberto cukup tenang karena, terlihat bahwa Ziya saat ini bisa membuka hatinya untuk memaafkan semua kesalahannya itu.
Dan, saat ini Alexa adiknya Alberto sengaja mencari tahu dimana keberadaan pria yang dicintainya selama ini, Alexa yang sedang berada di kamarnya itu, menghubungi salah satu pengintai yang sengaja ia kirim untuk mengintip gerak-gerik pria yang disukai oleh Alexa sendiri.
" Heemm, bagaimana dia ada dimana sekarang ?" Tanya Alexa kepada temannya itu.
" Nona Alexa majikanku, sepertinya pria yang anda cari itu sedang pergi ke sebuah negara untuk menuntaskan sebuah penugasannya sendiri,," Jawab pengintai perempuan yang telah dikirim Alexa untuk mengintai keberadaan pria yang disukainya itu.
" Heemm tugas apalagi memangnya yang harus ia kerjakan ?" Tanya Alexa terlihat kesal ketika mendengarkan jawaban dari pengintainya itu.
" Kurang tahu juga Nona tugasnya itu apa ?" Jawab pengintai itu kepada Alexa.
" Yang pastinya saya lihat dia sedang pergi keluar negeri saat ini,," Sambung orang itu lagi kepada Alexa.
" Heemm, oke laporkan lagi setelah ia kembali,," Ucap Alexa yang meminta sebuah laporan dari pengintainya itu setelah pria yang sedang dikejarnya saat ini kembali ke negaranya.
" Baik Nona, siap dilaksanakan,," Jawab pengintai setia Alexa.
Setelah menelepon pengintai yang dikirimnya untuk mengawasi pergerakan pria yang disukai oleh Alexa ini, dengan wajah yang kesal Alexa sengaja melemparkan ponselnya ke sembarang arah di atas tempat tidur.
Alexa berpikir apa mungkin pria itu sedang keluar negeri dimana waktu itu mengikuti jejak pria yang dikejarnya.
" Heemm apa mungkin dia kembali lagi kesana,," Gumam Alexa sambil memikirkan dimana keberadaan pria itu saat ini.
Dan Alexa sendiri sambil berpikir sepertinya dia tidak akan pernah bisa bersatu dengan pria yang begitu ia sukai itu, karena, kedua kakaknya itu pasti tidak akan menyetujui keinginannya ini, namun, Alexa masih tetap bersikeras untuk mendapatkan pria yang begitu ia harapkan selama ini.
Semenjak pria itu masuk ke dalam kehidupannya, Alexa sama sekali tidak bisa menahan rasa cintanya kepada pria itu, walaupun sudah diberitahukan kepadanya bahwa pria itu seorang pria dingin yang tidak terlalu suka dengan percintaan bahkan lebih menyukai hal-hal lain seperti berpetualang, tapi, tetap saja Alexa tidak bisa memungkiri perasaannya itu.
" Oh God, Apakah Kak Alberto dan juga Kak Axeloe akan merestui keinginanku untuk bersamanya,," Gumam Alexa sambil memejamkan matanya dan menggigit bibir bagian bawahnya karena, menahan perasaannya terhadap pria itu.
" Jika Kak Alberto dan juga Kak Axeloe tidak menyetujui keinginanku ini, maka aku akan pergi untuk meyakinkan dia bahwa aku begitu mencintainya, tapi, apakah dia juga mencintaiku,," Gumam Alexa sambil membuka matanya.
" Aaahh kau, apakah kau tahu bahwa dari kecil aku sudah menyukaimu, tapi, kenapa setiap kali bertemu denganmu kau selalu bersikap dingin padaku,," Gumam Alexa sambil melihat foto pria yang disukainya itu melalui ponselnya sendiri.
Dan, bahkan Alexa sengaja mengedit foto pria itu berdampingan dengan fotonya sambil tersenyum-senyum sendiri.
****