
Karena, kebetulan saat ini Demian sudah pulang dari sekolahnya hingga membuat Ziya mengalihkan perhatiannya hanya untuk Demian. Sehingga membuat Alberto merasa bahwa Ziya dengan sengaja tidak memperdulikan dirinya.
" Heeemm,, bagus, pintar mengalihkan perhatian,," Gumam Alberto dalam hati yang sangat memperhatikan tingkah laku Ziya dengan sengaja mengacuhkannya itu.
" Lihat saja kau nanti Ziya, siang ini kau boleh bersenang-senang ria bersama putraku Demian, tapi, kita lihat saja malam nanti, kau tidak akan ku lepaskan,," Gumam Alberto dalam hati yang berniat ingin sekali mengganggu Ziya pada malam nanti.
Terdengar sekali suara keakraban dari kedua orang yang berada di hadapan Alberto saat ini yaitu Ziya dan Demian. Demian yang melihat bahwa saat ini Ziya sudah sembuh, sehingga membuat Demi segera bertanya pada Ziya, apakah Ziya sudah cukup kuat untuk menggendong dirinya ini.
" Mommy,," Sapa Demian pada Ziya.
" Heemm, iya sayang,," Jawab Ziya singkat yang masih memeluk Demi.
" Mommy benalan sudah sembuh,," Tanya Demi menatap wajah Ziya.
" Seperti yang kau lihat sayang,, Mommy sudah sembuh,," Jawab Ziya pada Demi sambil menunjukkan senyuman cerianya.
" Holeee,, kalau benal, Mommy sudah sembuh, jadi Mommy bisa temenin Demian untuk belmain, pelgi sekolah, sama bobo,," Ucap Demian sambil tertawa senang di dalam gendongan Ziya.
" Benar sekali sayang,," Jawab Ziya sambil mencium gemas pipi Demian.
" Thank you Mommy,," Ucap Demian yang juga membalas ciuman Ziya.
Terlihat sekali dari wajah Alberto sangat bahagia melihat sikap Demian yang sangat bahagia dan senang sekali saat bersama Ziya, bahkan saat ini terlihat di mata Alberto bahwa Ziya juga begitu menyayangi putranya itu.
" Kalau benar kau sangat tulus menyayangi putraku, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan dirimu, Ziya, karena, kau lebih menyayangi Demian dibandingkan Zoya ibu kandungnya sendiri." Gumam Alberto tersenyum senang melihat kelakuan Ziya dan Demian yang sedang bermanja-manja di depan matanya ini.
" Aku akan segera menceraikan Zoya dan segera menikah denganmu Ziya,," Bilang Alberto lagi yang segera melangkahkan kakinya mendekati Ziya dan Demian.
Sesaat sangat jelas sekali terdengar bahwa Ziya ingin mengajak Demian untuk makan siang dan juga bermain di kamarnya.
" Demi sayang, Demi sudah makan,," Tanya Ziya pada Demian.
" Belum,," Jawab Demian menggelengkan kepalanya.
" Belum,, ya sudah sekarang kita makan ya sayang,," Ucap Ziya tersenyum lembut pada Demian.
" Holeee,, ok Mom,," Teriak Demian terdengar sangat girang sekali.
" Daddy tidak diajak untuk makan bersama,," Celetuk Alberto seketika membuat Ziya kaget.
Demian yang mendengar ucapan Daddynya, dengan senang hati segera mengajak Daddy nya itu.
" Daddy belum makan juga,," Tanya Demian dengan tatapan wajah lucunya.
" Belum, sama seperti Demi,," Ucap Alberto yang sengaja mendekatkan wajahnya di bagian dada Ziya karena, kebetulan saat ini kepala Demian sedang bersandar di bagian dada Ziya.
" Ya sudah kita makan belsama Daddy dan Mommy yang suapi kita makan,," Ucap Demian sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Ziya.
Terlihat sekali Ziya kaget saat mendengar ucapan Demian meminta dirinya untuk menyuapi mereka. Ya, kalau sekedar menyuapi Demian, Ziya pastinya sangat bersedia. Tapi, menyuapi orang sebesar Alberto apakah kelakuannya itu benar ? Pasti akan terlihat sangat lucu sekali bagi pengawal dan Baby Sitter Demian saat ini.
" Hah!! Sayang, kalau menyuapi Demi, mau, tapi,," Ucapan Ziya terputus karena, mendengar suara Alberto yang berdehem saat dirinya mengucapkan kata tapi.
" Ehemm,, tapi apa,," Tanya Alberto dengan suara dinginnya.
