
Karena, dari kemaren Alberto selalu terpikir akan hal ucapan Daniel yang selalu menyebutkan bahwa Ziya adalah wanita baik.
Oleh sebab itu Alberto berpikir apakah benar Ziya adalah wanita yang baik..?
Dua hari lamanya waktu Ziya beristirahat karena, pengaruh obat penahan sakit pada lukanya. Akhirnya hari ini Ziya telah sadar dan tidak merasakan lagi efek obat pada dirinya.
Ziya saat ini telah sadar dan membuka matanya, kepalanya masih terasa sangat perih dan masih terasa pusing, walau lemah Ziya menguatkan dirinya untuk bangun.
Ziya melihat di sekelilingnya dan ia sangat terkejut karena ia saat ini berada di dalam kamar yang pernah ia datangi sebelumnya. Kamar suami Zoya yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun tanpa seizin dari pemilik kamar siapa lagi kalau bukan Alberto.
" Kenapa, aku berada disini,, bukannya kamar ini tidak boleh di masuk,, termasuk aku,,,," Gumam Ziya yang melihat sekeliling kamar.
Lalu lamunan Ziya buyar karena ia melihat ada seorang perawat yang sedang berada di sampingnya.
Perawat tersebut melangkah mendekati Ziya sambil tersenyum. Lalu ia bertanya kepada Nyonya nya ini bagaimana rasanya saat ini.
" Bagaimana keadaannya Nyonya,, ?" Tanya Vena pada Ziya yang mengeluarkan suara lembutnya.
" Baik Sus,," Ucap Ziya mengangguk.
Saat Ziya ingin bergerak dan ternyata tangannya masih terpasang sebuah infus yang sama sekali belum dilepas.
" Sus, bisakah infus ini dilepas,," Pinta Ziya menunjuk tangannya yang masih memakai infus.
" Baik Nyonya,," Ucap Vena yang mengangguk.
Lalu, Vena membuka infus yang masih melekat di tangan Ziya.
" Sudah selesai Nyonya,," Ucap Vena lembut.
" Terima kasih, Sus,," Ucap Ziya mengangguk.
Lalu Vena memperkenalkan dirinya, bahwa dirinya bukan lagi seorang perawat di rumah sakit melainkan pelayan pribadinya.
" Maaf Nyonya, saya sebenarnya pelayan anda Nyonya, dan saya adalah pelayan yang bertugas menjaga kesehatan pada diri anda Nyonya,," Ucap Vena yang menjelaskan dirinya.
Ziya terperanjat atas perkenalan Vena pada dirinya, ternyata seorang perawat seperti Vena mau menjadi seorang pelayan di tempat istana Alberto ini.
" Bukankah anda seorang perawat, Sus,," Tanya Ziya pada Vena.
Ziya sangat kagum atas kekuasaan yang dilakukan Alberto, sehingga membuat seorang perawat mau untuk jadi pelayan di rumahnya dan dia memiliki kemampuan serta pendidikan seorang perawat.
" Iya dulunya saya memang perawat, Nyonya,, tapi sekarang saya sudah jadi pelayan, Anda.." Ucap Vena lembut.
" Ooohhh,," Jawab Ziya mengangguk.
" Kenapa anda ingin bekerja sebagai seorang pelayan, sedangkan profesi anda adalah seorang suster,," Tanya Ziya penasaran.
" Gaji disini lima kali lipat dari gaji saya di rumah sakit Nyonya,, dan mengikuti Tuan Alberto adalah suatu kehormatan bagi saya, Nyonya.." Ucap Vena lembut dan tersenyum.
Saat mendengar ucapan Vena membuat Ziya terkejut, karena, tak menyangka bahwa Alberto memang sangat kaya raya bahkan bisa memberi upah gaji pada para pelayan melebihi gaji setiap karyawan di suatu tempat perusahaan.
Pantas saja banyak sekali yang bersedia menjadi pengikut Alberto.
" Pantas saja, banyak orang yang jadi pengikutnya,," Gumam Ziya dalam hati.
" Apakah mereka tidak takut akan kematian,," Gumam Ziya lagi.
Lalu Ziya kembali bertanya pada pelayan barunya ini, supaya bisa lebih mengenalnya dan akrab.
" Siapa Namamu,,?" Tanya Ziya.
" Saya Vena Nyonya,, dan mulai sekarang saya akan menjadi pelayan pribadi anda,,!!" Ucap Vena yang membuat Ziya membelalakkan matanya.
" Tapi saya tidak memerlukan pelayan.." Ucap Ziya sedikit menggelengkan kepalanya.
