Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 162 - Kesalahan Martin



Martin yang telah berhasil keluar dari kamarnya Ziya, dengan napas yang terengah-engah dan dengan segera Martin pergi menuju ke ruangan khusus miliknya yang sudah di fasilitasi oleh kediaman Alexandre.


" Untung saja aku selamat,," Ucap Martin sambil mengatur napasnya.


" Aku harus segera pergi dari tempat ini, kalau tidak aku akan kehilangan nyawa,," Ucap Martin lagi dengan segera berlari ke arah ruangan miliknya.


Dan, saat Martin yang berlari secepat mungkin menuju kamarnya, membuat Claire yang tidak sengaja melihat Martin dengan segera memberitahukan hal ini kepada Auntynya.


" Martin,," Ucap Claire yang melihat Martin.


" Kenapa dia berlari seperti itu, apakah ada sesuatu yang telah terjadi,," Gumam Claire lagi terdengar seperti sedang mencurigai kelakuan Martin.


" Sepertinya benar ada sesuatu yang telah terjadi,," Ucap Claire yang berpikir akan suatu hal terhadap Martin.


" Aku harus segera memberitahu Aunty, atas kelakuan Martin yang begitu mencurigakan ini,," Ucap Claire dengan segera beralih ke kamar Gladys.


Namun, Claire teringat bahwa tujuannya saat ini adalah ke kamar Krystal untuk menghasut gadis itu.


" Tapi, aku ingin segera menuntaskan rencanaku untuk menghasut Krystal supaya dia juga membenci wanita itu selamanya." Ucap Claire yang sedang ingin melakukan rencananya itu.


" Tapi, itu nanti bisa aku lakukan, yang terpenting saat ini adalah memberitahu Aunty Gladys tentang Martin yang begitu mencurigakan itu." Bilang Claire yang segera melangkah menuju ke tempat Gladys.


" Apa mungkin dia sudah melakukan kesalahan,," Ucap Claire lagi saat di perjalanan menuju kamar Gladys.


Dengan segera Claire melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Gladys. Sebenarnya, hari ini Claire ingin ke kamar Krystal untuk menghasut Krystal supaya selamanya tidak menyukai Ziya dan bahkan lebih bagus lagi jika kedua putri Alberto sangat membenci Ziya. Karena, saat ini sudah terdengar oleh dirinya sendiri atas ucapan-ucapan pelayan yang menyatakan jika Ziya saat ini begitu ramah, baik, tidak angkuh dan juga sifatnya tidak lagi seperti yang dulu.


Gladys saat ini yang sedang berada di kamarnya, terdengar sangat serius membicarakan suatu hal akan rahasianya yang ia tutupi selama ini dengan seseorang yang ada di dalam panggilan ponselnya.


" Ya, aku tahu, kenapa aku bisa menyimpan rahasia ini sampai saat ini, karena, aku selalu memiliki taktik dan cara untuk menutupi semua kejadian itu." Ucap Gladys yang sedang bertelepon ria dengan seseorang.


" Bagus kalau begitu, oleh sebab itu, kau harus bisa menutup semua rahasia kejadian itu, karena, hanya kau orang yang paling terdekat dengan keluarga Alexandre dan kau juga yang bisa diandalkan untuk mengawasi keluarga Alexandre,," Ucap seorang laki-laki di dalam telepon.


" Heeemm,, aku tahu itu, jika aku bodoh tidak mungkin hingga saat ini, aku bisa menutupi semua kejadian yang pernah terjadi waktu dulu." Ucap Gladys yang begitu yakin akan dirinya begitu pintar itu.


" Aku percaya kau sungguh pintar Gladys, tapi, asal kau tahu jika Zalina ditemukan dan ia keluar dari persembunyiannya maka kita semua akan mati di tangan putra Alexandre,," Ucap laki-laki itu yang terdengar seperti mengenali Zalina orang tua dari si kembar Ziya dan Zoya.


" Aku tahu akan hal ini, tapi, menurut pendapatku, Zalina bukan bersembunyi melainkan sudah tewas saat aku mendorong tubuhnya di jurang,," Ucap Gladys yang begitu banyak berbuat kejahatan.


