
Zoya begitu sangat bersemangat sekali ketika Jimmy akan membawanya pergi dari mansion miliknya ini, karena, hari ini mereka akan pergi ke suatu tempat dimana tempat itu hanya ada Zoya dan Jimmy saja, walaupun begitu Zoya masih ingin membawa pelayan kepercayaannya itu namun, Zoya merasa bahwa pelayannya juga merupakan salah satu kiriman dari orang-orang yang akan mengawasinya.
" Sebenarnya, aku ingin sekali membawa dia tetap menjadi asisten pribadiku, namun aku takut, dia juga merupakan pengintai yang telah dikirim oleh seseorang untuk mengawasi keberadaan ku, lebih baik aku dan Jimmy saja yang pergi kesana, supaya semua orang tidak mengetahui dimana keberadaan ku nanti,," Ucap Zoya sendiri di dalam mobil saat ini, karena, Jimmy masih terlihat sedang membetulkan barang-barang yang akan dibawanya ke tempat tinggal barunya.
Zoya dan Jimmy lebih memilih pergi di waktu sedikit pagi namun tidak terlalu gelap, karena, pada saat jam seperti ini, semua orang akan sibuk untuk melakukan aktivitasnya, ada juga beberapa orang yang belum bangun dari tidurnya. Oleh sebab itu Zoya dan Jimmy memilih waktu yang sangat baik untuk mereka pergi saat ini.
" Selamat tinggal para pengintai yang telah dikirim untukku," Gumam Zoya tersenyum di dalam mobil saat Jimmy hendak masuk ke dalam mobilnya.
" Kenapa, tersenyum sendiri Baby ?" Tanya Jimmy ketika ia masuk ke dalam mobil dan melihat Zoya sedang tersenyum sendiri.
" Tidak apa-apa, aku hanya bahagia, karena kau selalu mewujudkan apa saja keinginanku, Jimm,," Ucap Ziya yang mengalihkan pembicaraannya.
" Oohh,, of course Baby, apapun keinginan yang kau pinta, jika aku sanggup maka aku akan melakukannya." Jawab Jimmy tersenyum balik kepada Zoya.
" Termasuk kau ingin mati untukku ?" Tanya Zoya lagi pada Jimmy sambil menatap wajah Jimmy dengan pandangan serius.
" Ya, jika itu maumu,," Jawab Jimmy mengangguk dan tersenyum tulus pada Zoya.
" Tidak, aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku Jimm,," Ucap Zoya dengan segera memeluk lengan Jimmy.
Zoya memang begitu sayang pada Jimmy, karena, Jimmy adalah satu-satunya lelaki yang menyayangi dirinya dan memperdulikan Zoya selama ini. Jadi, sangat wajar jika Zoya menyayangi Jimmy, namun, cuma satu yang tidak bisa diberikan Zoya langsung pada Jimmy adalah rasa cinta sekaligus bencinya kepada laki-laki yang pernah ada dalam hidupnya dulu.
" Aku sangat menyayangimu, Jimm, aku hanya tidak bisa memberikan rasa cintaku padamu, karena, aku hanya mencintai orang yang telah meninggalkanku selama ini." Gumam Zoya sambil memeluk erat lengan Jimmy.
Jimmy tersenyum melihat kelakuan Zoya yang begitu manja terhadap dirinya. Sehingga membuat Jimmy dengan sengaja mengacak-acak rambut Zoya.
" Baby, penampilanmu menarik hari ini,," Ucap Jimmy ketika melihat penampilan Zoya yang dirubahnya menjadi terlihat asing.
" Hihihi,, aku sengaja melakukannya, supaya, orang tidak mengetahui keberadaan kita Jimm,," Bilang Zoya sambil tertawa kecil.
" Heemmm, aku akan selalu bahagia jika kau bahagia, Baby,," Bilang Jimmy yang mengecup kening Zoya.
" Heemm,, terima kasih Jimm,," Jawab Zoya yang masih memeluk erat lengan Jimmy.
Zoya dan Jimmy sengaja merubah penampilannya supaya semua pelayan dan pengawal yang ada di mansionnya itu tidak mengetahui akan kepergiannya hari ini.
" Bagaimana, Baby, apakah sudah siap untuk pergi ?" Tanya Jimmy terlebih dahulu pada Zoya.
