
Karena, saat ini dirinya hanya bisa bertahan pasrah atas kelakuan Alberto saat ini kepadanya. Apalagi Alberto saat ini telah mendeng-us, menge-cap sempurna di bagian lehernya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya harapan dan sebuah permintaan yang tulus dari Ziya agar Alberto bisa mengurungkan niatnya untuk menyentuh tubuhnya itu.
Begitu jelas sekali bisa dirasakan oleh Alberto bahwa memang sebenarnya tubuh Ziya ingin menolak, tapi percuma saja, tangan liar Alberto semakin menelusup kemana-mana area sensitif tubuh Ziya. Sehingga membuat Ziya hanya bisa diam saja tanpa penolakan sedikitpun, karena, jika menolak secara langsung maka kepalsuannya akan terbongkar saat itu juga.
Oleh sebab itu, Ziya hanya bisa diam dan menerima perlakuan yang sedang dilakukan oleh Alberto pada dirinya saat ini. Ziya hanya bisa berharap dan berharap semoga Alberto tidak akan melakukan tindakan apapun pada dirinya layaknya seperti seorang suami pada istrinya sebelum Zoya kembali.
" What !! Alberto, kau, kau,," Teriak Ziya dalam hati namun dengan posisi tubuh tidak bisa bergerak sedikitpun.
Sehingga menyebabkan Ziya seperti tersengat aliran listrik. Menyambar hebat di semua tubuhnya. Memang benar, Ziya merasakan aneh di bagian inti bawahnya. Cuma, ia masih sadar bahwa ini adalah suami kembarannya.
" Alberto, jangan lakukan ini, aku bukan Zoya,!" Teriak batin Ziya yang menolak tapi menerima rangsangan dari Alberto.
Hihihihihihi Ziya, Ziya,,,
Alberto pandai sekali tangannya bermain-main di atas tubuh Ziya saat ini, memberikan sebuah rang.sangan hebat terhadap Ziya.
Alberto begitumengetahui bahwa Ziya saat ini tidak bisa menolak dan hanya pasrah terima sebuah tindakan darinya yaitu sebuah rangs.angan darinya ini, membuat tangan Alberto semakin menjadi bermain-main di atas puncak gunung tubuh Ziya.
" Zoya sayang,, apa Demian membutuhkan adik, agar dia tidak terlalu manja padamu ?" Tanya Alberto yang menahan tawanya karena telah berhasil membuat tubuh Ziya sesaat menegang karena ucapannya ini.
" Oh, My God,, Dia mau anak, sebagai alasan untuk menyentuhku,,!!" Protes Ziya dalam hati.
" No, No, No,, aku tidak akan melakukannya.!" Pikir Ziya penuh keteguhan.
Karena, Ziya merasakan rangsangan yang diberikan oleh Alberto di atas puncak gunungnya itu membuat Ziya bertambah deg-degan.
" Oh,, God, kenapa tangannya begitu pintar,," Bilang Ziya yang sedikit lepas kontrol pikiran normal.
" Aku akan terbuai kalau dibuatnya seperti, ini,," Teriak Ziya yang telah menerima rangsangan dari tangan Alberto.
" Eeemm,, Zoya kau belum menjawab ku ?" Tanya Alberto yang membuat Ziya sedikit kaget.
" Oh iya barusan dia nanya apa,?" Tanya Ziya sendiri dalam hatinya karena saat ini otak Ziya mulai mengingat kembali ucapan Alberto di awal.
Akhirnya Ziya bisa mengingat pertanyaan Alberto yang memang tidak masuk akal untuk dipertanyakan padanya. Karena, sudah mengingatnya Ziya akhirnya menjawab ucapan Alberto yang baru saja diajukannya.
" Anak kita sudah banyak Alberto,, Dan sekarang, kau masih menginginkan anak lagi,," Ucap Ziya pelan karena takut Demian terbangun yang telah terlelap pulas dalam tidurnya.
Alberto hanya terkekeh kecil mendengar ucapan penolakan Ziya.
" Hehehe, sepuluh anak darimu, bahkan lebih, aku sanggup untuk melakukannya,!" Suara Alberto yang membuat Ziya semakin cemas.
" Dasar kau, kau pikir, perempuan itu mesin pencetak anak apa,," Gerutu Ziya yang memanas terhadap ucapan Alberto dalam hatinya.
" Apakah kau menginginkannya, Zoya,?" Bilang Alberto yang saat ini mulai mengendus aroma wangi dari tubuh Ziya.
