Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 25 - Suasana Kacau



Suasana makan saat ini sangat tidak mengenakkan bagi Ziya, baru dua kali bagi Ziya untuk mengikuti makan bersama, dua kali juga dia dipermalukan dan dipermainkan seperti saat ini.


Ingin rasanya Ziya lari dari ruang makan dan lebih baik dirinya bersama Demian di kamar, dibandingkan harus bersama dan berdebat dengan orang-orang yang tidak menyukai akan kehadirannya itu.


Membuat diri Ziya sendiri merasa tidak mau melakukan apa-apa saat ini termasuk makan.


Ziya yang hanya bisa menatap dingin wajah Krystal saat itu, tidak bisa berbicara apapun untuk membela dirinya. Karena memang benar, semua orang disini tahu bahwa Zoya suka sekali dengan uang dan laki-laki tampan.


Jadi, wajar kalau putrinya Alberto juga mengetahui bagaimana Zoya selama ini.


Lalu, Krystal mengulangi lagi omongan yang sangat kasar bagi Ziya saat ini.


" Daddy,, seharusnya Daddy ceraikan dia, dan segera menikah dengan Aunty Claire,," Bilang Krystal kasar, sambil menunjuk dengan tunjukkan kasar pada Ziya dan memilih menunjuk arah Claire saat ini.


Ucapan tersebut sangat membuat Claire bahagia, karena, putri pertama Alberto telah memilih dan membelanya saat ini. Claire tersenyum senang penuh dengan kemenangan sambil menatap tajam wajah Ziya.


" Sekarang posisiku menang, putri pertama Alberto lebih memilih aku dibandingkan kamu,,". Gumam Claire tersenyum puas.


Tentu saja ucapan tersebut sangat membuat Isabelle tidak menyetujui hal yang telah diucapkan oleh Krystal dengan membanting garpu makan secara kasar di meja makan.


" Dia atau dia sama saja,, tidak ada ibu yang baik untuk kita Krys,," Ucap Isabelle yang tidak memilih siapapun untuk menjadi Ibunya saat ini.


Karena, menurut Isabelle Aunty Claire baginya, tidak ada rasa kasih sayang sedikitpun untuk dirinya, sedangkan Zoya juga sangat tidak memperdulikan dirinya.


Tapi, dua gadis remaja ini sama sekali belum mengetahui bagaimana sikap dan sifat Ziya yang sebenarnya.


Oleh sebab itu, tidak ada yang dipilih oleh Isabelle untuk menjadi ibu yang tepat baginya.


Karena, suasana makan menjadi semakin kacau, Alexa adik perempuan Alberto merasa kesal dengan suasana makan pagi ini.


" Cukup!! kalian merusak makan pagi ini, dengan hal yang tidak penting, dan seharusnya tidak dibicarakan di meja makan," Ucap Alexa yang sangat kesal sekali atas omongan dari Krystal dan Isabelle saat itu.


Alexa Alexandre merupakan putri bungsu dari Vasco Alexandre dan adik bungsu perempuan dari Alberto sendiri yang berlainan ibu darinya.


Saat ini kebetulan mereka semua berani untuk membicarakan hal apapun karena, adik kedua Alberto yaitu Axeloe sedang tidak berada di kediaman besar ini.


Axeloe sendiri sedang melakukan perjalanan bisnisnya ke luar negeri. Axeloe merupakan satu-satunya adik kandung laki-laki Alberto. Yang lahir dari satu rahim dan pastinya Ibu yang sama yaitu istri pertama dari Vasco Alexandre yang telah meninggal dunia semenjak Alberto dan Axeloe masih kecil.


Sebenarnya apabila saat ini hadir Axeloe di ruang makan tersebut, pastinya semua orang akan lebih memilih untuk diam dan menghabiskan makanannya tanpa membuat masalah sedikitpun.


Karena, Axeloe tidak mau mendengarkan seseorang berbicara hal yang tidak-tidak saat suasana sedang makan. Apabila itu terjadi pastinya Axeloe tidak akan segan-segan untuk membuat suasana menjadi semakin kacau.


Karena, hal yang paling tidak disukai dan sangat dibenci Axeloe di rumah ini semenjak kehadiran Gladys istri kedua Daddynya itu.


Alberto melihat bahwa Ziya saat ini hanya bisa terdiam tanpa melawan sedikitpun. Alberto langsung menyuruh Vena untuk membawa Ziya kembali ke kamarnya.


" Vena, bawa istri saya ke atas ke ruanganku dan siapkan sarapan pagi yang enak dan layak untuknya,," Perintah Alberto kepada Vena.


" Baik Tuan,," Ucap Vena mengangguk.


Gladys dan Claire sangat tidak menyangka bahwa Alberto sekarang sudah sangat banyak sekali perubahannya yaitu sangat memperdulikan dan memperhatikan Ziya saat ini.