" Heemm,, aku sudah siap Jimmy, terima kasih sudah mau mengikuti keinginanku,," Bilang Zoya yang mengelus lembut pipi Jimmy.
Jimmy hanya tersenyum melihat kelakuan Zoya yang mengelus lembut pipinya itu. Setelah merasa cukup aman, dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya, Jimmy segera melajukan mobilnya membawa Zoya untuk pergi dari tempatnya ini.
Semua pengintai di dalam mansion ini memang tidak mengetahui kemana arah perginya Zoya dan Jimmy, namun ada satu pengintai yang bisa mengetahui keberadaan Zoya saat ini yaitu pengintai yang sudah dipercayai oleh Zavier. Dan, Zoya tidak mengetahui bahwa masih ada saja pengintai yang mengetahui keberadaannya itu.
Sementara itu, di kediaman Alexandre saat ini pengintai yang sudah diperintahkan oleh Madam Christin, segera melaporkan hasil pekerjaannya kepada majikannya. Dimana asisten pribadi dari Madam Christin saat ini telah berada di dalam kamar majikannya. Sedangkan Madam Christin sendiri sedang duduk di atas kursi santai yang terletak menghadap area taman yang begitu indah.
" Bagaimana hasilnya ?" Tanya Madam Christin pada asistennya itu.
Sambil melangkahkan kakinya mendekati sang majikan, dengan membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada majikannya itu, dengan segera asisten Christin menceritakan apa saja yang dilihatnya dari keadaan Ziya saat berada di luar apabila sedang bersama Demian.
" Nyonya, menurut pengintaian yang saya lakukan baru-baru ini, saya sudah melihat dengan jelas bahwa Nyonya Zoya lain daripada Nyonya Zoya yang kemarin, namun, dari penglihatan saya itu belum cuku untuk membuktikan jika, Nyonya Zoya saat ini bukanlah Nyonya Zoya yang dahulu, karena, saya belum bisa membuktikannya sendiri secara langsung,," Ucap asisten Christin yang mulai membuka pembicaraannya itu.
" Heemm, aku juga merasa yakin bahwa Zoya saat ini bukanlah Zoya yang aslinya,," Bilang Christin yang sudah mengetahui bahwa Ziya saat ini yang berada di kediaman cucunya itu adalah bukan Zoya yang asli.
Sebenarnya Christin sudah lama mencurigai tindakan dan sikap Ziya selama ini, semenjak awal dimana saat Ziya masuk ke dalam istana Alexandre ini. Namun, Christin belum melihat dengan jelas siapa sebenarnya orang yang sangat mirip dengan Zoya istri dari cucunya itu. Sikap Ziya sangatlah berbeda dengan sikap Zoya selama ini. Tidak mungkin seorang Zoya mau pergi bermain seharian bersama Demian, mau membuat kue untuk Demian dan bahkan pandai dalam bela diri serta mampu melawan semua ucapan pedas yang dilontarkan oleh Gladys dan Claire.
Karena, selama ini Zoya yang dikenal oleh Christin memiliki sifat dan sikap yang sangat cuek sekali, bukan hanya dengan mereka saja, bahkan Zoya sendiri juga tidak terlalu memperhatikan perkembangan putranya sendiri. Saat itu, sangat terlihat jelas bahwa Zoya lebih mementingkan kesenangannya sendiri dibandingkan harus menjadi Ibu yang sebenarnya bagi Demian.
Oleh sebab itu Christin sangat mencurigai sikap Ziya yang begitu anggun, lembut, berwibawa dan bahkan memiliki sifat yang keibuan itu membuat Christin merasa heran dengan orang yang begitu mirip Zoya ini. Lebih-lebih lagi Ziya juga memiliki sifat kasih sayang yang begitu terlihat, namun memiliki sebuah keahlian yang sangat membuatnya kagum.
" Seperti sore kemarin Nyonya, Nyonya Zoya selama ini tidak pernah memperdulikan kedua putri Tuan Alberto, namun kemarin begitu terlihat dan tampak jelas sekali, jika Nyonya Zoya memperdulikan kedua putri Tuan Alberto." Ucap asisten pribadi Christin sambil memberikan video rekaman Ziya yang sedang masuk ke dalam kamarnya Krystal.
