
Vena yang berdiri menundukkan kepalanya tepat di hadapan Claire dan Gladys, kakinya bergetar saat mendengarkan ucapan Claire secara langsung yang menganggap dirinya mau bekerja hanya demi uang.
" Heh! Aku tahu orang seperti dirimu, mau bekerja menjadi pelayan pribadi wanita rendahan itu hanya demi uang yang besar bukan." Ucap Claire yang memandang rendah Ziya majikannya Vena itu.
Vena masih saja terdiam saat Claire mengatakan bahwa dirinya bekerja hanyalah demi uang, karena, memang benar dia bekerja hanya untuk mendapatkan uang demi pembiayaan ekonomi keluarganya.
" Baik, Pelayan aku akan memberikan kau uang sebanyak yang kau inginkan, asal kau mau ikuti arahan dari kami,," Ucap Claire lembut yang mengedipkan matanya pada Gladys saat itu.
Vena kaget saat mendengar ucapan Claire mengatakan bahwa ia akan memberikan Vena uang sebanyak yang Vena inginkan asal Vena mau mengikuti arahan perintah dari dirinya.
" Maksud, Nyonya,," Tanya Vena yang mendongakkan kepalanya menoleh, menatap wajah Claire yang tersenyum sinis pada dirinya.
Claire sedikit tertawa melihat ekspresi wajah Vena yang terlihat begitu kaget atas ucapannya itu.
" Slow Girl, Jangan seperti itu ekspresinya,," Ucap Claire yang sedikit menaikkan ujung bibirnya.
Lalu, Kepala Gladys seperti memberikan sesuatu kode pada Claire, untuk segera Claire katakan pada Vena saat ini.
" Katakan saja, Claire, apa yang kau inginkan itu." Ucap Gladys langsung saja pada Claire.
" Heemm,, baik Aunty,," Jawab Claire sambil tersenyum.
" Come on, follow me,," Ucap Claire yang mendorong tubuh Vena untuk melangkah maju menuruti kehendaknya.
" Tapi, Nyonya,," Bilang Vena yang sedikit menolak ucapan Claire saat itu.
" Tidak ada kata tapi,, ayo, jalan,," Jawab Claire yang memaksa Vena untuk segera melangkah mendahului dirinya dengan sengaja mengeluarkan sebuah pisau kecil untuk menakuti Vena saat ini.
" Nyonya,," Ucap Claire yang melihat Vena mengeluarkan sebuah pisau dan mendekati pisau tersebut di bagian pinggang Vena.
" Tusuk saja, kalau dia tidak mau mengikuti kita,," Bilang Gladys yang segera bangkit dari tempat duduknya.
Gladys segera melangkahkan kakinya menuju ke sebuah tempat yang ingin ia lakukan rencananya itu.
" Baik Aunty,," Jawab Claire yang tersenyum senang saat Gladys memerintahkan dirinya untuk menusuk Vena, apabila Vena tidak mau menuruti perintahnya itu.
Jelas sekali terlihat bahwa Vena tidak mau menuruti perintah dari Claire saat ini, tapi masih saja Claire mendorong tubuh Vena untuk segera berjalan maju sebelum dirinya. Dan, pastinya Vena terhenyak jatuh ke lantai, serta semua barang yang dibawakannya itu terlempar berserakan di lantai. Membuat Gladys sangat marah sekali melihat Vena yang terjatuh ke lantai dan mengotori semua lantai saat ini.
" Dasar pelayan bodoh,," Ucap Gladys yang sangat marah sekali melihat Vena saat ini.
" Maafkan saya Nyonya,," Bilang Vena dengan segera merangkak mengambil semua barang yang dibawanya itu berserakan di lantai.
Sesaat, Gladys sangat geram melihat kelakuan Vena yang membuat dirinya segera menyuruh Claire untuk menyeret Vena saat ini juga. Karena, Vena terlalu lama membersihkan lantai saat ini.
" Claire cepat seret dia,," Bilang Gladys yang memerintah Claire dan pastinya Claire tersenyum senang.
" Baik, Aunty,," Jawab Claire mengangguk senang.
Dengan mengangguk Claire segera menyeret rambut Vena saat ini, dengan spontan Vena teriak karena, rambutnya telah ditarik paksa oleh Claire yang sangat kasar itu.
" Aaakkkhh, sakit Nyonya,," Bilang Vena yang menahan rambutnya.
" Sakit,, makanya cepat jalan." Ucap Claire yang menatap tajam menundukkan wajahnya melihat Vena.
