
Saat ini, memang Alberto sangat menggebu-gebu ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan perkataan Zavier padanya itu, karena, ia juga benar-benar penasaran dengan Ziya yang selama ini terlihat akan kehebatannya, namun cuma satu kekurangannya yaitu tidak memiliki mahkota lagi saat ia menyentuh wanita berhati lembut itu.
Setelah selesai melakukan pekerjaannya yang tidak terlalu banyak itu, Alberto segera keluar dari ruang kerjanya dan Alberto segera menuju kamar Ziya. Karena, akhir-akhir ini Ziya disibukkan dengan penemuannya itu, sehingga setiap malam Ziya selalu istirahat di kamarnya sendiri. Saat tangan Alberto ingin membuka kenop pintu, Alberto melihat Melly baru saja keluar dari kamarnya Demian dan Alberto segera memanggil Melly untuk menanyakan bagaimana keadaan Demian malam ini.
" Melly, apakah Demian sudah tidur ?" Tanya Alberto pada Baby sitter putranya itu.
" Ya, Tuan, Tuan Muda sudah tertidur pulas bersama Nyonya Zoya." Jawab Melly langsung kepada Tuan Besarnya ini.
" Tidur bersama Zoya,," Bilang Alberto.
" Ya, Tuan,," Jawab Melly lagi.
" Ya, sudah silahkan pergi,," Ucap Alberto kepada Baby Sitter putranya.
" Terima kasih, Tuan,," Bilang Melly sambil membungkukkan tubuhnya.
Karena, merasa Ziya tidak ada di kamarnya, Alberto langsung saja menuju ke kamar putranya Demian. Sementara itu, Melly segera pergi dari depan kamar Demian. Alberto membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, dari depan pintu sudah terlihat saat ini memang Ziya dan Demian sudah tertidur pulas.
" Heemmm, ternyata mereka ada disini,," Gumam Alberto sambil tersenyum memandang dua orang yang berada di atas tempat tidur.
Alberto segera mengunci pintu kamarnya dan mengaktifkan semua sistem pengaman di kamar ini, setelah selesai, Alberto melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur dan melihat dengan jelas apakah Ziya sudah tertidur. Kalau Demian sudah lama melayang ke alam mimpi, terlihat dari napasnya yang teratur.
" Heemm,, ternyata dia sudah tertidur pulas." Ucap Alberto yang tersenyum melihat wajah Ziya.
" Baiklah, aku tidak akan mengganggunya,," Ucap Alberto yang ikut naik ke tempat tidur.
" Karena, seharian ini pasti dia sangat lelah, aku sudah memarahinya, mengurungnya dan juga dia baru saja di interogasi oleh Grandma,," Ucap Alberto yang menatap wajah polos Ziya.
Setelah merapikan selimut di tubuh Demian dan juga Ziya, Alberto merebahkan tubuhnya dan lebih memilih tidur di belakang Ziya, karena, ia bisa memeluk wanita ini dengan erat.
" Dan besok pagi aku harus pergi ke pulau tawanan untuk memantau hasil pekerjaan Frengky dan juga Zavier." Ucap Alberto yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Alberto segera memejamkan matanya dan itu sangat mudah ia lakukan karena, ia sama seperti Demian, jika sudah meletakkan tubuh di atas tempat tidur pastinya akan sangat mudah bagi Alberto untuk tertidur dengan pulas.
Cahaya mentari pagi telah menembus ke dalam ruang kamar Demian, Alberto terbangun dari tidurnya, karena, pagi ini ia akan segera berangkat ke pulau pribadi miliknya untuk menahan semua tawanan yang selama ini ia tahan disana. Alberto melihat wajah Ziya masih tertidur pulas dan juga Demian yang terlihat meringkuk memeluk tubuh Ziya.
" Daddy pergi dulu ya sayang, jangan nakal, selalu buat Mommy mu yang ini bahagia." Ucap Alberto setelah mengecup lembut kening Demian dan mengusap rambutnya.
Setelah itu, Alberto juga mencium lembut kening Ziya dan memberikan pesan untuk selalu bahagia ketika bersama dengannya.