Ziya yang melihat ekspresi wajah Alberto menjadi datar membuat dirinya segera mengalihkan ucapannya jadi bersedia untuk menyetujui permintaan Demian.
" Hehehehe tidak,," Jawab Ziya sedikit terkekeh kecil.
" Baiklah, Mommy akan menyuapi Demi dan Daddy,," Ucap Ziya mengangguk setuju di depan mata Demian.
Karena, mendengar Ziya bersedia untuk menyuapi Alberto dan Demian makan. Dengan kompaknya Alberto dan Demian menciumi pipi Ziya. Ziya sangat kaget sekali atas tindakan yang dilakukan oleh Alberto karena, terlihat sengaja sekali mencari kesempatan untuk menciumi dirinya.
" Mmmmuuuuaaaacccchhhh,, thank you Mommy,," Ucap Alberto dan Demian bersamaan setelah selesai menciumi kedua pipi Ziya.
" Hehehehe sama-sama sayanggg,," Jawab Ziya yang terpaksa memberikan senyuman gembiranya itu.
" Ya, terpaksa aku dicium lagi olehmu,, sepertinya, dia sangat pandai mencari kesempatan,," Umpat Ziya dalam hati saat melihat wajah Alberto sedikit menyunggingkan senyuman nakalnya pada tatapannya itu.
" Mau makan dimana sayang,, di ruang makan atau di kamar Demian,," Tanya Ziya dengan sengaja pada Demian agar dirinya bisa keluar dari kamar Alberto.
" Di kamal Demi, Mom,," Jawab Demian dengan wajah lucunya.
" Ok,," Jawab Ziya mengangguk tersenyum.
Karena, mendengar jawaban Demian ingin makan di kamarnya, jadi Ziya segera pergi ke kamar Demian. Saat Ziya mau melangkahkan kakinya menuju kamar Demian. Dalam seketika Alberto mencegah Ziya untuk pergi ke kamar Demian.
" Eehhh,, kalian mau kemana ?" Tanya Alberto seketika pada Ziya dan Demian.
" Ke kamar Demian, bukannya Demian mau makan di kamarnya,," Jawab Ziya menoleh ke arah Alberto.
" Makan di kamar Daddy saja,," Ucap Alberto memerintahkan Ziya untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Mendengar ucapan Alberto yang tidak menyuruh Ziya pergi ke kamar Demian itu, membuat Demian sedikit berkelit agar Ziya bisa untuk bermain di kamarnya.
" Nanti di kamal Daddy jadi jolok,," Ucap Demian menunjukkan wajah bonekanya.
" Tinggal dibersihkan saja,," Jawab Alberto yang masih ingin menang sendiri.
" Setelah makan Demi mau main sama Mommy,," Bilang Demian lagi pada Alberto.
" Main di kamal Daddy juga bisa,," Jawab Alberto yang tidak mau kalah dari Demian.
" Tapi mainan Demi di kamal Daddy tidak ada,," Bilang Demian lagi pada Alberto.
" Tinggal perintahkan Melly untuk membawa mainan Demi ke kamar Daddy,," Jawab Alberto lagi yang masih saja bersikeras tidak mengizinkan Ziya jauh dari matanya.
" Telus Demi mau bobo sama Mommy di kamal dan dicelitain dongeng,," Pinta Demian lagi yang membuat Alberto tersenyum pada Demi.
Ternyata Demi anaknya begitu pintar berkelit demi mendapatkan kasih sayang dari Ziya. Alberto sangat tahu bahwa selama ini Demian tidak mendapatkan kasih sayang yang lebih dari Zoya. Oleh sebab itu Alberto rela mengalah atas kasih sayang Ziya yang terlalu banyak untuk Demian daripada dengannya.
" Demi bisa bobo di kamar Daddy, bersama Daddy dan Mommy, ya,," Ucap Alberto yang menatap Demian dengan senyumannya.
" Eeeeeemmm,, tapi Demian maunya di kamal Demi,," Jawab Demian merengek-rengek di depan mata Alberto.
Ziya yang sudah tidak tahan lagi menahan beratnya tubuh Demi akhirnya ikut menyela pembicaraan antara Demian dan Alberto. Karena, sedari tadi dirinya hanya diam saja mendengar pembicaraan yang terjadi antara Demian dan Alberto.
" Turuti saja kehendak Demian,, Daddy,," Ucap Ziya seketika membuat Alberto tercengang.