" Heh! kau pikir aku mau, aku tidak mungkin selamanya terjebak menjadi Zoya, aku bukan istrimu,," Teriak jengkel suara hati Ziya.
" Sayang, aku menginginkanmu, sekarang,," Bilang Alberto yang membuat Ziya semakin menegang cemas.
" Aku akan membawamu ke surga malam, ini,," Ucap Alberto nakal pada Ziya.
Terlihat wajah Ziya yang penuh kecemasan ingin menolak ajakan Alberto tapi sayang tidak bisa ia lakukan. Karena, tahu sendiri penolakan bagi Alberto maka akan menjadi ancaman besar bagi keluarganya.
" Alberto, aku,," Ucap Ziya dengan suara yang keluar terdengar sedikit lirih dari mulutnya Ziya.
Lalu, secepat kilat jari telunjuk Alberto telah menutup bibir Ziya. Membuat Ziya semakin cemas saat ini.
" Ssttttt,, aku tidak bisa ditolak," Ucap Alberto yang sengaja memberikan sebuah ancaman terhadap Ziya
Mendengar ucapan Alberto yang tidak bisa ditolak itu membuat Ziya semakin cemas dan menegang, karena, jika menolak Alberto maka hal itu akan mengakibatkan kedua orang tuanya mendapatkan sebuah ancaman besar jadi, Ziya hanya bisa menuruti saja akan semua permintaan Alberto yang semakin lama semakin membuat Ziya cemas.
Sesaat Alberto mengangkat kepalanya untuk melihat, apakah Demian sudah tertidur. Dan, ternyata seperti dugaannya Demian sudah sangat nyenyak dalam tidurnya.
" Aku tunggu di kamar, dalam waktu sepuluh menit kalau kau tidak datang ke kamarku,, Jangan harap kau bisa melihat matahari besok,,!!" Ucap Alberto yang memberikan sebuah ancaman besar pada Ziya, yang saat ini pastinya membuat Ziya bergidik takut.
" Ma, maksudnya,?" Tanya Ziya terbata-bata.
Alberto, seperti tidak mendengar pertanyaan dari Ziya saat ini. Yang ia lakukan adalah bangun dari sisi Ziya dan meninggalkan Ziya yang masih berbaring memeluk Demian, lalu Alberto pun melangkahkan kakinya menuju pintu serta membuka tombol pengaman kamar dan keluar dari kamar tersebut.
Melihat Alberto pergi begitu saja dari kamarnya Demian hal itu membuat Ziya yang di dalam kamar masih kebingungan atas ucapan yang dilontarkan oleh Alberto barusan padanya.
" Maksudnya, apa dia menyuruhku ke kamarnya, apa dia ingin menyentuhku,?" Tanya Ziya sendiri di dalam kamar.
" Aduh, aku bagaimana,,?" Pekik Ziya kesal.
" Berpikir, berpikir, aku harus berpikir, bagaimanapun caranya aku harus menghindar darinya,," Ucap Ziya yang mulai beranjak bangun dari baringnya.
" Itu tidak akan mungkin terjadi, kalau aku disentuh olehnya maka sandiwaraku akan ketahuan semuanya.. Dan bagaimana nasib keluargaku,," Teriak Ziya tertahan karena masih di kamar Demian.
Ziya sengaja bangkit dari tidurnya, ia bisa berpikir leluasa dan tidak menggangu tidur Demian yang sangat pulas seperti saat ini. Terlihat saat ini Ziya sedang mondar mandir di dalam kamarnya Demian, untuk berpikir lebih keras lagi agar bisa menghindar dari keinginan Alberto.
" Aku harus bagaimana," Ucap Ziya yang meringis tapi tidak sakit sedikitpun.
Cuma perasaannya saja yang saat ini seperti terhimpit batu. Karena bisa dilihat dari cara Ziya yang sedang mondar-mandir dengan nafas yang tidak karuan sehingga ia saat ini begitu kuat sekali untuk memikirkan suatu hal yang bisa membuat Alberto mengurungkan niatnya dan tidak jadi untuk menyentuhnya malam ini.
" Oh,, God bantu aku,," Ucap Ziya yang tengah memohon dalam doanya.
" Dia bilang apa, dia akan membawaku ke surga, itu bukan surga bagiku, tapi neraka,," Umpat Ziya yang kesal atas ancaman Alberto.
Lalu, sesaat Ziya teringat atas ucapan Alberto, yang telah mengancamnya apabila dalam sepuluh menit tidak datang ke kamarnya, maka ia tidak akan bisa melihat matahari besok.
" Heh! Dia pikir dengan mengancamku, maka aku akan takut begitu saja,," Ucap Ziya yang seolah berani dengan ancaman Alberto.
