
Sambil menggerutu kesal terhadap kelakuan Krystal, Claire hanya bisa melemparkan sepatunya kepada mobil yang melewatinya itu. Namun percuma saja lemparan sepatu yang dilakukannya itu sama sekali tidak bisa menggapai mobilnya Krystal dan sepatunya Claire sendiri terlempar ke jalanan. Betapa kesalnya Claire saat ini pada Auntynya sendiri dan juga kelakuan Axeloe yang telah mencegahnya itu serta Krystal dengan sengaja mengejeknya itu.
Sedangkan di dalam kediaman Alexandre saat ini Alberto disibukkan dengan merawat keadaan tubuh Ziya yang tertidur karena, lemah setelah muntah di dalam mobil saat perjalanan mereka pulang. Alberto sendiri membawa Ziya ke dalam kamar pribadinya dan memberikan perintah kepada Vena untuk membantunya membersihkan tubuh Ziya. Karena, saat ini Vena tetap mengiringi langkah Alberto untuk merawat tubuhnya Ziya itu.
Setelah berada di dalam kamarnya dengan perlahan Alberto meletakkan tubuhnya Ziya di atas tempat tidur sedangkan Vena langsung saja mengambil pakaian istirahat untuk Ziya di dalam ruang ganti.
" Vena, segera ambilkan semua pakaian untuk Istriku,," Ucap Alberto yang memerintahkan Vena mengambil semua pakaian untuk digunakan Ziya.
" Baik Tuan," Jawab Vena mengangguk.
Setelah mendapatkan semua pakaian yang akan dikenakan oleh Ziya, dengan segera Vena membawanya keluar dan mulai membersihkan tubuhnya Ziya. Biasanya Alberto mengizinkan Vena untuk membantunya membersihkan tubuh Ziya, tapi kali ini Alberto yang disibukkan sendiri dengan membersihkan tubuhnya Ziya. Sedangkan Vena malah diperintahkan Alberto mengambil minuman untuk kesehatan tubuh Ziya sehabis muntah seperti saat ini.
" Tuan, izinkan saya untuk membersihkan tubuhnya Nyonya,," Ucap Vena yang meminta izin kepada Alberto.
" Eemmm, tidak usah Vena, cukup saya saja yang membersihkan tubuhnya," Jawab Alberto sambil membukakan bajunya Ziya.
" Segera seduhkan air hangat untuk Istriku, setelah dia bangun nanti, dia bisa langsung meminumnya,," Ucap Alberto yang memberikan perintah kepada Vena.
" Baik Tuan,," Jawab Vena mengangguk.
Dengan segera Vena melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kamar pribadi Alberto. Namun, saat Vena akan membuka pintu untuk dia keluar, Alberto kembali mencegahnya dan sengaja memberitahu Vena minuman yang harus dibuat oleh Vena adalah minuman yang bisa menghilangkan rasa mual dan muntah pada tubuh Ziya saat ini.
" Eemmm, Vena tunggu sebentar !" Panggil Alberto lagi pada Vena.
" Iya Tuan,," Jawab Vena membalikkan tubuhnya.
" Buatkan minuman untuk Istri saya yang hangat dan membuat tubuhnya supaya tidak mual lagi,," Ucap Alberto seolah mengerti bahwa waktu Ziya terbangun akan kembali mual dan juga muntah.
" Oohhh, baik Tuan," Jawab Vena mengangguk.
Setelah mendapatkan sebuah perintah yang pasti barulah Vena keluar dari kamar Alberto dengan membawa perintah yang tepat. Sementara itu, di dalam kamar pribadinya, dengan lembut Alberto telah membuka semua baju yang dikenakan oleh Ziya saat ia datang ke rumah sekolahnya Krystal. Dan, tubuhnya Ziya saat ini sama sekali sedang polos sehingga membuat Ziya sendiri merasa sedikit kedinginan dengan suhu ruangan di dalam kamar Alberto yang begitu sejuk sekali.
" Eemmm, sayang kau kenapa bisa muntah seperti ini ?" Tanya Alberto sambil membukakan satu persatu pakaian Ziya.
" Apakah kau memiliki sakit lainnya ?" Tanya Alberto lagi merasa cemas akan kondisi Ziya yang selalu mengalami penurunan imunitas tubuh akhir ini.
" Di,, ngin,," Suara Ziya yang terdengar lirih ketika merasakan tubuhnya yang polos oleh kelakuan Alberto itu.
