
Ziya belum selesai duduk termenung di dalam kamar sehingga membuat Vena langsung masuk ke dalam kamar, karena, Vena sendiri merasa aneh akan majikannya yang tidak keluar-keluar dari kamarnya Krystal. Sedangkan Krystal sendiri sudah lama keluar dari kamarnya, Vena takut telah terjadi apa-apa pada majikannya itu.
" Non Krystal sudah keluar lalu kenapa Nyonya tidak keluar,," Ucap Vena yang bingung akan kejadian yang telah terjadi.
Vena segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Dan, melihat bahwa majikannya sedang duduk di dalam kamarnya Krystal.
" Nyonya, Nyonya kenapa ?" Tanya Vena yang merasa takut telah terjadi apa-apa pada majikannya.
" Tidak apa-apa,," Ucap Ziya yang masih terduduk di atas kursi meja rias kamar.
" Ayo, Vena kita segera keluar,," Ucap Ziya yang mengajak Vena keluar dari kamar itu.
" Baik Nyonya,, benar, Nyonya tidak apa-apa ?" Tanya Vena lagi memastikan keadaan Ziya.
" Iya Vena,," Jawab Ziya tersenyum.
Ziya segera bangun dari duduknya dan keluar dari kamarnya Krystal, saat Ziya sedang melangkahkan kakinya melewati kamarnya Alexa, kebetulan saat itu, Ziya berpapasan langsung dengan Martin. Ziya berpura-pura tidak melihat dengan Martin, namun, Martin melihatnya dengan begitu jelas. Saat Martin melewati Ziya dan Vena, Vena seakan bergidik jika bertemu dengan Martin, karena, Vena masih jelas teringat akan kesalahan yang dilakukan Martin beberapa Minggu yang lalu di rumah ini.
Ziya juga merasa tidak nyaman saat berpapasan dengan Martin, karena, Ziya teringat dengan ucapan Krystal yang menyatakan bahwa selama ini, Zoya kesepian dan selalu bermain di belakang Alberto bersama Martin.
" Sungguh keji perbuatan Zoya,," Umpat Ziya geram dalam hatinya saat berpapasan langsung dengan Martin.
" Kenapa aku merasa takut untuk melakukan misiku padanya,," Ucap Ziya dalam hati setelah jauh dari Martin.
" Tapi, kalau aku tidak melakukan misi ini, bagaimana aku bisa membantu Alberto." Ucap Ziya lagi dalam hati dengan bertekad kuat.
Ziya segera melangkahkan kakinya menuju dimana tempat putranya sedang berada. Ziya segera melakukan rencananya untuk membuat sesuatu yang sesuai dengan keahliannya itu, yaitu membuat racun yang sangat berguna dan bermanfaat untuk Alberto, Demian dan dirinya sendiri.
" Vena, kita segera ke kamar Demian,," Bilang Ziya yang tergesa-gesa melangkahkan kakinya menuju kamar Demian.
Hari ini Ziya bertekad untuk segera melakukan rencananya itu untuk membuat racun, namun, Ziya juga bingung bagaimana caranya dia untuk mengetahui keberhasilannya itu.
" Aku akan segera membuat racun itu, kalau tidak Martin akan segera melakukan rencana kejinya yang dilakukan selama ini bersama Zoya terhadap aku,," Ucap Ziya dalam hati yang merasa sangat cemas dengan tatapan dari mata Martin saat mereka berpapasan.
Ziya dan Vena segera melangkahkan kakinya ke kamar Demian, setelah sampai di kamarnya Demian, Ziya melihat bahwa Demian sedang belajar dan duduk di kursi meja belajarnya. Dengan senyumannya Ziya segera mendekati Demian yang sedang sibuk menggambarkan sesuatu.
" Demi, sayang lagi apa ?" Tanya Ziya sambil mendekati Demian.
" Mommy," Ucap Demian menoleh ke arah Ziya.
" Demi sedang belajar apa sayang ?" Tanya Ziya sambil melihat hasil pekerjaan Demian.
" Ini Demian lagi sedang menggambal Mommy dan Demian saat belmain panah kemalin,," Jawab Demian menunjukkan hasil gambarannya.
Ziya segera melihat dengan teliti hasil gambaran yang dibuat oleh Demian. Ziya tersenyum saat melihat gambaran Demian sungguh indah di matanya. Padahal Demian masih berusia 5,5 tahun tapi hasil gambarannya sungguh indah.
