Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag.



Karena, melihat Vena masih menundukkan pandangannya terhadap dirinya itu dan hal itu membuat Axeloe sedikit merasa risih, akhirnya Axeloe meminta Vena untuk mengangkat dagunya keatas dan mengucapkan ucapan terima kasih dengan memberikan tatapan padanya bukan dengan cara yang dilakukan oleh Vena seperti saat ini yaitu memberikan ucapan terima kasih namun sambil menundukkan pandangannya.


" Heemmm memangnya kau berterima kasih dengan siapa dengan aku yang berada di hadapan kau saat ini atau berterima kasih dengan lantai ?" Tanya Axeloe kepada Vena hingga membuat Vena menjadi kaget dan langsung mendongakkan kepalanya ke arah depan memberikan tatapan langsung kepada Axeloe yang sedang menanyai suatu hal padanya.


" Aakkhh, maaf Tuan, saya mengucapkan terima kasih yang banyak kepada Tuan, karena, telah mengizinkan saya untuk kembali kepada Tuan Alberto dan Nyonya Zoya,," Ucap Vena sambil menaikkan wajahnya dan langsung memberikan tatapan terima kasihnya kepada Axeloe.


" Harusnya mengucapkan terima kasih kepada seseorang harus dilihat dan dipandang wajahnya, bukannya menundukkan kepala ke lantai,," Ucap Axeloe yang terdengar begitu jelas namun, begitu membuat Vena kaget karena, terlihat bahwa dari sudut wajahnya Axeloe yang terlihat sedikit kesal atas kelakuan Vena.


" Aduuuhhh sepertinya Tuan Axeloe marah, karena sikapku ini, bagaimana aku harus menjawabnya lagi,," Gumam Vena dalam hati yang merasa bersalah, ketika melihat reaksi wajah Axeloe sedikit berubah karena kelakuannya itu.


" Ma, maaf Tuan,," Jawab Vena kembali dengan suara yang terbata-bata.


" Sudah, tidak perlu minta maaf, kau boleh keluar,," Ucap Axeloe tegas dan jelas di telinga Vena.


" Baik Tuan terima kasih banyak,," Jawab Vena menganggukkan kepalanya.


" Permisi Tuan,," Sambung Vena lagi dengan diiringi langkah kakinya yang meninggalkan kamar Axeloe.


Disaat Vena melangkahkan kakinya terlihat sedang meninggalkan kamarnya itu. Dan Axeloe baru menyadari bahwa Vena benar-benar akan keluar dari kamarnya itu sehingga membuat Axeloe terpikirkan akan suatu hal terhadap Vena tentang kamarnya itu. Bahwa sebelumnya Axeloe sudah mengunci pintu kamarnya itu dengan kode khusus dari jarinya sendiri.


" Oh tidak, wanita itu sudah keluar,," Ucap Axeloe baru sadar bahwa Vena sudah melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya itu.


" Bagaimana dia mau keluar sedangkan pintu kamar telah dikunci olehku sebelumnya,," Gumam Axeloe lagi yang baru teringat bahwa sebelumnya ia telah mengunci pintu kamarnya dengan kode dari jari tangannya itu.


" Heemmm sepertinya aku berpura-pura lupa saja, jika kamar ini sudah dikunci olehku sebelumnya,," Ucap Axeloe sambil tersenyum tipis penuh kemenangan atas tindakan yang telah ia lakukan itu.


" Sehingga gadis polos itu akan kembali lagi kesini dan meminta bantuan ku agar aku bisa membukakan pintu untuk dirinya dan ia bisa keluar dari kamar ini,," Gumam Axeloe tersenyum senang ketika teringat akan kesulitan pada wajah Vena nanti ketika Vena baru menyadari bahwa pintu kamar itu telah terkunci oleh Axeloe.


Disaat Axeloe sedang tersenyum bahagia karena, memikirkan wajah bodoh dari Vena nantinya saat Vena akan menemui dirinya dalam meminta bantuannya untuk dibukakan pintu karena telah terkunci olehnya itu. Hal itu membuat Axeloe kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya itu dengan posisi yang begitu terlihat relaks sekali.


" Haaahh,," Suara helaan nafas Axeloe yang terdengar saat ia tengah membaringkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidurnya seperti semula.


" Lebih baik aku melanjutkan istirahatku,," Gumam Axeloe sambil memejamkan matanya kembali.


Dan disaat Axeloe ingin memejamkan matanya, tidak sadar bahwa tangannya sendiri menyentuh bagian luka yang ada di dada dan belum tertutup dengan pakaian pengaman bagian dada yang selalu ia pakai. Sehingga membuat Axeloe sedikit teringat dengan Vena karena, luka pada bagian dadanya itu telah diganti perban oleh Vena secara lembut dan juga benar.


" Aduuuhhh aku lupa memakai baju ini,," Gumam Axeloe ketika tangannya menyentuh bagian perban dan ia telah lupa memakai baju pengaman untuk tubuhnya itu.


" Perban ini sudah diganti oleh gadis itu dan dia sungguh telaten dalam melakukan tindakannya,, heemmm sepertinya aku harus membuka pintu kamar ini, supaya dia tidak sibuk untuk kembali ke belakang,," Gumam Axeloe yang teringat akan kebaikan serta ketulusan Vena dalam membantu dirinya untuk menggantikan perban pada luka di dadanya itu.


Tentu saja hal itu membuat Axeloe menyadari akan sikap Vena yang tulus membantunya dalam merawat luka di dadanya. Sehingga dengan segera Axeloe beranjak bangkit dari posisinya semula yang sedang terbaring di tempat tidur dan langsung mengejar langkah kaki Vena yang sudah cukup jauh keluar dari ruangan khusus tempat tidurnya itu.


****