" Eemmm, sepertinya sayangku sudah sadar,," Gumam Alberto langsung menuju ke bagian atas tubuh Ziya dan mendekatkan telinganya pada mulut Ziya.
" Di, ngin,," Ucap Ziya lagi yang masih memejamkan matanya.
Untuk sesaat Alberto tersenyum lebar ketika bisa mendengarkan suara Ziya kembali. Dan, dengan penuh semangat Alberto membangunkan Ziya secara langsung hingga membuat Ziya membukakan kedua matanya.
" Sayang, sayang, sayang bangun hei,," Bilang Alberto sambil menciumi pipi kiri dan kanan Ziya secara bergantian.
" Eeemmm, Al,, ber,, to,," Suara Ziya lirih yang masih bisa tersenyum melihat wajah Alberto menatap wajahnya dengan senyuman.
" Iya sayang, ini aku Alberto milikmu," Ucap Alberto yang merasa bahwa dirinya telah memiliki Ziya seutuhnya.
" Aku dimana ?" Tanya Ziya ketika melihat Alberto yang masih berada di atas tubuhnya.
" Sayang, kau sedang berada di dalam kamar kita,," Jawab Alberto dengan jujur.
" Berarti kita sudah sampai di rumah ?" Tanya Ziya lagi sambil mengelilingi pandangan matanya ke seluruh arah kamar.
" Tepat sekali !! dan saat ini kita berdua sudah berada di dalam kamar, Istriku sayang,," Ucap Alberto yang merasa posisi tubuhnya itu paling tepat.
Seketika membuat Ziya menyunggingkan senyumannya saat mendengar ucapan lembut dari mulutnya Alberto. Karena, melihat senyuman di wajah Ziya yang begitu indah dengan segera Alberto langsung menciumi bibir Ziya hingga puas.
" Eeemmm, Alberto apa yang kau lakukan ?" Tanya Ziya setelah merasakan bibirnya dilahap habis oleh bibir Alberto dan melihat posisi tubuh Alberto sudah berada di atas tubuhnya.
Setelah selesai menciumi bibir Ziya dengan puas itu membuat Alberto kembali lagi bersemangat untuk melakukan sesuatu kepada tubuhnya Ziya. Yaitu suatu hal yang tertunda saat mereka sedang berada di dalam mobil dan juga keadaan Ziya yang sakit karena muntah.
" Aku harus melakukan apa yang harus kita lakukan, sayang,," Ucap Alberto dengan kembali tersenyum menatap wajah Ziya yang terlihat sendu saat terbangun seperti ini.
" Eemmm Alberto, tubuhku masih lemah dan kepalaku terasa pusing,," Ungkap Ziya dengan suara kecilnya sambil menyentuh bagian kepalanya.
Betapa terkejutnya Alberto ketika mendengarkan ucapan Ziya yang menyatakan bahwa kepalanya pusing, Alberto takut jika sakitnya Ziya itu kembali menyerang tubuhnya itu, sehingga membuat Alberto kembali mengingat bagaimana rasa sakit yang Ziya rasakan disaat penyakitnya itu sedang kambuh.
" Pusing, bagian mana sayang ?" Tanya Alberto yang langsung turun dari atas tubuhnya Ziya.
Ketika melihat Alberto yang langsung merespon menuruni tubuhnya itu sambil tersenyum Ziya mengelus lembut wajah Alberto dan mengucapkan kata terima kasih karena sudah selalu mengkhawatirkan dirinya.
" Terima kasih, karena kau selalu mengkhawatirkan keadaanku,," Bilang Ziya sambil tersenyum lembut.
" Ya sayang itu pasti akan aku lakukan karena, kau adalah hidupku,," Ucap Alberto sambil menciumi tangannya Ziya.
" Alberto, aku merasa pusing dan juga mual, sebenarnya saat ini baru pertama kali aku rasakan tubuhku seperti ini,," Bilang Ziya yang menyatakan kondisi tubuhnya.
" Tapi, kenapa aku merasa tubuhku bukan hanya kali ini saja seperti ini, sepertinya aku sudah merasakan hal seperti ini waktu dulu, tapi kapan terjadinya aku tidak tahu,," Gumam Ziya lembut yang tubuhnya sudah ditutupi oleh Alberto menggunakan selimut.
