
Tentu saja Gladys tercengang ketika mendengarkan ucapan yang disampaikan oleh Roserish terhadap dirinya itu. Karena, awalnya Roserish memuji kehebatannya namun, setelah memberikan pujian itu, secara langsung juga Roserish langsung berbicara spontan yang membuat Gladys sendiri tercengang saat mendengarnya.
" Hahaha, aku pikir kau begitu pintar dan cerdik, Gladys,," Gumam Roserish menganggap kelakuan Gladys.
" Tapi, kau hanyalah seseorang yang bisa tertipu begitu saja oleh kepintarannya Alberto,," Ucap Roserish lagi kepada Gladys.
Betapa terkejutnya Gladys ketika mendengarkan ucapan yang dilontarkan oleh Roserish terhadap dirinya. Dan, Gladys yang tidak mengetahui apa maksud dari perkataan Roserish itu masih saja bertanya kembali karena, merasa penasaran dan juga bingung atas maksud dari ucapan Roserish terhadap dirinya.
" Maksudnya apa Roserish, aku sama sekali tidak mengerti ?" Tanya Gladys dengan wajah kebingungan.
" Apakah selama ini istrinya Alberto Zoya, kabur dari kediaman Alexandre ?" Tanya Roserish dengan suara yang begitu terdengar serius.
" Ya, kau benar,," Jawab Gladys sambil menganggukkan kepalanya.
" Wanita itu telah kabur sekitar beberapa bulan yang lalu dan sekarang,," Ucap Gladys menyambungkan perkataannya yang menjelaskan tentang kepergian Zoya selama ini.
Dan, ucapan Gladys terhenti sejenak ketika mendengarkan ucapan Roserish yang sengaja menghentikannya.
" Tunggu,," Suara Roserish yang terdengar menghentikan perkataan Gladys.
" Apakah selama ini istrinya Alberto Zoya juga telah kembali ke kediaman Alexandre ?" Tanya Roserish lagi kepada Gladys.
" Ya, kau benar, itu yang ingin kukatakan pada kau tadi,," Umpat Gladys dengan suara yang sedikit meninggi.
" Hahahaha, berarti benar perkiraanku selama ini bahwa kau memang telah dibodohi oleh istrinya Alberto saat ini yang sedang berada di kediaman Alexandre itu,," Ucap Roserish lagi yang secara tidak sengaja menaikkan emosi Gladys.
" Maksud kau apa, Roserish, aku sama sekali tidak mengerti ?" Tanya Gladys lagi dengan suara yang terdengar begitu geram sekali atas ucapan Roserish terhadap dirinya.
" Selama ini berarti kau tidak tahu bahwa istri asli Alberto Zoya sedang berada di luar negeri dan istri Alberto yang sedang berada di dalam kediaman Alexandre adalah seseorang yang wajahnya mirip dengan istri Alberto asli yaitu Zoya. Dia adalah seorang wanita palsu yang mengaku menjadi istri Alberto atau seseorang wanita yang telah berani mengganti posisi Zoya di dalam kediaman Alexandre." Ucap Roserish menjelaskan secara detail apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Gladys dalam suasana hati kebingungan.
" Apa ?" Seru Gladys dengan wajah yang terkejut.
" Maksudmu, istrinya Alberto saat ini bukanlah Zoya dan seorang wanita yang memiliki wajah sangat mirip dengan Zoya ?" Tanya Gladys dengan wajah yang terkejut dan ternganga.
" Ya, sekarang kau baru benar, Gladys,," Ucap Roserish memberikan sebuah apresiasi kepada Gladys.
" Jadi, siapa dia ?" Tanya Gladys lagi dengan wajah penasaran.
" Heh!! siapa yang telah mengantar wanita itu datang ke kediaman Alexandre, orang itu pasti akan mengetahui semuanya,," Jawab Roserish dengan jelas.
" Yang mengantar wanita itu ke kediaman ini adalah Erwin,," Gumam Gladys sambil mengingat kembali dimana saat itu Ziya datang ke kediaman Alexandre ini.
Setelah memikirkan kembali tentang ucapan Roserish yang menyatakan siapa wanita yang selama ini menjadi istrinya Alberto, membuat Gladys kembali memikirkan bagaimana datangnya Ziya dalam kediaman Alexandre itu dan siapa orang yang telah mengantarkan Ziya saat itu adalah Erwin, barulah Gladys menyadari atas sikap Ziya yang baru saja datang ke kediaman Alexandre itu sungguh berbeda dengan sikap Zoya selama ini.