" Ba,, baik, Nyonya,," Jawab Vena mengangguk, meringis kesakitan menahan rambutnya itu.
Mau tidak mau, Vena yang telah dipaksa oleh Claire saat ini berdiri dan segera mengikuti langkah kaki Gladys dan tepatnya di belakangnya sudah ada Claire yang melihatnya dari belakang.
Sesampainya di sebuah ruangan yang sedikit gelap, terlihat Gladys masuk ke dalam sementara Claire segera mendorong Vena untuk masuk ke dalam juga. Vena kaget saat melihat ruangan yang dimasukkannya itu walaupun terang tapi terlihat sedikit gelap, jadi membuat Vena bergidik ngeri saat matanya melihat kesana kemari ruangan yang dimiliki oleh Gladys saat ini.
" Tutup pintunya, Claire." Ucap Gladys yang duduk di atas kursi besar tepat di hadapan Vena saat ini.
Claire mengikuti perintah dari Gladys saat ini menutup pintu dan segera berdiri tepat di belakang Vena sambil mengawasi Vena saat ini. Sementara itu Vena sendiri berdiri dengan kaki yang gontai karena, bergidik ngeri berada di dalam ruangan yang sangat membuat dirinya takut.
" Baik, Vena karena kau merupakan seorang pelayan pribadi dari Zoya, aku mempercayaimu untuk melakukan ini." Ucap Gladys yang mulai membuka pembicaraannya.
Vena semakin takut atas ucapan Gladys saat ini.
" Oh God, apa yang dilakukannya pada Nyonya melalui diriku,," Ucap Vena dalam hati yang sangat takut atas ucapan Gladys pada dirinya.
" Kau pasti tahu, apa yang ku inginkan,," Bilang Gladys lagi pada Vena.
" Ap, ap, ap, apa, Nyonya," Tanya Vena yang terbata-bata seakan penasaran apa yang diinginkan oleh Nyonya besar ini pada dirinya.
" Hehehe,, bagus,, aku suka pertanyaanmu,," Bilang Gladys tersenyum manis menatap wajah Vena saat ini.
Lalu, Gladys pun berdiri menuju ke sebuah meja yang berada di sudut ruangan tersebut. Diikuti oleh Claire yang segera mendorong tubuh Vena lagi.
" Ayo jalan,," Ucap Claire yang segera melangkahkan kakinya dan mendorong Vena untuk mengikuti langkah Gladys saat ini.
Vena segera mengikuti langkah kaki Gladys, sementara itu, Claire mengawasinya dari belakang. Saat Vena melihat semua benda di atas meja membelalakkan matanya membuat dirinya semakin bergidik ngeri dan takut saat ini.
" Kau wanita yang baik,," Ucap Gladys yang menyentuh dagu Vena hingga Vena mendongakkan wajahnya.
" Akan aku berikan semua uang ini dan kau bisa pergi dari tempat ini, asal sebelumnya kau mengikuti perintah kami,," Ucap Gladys yang membuat Vena sangat takut sekali.
" Maksud, Nyonya apa,?" Tanya Vena takut dengan mulut yang bergetar.
Gladys tersenyum sinis melihat wajah Vena saat ini. Lalu, tanpa pikir panjang Gladys segera menyampaikan niat dan rencananya.
" Lebih baik kau memilih uang ini dan mengikuti perintah kami untuk membunuh Zoya,," Ucap Gladys dengan suara lembut tepat di dekat telinga Vena.
Spontan Vena kaget atas ucapan yang telah disampaikan oleh Gladys saat ini tepat di telinganya. Pastinya Vena sangat menolak perintah dari Gladys. Vena dengan takut menggelengkan kepalanya untuk tidak mengikuti perintah dari Gladys yang menginginkan dirinya untuk segera membunuh Ziya majikannya yang dimaksudkan oleh Gladys adalah Zoya.
" Hah! apa Nyonya,," Ucapan yang keluar dari mulutnya karena kaget atas perkataan Gladys padanya.
" Apa Nyonya, Apa Nyonya,, tinggal kerjakan saja, pelayan bodoh," Bentak Claire yang merasa tidak sabar atas sikap Auntynya ini yang terlalu lembek mengatasi Vena.
Gladys merasa bahwa Claire saat ini sangat tidak sabaran dengan sikap Vena yang berani-beraninya bertanya atas semua perintah dari mereka.
