
Setelah memutuskan teleponnya untuk Zavier dengan segera Alberto keluar dari ruang kerjanya dan kembali menuju ke kamar pribadinya.
Sementara itu,,
Ziya yang sedang tertidur pulas di kamarnya itu merasakan bahwa sepertinya dia tidak tidur bersama dengan Alberto melainkan tidur sendiri. Ziya meraba-raba lengan Alberto, ternyata tidak dirasakannya, lalu, Ziya membalikkan tubuhnya, memeriksa orang di sampingnya, ternyata tidak ada. Dengan segera Ziya bangun, duduk di atas tempat tidur untuk mengembalikan nyawanya yang sudah separuh telah berlayar dalam mimpi.
" Kemana dia, kenapa tidak ada ?" Pikir Ziya melihat posisi kanan dan kiri tubuhnya.
" Hoooaaamm,," Suara mulut Ziya yang menguap saat tubuhnya merasa telah kembali normal.
Setelah merasakan bahwa tubuhnya saat ini telah kembali normal, Ziya segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi berniat untuk mencari keberadaan Alberto.
" Alber,, to," Panggil Ziya yang melangkah menuju kamar mandi,
Ternyata di kamar mandi juga nol, Alberto tidak ada disana. Langkah kaki Ziya segera beralih menuju ke arah pintu luar untuk keluar dari ruang tempat tidur menuju ruang lain di kamar ini. Saat menyentuh gagang pintu, pintu itu tidak bisa dibuka sedikitpun, sepertinya sudah dikunci dari luar.
" Dikunci,," Ucap Ziya setelah mencoba membuka pintu.
" Kemana dia, sepertinya aku telah dikunci lagi dari luar,," Gumam Ziya yang merasa bahwa Alberto telah mengurung dirinya lagi di dalam.
Saat Ziya ingin menggoyangkan gagang pintu kamar itu lagi, dalam seketika Ziya mendengar suara kaki Alberto dari luar ruangan menuju kamarnya.
" Aakkh ada dia,," Celetuk Ziya sesaat bingung mau kemana arahnya ini.
" Oh ya aku berpura-pura kembali tidur,," Ucap Ziya dengan segera berlari menuju ke tempat tidur.
Dengan cepat Ziya melangkahkan kakinya berlari menuju ke tempat tidurnya, karena, terlalu tergesa-gesa membuat kakinya sedikit membentur kaki sofa yang berada di dekat tempat tidurnya.
" Aduuhhh,," Ucap Ziya saat kakinya terbentur melawan kaki sofa, otomatis kakinya yang kalah dari sofa.
" Iiihhhh,, dasar,," Suara Ziya yang sedikit memukul sofa karena sudah melawan jempol kakinya.
Karena, mendengar suara hentakan kaki Alberto sudah sampai menuju pintu. Dalam sekejap Ziya segera naik ke tempat tidur dan memposisikan tubuhnya kembali terbaring di atas ranjang seperti posisinya semula.
Alberto pun membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Setelah masuk ke dalam kamar pribadinya, Alberto melihat apakah Ziya masih tertidur, ternyata benar Ziya masih tertidur dengan pulasnya.
" Heemmm,, ternyata dia masih tidur,," Ucap Alberto yang melihat wajah Ziya.
Dengan segera Alberto mendekati dirinya ke tempat tidur dan mengelus lembut rambut Ziya. Alberto naik ke atas tempat tidur lalu mengecup lembut puncak kepala Ziya.
" Benar dia masih tertidur pulas dan posisi tubuhnya masih seperti semula," Ucap Alberto yang tersenyum melihat keadaan Ziya.
Tapi, Ziya sama sekali tidak tidur melainkan pura-pura tidur, karena, ia mengetahui bahwa Alberto sudah tidak ada lagi di kamarnya. Dan saat ini pastinya Ziya mendengarkan semua ucapan Alberto.
Dalam seketika Alberto membelai halus wajah Ziya yang berada di sampingnya itu, ditatapnya wajah indah ini bagaikan candu bagi Alberto untuk menatap wajah cantik seperti ini. Alberto seperti merasakan hal lain pada diri Ziya.
" Sepertinya, aku pernah bertemu dengannya, tapi dimana,," Gumam Alberto menatap wajah Ziya.
" Maksudnya, apa dia sudah bertemu denganku, apa mungkin dia merindukan Zoya,," Gumam Ziya dalam hati yang mendengarkan semua ucapan Alberto.
Sepertinya Alberto sudah pernah bertemu dengan Ziya sebelum ini, tapi, sangat wajar jika dia sudah bertemu dengan wajah yang seperti ini, karena, dulunya juga kembaran Ziya yaitu Zoya adalah istrinya.