" Ooohhh,, Oh My God aku baru sadar sekarang,," Seru Gladys sambil beranjak bangun dari tempat duduknya.
" Kenapa wanita itu memiliki sikap yang berbeda saat pertama kali datang ke dalam kediaman ini ternyata memang dia bukanlah wanita ja-lang itu,," Ucap Gladys lagi sambil menganggukkan kepalanya yang baru menyadari bahwa perbedaan sikap Ziya dan Zoya sungguh berbeda.
" Heh!! aku pikir kau memang wanita yang begitu pintar Gladys, tapi, nyatanya kau telah lama dikelabui oleh kelakuan wanita itu,," Ucap Roserish lagi sambil berdecih.
Di saat Gladys mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh Roserish mengenai dirinya itu, karena, begitu terdengar bahwa Roserish mengejeknya, tentu saja amarah Gladys meningkat dan secara langsung Gladys memaki Roserish yang sedang menghina kemampuannya itu.
" Hei,, kau pikir aku ini wanita bodoh apa hah!!" Seru Gladys dengan amarah yang memuncak.
" Kenapa kau marah padaku, Gladys, memang jelas kau wanita yang mudah dibodohi oleh seseorang, jadi, kau tidak bisa mengelak akan kemampuan yang kau miliki itu,," Ucap Roserish yang semakin menambah amarah Gladys memuncak.
" Dengar Roserish, jika aku seorang wanita yang bodoh seperti apa anggapan kau itu, tidak mungkin rahasia yang telah kusimpan bertahun-tahun tidak pernah terbongkar sampai saat ini," Ucap Gladys melawan ucapan Roserish yang tengah menghinanya itu.
" Hahahaha, kenapa kau sampai bicara seperti itu, kau tidak suka jika aku mengatakan bahwa kau memang benar seperti itu Gladys,," Gumam Roserish dengan suara santainya menanggapi ucapan Gladys yang sedang emosi.
" Jelas aku tidak suka Roserish, jika sekali lagi kau mengecamku seperti itu, aku tidak akan tinggal diam, aku akan membongkar semua kejahatan yang selama ini kau lakukan,," Ucap Gladys dengan wajah yang memerah.
" Hahaha, kau ingin menakutiku Gladys,," Ungkap Roserish masih dengan suara santainya.
" Aku sama sekali tidak menakutimu Roserish, tapi, aku memang mengatakan hal yang benar,," Gumam Gladys dengan wajah sinisnya menantang Roserish.
" Heh!! Gladys Gladys, jangan lupa bahwa di dalam rahasiaku itu namamu juga ikut terseret, aku tidak akan pernah bisa untuk tidak mengungkapkan siapa sebenarnya dirimu Gladys." Ucap Roserish masih dengan nada suara santainya.
" Oohh, kau ingin bermain denganku, Roserish ?" Tanya Gladys dengan wajah geramnya.
" Baik aku akan mengikuti semua permainanmu ini,," Ucap Gladys lagi dengan gaya santainya.
" Hahahaha, aku tidak ingin bermain denganmu Gladys, karena, percuma juga jika aku mengikuti permainan ini denganmu, hanya untuk membuang waktuku saja, lebih baik aku melakukan semua permainanku sendiri dibandingkan harus bekerja sama lagi denganmu,," Ucap Roserish santai sehingga membuat Gladys sangat geram sekali.
" Dasar kau Roserish, awas kau jika aku bisa mendapatkan semua bukti yang selama ini kau simpan, aku akan ungkapkan siapa kau sebenarnya,," Gumam Gladys dengan wajah geramnya.
" Hahahaha, jika kau mendapatkan semua bukti rahasia itu kau mau apa ?" Tanya Roserish lagi pada Gladys.
" Apa kau ingin mengancamku atau kau ingin membawaku menghadap Alberto, dan akan aku katakan bahwa kau juga ada di dalam rahasiaku itu,," Ucap Roserish lagi semakin membuat Gladys marah.
" Dasar kau Roserish !!" Umpat Gladys dengan wajah yang begitu memerah.