Ketika mendengar ucapan Ziya seperti mengingat suatu kejadian yang pernah ia alami dulu, segera Alberto memeluk tubuh Ziya dengan erat. Karena, Alberto jelas mengetahui keadaan yang Ziya katakan saat ini adalah keadaan dimana Ziya sedang mengandung putra pertamanya yaitu Demian. Namun, untuk saat ini Alberto belum jelas mengetahui bahwa Ziya apakah benar telah mengandung apa belum.
" Sayang, maafkan aku yang sudah menelantarkan kau disaat kau mengandung Demian dulu," Gumam Alberto dalam hatinya sambil memeluk erat tubuhnya Ziya.
" Apakah mungkin saat ini kau sedang mengandung anakku lagi sayang ?" Tanya Alberto dengan suara kecilnya kepada Ziya.
Namun, tidak ada jawaban sedikitpun dari Ziya saat ini, karena, Ziya sendiri masih lemah dan akhirnya tertidur pulas saat berada di dalam pelukan hangat yang dilakukan oleh Alberto kepada dirinya. Sambil tersenyum Alberto melihat wajah lugu Ziya yang sudah tertidur pulas di dalam pelukannya itu, dengan segera Alberto memakaikan semua pakaian Ziya supaya Ziya bisa istirahat dengan nyaman.
" Oh God ternyata dia sudah tertidur lagi, betapa lemahnya saat ini tubuhmu sayang, aku berharap semoga kau bisa kuat lagi seperti dulu dan tidak lemah seperti saat ini Istriku,," Ucap Alberto sambil mengecup lembut kening Ziya.
" Tidur yang nyenyak ya sayang,," Ucap Alberto lembut lalu turun dari tempat tidur.
Setelah selesai memakaikan semua pakaian dalam tubuhnya Ziya dengan segera Alberto meletakkan tubuh Ziya dia atas tempat tidur dalam posisi yang tepat dan juga nyaman untuk Ziya. Setelah merasa cukup, barulah Alberto melangkahkan kakinya untuk turun dari tempat tidur dan membuka semua pakaian yang telah dikenakannya itu, karena semua pakaian itu sudah kotor terkena muntahan Ziya saat berada di dalam mobil.
" Aku akan selalu berada di sampingmu sayang, tidak akan ada orang yang bisa membuat kau menderita lagi sayangku, selama aku masih ada di dalam dunia ini, aku tidak akan membiarkan kau terluka lagi seperti kemarin,," Ucap Alberto dengan penuh keyakinan sambil memeluk erat tubuh Ziya.
Setelah selesai melepaskan semua pakaiannya itu barulah Alberto kembali menaiki tempat tidurnya dan selalu menjaga Ziya yang sedang tertidur pulas di sampingnya itu. Sambil menimang tubuh Ziya yang terlelap di sampingnya itu, Alberto mengira pikirannya sendiri, apakah kondisi Ziya saat ini memang benar telah mengandung.
" Sayang, apakah kondisi tubuhmu yang mengalami muntah seperti ini karena kau telah mengandung anakku kembali ?" Tanya Alberto sendiri dengan Ziya yang sedang tertidur.
" Tapi, aku juga tidak tahu bagaimana dengan kondisi seorang wanita yang baru saja hamil,," Ucap Alberto sambil melihat layar ponselnya.
Ketika Alberto sedang melihat layar ponselnya itu, sesaat terbersit pikirannya untuk segera menghubungi adiknya Axeloe, karena, hanya seorang dokter yang bisa mengetahui penyakit atau kondisi tubuhnya Ziya saat ini.
" Eemmm sepertinya aku harus memanggil Axeloe,," Ucap Alberto yang langsung teringat adiknya adalah seorang dokter.
Karena, biasanya Alberto selalu memanggil temannya Daniel apabila Ziya sedang sakit, tapi kali ini sudah tidak lagi, karena, Axeloe adiknya sendiri juga bisa digunakan untuk memeriksa keadaan tubuh istrinya itu. Dengan segera Alberto menelepon Axeloe yang sedang berada di dalam ruangan penelitiannya itu. Tidak membutuhkan waktu lama, Axeloe langsung mengangkat telepon dari Kakaknya itu.
" Ya ada apa brother ?" Tanya Axeloe di dalam ponselnya.
" Sekarang kau datang ke kamarku,," Ucap Alberto jelas.
" Baik, kenapa istrimu sedang mengalami sakitnya atau ?" Tanya Axeloe lagi untuk memastikan keadaan Ziya.
" Bukan itu, intinya kau segera datang ke kamarku untuk memeriksa keadaannya, karena, saat ini dia sedang tertidur,," Ucap Alberto sambil memeriksa kembali keadaan Ziya dalam pelukannya itu.
