Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 129 - Memastikan Janji



Ziya yang sengaja menunggu ucapan yang dikatakan oleh Alberto, di dalam hati yang sebenarnya berharap ucapan-ucapan yang indah keluar dari mulut Alberto untuknya.


" Dan kau sebenarnya adalah putri dari James Andricha dan Zanetti Berlina, namamu adalah Ziya,," Ucap Alberto yang perkataan terakhirnya menyebutkan nama aslinya Ziya.


Hingga membuat Ziya terperanjat atas ucapan Alberto yang memanggil namanya bukan seperti selama ini yang hanya selalu dipanggil sayang. Tapi kali ini, Alberto memanggilnya dengan panggilan nama Ziya. Begitu bahagianya Ziya saat Alberto mengetahui nama aslinya dan langsung memanggil namanya dengan nama aslinya bukan Zoya.


Ziya tersenyum merekah saat mendengarkan Alberto menyebutkan namanya, Ziya merasa sangat wajar jika Alberto tahu kalau namanya adalah Ziya Andricha. Karena, Ziya tahu bahwa pekerjaan Alberto, merupakan pekerjaan yang sangat membuat dirinya bingung antara takut, cemas dan senang. Karena, menurut perkataan orang banyak bahwa Alberto adalah seorang mafia yang kejam, tapi, kenapa bersama dengannya sikap Alberto saat ini begitu terasa lembut.


Saat Alberto memanggil Ziya dengan nama aslinya dengan segera Ziya memeluk tubuh Alberto. Hingga membuat Alberto membalas pelukan Ziya itu lalu, memberikan p belaian lembut penuh kasih sayang pada dirinya.


" Terima kasih, Alberto, akhirnya kau memanggilku dengan namaku sendiri,," Bilang Ziya saat berada di pelukan Alberto.


Alberto tersenyum, saat mengetahui bahwa Ziya sungguh merasa bahagia sekali ketika Alberto menyebutkan namanya.


" Ya sayangku, apa kau bahagia, bahwa aku mengetahui siapa dirimu,," Ucap Alberto menatap wajah Ziya dan terlihat oleh Alberto bahwa Ziya mengangguk dan kembali memeluknya.


" Heemmm,, sebenarnya aku ingin mendengar kau memanggilku dengan sebutan namaku dari dahulu Alberto,, tapi,," Ucap Ziya yang perkataannya terputus.


Karena, Alberto telah memegang dan mengangkat dagunya, sehingga, saat ini mata Ziya menatap lembut mata Alberto.


" Maafkan, aku sayang, jika kemarin, aku tidak memanggilmu dengan namamu yang asli,," Bilang Alberto yang membelai lembut bibir Ziya.


" Heemmm,, tidak apa-apa, Alberto, aku mengerti." Jawab Ziya yang memberikan petunjuk pada mata Alberto.


Alberto tersenyum melihat wajah cantik yang sungguh membuatnya saat ini merasa bahwa dulu ia pernah melihat tatapan mata ini, tapi dimana, Alberto merasa mengingat-ingat sendiri dengan ingatannya itu.


" Sepertinya, aku sudah pernah bertemu dengan mata ini, tapi dimana ?" Pikir Alberto dalam hati yang melihat mata Ziya.


" Apa mungkin karena, wajahnya yang mirip dengan Zoya, jadinya aku merasa bahwa, tapi, aku merasa hal lain pada dirinya, sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelum aku menikah dengan Zoya." Ucap Alberto dalam hati yang memikirkan kejadian yang pernah ia alami untuk Zoya.


" Sepertinya, aku harus mencari tahu, semua ini pasti ada kesalahpahaman yang terjadi,," Pikir Alberto lagi yang kembali menatap wajah Ziya.


" Bagaimanapun juga, ketika Zavier kembali, aku akan bertanya, maksudnya apa dengan perkataannya pagi ini,," Bilang Alberto yang bertekad kuat untuk mengetahui apa maksud dari perkataan Zavier padanya.


Karena, terlihat sepertinya ada yang disembunyikan oleh Zavier padanya, Alberto yang selama ini tidak menghiraukan siapa Mommy kandung dari Demian putranya itu, akhirnya saat ini Alberto ingin mengetahui jelas siapa sebenarnya Mommy dari putranya itu, jangan sampai yang ia lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Saat ini, Alberto tidak mau lagi menerima Zoya kembali ke dalam kehidupannya, karena, baginya Zoya tidak pantas menjadi Mommy yang baik untuk Demian. Sangat berbeda dengan sikap Ziya yang selalu lembut pada Demian.


