
Jelas Martin sangat cemas, karena, kebodohannya sendiri itu membuat dirinya berada di dalam ruangan yang penuh duri, sehingga kapanpun ia bergerak duri itu akan menusuk tubuhnya dan menyakitinya, begitu juga dengan perbuatan yang telah dilakukannya ini.
" Aaahhh tapi tidak mungkin Zoya memberitahukannya pada Alberto," Ucap Martin yang merasa percaya saat ini Ziya tidak mungkin membocorkan rahasianya itu pada Alberto.
Karena, jika sudah diberitahukan oleh Ziya pada Alberto sangat memungkinkan sekali ia sudah ditangkap langsung oleh Alberto, namun, sampai waktu yang telah sore ini, tidak ada tanda-tanda Alberto akan menangkapnya.
" Heemmm, sepertinya, Zoya tidak menceritakan hal ini pada Alberto, jika ia telah menceritakannya pasti Alberto sudah menangkapku dan aku sudah dijebloskan kembali ke penjara, jadi kenapa aku harus takut,," Ucap Martin yang masih merasa percaya diri.
Dan, Martin juga berpikir walaupun Zoya memberitahukan Alberto tentang ucapannya itu, Alberto tidak akan bisa langsung menangkap dirinya, karena, Alberto sendiri tidak memiliki bukti valid dari perkataannya itu. Bisa saja ia memutar balikkan fakta yang telah ada.
" Hehehehe, apabila Zoya menceritakan ini pada Alberto, secara otomatis Alberto tidak bisa menangkapku, karena, Zoya juga tidak memiliki bukti kuat untuk menuduh dan mencurigai tindakanku, hahaha,," Bilang Martin yang berkata sendiri sambil tertawa sendiri.
" Tapi, aku masih mencurigai tentang Zoya sekarang, kenapa, Zoya saat ini sudah tidak lagi seperti dulu, yang sifatnya tidak lagi cuek dengan siapapun dan bahkan semua pelayan juga mengatakan bahwa Zoya saat ini memiliki sifat yang baik, ramah dan juga berwibawa, aku juga merasa bahwa sepertinya Zoya saat ini bukanlah Zoya yang dulu,," Ucap Martin yang merasa curiga dengan keadaan Ziya saat ini.
Karena, sudah mendapatkan imbas masalah pada Ziya dengan sengaja Martin berniat ingin kembali menyelinap masuk ke dalam kamarnya Ziya. Saat ini pastinya Martin sangat ingin mencari tahu siapa sebenarnya Zoya yang begitu tangguh terhadapnya itu.
" Baiklah aku akan coba kembali menyelinap masuk ke dalam balkon kamarnya dan mencari tahu siapa sebenarnya yang menjadi Zoya saat ini." Gumam Martin ketika ia sadar bahwa banyak sekali perbedaan antara Ziya dan juga Zoya.
Martin, masih merasakan berat dan lemah di dalam tubuhnya, sebenarnya Martin mencurigai Ziya hanya karena, Ziya selalu menolak keinginannya dan juga Ziya sama sekali tidak terlihat menghiraukan dirinya. Dan, ketika Martin sendiri datang ke kamarnya Ziya dengan sengaja Ziya melemparkan suatu benda aneh yang membuat tubuhnya menjadi lemah seperti saat ini.
" Sebenarnya apa yang dilemparkan Zoya padaku semalam,," Gumam Martin yang memikirkan suatu benda yang dilemparkan oleh Ziya tepat mengenai wajahnya dan membuat tubuhnya langsung melemah.
" Aku harus cepat membuat tubuhku pulih seperti semula, karena, aku harus cepat mencari tahu siapa sebenarnya yang telah menjadi Zoya saat ini." Gumam Martin yang perlahan bangkit dari tempat tidurnya.
Setelah lama memikirkan sesuatu tentang Ziya, Martin merasa bahwa tubuhnya cukup enak dan tidak lagi lemah seperti semalam. Martin segera bangun dari baringnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Martin tidak tahu bahwa Gladys dan Claire sudah menunggu dirinya sangat lama di ruangan luar.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, menggantikan pakaiannya, Martin segera keluar dari kamarnya dan terkejut ketika melihat dua wanita yang sudah menunggu dirinya semenjak pagi tadi.
" Mommy, ada apa ?" Tanya Martin saat baru saja keluar dari kamarnya.
" Darimana saja kau semalam ?" Tanya Gladys yang segera bangkit dari duduknya.