Setelah selesai menghubungi Axeloe, Alberto meletakkan asal ponselnya itu, lalu Alberto kembali lagi memeluk tubuh Ziya dengan erat dan juga menciumi lembut semua yang ada di wajah Ziya tidak ketinggalan di bagian area lehernya Ziya.
" Sayang, semoga sakit yang kau alami ini membawa berita bagus untuk kita berdua,," Gumam Alberto sambil mencium lembut bibirnya Ziya.
" Kenapa aku selalu merasa naf.su yang besar ketika bersama dengannya, padahal selama ini aku begitu membenci saudara kembarnya," Gumam Alberto sambil meneliti garis wajah Ziya.
" Sayang hanya kau yang bisa mengambil semua perasaanku selama ini, hanya kau yang bisa membuatku mengerti apa itu cinta dan kasih sayang, hanya kau yang bisa membuatku tidak bisa melakukan suatu kekejaman pada orang lain, kenapa kau memiliki sifat yang begitu baik dan juga mempesona istriku," Ucap Alberto yang terdengar sedang memuji kebaikan dan juga kecantikan Ziya.
" Sehingga aku tidak bisa melakukan hal kekejaman apapun ketika bersama denganmu, kau bagaikan bidadari yang indah bagiku, yang telah dikirim khusus dari surga untukku," Sambung Alberto lagi yang masih tetap mengagumi sikap baik Ziya selama ini saat bersama dengannya.
" Terima kasih banyak karena kau sudah menjadi milikku saat ini, jangan pernah berhenti untuk mencintaiku dan selalu menyayangiku, Ziya,," Gumam Alberto terakhir untuk Ziya sambil mencium lama bibir Ziya.
Setelah mengucapkan perkataan yang mengandung banyak pujian untuk Ziya, begitu lama Alberto menciumi bibirnya Ziya, namun hal itu sama sekali tidak membangunkan Ziya yang sedang tertidur lelap itu. Ziya hanya bergerak sedikit ketika merasakan bibir Alberto yang sengaja mencium lama bibirnya itu. Ketika melihat tubuh Ziya yang menggeliat, Alberto malah tersenyum senang dan membayangkan kebahagiaan yang akan terjadi pada keluarga kecilnya itu.
" Maaf sayang, jika ciumanku ini mengganggu tidur lelapmu," Ucap Alberto yang tersenyum ketika melihat Ziya sedang menggeliat.
" Karena, kenapa semua yang ada di dalam tubuhmu ini, membuat tubuhku selalu membangkitkan naf.su untuk melakukan suatu inti percintaan. Tubuhmu ini bagaikan candu bagi hasrat tubuhku Ziya." Ucap Alberto tersenyum senang sambil menyentuh lembut wajah Ziya.
Alberto berpikir bahwa ia akan membawa keluarga kecilnya ini hidup di sebuah pulau pribadi yang sepi akan kehidupan hiruk pikuk kehidupan kota. Dan, Alberto tidak lupa berpikir bagaimana reaksi Demian ketika ia mengetahui bahwa Mommynya Ziya ini sedang mengandung adiknya. Kemungkinan besar Demian akan bahagia setelah mengetahui bahwa Mommynya itu sedang mengandung.
" Heemmm, bagaimana jikalau Ziya benar mengandung," Ucap Alberto yang sedang membayangkan keadaan Ziya mengandung.
" Dan pastinya Demian akan bahagia sekali, karena sebentar lagi dia akan mempunyai adik,," Gumam Alberto sambil menciumi tangan Ziya.
" Heemm bagaimana ekspresi wajah Demian, semoga kau benar mengandung anakku sayang,," Bilang Alberto lagi yang memiliki harapan besar terhadap kondisi Ziya saat ini.
" Kenapa lama sekali Axeloe datang !" Ucap Alberto merasa geram karena menunggu lama kedatangan Axeloe.
Dengan segera Alberto mengambil ponselnya kembali dan menghubungi Axeloe. Sementara itu, Axeloe baru saja keluar dari ruangan penelitiannya dengan membawa botol serum penawar obat yang sudah dimasukkan ke dalam tubuhnya Ziya.
" Ziya sedang tertidur pulas, lebih baik aku langsung membawa obat ini, mungkin bisa langsung disuntikkan ke dalam tubuhnya." Ucap Axeloe sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan penelitiannya itu.