" Calm down,, Claire," Ucap Gladys yang tersenyum kepada Claire saat ini.
" Tinggal kau lakukan saja perintahku ini, lalu kau bisa keluar dari rumah ini dengan bantuan kami, setelah itu kau bawa semua cek uang ini." Ucap Gladys kepada Vena yang berdiri tegak seakan kakinya kaku menghadapi situasi berat di ruangan ini.
" Nyonya Zoya sangat baik padaku, Nyonya, tidak mungkin aku membunuhnya,," Ucap Vena secara langsung kepada Gladys dan Claire.
" Apa kau bilang ?" Ucap Claire dengan suara yang begitu lantang tepat di telinga Vena.
" Aaaakkhhh, Nyonya sakit," Teriak Vena merasakan sakit pada kepalanya.
" Sakit,, tarik terus rambutnya Claire dan tampar mulutnya, karena, berani-beraninya dia memuji wanita ja-lang itu di depan kita,," Ucap Gladys yang memerintah Claire untuk melakukan pengani-ayaan terhadap Vena saat ini.
" Baik Aunty,," Jawab Claire dengan segera menampar wajah dan memukul mulut Vena.
Dengan segera Claire menam-par wajah lembut Vena bagian kiri dan bagian kanan, sehingga membuat Vena teriak kesakitan.
PLAAKK
PLAAKK
Suara tamparan keras dari Claire tepat mengenai wajah Vena dan memukul kepala Vena dengan sangat kasar.
BUUUGGHH
Vena terlempar cukup jauh dari tempat Claire dan Gladys berdiri.
" Aakkh,, sakit, Nyonya tolong hentikan,," Ucap Vena yang memohon meringis merasakan sakit pada semua bagian kepalanya.
" Sakit,," Bilang Claire yang lagi-lagi menarik rambut Vena dengan keras hingga Vena terseret ke arahnya.
" Akkkkhhhh,, Nyonya jangan siksa saya,," Bilang Vena lagi menjerit kesakitan.
Tapi, sayang tidak ada satu orangpun yang berada diluar mendengar perlakuan kasar Claire yang menyiksa Vena saat ini. Membuat Vena hanya bisa menahan sakit dan menjerit atas semua tindakan pengani-ayaan Claire terhadapnya.
" Aku tidak akan menyiksamu lagi, kalau kau bersedia menurut perintah dari kami untuk segera membunuh wanita ja-lang itu,," Ucap Claire yang masih menarik rambut Vena.
" Tidak Nyonya,, saya tidak bisa,," Jawab Vena yang merasa bahwa sebentar lagi rambut yang menempel di kulit kepalanya akan terlepas semuanya.
" Eeekkhhh,, dasar kau wanita rendahan,," Ucap Gladys yang menginjak
tangan Vena menggunakan heelsnya.
"Aaaaaaaakkkkhhhhhh,,," Teriak Vena histeris saat tangannya diinjak oleh Gladys.
Pastinya Vena berteriak memberontak karena dia tidak mau mengkhianati perintah dan kepercayaan Alberto pada dirinya. Karena, dirinya sendiri telah diberikan kepercayaan dari Alberto untuk kembali menjadi pelayan pribadi Ziya. Itu saja membuat dirinya bersyukur atas kejadian kemarin dirinya telah dipercayakan lagi oleh Alberto sampai sat ini.
" Aku akan tetap menyiksamu, kalau kau tidak mau mengikuti perintahku,," Bilang Gladys yang mendekati wajahnya pada wajah Vena.
Terlihat sangat jelas sekali senyuman puas dan bahagia di wajah Claire saat ini. Karena, mendengar ucapan Gladys yang akan selalu menyiksa dirinya apabila dia tidak mau mengikuti perintah Gladys dan Claire untuk membunuh majikannya Ziya. Dengan sikap yang berani dan percaya diri, bahwa dirinya tidak bisa lepas dari siksaan yang dialaminya saat ini, tapi Vena yakin Alberto akan melakukan hal yang buruk juga kepada dua wanita ular yang telah menyiksa diri Vena, karena tidak mengikuti perintahnya.
" Aku harus berani, Tuan Alberto pasti sangat membenci diriku dan pastinya keberadaan ku tidak akan tenang apabila aku mengikuti perintah mereka." Ucap Vena dalam hati bahwa ia percaya akan kehebatan Alberto sang Tuan Besar Mafia di kota ini.
