Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 57 - Teriakan Ziya



Seketika Alberto menghentikan langkah kakinya karena mendengar permohonan dari Ziya. Dan juga Ziya bisa melihat, Alberto menghentikan langkah kakinya itu. Oleh sebabnya hal itu bisa membuat Ziya secara cepat mera-ngkak mendekati Alberto.


Sambil terduduk lemah, Ziya menahan air matanya agar tidak tumpah. Dengan keyakinan yang kuat, untuk saat ini Ziya bisa menjelaskan semua apa yang ingin dijelaskannya pada Alberto tentang dirinya yang sebenarnya.


" Apa yang ingin kau katakan,,?" Tanya Alberto tanpa menoleh ke arah Ziya saat ini.


Dengan sengaja Alberto tidak melihat wajah Ziya sedikitpun, karena, Alberto tidak mau menatap wajah po-los Ziya saat Ziya ingin menjelaskan apapun yang ingin dijelaskan oleh Ziya. Apabila Alberto menoleh dan menatap wajahnya Ziya maka, kemungkinan besar Alberto akan merasa luluh dan tidak bisa untuk melakukan perilaku keke-jaman pada Ziya saat ini.


" Alberto,, aku,, aku,," Bilang Ziya terbata-bata.


Karena, Alberto tidak mau menunggu lama, atas sikap Ziya yang masih memikirkan untuk membicarakan apapun padanya, akhirnya Alberto dengan langkah kakinya melangkah lagi, dan saat itu Ziya segera berteriak bahwa dirinya bukanlah Zoya.


" Alberto,, tunggu,," Panggil Ziya lagi untuk mencegah kepergian Alberto.


Karena, menunggu penjelasan dari Ziya yang begitu lama hingga membuat Alberto sama sekali tidak mau lagi mendengarkan ucapan cegahan dari Ziya padanya saat ini.


Dan Ziya bisa melihat bahwa saat ini Alberto terus melangkah menuju ke arah pintu keluar kamarnya itu. Karena, telah melihat Alberto segera memegang gagang pintu akhirnya Ziya pun berteriak dan sangat jelas suaranya saat ini yang terdengar oleh Alberto.


" Alberto,, aku bukanlah ZOYA,,,,????" Teriak Ziya yang sangat lantang membuat Alberto menghentikan langkahnya.


Karena sudah berteriak untuk sesaat, Ziya merasa begitu sesak tepat di bagian da-danya dan membuatnya begitu khawatir serta takut atas ucapannya itu. Apalagi ketika melihat Alberto menghentikan langkah kakinya, membuat perasaan Ziya bercampur aduk merasa lega ada dan merasa khawatir juga ada, karena, kemungkinan besar Alberto akan menerima kenyataannya dan memberikan kebebasan padanya atau membuatnya semakin seng.sara di dalam kediaman megah ini.


Alberto pun membalikkan badannya dan menatap wajah Ziya dengan tatapan ta-jam.


" Apa yang kau katakan,,?" Tanya Alberto dengan tatapan ta-jam dan suara dinginnya.


Disaat Alberto menanyakan hal itu kepada Ziya tentu saja wajah Ziya berubah menjadi sedikit takut, cemas dan khawatir atas tatapan ta-jam dari mata yang telah ditampakkan oleh Alberto.


" Ak,, ak,, aku,, bukanlah Zoya,," Bilang Ziya terbata-bata dan menundukkan kepalanya.


Ketika mendengar pengakuan dari Ziya sesaat Alberto menghembuskan nafasnya karena ia begitu tidak menyukai orang yang sedang berbicara dengannya namun orang itu tidak melihat wajahnya secara langsung


" Angkat wajahmu saat berbicara denganku,," Ucap Alberto yang tengah membe.ntak Ziya.


Saat mendengar Alberto membe-ntak dirinya, Ziya ingin sekali menangis tapi air mata itu masih bisa ia tahan.


" Apa yang kau katakan,?" Tanya Alberto lagi sambil meraup dagu Ziya.


" Kau bukanlah Zoya,, kalau kau bukan Zoya, lalu kau siapa,,?" Tanya Alberto dengan nada suara yang terdengar begitu kuat lalu karena masih adanya emosi yang ingin diluapkannya itu tentu saja Alberto langsung menghe-mpaskan dagu Ziya dengan cukup kuat.


Karena, mendapatkan perlakuan yang cukup berlebihan dari Alberto, akhirnya dengan berani Ziya berteriak melawan kelakuan Alberto yang sudah bersikap keterlaluan terhadap dirinya.


" Sudah ku katakan, aku bukanlah Zoya, aku bukan Zoya,," Ucap Ziya dengan nada suara yang tinggi dan hal itu sontak membuat Alberto langsung mengambil rambutnya dengan sangat kuat.


Atas tindakan yang dilakukan oleh Alberto itu sehingga membuat Ziya tidak bisa menahan air matanya untuk tumpah di hadapan pria yang memiliki tatapan ta-jam untuk dirinya saat ini.


" Aduuuhhh,, sa-kit Alberto," Teriak Ziya.