Saat, asistennya itu memutar rekaman Ziya yang sengaja masuk ke dalam kamarnya Krystal membuat Christin semakin menambah rasa kecurigaannya itu pada Ziya. Walaupun Christin tidak melihat adanya kelembutan yang dilakukan Ziya terhadap Krystal, namun cukup terbukti saat Ziya sedang mengejar langkah Isabelle yang dilakukan sore kemarin.
" Dan disini juga terlihat sangat jelas bahwa Nyonya Zoya dengan sengaja mengejar langkah Nona Isabelle yang baru saja pulang dari sekolah untuk mengajaknya makan bersama Demian di ruangan dapur, karena, Nyonya memang sengaja ingin memasak suatu makanan yang diinginkan oleh Tuan Muda Demian, Nyonya." Bilang asisten Christin lagi sambil memutar video rekaman Ziya selanjutnya.
" Benarkah seperti itu ?" Tanya Christin saat melihat video rekaman Ziya yang sedang mengajak Isabelle untuk makan bersama mereka.
Namun sangat jelas sekali terlihat bahwa Isabelle dengan suara ketusnya tidak mau mengikuti ajakan dari Ziya maupun Demian. Christin melihat dari dekat layar ponsel yang merekam kegiatan Ziya itu. Sangat jelas sekali bahwa Ziya tulus untuk mengajak Isabelle.
" Heemmm, sepertinya benar dugaanku selama ini bahwa dia bukanlah Zoya yang asli, melainkan dialah sebenarnya yang selama ini dicari oleh Alberto. Karena, Alberto pernah mengatakan bahwa ia pernah menikahi Zoya disaat kejadian malam itu, namun, kenapa Zoya yang dinikahinya sekarang ini berbeda dengan Zoya yang dinikahinya waktu kejadian itu." Gumam Christin sendiri yang membuat asistennya merasa penasaran dan juga heran.
" Maksud Nyonya ?" Tanya asisten pribadi Christin yang merasa penasaran dengan ucapan yang dikatakan majikannya.
" Semenjak awal saat dia masuk ke dalam kediaman cucuku ini, aku merasakan suatu hal yang berbeda dari dirinya, apa mungkin Zoya memiliki kembaran dan kembarannya itu adalah orang yang sedang berada di kediaman ini,," Bilang Christin yang menerka keadaan Ziya selama ini.
" Mungkin saja Nyonya,," Jawab asisten Christin mengangguk membetulkan semua ucapan yang disampaikan oleh majikannya.
Karena, majikannya ini merasakan suatu hal yang aneh terhadap Ziya. Dengan segera asisten pribadi Christin memberikan suatu saran dan ide kepada majikannya, supaya majikannya ini bisa bertemu dan menanyakan langsung kepada Ziya tentang siapa sebenarnya dirinya itu.
" Kalau begitu Nyonya, kenapa, tidak langsung tanyakan kepada Nyonya Zoya yang satu ini tentang siapa dirinya itu yang sebenarnya,," Ucap asisten Christin yang memberikan ide sangat baik sekali bagi majikannya ini.
" Kau benar," Ucap Christin tersenyum ketika mendapatkan suatu ide untuk mengetahui tentang Ziya saat ini.
Setelah mendapatkan sebuah ide untuk mengetahui tentang kepribadian dan identitas Ziya yang sebenarnya, Christin segera memerintahkan kepada asistennya itu untuk membuat suatu pertemuan dirinya dengan Ziya, tanpa sepengetahuan dari siapapun.
Di tempat lain, tepatnya di kamar pribadi Ziya, terlihatlah Alberto dan Ziya masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Alberto merasakan cukup puas dengan tidurnya pagi ini, karena, semalam Alberto baru pulang dari kantornya sekitar pukul tiga pagi dan itupun dia belum langsung tidur. Begitu juga dengan Ziya, semalam Ziya sengaja menunggu kepulangan Alberto, tapi tak disangka Ziya dikejutkan dengan aksi Martin yang sengaja mendatangi balkon kamarnya.
Untung saja saat itu Ziya berhasil mendapatkan sebuah bukti dari rahasia yang selama ini dicari Alberto, namun, sampai saat ini Alberto tidak mengetahui dan tidak mendapatkan bukti rahasia yang ingin dicarinya itu.
