
Lalu, dengan sengaja Alberto meletakkan punggung telapak tangannya ke arah puncak kepala Ziya menatap, merasakan suhu tubuh Ziya. Dan, ternyata membuat Alberto kaget, karena, suhu tubuh Ziya sangat panas.
Alberto spontan bingung segera menelepon temannya yaitu Daniel. Siapa lagi yang bisa membantunya menyembuhkan sakit Ziya saat ini.
Di tengah malam entah Daniel mau tidur apa belum, bagi Alberto adalah segera menyuruh Daniel untuk datang ke rumahnya karena, itu merupakan tugas seorang dokter yang harus segera menangani pasiennya di dalam keadaan apapun. Apalagi Daniel adalah seorang dokter muda yang merupakan dokter pribadi keluarganya serta teman terbaiknya juga.
Alberto segera menelepon Daniel pada waktu yang akan menjelang pertengahan pagi ini, membuat Daniel seolah-olah akan selalu siaga terhadap keluarga besar Alberto Alexandre ini.
Bunyi suara ponsel Daniel mengganggu tidurnya. Karena, seharian ini Daniel habiskan waktunya di dalam ruang kerja pribadinya apalagi kalau bukan laboratorium penelitiannya. Membuat dirinya begitu penat dan lelah.
Dalam keadaan tidur posisi terlungkup, Daniel membuka bantal yang menutupi kepalanya dan meraba-raba ke atas meja di samping tempat tidurnya meraih ponsel miliknya itu yang begitu menggangu tidurnya.
" Halo,," Ucap Daniel menerima teleponnya dengan suara serak ciri khas bangun tidur.
" Segera ke rumah sekarang,," Ucap Alberto dengan suaranya yang terdengar jelas dari ponsel Daniel.
" Uuummppp,, untuk apa,?" Tanya Daniel dengan nada yang sangat enggan sekali.
" Untuk apa,, Kau balik bertanya untuk apa,, aku bilang segera ke rumah sekarang,," Bilang Alberto dengan suara nada meninggi dan membuat Daniel membuka salah satu matanya.
Dan Daniel lihat yang sedang meneleponnya adalah Tuan Besar Alberto temannya sendiri.
" Memangnya ada apa,, menyuruhku jam segini ke rumahmu,,?" Tanya Daniel masih dengan suara beratnya.
" Kau seorang Dokter apa bukan, Hah! ?" Tanya Alberto kesal.
" Tentu,," Jawab Daniel membuka salah satu matanya lagi.
" Kalau kau dokter utamakan dulu keselamatan pasien,," Bilang Alberto yang mengingatkan Daniel agar segera bangun.
" Ya, aku tahu, siapa yang membutuhkanku,, apakah wanita cantik di sampingmu,, ?" Tanya Daniel yang menaikkan bibirnya mengingat wajah Ziya yang begitu penuh pesona.
" Dasar gila,, ya,, Ziya sakit,," Bilang Alberto kesal.
" Baik, aku akan kesana sekarang." Bilang Daniel yang bersemangat.
Daniel pun bangun dari tidurnya, menuju kamar mandi, melihat wajahnya di kaca wastafel, dan segera membasuh wajahnya. Setelah selesai mencuci muka dan segera menggosok giginya. Setelah selesai semua, Daniel berpikir tentang keadaan Ziya istri palsu Alberto saat ini yang sering sekali sakit. Semenjak dirinya datang ke rumah Alberto. Dia juga semakin penasaran atas diri Ziya tersebut.
" Kenapa dia sering sakit,, ?" Tanya Daniel menatap wajahnya di kaca.
" Bukankah dia wanita yang kuat dan tangguh, tapi, kenapa dia begitu lemah dan sering sakit-sakitan,, ?" Tanya Dokter ganteng ini yang masih menatap wajahnya di kaca wastafel.
Daniel teringat akan sesuatu yang pernah dia lalui di masa lalunya, sekitar beberapa tahun yang lalu.
Kenapa dia begitu penasaran dengan sosok Ziya,?
Kenapa dia begitu sangat mengagumi sosok Ziya,?
Di pikiran Daniel apakah Ziya gadis di malam itu,,?
" Apakah dia gadis kecil yang berusia tujuh belas tahun saat berulang tahun waktu itu.?" Ucap Daniel mengira-ngira.
" Aku belum terlalu menatap wajahnya dengan serius, kenapa dia begitu mirip dengan Zoya, apakah dia saudara kembar Zoya, atau dia adalah Zoya yang mengalami hilang ingatannya." Bilang Daniel yang ikut memikirkan hal runyam tentang Ziya dan Zoya.
" Kalau benar dia adalah Zoya maka berarti dia mengalami hilang ingatan." Bilang Daniel yang segera keluar dari kamar mandi.
Daniel pun mencari bajunya di dalam lemari dan segera memakaikannya. Setelah selesai memakai pakaiannya dengan rapi, Daniel kembali mengingat siapakah sosok Ziya itu sebenarnya.
" Aku akan mencari tahu siapakah dia sebenarnya," Bilang Daniel yang sangat ingin mencari tahu tentang Ziya.
Daniel pun segera keluar dari rumahnya dengan menenteng tasnya yang penuh dengan peralatan medis pastinya.
Dalam keadaan waktu yang masih melewati tengah malam dan masih pertengahan di waktu pagi, membuat Daniel memilih mobil sport nya yang akan dikendarainya menuju istana Alexandre.