" Heh!! itu tidak mungkin Gladys, aku tahu saat ini Zalina pasti masih hidup, karena, apakah kau tahu, aku pernah bertemu dengan seorang gadis yang wajahnya terlihat sedikit mirip dengannya." Ucap laki-laki itu pada Gladys.


" Maksudmu ?" Tanya Gladys yang begitu penasaran.


Gladys merasa tak percaya ketika mendengarkan ucapan yang disampaikan oleh laki-laki itu mengenai wajah yang sangat mirip dengan Zalina. Gladys sungguh jelas mengingat akan kejadian yang ia lakukan waktu itu, karena, ia sendiri yang sudah sengaja mendorong dan menjatuhkan Zalina ke dalam jurang. Kenapa, temannya ini mengatakan bahwa ia baru saja bertemu dengan seorang gadis yang wajahnya begitu mirip Zalina. Gladys penasaran dengan seorang gadis yang telah disebutkan oleh temannya itu.


" Apa mungkin sampai saat ini, Zalina masih hidup ?" Tanya Gladys dalam hatinya yang begitu penasaran dengan ucapan dari sahabatnya itu.


Tiba-tiba Gladys dikagetkan dengan suara Claire yang tergesa-gesa memanggil dirinya. Dengan segera Gladys memutuskan sambungan teleponnya pada temannya itu.


" Aunty,, Aunty,," Suara Claire yang terdengar dari luar sedang memanggil Gladys.


" Aku akan menghubungimu kembali, karena, aku sedang kedatangan seseorang,," Ucap Gladys yang segera memutuskan teleponnya.


Setelah selesai memutuskan teleponnya, seperti biasa Gladys terlihat sedang duduk santai menghadapi kaca meja riasnya dan sedang mendandani wajahnya. Sesampainya Claire di dalam kamarnya Gladys, tanpa mengetuk ataupun mengucapkan salam terhadap Auntynya ini, Claire langsung saja masuk dan segera duduk di atas tempat tidur Gladys.


" Uuuhhh,," Ucap Claire yang baru saja duduk di atas tempat tidur sambil mengatur napasnya.


" Ada apa Claire ?" Tanya Gladys dengan gaya santainya sambil meletakkan bedak di wajahnya.


" Sebentar Aunty, aku mau mengatur napas,," Ucap Claire yang menjawab pertanyaan Gladys.


" Heemm,, kau selalu saja seperti ini, selalu tergesa-gesa,," Bilang Gladys sedikit tertawa kecil melihat wajah Claire yang sedang mengatur napasnya.


Setelah selesai mengatur napasnya yang memburu dan napasnya telah kembali normal, barulah Claire menceritakan suatu hal yang telah dilihatnya itu.


" Ada masalah penting,," Ucap Claire langsung kepada Gladys.


" Apa itu Claire ?" Tanya Gladys dengan wajah santainya.


" Aunty tahu baru saja aku melihat Martin berlari sangat cepat dari taman depan menuju ke kamarnya." Ucap Claire yang menjelaskan penglihatannya tadi.


" Eemmm maksudmu ?" Tanya Gladys yang masih bingung akan perkataan Claire saat ini.


" Aunty baru saja, Claire melihat Martin berlari cepat menuju kamarnya dari taman depan kamar wanita ja-lang itu." Ucap Claire yang menjelaskannya secara detail.


" Hah maksudmu, kau melihat Martin keluar dari kamar wanita itu ?" Tanya Gladys yang langsung menerka perbuatan anaknya itu.


" Aku tidak melihat Martin keluar dari kamar wanita itu, Aunty. Aku hanya melihat Martin berlari begitu cepat menuju kamarnya sendiri dari taman depan kamar wanita itu." Bilang Claire lagi yang begitu jelas menjelaskan penglihatannya itu.


" Oh Aunty mengerti, maksudmu kau mencurigai tindakan Martin putra Aunty ?" Tanya Gladys langsung pada Claire.


" Bukan mencurigai, Aunty. Claire hanya ingin memberitahu Aunty apa saja yang sedang dilakukan Martin di belakang Aunty." Ucap Claire yang membela dirinya seakan kena tuduhan oleh Gladys.


" Saat ini lebih baik, kita langsung ke kamar Martin, apa yang telah ia lakukan dengan berlari secepat itu,," Ucap Claire yang membuat Gladys sedikit memikirkan sesuatu.