" Waaauuu,, indah sekali sayang,," Ucap Ziya yang memuji kepandaian Demian.
" Thank you Mommy,," Bilang Demian sambil memeluk perut Ziya.
" Sudah selesai menggambarnya sayang ?" Tanya Ziya sambil meletakkan kembali hasil gambaran Demian.
" Heemm,," Jawab Demian mengangguk.
" Demian mau ikut Mommy," Bilang Ziya yang berbisik lembut kepada Demian.
" Mau, Kemana, Mom ?" Tanya Demian penasaran.
" Ke kamar Mommy, Mommy ingin membuat sesuatu sayang,," Bilang Ziya yang membuat Demian semakin penasaran dan sangat ingin mengetahuinya.
" Mau Mom,, memangnya Mommy mau buat apa ?" Tanya Demian yang terlihat serius namun sangat lucu sekali.
" Mainan,," Ucap Ziya singkat yang membuat Demian semakin penasaran dan bersemangat.
" Mau, mau Mom, Let's go,," Ucap Demian segera turun dari kursi meja belajarnya.
Karena, yang diucapkan Ziya adalah sebuah mainan dengan penuh semangat Demian segera mengajak Ziya untuk pergi ke kamarnya. Ziya tersenyum senang saat melihat tingkah Demian yang begitu semangat sekali.
" Oke sayang,," Ucap Ziya segera melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Demian yang begitu semangat untuk melakukan penelitiannya itu.
Ziya dan Demian segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadinya. Ziya membuka pintu kamarnya lalu, menyuruh Vena untuk boleh masuk ke dalam kamarnya, namun, Ziya melarang Vena untuk masuk ke dalam ruangan penelitiannya itu.
" Vena, kau boleh istirahat di kamar ini, sambil menjagaku dan keadaan kamar, aku akan melakukan pekerjaanku sebentar bersama Demian di dalam,," Ucap Ziya yang memerintahkan Vena untuk menunggu dirinya di ruang kamarnya itu.
" Baik, Nyonya,," Jawab Vena segera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan lain di kamar Ziya.
Lalu, Vena kembali menoleh ke arah majikannya itu dan memberikan suatu pesan kepada Ziya.
" Nyonya, apabila membutuhkan sesuatu, bisa langsung memanggil Vena." Ucap Vena yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Ziya.
" Baik, Vena terima kasih,," Jawab Ziya tersenyum.
Ziya memang melarang Vena untuk masuk ke dalam ruang penelitiannya ini, karena, Ziya tidak mau untuk banyak diketahui orang akan keahliannya itu. Vena tidak tahu itu ruangan apa, karena, selama ini Vena juga di rumah sakit, semenjak Vena masuk ke rumah sakit dan keluar dari rumah sakit ruangan itu memang sudah ada di dalam kamarnya Ziya. Namun, Vena sama sekali belum memasuki ruangan itu.
Vena berpikir itu hanya ruang kerja pribadi milik majikannya. Oleh sebab itu, Vena tidak mau banyak bertanya mengenai ruangan rahasia itu.
Ziya segera masuk ke dalam ruangan penelitian pribadi miliknya bersama Demian, saat masuk ke dalam ruangan, Ziya segera mengunci pintu itu dari dalam dan menekan tombol lampu untuk menerangi ruangan penelitiannya ini. Betapa terkejutnya Demian saat melihat ruangan yang begitu indah dan tersusun rapi dengan alat-alat yang canggih.
" Waaauuu,, ini tempat apa Mom ?" Tanya Demian langsung pada Ziya.
" Demian suka tempat ini ?" Tanya Ziya balik pada anaknya.
" He'eh, Demian suka, Mom,, ini luangan tempat Plofessol ya Mom,," Ucap Demian yang mulai melangkah melihat ruangan penelitian milik Ziya.
" Hahaha, Profesor, kamu pintar sekali sayang,," Ucap Ziya segera mengangkat tubuh Demian dan menggendongnya.
" Demian mau membuat sesuatu sayang,," Bilang Ziya yang mendudukan tubuh Demian tepat di atas meja kerjanya.
" Heemm, Demian tidak tahu mau membuat apa,," Ucap Demian bingung akan melakukan apa di ruangan ini.