" Kau tahu, ini sakit, kenapa kau berani masuk dalam kehidupan ku Hah!!" Ucap Alberto yang memegang erat rambut Ziya.


" Beraninya kau membohongiku, beraninya kau menggunakan wajah po-los kau ini untuk merayuku, beraninya kau,,," Ucap Alberto yang sedikit berteriak di telinga Ziya.


Sehingga hal itu menyebabkan Ziya yang mendengarkannya menangis dengan pe.cah, karena, satu sisi dari hatinya sa-kit mendengarkan ucapan Alberto, dan satu sisi lain sa-kit menahan rambutnya yang ditarik paksa oleh Alberto.


" Sa-kit,,, tolong lepaskan, aku tidak membohongimu, Alberto,," Bilang Ziya yang membela dirinya.


" Lalu, siapa, orang yang menye-ntuhmu, Hah!?" Tanya Alberto berbisik ka-sar pada telinga Ziya.


" Aku tidak tahu,,," Teriak Ziya yang menangis.


Karena, mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya membuat Alberto segera kembali melempar rambut Ziya dengan ka-sar, sehingga membuat Ziya terlempar bergeser dari tempat tidurnya.


" Dasar pera-wan palsu,, kau telah membohongiku,, sampai kapanpun, aku tidak akan percaya dengan semua ucapan kau,," Ucap Alberto ka-sar pada telinga Ziya.


" Dan ingat, satu lagi sampai kapanpun, kau tidak bisa lepas dariku, ingat itu," Bilang Alberto dingin yang memperingati Ziya.


Ziya pun menangis mendengar ucapan Alberto yang selalu mengatakan bahwa dirinya pera-wan palsu. Bagi Ziya lebih baik dirinya ma-ti dibu-nuh saat ini juga daripada mendapatkan kecaman-kecaman yang begitu menyayat hatinya.


Alberto pun segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah pintu. Dan, membuka pintu lalu keluar dari kamar.


Ziya berteriak menangis tersedu-sedu memanggil Alberto karena, bagi dirinya lebih baik Alberto membu-nuhnya saat ini juga daripada ia menjadi bur-ung mainan yang berada di dalam sangkar mem-atikan seperti ini.


" ALBERTO,,, BU-NUH AKU,," Teriak Ziya saat ini.


Tapi, Alberto sama sekali tidak mendengarkan ucapan permintaan Ziya. Karena, merasa Alberto telah menguncinya dari luar menyebabkan Ziya menangis histeris dan saat ini Ziya merasa kepalanya begitu sakit.


Ziya merasakan begitu sakit, sakit dan sakit pada kepalanya. Kemungkinan karena, rambutnya ditarik menyebabkan kepalanya begitu sakit saat ini.


" Aaakkkhh,,, sakiiitttt,," Teriak Ziya yang memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Ziya ingin bangkit tapi sayang, pandangannya saat itu kabur dan akhirnya Ziya terkulai lemah lalu tergeletak di lantai.


" Mama,, tolong Ziya,," Ucap Ziya saat pandangan matanya kabur.


Ziya pun terhuyung lemah, tergelak di atas lantai yang begitu dingin saat ini.


Ziya tidak bisa merasakan apa-apa lagi pada tubuhnya, pandangannya kabur, dan akhirnya Ziya tidak sadarkan diri.


Alberto yang telah keluar dari ruangan kamarnya itu, merasa sedikit bersalah atas perbuatan kas.arnya pada Ziya. Dan, Alberto ingin sekali kembali ke kamar untuk melihat keadaan Ziya. Tapi, niatnya itu diurungkannya, karena, ia seharusnya pantas dan wajar memberi pelajaran kepada Ziya.


Walaupun saat ini, ia tahu bahwa Ziya telah mengakui identitas tentang dirinya tapi, saja membuat Alberto merasa tidak puas akan ucapan Ziya itu.


Entah kenapa, Alberto ingin sekali mengetahui maksud dari Ziya yang sengaja masuk ke dalam kehidupannya itu. Walaupun selama ini, Alberto telah mendengarkan dari semua temannya bahwa Ziya itu adalah alat, tapi Alberto sama sekali belum puas akan jawaban seperti itu.


Akhirnya dengan menarik nafasnya, Alberto menyampaikan kepada pengawalnya untuk selalu menjaga Ziya di dalam kamar.


" Jaga dia, jangan sampai dia keluar dari kamar ini,," Ucap Alberto yang memerintahkan pengawalnya saat itu.


" Baik Tuan,," Ucap beberapa pengawal yang saat itu telah menunggu siaga di depan kamar Alberto.


Alberto pun segera melangkahkan kakinya ke arah tangga meninggalkan kamarnya itu.


Ternyata, dari kejauhan posisi Alberto saat ini, ada seorang laki-laki yang memakai pakaian serba hitam, telah mengintip gerak-gerik Alberto dan melihat apakah Alberto telah pergi dari tempat itu.


Lama sekali laki-laki itu menunggu kesempatan yang tepat untuk mengganggu istrinya itu. Karena, sudah beberapa minggu saat Ziya datang, laki-laki itu telah lama menahan ha-srat na-fsu dirinya pada Ziya.


****