" Aku pergi dulu sayang, semoga kau selalu merasa bahagia ketika bersama denganku," Ucap Alberto lembut setelah menciumi kening Ziya.
Alberto tersenyum dan segera turun dari tempat tidur, setelah selesai mencium kedua orang yang begitu ia sayangi, dengan segera Alberto keluar dari kamar Demian. Sementara itu Vena dan Melly sudah standby menunggu Tuan Besarnya keluar dari kamar ini.
" Pagi Tuan,," Sapa Vena dan Melly bersama.
" Pagi,," Jawab Alberto.
Alberto segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri untuk mengambil semua kebutuhan yang akan ia bawa pergi ke pulau pribadi miliknya itu. Sementara itu, Vena dan Melly segera masuk ke dalam ruang kamar Demian dan saat ini para majikannya masih tertidur dengan lelap. Vena hanya bisa menunggu majikannya untuk bangun begitu juga dengan Melly. Karena, memang saat ini keadaan waktu masih begitu pagi, sehingga belum banyak orang yang bangun pada jam segini.
Ziya yang tertidur pulas itu sedang bermimpi yang sangat aneh. Di dalam mimpinya itu, Ziya melihat beberapa orang yang memakai pakaian putih sedang mengawasi dirinya, Ziya merasa heran, bingung dan cemas kenapa saat ini tubuhnya terbaring lemah di atas tempat tidur yang terlihat bukan seperti kamar tidur seperti biasanya, melainkan terlihat seperti sebuah ruangan khusus untuk dirinya.
" Aku dimana,," Gumam Ziya dalam hati ketika melihat sebuah ruangan yang sangat membuatnya takut.
" Kenapa, tubuhku tidak bisa bergerak, kenapa aku bisa melihat perbuatan kalian, tapi, mulutku tidak bisa berteriak,," Teriak Ziya dalam hati yang merasa sadar akan perbuatan yang sedang dilakukan oleh beberapa orang yang ada di ruangan itu.
" Apa yang sedang kalian lakukan,," Teriak Ziya dalam hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ingin sekali rasanya Ziya memberikan pelajaran terhadap semua orang yang sedang melakukan sesuatu pada tubuhnya ini. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa tidak usah memberikan pelajaran kepada semua orang ini, berbicara saja Ziya tidak mampu.
" Lepaskan aku, aku tidak mau,," Ucap Ziya masih dalam hatinya yang berteriak tapi tidak satupun orang mendengarkan suaranya.
Memang Ziya saat itu sadar, namun tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun, sehingga membuatnya hanya bisa menggerakkan bola matanya untuk melihat apa yang sedang orang lakukan pada tubuhnya itu.
Ketika seseorang yang terlihat lebih tua dibandingkan yang lainnya sedang memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya Ziya, Ziya merasa lebih takut lagi akan tindakan yang dilakukan oleh orang tua ini. Karena, orang tua itu terlihat sangat serius ketika melakukan sesuatu pada tubuhnya.
" Oh My God, bantu aku apa yang mereka lakukan,," Ucap Ziya saat melihat orang tua itu sedang melakukan suatu hal pada tubuh Ziya yang tidak diketahui Ziya apa yang sedang mereka lakukan.
" Mama, tolong Ziya,," Ucap Ziya yang menangis karena, tidak bisa berbuat apa-apa
Ziya ingin sekali menendang semua orang yang ada disini, namun apalah daya, tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak apalagi memberontak.
" Lepaskan aku, aku tidak mau,," Teriak Ziya yang telah menguraikan air matanya.
" Tolong lepaskan aku, tolong,," Teriak Ziya yang tidak mengeluarkan suaranya.
Ziya merasa takut ketika melihat semua orang berbaju putih itu sedang memasukkan benda-benda tajam ke dalam tubuhnya, Ziya sedikit meringis merasa kesakitan ketika orang yang mengawasinya itu memasuki benda tajam ke dalam tubuhnya.