" Mommy, akan membuat sesuatu ya sayang, tapi, Demian janji jangan katakan pada siapapun apa yang telah Mommy lakukan di dalam kamar ini,," Bilang Ziya yang menatap wajah Demian begitu lembut.
" Demian janji Mom,," Ucap Demian sambil memperlihatkan dua jarinya di depan hadapan Ziya.
Ziya tertawa melihat kelakuan Demian yang begitu tulus dengan janjinya itu. Lalu, Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke sebuah gelas tempat awal penelitian.
" Sambil melihat Mommy membuatkan sesuatu Demian boleh melakukan apapun disini ya sayang,," Ucap Ziya yang tersenyum menatap Demian.
Menurut Ziya, lebih baik Demian di kamar bersama dengannya seperti saat ini daripada harus meninggalkan Demian di luar tanpa pengawasan darinya, ia tidak mau kejadian dilakukan oleh Krystal pada Demian terulang kembali, sehingga menyebabkan kerugian pada anaknya sendiri.
Setelah memasukkan Demian ke ruangan khusus yang tidak bisa terkontaminasi dengan suatu bahan racun yang ada Ziya segera keluar dari ruangan khusus untuk Demian dan memakaikan baju khusus untuk dirinya melakukan kegiatannya itu.
Setelah Ziya selesai memakai baju khususnya itu, Demian yang sedang berada di dalam ruangan ingin meminta sesuatu kepada Ziya yang sudah keluar dari ruangan khusus itu.
" Mommy,," Teriak Demian dari dalam ruangan khusus.
" Ada apa sayang,," Tanya Ziya yang mendengar suara Demian dari dalam.
" Demian mau menggambal Mommy yang sedang menjadi Plofessol boleh,," Ucap Demian yang membuat Ziya tersenyum.
" Boleh sayang,," Bilang Ziya mengangguk.
Ruangan khusus yang telah dibuat untuk Ziya itu, memiliki suatu ruangan lain yang langsung terhubung ke ruangan sebelahnya yaitu ruangan tempat tidurnya, sehingga membuat Ziya merasa aman jika Demian berada disana.
Setelah memberikan suatu arahan untuk dilakukan Demian tanpa menunda waktu lagi, Ziya langsung mengeluarkan semua bahan-bahan beracun yang sudah dipisahkannya itu. Semua bahan beracun itu sudah mengering sempurna bagaikan kerupuk yang sangat gurih. Satu persatu Ziya meletakkan semua bahan itu ke sebuah gelas percobaan, setelah selesai meletakkannya Ziya segera memasukkan sebuah bahan lain lagi ke dalam bahan itu.
Ziya benar-benar fokus dengan kegiatannya itu. Karena, dia tidak mau menunda-nunda waktu lagi untuk melakukan penelitiannya ini, supaya bisa melindungi dirinya sendiri terutama melindungi Demian dan juga Alberto.
" Aku harus berhasil membuat ini, aku tidak mau jadi sasaran kebiadaban Martin saat ia melakukan suatu hal buruk dulu padaku,," Ucap Ziya sambil mencampur semua bahan-bahan beracun itu pada gelas kimia yang cukup besar.
Setelah mencampurkannya Ziya melihat dengan detail perubahan warna dari bahan dasar yang dibuatkannya itu, dari awalnya berwarna merah saat ini sudah berubah menjadi bening.
" Bagus, sepertinya berhasil warnanya berubah,," Ucap Ziya setelah melihat perubahan warna dari bahan beracun yang awalnya berwarna merah.
Sambil menunggu perubahan bahan yang kedua, Ziya segera menoleh ke arah ruangan khusus dimana tempat Demian sedang berada. Ziya tersenyum saat melihat wajah Demian sedang fokus dengan gambarannya itu.
" Semoga penelitian Mommy berhasil ya nak,," Bilang Ziya lagi tersenyum menatap Demian.
Namun Demian sama sekali tidak mengetahui bahwa Mommynya saat ini sedang membuat sesuatu untuk melindungi dirinya. Bagi, Demian saat ini Mommynya itu sedang menjadi profesor menurut pendapatnya sendiri.
Lalu, Ziya kembali pada penelitiannya itu, setelah menunggu lama, Ziya melihat hasil dari beberapa bahan yang diletakkannya itu pada semua tabung reaksi penelitian, ternyata membuahkan hasil.
