Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 148 - Keberhasilan Ziya



Karena, Vena sudah mendapatkan pesan dari Frengky bahwa malam ini Alberto akan terlambat pulang, kemungkinan esok pagi. Oleh sebab itu, Vena langsung melaporkan pesan itu kepada majikannya Ziya. Vena tahu bahwa Ziya saat ini sedang berada di dapur bersama Demian.


Vena, segera melangkahkan kakinya ke dapur dan memang benar saat ini Ziya sedang tertawa bersama dengan Demian. Terlihat di pipi Ziya banyak sekali bekas coklat karena, ciuman yang dilakukan oleh Demian padanya. Walaupun seperti itu, Ziya sama sekali tidak merasa risih akan wajahnya yang penuh coklat itu.


" Nyonya,," Sapa Vena langsung pada Ziya sambil membungkukkan tubuhnya.


" Ya,," Jawab Ziya segera menoleh ke arah suara yang telah memanggilnya itu.


Vena sedikit tersenyum melihat wajah Ziya yang penuh akan coklat yang berbentuk bibir.


" Maaf Nyonya, saya mau menyampaikan bahwa ada pesan dari Tuan Besar bahwa malam ini,," Ucapan Vena yang terputus karena, Ziya segera memberikan isyarat kepada Vena.


Ziya tidak mau banyak orang yang mendengar pesan dari Alberto untuk dirinya. Jadi, Ziya segera memberikan isyarat kepada Vena untuk mengecilkan suaranya.


" Shuuttt,," Ucap Ziya langsung pada Vena.


" Oohh,, maaf Nyonya,," Bilang Vena yang segera melangkahkan kakinya mendekati Ziya.


" Apa yang ingin kau katakan ?" Tanya Ziya pada Vena setelah posisi Vena mendekati dirinya.


" Tuan Besar mengatakan pada Frengky, bahwa malam ini Tuan Besar tidak akan pulang mungkin besok pagi,," Ucap Vena dengan suara kecil sambil berbisik kepada Ziya.


Saat Ziya mendengarkan ucapan Vena yang menyampaikan bahwa malam ini Alberto tidak akan pulang, membuat Ziya merasa kesepian dan merindukan sikap Alberto yang selalu mengganggu dirinya setiap hari, setiap malam dan bahkan setiap paginya.


" Heemm begitu,," Jawab Ziya terlihat lesu.


" Ya, Nyonya,," Bilang Vena mengangguk.


" Alberto tidak pulang malam ini, memangnya ada apa ?" Tanya Ziya dalam hatinya, karena, saat Alberto di dalam negerinya ini hampir tidak pernah Alberto tidak pulang ke rumahnya.


" Apa karena, dia sedang sibuk atau memang sengaja ingin menjauhiku,," Ucap Ziya dalam hati dan terlihat sekali bahwa saat ini wajahnya murung.


" Ada apa Mommy" Tanya Demian langsung kepada Ziya.


Karena, melihat Ziya sedikit merubah ekspresi wajahnya dari ekspresi senang ke ekspresi murung.


" Heemm, tidak apa-apa sayang,," Jawab Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya pada Demian.


" Malam ini Demian tidur di kamar Mommy ya,," Bilang Ziya yang membuat Demian teriak gembira.


" Holeee,, ok Mom,," Ucap Demian yang terlihat sangat gembira.


Ziya merasa penasaran dengan pesan Alberto pada dirinya itu, apakah ada pekerjaan sangat penting sehingga membuatnya begitu sibuk, sampai tidak pulang ke rumah malam ini. Ziya segera menyuruh Vena untuk menghubungi Alberto secara langsung.


" Vena, hubungi suamiku sekarang,," Bilang Ziya yang memerintahkan Vena untuk segera menelepon Alberto.


" Baik Nyonya,," Jawab Vena dengan segera mengeluarkan ponsel khusus untuk menelepon Alberto.


Dering pertama langsung diangkat oleh Alberto. Karena, sudah diangkat, secara langsung Ziya yang berbicara di telepon itu.


" Ada apa, Vena ?" Tanya Alberto langsung kepada ponsel yang telah dipegang oleh Ziya.


" Kenapa kau tidak pulang malam ini ?" Tanya Ziya langsung pada inti pertanyaan dalam pikirannya.