Lalu, setelah dipikir-pikir kembali dengan ucapan Alberto yang baru saja dilayangkannya itu. Tentu saja hal itu membuat Ziya memang sedikit merinding karena, berhubungan dengan nasib keluarganya yang telah ditinggalkannya dan ia titipkan dengan pamannya itu.
" Tapi memang sebenarnya aku takut,," Bilang Ziya lagi yang begitu kesal atas sikap Alberto kepadanya saat ini.
" Mama bantu Ziya, Ziya harus bagaimana,," Pekik Ziya meminta bantuan pada Mamanya tapi mana mungkin Zalina, bisa mendengar ucapannya ini.
Saat ini Ziya masih saja sedang memutar otak dan kakinya mengelilingi kamar Demian. Lalu, sepintas Ziya teringat akan sebuah ide dimana ide itu cukup bagus untuk digunakannya dalam menghadapi ancaman besar dari Alberto. Sambil menjelentikkan jari tangannya seolah sudah mendapatkan sebuah ide Ziya sambil tersenyum mengatur sebuah rencananya.
" Ya, aku harus berpura-pura tidur saat aku sampai disana," Ucap Ziya tersenyum senang, karena, sudah mendapatkan ide.
" Baiklah, Alberto aku akan menepati perintah darimu,," Bilang Ziya yang kembali bersemangat untuk meninggalkan tempat tidur Demian malam ini.
Tidak lupa sebelum keluar dari kamar Demian, Ziya kembali mendekati tempat tidur Demian dan langsung mengecup kening putra manisnya itu. Setelah mengecup kening Demian, Ziya melangkahkan kakinya keluar dan menuju ke kamar Alberto.
Sebelumnya, Ziya telah menitipkan putranya kepada Melly yang sedang berada di luar.
" Melly, jaga Putraku," Ucap Ziya yang menitipkan Demian kepada pengasuhnya.
" Baik, Nyonya,," Jawab Melly yang segera masuk ke dalam kamar Demian.
Sementara itu, Vena yang biasa mengikuti langkah kaki Ziya, sesaat Ziya memperhatikannya, Karena, dirinya telah mendapatkan perintah dari Alberto juga.
" Kenapa, kau tidak mengikuti ku,?" Tanya Ziya menyelidik ke arah Vena.
" Maaf, Nyonya, saya diberi perintah oleh Tuan Alberto untuk bersama Tuan Muda Demian malam ini,," Jawab Vena yang segera masuk ke dalam kamar Demian.
" Lah, aku, sendiri begitu,," Gumam Ziya bingung.
Memang Alberto telah menyampaikan perintah kepada Vena sebelumnya bahwa dia tidak perlu mengikuti langkah Ziya malam ini.
Ziya pun akhirnya membuang nafas dengan sangat kasar, karena saking kesalnya dengan sikap Alberto yang secara tiba-tiba, menginginkan dirinya sendiri datang ke kamarnya malam ini.
" Fuhhhh,," Suara nafas kasar Ziya yang kesal terhadap Alberto.
" Baik aku akan kesana sendiri,," Ucap Ziya yang melangkah kasar menuju kamar Alberto.
Sementara itu, Alberto yang telah masuk ke dalam kamarnya itu, hanya memperhatikan perilaku Ziya di dalam komputer Cctv yang berada di kamar pribadinya itu.
Alberto sedikit menaikkan ujung bibirnya, tersenyum sinis melihat Ziya yang sangat kesal sekali untuk menuju kamarnya. Dan pastinya karena, malam ini Alberto sengaja memainkan perannya untuk menjadi suami yang sesungguhnya bagi Ziya dan memberi pelajaran kepada Ziya. Karena, telah berani berbohong, bersandiwara untuk menjadi istri palsunya.
" Kau, harus diberi pelajaran, istri palsuku, Karena, kedatangan dirimu, telah berani mengusik hatiku,," Suara Alberto yang keluar dari mulutnya sambil tersenyum sinis dan menyeringai melihat tingkah laku Ziya di dalam komputer Cctv nya itu.
Sambil tersenyum tipis Alberto melihat Ziya dengan wajahnya sedikit kesal ketika, ia sedang berbicara dengan Vena, lalu terlihat bahwa Vena hanya mengantarnya di bagian pintu depan kamar Alberto tanpa masuk ke dalam kamar tersebut.
****
Suka dengan cerita Mafia and Angel 💐💐
Jangan lupa Like 👍, Komen 💬 and Share 💐
Thanks for your all my love Readers ❤️❤️