" Sebenarnya kau siapa,," Ucap Alberto menatap wajah Ziya dengan lembutnya.
" Kau adalah saudara kembar dari Zoya dan Zoya sendiri merupakan Putri tunggal dari Erwin, tapi, kau bukan putri dari Erwin." Gumam Alberto yang menatap wajah Ziya dengan serius.
" Aakkh,, ternyata dia sudah menyadari siapa diriku," Ucap Ziya dalam hati yang terperanjat mendengar ucapan Alberto yang sedang menatap wajahnya.
" Tapi, kenapa dia seakan belum menerima kalau aku bukanlah Zoya,," Ucap Ziya dalam hatinya yang menerka perasaan Alberto.
" Apakah dia mencintai Zoya,?" Pikir Ziya dalam hati yang masih memejamkan matanya.
" Sepertinya kau dan Zoya saudaramu itu terpisahkan dari kecil," Ucap Alberto yang tersenyum menatap wajah Ziya.
" Apa, dia mengetahui bahwa aku dan Zoya sudah terpisah dari kecil,," Gumam Ziya yang masih mendengarkan perkataan Alberto.
" Ternyata kehidupan kau dan Zoya sama seperti kehidupanku di masa kecil, terpisah dari orang tua dan terpisah juga dari saudara sendiri." Pikir Alberto panjang sambil memandang wajah Ziya.
" Apa,, apa yang dia katakan, bahwa dia juga terpisah dari orang tuanya,," Gumam Ziya yang terperangah mendengar suara Alberto yang menyampaikan bahwa kehidupannya Ziya ini juga sama dengan kehidupannya Alberto terdahulu.
Memang benar di usia Alberto yang masih kecil dirinya sudah terpisah dari orang tuanya, termasuk Ibunya sendiri, Frisca saat itu usia Alberto sekitar sebelas tahun sementara itu Axeloe adiknya baru saja berusia tujuh tahun. Alberto kecil sudah terpisah dari Axeloe kecil.
Dan sejak itu juga Gladys masuk ke dalam keluarga Alexandre dengan membawa seorang bayi perempuan yang bernama Alexa meminta pengakuan dari Vasco Alexandre bahwa itu memang putrinya. Tapi, Alberto juga tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi karena disaat itu usianya masih terlalu kecil untuk berpikir keras siapa yang telah merusak rumah tangga orang tuanya dan juga orang yang telah menghilangkan ibunya untuk pergi selama-lamanya.
" Jika benar, kau adalah putri James saudara kandung dari Erwin dan jika benar Ibumu Zanetti Berlina itu adalah Zalina, apakah kau akan bisa untuk membantuku,," Ucap Alberto yang begitu keras untuk membuka rahasia kepergian Ibunya yang telah meninggalkan dirinya selama-lamanya.
" Oh God,, Alberto yang kau bilang benar mereka adalah orang tuaku, dan Zanetti Berlina atau Zalina dia adalah Mamaku,," Gumam Ziya dalam hati, ingin sekali rasanya Ziya membuka matanya saat ini juga, tapi, dia takut nanti Alberto akan tahu bahwa dirinya sama sekali tidak tidur melainkan hanya berpura-pura saja.
Dan bahkan saat itu, Axeloe masih terlalu kecil untuk menerima kematian dari Ibunya.
Ziya yang mendengarkan ucapan Alberto itu yang menyatakan apakah dirinya bisa membantu rencananya dalam membuka rahasia kepergian Ibunya berpura-pura sedikit mendengarkan ucapannya itu.
" Eemmm, Alberto, kau mau bantuan apa dariku,," Ucap Ziya dengan suara beratnya, sehingga membuat Alberto sedikit kaget atas ucapannya.
" Kau,, kau mendengarkan ucapan yang kukatakan,," Tanya Alberto yang menatap serius wajah Ziya.
Sesaat, Ziya perlahan-lahan membuka matanya. Dan tak lama kemudian, matanya sudah mulai terbuka dengan sempurna. Saat matanya terbuka wajah pertama yang ia lihat saat ini adalah wajah tampan Alberto Alexandre.
" Eemmm,, aku hanya sedikit mendengarkannya, memangnya ada apa,?" Tanya Ziya yang menatap wajah Alberto dengan tatapan penuh pertanyaan.
Alberto merasakan bahwa Ziya sepertinya bukan hanya sedikit mendengarkannya, melainkan Ziya sudah mendengarkannya semua.
" Benarkah hanya sedikit,," Tanya Alberto yang sengaja mulai menggoda Ziya.
