
Sementara itu,,
Daniel yang telah sampai ke rumahnya dengan segera memasuki ruangan laboratorium dan mengambil penawar racun jantung. Lalu, Daniel teringat akan diri Ziya yang begitu pintar sekali mengambil keputusan dalam waktu yang begitu genting.
" Ternyata dia lebih pintar daripada Zoya,," Ucap Daniel yang mengagumi pemikiran Ziya.
" Heeemm,, sepertinya, kali ini aku dan Alberto tidak akan terlibat dalam persaingan merebut dua wanita bidadari itu, karena, aku sudah mengetahui siapa sebenarnya yang akan menjadi milikku,," Bilang Daniel yang tersenyum sendiri atas pemikirannya selama ini .
" Baik,, aku akan segera kesana, membawa penawar ini," Ucap Daniel yang segera mengambil botol penawar racun jantung racikannya sendiri.
" Tapi, kemungkinan Alberto telah mendapatkannya," Pikir Daniel lagi, lalu Daniel segera mengambil obat untuk merawat tubuh Vena setelah meminum penawar racun.
" Bawa saja semuanya,," Ucap Daniel terakhir saat kakinya melangkah keluar ruangan laboratorium.
Setelah mendapatkan semua obat penawar racun beserta obat perawatan tubuh Vena setelah terkena racun, Daniel dengan segera menaiki mobilnya dan kembali meluncur ke istana Alexandre.
Sementara itu,,
Setelah Vena meminum penawar racun yang diberikan oleh Alberto, sehingga membuat tubuh Vena bereaksi menjadi sesak dan pingsan. Alberto tercengang akan reaksi dari tubuh Vena itu, tidak dengan Ziya, Ziya tersenyum saat melihat reaksi tubuhnya Vena.
" Bagus, Vena, penawarnya bereaksi," Ucap Ziya yang melihat tubuh Vena merasakan sesak dan sakit di dadanya.
" Apakah seperti itu, penawar racun yang bereaksi,," Tanya Alberto serius menatap wajah Ziya.
" Ya, benar,," Jawab Ziya mengangguk dengan penuh semangat.
" Hanya sementara dia pingsan, lalu, akan segera membaik,," Jawab Ziya yang menjelaskan keadaan Vena pada Alberto.
Alberto tercengang sendiri, saat mendengar ucapan Ziya yang menyatakan bahwa penawar racun yang telah diminum oleh Vena sedang bereaksi. Lantas memberikan pertanyaan yang begitu besar dalam pikiran Alberto.
" Apa,, Ziya tahu tentang reaksi racun,," Pikir Alberto dalam hati.
" Bahkan dia juga tahu bagaimana reaksi tubuh setelah meminum penawarnya." Ucap Alberto lagi dalam hati, sembari Alberto menyipitkan matanya menatap dalam wajah Ziya.
" Apakah dia selama ini mengetahui tentang racun juga sama seperti Daniel dan Axeloe, tapi kenapa tadi disaat Vena baru saja tiba Ziya seperti tidak mengerti bahwa Vena terkena racun." Ucap Alberto yang tengah menatap Ziya seakan mengerti dengan reaksi racun.
" Sepertinya, laporan yang diberikan Zavier padaku tentang Ziya belum lengkap dan masih banyak hal lain yang belum aku ketahui tentang dirinya,," Ucap Alberto dalam hatinya sambil menyelidiki wajah Ziya dengan tatapan yang begitu dalam.
Sedangkan, Ziya sendiri tidak mengetahui jika Alberto menatap dirinya dengan penuh pertanyaan. Walaupun, tatapan Alberto pada Ziya sangat mendalam itu, membuat Alberto merasa bahwa Ziya wanita cukup unik yang hadir dalam kehidupannya saat ini.
" Dia wanita yang sangat unik,," Ucap Alberto dalam hati, sambil menyunggingkan senyumannya menatap wajah Ziya.
Saat Alberto yang sibuk memikirkan hal lain yang belum diketahuinya tentang Ziya. Ziya sendiri merasa Alberto sedari tadi senyum-senyum sendiri pada dirinya. Sehingga membuat Ziya memberanikan diri untuk bertanya pada Alberto akan tatapannya itu.
" Ada apa,," Tanya Ziya menatap balik wajah Alberto.
" Tidak,," Jawab Alberto singkat dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Karena, mendengar ucapan Alberto yang begitu singkat padanya itu, membuat Ziya akhirnya kembali fokus pada tubuh Vena saat ini.
Tak lama kemudian, Daniel datang dan menghampiri semuanya.
" Bagaimana,," Tanya Daniel saat dirinya menghampiri Alberto dan Ziya.
" Dia pingsan setelah meminum penawar racunnya,," Jawab Ziya menjelaskan keadaan Vena.