Gladys dan Claire merasa tidak percaya atas apa yang mereka dengar. Karena, selama ini biasanya Alberto tidak memperdulikan adanya Zoya di rumah ini. Bahkan Zoya tidak diperbolehkan oleh Alberto untuk makan bersama keluarga Alexandre dan juga sudah dianggap tidak ada bagi Alberto sendiri.


Kenapa sekarang berbeda sekali ? Pikiran itu yang selalu terngiang di pikiran Gladys dan Claire pastinya.


" Ayo Nyonya,," Ajak Vena pada Ziya.


Ziya pun menuruti Vena yang mengajaknya ke suatu tempat dimana yang telah ditunjukkan oleh Alberto padanya.


Ziya melangkahkan kakinya menuju ke tangga dan naik ke lantai dua lagi. Ziya menghela nafasnya karena ia bisa berlalu dari suasana sarapan pagi yang sangat kacau dan membuatnya sesak itu.


" Silahkan masuk, Nyonya,," Bilang Vena yang menawarkan Ziya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ziya belum melangkahkan kakinya ke dalam karena, ia belum tahu itu ruangan apa ? Dan tidak mungkin ia bertanya ini ruangan apa ?


Ziya mulai melakukan sandiwaranya lagi menanyakan untuk apa dia dibawa kesini.


" Tunggu kenapa kita kesini, ?" Tanya Ziya penuh maksud.


" Heeemmm,, Nyonya Tuan memerintahkan anda untuk bersantai di ruangan ini terlebih dahulu sebelum Tuan datang,," Ucap Vena yang mengerti seakan tahu maksud Alberto.


" Oohhh baiklah,," Jawab Ziya pura-pura tahu dan mengerti.


Lalu Ziya melangkahkan kakinya ke dalam. Ziya takjub melihat ruangan tersebut sudah seperti perpustakaan yang sangat indah sekali. Banyak sekali rak-rak yang telah berjejer rapi dengan tumpukan buku-buku yang mengisi rak-rak tersebut.


Ziya merasa bahwa Alberto sangatlah menyukai buku-buku oleh sebab itu membuat dirinya sangatlah cerdas bahkan sangat mahir dalam hal bisnis apapun.


" Ternyata ini ruang kerja, Alberto,," Gumam Ziya dalam hati.


Karena, memang benar Ziya sama sekali belum pernah memasuki ruangan ini.


Lalu, Ziya bingung kenapa dia dibawa ke ruangan ini. Dan kembali bertanya kepada Vena, kenapa dia dibawa ke ruangan ini, padahal ini ruang kerja Alberto.


" Silahkan duduk, Nyonya,," Tawar Vena pada Ziya yang masih berdiri itu.


" Tunggu Vena, kenapa aku harus disini ?" Tanya Ziya yang memang bingung.


" Nyonya,, ini ruang kerja tuan Alberto, sepertinya Tuan akan menemani Nyonya sarapan disini,," Jawab Vena yang membuat Ziya lebih tenang.


" Oohh,," Ucap Ziya singkat.


Karena, Ziya tahu Alberto orangnya begitu private, sehingga tidak ada satu orangpun yang boleh ke luar masuk ke ruangan pribadinya tanpa seizin dari sang pemilik ruangan.


" Permisi,, sebentar Nyonya, saya keluar dulu untuk memanggil pelayan." Bilang Vena yang meminta izin untuk keluar dari ruangan dan memanggil pelayan dapur.


" Iya,," Jawab Ziya singkat.


Vena pun langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan dan memanggil pelayan dapur untuk menyiapkan sarapan pagi yang layak buat Ziya.


Karena, di dalam ruangan itu sendiri Ziya langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah melihat semua barang-barang yang ada di dalam ruangan ini.


Ziya akhirnya berdiri untuk melihat koleksi buku yang telah dikumpulkan oleh Alberto saat itu di dalam ruangannya untuk menghapus rasa bosan dalam dirinya.


Ziya melihat banyak buku-buku bahasa asing yang ada di rak buku ruang kerja Alberto.


" Tidak heran dia sangat cerdas membangun bisnisnya. Buku-buku ini sangat sulit untuk didapatkan. Apalagi beberapa buku ini berbahasa asing. Apa Alberto juga menguasai banyak bahasa asing ?" Gumam Ziya dalam hati yang melihat koleksi buku Alberto dalam bahasa asing.


Bunyi pintu terbuka dan masuklah seorang pria tampan ke dalam ruangan tersebut. Membuat Ziya kaget, atas kehadiran Alberto saat ini di ruangan itu.


Sebenarnya Alberto sedikit takjub melihat wajah Ziya yang berbalik tubuhnya menghadap dirinya. Karena, memang benar Ziya sangat cantik saat itu, walaupun kepalanya masih dililit perban. Tapi, tidak menutupi kecantikan dari wajahnya Ziya saat ini.


Karena, tidak ingin terlihat raut takjub dari wajahnya Alberto sengaja memasang pandangan wajah dingin kepada Ziya.


Ziya saat itu hanya bisa menelan salivanya karena merasa sedikit canggung apabila ditatap oleh Alberto seperti saat ini.


****


Author


🌹Vira Lydia🌹