" Tidak Nyonya,, saya tidak mau menuruti perintah Nyonya untuk membunuh Nyonya Zoya, lebih baik saya disiksa disini daripada saya harus mengkhianati Tuan Alberto" Bilang Vena dengan sangat berani menolak kehendak Gladys dan Claire saat ini.
" Apa yang kau katakan." Ucap Gladys menatap tajam ke wajah Vena yang sudah babak belur itu.
Karena, mendengar ucapan Vena yang menolak secara langsung perintahnya itu membuat emosi Gladys semakin memuncak dan dengan segera Gladys mengambil pisau dari tangan Claire, lalu dengan segera diletakkannya tepat di dekat leher Vena saat ini. Sehingga membuat Vena takut, cemas dengan sebuah pisau yang menempel di lehernya saat ini.
" Kau ingin mati sekarang, Hah!" Ucap Gladys yang mulai menekan ujung pisau di dekat leher Vena, sehingga membuat leher Vena sedikit mengeluarkan darah.
Sesaat Vena merasakan perih di bagian lehernya saat ini. Lalu dengan cepat Gladys menyuruh Claire untuk mengambil sebuah botol kecil yang berisikan racun untuk segera dimasukkan ke dalam mulut Vena.
" Claire, ambil botol racun itu dan berikan kepada dia, karena dia lebih memilih mati daripada menuruti perintah kita." Ucap Gladys yang masih menahan tubuh Vena saat ini.
Sayangnya Vena tidak seperti Ziya yang sedikit memiliki ilmu bela diri, sedangkan Vena hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Claire dan Gladys menyiksa dirinya.
Setelah mendapatkan botol yang isinya racun itu, dengan cepat Claire melangkahkan kakinya menuju ke tempat Gladys, setelah itu Claire langsung membuka botol racun dan membuka paksa mulut Vena saat ini.
" Minum,," Ucap Claire yang memaksa Vena meminumkan racun ditangannya itu.
" Saya tidak mau Nyonya,, saya tidak mau,,"
Vena menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutup rapat mulutnya saat ini, tapi sayang lagi-lagi rambutnya ditarik oleh Claire dan membuat dirinya berteriak sekeras mungkin.
AKKKHH,,,
Suara teriakan histeris Vena yang membukakan mulutnya saat rambutnya ditarik oleh Claire. Dengan cepat Claire meletakkan racun yang berada di tangannya itu ke dalam mulut Vena saat terbuka lebar.
Vena tersedak saat dirinya tak sadarkan diri telah menelan racun yang sengaja dimasukkan oleh Claire ke dalam mulutnya saat ini.
UUHHHUK
UUHHHUK
Suara yang keluar dari mulut Vena saya mulutnya merasakan serbuk racun masuk ke dalam mulutnya. Untuk seketika Vena ingin memuntahkan racun tersebut tapi sayang racun itu sudah tertelan oleh tenggorokannya.
" Nyonya Tuan maafkan, Vena,," Ucap Vena terakhir saat dirinya merasa seluruh tulang di tubuhnya tak berdaya dan lemah.
Vena terhuyung lemah jatuh ke lantai. Sementara itu, Claire dan Gladys tersenyum senang karena, rencana awalnya telah berhasil saat ini.
Hahahaha,,,
Suara tawa dari Gladys dan Claire yang begitu terdengar kuat di dalam ruangan ini.
" Bagus,, rencana awal kita sudah berhasil," Bilang Gladys yang tersenyum puas dengan mata tajam bagaikan mata elang melihat Vena yang telah terhuyung lemah jatuh ke lantai.
" That's right, Aunty,," Jawab Claire tersenyum puas, karena, merasa bahwa saat ini rencana dirinya untuk menekan Alberto akan berhasil.
Lalu, Gladys dengan segera memberikan perintah lagi kepada Claire untuk menjalankan tugas selanjutnya.
" Buang dia keluar, dia bisa bertahan selama tiga jam dan saat dirinya sampai di depan majikannya itu, pastinya majikannya akan terkejut melihat asisten pribadi bodohnya ini sekarang menjadi umpan yang bagus untuk kita." Bilang Gladys pada Claire.
" Baik Aunty,," Ucap Claire dengan segera melangkah mendekati Vena yang telah jatuh ke lantai itu.
Sementara itu, Gladys dengan wajah tanpa dosa melangkahkan kakinya dengan sengaja melangkahkan tubuh Vena yang terhuyung lemah di atas lantai saat ini, segera keluar dari tempat ruangan khusus miliknya ini.
****