Ziya melihat sepertinya wajah Alberto sedang memikirkan sesuatu, lalu, Ziya melambai-lambaikan tangannya pada wajah Alberto, sehingga membuatkan Alberto sedikit tersenyum atas kelakuan Ziya.


" Hei,, apa yang sedang dipikirkan ?" Tanya Ziya pada Alberto.


" Heemm,, tidak ada, hanya berpikir bahwa kau tidak akan pergi dalam kehidupanku,," Bilang Alberto yang menatap wajah Ziya.


Ziya berpikir bahwa sepertinya saat ini, Alberto yang sudah mengetahui dirinya, dan suatu saat pasti Alberto akan menyukai dirinya, pastinya ia tidak mau mengkhianati kepercayaan dari saudara kembarnya, bahwa ia telah tega merebut kebahagiaan yang selama ini dimiliki oleh Zoya saudari kembarnya itu.


Ziya merasa bersalah atas perasaan yang dirasakannya pada Alberto, karena, perasaan ini tidak seharusnya ia rasakan untuk suami dari Zoya kembarannya sendiri.


" Alberto, apakah aku salah menyukaimu ?" Tanya Ziya dalam hati, karena, tidak sanggup mengeluarkan kata-kata ini dari mulutnya.


Lalu, sesaat lamunan Ziya dan tatapan mata Alberto buyar seketika mereka berdua sama-sama mendengar suara ponsel milik Alberto. Ziya yang mengerti akan diri Alberto dengan segera bangun dari duduknya yang berada di pangkuan Alberto, namun Alberto sendiri melarang Ziya untuk bangun dari pangkuannya itu. Membuat Ziya beralasan untuk mengambil helai daun dari tanaman yang dibutuhkannya.


" Jangan bangun sayang,, tidak apa-apa,," Bilang Alberto yang mencegah Ziya bangun.


" Eemmm, Alberto aku mau mengambil dedaunannya, masih banyak yang belum diambil." Bilang Ziya beralasan karena ingin bangkit dari pangkuan Alberto.


Alberto mengerti akan ucapan dari Ziya, walaupun terdengar seperti serius, namun tidak terlihat bahwa Ziya sedang beralasan padanya.


" Yah,, baiklah,," Bilang Alberto yang mengizinkan Ziya untuk kembali mencari dedaunannya.


Seketika Ziya bangun, kembali Ziya mendengarkan ucapan Alberto, walaupun sedikit jauh dari Alberto begitu terlihat bahwa saat ini Ziya sedang menguping. Dengan tersenyum lalu, Alberto segera mengangkat teleponnya.


" Ya, Richie ada apa ?" Tanya Alberto yang mengangkat teleponnya.


Seketika Ziya mendengar suara Alberto yang menyebutkan nama Richie.


" Richie,, heeemm, ya sudahlah, kenapa juga aku harus mendengarkan pembicaraannya di telepon." Ucap Ziya sendiri yang menggelengkan kepala seolah merasa sedikit curiga pada Alberto.


Sebenarnya Ziya bukan curiga dengan pekerjaan Alberto. Sebenarnya Ziya ini curiga dengan status Alberto dalam rumah tangganya, karena, Ziya ingin tahu berapa banyak istri yang dimiliki oleh Alberto. Karena, setahunya Alberto hanya memiliki dua istri yaitu istri pertama sudah diceraikannya, dan istri keduanya adalah Zoya.


Namun, Ziya tidak begitu yakin Alberto hanya memiliki dua istri, karena, terlihat pastinya Alberto memiliki banyak istri tapi terserahlah karena, itu urusan Alberto, sebab dia sendiri juga bukan istri dari Alberto, melainkan hanya istri pengganti dari saudari kembarnya.


Ziya tidak berharap akan perasaan Alberto padanya, yang Ziya harapkan semoga Zoya kembali dan ia bisa dilepaskan dari Alberto, namun Ziya juga tidak bisa melepaskan perasaannya pada Alberto, karena, sampai saat ini, ia sangat mencintai suami dari kembarannya itu.


Kembali lagi pada Alberto yang sedang menerima telepon dari Richie sang asisten pribadinya yang berada di markasnya, sepertinya telah menyelesaikan semua pekerjaannya itu.


" Tuan, peralatan telah diletakkan semuanya dan sekarang pekerjaan saya telah selesai." Bilang Richie yang terdengar dari ponsel Alberto.


" Terima kasih Richie atas apa yang telah kau lakukan," Bilang Alberto yang mengucapkan terima kasih pada Richie.