" Apa yang sedang kalian lakukan pada tubuhku,," Ucap Ziya kembali sambil menangis merasakan suatu hal yang begitu sakit saat orang itu memasukkan benda tajam ke dalam tubuhnya.
" Aaaahhhhh sakit,,," Teriak Ziya yang menangis saat merasakan sakit pada bagian tubuhnya dan perlahan-lahan matanya tertutup sendiri.
Setelah semua prosedur telah selesai dilakukan, perlahan-lahan Ziya pingsan dan tak sadarkan diri lagi, Ziya melihat apakah itu dirinya sendiri ataukah itu kembarannya Zoya. Karena, saat ini Ziya merasakan hal ini di dalam mimpinya namun kenapa rasanya seperti hal yang nyata pernah terjadi pada dirinya.
Keringat Ziya bercucuran dan sehingga suaranya saat ini bisa keluar dan berteriak untuk menolak semua perbuatan yang sedang orang itu lakukan pada dirinya.
" Jangan,, aku mohon, jangan,,,," Teriak Ziya yang segera membuka matanya dan terduduk dari tidurnya saat ini.
Napas Ziya terengah-engah dan ia merasakan bahwa mimpi yang baru saja ia alami bukanlah sekedar mimpi melainkan mimpi itu nyata.
" Apa yang telah aku mimpikan, kenapa rasanya begitu nyata dan rasa sakit itu, kenapa begitu terasa pada tubuhku,," Ucap Ziya saat terbangun dari tidurnya dan mengingat mimpi yang baru saja ia alami.
" Apa yang telah aku alami selama ini, hiks,," Gumam Ziya yang merasa bingung dengan mimpinya itu.
" Kenapa aku merasa bahwa mimpi itu nyata,," Gumam Ziya dalam tangisnya.
Vena yang sedang menunggu Ziya diluar ruang tempat tidur terkejut saat mendengar suara teriakan Ziya yang begitu kuat dan menakutkan itu, sehingga membuat dirinya segera berlari menuju ke tempat Ziya. Vena melihat bahwa majikannya ini sedang menangis saat terbangun dari tidurnya.
" Nyonya, Nyonya kenapa ?" Tanya Vena langsung pada Ziya yang masih menangis.
Karena, mendengar Ziya sedang menangis membuat Demian yang tertidur di sampingnya juga terkejut dan tiba-tiba ikut menangisi Ziya yang sedang menangis itu.
" Mommy, Mommy kenapa ?" Tanya Demian yang ikut menangis ketika melihat Mommynya menangis.
Sesaat Ziya tersadar ketika mendengarkan suara tangisan Demian yang memeluk tubuhnya. Sehingga membuat Ziya juga memeluk tubuh Demian dengan sangat erat dan menciumi puncak kepala Demian berkali-kali.
" Nyonya kenapa ?" Tanya Vena lagi yang mendekati tempat Ziya.
" Tidak apa-apa, Vena,," Jawab Ziya menggelengkan kepalanya tapi tatapannya masih menatap ke arah depan dan kosong.
" Mommy kenapa, kenapa Mommy, menangis ?" Tanya Demian saat berada di dalam pelukannya.
" Mommy tidak apa-apa, sayang,," Jawab Ziya dengan segera menghapus air matanya.
Namun, Vena masih saja penasaran dengan keadaan Ziya saat ini yang masih terlihat menguraikan air matanya.
" Nyonya, Nyonya kenapa menangis ?" Tanya Vena lagi yang masih penasaran dengan keadaan majikannya ini.
" Tidak apa-apa, Vena," Jawab Ziya menoleh ke arah Vena.
" Vena, segera panggil Melly untuk menyiapkan semua keperluan Demian hari ini." Bilang Ziya yang memerintahkan Vena untuk segera memanggil Melly Baby Sitter Demian.
Ziya sengaja menyuruh Vena untuk memanggil Melly, supaya Ziya bisa terhindar dari pertanyaan Vena yang menanyakan kenapa dirinya menangis ketika bangun dari tidurnya.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena sambil mengangguk.