Karena, baru kali ini Ziya memanggil Alberto dengan sebutan Daddy. Alberto hanya bisa tercengang mendengar ucapan Ziya itu. Karena, tidak seperti Zoya yang seakan acuh pada Alberto, oleh sebab itu Alberto juga acuh dengan tindakan Zoya, sungguh berbeda sekali dengan sikap Ziya saat ini terlihat begitu menawan, menarik dan juga mengagumkan.
" Heemm,, Come on Dad,," Bilang Demian yang segera mengajak Alberto.
" Ok, baik,," Jawab Alberto mengikuti arah Ziya dan Demian.
" Melly katakan sama pelayan siapkan makan siang untuk kami,," Ucap Alberto yang memerintahkan Melly untuk segera menyiapkan makanan siang mereka.
" Baik Tuan,," Jawab Melly dengan segera menjalankan perintahnya.
Melly sang baby sitter dengan segera pergi ke bagian dapur untuk menyiapkan makan siang Alberto, Ziya dan juga Demian.
Akhirnya Alberto hanya mengalah saja atas sikap Ziya yang telah memilih menuruti kehendak Demian. Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar Demian yang terletak tidak terlalu jauh dari kamar Alberto, begitu juga Alberto mengikuti langkah kaki Ziya yang menuju kamar Demian.
" Hihihihihihi,, ternyata dia juga bisa menuruti kehendak putranya,," Gumam Ziya tersenyum geli melihat Alberto yang mengikuti langkah kakinya.
Sesampainya di kamar Demi,,
Demian bersorak gembira karena, saat ini kedua orang tuanya bisa kembali berkumpul bersama dengannya lagi.
" Holeee,, akhilnya Mommy and Daddy, bisa belsama Demian lagi,," Ucap Demian yang bersorak gembira saat Alberto dan Ziya sudah masuk ke dalam kamarnya.
" Iya sayang,," Jawab Ziya.
" Demi, duduk disini dulu ya, Mommy ambil baju gantinya,," Ucap Ziya yang meletakkan Demian di atas tempat tidur.
" He'eh,," Jawab Demian mengangguk.
Setelah Ziya meletakkan Demian di atas tempat tidurnya dan dirinya segera mengambil baju ganti Demian di dalam lemari. Sedangkan, Alberto hanya melihat kelakuan Ziya yang begitu telaten mengurus Demian, sehingga membuat dirinya juga langsung duduk di atas tempat tidur Demian.
" Daddy duduk sini,," Celoteh Demian memanggil Alberto.
Alberto dengan segera duduk di dekat Demian. Setelah mendapatkan baju ganti untuk Demian, dengan sangat lembut Ziya menggantikan baju Demian lalu memakaikan Demian dengan baju yang bersih.
" Sudah selesai sayang,," Bilang Ziya yang telah menyelesaikan mengganti baju Demian.
Tak lama kemudian, Melly dan beberapa pelayan tiba di kamar Demian membawakan beberapa nampan berisi makanan, seperti biasa Alberto selalu menyuruh pelayan itu untuk mencoba terlebih dahulu semua makanan yang telah disediakan. Karena, Alberto tidak ingin putra semata wayangnya dalam bahaya seperti yang terjadi pada Vena hampir saja terjadi pada Ziya istrinya.
" Tuan, silahkan dinikmati,," Ucap salah satu pelayan setelah meletakkan semua makanan di atas meja dekat sofa kamar.
" Hemm,," Jawab Alberto datar, sehingga membuat Ziya sedikit tersenyum atas sikap Alberto yang selalu saja datar pada orang lain.
Saat semua pelayan ingin melangkah keluar dari kamar Demian, Dengan segera Alberto memanggil semua pelayan, untuk mencicipi makanan yang telah disediakan itu.
" Tunggu,, kalian lupa, harus melakukan apa setelah meletakkan makanan,," Ucap Alberto yang mengingatkan semua pelayannya.
" Maaf Tuan,, saya akan segera mencicipi semua makanan ini,," Jawab salah satu pelayan yang menundukkan kepalanya sambil mendekati meja makan.
Lalu, dengan segera pelayan itu mengambil sedikit demi sedikit makanan yang ada menggunakan piring dan garpu lain, lalu, setelah mengambil semua makanan pelayan itupun mencobanya satu persatu, karena, memang benar hanya pelayan itu saja yang memasak semua makanan ini, jadi, dirinya bersedia untuk mencobanya.
Setelah beberapa menit tidak ada reaksi apapun, Alberto dengan segera menyuruh semua pelayan itupun keluar.