" Baik Tuan, saya akan segera kembali ke markas,," Ucap Richi yang terdengar dari ponselnya.


" Hem,, baik,," Jawab Alberto yang segera menyelesaikan teleponnya.


Lalu, setelah selesai menerima telepon dari Richie, Alberto segera melangkahkan kakinya mendekati Ziya yang sibuk mengambil satu persatu dedaunan yang dibutuhkannya. Alberto ingin segera memberitahu Ziya tentang ruang penelitian yang sudah selesai dibuatkannya khusus untuk Ziya.


Setelah sampai di dekat Ziya, dengan segera Alberto memeluk pinggang Ziya dari belakang hingga membuat Ziya kaget atas perlakuannya itu.


" Aahhh, Alberto,," Ucap Ziya yang kaget atas perbuatannya itu.


" Kenapa, kaget sayang,," Bilang Alberto yang mengecup lembut leher Ziya.


" Iya aku kaget, aku pikir kau masih menerima telepon." Bilang Ziya yang memang terlihat sangat kaget.


" Sudah selesai,," Jawab Alberto pada Ziya.


" Oh ya Sayang, apakah sudah selesai mengambil daunnya ?" Tanya Alberto yang masih memeluk tubuh Ziya dari belakang.


Alberto melihat saat ini, Ziya bukannya memegang daun-daun yang didapatkannya melainkan daun-daun itu telah diletakkannya dalam keranjang. Alberto berpikir saat mereka menuju ke tempat ini, mereka sama sekali tidak membawa keranjang, tapi, darimana Ziya mendapatkan keranjang ini.


" Darimana mendapatkan keranjang ?" Tanya Alberto pada Ziya.


" Di sana,," Jawab Ziya yang menunjukkan arah darimana ia mendapatkan keranjang itu.


" Kapan kau mengambilnya ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya.


" Saat kau menerima telepon tadi, Alberto." Jawab Ziya yang membuat Alberto mengangguk.


" Aku lihat ada sebuah keranjang dan aku kesana ternyata ada sebuah gunting, sepertinya, keranjang seseorang, makanya aku ambil dan aku gunakan." Bilang Ziya yang menjelaskan tentang keranjang yang diletakkannya di atas tanah.


" Oohhh,," Jawab Alberto mengangguk.


Alberto sangat tahu, pasti itu keranjang yang sering digunakan oleh Mommynya saat sedang berada disini, Alberto seperti teringat kenangan di masa kecilnya yang sedang bermain di tempat ini, Mommynya yang sibuk menanamkan semua tanaman beracun ini, sementara Alberto kecil sibuk bermain dengan adik kecilnya Axeloe di dekat danau. Sama persis yang dilakukan oleh Demian beberapa hari yang lalu bermain bersama Ziya.


Hari semakin lama semakin sore, sehingga membuat Ziya merasa lelah juga mengambil semua tanaman yang dibutuhkannya itu, membuat Ziya ingin kembali ke rumahnya. Pastinya untuk membersihkan tubuhnya dan juga makan bersama dengan Alberto dan Demian. Karena, hari ini kebetulan Demian kembali dari sekolahnya sore dan pasti saat ini Demian sudah kembali.


" Alberto, aku sudah selesai mengambil tanamannya, ayo kita kembali, pasti Demian sudah pulang dari sekolahnya,," Bilang Ziya yang berjalan mendekati Alberto.


" Come, honey kita pulang,," Bilang Alberto yang menyambut tangan Ziya dari rimbunnya tanaman.


Sedangkan Alberto dengan setianya menunggu Ziya di dekat taman. Melihat Ziya sangat bahagia jika sedang mengambil beberapa tanaman yang dibutuhkannya itu.


" Sayang, sini biar aku yang bawa,," Bilang Alberto yang meminta keranjang dari tangan Ziya.


" Tidak perlu, nanti pengawalmu lihat, aku jadi malu,," Jawab Ziya yang menjauhkan tangannya dari tangan Alberto.


" Kenapa harus malu,," Tanya Alberto lagi pada Ziya.


" Nanti semua pengawal yang ada melihat masa seorang mafia sepertimu membawa keranjang,," Bilang Ziya yang sedikit membuat Alberto menahan tawanya.


Karena, tidak bisa menahan tawanya itu, Alberto jelas saja langsung tertawa mendengar ucapan yang dikatakan Ziya padanya.


" Hahahaha,," Terdengar suara Alberto yang menertawakan perkataan Ziya.


" Sayang, memangnya seorang mafia harus kejam dan tidak boleh membawa keranjang istrinya,," Bilang Alberto lagi yang menjawil hidung Ziya.