Wajar sekali jika Gladys marah pada ucapan Roserish yang sengaja menaikkan emosinya itu. Karena, kenapa pada hari yang sama yaitu hari ini juga Claire memarahinya dan tidak mempercayainya lagi hanya karena, ucapan Roserish yang sengaja memancing pikirannya untuk membantunya itu.
" Kurang ajar Roserish, hanya karena pancingan darinya aku dan Claire terpecah,," Ucap Gladys dalam hatinya merasa jengkel dengan ucapan Roserish yang sebenarnya setelah hubungannya dengan Claire terpecah.
" Padahal selama ini Claire begitu sayang padaku dan juga aku begitu menyayanginya, hanya karena tawaran Roserish hingga membuatku lupa jika aku adalah Auntynya, seharusnya aku tidak menerima penawaran kepalsuan dari Roserish saat di telepon tadi." Ucap Gladys dalam hatinya yang merasa bersalah atas sikapnya terhadap Claire.
Demi mendapatkan sebuah penawaran yang besar dari Roserish, Gladys terpaksa menerimanya hanya karena, demi mendapatkan perlindungan terhadap rahasianya itu. Tapi, nyatanya Gladys bukan mendapatkan sebuah hasil rencana yang bagus melainkan sebuah permainan yang dilakukan oleh Roserish untuk memecah-belah hubungan di antara Gladys dan Claire selama ini.
" Heemm, jadi kau harus ingat bahwa kau harus bisa menjaga sikap dan mulutmu itu selama kau berada di dalam kediaman Alexandre." Ucap Roserish dengan memberikan sebuah ancaman tekanan terhadap Gladys.
" Heh! aku tahu harus bagaimana, tidak perlu kau ancam,," Jawab Gladys dengan suara ketusnya.
Ketika mendengarkan jawaban Gladys yang terdengar ketus itu, hingga dengan spontan Roserish tertawa senang mendengar respon Gladys yang berkata ketus padanya itu.
" Hahaha, calm down Gladys, aku sangat menyukai sikapmu yang seperti ini,," Ucap Roserish dengan suara yang terdengar begitu lembut namun mematikan.
" Heh!! cukup Roserish aku tidak mau mendengarnya," Ucap Gladys dengan wajah yang memerah karena, merasa kesal dengan ucapan Roserish yang terdengar nakal padanya.
" Yeah, yeah, jika kau tidak mau mendengarnya, bagaimana kalau kita bertemu saja dan langsung melakukannya, aku sudah lama tidak bertemu denganmu Gladys,," Ucap Roserish yang terdengar semakin merendahkan martabat Gladys.
" You Crazy,," Ucap Gladys terakhir dan langsung memutuskan teleponnya terhadap Roserish.
Gladys merasa ucapan Roserish kali ini begitu gila hingga membuatnya memberanikan diri untuk memaki kesal kelakuan Roserish yang terdengar seolah menjatuhkan martabat dan harga dirinya itu.
Dengan wajah yang kesal Gladys meletakkan ponselnya di atas meja dan beranjak bangun dari tempat duduknya, sambil menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dada, Gladys mengumpat geram kelakuan Roserish terhadap dirinya dan juga Claire.
" Heh!! dasar pria gila kurang ajar, jika aku tidak tertarik akan penawarannya itu, tidak mungkin Claire saat ini meninggalkanku sendiri di dalam kediaman ini." Gumam Gladys sambil melangkah mondar-mandir di tempatnya itu.
" Walaupun aku seorang istri dari Vasco tapi, selama ini Vasco tidak pernah memperdulikan kehadiranku selama aku menjadi istrinya,," Ucap Gladys lagi saat mengingat bagaimana sikap Vasco terhadap dirinya merasa bahwa Vasco memiliki sifat yang sama seperti Alberto dan juga Axeloe, cuek kepada semua wanita kecuali wanita itu orang yang benar-benar ia cintai.
" Heemm, tapi untungnya aku memiliki seorang putri kandung dari Vasco jadi, aku tidak perlu takut tinggal di kediaman ini seorang diri, seperti saat ini semua orang telah tega meninggalkanku," Gumam Gladys lagi merasa lega ketika ia teringat bahwa dirinya juga memiliki posisi yang tinggi saat tinggal dalam kediaman Alexandre.