Karena, melihat suasana di kamarnya Ziya sudah cukup terang, membuat Alberto yang merasa sedikit puas atas tidurnya pagi ini, dengan perlahan membuka kedua matanya, setelah matanya terbuka Alberto tersenyum ketika melihat tubuh Ziya masih tertidur lelap di sampingnya.
" Heemmm, ternyata dia masih tidur, sepertinya semalam dia memang sengaja menunggu kepulanganku." Ucap Alberto tersenyum melihat Ziya masih ada di sampingnya.
Lalu, Alberto membangunkan tubuhnya dengan posisi duduk dan melihat jam saat ini, jarum jam sudah menunjukkan angka setengah dua belas siang, Alberto merasa sepertinya dia terlalu kelelahan sehingga membuatnya tidur yang sangat lama. Dengan sengaja Alberto kembali lagi ke posisinya semula dan memeluk erat tubuh Ziya yang masih tertidur itu.
" Aku belum ingin bangun jika dia belum bangun dari tidurnya." Bilang Alberto yang sengaja kembali tidur di belakang Ziya.
Ziya merasa sedikit sempit di tempat tidurnya ini, Ziya sedikit membuka matanya dan melihat suasana hari sudah semakin terang, Ziya tahu bahwa sepertinya hari sudah semakin siang. Lalu, Ziya melihat ke arah jam dinding dan betapa terkejutnya Ziya ketika melihat jarum jam sudah menunjukkan angka setengah dua belas siang.
" Oh God, sudah siang,," Ucap Ziya yang terkejut melihat angka jam di dinding.
Dengan segera Ziya berbalik arah dan melihat Alberto masih ada di sampingnya. Ziya tersenyum ketika melihat Alberto masih tertidur itu, padahal sebenarnya Alberto sudah bangun terlebih dahulu dibandingkan dirinya. Dengan lembut Ziya memainkan hidung Alberto menggunakan jari tangannya, mengusap halus batang hidung nan mancung itu.
" Heemmm, pantas saja Demian sungguh tampan, ternyata ketampanan Demian diambil dari wajah Daddynya ini." Ucap Ziya yang masih mengelus halus batang hidung Alberto.
Seketika Alberto tersenyum dan membuat Ziya kaget atas kelakuan Alberto yang begitu tiba-tiba itu.
" Terima kasih sayang sudah memujiku,," Bilang Alberto yang membuat Ziya kaget.
" Kau sudah bangun ?" Tanya Ziya dengan ekspresi wajahnya yang begitu kaget.
" Heeemm, bahkan aku sudah lama bangun dari tidurku,," Jawab Alberto yang memeluk erat tubuh Ziya.
" Kenapa kembali lagi tidur di belakangku ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto dengan pertanyaan yang begitu cerewet.
" Karena, aku masih mau memelukmu sayang,," Jawab Alberto sambil mengecup lembut bibir Ziya.
" Eemmm, Alberto sekarang sudah siang aku mau mandi,," Ucap Ziya yang sedikit mendorong tubuh Alberto untuk menjauhinya.
" Oke kita mandi berdua,," Bilang Alberto sambil mengedipkan salah satu matanya pada Ziya.
" Tidak," Bilang Ziya yang langsung menolak ajakan Alberto padanya.
" Jika mandi berdua, akan terlalu lama di dalam kamar mandi." Jawab Ziya dengan menjelaskan semua yang akan terjadi.
" Hihihi,, aku tidak mau tau, pokoknya harus mandi berdua,," Bilang Alberto yang segera bangun dari tidurnya.
Alberto segera bangun dari tidurnya dan mengangkat tubuh Ziya untuk pergi ke kamar mandi, dengan dengan Alberto menggendong Ziya agar Ziya tidak bisa menolak akan keinginannya ini.
" Akkkhhh Alberto, turunkan aku,," Teriak Ziya ketika tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Alberto.
Alberto hanya bisa tertawa kecil dan sama sekali tidak menghiraukan teriakan Ziya yang menolak keinginannya untuk mandi berdua. Dengan segera Alberto membawa Ziya pergi ke kamar mandi di kamar ini. Setelah sampai di kamar mandi Alberto meletakkan tubuh Ziya dengan lembut di dalam bathtub dan mengisi air mandi untuknya bersama.
" Alberto, kau ini selalu saja menggangguku," Ucap Ziya yang terlihat cemberut di wajahnya.
" Hihihi karena, aku memang suka menjahilimu sayang,," Bilang Alberto yang ikut masuk ke dalam bathtub.