" Ooohhh sayang, Sorry aku pikir yang menelepon Vena." Bilang Alberto langsung melembutkan suaranya kepada Ziya yang telah meneleponnya itu.


" Jawab pertanyaanku Daddy,," Bilang Ziya langsung pada intinya.


" Maaf sayang, aku akan pulang secepat mungkin, karena, masih banyak tugas yang ingin aku selesaikan,," Bilang Alberto yang menjelaskan inti permasalahannya.


" Apakah pekerjaannya tidak bisa dibawa ke rumah ?" Tanya Ziya lagi dengan nada yang begitu serius.


" Heemmm tidak, karena, ini harus diselesaikan disini juga,," Jawab Alberto lagi pada Ziya.


" Ya sudah, aku akan tetap menunggu kepulanganmu,," Bilang Ziya dengan sikap keras kepalanya.


" Ooohhh sayang aku sangat mencintaimu, kau harus istirahat, jangan menungguku pulang,," Bilang Alberto yang terdengar begitu manja.


" Aku akan tetap menunggu kepulanganmu titik," Bilang Ziya yang sangat bersikeras itu terhadap keputusannya.


" Ya, baiklah aku akan pulang secepat mungkin,," Bilang Alberto yang sedikit membuat hati Ziya lega.


" Sayang, apakah kau merindukanku ?" Tanya Alberto disela teleponnya.


" Tidak, aku merindukanmu, jika kau berada di sampingku,," Ucap Ziya sangat lembut terdengar.


" Heemmm, baiklah aku akan pulang secepatnya sayang, tapi, kau harus berjanji, kau harus istirahat sebelum aku pulang,," Bilang Alberto yang memberikan perintah kepada Ziya.


" Baik," Jawab Ziya singkat.


Setelah selesai bertelepon ria dengan Alberto. Ziya merasa sedikit lega setelah mendengarkan ucapan Alberto yang menyatakan bahwa dirinya akan segera kembali demi menuruti kehendak dirinya itu.


Demian telah selesai menyantap semua kue yang ada. Waktu sudah semakin gelap, sehingga membuat Ziya bersama Demian menghabiskan waktunya bersama di kamar. Saat ini, Ziya sedang menidurkan Demian dengan menceritakan berbagai buku dongeng. Ziya sangat menyukai momen dimana saat ia sedang menidurkan Demian seperti ini, sangat terasa sekali bahwa dirinya adalah seorang Ibu. Ziya tersenyum ketika melihat wajah Demian yang polos telah tertidur dengan pulasnya.


" Heemmm, ternyata anak Mommy begitu mudah sekali tertidur." Ucap Ziya setelah melihat wajah Demian yang berada di dalam pelukannya telah tertidur pulas.


" Oke sayang tidur yang nyenyak biar besok bisa bangun pagi dan pergi ke sekolah." Bilang Ziya sambil memasangkan selimut yang tebal pada tubuh Demian.


Setelah selesai memasangkan selimut dan membetulkan bantal di samping Demian, Ziya segera mengecup lembut puncak kepala Demian, lalu, Ziya lebih memilih duduk di depan ruangan kamarnya sambil menunggu kepulangan Alberto.


" Heemm, sambil menunggu Alberto pulang, lebih baik aku pisahkan tanaman ini untuk dibuat kembali." Ucap Ziya sambil membawakan keranjang yang berisi daun kering tanaman merah.


Dengan membawakan beberapa daun tanaman merah yang sudah kering, Ziya memilih dan memisahkan daun-daun itu ke wadah yang lainnya. Sebenarnya cukup dingin jika sedang berada di luar, Ziya kembali lagi ke dalam dan mengambil jaket tebal untuk menutupi tubuhnya.


" Eemmm, ternyata diluar sangat dingin, lebih baik aku kembali lagi ke dalam," Ucap Ziya berniat untuk mengambil jaket yang akan digunakannya.


" Oh ya aku baru sadar, bahwa aku lupa membawa racunku,," Ucap Ziya dengan segera berlari masuk kembali ke dalam kamar.


Setelah selesai memakai jaket tebal pada tubuhnya. Tidak lupa, Ziya membawakan bungkusan kecil yang berisi racun buatannya itu. Dan, Ziya juga membawakan sebuah alat yang khusus untuk digunakan merekam suatu pembicaraan orang kepadanya. Sebelumnya Ziya mendapatkan alat ini dari ruang kamar Alberto dan Ziya melihat sepertinya alat ini sangat berguna baginya untuk menuntaskan rencananya itu nanti.