Karena, memang benar semua orang yang selama ini mengikuti jejak rencananya itu, dalam sekejap saja semua orang yang mendukung dirinya itu pergi meninggalkannya.
" Walaupun, Martin telah pergi meninggalkan aku sebagai Mommynya, yang paling penting saat Martin berada di luar dari kediaman Alexandre kehidupannya bisa aman dan membuatnya nyaman." Ucap Gladys yang kembali terpikirkan keberadaan Martin saat ini.
" Dan, walaupun Claire keponakanku tersayang itu, juga pergi meninggalkan aku, semoga saja dia bisa bahagia di luar sana,," Ucap Gladys lagi berharap semoga Claire bisa menemukan tempat yang paling aman.
" Tapi, kira-kira pergi kemana, Claire ?" Tanya Gladys dalam suasana yang sedang terpikir akan kesalahannya itu.
" Jika, nanti aku bisa bertemu dengannya lagi, aku akan meminta maaf padanya dan menjelaskan bahwa ucapan itu sebenarnya hanyalah trik dari Roserish untuk memisahkan hubungan erat antara aku dan juga keponakanku Claire." Gumam Gladys yang berniat untuk melakukan suatu hal jika bertemu dengan Claire nantinya.
Setelah selesai memikirkan suatu hal yang akan dilakukannya jika ia bertemu kembali dengan keponakannya Claire, maka Gladys begitu ingin sekali meminta maaf kepada keponakannya itu. Karena, memang kelakuannya itu begitu besar kesalahpahamannya itu pada Claire oleh sebab itu Gladys berpikir bahwa ia ingin sekali menemukan kembali keponakannya itu.
" Aku harus mencari keberadaannya, walau bagaimanapun Claire adalah keponakanku satu-satunya dan orang tuanya juga sudah meninggal," Gumam Gladys mengingat kembali tentang kehidupan keponakannya itu.
Walaupun Claire sedang marah dan juga kesal akan sikap dari kelakuan Auntynya itu, rasa kasih sayang dan hubungan ikatan keluarga di antara keduanya begitu dekat sekali.
Dan, juga Gladys memikirkan bahwa jikalau, semua rahasianya terbongkar tidak akan mungkin kedua putra dari Vasco Alexandre menghukum mati dirinya. Karena, pasti putrinya Alexa akan membela Mommynya jika akan dihukum nantinya. Oleh sebab itu, Gladys sedikit bisa bernafas lega karena, masih ada seseorang yang dapat melindunginya.
" Ketika rahasia itu terbongkar maka, tidak akan mungkin Alberto dan juga Axeloe berani memberikan hukuman padaku,," Gumam Gladys dengan wajah sumringah.
" Karena, masih ada putriku Alexa yang bisa melindungiku dari kedua Kakaknya dan juga Daddynya,," Ucap Gladys dengan wajah leganya.
Setelah merasa cukup atas semua pemikirannya itu, dengan senyuman merekah di wajahnya karena, sudah mendapatkan sebuah jawaban untuk mengelak semua tindakan rahasianya selama ini. Dengan segera, Gladys beranjak bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju ke arah kamarnya Claire yang sudah ditinggal oleh Claire sedari tadi.
Sedangkan, Alberto sendiri yang sedang sibuk di dalam ruangan penelitiannya itu masih menyelidiki suara yang ditimbulkan dari Gladys yang terlihat serius sekali dalam teleponnya itu.
" Oh,, sh.it kenapa tidak bisa mendengarkan suaranya ?" Tanya Alberto dengan wajah yang kesal melihat semua alat perekam suara di setiap sudut kediamannya itu tak bisa terdengar.
Alberto teringat bahwa setiap kode alat pengintai dan perekam suara yang dipasangkan dalam kediamannya ini hanya diketahui oleh Alberto sendiri dan juga Axeloe. Dan, Alberto merasa sedikit penasaran siapa yang telah berani bermain dengan alat yang telah dipasangkannya itu. Oleh sebab itu, dengan segera Alberto keluar dari ruangan penelitiannya itu dan beralih menuju ke ruangan khusus dimana Axeloe selalu berada di kediamannya itu.
" Sepertinya, aku harus segera bertanya kepada Axeloe, kemungkinan Axeloe yang sudah mengubah kode keamanan di kediamanku ini,," Ucap Alberto dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang penelitiannya Axeloe.