" Yah,," Jawab Ziya mengangguk.


Karena, melihat wajah Ziya yang terlihat cukup lelah itu dengan segera Alberto mengangkat tubuh Ziya ke dalam gendongannya kembali. Sehingga membuat Ziya kembali kaget atas perbuatan yang dilakukannya itu.


" Akkkhhh, Alberto, kau ini selalu mengagetkan ku,," Ucap Ziya yang menepuk lembut dada bidang Alberto.


" Setelah sampai di kediaman aku ingin menagih janjimu, yang berlipat ganda padaku,," Bilang Alberto yang segera melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya terparkir.


Saat Alberto menyebutkan kata janji, Ziya bingung atas pernyataan Alberto yang mengatakan bahwa dirinya banyak sekali janji yang perlu ditagih olehnya.


" Apa yang telah kujanjikan padanya,," Pikir Ziya dalam hati sambil menatap wajah Alberto.


Karena, memang benar Ziya bingung tentang apa yang telah dijanjikannya pada Alberto.


" Alberto memangnya apa yang telah kujanjikan padamu,," Tanya Ziya yang memang benar-benar lupa akan janjinya itu.


" Heh!! kau lupa atau bersandiwara,," Bilang Alberto yang masih menatap ke arah jalan.


" Bukannya aku bersandiwara tapi, memang benar aku lupa,," Ucap Ziya yang sedikit menyunggingkan senyuman manisnya.


" Setelah sampai akan kuingatkan padamu,," Bilang Alberto yang membuka pintu mobil lalu memasukkan Ziya ke dalam mobilnya.


Setelah meletakkan Ziya kembali ke tempat duduknya saat awal mereka pergi berdua tadi dan tangan Ziya yang masih memegang keranjang, lalu, Ziya sendiri meletakkan keranjang itu ke kursi bagian belakang. Sementara itu, Alberto melangkahkan kakinya ke seberang mobil dan membuka pintu mobilnya. Setelah masuk Alberto mencium gemas bibir Ziya. Lagi-lagi membuat Ziya kaget atas perlakuan Alberto yang selalu tiba-tiba padanya.


" Eeemmm,, Alberto,," Ucap Ziya setelah Alberto selesai menciumi bibirnya.


" Aku merindukanmu sayang,," Bilang Alberto yang menatap lembut wajah Ziya.


Sesaat mata Ziya membulat sempurna setelah mendengarkan ucapan Alberto padanya, sepertinya Ziya tahu tentang janjinya itu, pasti, Alberto menginginkan tubuhnya lagi.


" Alberto, kita lakukan setelah mandi ya,," Bilang Ziya yang terlihat membuat alasan.


" Yah, setelah mandi dan menidurkan Demian,," Ucap Alberto yang sudah tahu akan niat Ziya malam ini.


Ziya yang seakan digoda oleh Alberto itu karena, selalu memberikan alasan membuatnya merasa sedikit malu atas ucapan Alberto padanya.


" Bukan begitu, Alberto, aku,," Bilang Ziya yang ingin menjelaskan keadaan dirinya.


Ziya sebenarnya mau saja melakukannya lagi pada Alberto, namun ia sangat tahu jelas, bahwa mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa. Karena, Zoya masih sah menjadi istrinya Alberto, sedangkan dirinya hanyalah pengganti belaka yang tidak memiliki status apa-apa pada Alberto. Oleh sebab itu, Ziya beberapa akhir ini selalu menolak lembut atas permintaan Alberto padanya.


Apalagi sekarang, Alberto sudah tahu akan identitas dirinya yang asli.


" Aku apa ?" Tanya Alberto yang membuat Ziya merasa sedikit takut untuk menjelaskan hubungannya ini.


Ziya ingin sekali menjelaskan perasaannya itu pada Alberto. Namun, ia takut akan penjelasannya itu membuat perasaan dirinya menjadi sakit, sehingga akhirnya Ziya kembali untuk tidak mengatakan apapun pada Alberto saat ini. Mungkin di lain waktu Ziya bisa menjelaskan perasaannya itu pada Alberto tanpa menyakiti hati dan perasaan saudari kembarnya.


" Tidak apa-apa,," Jawab Ziya yang sedikit menyunggingkan senyumannya.


" Ok, jangan beralasan lagi padaku, sayang,," Bilang Alberto yang mengelus lembut wajah Ziya.


Setelah memastikan janjinya itu pada Ziya, Alberto segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang untuk kembali ke kediamannya itu.


****