
Dan benar sekali apa yang telah diucapkan oleh Axeloe, ada dua meja yang diletakkan di sebelah tempat tidurnya itu. Sambil melangkahkan kakinya dengan tubuh gemetar karena cemas dan takut akan tindakannya yang salah, namun, Vena tetap melangkah seperti biasa seolah terlihat sama sekali tidak merasa cemas sedikitpun. Dan Akhirnya Vena telah sampai juga di dekat Axeloe yang sedang berdiri dekat tempat tidurnya sekaligus meja yang dimaksudkan oleh Axeloe.
" Letakkan di sana,," Ucap Axeloe sambil menunjukkan meja di dekat tempat tidurnya.
" Baik Tuan,," Jawab Vena mengangguk dan dengan langsung Vena meletakkan tas yang ditentengnya ke atas meja.
Dengan segera Vena meletakkan tas yang masih dibawanya itu ke atas meja sesuai dengan petunjuk dari Axeloe. Setelah meletakkan tasnya ke atas tempat tidur, Vena langsung menghadap ke tempat dimana Axeloe sedang berdiri untuk memberitahukan bahwa tugasnya telah selesai dan ia bisa keluar dari kamar ini sekarang juga.
" Eemmm Tuan, barangnya sudah saya letakkan,," Bilang Vena menghadap Axeloe dengan wajah yang ditundukkan.
" Ya, terima kasih,," Jawab Axeloe singkat.
" Eemmm, kalau begitu saya permisi keluar dulu, Tuan,," Ucap Vena lagi pada Axeloe.
Karena, Vena telah menyelesaikan tugas yang telah diperintahkan oleh Axeloe dan saat ini Vena langsung menghadap Axeloe untuk memberitahukan bahwa ia telah selesai melakukan tugasnya itu, namun, dengan sangat santai Axeloe yang berada di hadapan Vena meminta Vena untuk naik ke atas tempat tidurnya. Dan pastinya hal itu membuat Vena sangat terkejut sekali, sehingga membuat Vena dengan berani menolak permintaan dari Axeloe itu.
" Kau boleh keluar dari kamarku ini, asal kau mau menuruti perintahku yang satu ini, maka akan aku buka semua pintu yang telah aku kunci dalam kamar ini,," Ucap Axeloe dengan suara lembutnya melangkah secara perlahan mengelilingi tubuh Vena yang mungil sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
" Apa ? Perintah, perintah apa yang akan diberikan oleh Tuan Axeloe padaku ?" Tanya Vena dalam hatinya yang terkejut akan ucapan dari Axeloe baru saja untuknya itu.
" Perintah ? Perintah apa Tuan ?" Tanya Vena dengan suaranya yang terbata-bata.
" Aku bingung harus menjawab apa, bagaimana ini ?" Tanya Vena dalam hatinya lagi yang mulai kebingungan dengan apa yang dimaksudkan oleh Tuannya itu.
" Eeehh, Eehhh,," Ucap Vena dengan nada suara yang terdengar sedang kebingungan untuk menjawab apa atas pertanyaan yang ditanyakan oleh Axeloe padanya itu.
" Sudah tidak usah bingung, sebelum kau keluar dari kamar ini, naiklah ke tempat tidurku terlebih dahulu,," Ucap Axeloe dengan suara yang jelas hingga membuat Vena semakin terkejut.
" Haahh!! apa Tuan ?" Tanya Vena dengan Axeloe sambil mendongakkan kepalanya dan tepat langsung menatap wajah Axeloe.
" Kenapa kau kaget, aku hanya meminta kau untuk naik ke tempat tidurku, sebelum kau keluar dari kamar ini,," Ucap Axeloe lagi dengan suara yang jelas terdengar oleh Vena.
" Tapi, Tuan, saya tidak bisa melakukan itu, saya bukanlah,," Jawab Vena dengan ucapan yang terbata-bata dan jelas sekali terdengar bahwa dirinya begitu ketakutan akan perintah yang dimaksudkan oleh Axeloe padanya itu.
" Memangnya kenapa kau tidak bisa melakukannya, bukannya kau memiliki tangan, kaki dan juga mata,," Ucap Axeloe lagi dengan suara yang sedikit tinggi saat mendengar jawaban Vena untuknya.
" Apa ? Dia memaksaku untuk tetap menuruti perintahnya,," Ungkap Vena dalam hatinya yang begitu emosi ketika mendengar pernyataan dari Axeloe tetap memaksanya untuk menuruti perintahnya.
Saat ini Vena begitu terkejut sekali atas apa yang telah diperintahkan oleh Axeloe untuknya itu. Karena, Vena selama ini bekerja untuk keluarganya mencari nafkah dari jalan yang halal bukanlah dari sudut pandang yang berbeda.