
Alberto yang ikut melangkahkan kakinya menuju ke ruang ganti membuat Ziya sedikit kaget atas perlakuannya itu.
" Akkhhh,, Alberto,," Ucap Ziya yang kaget saat melihat Alberto masuk ke dalam ruangan.
Karena, posisinya tubuh Ziya saat ini cuma tertutup bagian bawahnya saja dan bagian atasnya tubuh Ziya belum dipasangkan kain penjerat dua gunung kembarnya itu membuatnya dengan segera menutupkan dua gunung kembar itu menggunakan kedua tangannya.
Alberto terkikik geli saat melihat kelakuan Ziya yang menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya itu.
" Hahahaha,, tidak perlu seperti itu, sayang,," Ucap Alberto yang menutup pintu ruang ganti.
" Aku pikir tadi siapa,," Jawab Ziya yang segera memasang kain penjerat dua gunung kembarnya itu.
" Memangnya kau pikir siapa,," Tanya Alberto yang mendekati Ziya.
" Tidak ada,," Jawab Ziya tersenyum.
Sesaat Alberto segera memeluk tubuh Ziya dari belakang dan menggenggam erat bagian depan tubuh Ziya, apalagi kalau bukan dua gunung yang begitu menonjol dan kencang itu. Sambil menghadap kaca Alberto membisikkan sesuatu kepada Ziya.
" Iiihhhh,, Alberto, aku mau ganti baju,," Ucap Ziya yang merasa risih atas gangguan yang dilakukan Alberto pada tubuhnya itu.
Saat mendengar ucapan Ziya yang terdengar seperti risih akan kelakuannya itu, semakin membuat Alberto suka untuk menjahili Ziya.
" Memangnya kenapa,, ini semua milikku,," Bilang Alberto dengan wajah tanpa dosa sambil memainkan lembut bagian tubuh depan Ziya.
" Ya, memang milikmu,, tapi, aku mau ganti baju, kasihan Demi di depan menunggu lama,," Ucap Ziya yang beralasan pada kelakuan Alberto.
" Kenapa kalau Demian menunggu, bukannya kita melakukan disini juga bisa,," Jawab Alberto yang langsung menciumi lembut bahu Ziya.
" Eemm,, Alberto, kalau tidak ada Demian, aku siap melakukanya, jangan sewaktu ada Demian, ya,," Bilang Ziya yang membalikkan tubuhnya menghadap Alberto.
" Oh iya,, tadi kau bilang ada kejutan untukku mana?" Tanya Ziya yang melingkarkan tangannya ke leher Alberto.
Ziya memang sengaja mengingatkan Alberto atas ucapannya itu, karena, apabila bersama dengannya di tempat yang seperti ini, pasti Alberto akan melakukan hal kemesraan yang telah tertunda tadi. Tapi, jika diingatkan hal yang lain, Alberto akan serius membicarakannya.
" Ooppsss,, aku hampir lupa, tunggu sebentar,," Ucap Alberto segera keluar dari ruang ganti.
Ketika Alberto melangkahkan kakinya keluar, dengan cepat Ziya memakai bajunya dan juga celana. Karena, malam ini tidak akan mungkin Alberto melakukan hal-hal aneh padanya, oleh sebab itu, Ziya ingin menghabiskan waktu malam ini bersama dengan Demian. Memberikan kehangatan dan kasih sayang kepada putra kembarannya itu.
Saat Alberto kembali ke ruang kamar pribadinya, Alberto melihat Ziya segera keluar dari ruang ganti dan saat ini mereka berpapasan tepat di depan pintu. Karena, Ziya telah selesai menggantikan pakaiannya, Alberto dengan sengaja menarik tangan Ziya untuk kembali ke dalam lagi.
" Eehhh,, Alberto kenapa ditarik,," Bilang Ziya yang terseret masuk ke dalam ruang ganti lagi.
" Aku ingin menunjukkan kejutan untukmu, sayang,," Jawab Alberto pada Ziya.
" Tapi, menunjukkannya bisa di tempat tidur Alberto," Ucap Ziya yang saat ini tubuhnya sudah masuk ke dalam ruang ganti lagi.
" Aku hanya ingin menunjukkannya disini,," Jawab Alberto yang meletakkan Ziya tepat di depan kaca ruang ganti.
" Eemmm,, ya sudah, aku dengar sekarang kejutannya apa ?" Tanya Ziya sambil melihat wajah Alberto dari pantulan cermin kaca.
" Tutup mata,," Ucap Alberto yang berlagak romantis pada Ziya.