" Heemm,, aku harus berhati-hati, supaya kejadian itu tidak lagi terjadi padaku,," Ucap Ziya yang teringat akan kejadian yang dilakukan Martin pada dirinya.


Ya, memang benar Ziya harus berhati-hati terhadap setiap suasana yang ada, dia tidak mau kejadian yang pernah menimpanya beberapa waktu yang lalu, membuat dirinya kalah akan kekuatan Martin disaat itu.


Ziya kembali lagi keluar dari kamarnya dan menutup pintu balkon supaya angin malam tidak memasuki ruangannya secara langsung. Sementara, Ziya sedang fokus memilih tanaman merah di balkon, dari kejauhan Martin tersenyum akan kelakuan Ziya sedang duduk sendiri di ruang balkon kamarnya itu.


" Heemmm,, ternyata wanita idamanku, sedang duduk sendiri di depan kamarnya." Ucap Martin yang sudah siap untuk melakukan rencananya.


" Sepertinya dia sedang menungguku,," Bilang Martin lagi yang merasakan bahwa Ziya saat ini sedang menunggu dirinya.


Martin saat ini berpikir bahwa Ziya sedang menunggu kedatangannya, kemungkinan Ziya sudah siap dan mau untuk melayani nafsu hasratnya yang selama ini tertampung dalam tubuhnya. Namun, Martin tidak mengetahui saat ini Ziya sudah membawa racun yang sangat ampuh untuk melemaskan sistem syaraf dari seluruh tubuh.


Memang sebelumnya Martin sudah menonaktifkan semua sistem CCTV di depan balkon kamarnya Ziya sehingga dengan sangat mudah Martin merayap ke tempat Ziya hanya dengan menggunakan tali dari balkon depan ruang santai menuju ke balkon kamarnya Ziya.


" Baik sayang, Martin akan segera kesana dan kita akan saling memuaskan satu sama lain." Ucap Martin yang berandai-andai sendiri.


" Aku tahu kalau saat ini kau mulai kesepian dan kau juga pasti tahu bahwa Alberto tidak akan pulang malam ini, jadi malam ini waktunya aku untuk memberikan kehangatan padamu,," Gumam Martin dengan segala merayap bagaikan cicak yang berada di dinding.


Saat ini Martin sedang merayap di dinding menggunakan alat yang selama ini dibuatnya khusus untuk masuk dan menyelinap ke kamarnya Zoya. Sedangkan Ziya sendiri fokus dengan pekerjaannya itu, Ziya tidak mengetahui bahwa malam ini Martin akan mengganggu dirinya lagi, sebenarnya Ziya memiliki suatu rencana yang akan dilakukannya esok siang, namun, ternyata kejadian yang terjadi padanya malah sebaliknya dan berbeda.


Martin terlebih dahulu untuk melakukan aksinya demi mendapatkan seorang wanita idamannya ini. Martin ingin membuktikan pada Alberto bahwa ia berhasil mendapatkan istrinya itu dan dengan secara sukarela istrinya mau tidur dengannya itu, sehingga mau tidak mau, Alberto harus merelakan istri tercintanya ini kepada dirinya.


Sungguh niat Martin itu salah, seorang Zoya saja ia cuma dapat harapan besar nan indah tapi palsu, apalagi kembarannya ini yang baru mengenal cinta dan cinta itu sudah diletakkannya khusus pada satu orang yaitu Alberto.


Tidak mungkin Ziya mau dengan dirinya itu. Martin masih saja merayap dengan perlahan menuju ke tempat kamarnya Ziya.


" Sedikit lagi sampai semangat Martin,," Gumam Martin yang menyemangati dirinya sendiri.


" Haahh!!" Teriak Ziya kaget ketika melihat Martin sudah berada di depan hadapannya.


" Jangan kaget sayang ini, aku,," Ucap Martin yang terdengar sama di telinga Ziya saat kejadian itu.


" Suaranya sama, berarti benar, ternyata dia,," Gumam Ziya kaget ketika mendengar suara Martin yang telah berada di dekatnya itu.


Saat Ziya mendengar jelas nada suara yang dikeluarkan Martin itu, membuat Ziya membenarkan ucapan Alberto yang menyatakan bahwa Martin adalah pelaku yang sebenarnya.