Saat keluar dari ruangan penelitiannya itu, dimana ruangan penelitian milik Axeloe memiliki sebuah kode akses untuk memadamkan sistem keamanan di dalam kediamannya ini. Karena, merasa bahwa di kediamannya ini sudah tidak banyak lagi orang yang akan melakukan tindakan kejahatan.
Saat Axeloe melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar pribadinya Alberto tanpa sengaja Axeloe menabrak Vena asisten pribadi Ziya yang sedang melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur dan saat itu juga Axeloe segera menghentikan langkahnya Vena, karena baru kali ini Axeloe melihat seorang wanita yang membuatnya sedikit merasa tertarik dan berbeda daripada wanita lainnya.
" Aaakkkhh,," Ucap Vena yang merasa sakit pada bagian tubuhnya karena, tertabrak secara tidak sengaja oleh Axeloe.
Sedangkan, Axeloe sendiri malah melewati tubuh Vena yang terhempas karena, tubuhnya itu, karena sebenarnya Axeloe memiliki sifat yang cuek, oleh sebab itu Axeloe tidak memperdulikan Vena yang sedang terjatuh ke lantai itu.
Namun, sesaat Axeloe menghentikan langkah kakinya dan kembali lagi memundurkan langkah kakinya tepat di depan Vena sambil bergumam sendiri di dalam batinnya bahwa semenjak ia pulang ke kediaman ini, ia belum pernah melihat Vena bekerja di kediaman Alexandre.
" Siapa kau ?" Tanya Axeloe langsung kepada Vena.
" Maaf Tuan saya Vena,," Jawab Vena yang masih mengelus sendiri pundaknya itu.
" Berdiri, jangan pura-pura sakit karena tertabrak olehku," Ucap Axeloe yang terdengar begitu dingin terhadap Vena.
Dengan segera Vena membangkitkan tubuhnya sendiri dan menundukkan pandangannya dari tatapan Axeloe. Saat Vena berdiri, Axeloe sedikit tergugah melihat kecantikan di balik wajahnya Vena begitu oriental dan berbeda dari wanita lainnya.
" Semenjak aku kembali di dalam kediaman ini, aku tidak pernah melihatmu, siapa kau ?" Tanya Axeloe lagi kepada Vena.
" Maaf Tuan saya Vena, asisten pribadi Nyonya Zoya,," Jawab Vena masih dengan menundukkan wajahnya.
" Ooohhh, ternyata kau asisten dari istri Kakakku,," Gumam Axeloe mengangguk sambil menyentuh bibirnya sendiri.
" Betul Tuan," Jawab Vena mengangguk.
Karena, melihat wajah Vena yang selalu ditundukkannya itu, membuat Axeloe menjadi penasaran dengan wajah gadis cantik itu, lalu dengan tindakan dinginnya Axeloe melangkahkan kakinya satu langkahan saja sudah sangat dekat dengan tubuhnya Vena, sehingga membuat Vena sangat cemas dan juga takut akan sikap Axeloe yang mendekati dirinya itu.
" Kalau berbicara denganku, angkat wajahmu itu, jangan ditundukkan, memangnya kau berbicara pada lantai,," Ucap Axeloe yang terdengar begitu menyeramkan bagi Vena.
" Maaf, Maaf Tuan, saya tidak bermaksud menganggap Tuan seperti itu,," Bilang Vena dengan perlahan mengangkat wajahnya.
Ketika Vena mengangkat wajahnya itu dengan begitu perlahan sekali, membuat Axeloe semakin meneliti wajahnya Vena secara perlahan juga. Dan ketika wajahnya Vena telah sempurna bertatapan langsung pada wajahnya itu membuat Axeloe tercengang atas kecantikan alami yang dimiliki oleh Vena. Perpaduan wajah oriental Eropa dan Asia membuat Axeloe sedikit merasa kagum atas kecantikan wanita ini. Walaupun Ziya memang terlihat begitu cantik dibandingkan Vena, namun kecantikan Vena ini membuat hatinya sedikit tergelitik.
" Heemm ternyata dia cantik juga,," Gumam Axeloe tersenyum tipis ketika melihat wajah Vena saat bertatapan dengannya.
Sedangkan Vena sendiri terdiam saat bertatapan langsung dengan Axeloe, karena baru kali ini juga ia melihat dengan jelas dan langsung wajah asli dari adiknya Alberto yang terkenal akan kekejamannya itu. Memang dari segi wajahnya Axeloe terlihat lebih dingin dan juga sangar, namun Vena bisa melihat bahwa Axeloe masih memiliki kelembutan hatinya.