" Heemmm tutup mata,, ok,," Jawab Ziya yang menuruti semua perintah Alberto padanya.
Seketika, Alberto mengeluarkan sebuah benda terlihat seperti perhiasan, tetapi bukan. Tepatnya terlihat seperti aksesoris kecil yang diletakkan di atas kepala, atau sering disebut jepitan rambut kecil tapi juga bukan jepitan. Dan, jepitan itu sama sekali tidak terlihat oleh mata yang tidak terlalu memperhatikan jelas pada rambut Ziya.
Sesaat Alberto memasangkannya untuk Ziya. Dan, Ziya merasa heran dengan kelakuan Alberto yang memasangkan suatu benda di atas kepalanya atau rambutnya.
" Sudah selesai,, buka matanya sayang,," Ucap Alberto yang telah selesai meletakkan sesuatu di atas kepala Ziya.
Setelah mendapatkan aba-aba dari Alberto Ziya segera membuka matanya dan segera melihat dan memperhatikan secara detail apa yang diletakkan oleh Alberto itu di kepalanya.
" Surprise,," Ucap Alberto setelah Ziya membuka matanya.
" Kenapa tidak kelihatan,," Ucap Ziya yang mendekatkan kepalanya di depan cermin.
Sudah berulang kali Ziya memperhatikan benda apa yang telah dipasangkan oleh Alberto di kepalanya. Tapi, masih saja tidak kelihatan oleh mata Ziya. Lalu, karena, merasa penasaran akhirnya Ziya menyentuh kepalanya dan menemukan sesuatu yang janggal di rambutnya.
" Ini apa ?" Tanya Ziya pada Alberto saat tangannya menyentuh benda kecil yang begitu aneh terjepit di rambutnya itu.
" Maaf kalau aku memasangkannya untukmu sayang,," Bilang Alberto yang mencium lembut rambut Ziya.
" Memangnya ini apa ?" Tanya Ziya lagi yang tidak menghiraukan ucapan maaf dari Alberto
Ziya yang masih penasaran dengan sebuah alat yang diletakkan Alberto di kepalanya itu, tetap saja menanyakan itu benda apa.
" Karena, kau telah berkata jujur denganku, oleh sebab itu aku memasangkan ini di rambutmu, selalu pakai ini sayang, supaya aku segera terhubung denganmu,," Ucap Alberto yang memeluk lembut perut Ziya.
Karena, sudah mendengarkan perkataan Alberto yang begitu ingin melindungi Ziya, tanpa sengaja Ziya mengelus lembut hidung dan pipi Alberto.
" Terima kasih, ya,," Ucap Ziya yang tetap mengelus lembut wajah Alberto.
" Iya sayang,," Ucap Alberto yang terlihat begitu menyayangi Ziya.
" Eemmm,, apakah Demian juga ada benda ini,," Tanya Ziya yang segera menoleh langsung wajah Alberto.
" Pasti, karena dia adalah nyawaku,," Ucap Alberto yang membuat Ziya merasa terbang di angkasa.
Setelah mendengar ucapan Alberto seperti itu, Ziya merasa bahwa Demian sungguh beruntung mendapatkan seorang
Daddy yang begitu menyayanginya, Ziya pikir dengan sikap Alberto yang begitu dingin itu memiliki sikap yang tidak terlalu peduli kepada putranya.
Tapi, ternyata Alberto begitu menyayangi Demian putranya itu. Sangat berbeda dengan kedua putrinya itu, Ziya bingung akan sikap Alberto yang tidak terlalu memperdulikan kedua putrinya itu.
" Terima kasih, Alberto kau sungguh seorang Daddy yang begitu baik terhadap anaknya,," Gumam Ziya dalam hati yang tersenyum mengangguk menatap wajah Alberto.
" Oh ya ada satu lagi,," Ucap Alberto yang segera melepaskan pelukannya pada Ziya.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.
Lalu, Alberto mengambil sebuah kertas undangan pesta untuk ditunjukkan pada Ziya.
" Ini,," Ucap Alberto yang menunjukkan sebuah undangan pesta pada Ziya.
" Undangan apa ini,," Tanya Ziya yang melihat tulisan di depan kertas itu bertuliskan 'UNDANGAN'.
" Undangan pesta, sayang," Jawab Alberto menatap wajah Ziya.
" Heeemm,, tepat di hari ini aku sedang mengadakan rapat di kantor A jadi aku tidak bisa datang,," Bilang Alberto yang menjelaskannya pada Ziya.