Saat Martin mendengarkan ucapan Gladys yang menanyakan dirinya semalam, sambil menelan salivanya Martin segera mengubah ekspresi wajahnya dari terkejut ke ekspresi santai. Supaya Mommynya ini tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya semalam.
" Aku tidak kemana-mana, kemarin aku pulang ke rumah dan baru kembali pagi tadi, setelah sampai disini aku langsung tertidur, karena, semalam aku sedang bermain bersama teman-temanku di luar,," Bilang Martin yang sengaja membohongi Mommynya ini.
Gladys merasa sedikit percaya akan ucapan Martin ini, namun, Gladys masih mencurigai tindakan yang dilakukan Martin dengan sengaja telah mencecerkan sebuah kunci penting rahasianya dulu.
" Kau yakin dengan ucapanmu ini, kau tidak membohongiku ?" Tanya Gladys lagi menatap penuh tanda tanya pada Martin.
" Eeemm Mommy untuk apa aku berbohong,," Jawab Martin terlihat jelas sekali ucapannya itu meyakinkan perasaan Mommynya.
" Baiklah kalau kau tidak berbohong,, terus ini apa ?" Tanya Gladys langsung pada Martin sambil memberikan kunci kotak rahasia miliknya.
Martin cukup terkejut ketika melihat kunci itu, namun, Martin mengulangi lagi perbuatannya dan menjawab dengan jawaban santai supaya Mommynya tidak terlalu mencurigai dirinya.
" Heemmm Mommy, Martin sudah katakan bahwa Martin semalam pergi ke rumah kita sendiri dan masalah kunci itu, Martin tidak tahu itu kunci apa, karena, Martin menemukan kunci itu tercecer di depan lemari kamar Mommy, makanya Martin ambil dan langsung membawanya kesini,," Ucap Martin yang lagi-lagi membohongi Gladys Mommynya.
Sebenarnya, Martin sengaja mengambil kunci itu dari kamar Mommynya, karena, Martin mengetahui bahwa Mommynya memiliki suatu rencana yang besar terhadap Alberto, oleh sebab itu dengan sengaja Martin ambil supaya ketika Alberto menggeledah rumah lamanya nanti, Alberto tidak menemukan bukti apa-apa dari sana, dengan seperti itu tindakan Martin ini semata-mata untuk melindungi orang tuanya. Lalu, untuk sesaat Gladys sedikit mempercayai ucapan dari Martin. Dan, Claire segera ikut berkata untuk bisa sedikit membantu menenangkan pikiran Auntynya ini.
" Heemmm, Aunty, jadi jangan takut lagi, tentang kunci ini, Martin sendiri sudah menjelaskan bahwa ia menemukan kunci ini di depan lemari, bagus jika Martin yang menemukan, tapi jika orang lain yang menemukan kunci ini bagaimana ?" Ucap Claire yang terdengar sangat halus dan sedikit membantu tindakan Martin ini.
" Betul juga yang kau katakan, Claire." Bilang Gladys sedikit menganggukkan kepalanya.
Martin merasa lega karena ucapan Claire yang bisa membantu dirinya untuk meredamkan amarah yang dilontarkan Mommynya padanya itu.
" Ya sudah kalau begitu Mommy percaya akan ucapanmu, Martin,," Bilang Gladys yang menatap tajam Martin.
Lalu, Gladys kembali, menyambungkan pembicaraannya untuk mengingatkan Martin akan perbuatan yang telah dilakukannya itu.
" Tapi, jika kau telah melakukan kesalahan di belakangku, maka bukan hanya kau saja yang akan menerima akibatnya, tapi, kita semua akan kehilangan nyawa Martin." Ucap Gladys yang kembali menatap tajam wajah Martin.
Terlihat saat ini Martin seperti sedikit menyesali perbuatannya itu dan Martin hanya bisa menelan salivanya sendiri karena, merasa bersalah terhadap Mommynya ini, Martin telah melakukan suatu hal yang sangat besar bagi Mommynya, rahasia besar yang selama ini telah disimpan rapat oleh Mommynya.
" Ayo kita pergi dari sini Claire,," Ucap Gladys yang sengaja meninggalkan Martin sendiri di ruangannya ini.
" Oke, Aunty," Jawab Claire santai.
" Jaga dirimu,," Ucap Gladys yang masih saja memberi pesan kepada putranya ini.
Setelah Gladys pergi Martin begitu merasa bersalah akan tindakan yang dilakukannya semalam pada Ziya. Mommynya benar, jika rahasianya itu sampai terbongkar bukan hanya dirinya saja yang terkena masalah melainkan semua orang banyak yang ikut terlibat dalam kasus besar ini.