Saat ini Alberto sudah selesai membuka bajunya sendiri dan dengan lembut Alberto juga sengaja membuka bajunya Ziya. Ziya teringat bahwa hari ini Alberto tidak akan pergi kemana-mana, karena, hari ini Ziya ingin membicarakan suatu hal yang penting pada Alberto.
" Alberto,," Panggil Ziya pada Alberto yang sedang sibuk membersihkan tubuh Ziya menggunakan sabun.
" Heeemm,," Jawab Alberto yang cuma berdehem.
" Kau sudah janji bahwa hari ini kau tidak akan kemana-mana ?" Tanya Ziya dengan perlahan-lahan pada Alberto.
" Iya sayang, bukannya semalam aku sudah memberitahumu bahwa hari ini aku tidak pergi ke kantor." Jawab Alberto yang sedang sibuk dengan aktivitasnya pada tubuh Ziya.
" Baguslah, kalau begitu, karena hari ini aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu,," Ucap Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Apa yang ingin kau sampaikan, bicaralah sayang,," Ucap Alberto yang meminta Ziya untuk mengatakan suatu hal yang penting bagi Ziya.
" Tidak disini Alberto, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu di dalam ruangan penelitianku," Jawab Ziya masih dengan suara perlahan.
" Heemmm, salah satunya itu, tapi ada hal lain yang lebih penting lagi untuk kusampaikan padamu Alberto,," Jawab Ziya sambil memberikan senyuman lembut pada wajah tampan yang berada di belakang tubuhnya.
Dalam sekejap Alberto berpikir tentang suatu hal yang ingin disampaikan oleh Ziya itu, dalam pikiran Alberto ketika mendengarkan ucapan Ziya yang mengatakan suatu hal yang sangat penting, membuat Alberto sedikit penasaran atas apa yang dilakukannya.
" Heemmm, baiklah sayang, jika kau ingin mengatakan suatu hal yang sangat penting padaku, mari kita selesaikan mandinya,," Bilang Alberto langsung yang membuat Ziya lebih bersemangat lagi.
" Aakkhhh terima kasih Alberto,," Ucap Ziya sambil memeluk erat tubuh Alberto.
Alberto tersenyum melihat wajah Ziya yang begitu bahagia saat ini dengannya, Alberto cuma berharap semoga Ziya selalu bahagia ketika berada di kediamannya ini dan Alberto berharap semoga Ziya tidak pernah berniat untuk meninggalkan dirinya.
Karena, ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting itu, sehingga membuat Ziya mempercepat proses mandinya bersama Alberto ini. Setelah selesai melakukan proses mandi, menggantikan pakaiannya dan juga meminta beberapa pelayan untuk mengantarkan makan siang ke kamarnya.
Alberto tersenyum melihat tingkah Ziya yang begitu semangat sekali untuk mempercepat kegiatan sehari-harinya ini.
" Kenapa dia begitu semangat sekali hari ini,," Ucap Alberto dalam hatinya ketika melihat wajah Ziya yang begitu cerah dan bersemangat.
" Apakah dia telah berhasil menemukan sesuatu racun varian baru, sehingga dia ingin menunjukkan lagi padaku tentang hasil racunnya itu,," Gumam Alberto dalam hati saat menatap lembut wajah Ziya.
" Namun, hari ini dia ingin menyampaikan suatu hal yang penting padaku, hal apa itu ?" Tanya Alberto sendiri yang merasa penasaran atas ucapan Ziya yang mengatakan ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting.
" Apakah dia ingin meminta pembebasan dariku atau dia sudah mengetahui dimana keberadaan Zoya saat ini,," Ucap Alberto dalam hati yang berargumentasi sendiri tentang keinginan Ziya padanya.
Dalam seketika Alberto kaget mendengar suara sapaan Ziya yang berbicara dengannya.
" Alberto, kau sudah selesai makan siangnya ?" Tanya Ziya setelah selesai menyantap makan siangnya.
" Haah Iya sayang sudah,," Jawab Alberto tersenyum.
" Baiklah, kalau begitu apakah aku boleh menunjukkan sesuatu padamu,," Ucap Ziya yang mulai membuka pembicaraannya.
" Oke sayang, come,," Jawab Alberto langsung berdiri dari tempat duduknya.