" Ooohh,, begitu, jadi hubungannya denganku apa, Alberto,," Tanya Ziya pada Alberto dengan tatapan serius.
" Karena, kau istriku, aku ingin kau menggantikan posisiku untuk menghadiri acara peresmian gedung pada pesta ini,," Jelas Alberto pada Ziya.
Setelah mendengar penjelasan dari Alberto itu, membuat Ziya tercengang akan isi dari undangan pesta tersebut.
" Apa, aku harus meresmikan sebuah gedung,," Tanya Ziya balik yang tercengang mendengar ucapan Alberto.
" Ya, kau harus menggantikan posisiku untuk meresmikan gedung yang mengadakan acara pesta ini,," Jawab Alberto lagi yang menjelaskan keadaan pesta tersebut.
" Tapi, Alberto, aku,, aku bukanlah,," Ucap Ziya lagi yang membuat Alberto segera menutup bibir Ziya lagi menggunakan jarinya.
" Aku yakin kau bisa,," Bilang Alberto yang memeluk tubuh Ziya dengan sangat erat.
" Baiklah, kalau kau mempercayai ku, aku akan melakukannya, tapi, jika perlakuan dan sikapku membuatmu malu, bagaimana,," Tanya Ziya lagi pada Alberto dengan wajah cemasnya.
Alberto merasa sangat yakin akan sikap dan perlakuan Ziya. Jadi, apapun yang dilakukan oleh Ziya tidak akan membuat dirinya merasa malu dan namanya juga tidak akan menjadi rusak.
" Aku sangat mempercayaimu, sayang, jadi apapun yang kau lakukan, tidak akan membuatku malu dan juga tidak akan merusak namaku,," Jawab Alberto yang sungguh meyakinkan hati Ziya.
" Benarkah, Alberto,," Tanya Ziya lagi menatap wajah Alberto.
" Heeemmm, sayang,," Jawab Alberto menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, aku akan melakukannya sebaik mungkin, terima kasih telah mempercayaiku." Ucap Ziya yang segera membalikkan tubuhnya menghadap Alberto.
Alberto yang sudah lama ingin menciumi bibirnya Ziya, dengan segera Alberto melahap habis bibir Ziya. Begitu juga dengan Ziya yang membalas lembut kecu-pan yang dilakukan Alberto padanya.
Cukup lama, Alberto mencium bibir Ziya hingga saat ini tangan Alberto sudah bergerilya kemana-mana di tubuhnya Ziya ini, Kelakuan yang mereka lakukan seketika berhenti karena, mendengar suara ketukan pintu yang dilakukan oleh Demian, karena, Demian merasa sudah terlalu lama, menunggu kehadiran kedua orang tuanya itu.
" Mommy, Daddy,," Ucap Demian yang memanggil Ziya dan Alberto.
Karena, mendengar suara panggilan Demian, Ziya segera melepaskan ciumannya terhadap Alberto. Alberto tersenyum saat melihat wajah Ziya merasa malu karena, membalas ciumannya itu.
" Ada Demi, aku keluar," Ucap Ziya yang segera melangkahkan kakinya menuju ke dekat pintu ruangan.
" Heemmm, sayang,," Jawab Alberto yang menganggukkan kepalanya.
Ziya segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ganti dan segera menyambut tubuh Demian supaya bisa di gendong.
" Mommy kenapa lama sekali,," Rengek Demian yang menempelkan kepalanya di bahu Ziya.
" Hihih, maafkan Mommy sayang,," Ucap Ziya yang merasa malu, karena, tega meninggalkan Demi sendiri di ruang tempat tidur.
Sedangkan mereka bermesraan di ruang ganti walaupun hanya sebentar. Ziya segera membawa Demian kembali ke ruang tempat tidur dan meninabobokan Demian.
Alberto melihat bahwa Ziya saat ini telah terbaring di atas tempat tidurnya bersama Demian. Alberto tinggal memilih apakah dia akan tidur di samping Demian atau di samping Ziya. Namun, Alberto melihat bahwa posisi tubuh Demian cukup aman saat ini, karena, Ziya meletakkan tubuh Demian di posisi yang paling tengah.
" Sayang, aku tidur di sampingmu, ya,," Tanya Alberto pada Ziya.
Ziya membuka matanya saat merasakan tubuh Alberto uang yang telah berada di sampingnya.
" Alberto, aku telah meletakkan Demian di tengah, kau bisa tidur di sebelahnya," Ucap Ziya seraya menolak halus kelakuan Alberto itu.
