
Sehingga membuat Vena hanya bisa berjalan di belakang Axeloe sambil membawa barang milik Axeloe serta menundukkan pandangannya dari siapapun. Dan hal yang dilakukan oleh Vena itu membuat Axeloe yang sekilas melewati ruangan berkaca mengetahui ekspresi tubuh Vena yang merasa canggung serta takut saat bersama dengannya.
Sambil tersenyum kecil dan terlihat bahwa senyuman itu merupakan senyuman yang nakal, Axeloe memikirkan suatu hal yang berhubungan dengan kelakuan dirinya sendiri dengan sengaja memberikan alasan pasti kepada kakaknya dan juga Kakak iparnya dalam mendapatkan Vena. Sehingga, berhasil untuk membawa Vena ke ruangannya dan pastinya Axeloe bisa melihat dan meneliti wajah Vena dari jarak yang begitu dekat sesuai dengan apa yang telah ada dalam pikirannya.
" Heemmm, akhirnya kau mau juga mengikuti perintah dariku,," Gumam Axeloe sambil tersenyum nakal melihat langkah Vena yang berada di belakangnya dari pantulan kaca yang ada di depannya.
Vena sama sekali tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya Axeloe saat ini, yang ada dalam pikirannya Vena saat ini adalah cepat-cepat membawakan peralatan Tuan Muda Axeloe lalu kembali lagi ke tempat majikannya. Karena, Vena juga tidak bisa jauh dari Ziya, di dalam kediaman ini orang yang bisa membuat Vena percaya hanya majikannya yaitu Ziya dan juga Alberto.
Nah kali ini Vena merasa bingung sendiri apa yang harus ia lakukan setelah sampai di ruangan Axeloe nanti, langsung mengatakan permisi atau bagaimana. Hal itulah yang saat ini membuat Vena masih dalam kebingungan, karena, setahu Vena dari beberapa pelayan di bagian dapur, Axeloe sama sekali tidak pernah memerintah siapapun pelayan yang ada di dalam kediaman ini. Tapi kenapa dirinya sudah dua kali diperintahkan oleh Axeloe, apakah Axeloe memandang Vena lebih rendah daripada seorang pelayan.
Dan pikiran itu ditepis oleh Vena begitu saja, mungkin, karena, hanya Vena saja yang berada di kamarnya Ziya makanya Axeloe memintanya untuk membantu semua tindakan yang sedang ia lakukan.
" Heemmm, aku harus bagaimana," Gumam Vena dalam hati dengan pikirannya yang sedang kebingungan saat ini.
Tidak ada pembicaraan apapun yang dilakukan oleh Vena dan juga Axeloe saat mereka berdua sedang menuju ke ruangan yang dimaksud oleh Axeloe. Lalu, Axeloe melangkah menuju dimana ruangan yang ia maksud untuk meletakkan barang-barang miliknya itu bukanlah ruangan penelitian, karena, yang Vena tahu Axeloe biasanya keluar dari sebuah ruangan penelitian.
" Bukannya ini ruangan Tuan Axeloe, kenapa Tuan masih melangkah saja,," Gumam Vena yang menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan milik Axeloe.
" Apa sebaiknya aku panggil saja Tuan Axeloe, mungkin dia lupa bahwa aku ada di belakangnya membawa barangnya ini,," Ucap Vena lagi sambil melihat barang yang ditenteng di tangannya.
" Tuan Axeloe !!" Panggil Vena kepada Axeloe yang langkahnya tidak terlalu jauh dari posisi Vena saat ini.
Tapi kali ini langkah Axeloe melewati ruangan tersebut sehingga membuat Vena menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan yang telah dilewatkan oleh Axeloe dan langsung memanggil Axeloe bahwa Axeloe telah melewatkan ruangan penelitian yang dimaksudkan olehnya itu.
****