Saat Claire sedang menjelaskan satu persatu apa saja suatu hal yang telah ia lihat itu kepada Gladys. Membuat Gladys terdiam sejenak sambil memikirkan ucapan yang disampaikan oleh Claire. Jangan-jangan sikap Martin seperti itu yang terlihat oleh Claire memang benar telah melakukan suatu kesalahan, yang akan membuat nyawanya melayang.


" Apa benar yang diucapkan Claire bahwa Martin telah melakukan kesalahan," Gumam Gladys saat itu yang berpikir tentang ucapan Claire dalam hatinya.


Namun, saat Gladys sedang memikirkan suatu hal tentang Martin, Gladys seketika kaget mendengarkan suara Claire yang mengajaknya untuk segera memeriksa langsung perbuatan Martin.


" Aunty, lebih baik kita langsung menanyakan Martin akan hal ini." Ucap Claire telah membuyarkan lamunan Gladys yang sedang berpikir itu.


" Aaahh iya ayo,," Jawab Gladys langsung menyetujui ajakan Claire.


Saat Gladys dan Claire pergi menuju kamar Martin. Saat ini, Martin juga sedang tergesa-gesa menyusun barang-barang yang diperlukannya saat ia sedang berada di luar kawasan Alexandre. Martin lebih berpikir rasional saat dirinya memang jelas sudah ketahuan seperti ini, lebih baik kabur dibandingkan harus bertahan, kalimat itu sekarang yang ada di dalam pikiran Martin.


Hanya satu kata yaitu Kabur.


" Untuk apa aku tinggal disini, lebih baik aku pergi daripada aku harus merelakan nyawaku atas kesalahan yang dilakukan oleh Mommy,," Ucap Martin sambil mengepak barang-barangnya.


" Dasar bodoh kau Martin, kenapa, sampai menceritakan semuanya pada orang yang mirip dengan Zoya." Gerutu Martin yang merasa kesal akan kelakuan yang telah ia perbuat.


Martin telah selesai mengepakkan barang-barangnya dan bersiap-siap untuk segera pergi dari tempatnya ini. Saat Martin ingin keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar. Saat itu juga Gladys dan Claire sudah sampai tepat di depan kamarnya. Gladys merasa sedikit curiga dengan kelakuan Martin yang membawa tas cukup besar itu dan segera keluar dari kamarnya saat ini.


" Mommy,," Ucap Martin yang terkejut saat melihat Gladys dan Claire sudah ada di depan matanya.


" Mau kemana kamu ?" Tanya Gladys langsung pada Martin.


Saat ini Martin merasakan bahwa Mommynya terlihat seperti sedang mencurigai perbuatannya itu, sehingga membuat Martin mengulangi lagi keahliannya dalam bersandiwara untuk membohongi Mommynya ini.


" Tidak kemana-mana Mom, Martin hanya ingin pergi wisata bersama teman,," Ucap Martin yang sengaja membohongi Mommynya.


Walaupun Martin terlihat begitu serius untuk meyakinkan Mommynya ini, namun, Gladys tidak semudah itu untuk mempercayai ucapan Martin saat ini. Karena, begitu terlihat dari matanya yang sengaja menyelidiki apa saja barang di dalam tas Martin saat ini.


" Benarkah, kau tidak berbohong padaku ?" Tanya Gladys pada Martin sambil menyelediki barang yang dibawa Martin saat ini.


" Ya ampun, Mom, masa Martin harus berbohong sama Mommy, jika Martin ingin pergi berwisata sama teman." Ucap Martin yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Lalu, Claire juga merasa penasaran dengan apa saja yang sedang dibawa Martin saat ini. Dan, Claire dengan segera merebut barang yang dibawa oleh Martin, namun Martin segera menghempaskan tangan Claire yang sudah berani merebut barangnya.


" Aku tidak percaya, karena, begitu jelas mataku melihat, kalau kau tadi sedang tergesa-gesa berlari tepat dari depan kamar wanita ja-lang itu." Ucap Claire yang memang benar melihat gerak-gerik Martin berlari tergesa-gesa saat keluar dari depan kamarnya Ziya.


" Kenapa kau selalu mencurigai aku, haah!!" Ucap Martin yang terlihat sedikit emosi atas perkataan Claire yang begitu menyudutkan dirinya.