Sementara itu, di depan kamar pribadinya Alberto, Vena yang sedang menunggu majikannya untuk melakukan sesuatu segera melangkahkan kakinya mendekati Ziya yang baru saja keluar dari kamar pribadi Alberto.
" Nyonya, bagaimana keadaannya ?" Tanya Vena sambil memberikan hormat kepada Ziya.
" Sudah membaik Vena,," Jawab Ziya dengan raut wajah bahagianya.
" Oh ya Vena terima kasih karena, kau sudah menyiapkan minuman hangat untukku,," Ucap Ziya sambil melangkahkan kakinya menuju ruang kamar pribadinya sendiri.
" Sama-sama Nyonya, karena, itu memang tugasku," Jawab Vena sambil mengiringi langkah kaki Ziya.
" Nyonya, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan,," Gumam Vena sambil mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ziya.
Ketika mendengarkan ucapan Vena yang terdengar begitu serius. Hal itu membuat Ziya spontan langsung membalikkan tubuhnya menghadap Vena. Karena, Vena merupakan seorang asisten yang memiliki sifat jujur, oleh sebab itu pantas saja jika Ziya begitu penasaran dengan raut wajah yang terlihat begitu ingin mengetahui apa yang sedang dialami oleh Vena.
" Apa itu ?" Tanya Ziya dengan membalikkan tubuhnya menghadap arah Vena.
" Saya akan membicarakan hal ini di dalam ruangan pribadi Nyonya, karena, banyak hal yang akan saya sampaikan, Nyonya,," Ucap Vena menjawab pertanyaan dari Ziya sambil melirik kiri dan kanannya.
" Baik, ayo,," Jawab Ziya sambil mengangguk dan segera mengajak Vena untuk masuk ke dalam ruangan kamar pribadinya.
Tanpa pikir panjang lagi dengan segera Ziya mengajak Vena untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah memasuki kamarnya dan mengunci pintu kamar itu, barulah Vena bisa leluasa menceritakan apa yang sedang ia alami saat ia berada di dapur tadi. Sambil duduk di atas sofa kamar itu, dengan segera Ziya menagih perkataan Vena yang terlihat begitu penting itu. Dan, sebagai asisten Vena lebih mengerti apa yang harus dilakukannya jika sudah bersama Ziya majikannya sekaligus saudaranya sendiri itu.
" Apa yang ingin kau katakan Vena ?" Tanya Ziya langsung pada Vena.
" Begini, Nyonya, saat saya sedang menyiapkan minuman hangat untuk Nyonya, sekilas saya melihat seseorang wanita mengendap-endap masuk ke dalam sebuah ruangan khusus," Ucap Vena mulai membuka pembicaraannya itu kepada Ziya.
Terlihat dari wajah Ziya sedikit mengerutkan keningnya ketika mendengarkan perkataan Vena saat melihat ada seseorang wanita yang dicurigai mengendap-endap masuk ke dalam sebuah ruangan khusus pribadi kediaman Alexandre.
" Hah!! kau melihat ada seorang wanita yang dicurigai mengendap masuk ke dalam sebuah ruangan khusus ?" Tanya Ziya kepada Vena dengan wajah yang penasaran.
" Ya, benar Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.
" Kau berkata yakin bahwa dia seorang wanita, apakah kau mengikuti pergerakannya ?" Tanya Ziya lagi pada Vena.
" Heemm, betul sekali, Nyonya, karena, saya mencurigai pergerakannya, oleh sebab itu saya lebih memilih untuk mengikuti pergerakannya dalam melakukan rencananya itu,," Jawab Vena dengan sedetail mungkin.
" Kau tahu siapa dia dan kau tahu dia sedang melakukan apa di dalam ruangan khusus itu ?" Tanya Ziya lagi terlihat dari wajahnya juga ikut menyelidiki siapa wanita yang dimaksudkan oleh asistennya ini.
" Saya tidak mengetahuinya Nyonya dan apa yang sedang dilakukannya di dalam ruangan khusus itu, saya juga tidak tahu, Nyonya," Jawab Vena dengan jujur.
" Jadi, kau hanya bisa berhasil mengikuti pergerakannya saja, Vena ?" Tanya Ziya lagi masih dengan wajah penasarannya.