Setelah Gladys pergi Martin begitu merasa bersalah akan tindakan yang dilakukannya semalam pada Ziya. Mommynya benar, jika rahasianya itu sampai terbongkar bukan hanya dirinya saja yang terkena masalah melainkan semua orang banyak yang ikut terlibat dalam kasus besar ini.
Sementara itu, Ziya yang baru saja keluar dari kamarnya Isabelle, tersenyum senang karena, akhirnya ia dan Isabelle berteman dengan baik, bahkan Isabelle juga telah menganggap dirinya sebagai seorang Ibu. Ziya bahagia sekali saat ini, walaupun baru satu orang yang berada di kediaman Alexandre mendekatkan diri dengannya.
" Kalian berdua tetap jaga disini jika Isabelle bangun dari tidurnya dan membutuhkan saya, salah satu dari kalian bisa langsung memanggil saya,," Ucap Ziya yang memberikan perintah kepada pengawalnya itu.
Setelah memberikan perintah kepada dua pengawalnya itu, Ziya segera menuju ke kamarnya sendiri dan Vena yang selalu mengiringinya itu, mengikuti langkah kaki Ziya untuk pergi ke kamarnya. Vena memberikan pujian terhadap Ziya, karena, hanya Ziya saja yang bersedia untuk merawat Isabelle saat sedang sakit.
" Nyonya, ternyata cuma Nyonya orang yang memiliki keperdulian besar di kediaman ini, karena, sudah lama Nona Isabelle sakit tapi, tidak ada satu orangpun yang merawat dirinya. Hingga, kemarin Nona Isabelle masih saja pergi ke sekolahnya walaupun ia sedang sakit." Bilang Vena langsung dengan Ziya sambil membicarakan tentang keadaan Isabelle selama ini.
Ziya sedikit mengerutkan dahinya saat mendengar cerita yang diucapkan oleh Vena saat ini, Ziya mengira anaknya Alberto merasa bahagia ketika tinggal di kediaman yang begitu besar dan kaya raya ini, tapi, ternyata sama sekali tidak, putri-putrinya Alberto ini malah merasakan hal yang sebaliknya, tidak pernah bahagia dengan kehidupan yang terlihat sempurna tapi, tidak mendapatkan kebahagiaan yang tulus dan selalu diharapkan yaitu kasih sayang.
" Heeemm, Vena walau bagaimanapun, Isabelle dan Krystal juga anakku, selama ini mereka sangat membenciku, karena, kemungkinan mereka belum mengetahui bahwa aku sungguh menyayanginya, hingga mereka tak menyadari rasa sayangku yang begitu tulus terhadap mereka,," Bilang Ziya yang menjelaskan keadaan putri-putrinya Alberto.
" Betul sekali Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.
" Dan saya harap semoga Nyonya berhasil untuk melunakkan hati kedua putri dari Tuan Besar,," Bilang Vena sekali lagi yang terdengar sangat mendukung perbuatan Ziya saat ini.
" Heeemm,, terima kasih Vena kau selalu mendukungku,," Ucap Ziya tersenyum menoleh ke arah Vena.
Memang benar sekali, Ziya sungguh menyadari bahwa putrinya Alberto itu, selama ini tidak memiliki sopan santun terhadap orang tua, karena, mereka sama sekali tidak dididik yang baik oleh kedua orang tuanya, sehingga membuat Ziya hanya bisa mengusap dadanya saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh putrinya Alberto.
" Walaupun aku belum bisa melunakkan hati Krystal, yang terpenting saat ini aku sudah bisa berinteraksi dengan baik terhadap Isabelle, itu merupakan satu langkah yang bagus bagiku,," Ucap Ziya dalam hati penuh semangat.
" Semangat, Ziya," Ucap Ziya sendiri dalam hati sambil menyemangati dirinya sendiri.
Tapi, nyatanya saat ini Ziya bisa mengambil hati dari salah satu putrinya itu, walaupun belum bisa terlihat akan ketulusannya terhadap putri-putrinya Alberto tapi, Ziya ingin kedua putri Alberto itu bisa berbicara yang sopan setelah ia berhasil mendidiknya.
Saat, Ziya ingin kembali menuju ke tempatnya, kebetulan Ziya melihat dari kejauhan, Martin sedang melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, sehingga membuat Ziya sementara mengentikan langkahnya. Ziya berpikir dalam hatinya, ternyata efek racunnya sudah luntur dari tubuh laki-laki itu.