Dengan segera Ziya mengajak Alberto untuk masuk ke dalam ruangan penelitiannya. Saat masuk ke dalam ruangan itu Alberto teringat akan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya, bahwa saat itu ia masuk dalam keadaan tidak memakai baju khusus ruangan penelitian. Dengan segera Alberto mengambil baju khusus untuk di dalam ruang penelitian, lalu, seketika membuat Ziya tertawa akan sikap yang dilakukan Alberto saat ini.
" Hahahaha, tidak perlu memakai baju khusus Alberto, aku sudah selesai melakukan penelitianku, jadi ruangan ini sudah steril dari uap racun yang sedang kulakukan saat itu." Ucap Ziya yang menjelaskan keadaan ruangan penelitiannya pada Alberto.
" Oohh aku pikir masih ada uap racunnya, lebih baik aku waspada daripada nanti sistem syaraf pada tubuhku akan kembali melemah seperti waktu itu,," Bilang Alberto dengan jawaban yang sangat jujur.
" Hahahaha,, tidak apa-apa, kenapa kau takut dengan racun buatanku Alberto ?" Tanya Ziya yang melangkah mendekati Alberto.
" Aku sama sekali tidak takut dengan racun sayang,, cuma jika tubuhku lemah seperti malam itu,, aku takut aku tidak bisa lagi mengganggumu,," Bilang Alberto yang sengaja memeluk tubuh Ziya dari belakang.
Ucapan Alberto kali ini membuat Ziya sangat greget pada sikap Alberto untuknya, sehingga membuat Ziya dengan spontan mencubit tangan Alberto yang sedang memeluk pinggangnya itu.
" Iiihhhh nakal," Ucap Ziya yang gemas akan kelakuan Alberto.
" Hehehehe,, apa yang ingin kau tunjukkan sayang, dan apa yang ingin kau katakan,," Bilang Alberto yang masih memeluk tubuh Ziya dari belakang.
" Heemm,, yang ingin aku tunjukkan adalah ini,," Jawab Ziya sambil menunjukkan beberapa botol kecil yang berisi serbuk racun buatannya.
Alberto melihat beberapa botol kecil itu dan mengambil salah satu botol kecil yang telah ditunjukkan Ziya padanya. Alberto melihat dengan sangat jelas bahwa botol itu berisi serbuk putih, namun, Alberto tidak tahu bahwa serbuk itu adalah racun.
" Memangnya apa ini sayang ?" Tanya Alberto yang sudah melepaskan pelukannya dari Ziya sambil menanyakan isi botol yang berupa serbuk itu.
" Ini aku buatkan khusus untuk kau dan juga Demian,," Bilang Ziya langsung dengan suara lembutnya.
" Ini serbuk racun,," Ucap Alberto langsung yang menerka isi botol itu.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.
" Waaaahhh ternyata kau begitu pintar sayang, bisa merubah wujudnya dari cair menjadi serbuk,," Puji Alberto terhadap Ziya.
" Hehehe, terima kasih,," Jawab Ziya tersenyum bahagia.
" Tapi, Alberto aku harap kau mau menerima pemberianku ini, aku sengaja membuat racun ini khusus untuk melindungimu dan juga Demian." Bilang Ziya yang membuat Alberto tergugah hatinya.
Karena, mendengarkan ucapan Ziya yang begitu tulus itu, membuat Alberto segera memeluk Ziya dengan sangat erat.
" Sayang seharusnya aku yang melindungimu, bukannya kau yang melindungiku,," Bilang Alberto sambil memeluk erat tubuh Ziya.
" Heemm, Alberto aku hanya ingin agar kau bisa selalu terselamatkan dan terlindungi dari orang-orang yang ingin berbuat kejahatan terhadapmu, aku tidak ingin suatu hal buruk seperti malam itu terjadi padamu lagi,," Ucap Ziya yang mengingat suatu kejadian yang menimpa Alberto pada malam itu.
" Heemm, terima kasih sayang kau begitu tulus untuk melindungiku," Ucap Alberto yang mencium lembut puncak kepala Ziya.
" Baiklah kalau begitu aku akan berjanji padamu, sampai kapanpun aku selalu berada disisimu dan selalu melindungimu dan jangan harap kau bisa pergi dariku sayang,," Ucap Alberto dengan perkataan yang begitu serius terhadap Ziya.