" Eeemmm,, Aku merasa kasihan pada Demian, jika aku tidur di sampingnya, karena, tempatnya akan terasa sempit," Ucap Alberto yang juga memberikan alasan kepada Ziya.
" Heh! Alberto kalau kau tidur di belakang ku, maka kau yang akan terasa sempit,," Bilang Ziya lagi yang sedikit menoleh ke arah Alberto.
" Tidak,, karena, aku bisa memelukmu,," Ucap Alberto yang segera memeluk pinggang Ziya.
" Heh!! Ya sudah terserahlah,," Gumam Ziya yang tidak mau berdebat dengan Alberto.
Karena, walaupun mereka berdebat masalah tempat tidur, pasti ujung-ujungnya yang menang adalah Alberto juga.
" Kalau kau bilang itu terserah denganku,, berarti aku boleh menyentuh ini,," Ucap Alberto yang tangannya sudah menelusup masuk ke dalam celana Ziya.
Ziya tercekat saat tangan Alberto sudah masuk ke dalam celananya itu.
" Alberto,, aku mohon, jangan lakukan ini, Demian belum tidur,," Bilang Ziya yang suaranya sangat dikecilkan.
Mendengar ucapan Ziya yang beralasan Demian belum tidur, mengingatkan Alberto dimana saat Ziya pertama kali datang ke rumahnya ini dan pertama kali juga Alberto menggodanya.
" Ya, Baiklah, aku tidak akan melakukannya malam ini, tapi, malam esok aku akan menagihnya, karena, malam ini memang aku khususkan untuk Demian mendapatkan kasih sayang darimu,," Ucap Alberto yang membuat Ziya tercengang cerah menatap wajah Alberto.
" Benarkah, jadi itu alasanmu membawa Demian ke kamar ini,," Tanya Ziya segera menoleh menatap wajah Alberto.
" Ya, walaupun sudah ku khususkan untukmu dan Demian, tapi, aku juga ingin ikut merasakan kehangatan tubuhmu, sayang,," Bilang Alberto lagi yang mengulangi tindakannya.
" Aku hanya ingin menyentuhnya saja,," Ucap Alberto lembut sambil berbisik di telinga Ziya.
Dengan cekatan tangan Alberto sudah menelusup masuk ke dalam celana Ziya dan bahkan sudah menembus benteng kain segitiga pengaman penutup bagian inti milik Ziya. Karena, merasa nikmat atas perlakuan Alberto itu, Ziya biarkan saja apa yang sedang dilakukannya itu, karena, Ziya tahu Alberto tidak akan menyentuhnya di depan Demian seperti saat ini.
Alberto hanya ingin melakukan sentuhan-sentuhan lembut di setiap inchi tubuh Ziya. Seperti saat ini, Alberto sengaja memainkan kacang kecil bagian inti milik Ziya, sehingga membuat Ziya tersenyum akan kelakuan Alberto yang tidur di sampingnya.
" Sayang,, apakah nikmat ?" Tanya Alberto berbisik lembut di telinga Ziya.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk lembut.
" Apakah kau ingin kita melakukannya,," Tanya Alberto untuk memancing hasrat Ziya.
" Eeemmm, Alberto, tapi, Demian ada disini,," Ucap Ziya yang terlihat seperti menikmati kelihaian tangan Alberto yang bermain lembut pada bagian intinya itu.
" Kita bisa melakukannya di kamarmu dan setelah itu kita kembali lagi kesini,," Bilang Alberto yang semakin menggila permainan jarinya di belahan bawah bagian inti milik Ziya.
" Tapi,, tapi,," Suara Ziya yang sudah terdengar pasrah akan sikap Alberto pada tubuhnya itu.
" Setelah Demi, tidur dengan nyenyak, aku akan membawamu,," Ucap Alberto yang masih memainkan peranan jarinya yang membuat tubuh Ziya hanya menuruti perkataan Alberto itu.
Tak disangka jari Alberto yang sedang bermain lembut di bagian inti Ziya, sedikit melemah setelah mendengar suara rengekan Demian mencari Mommynya. Padahal Ziya sudah berada di sampingnya Demian, tapi posisi tubuhnya Ziya sekarang sedang terlentang dan tidak lagi memeluk tubuh Demian. Spontan Ziya kaget setelah mendengar suara rengekan dari Demian. Dan, Alberto berpikir sepertinya tidak akan bisa melakukannya apabila sedang tidur bersama dengan putranya seperti saat ini.
****