" He'em,," Jawab Ziya mengangguk.
" Memangnya apa yang kukatakan kalau cuma sedikit yang kau dengar,," Tanya Alberto yang mulai menaiki tubuh Ziya.
Ziya yang merasakan bahwa saat ini sepertinya Alberto akan menggodanya dengan segera Ziya mendorong tubuh Alberto dari atas tubuhnya.
" Eemmm, Alberto jangan seperti ini, aku tidak akan bisa menjelaskannya jika kau berada di atas tubuhku,," Ucap Ziya yang sengaja mendorong lembut tubuh Alberto untuk berada di sampingnya saja.
" Memangnya kenapa kalau aku seperti ini,," Tanya Alberto dengan wajah datar yang membuat Ziya merasa bahwa Alberto tidak akan bisa untuk tidak menggodanya.
Alberto yang melihat wajah Ziya polos dan dipoles dengan ekspresi cemberut seperti ini, membuatnya semakin greget untuk tidak mengganggu Ziya.
" Baik,, silahkan tidur dan rasakan apa yang ingin ku lakukan," Jawab Alberto yang membuat Ziya tetap menutup matanya.
" Lakukan saja,," Ucap Ziya memberanikan diri.
" Kau sudah berani denganku, sayang,," Suara Alberto yang terdengar sangat dekat di telinga Ziya.
Lalu, seketika Alberto menggelitik perut Ziya hingga Ziya teriak meronta-ronta karena tubuhnya merasa geli akibat perbuatan Alberto yang menggelitik tubuhnya.
" Akkkhhh, Alberto apa yang kau lakukan, geli,, hihihihihihi,," Suara Ziya yang terdengar saat ini sambil tertawa karena merasa geli di bagian perutnya.
" Hentikan Alberto aku mohon,," Ucap Ziya memohon karena tidak sanggup lagi menahan rasa geli di bagian tubuhnya.
Mendengarkan ucapan Ziya yang memohon untuk menghentikan tindakannya itu, Alberto semakin gemas dengan Ziya hingga saat ini Alberto telah kembali menggelitik perut Ziya dengan semakin membuat Ziya tertawa riang dan tidak sanggup lagi menahan rasa geli yang terlalu oleh tindakan Alberto ini.
" Alberto aku mohon hentikan,," Ucap Ziya memohon sambil tertawa riang.
" Aku merasa, aku mau buang air kecil,, Alberto tolong hentikan,," Teriak Ziya yang tidak bisa lagi menahan rasa geli akibat kelitikan tangan Alberto di perutnya.
Melihat wajah Ziya yang tertawa hingga mengeluarkan air matanya dan mengatakan bahwa dirinya ingin buang air kecil, dengan segera Alberto menghentikan tindakannya yang menggelitik perut Ziya.
" Heh! kau kalah,," Ucap Alberto yang menindih tubuh Ziya.
" Mau buang air kecil, ayo aku antar,," Tawar Alberto pada Ziya.
Ziya yang sedang sibuk mengambil napasnya yang tersengal-sengal, tersenyum melihat wajah Alberto.
" Tidak, tidak jadi, saat kau kelitik perutku terasa mau buang air kecil." Ucap Ziya yang melingkarkan kedua tangannya di leher Alberto.
Karena, melihat kedua tangan Ziya melingkar di atas lehernya membuat Alberto tidak bisa menahan hasrat naf-sunya untuk melu-mat lembut bibir Ziya.
CUP ??
" Eemm,, Alberto,," Suara Ziya yang kaget saat Alberto menciumi bibirnya.
Lalu, seketika Alberto mendongakkan kepalanya menatap wajah Ziya yang berada di hadapannya.
" Sebentar saja sayang,, aku sangat merindukanmu,," Gumam Alberto yang memeluk dan menindih tubuh Ziya dengan erat.
Karena, mendengarkan ucapan Alberto yang begitu halus membuat Ziya tidak sadar bahwa kepalanya mengangguk menerima keinginan hasrat Alberto itu.
" Heeemmm,," Jawab Ziya mengangguk menerima ciuman mesra dari Alberto.
Cukup lama Alberto menautkan bibir lembutnya dengan bibir Ziya menyatu menjadi satu bagaikan indahnya dunia ini tanpa ada beban sedikitpun. Setelah merasa puas menciumi bibir Ziya, Alberto melepaskan ciumannya dan terlihat bahwa Ziya masih menginginkan ciuman itu. Alberto tersenyum saat Ziya menahan kepalanya untuk tetap menciumi bibirnya.
" Sayang,, kau ingin kita melakukannya lagi,," Tanya Alberto pada Ziya yang menatap wajahnya begitu dalam.