" Bagus, berarti kau sudah mendapatkannya, Dude,," Tanya Daniel pada Alberto.
" Heemm,, seperti yang kau lihat,," Jawab Alberto sambil menunjuk ke arah Vena.
" Baik, setelah dia sadar maka berikan obat ini padanya,," Ucap Daniel dengan segera mengeluarkan obat perawatan tubuh Vena setelah meminum racun.
Disaat Daniel mengeluarkan obat perawatan untuk Vena, Vena pun tersadar dari pingsannya. Sehingga membuat Ziya begitu lega, bahagia menyambut Vena yang sudah sadar itu.
" Akkhh,, Vena akhirnya kau sadar," Ucap Ziya yang terlihat begitu bahagia menyambut Vena.
" Nyo,, nya,," Suara Vena memanggil Ziya.
" Iya ini aku, Vena,," Bilang Ziya tersenyum senang di hadapan Vena.
Karena, melihat Vena sudah sadar, Daniel dengan segera memeriksa keadaan Vena.
" Baik, Nyonya, izinkan saya memeriksanya,," Pinta Daniel yang meminta izin pada Ziya.
" Oh baik,, Silahkan,," Jawab Ziya dengan wajah sumringahnya.
Ziya pun beralih tempat duduknya berdiri tepat di sebelah Alberto. Sementara itu, Alberto yang sedari diam memandang lekat wajah Ziya yang begitu senang saat Vena tersadar dari pingsannya.
" Kira-kira kalau aku sakit bagaimana reaksi mu,," Tanya Alberto sambil berbisik di telinga Ziya.
Karena, mendengar ucapan Alberto seperti itu, secara otomatis Ziya sangat kaget, kenapa, Alberto memberikan pertanyaan yang terdengar sangat lucu sekali bagi Ziya.
" Apa, apa yang dikatakannya,," Gumam Ziya dalam hati merasa sedikit geli atas perkataan Alberto.
Ziya ingin sekali tertawa tapi rasa tawanya itu ia tahan, karena, saat ini Vena masih dalam keadaan lemah. Jadi, Ziya pura-pura tidak mendengarkannya saja, sehingga menyebabkan Alberto sangat kesal atas sikap Ziya yang berpura-pura itu.
Saat ini Ziya malah berkonsentrasi dan fokus atas ucapan Daniel yang bertanya akan kondisi Vena.
" Heeemm, pura-pura tidak mendengar,, Awas kau ya,," Gumam Alberto dalam hati yang merasa kesal atas sikap Ziya padanya.
Setelah memeriksa keadaan tubuh Vena, Daniel segera bertanya bagaimana reaksi yang dirasakan oleh Vena saat ini.
" Baik, Vena, apa yang kau rasakan,," Tanya Daniel pada Vena dengan serius.
" Terima kasih Dokter Daniel,, Vena hanya merasa tubuh Vena saat ini lemah,," Jawab Vena menjelaskan keadaan tubuhnya.
" Bagus,, tapi, kau harus tetap dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, setelah itu kau bisa kembali lagi kesini,," Jelas Daniel pada Vena.
Sangat terlihat Vena tidak ingin masuk rumah sakit, karena, kondisinya sudah membaik, Vena takut terjadi sesuatu pada majikannya itu.
" Tidak Dok, Vena tidak mau di rawat di rumah sakit,," Jawab Vena yang mengelak untuk dirawat.
Alberto yang mendengarkan ucapan Daniel untuk membawa Vena ke rumah sakit sangat menyetujui pendapat Daniel itu.
" Betul sekali ucapanmu Daniel,," Ungkap Alberto yang melangkah mendekati Daniel.
" Demi kesembuhanmu Vena, kau harus menuruti perintahku, kau akan dirawat di rumah sakit,," Ucap Alberto lagi memberikan perintah kepada Vena.
Vena sangat takut atas perintahan Alberto itu, kemungkinan saat dia sembuh, dia tidak akan bisa lagi bekerja di tempat Alexandre ini, dan dia tidak bisa lagi mendapatkan majikan yang baik seperti Ziya.
" Tapi, Tuan,, Ve,, Vena,," Ucap Vena yang terdengar sangat takut kalau dirinya itu dipecat.
" Kau, jangan takut, kau tidak akan aku pecat,, karena, kau asisten yang terbaik untuk istriku,," Bilang Alberto yang memuji ketulusan dan kebaikan Vena.
" Benarkah Tuan, terima kasih banyak Tuan, terima kasih banyak,," Ucap Vena yang sedikit menguatkan tubuhnya untuk menganggukkan kepalanya pada Alberto.
Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya, saat dia mendengar ucapan Alberto menyatakan Vena adalah asisten terbaik untuk dirinya. Ziya merasa bahagia akan keputusan Alberto yang masih mempercayai Vena untuk tetap bekerja dengannya itu.
Saat ini posisi Ziya memang berada cukup jauh dari tempatnya Vena. Karena, mendengar ucapan Alberto yang begitu membuat Ziya merasa senang, akhirnya Ziya melangkahkan kakinya mendekati Vena yang masih terkulai lemah di atas sofa.
" Ya, Vena, sebaiknya untuk saat ini kau harus dirawat dan diperiksa secara intensif di rumah sakit,, supaya tubuhmu bisa sembuh total dari racun itu,," Ucap Ziya yang memberikan dukungan dan semangat untuk Vena.
Vena masih saja menggelengkan kepalanya, tidak mau dirawat di rumah sakit, karena kondisinya sudah sedikit membaik.
" Tapi, Nyonya, keadaan Vena sudah membaik dan jika Vena dirawat di rumah sakit, siapa yang akan menemani, Nyonya,," Tanya Vena yang seakan takut dan khawatir terjadi sesuatu pada majikannya itu.
Ziya merasa bahwa Vena bukan hanya sekedar asisten pribadinya melainkan saudaranya sendiri, karena, kebaikan yang dimiliki Vena begitu tulus untuk menjaganya, Ziya pun menyunggingkan senyumannya.
" Tenang Vena aku sudah sembuh sekarang,," Ucap Ziya yang menunjukkan keadaan dirinya.
" Jadi, kau harus berpikir untuk secepatnya sembuh, supaya kau bisa bersama denganku lagi." Bilang Ziya tersenyum sambil memberikan semangat pada Vena untuk kesembuhannya itu.
" Tidak akan ada orang yang bisa menyakitiku lagi, kau percaya bukan,," Ucap Ziya lagi untuk menambah semangat bagi Vena.
" Ya, Nyonya, Vena percaya semoga Nyonya baik-baik saja saat Vena dirawat,," Jawab Vena akan ucapan Ziya padanya.
" Heemm,," Jawab Ziya sambil menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih, Nyonya, terima kasih banyak,," Ucap Vena yang menitikkan air matanya mengangguk di hadapan Ziya.
Ziya tersenyum melihat Vena yang begitu baik pada dirinya. Karena, telah mendengar Vena setuju untuk dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Alberto mengizinkan pengawalnya untuk membawa Vena ke rumah sakit.
" Pengawal bawa Vena ke rumah sakit sekarang,," Ucap Alberto yang memerintahkan beberapa pengawalnya.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal Alberto yang menerima tugasnya itu.
Beberapa pengawal Alberto yang telah diperintahkan untuk membawa Vena ke rumah sakit segera mengangkat tubuh Vena dan menggendongnya. Dalam sesaat Vena memberikan pesan kepada Ziya untuk selalu berhati-hati di dalam rumah.
" Nyonya, Vena pergi, Vena harap, Nyonya selalu berhati-hati di rumah ataupun di luar." Ucap Vena yang memberikan pesan pada Ziya.
Ziya tersenyum mendengarkan pesan Vena yang begitu tulus untuknya. Sehingga membuat Ziya juga memberikan semangat kepada Vena.
" Baik, Vena, aku akan menjaga diriku baik-baik dan aku harap kau cepat sembuh,," Jawab Ziya yang memberikan semangat pada Vena.
Setelah memberikan pesan dan semangat untuk Vena, Vena pun segera dibawa oleh pengawal Alberto untuk pergi ke rumah sakit. Sedangkan Daniel juga mengikuti pengawal Alberto yang membawa Vena, karena, saat Vena tiba di rumah sakit pasti Daniel yang akan mengobati Vena disana.
" Oke, Dude aku kembali ke rumah sakit,," Bilang Daniel pada Alberto.
" Heemm,, terima kasih atas semuanya,," Ucap Alberto pada Daniel.
Lalu, Alberto segera mendekati tubuhnya dengan Daniel, karena, saat ini Ziya masih menatap kepergian Vena dari rumahnya itu.
" Ada yang ingin ku bicarakan padamu,," Ucap Alberto sambil berbisik pada Daniel.
" Tentang Dia," Tanya Daniel sambil menunjuk ke arah Ziya.
" Heemm,," Jawab Alberto singkat dan mengangguk.
" Akan kita bicarakan nanti, tapi ingat kau jangan menyakitinya lagi, apabila kau menyakitinya kau akan menyesal sendiri,," Ucap Daniel yang memberi peringatan pada Alberto.
" Tenang Dude,," Jawab Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya.
Setelah selesai berbicara dengan Alberto, Daniel segera melangkahkan kakinya melewati Ziya yang masih berdiri memandangi kepergian Vena. Sesaat Ziya terkejut karena, Daniel berpamitan dengannya.