Claire yang merasa bahwa baru kali ini, Martin terlihat sedang memarahinya. Dan, Claire terlihat takut saat melihat wajah Martin yang sedang memarahinya itu.


" Aku sama sekali tidak mencurigai perbuatan yang kau lakukan Martin, cuma tadi aku lihat kalau kau berlari dengan tergesa-gesa dari taman tepat di bawah balkon kamar wanita ja-lang itu,," Ucap Claire dengan ekspresi wajah terlihat takut ketika mendengarkan ucapan Martin yang terlihat emosi padanya.


" Tapi, dengan ucapanmu, ini kau terlihat sengaja mencari kesalahanku,," Bilang Martin yang mengalihkan pembicaraannya agar ia langsung mendapatkan izin dari Mommynya untuk pergi dari tempat ini.


" Aku sama sekali tidak mencari kesalahanmu, Martin,," Teriak Claire yang terdengar melawan ucapan Martin.


Karena, melihat dua orang yang sedang berada di hadapannya ini seakan bertengkar Gladys yang melihat dan mendengarkannya itu, segera melerai perbuatan yang dilakukan oleh dua orang yang begitu ia sayangi ini.


" Sudah, sudah, jangan bertengkar,," Ucap Gladys yang menengahi perdebatan di antara Martin dan Claire.


" Aunty, aku sama sekali tidak mencari kesalahan Martin, cuma aku hanya takut jika Martin melakukan kesalahan." Ucap Claire yang segera berlari di belakang punggung Gladys.


Claire bersikap seperti itu, memang Claire sengaja dari kecil selalu manja dengan Aunty Gladys ini, karena, dari kecil Claire sudah mengikuti Gladys dan orang tuanya sudah lama meninggal dunia.


" Tidak perlu kau ikut campur dalam urusanku,," Ucap Martin yang sangat marah pada Claire.


Saat melihat Martin dalam kondisi marah seperti itu membuat Gladys merasa bahwa Martin saat ini tidak seperti dulu lagi, yang sangat menurut dengannya dan sedari kecil tidak pernah marah dengan siapapun. Tapi, mengapa kali ini Martin terlihat begitu marah dengan kelakuan Claire yang tidak sengaja melihat perbuatannya. Gladys berpikir apakah benar seperti yang dikatakan Claire bahwa Martin telah melakukan kesalahan.


" Martin, selama ini kau tidak pernah menjadi orang yang mudah marah seperti ini, tapi kenapa saat ini kau jelas menjadi pemarah dan memarahi Claire," Ucap Gladys yang menengahi perdebatan mulut antara Claire dan putranya itu.


" Dan juga sekarang terlihat jelas kalau kau memang telah melakukan kesalahan,," Ungkap Mommynya yang membuat Martin tercengang.


Saat mendengar ungkapan yang disampaikan oleh Gladys, Martin jelas terlihat sedang tercengang mendengarkan semua perkataan yang dilontarkan Mommynya ini.


" Apa ? Jadi Mommy juga menuduh Martin,," Bilang Martin yang merasa bahwa saat ini dirinya telah dituduh oleh Mommynya sendiri.


" Mommy tidak menuduh Martin, tapi, Mommy melihat dengan jelas perubahan dari sikapmu ini,," Ucap Gladys dengan suaranya sedikit menurun.


Saat ini Martin memiliki alasan untuk segera pergi dari tempat ini, karena, dalam suasana yang tepat akhirnya ia bisa kabur dari Mommynya tanpa harus mendengarkan kemarahan Mommynya jika ia telah melakukan kesalahan.


" Hihihi bagus saat ini Mommy telah menuduhku dan Mommy tidak akan mencegah kepergianku,," Gumam Martin dalam hati sambil tersenyum senang.


" Baik, jika Mommy benar merasa bahwa aku telah melakukan kesalahan aku pergi dari kehidupan Mommy, aku pamit,," Ucap Martin yang segera melangkahkan kakinya.


Betapa terkejutnya Gladys mendengarkan ucapan Martin yang merasa bahwa Mommynya sendiri saat ini sudah tidak mempercayainya lagi dan Gladys merasa bersalah atas tindakannya yang terdengar jelas memang menuduh Martin.


****