" Memang benar yang diucapkan Alberto bahwa memang dialah pelakunya." Bilang Ziya lagi dalam hatinya.


Ziya merasa canggung, cemas dan khawatir saat Martin telah berada tepat di hadapannya ini.


" Bagaimana ini, seharusnya besok aku akan melakukan rencanaku bersama Vena, tapi, kenapa dia datang malam ini, sepertinya aku harus melakukan rencanaku itu tanpa disusun lagi. Baik, Martin aku ingin lihat betapa hebatnya kau untuk berhadapan dengan Alberto,," Bilang Ziya lagi dalam hatinya yang merasa bahwa rencananya itu harus segera ia lakukan, walau tanpa disusun terlebih dahulu.


Namun, Ziya teringat bahwa dia adalah Zoya dan saat ini juga waktu yang tepat untuk dirinya mendapatkan semua rahasia yang ingin diketahui oleh Alberto selama ini dari Martin.


" Jangan takut sayang, ini aku,," Ucap Martin lagi ketika melihat Ziya sedikit cemas itu.


" Kau mengagetkanku,," Bilang Ziya yang berpura-pura polos itu.


Padahal sebenarnya Zoya cuma sekali memberikan harapan besar kepada Martin dan itu membuat Martin sangat bersikeras untuk mendapatkan kasih sayang dari Zoya. Berbeda dengan sikap Zoya kali ini, baginya sikap Zoya yang satu ini semakin membuatnya tertarik dan tertantang.


" Heemmm, sepertinya dia lebih menarik saat ini, kenapa dia menerima kedatanganku,," Gumam Martin dalam hati.


Saat pertama kali Martin ingin melampiaskan nafsunya itu Ziya jelas sekali menolak kehendaknya itu, namun, saat Ziya mengetahui dirinya yang melakukan itu, Martin sangat jelas sekali mendengar bahwa Ziya juga yang memohon kepada Alberto untuk melepaskan dirinya, bukan permintaan dari Mamanya.


Sepertinya saat ini Zoya memang benar-benar telah berubah, semenjak kepergiannya beberapa bulan yang lalu, membuat dirinya berubah menjadi lebih menarik.


" Kau tidak akan berteriak seperti kemarin sayang,," Ucap Martin yang mulai melangkah mendekati Ziya.


Karena, terlihat Martin melangkahkan kakinya ingin mendekati dirinya dengan segera Ziya bangkit dari duduknya. Dan, berdiri dengan posisi tangan kiri sedang memegang bungkusan racunnya.


" Aku tidak akan berteriak seperti kemarin, jika kau memberitahuku waktu itu,," Ucap Ziya yang melangkah sedikit mundur dari Martin.


" Heemm baiklah Zoya, kau sudah mengetahui bahwa aku adalah orang yang melakukan itu, tetapi kenapa kau menolak keinginanku dan berteriak ?" Tanya Martin langsung pada Ziya dan melangkahkan kakinya mendekati Ziya.


" Karena, aku tidak tahu bahwa itu kau Martin,," Jawab Ziya langsung dengan memberanikan posisi tubuhnya saat ini.


" Heemm benarkah," Ucap Martin yang mulai mendekati tubuh Ziya.


" Jangan mendekat padaku Martin, aku tidak suka jika dipaksa,," Ucap Ziya yang sangat mirip sekali dengan perkataan yang sering diucapkan oleh Zoya.


" Ya ya aku tahu itu, baik aku tidak akan mendekat dan tidak akan memaksamu," Bilang Martin yang menghentikan langkah kakinya.


Ziya terperanjat ketika ia mengatakan ucapan tidak mau dipaksa dan ternyata membuat Martin mengetahui hal ini, apakah pernyataan ini sering diucapkan oleh Zoya.


Mungkin juga ??


" Aku ingin tahu sebenarnya kau ingin memberikan aku kejutan apa ?" Tanya Ziya langsung pada inti pertanyaannya.


" Hahahaha jika kau ingin mengetahui kejutan dariku itu, kau harus menemaniku malam ini Zoya." Bilang Martin langsung membuat Ziya membelalakkan matanya.


" Heh!! aku sudah katakan kalau aku tidak mau dipaksa, jika kau memang benar menginginkan diriku kau harus memberitahuku terlebih dahulu rencana apa yang telah berhasil kau lakukan itu ?" Tanya Ziya langsung yang membuat Martin terpana akan ucapannya itu.