" Baik, Nyonya saya permisi,," Bilang Daniel berpamitan pada Ziya.
" Oh ya baik, terima kasih,," Jawab Ziya kepada Daniel.
Karena, melihat Daniel sudah pergi dengan segera Alberto melangkahkan kakinya mendekati Ziya. Dan, tanpa malu Alberto memeluk tubuh Ziya dari belakang walaupun saat ini masih banyak pengawal lain di antara mereka. Ziya terperanjat kaget saat Alberto memeluk tubuhnya dari belakang.
" Al,, Al,, ber,, to,, kau mau apa,?" Tanya Ziya dengan suara yang terbata-bata.
" Begitu banyak adegan drama hari ini dan kau juga beradegan pura-pura tidak mendengar ucapan dariku,," Ucap Alberto tepat di telinga Ziya.
Sesaat Ziya teringat bahwa memang benar dirinya tadi pura-pura tidak mendengarkan perkataan Alberto.
" Aduh,, bagaimana ini,?" Gumam Ziya dalam hati merasa cemas atas tindakan Alberto yang memeluk tubuhnya ini.
" Apakah dia akan menyiksaku lagi,," Tanya Ziya dalam hati dengan wajah yang terlihat sangat takut sekali.
Sementara itu,,
Mobil Demian yang baru saja sampai di depan kediamannya Alberto ini, membuat Demian tertawa senang saat melihat pengawal Daddynya telah berada semua di rumahnya saat ini. Demian berpikir pasti Daddynya sudah kembali dan saat Daddynya kembali, Mommynya akan cepat sembuh.
" Lihat Bytel, pengawal Daddy sudah ada di lumah, belalti Daddy sudah pulang,," Ucap Demian yang selalu tidak bisa menyebutkan huruf R. 😁
" Iya, Tuan Muda, ayo kita masuk,," Ajak Melly Baby Sitter Demian untuk segera masuk ke dalam.
" Baik Bytel, Demian langsung ke kamal, Daddy mau beltemu Mommy, apakah Mommy sudah sembuh,," Ucap Demian yang segera berlarian masuk ke dalam rumahnya.
Tangan Demian pun terlepas dari Melly karena, Demian selalu berlarian masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamar dimana Ziya berada.
" Tuan,," Panggil Melly pada Demian.
Tapi, Demian sama sekali tidak mendengarkan panggilan dari Melly, tujuan Demian saat ini adalah ke kamar Ziya mencari Daddy dan Mommynya.
" Daddy,,, Daddy,," Teriak Demian langsung berlarian menuju ke lantai atas.
" Mommy,,, Mommy,,,," Teriak Demian lagi sehingga membuat Alberto dan Ziya kaget.
Karena, mendengar suara teriakan Demian yang memanggil Alberto, Alberto pun segera melepaskan pelukannya terhadap Ziya. Terlihat Ziya sangat senang mendengar suara teriakan Demian, karena, dirinya sudah sangat merindukan kehadiran Demian.
" Demian,," Ucap Ziya yang terlihat sangat senang mendengar suara teriakan Demian.
Seketika, Demian muncul di hadapan Alberto dan Ziya membuat Ziya segera menyambut Demian. Demian yang melihat Ziya sudah berdiri dan sembuh itu segera berlarian memeluk tubuh Ziya.
" Mommy,, Mommy,," Teriak Demian berlarian menuju ke arah Ziya dan segera memeluk Ziya.
Ziya segera menyambut pelukan Demian dan segera mengangkat tubuh Demian dalam gendongannya. Demian sangat senang apabila digendong oleh Ziya. Demian sama sekali tidak menghiraukan adanya Alberto di samping Ziya. Bagi Demian berpelukan dengan Mommynya saja Demian sudah begitu bahagia.
" Aaakkkhh,, sayang, Mommy kangen sekali, Mmmmuuuuaaaacccchhhh, Mmmmuuuuaaaacccchhhh,," Ucap Ziya yang menggendong Demian sambil mencium Demian begitu dalam.
Saat Ziya menyambut kedatangan Demian membuat Alberto sangat kesal atas sikap Ziya yang begitu lembut pada Demian, sedangkan pada dirinya sendiri Ziya sangat canggung dan juga seperti patung diam membisu sama sekali tidak memperdulikan kehadirannya, bahkan ucapannya saja diacuhkan oleh Ziya.
Sabar, sabar, hanya itu yang bisa Alberto lakukan saat ini demi membuat Ziya agar tidak kabur dari kehidupannya.
***
Hai Readers jangan lupa dibaca juga ya buku Author terbaru,, judulnya Driver My Hubby 🥰🥰