" Heemmm,, terima kasih atas janjimu ini padaku, Alberto dan jangan lupa untuk selalu membawa serbuk ini kemanapun kau pergi,," Ucap Ziya yang menatap lembut wajah Alberto dan memasukkan botol ke dalam saku baju Alberto.
" Heemm, ya sayang,," Jawab Alberto yang mengecup lembut dahi Ziya.
Ziya telah merasa bahwa saat ini waktu yang tepat bagi dirinya untuk menyampaikan suatu yang penting bagi Alberto. Karena, sangat terlihat sekali dari wajah Alberto, bahwa Alberto tidak akan kecewa dan marah dengannya atas tindakan yang ia lakukan sendiri tanpa sepengetahuan oleh Alberto selama ini. Walaupun Alberto marah pada dirinya kemungkinan besar tidak terlalu merugikan dia, karena, Ziya sendiri sudah mendapatkan rahasia yang begitu besar bagi Alberto.
" Eemmm, Alberto, aku ingin memberitahumu sesuatu hal," Ucap Ziya yang mulai menata perkataannya.
" Apa itu sayang ?" Tanya Alberto sambil meletakkan kembali botol racun lain ke tempatnya semula.
" Sebelum aku membicarakan ini, aku harap kau mempercayai semua perkataanku,," Bilang Ziya lagi sambil menata ucapannya.
" Iya sayang aku selalu mempercayaimu, jadi katakan saja apa itu,," Ucap Alberto yang tersenyum menatap Ziya.
" Baiklah, tapi aku mohon setelah aku mengatakan hal ini, kau jangan menganggapku telah membohongimu dan berkhianat padamu,," Bilang Ziya yang deg-degan untuk menyampaikan suatu rahasia pada Alberto.
" Kau ini sangat lucu sekali sayang, belum berbicara apapun tapi, kau sudah menganggap dirimu sendiri telah membohongiku,," Bilang Alberto yang merangkum wajah Ziya menggunakan kedua tangannya.
" Baiklah, jika kau memang benar mempercayai semua ucapan dariku, aku akan menyampaikan sesuatu yang penting bagi hidupmu Alberto,," Bilang Ziya yang membuat ekspresi wajah Alberto menjadi penasaran.
" Tunggu sebentar,," Bilang Ziya sambil menjongkokkan tubuhnya membuka pintu lemari kecil.
Alberto sedikit penasaran tentang perkataan yang ingin disampaikan oleh Ziya saat ini, terlihat begitu penting dan sangat rahasia. Setelah membuka pintu lemari kecil yang sengaja dibuat oleh Richie untuk menyimpan barang yang penting, Alberto melihat Ziya mengeluarkan suatu alat perekam yang merupakan alat perekam miliknya. Setelah mengambil alat perekam itu, dengan wajah yang sedikit tegang Ziya membuka percakapannya.
" Aku ingin kau mempercayaiku Alberto bahwa aku telah melakukan sesuatu untukmu tanpa sepengetahuan kau, Alberto,," Ucap Ziya yang sedikit perlahan-lahan mengatur perkataannya.
" Maksudmu apa Ziya ?" Tanya Alberto yang begitu penasaran melihat ekspresi wajah Ziya menjadi sedikit serius dan tegang.
Dengan segera Ziya menghidupkan alat perekam yang sudah ia simpan dari malam tadi.
" Aku ingin kau mendengarkan semua pembicaraan di dalam alat perekam ini, tapi, aku mohon kau harus mempercayaiku setelah mendengarkan rekaman ini bahwa aku tidak pernah berniat untuk mengkhianatimu Alberto,," Ucap Ziya yang terlihat sangat khawatir di wajahnya itu.
" Baiklah sayang, tidak perlu khawatir, aku akan selalu mempercayaimu." Bilang Alberto untuk menyemangati Ziya.
" Terima kasih dengarkanlah,," Ucap Ziya yang memberikan alat perekam pada Alberto.
Setelah mendapatkan kepercayaan yang begitu kuat dari Alberto, tanpa ragu lagi Ziya segera menghidupkan alat perekam suara Martin semalam dengan dirinya. Alberto menerima alat perekam itu dan langsung mendengarkannya, untuk sesaat Alberto tersenyum kepada Ziya, karena, belum mendengarkan apa-apa, lalu, saat rekaman itu semakin berputar sampai terdengarlah suara Martin yang menyatakan bahwa dirinya telah mendapatkan semua kode akses harta kepemilikan Alberto. Alberto terperangah mendengarkannya dan sedikit menoleh ke arah Ziya.