" Baik, aku akan menceritakan semuanya tapi, kau harus berjanji bahwa kau mau menjadi milikku selamanya, Zoya." Ucap Martin yang melakukan negosiasi dengan Ziya.


" Dia mengatakan janji atas nama Zoya bukan namaku baiklah, aku akan mengelabuinya, maafkan aku Zoya,," Ucap Ziya dalam hati sambil meminta maaf atas nama Zoya.


" Heemmm, tergantung jika ucapan yang kau katakan itu sejujurnya, maka aku akan memikirkannya lagi perjanjian yang kau ucapkan ini,," Bilang Ziya dengan gaya angkuhnya.


" Aku semakin menyukaimu sayang,," Bilang Martin yang mendekati Ziya dan ingin memeluknya.


Karena, melihat Martin sangat ingin memeluknya, dengan segera Ziya melawan Martin untuk mencegah kekakuannya itu.


" Martin, aku sudah katakan, jika kau menginginkanku kau cukup katakan apa saja kejutan keberhasilan yang kau lakukan itu." Bilang Ziya dengan posisi tangan menahan tubuh Martin untuk mendekati dirinya.


" Yeah baiklah, dengarkan baik-baik Zoya sayang,," Ucap Martin yang mulai membuka pembicaraan pentingnya itu.


Dan tangan Ziya segera menekan tombol alat perekam suara yang ia letakkan di dalam kantong jaketnya itu. Sambil tersenyum sinis Ziya memikirkan suatu hal terhadap Martin.


" Ceritakan semuanya Martin dengan jelas dan rinci, supaya aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam hidup Alberto selama ini." Gumam Ziya dalam hati sambil menaikkan ujung bibirnya.


" Kejutan yang ingin kusampaikan adalah aku telah berhasil mendapatkan semua kode keamanan di kamar Alberto dan aku juga telah berhasil mendapatkan semua kode penyimpanan harta yang dimiliki Alberto, sebenarnya ini adalah rencana yang ingin dilakukan Mommy, namun, sampai saat ini Mommy tidak bisa mendapatkannya, oleh sebab itu, aku yang menjalankan rencana ini dan aku telah berhasil semuanya sayang. Jika waktunya sudah tepat maka aku akan dengan mudah melempar Alberto dari kediamannya ini dan bahkan Vasco Daddy Alberto yang sangat bodoh mencintai Mommy ku yang begitu licik akan suatu rencana, serta Nenek bodohnya itu, aku juga tidak akan lupa untuk membuang semua orang yang ikut andil dalam kehidupan Alberto." Ucap Martin yang menjelaskan langsung apa rencana yang telah dilakukannya terhadap Alberto.


" Apa,, berani-beraninya kau telah melakukan itu pada Alberto,," Gumam Ziya yang tercengang mendengar ucapan Martin.


" Kau tahu Zoya, hanya kau seorang yang akan bersama denganku di istana ini." Bilang Martin tertawa puas setelah memberitahu apa saja kejutan yang dikatakannya telah berhasil itu.


Namun, Ziya sepertinya belum terlalu puas akan jawaban yang dijelaskan Martin padanya itu. Lalu, Ziya segera mematikan sementara alat perekam itu.


" Benarkah, kau hanya sekedar melakukan rencana yang ingin dilakukan oleh Mommy dan tidak ada rencana lainnya ?" Tanya Ziya lagi yang memancing ucapan Martin terhadap dirinya.


Lalu, Ziya segera menghidupkan kembali alat perekam suara yang ada.


" Heemmm, sebenarnya masih banyak yang ingin aku katakan padamu Sayang, tapi, Mommy selalu mengingatkanku untuk tidak mengatakan ini pada siapapun,," Bilang Martin yang membuat Ziya sangat kesal sekali.


Sebenarnya Ziya ingin mengetahui semuanya dari mulut Martin saat ini juga, namun, karena, Martin telah membuatnya kesal akhirnya Ziya mengeluarkan ekspresi kekesalannya pada Martin.


" Kau tidak mempercayaiku Martin, baiklah silahkan pergi dari tempat ini, untuk apa kau mengatakan semuanya jika aku tidak diberitahu hal yang paling penting dan paling rahasia bagimu, jika kau memang benar menginginkanku pastinya kau langsung menceritakan apa saja yang telah menjadi rahasia dalam hidupmu." Ucap Ziya yang terlihat sangat serius bagi Martin, sehingga membuat Martin segera mencegah Ziya untuk masuk ke dalam kamarnya.