" Tapi, sungguh Nyonya tidak apa-apa ?" Tanya Vena yang memastikan keadaan Ziya.
" Iya Vena, aku tidak apa-apa,," Jawab Ziya yang begitu terlihat yakin.
" Baiklah kalau begitu, saya panggilkan Melly,," Ucap Vena yang segera meninggalkan Ziya dan Demian.
Dengan segera Vena pergi meninggalkan ruangan itu, karena, kebetulan saat ini Melly telah keluar lagi dari ruangan Demian ketika melihat Tuan Mudanya itu masih tertidur.
Sementara itu, saat Vena keluar Ziya menatap lembut wajah Demian. Dan mengusap-ngusap punggung kecil itu. Karena, Demian masih saja menangisi Ziya yang baru saja menyudahi tangisannya.
" Cup, cup, cup, sayang jangan menangis lagi, Mommy tidak apa-apa,," Ucap Ziya sambil tersenyum membujuk Demian.
" Hiks,,, hiks,, hiks,, benelan Mommy tidak nangis lagi ?" Tanya Demian lucu yang menatap wajah Ziya.
" Mommy tidak menangis sayang,," Ucap Ziya yang mengecup puncak kepala Demian.
" Tapi, kenapa tadi Mommy teliak dan nangis yang sangat kencang,," Ucap Demian lagi menatap wajah Ziya.
" Makanya Demi ikut nangis juga,," Ucap Demian lagi yang membuat Ziya gemas dan mencium pipinya.
Sambil menghapus air mata di wajahnya Demian, Ziya membujuk Demi dan memastikan bahwa dirinya tidak akan menangis lagi.
" Mommy, tidak menangis sayang,," Bilang Ziya yang menghapus air mata Demian.
" Ya sudah Demi jangan nangis lagi ya, Karena Mommy tidak menangis," Bilang Ziya lembut pada Demian.
" He'eh, tapi janji Mommy jangan nangis lagi,," Bilang Demian yang menatap wajah Ziya begitu tulus.
" Mommy janji tidak akan menangis lagi sayang, Demi jangan nangis lagi, ya,, Anka laki-laki tidak boleh menangis dan harus kuat,," Bilang Ziya sambil menunjukkan tangannya memberi semangat kepada Demian.
" Yes, Mom, Demi tidak akan nangis jika Mommy tidak menangis,," Ucap Demian yang segera memeluk Ziya.
" Bagus sayang,," Bilang Ziya sambil membalas pelukan erat Ziya.
Saat Ziya dan Demian sedang berpelukan sambil saling memberikan bujukan, Vena dan Melly sudah ada lagi ke dalam kamarnya. Dan, Melly segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Ziya.
" Maaf Nyonya kalau saya terlambat,," Ucap Melly saat menghadap Ziya.
" Tidak apa-apa,," Jawab Ziya.
" Ya sudah Demi ikut Melly, karena, Demi akan pergi ke sekolah,," Ucap Ziya kepada Demian.
" Yes, Mom,," Jawab Demian mengangguk.
" Belajar yang rajin ya sayang, supaya menjadi anak yang pintar,," Bilang Ziya yang memberikan pesan moral kepada Demian.
" Yes, Mom,," Jawab Demian lagi yang segera mengikuti Melly untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.
" Daaahhh Mommy,," Bilang Demian yang melambaikan tangannya.
" Daaahhh sayang,," Ucap Ziya tersenyum kepada Demian.
Demian segera mengikuti Melly untuk bersiap pergi ke sekolah, sementara itu, Ziya segera turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya Demian. Saat ini Ziya kembali ke kamarnya sendiri untuk melepaskan kesedihannya saat ia merasakan begitu sakit di alam mimpi tadi.
" Apa maksud dari mimpiku itu,," Ucap Ziya saat berada di dalam kamar mandi dan sedang merendamkan tubuhnya ke dalam bathtub.
Saat ini Ziya sudah berada di dalam kamar mandinya dan ia sengaja berendam terlebih dahulu di dalam bathtub untuk memikirkan apa maksud dari mimpinya itu.
****