Sementara itu, Alberto yang masih berdiri melangkah kesana kemari, bingung, khawatir akan keadaan Ziya. Menunggu tibanya sang dokter lelet Daniel. Membuat Alberto begitu kesal.
" Kenapa, dia lama sekali,," Ucap Alberto kesal yang masih melangkah kesana kemari, sambil sesekali menoleh ke arah Ziya.
Membuat Alberto segera menelepon Daniel lagi.
" Dimana kau,," Bentak Alberto kepada Daniel yang telah menerima teleponnya.
" Aku sudah sampai,," Jawab Daniel yang telah menaikki tangga rumah Alberto.
Karena, mendengar suara dari Daniel telah sampai di rumahnya, Alberto segera mematikan ponselnya.
Sesaat Alberto lagi-lagi mendengar suara Ziya yang mengigau. Sekali ini menyebutkan nama Zoya dan dirinya Alberto sendiri.
" Zo,, Zoya,, ce,, cepat kembali,, ak,, aku takut pada suamimu,," Ucap Ziya di tengah mengigaunya.
Alberto pun segera mendekati Ziya dan mendengar suara yang diucapkan Ziya dalam tengah tidurnya.
" Al,, Albert,, Alberto kau ja,, hat,," Bilang Ziya lagi yang membuat mata Alberto terbelalak.
Alberto yang tidak terima dikatakan dirinya jahat mengoceh, mengomel, atas ucapan igauan Ziya terhadap dirinya.
" Beraninya, kau mengatakan aku jahat,, kau yang telah berani masuk ke dalam kehidupanku,," Bilang Alberto yang menatap wajah Ziya.
Sesaat bulir air mata Ziya mengalir di sela matanya dan menetes ke bantal. Alberto merasa sedikit bersalah karena telah menyakiti perasaannya. Tapi, di dalam pikiran Alberto sikap kejamnya seperti itu terhadap Ziya harus ia lakukan supaya ia bisa mengetahui dari mulut Ziya sendiri apa maksud Ziya bersedia masuk dalam rencana Erwin.
Bukan karena takut akan tekanan Erwin ??
Sesaat Daniel mengetuk pintu kamar Alberto. Dan, Alberto menyuruhnya masuk.
" Masuk,," Ucap Alberto dan sosok Daniel pun tiba di balik pintu.
Daniel pun masuk dan matanya hanya menatap ke arah Ziya yang sedang terbaring di tempat tidurnya. Lalu, Daniel menoleh ke arah Alberto menanyakan apa yang terjadi pada Ziya.
" Ada apa,,?" Tanya Daniel yang membuat Alberto menatapnya tajam.
" Dia demam, coba kau periksa,," Bilang Alberto tanpa dosa dan bersalah.
" Baik,," Ucap Daniel segera duduk di sisi tempat tidur dan memeriksa keadaan Ziya.
Mata Alberto sangat menatap lekat pada tangan Daniel yang sedang memeriksa Ziya. Karena, Alberto tahu bahwa Daniel juga hebat dalam seorang perempuan, jadi dia tidak bisa membiarkan Daniel menyentuh tubuh Ziya seenaknya saja.
Namanya juga dokter ya, sepintar apapun Alberto menutupinya pasti akan tahu apabila sudah memeriksa keadaan sang pasien. Setelah selesai memeriksa keadaan Ziya, Daniel menatap bertanya kepada Alberto. Alberto sangat risih sekali atas tatapan pertanyaan Daniel saat ini.
" Apa kau menyakitinya,, ?" Tanya Daniel dengan tatapan penuh tanya pada Alberto.
" Ya, dia pantas menerimanya,," Jawab Alberto dengan tatapan sinis.
" Heh!! dasar iblis,, aku pastikan, setelah dia sadar, dia akan sangat membencimu,," Ucap Daniel yang membuat Alberto marah.
" Aku memintamu, hanya memeriksa keadaannya, bukan untuk,," Ucapan Alberto terputus saat Daniel meletakkan kertas di atas meja menandakan itu sebuah resep yang perlu diberikan kepada Ziya.
" Ini resepnya,, aku harap kau tidak menyakitinya lagi,," Bilang Daniel yang juga kesal terhadap Alberto.
Daniel pun segera keluar dari kamar Alberto, enggan mendengar ucapan kasar dari mulut Alberto saat ini.
Setelah Daniel keluar, Alberto melangkah mendekati Ziya dan segera memanggil pengawal yang menjaga di pintu luar kamar untuk mengambil resep yang telah diberikan Daniel saat itu.
Pengawal pribadi Alberto masuk dan mengambil secarik kertas yang diletakkan oleh Daniel di atas meja.
" Dapatkan semua, yang tertulis di resep,," Bilang Alberto kepada pengawalnya.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal Alberto, membungkukkan badannya lalu, segera keluar dari kamar itu.
Alberto pun kembali duduk di sebelah Ziya, menatap wajah Ziya yang telah tertidur pulas. Karena, sudah dua orang saat ini yang telah memberikan sebuah pertanyaan teka-teki begitu membingungkan untuk dijawab olehnya. Sambil menatap wajahnya Ziya, Alberto mulai merasa heran dengan tanggapan dari kedua temannya itu yang begitu kesal dengan perlakuannya hari ini terhadap Ziya.
****
Up lagi My Love Readers ❤️🌀