" Ya, Nyonya, yang pastinya saat saya mengikuti pergerakannya itu saya melihat bahwa dia sedang mengendap-endap masuk ke dalam ruangan khusus penelitian Tuan Axeloe dan saat di dalam ruangan itu, sambil menoleh ke kiri dan kanan memastikan tidak adanya orang yang sedang memperhatikannya itu, wanita itu langsung saja melakukan semua tindakannya,," Jawab Vena dengan menjelaskan semua apa yang telah dilihatnya itu.
Dan, terlihat dari wajahnya Ziya begitu penasaran dengan kelakuan wanita yang dilaporkan oleh Vena padanya itu. Ziya ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya wanita yang telah berani masuk begitu saja ke dalam ruangan penelitian Axeloe. Padahal semua orang di kediaman Alexandre ini tidak ada yang tahu kode rahasia ruangan pribadi Alberto dan juga Axeloe.
Tapi, kenapa wanita yang dicurigai oleh Vena itu bisa masuk begitu saja ke dalam ruangan Axeloe. Itu merupakan suatu hal yang membuat Ziya begitu penasaran, dengan wajah penasarannya Vena masih saja melanjutkan semua kejadian yang telah ia alami hari ini kepada Ziya.
" Saya tidak tahu apa yang sedang dia lakukan itu, yang pastinya saya melihat wanita itu sedang mengotak-atik alat sistem yang ada di ruangan penelitiannya milik Tuan Axeloe, Nyonya." Sambung Vena lagi atas semua perkataan tentang ceritanya itu.
" Karena, tempat persembunyian saya untuk mengawasi gerak-geriknya itu sedikit sempit oleh sebab itu tangan saya menyentuh sebuah benda, untungnya benda itu tidak bergerak sedikitpun hanya mengeluarkan suara yang tidak terlalu besar." Jelas Vena lagi yang memberitahukan posisi tempat persembunyiannya kepada Ziya.
" Oleh sebab itu saya mengambil kesempatan untuk keluar dari ruangan penelitian milik Tuan Axeloe, Nyonya dan berhasil menyembunyikan diri di balik pilar." Ucap Vena lagi menjelaskan kejadian yang baru saja ia alami.
" Untung saja saat saya keluar dari ruangan itu, wanita itu sama sekali tidak mencurigai gerak-gerik saya yang sedang bersembunyi di balik pilar dan saya lihat dengan jelas wanita itu pergi ke arah luar dan seterusnya saya tidak tahu dia pergi ke arah mana,," Jawab Vena terakhir setelah selesai menjelaskan semua penjelasan tentang kejadian yang telah ia alami pagi ini.
" Apa benar seperti itu, Vena ?" Tanya Ziya lagi dengan wajahnya terlihat seperti seorang yang sedang menyelidiki sesuatu.
" Ya, Nyonya," Jawab Vena mengangguk pasti dengan penglihatannya itu.
" Jika benar seperti itu, aku harus cepat memberitahukan hal ini kepada Alberto, karena, aku takut wanita yang kau curigai itu sengaja melakukan sebuah tindakan untuk menjatuhkan sistem operasi keamanan milik Alberto dan juga Axeloe,," Gumam Ziya mengambil keputusan yang tepat.
" Betul sekali, Nyonya, sebenarnya disaat saya memberikan minuman hangat kepada Tuan sebelum Nyonya bangun dari istirahat Nyonya, saya ingin sekali segera melaporkan hal ini kepada Tuan sekaligus Nyonya, namun, niat itu saya urungkan karena, saya melihat kecemasan dan kekhawatiran yang besar ada pada wajah Tuan Alberto saat melihat Nyonya yang sudah tersadar itu." Ucap Vena yang menjelaskan semua keadaan pada Ziya.
" Berarti Alberto sama sekali tidak mengetahui semua ini," Gumam Ziya terlihat cemas dengan keadaan Alberto yang sedang berada di ruang kerjanya itu.
" Vena, kita harus cepat laporkan hal ini pada Alberto, bahwa ada seseorang yang telah berani melakukan sesuatu di ruang penelitian milik Axeloe,," Ucap Ziya sambil mengajak Vena untuk segera keluar dari kamar pribadinya dan menemui Alberto.
Karena, merasa akan ada sesuatu hal yang terjadi dengan segera Ziya mengajak Vena untuk melaporkan suatu peristiwa yang baru saja Vena alami kepada Alberto langsung.
****