Sudah berapa jam Ziya melakukan penelitiannya ini, hingga Ziya seakan lupa dengan makan siangnya yang sudah disiapkan oleh Vena siang tadi. Ziya sengaja belum memakan makan siangnya itu, karena, ia sangat fokus sekali dengan hasil penelitiannya itu. Sesaat Ziya melihat jarum jam di dinding sudah menunjukkan jam tujuh malam.
Ziya merasa bahwa dirinya yang terlalu fokus dengan penelitiannya itu, menyebabkan Demian tertidur pulas di dalam kamarnya dan saat ini Demian sudah tidak lagi berada di ruangan khususnya itu.
" Sudah malam," Ucap Ziya saat melihat jarum jam dinding.
Ziya merasa apakah saat ini Alberto sudah kembali dari kesibukannya diluar saat hari Minggu seperti ini.
Sebenarnya Alberto bukan sibuk diluar rumah, melainkan sibuk di dalam ruangan penelitian pribadi miliknya yang sedang mencari tahu saat dimana dirinya saat itu bertemu dengan Zoya. Namun hasilnya nihil, Alberto sama sekali tidak menemukan jawaban yang pasti. Lalu, Alberto teringat ucapan Zavier yang menyatakan bahwa Axeloe mungkin mengetahui hal ini. Alberto segera mencari ponselnya dan segera menghubungi pengawalnya untuk segera mengawali Axeloe yang akan kembali lusa nanti.
" Heh!! sepertinya memang Axeloe telah mengetahui ini semua, tapi, kenapa selama ini dia tidak memberitahuku akan kejadian yang telah terjadi,," Gumam Alberto yang melihat jarum jam sudah menunjukkan ke angka tujuh.
Alberto sudah tidak sabar lagi dengan kunci kode yang dimiliki Axeloe untuk membuka semua kode kejadian yang pernah terjadi di waktu dulu.
" Frengky segera perintahkan kepada anak buahmu untuk mengawal dan mengawasi Axeloe saat ia kembali ke negara ini,," Ucap Alberto sambil menekan tombol yang selalu berada di telinganya.
Setelah memberikan perintahan dengan segera Alberto keluar dari ruangannya itu. Semua orang yang berada di dalam rumah ini tidak mengetahui bahwa Alberto hanya berkeliaran di sekitaran rumahnya saja. Semua orang berpikir kalau Alberto pasti sedang keluar dari rumah ini. Oleh sebab itu, dengan sangat mudah Alberto mengetahui gerak-gerik kejahatan yang terjadi di dalam rumahnya.
Alberto segera kembali ke dalam rumah utamanya dan langsung menaiki lantai atas, tujuannya adalah langsung menemui istri tercinta yang seharian ini dia tidak mengetahui kegiatan istrinya itu sedang melakukan apa.
Alberto melihat Vena baru saja keluar dari kamar pribadi milik Ziya, sehingga Alberto langsung mengetahui keberadaan Ziya saat ini. Alberto langsung saja masuk ke dalam kamarnya Ziya tanpa bertanya lagi dengan Vena dan Melly yang berpapasan dengannya.
" Selamat malam Tuan,," Ucap Vena dan Melly bersamaan saat berpapasan langsung dengan asisten pribadi dari Ziya dan juga Demian.
" Heemmm,," Jawab Alberto yang langsung masuk ke dalam kamarnya Ziya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya Ziya Alberto segera menutup pintu dan masuk ke dalam ruang tempat tidur kamar Ziya ini, Alberto melihat di tempat tidur hanya ada Demian sendiri yang sudah tertidur pulas.
" Demi sendirian, dimana Ziya ?" Tanya Alberto saat melihat di tempat tidur tidak ada Ziya disana.
" Oh mungkin di kamar mandi,," Ucap Alberto yang segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Alberto merasa heran dengan keberadaan Ziya, Alberto segera mendekati Ziya di kamar mandi, tapi, tidak ada sedikitpun.
" Tidak ada juga,, dimana dia," Ucap Alberto yang berpikir dimana keberadaan Ziya saat ini.
Jejak Ziya tidak terlihat di dalam kamar mandi, Alberto mengerti kemungkinan Ziya sedang berada di ruang penelitiannya yang baru saja dibuat untuk dirinya itu.