" Oh My God ternyata Tuan Axeloe lebih tampan daripada fotonya,," Gumam Vena yang tercengang mengagumi ketampanan Axeloe.
Karena, Axeloe bisa mengetahui bahwa bisa ditebak dari wajahnya Vena seperti sedang terpukau akan ketampanan yang dimilikinya itu membuat Axeloe langsung mengagetkan Vena dengan cara dinginnya juga.
" Heemm sepertinya gadis imut ini sedang mengagumi ketampanan wajahku,," Gumam Axeloe dengan rasa percaya diri.
" Baiklah akan aku berikan dia sebuah hukuman karena, telah berani menatap wajahku dengan tatapan yang begitu dalam,," Ungkap Axeloe sambil menyunggingkan senyuman sinisnya.
Dengan sengaja Axeloe menjelentikkan jarinya tepat di depan matanya Vena, sehingga membuat Vena seketika terkejut dan merasa canggung karena, sudah berani menatap wajah Axeloe begitu dalam.
" Hei!!" Seru Axeloe sambil menjelentikkan jarinya.
" Aakkhh iya Tuan maaf,," Bilang Vena yang kembali menundukkan wajahnya.
" Lakukan apa yang ingin kau lakukan kenapa menatap wajahku,," Ucap Axeloe yang langsung membuat Vena tercengang dan tersipu malu.
" Aakkhh baiklah, Maaf Tuan,," Jawab Vena dengan segera membalikkan tubuhnya.
Dan, ketika Vena membalikkan tubuhnya itu dengan gaya canggungnya, hal itu membuat Axeloe menyunggingkan senyumannya dan mengulangi lagi perbuatannya untuk mengganggu Vena.
" Hei, kau tidak permisi dulu padaku,," Panggil Axeloe kepada Vena.
" Mati aku !" Ucap Vena sambil menelan salivanya.
Ketika mendengar ucapan Axeloe seperti itu pastinya Vena yang mendengarkannya itu terkejut dan merasa bersalah, sambil memejamkan matanya dan menelan salivanya sendiri, dengan segera Vena langsung membalikkan tubuhnya menghadap Axeloe kembali dengan tatapan ke bawah lagi.
" Maaf Tuan saya permisi dulu, karena, harus membuat minuman hangat untuk Nyonya Zoya." Ucap Vena kepada Axeloe sambil menundukkan kepalanya dengan perasaan takut.
" Ya sudah pergi sana,," Bilang Axeloe lagi.
Sambil memberikan hormat kepada Axeloe dengan segera Vena melangkahkan kakinya ke arah dapur dan meninggalkan Axeloe yang masih terpaku di tempatnya itu. Sedangkan, Axeloe merasa bahagia karena, sudah mengganggu seorang gadis yang bisa membuat hatinya tergugah.
" Heh!! dasar wanita polos,," Gumam Axeloe sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah lantai dua.
Dengan segera Axeloe melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua dimana keberadaan kamar pribadi Alberto. Sedangkan Vena sendiri mengelus dadanya dan mengatur napasnya sendiri, karena, merasa malu dan juga canggung ketika bertemu langsung dengan Tuan Muda tampan di kediaman ini. Vena sangat takut sekali akan sikap Axeloe yang begitu dingin menatapnya itu, Vena takut jika Axeloe memberikannya sebuah hukuman karena dia sendiri sudah berani menatap dalam wajah Axeloe.
" Aduhhh, untung saja Tuan Axeloe tidak memberikan aku hukuman, kalau tidak bagaimana aku memberitahukan hal ini kepada Tuan Alberto,," Gumam Vena sambil mengelus dadanya sendiri.
" Uuuuhhhhh, lebih baik aku segera menyeduh minuman hangat untuk Nyonya," Bilang Vena sambil menyiapkan semua peralatan untuk membuat minuman hangat.
Dengan begitu rapi dan juga telaten, Vena menyeduhkan minuman hangat yang telah dipesan oleh Alberto. Setelah selesai barulah Vena membawakan minuman hangat itu ke dalam kamar pribadinya Alberto. Namun, ketika Vena sedang meletakkan gelas air hangat ke dalam nampan, tidak sengaja Vena melihat ada seorang punggung wanita sedang mengendap-endap di depan sebuah ruangan pintu ruangan. Karena, merasa penasaran akhirnya Vena meninggalkan minuman hangatnya dan menyelidiki wanita yang sedang dicurigainya itu.
****