" Martin, mau kemana dia ?" Ucap Ziya dalam hati, saat melihat Martin yang sedang melangkah menuju ke arah parkiran mobil.
Ziya hanya berniat ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan Martin yang melangkahkan kakinya begitu cepat dan tergesa-gesa, sehingga membuatnya berpikir apakah Martin saat ini ingin melakukan sesuatu atau membalaskan dendam pada dirinya.
" Heeemm, ternyata efek racunku sudah tidak ada lagi dalam tubuhnya," Gumam Ziya yang melihat pergerakan tubuh Martin.
" Nyonya bukannya itu Tuan Martin ?" Tanya Vena yang sedikit berbisik kepada Ziya.
" Iya, shuuttt, ayo kesini,," Ucap Ziya yang mengajak Vena untuk menyembunyikan tubuh mereka berdua.
Karena, mendengar ajakan Ziya untuk menyembunyikan tubuhnya itu, dengan segera Vena menuruti kata-kata Ziya dan bersembunyi di belakang tubuh Ziya. Vena berpikir pasti saat ini majikannya itu, ingin mengawasi gerak-gerik yang dilakukan oleh Martin.
" Mau kemana dia, gerak-geriknya begitu mencurigakan,," Ucap Ziya dengan suara yang sangat kecil masih mengawasi pergerakan dari Martin.
Namun, Vena seakan teringat bahwa majikannya itu ingin mengajak Vena untuk bekerja sama dalam melakukan suatu rencana terhadap Martin.
" Nyonya, bukannya Nyonya ingin melakukan suatu rencana terhadapnya ?" Tanya Vena lagi yang mengingatkan Ziya.
" Itu sudah kulakukan, Vena karena, dia berani-beraninya menyelinap ke kamarku,," Jawab Ziya yang masih menatap arah Martin.
" Apa ? Jadi, Tuan Martin,," Ucap Vena lagi tidak menyangka akan tindakan yang dilakukan oleh majikannya ini.
" Shuuttt Vena, diam,," Bilang Ziya yang masih mengawasi Martin.
Lalu, terlihatlah oleh Ziya bahwa Martin saat ini telah menaiki satu mobil yang ada di sana dan Ziya merasa bahwa Martin sepertinya ingin pergi ke suatu tempat. Ziya sedikit berpikir mau kemana Martin pergi saat hari sudah terlalu sore seperti saat ini.
" Dia mau pergi kemana ?" Gumam Ziya dalam hatinya yang begitu mencurigai pergerakan dari Martin.
" Heemm sepertinya aku harus segera memberitahu Alberto akan sikapnya yang begitu mencurigakan ini,," Bilang Ziya dalam hati akan niatnya itu.
Setelah cukup mengawasi Martin, Ziya segera keluar dari persembunyiannya mengajak Vena untuk langsung menuju kamarnya.
" Ayo, Vena kita langsung ke kamar,," Ucap Ziya yang menarik tangan Vena.
" Baik, Nyonya,," Jawab Vena yang mengikuti langkah kaki Ziya.
Saat Ziya ingin kembali ke kamarnya, tiba-tiba ada seorang pelayan yang sengaja mendekati Ziya dan ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting untuk Ziya. Ziya segera menghentikan langkahnya ketika pelayan itu memanggil nama kembarannya.
" Nyonya Zoya,," Panggil pelayan itu terhadap Ziya.
Ziya yang mendengarkan suara panggilan itu, segera menghentikan langkah kakinya sejenak. Dan, pelayan itupun segera melangkah mendekati Ziya.
" Maaf, Nyonya, apakah Nyonya hari ini sedang sibuk ?" Tanya pelayan itu kepada Ziya.
" Eemmm, tidak ada apa ?" Tanya Ziya balik kepada pelayan itu
" Maaf sebelumnya sudah mengganggu kegiatan Nyonya saat ini, saya ingin menyampaikan bahwa majikan saya ingin bertemu langsung dengan Nyonya hanya berdua saja." Ucap pelayan itu yang merupakan asisten pribadi dari Grandma Christin.
Ziya sedikit gugup ketika mendengarkan perkataan yang disampaikan oleh pelayan ini terhadapnya, karena, majikan dari pelayan ini ingin bertemu dengannya hanya berdua saja, membuat Ziya saat ini hanya bisa menelan salivanya karena, merasa penasaran dengan majikan dari pelayan ini.
****