" Ya ya baiklah Zoya, aku akan menceritakan semuanya,," Bilang Martin yang mencegah Ziya untuk masuk ke dalam kamarnya.


" Baik katakan,," Ucap Ziya yang bersandiwara marah terhadap Martin.


" Bagus Martin katakan semuanya,," Ucap Ziya dalam hati yang sudah tidak sabar lagi mengetahui semua rahasia penting yang telah disimpannya selama ini.


" Rahasia yang tidak boleh dikatakan pada orang lain adalah salah satu orang yang telah membunuh Friska yaitu Mommyku Zoya dan Mommy sebenarnya sama sekali tidak mencintai Vasco, karena, semasa Mommy masih muda Mommy sangat tertarik dengan Vasco sementara itu Vasco menyukai Friska yang sangat pintar dalam dunia racun dan obat. Tapi, aku tidak tahu bagaimana jelasnya kenapa Mommy ikut dalam kelompok mafia kecil untuk membunuh Friska. Karena, saat itu aku masih kecil, aku hanya mendengar suara Mommy yang melakukan rapat dengan semua temannya untuk merencanakan pembunuhan terhadap Friska istri dari Vasco Alexandre." Ucap Martin yang menjelaskan secara detail kepada Ziya.


Betapa terkejutnya Ziya saat mendengarkan bahwa rahasia yang selama ini ingin Alberto dapatkan adalah suatu hal yang sangat janggal bagi Ziya. Ternyata, musuh Alberto selama ini adalah musuh yang ada di dalam rumahnya sendiri. Ziya sedikit merasa pusing saat mendengar ucapan Martin yang terakhir ini, Martin sendiri telah memberitahu padanya bahwa orang yang telah membuat keluarga Alberto hancur adalah Gladys ibu tirinya Alberto.


" Aku sudah menjelaskan semuanya, mulai saat ini kau harus menjadi milikku," Bilang Martin dengan segera memeluk tubuh Ziya.


Ziya terperanjat kaget saat Martin memeluk tubuhnya, dengan spontan Ziya menolak keinginan Martin ini.


" Martin aku tidak suka kalau dipaksa,," Bilang Ziya yang mendorong tubuh Martin dengan sangat kuat.


Saat itu tubuh Martin terdorong oleh dirinya, namun Martin tetap saja bersikeras untuk segera melampiaskan nafsu hasratnya pada Ziya malam ini.


" Kalau kau tidak dipaksa, kau tidak akan mau Zoya,," Bilang Martin yang segera menyandarkan tubuh Ziya ke dinding.


Saat tubuh Ziya berhasil disandarkan ke dinding dengan segera Martin menciumi bibir Ziya namun, Martin tidak berhasil mendapatkan bibir itu, karena, Ziya telah menendang bagian inti milik dirinya. Sehingga membuat Martin merasa kesakitan pada bagian intinya itu. Lalu, dalam waktu yang sangat tepat ini, Ziya segera menyemburkan serbuk racun yang dibuatnya itu tepat di hadapan Martin. Sehingga membuat Martin menghisap racun itu dan bahkan menelannya, membuat Ziya tersenyum akan kelakuannya ini.


" Kau,, apa yang kau lakukan padaku ?" Tanya Martin langsung pada Ziya ketika matanya saat ini merasakan sedikit kabur dan tubuhnya melemah.


" Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan,," Ucap Ziya tersenyum sinis pada Martin.


" Pergi kau,," Usir Ziya langsung pada Martin dengan menyeret tubuh Martin keluar menjauhi balkon kamarnya.


" Kau lihat Zoya, aku akan membalas semua perbuatan yang kau lakukan ini,," Bilang Martin yang langsung keluar dari balkon kamarnya Ziya.


Martin segera keluar dari balkon kamar Ziya dengan kondisi tubuh yang sangat lemah sekali, Martin bingung dengan suatu hal yang dilakukan Ziya padanya itu, kenapa ketika Ziya menyemburkan serbuk putih itu membuat tubuhnya sangat lemah.


Sementara itu, Ziya tersenyum puas karena, telah berhasil melakukan rencananya itu tanpa harus disusun terlebih dahulu.


****