Setelah mendengar ucapan Alberto yang bertanya pada dirinya bahwa terlihat Ziya ingin melakukannya lagi, betapa malunya wajah Ziya saat ini, ketika ditanya Alberto pertanyaan yang merujuk ke sebuah hubungan suami istri lagi itu.
" Heemm, tidak," Jawab Ziya dengan wajah yang memerah.
Alberto tahu bahwa Ziya sudah merasa lelah saat sesi percintaan mereka tadi. Oleh sebab itu, Alberto segera memindahkan posisi tubuhnya tepat di sebelah Ziya.
" Sayang, aku mau bertanya,? apa saja yang kau dengar disaat kau tertidur dan aku mengatakan sesuatu padamu,," Tanya Alberto serius menatap wajah Ziya.
" Ya, aku cuma mendengarkan ucapanmu cuma sedikit,," Jawab Ziya dengan mengerutkan kedua alisnya.
" Benarkah,, memangnya apa saja yang kau dengar,," Tanya Alberto dengan tatapan yang begitu serius.
Sebenarnya, dalam hati Ziya ingin sekali mengatakan sesuatu yang jujur pada Alberto, tentang ucapan Alberto yang mengatakan bahwa jika benar dirinya adalah putri dari James saudara kandung Erwin dan ibunya Zanetti Berlina yaitu Zalina, apakah mungkin Ziya akan membantu dirinya. Tapi, Ziya belum berani mengatakan ini pada Alberto.
" Eemmm,, aku cuma mendengar apakah aku bisa membantumu,," Jawab Ziya pada Alberto dengan suara yang begitu meyakinkan.
" Memangnya apa yang harus kulakukan,," Tanya Ziya dengan wajah polosnya.
Alberto begitu yakin bahwa Ziya tidak hanya mendengarkan ucapannya yang hanya sepenggal saja, terlihat dari sudut mata Ziya yang memandang wajahnya dengan tatapan sedikit berbeda.
" Kau tidak berbohong padaku, bahwa kau hanya mendengarnya sedikit,," Tanya Alberto yang begitu serius menatap wajah Ziya.
" Heem,, ya Alberto,," Jawab Ziya dengan ekspresi wajah berpura-pura hanya sedikit mendengarkan ucapannya itu.
" Baiklah, kalau begitu, aku akan meminta bantuan darimu nanti, untuk sekarang aku meminta bantuan darimu jangan pernah mengkhianati kepercayaan dariku,," Ucap Alberto dingin yang menatap tajam wajah Ziya.
Ziya mengulas senyumannya di depan wajah Alberto.
" Benarkah tidak mau mengatakan apa saja yang ingin kau perintahkan padaku,," Tanya Ziya yang mulai berani menggoda tatapan mata Alberto.
" Heemm,, tidurlah," Ucap Alberto yang menarik tubuh Ziya untuk tidur di lengannya.
Karena, tubuhnya telah ditarik oleh Alberto. Dengan segera Ziya tidur di dalam dekapan nya.
" Jika kau berjanji untuk tidak mengkhianati kepercayaan yang kuberikan padamu, maka aku berjanji tidak akan mengurungmu lagi di dalam kamar ini," Ucap Alberto yang suaranya terdengar seperti sedang memerintah.
Ziya yang mendengarkan ucapan Alberto yang akan membebaskan dirinya dari kamar ini, merasa bahagia, lalu karena, terlalu bahagia Ziya menoleh ke arah Alberto dan menatap wajah tampan itu.
" Benarkah,," Tanya Ziya menatap wajah Alberto dengan keceriaan.
" Heemm,," Jawab Alberto mengangguk dengan suara dinginnya.
" Terima kasih,," Ucap Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Heemmm, tidurlah,," Jawab Alberto mengangguk dan menyuruh Ziya untuk segera tertidur dalam pelukannya seperti saat ini.
Sebenarnya Alberto ingin sekali mencium bibir Ziya, tapi, niat itu tidak dilakukannya karena, Alberto masih ragu dengan ucapan Ziya yang pura-pura hanya sedikit mendengarkan perkataannya itu. Ziya yang merasa begitu bahagia saat ini bisa tidur dengan nyenyak atas ucapan yang telah disampaikan Alberto padanya, bahwa Alberto tidak akan lagi mengurung dirinya di dalam kamar ini.
Tapi, walaupun Ziya merasa bahagia dan senang ada suatu kejanggalan dalam hatinya mengenai perkataan Alberto yang sengaja berbicara dengan dirinya saat dia sedang berpura-pura tertidur.
****