" Oohhh ya, kemungkinan dia sedang berada di ruang penelitiannya,," Ucap Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang penelitian milik Ziya.
Sedangkan Ziya di dalam menahan kantuknya untuk melihat hasil penelitiannya hari ini yang ia lakukan dari pagi tadi sampai sekarang. Ziya memang sudah mendapatkan hasil dari penelitiannya itu, namun, Ziya merasa sedikit kurang dengan hasil racun buatannya itu.
" Huuuuhhhhh,, sepertinya ada yang kurang,," Ucap Ziya saat meneliti hasil dari penelitiannya itu.
Ziya saat ini sedang menggunakan baju khusus di ruangan penelitian seperti ini dan juga saat ini Ziya sedang menggunakan penutup wajahnya, jadi, Ziya sama sekali tidak bisa menghirup udara yang dikeluarkan dari hasil penelitiannya itu.
" Heemmm, ya,, untuk mengetahui reaksi racun hasil penelitianku ini, aku harus mencobanya dengan seseorang, tapi, siapa ?" Tanya Ziya berpikir untuk melakukan suatu percobaan dengan seseorang dari reaksi hasil racunnya ini.
Saat Ziya sedang bingung memikirkan siapa yang akan jadi bahan percobaannya itu, Ziya mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya, Ziya bingung dengan ketukan pintu ruangannya itu, bukannya tadi dia sudah memberikan perintah kepada Vena dan Melly untuk segera beristirahat. Tapi, siapa yang sengaja mengetuk pintu kamarnya ini. Tanpa melepaskan pakaiannya Ziya segera membuka pintu ruangannya dan terlihatlah bahwa Alberto yang mengetuk pintu kamar itu.
" Kau,," Ucap Ziya saat melihat Alberto yang telah mengetuk pintu kamarnya itu.
Alberto tersenyum saat melihat kondisi Ziya terlihat seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti sesuatu hal. Sambil bertepuk tangan Alberto melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tanpa menggunakan pakaian khusus di dalam ruangan penelitian seperti ini.
" Waaauuu ternyata istriku terlihat sangat cantik jika seperti ini,," Ucap Alberto yang memuji penampilan Ziya saat ini.
Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya setelah mendengarkan pujian dari Alberto padanya. Namun, sesaat Ziya melihat Alberto sedang mencium aroma sesuatu dari ruangannya ini dan terlihat Alberto sedikit merasa pusing.
" Sayang, kenapa mataku kunang-kunang,," Ucap Alberto yang mengucek matanya.
" Haah!! maksudnya apa ?" Tanya Ziya balik pada Alberto.
Lalu, terlihatlah Alberto sedikit gontai dalam langkahnya, namun, Ziya melihat sepertinya Alberto saat ini terkena efek dari racunnya itu, Ziya baru sadar bahwa Alberto sama sekali tidak memakai pakaian seperti dirinya, sehingga secara langsung Alberto menghirup uap yang dikeluarkan dari hasil penelitiannya itu.
" Alberto, Alberto kamu kenapa,," Ucap Ziya yang menguatkan tubuh Alberto saat ini.
" Oh My God Alberto kau tidak memakai baju khususnya,," Ucap Ziya lagi yang baru sadar melihat keadaan Alberto.
" Alberto lebih baik kita keluar dari ruangan ini, kalau tidak kau akan pingsan,," Bilang Ziya lagi yang segera mengajak Alberto untuk keluar dari ruangannya.
" Baik," Jawab Alberto pasrah karena, memang tubuhnya saat ini terasa begitu lemas.
Ziya cepat-cepat mengajak Alberto untuk segera keluar dari ruangannya ini. Saat di luar Ziya segera mendudukkan Alberto di sebuah sofa depan pintu ruangannya ini dan membuka pakaian khusus yang sedang dipakainya.
Saat diluar Alberto merasa napasnya sedikit lega, karena, tidak merasa sesak lagi dan pusing yang begitu membuat matanya berkunang-kunang. Ziya segera memberikan segelas air putih pada Alberto.
" Ini minum,," Ucap Ziya yang memberikan segelas air putih pada Alberto.
Alberto menerima segelas air putih dari Ziya dan langsung meminumkannya, namun masih saja membuat tubuhnya merasa sedikit lemas. Ziya segera duduk dan bertanya langsung kepada Alberto tentang apa yang telah dirasakannya saat ini.