Lalu, Alberto kembali mendengarkan suara yang terdengar dari rekaman itu bahwa sangat jelas sekali terdengar seperti suara Ziya sedang mengobrol hebat dengan Martin dan sampailah ke suara Martin yang menyatakan bahwa rahasia yang ingin dicari oleh Alberto dan begitu jelas sekali terdengar bahwa Martin telah menyebutkan salah satu pembunuh Mommynya adalah Gladys.
Walaupun rahasia ini sudah lama Alberto cari tapi, dengan sangat mudah Ziya mendapatkannya dan Martin juga langsung membuka rahasia itu pada Ziya, sedangkan saat Alberto melakukan kekerasan terhadap Martin, Martin sama sekali menutup mulutnya.
Jelas sekali terlihat bahwa saat ini Alberto terkejut mendengarkan semua ucapan yang dikatakan Martin pada Ziya. Sehingga membuat Alberto merasa kesal atas kelakuan Ziya yang sengaja mencari tahu rahasia keluarganya dari Martin secara langsung tanpa memberitahukannya lagi atas tindakan yang dilakukannya ini.
Ziya melihat wajah Alberto seketika berubah saat mendengar ucapan Martin yang mengatakan bahwa Gladys adalah salah satu pelaku pembunuhan yang terjadi pada Mommynya Friska.
Dan, terakhir sekali Alberto mendengarkan perkelahian mulut yang terjadi antara Ziya dan Martin, sehingga membuat Alberto marah akan kelakuan Ziya yang menantang bahaya besar ini. Setelah selesai mendengarkan rekaman itu, dengan wajah yang terlihat sangat marah, Alberto menatap wajah Ziya.
" Apa yang kau lakukan padanya ?" Tanya Alberto langsung pada Ziya yang membuat Ziya takut akan perubahan dari wajah Alberto itu.
" Ak,, aku, aku tidak melakukan apa-apa padanya Alberto,," Jawab Ziya yang terbata-bata.
" Ak,, aku hanya menjebaknya Alberto,," Bilang Ziya lagi sambil tergagap.
" Apa maksudmu menjebaknya Ziya ?" Tanya Alberto yang berteriak marah pada Ziya.
" Aku hanya ingin membantumu, Alberto,," Jawab Ziya yang terlihat gemetar menjawab pertanyaan Alberto.
" Kau telah berani melakukan sesuatu tanpa izin dariku Ziya, kenapa kau melakukan ini,," Ucap Alberto yang terdengar sangat geram pada kelakuan Ziya yang akan membahayakan dirinya.
" Alberto, aku hanya ingin membantumu, aku hanya ingin mendapatkan rahasia yang selama ini kau cari,," Jawab Ziya dengan suara yang terdengar takut untuk menjawabnya.
" Tapi, tidak dengan cara ini Ziya, kau telah melakukan kesalahan kau telah membuatku kecewa, Ziya,," Ucap Alberto yang membuat Ziya terkejut.
" Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan Alberto, apakah tindakan yang kulakukan itu adalah salah,," Ucap Ziya yang suaranya juga terdengar meninggi.
" Salah, karena, kau dengan sengaja mengundangnya untuk mendekatimu dan kau tahu karena, tindakan yang kau lakukan ini, aku tidak menyukainya Ziya,," Ucap Alberto yang terdengar merasa cemburu akan kelakuan Ziya terhadap Martin.
" Tapi, aku tidak melakukan apa-apa padanya, Alberto, percayalah,," Jawab Ziya yang menjelaskan kejadian itu.
" Ya, memang tidak terlihat kau tidak melakukan apa-apa padanya,, tapi aku jelas mendengar kau sengaja ingin mengkhianatiku bukan,," Bilang Alberto yang menatap wajah Ziya dengan sangat tajam
Saat ini, pikiran Alberto tidak jernih dan tidak menelaah apa maksud dan tujuan Ziya melakukan suatu tindakan yang bisa membuat dirinya bahaya. Jika, Alberto tahu betapa tulusnya Ziya untuk membantunya itu, kemungkinan Alberto tidak akan marah pada Ziya seperti saat ini.
***