" Baik, silahkan keluar,," Ucap Alberto kepada semua pelayannya.
Setelah semua pelayan telah keluar dari kamar dengan segera Ziya menggendong Demian untuk makan bersama.
" Ayo sayang, kita makan,," Ucap Ziya yang segera mendudukkan Demian di sofa.
Sementara itu, Ziya duduk di samping Demian dan Alberto dengan segera duduk menempel tepat di belakang Ziya. Ziya sebenarnya merasa risih atas sikap Alberto yang baru-baru ini kembali lagi seperti di awal saat dirinya datang ke tempat ini. Bersikap manja dan manis padanya.
" Oke, Mom,, Suapi Demi,, aaaakkk,," Pinta Demian sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
" Jangan lupa suapi aku juga,," Pinta Alberto dengan sengaja melingkari satu tangannya di bagian perut Ziya.
Ziya merasa bahwa Alberto ingin mengganggunya lagi, sehingga membuat Ziya berani untuk menjawab keinginan Alberto itu.
" Kalau kau di belakang, bagaimana aku menyuapimu,," Ucap Ziya yang menoleh ke arah Alberto dan wajah mereka sangat dekat sekali.
" Melalui mulut,," Jawab Alberto berbisik di telinga Ziya dengan suara lembutnya.
Ziya yang mendengar perkataan Alberto itu membuat jantungnya berdegup kencang.
" Daddy duduk disini saja, bagaimana Mommy mau menyuapi Daddy kalau Daddy duduk di belakang Mommy,," Celetuk Demian lucu sehingga membuat Alberto tertawaan mendengar ucapan Demian itu.
" Hahahaha,, Ok, Demi,, Daddy duduk di sebelah Demi,," Jawab Alberto yang segera pindah duduknya tepat di sebelah Demi.
Ziya tersenyum melihat kelakuan Demian yang begitu pintar sekali mengubah suasana, sehingga saat ini Alberto rela pindah tempat duduk tepat di sebelah Demian.
" Ya sudah sayang, sini aaaakkk,," Ucap Ziya yang juga membuka mulutnya sambil menyendokkan makanan di mulut Demian. Tapi, sesaat tingkah laku Alberto membuat Demian merengek karena, makanan yang sengaja disuapi Ziya diambil oleh Alberto.
" Aaauuummm,," Suara Alberto yang segera menyantap makanan dari Ziya.
" Aaakkkhh Daddy,," Rengek Demian kesal pada sikap Alberto yang sengaja merebut makanannya itu.
" Hahahaha,, Demi kalah,," Ucap Alberto yang melihat Demi kesal padanya.
Ziya hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah laku Alberto yang begitu dekat dan sayang dengan Demian. Dalam pikiran Ziya, kenapa Zoya bisa kabur, sedangkan Alberto begitu mencintai putra mereka. Ziya berpikir andaikan dirinya yang melahirkan Demian, Ziya tidak akan pergi meninggalkan Demian yang begitu lucu dan sangat menyayangi sosok seorang ibu baginya.
" Zoya kenapa kau tidak bisa menahan rumah tanggamu yang begitu bahagia ini,," Gumam Ziya dalam hati saat melihat tawa lepas dari Alberto sambil meledek Demian.
Lalu, Ziya menatap wajah Demian yang begitu lucu sehingga membuat Ziya merasa kasihan pada Demian yang telah ditinggal pergi Mommynya.
" Ya sudah nak, jangan nangis ini,, aaaakkk,," Ucap Ziya dengan sengaja menyendokkan makanan yang banyak tepat di dekat mulut Demi.
Karena, melihat Alberto masih tertawa Demian dengan segera melahap makanan yang disendokkan oleh Ziya untuknya.
" Lagi Mom,, yang banyak,," Pinta Demi manja pada Ziya.
" Iya sayang,, makan yang banyak ya supaya cepat besar,," Bilang Ziya pada Demian.
" Yes Mom,, Demi sayang Mommy dan Daddy,," Ucap Demian sambil menggapai Alberto dan Ziya.
" Makan yang banyak ya sayang,, supaya besar nanti jadi seperti Daddy,," Ucap Alberto kepada Demian sehingga membuat wajah Ziya kaget.
" Yes Dad,," Jawab Demian sambil tertawa lucu.
Bisa-bisanya Alberto menyuruh anaknya untuk menjadi seperti dirinya seorang Mafia. Secara jelas Ziya pasti menolak tidak menyetujui harapan dari Alberto itu, Ziya lebih memilih Demian menjadi orang yang hebat bukan seperti Mafia.
****