Ziya merasa sedikit bersalah dengan hasil penelitiannya ini, karena, sudah melakukan suatu kesalahan terhadap Alberto.
" Apa yang kau rasakan Alberto, apakah kau masih merasa pusing atau ?" Tanya Ziya panjang lebar pada Alberto.
Namun, Alberto segera menyunggingkan sedikit senyumannya pada Ziya, karena, Alberto sangat yakin dengan kepintaran Ziya dalam keahliannya itu, mungkin saat ini Alberto sedang merasakan efek dari racun yang telah dibuatkannya itu.
" Aku tidak apa-apa,," Bilang Alberto yang sedikit menyunggingkan senyumannya.
Saat Alberto mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, membuat Ziya tidak percaya akan ucapannya itu, sehingga membuat Ziya segera menyampaikan pikirannya bahwa apa yang telah terjadi pada Alberto adalah efek dari racun yang baru saja ia teliti hari ini.
" Tidak mungkin, kau kelihatan lemah dan juga kau bilang matamu berkunang-kunang, aku sangat yakin ini pasti efek dari hasil penelitianku itu,," Ucap Ziya yakin dengan keadaan tubuh Alberto lemah seperti saat ini.
Alberto hanya bisa tersenyum dan mengangguk dengan ucapan Ziya barusan, Alberto ingin sekali memberikan pujian kepada Ziya dengan penuh semangat, namun dengan kondisi tubuhnya seperti ini itu tidak akan mungkin bisa, karena, ia sangat merasakan bahwa tubuhnya saat ini sangat lemas sekali, seluruh otot-otot pada tubuhnya seakan melemah.
" Ya,, Sayang, kau telah berhasil melakukan penelitianmu,, selamat,," Ucap Alberto dengan tubuh lemahnya.
Ziya terlihat sangat senang sekali, karena, ia yakin racun yang dibuatnya ini hanya sementara melemahkan sistem syaraf tubuh seseorang, tidak untuk selamanya.
" Haah!! benarkah Alberto ?" Tanya Ziya balik pada Alberto.
" Ya, sayang, aku merasakan tubuhku sangat lemah,," Ucap Alberto yang merasa cemas jika racun ini akan permanen melemahkan tubuhnya.
" Aaahh,, bagus berarti aku sudah bisa membuatkannya sendiri, terima kasih Alberto,," Ucap Ziya tertawa senang dan memeluk Alberto.
Namun terlihat sekali di wajah Alberto merasakan kesedihan karena, tubuhnya yang melemah ini, apakah ini bisa disembuhkan hanya itu yang ada dalam pikiran Alberto.
" Sayang,, apakah racun ini akan permanen di tubuhku ?" Tanya Alberto dengan wajah sangat khawatir dan cemas.
Ziya ingin sekali bercanda dengan Alberto mengatakan bahwa racun ini akan permanen dalam tubuhnya namun, Ziya tidak mau membohongi Alberto, sehingga dengan senyuman tulusnya Ziya segera memberitahu bagaimana efek dari racun ini jika seseorang sudah menghirup udaranya.
" Kalau permanen bagaimana Alberto,," Ucap Ziya sedikit berpura-pura.
" Haaah!! apa ?" Ucap Alberto yang terlihat kaget.
Ziya tertawa lalu, memeluk erat tubuh Alberto yang sedang melemah ini.
" Hahhahaha, tidak Alberto aku hanya bercanda, racun ini hanya bereaksi dalam beberapa jam saja supaya bisa melumpuhkan seseorang yang melakukan kejahatan pada kita. Jadi dengan racun ini aku harap aku bisa memberikan perlindungan padamu dan Demian." Ucap Ziya dalam pelukan Alberto.
" Maafkan aku, karena, kau orang pertama yang terkena racun penemuanku,," Ucap Ziya menatap lembut wajah Alberto.
" Tidak apa-apa sayang,," Jawab Alberto memeluk tubuh Ziya dengan lemas.
Ziya sebenarnya merasa bersalah dengan Alberto, namun, Ziya merasa senang dengan hasil penelitiannya itu, bahwa ia telah berhasil membuat sendiri racun yang telah diajarkan oleh Mamanya selama ini.
***