Vena hanya tersenyum mendengar ucapan Ziya saat ini. Tapi, Vena tetap menjelaskan bahwa dirinya telah dipilih oleh Tuan Alberto untuk menjadi pelayan pribadi Ziya.
" Tapi, Tuan Alberto sudah mengutus saya untuk menjadi pelayan pribadi anda Nyonya,," Ucap Vena yang tersenyum.
Walaupun Ziya tidak memerlukan pelayan, tapi semua ini adalah perintah dari Alberto jadi, ya mau tidak mau harus dijalankan.
Lalu dengan lembutnya Vena, membuka perban di kepala Ziya dan menjelaskan lagi bagaimana dia harus tetap menjadi pelayan Nyonya Ziya ini.
" Ini perintah Tuan Alberto Nyonya,, dan jika saya tidak mengikuti perintah Tuan Alberto maka saya akan dipecat Nyonya. Saya memiliki adik dan Ibu yang wajib saya jaga. Gaji disini membuat saya dan kehidupan keluarga saya menjadi lebih sejahtera dan bertahan untuk menyambung hidup Nyonya.." Jelas Vena yang membuat Ziya pasrah.
Karena, memang benar Vena juga berpikir terlebih dahulu untuk memasuki wilayah kekuasaan Alberto Alexandre. Apabila tidak bisa menjamin kesejahteraan keluarganya Vena tidak akan mau untuk bekerja di tempat mengerikan ini.
Karena, gaji yang diberikan begitu besar, sehingga Vena mau untuk mendapatkan kesempatan emas ini menjadi pengikut sang Tuan Besar Alberto.
" Tapi saya,," Ucapan Ziya terputus karena Vena kembali menjelaskan keadaannya pada Ziya.
" Anda membutuhkan saya Nyonya,, karena selama anda tertidur di kamar ini,, saya mendengar percakapan para pelayan bahwa keluarga Tuan besar Alberto sangat tidak menyukai Nyonya,, dan bahkan akan membunuh Nyonya,," Bilang Vena menjelaskan apa yang telah didengarnya selama ini.
" Hah!!" Ucap Ziya kaget tapi sudah mengetahuinya.
" Aku sudah mengetahui sifat mereka,," Ucap Ziya biasa saja yang sudah mengetahui sifat orang-orang yang ingin membunuhnya itu.
Ya,,,, siapa lagi kalau bukan Ibu tiri Alberto Gladys dan keponakannya itu Claire. Hanya dua orang itu yang terlihat sangat jelas tidak menyukai adanya Ziya di tempat ini.
Kalau keluarga yang lain, Ziya memakluminya memang dari sikapnya mereka semua tidak menyukai adanya Ziya di tempat ini. Tapi Ziya belum mengetahui sifat asli dari mereka semua.
Oleh sebab itu, Ziya merasakan hal biasa saja pada orang lainnya. Melainkan dua orang ini yang membuat Ziya sedikit waspada.
" Mendengar dari ucapan Vena,, sepertinya Gladys dan Claire sangat tidak menyukai Zoya,, Heeemm,, apa yang harus kulakukan,," Gumam Ziya dalam hati sambil melihat Vena yang sedang membantu merawat dirinya.
Lalu Ziya terpikirkan akan hal sesuatu yang lain dari sikap Alberto ini. Bukannya selama ini Alberto tidak menyukai Zoya. Dan bukannya Zoya selama ini tidak diberikan pelayan pribadi seperti ini oleh Alberto, ini merupakan sikap yang aneh dari Alberto padanya.
" Kenapa dia melakukan ini padaku,," Ucap Ziya bertanya dalam hati.
Ziya merasakan hal aneh pada kelakuan dan sikap Alberto padanya. Sangat berbeda jauh dari sikap Alberto pada Zoya kembarannya itu. Karena menurut Paman Erwin Alberto sangat tidak memperdulikan kehadiran Zoya di sampingnya itu.
Jadi selama ini Zoya yang tinggal di tempat itu, sama sekali tidak pernah merasakan kepedulian dari Alberto.
" Apakah,, mungkin karena sikap Alberto yang membuat Zoya kabur,," Gumam Ziya dalam hati.
Karena terlalu banyak berpikir akan hal sikap Alberto padanya membuat Ziya lupa bahwa dirinya sekarang telah memiliki seorang pelayan yang berada di sampingnya. Sehingga, Ziya yang awalnya tidak begitu menginginkan adanya pelayanan yang super mewah dari Alberto, namun kali ini sepertinya ia tidak bisa mengelak akan sebuah pemberian dari Alberto yaitu seorang pelayan yang akan menjadi temannya nanti.
****