
Padahal Ziya sungguh ingin sekali bisa mendekatkan dirinya kepada Krystal, karena, Krystal merupakan salah satu putri Alberto yang paling tertua dan akan menjadi pimpinan dari adik-adiknya. Jika, Krystal saja sudah melakukan kesalahan di usia mudanya ini bagaimana Krystal bisa menjalankan kehidupan yang benar saat dewasa nanti. Betapa menyedihkan nasib yang akan ditempuh Krystal jika tidak diberikan pengajaran yang benar terhadap gadis remaja ini.
" Apa ?" Tanya Ziya kepada Vena yang terlihat jelas kaget di wajahnya.
" Surat pemanggilan orang tua,," Gumam Ziya ketika menerima amplop dari Vena.
" Betul sekali, Nyonya, menurut penjaga sekolah itu, Nona Krystal telah melakukan tindakan kasar terhadap teman satu kelas dengannya, sehingga temannya itu melaporkan perbuatan Nona Krystal pada Kepala sekolahnya langsung. Dan, kepala sekolah juga sudah memberikan surat pemanggilan orang tua ini kepada Nona Krystal, namun, Nona Krystal sama sekali tidak membawanya pulang dan sengaja ditinggalkannya di kantor penjaga sekolahnya Nyonya,," Ucap Vena yang menjelaskan semua pembicaraan antara dia dan penjaga sekolah tadi.
" Benarkah yang dikatakan penjaga sekolahnya terhadap Krystal seperti itu ?" Tanya Ziya lagi pada Vena.
Karena, saat ini terlihat jelas bahwa Ziya seperti kurang mempercayai hasil keterangan yang disampaikan oleh penjaga sekolah kepada Vena.
" Benar Nyonya, penjaga sekolah sendiri yang berkata bahwa apabila Nona Krystal belum membawa orang tuanya ke sekolah untuk menyelesaikan masalah yang telah dilakukannya terhadap teman satu kelasnya itu, maka Nona Krystal sendiri akan segera dikeluarkan dari sekolah." Ucap Vena lagi yang memberikan keterangan jelas dari penjaga sekolah itu.
" Aku merasa tidak percaya dengan ucapan yang disampaikan oleh penjaga sekolah itu, akan aku temukan langsung kepala sekolahnya." Ungkap Ziya sendiri yang merasa kesal akan pernyataan yang disampaikan oleh penjaga sekolah kepada Vena.
Ziya sangat kesal sekali atas laporan yang disampaikan oleh penjaga sekolah terhadap Vena. Bahwa sungguh jelas sekali terlihat penjaga sekolah disini sengaja menjelek-jelekkan nama Krystal kepada Vena langsung. Sehingga, sebagai seorang wanita yang lebih tua dibandingkan Krystal atau bisa juga disebut dengan orang tua sambung dari Krystal, Ziya tidak bisa menerima ungkapan seperti itu dari pihak sekolah Krystal terhadap putrinya. Walaupun Krystal masih bersikap kasar dan juga belum mengakuinya sebagai seorang Ibu, tetapi, Ziya sendiri merasa bahwa sikap yang ditunjukkan oleh Krystal itu adalah sikap seorang anak perempuan yang tidak pernah diberikan pengajaran langsung dari orang tuanya. Oleh sebab itu, Ziya merasa miris dan kasihan terhadap Krystal.
Saat Ziya ingin beranjak keluar dari mobilnya, hal itu dicegah langsung oleh Vena, karena, Vena sudah diberitahukan oleh penjaga sekolah itu, bahwa kepala sekolah hari ini sedang pergi keluar untuk mengadakan rapat bersama antar kepala sekolah. Oleh sebab itu, Ziya tidak bisa menemukan kepala sekolah itu secara langsung.
" Maaf Nyonya, penjaga sekolah itu berkata bahwa kepala sekolahnya hari ini sedang keluar mengadakan rapat bersama antar kepala sekolah." Jelas Vena langsung pada Ziya.
" Benarkah ?" Tanya Ziya yang terlihat sedikit mengurungkan tindakannya itu.
" Ya, Nyonya,," Jawab Vena meyakinkan
Saat Ziya ingin segera beranjak keluar dari mobilnya ini, Vena segera mencegahnya karena, Vena sudah mengetahui kesibukan yang terjadi pada kepala sekolah di sekolah Krystal ini. Oleh sebab itu, Ziya mengundurkan niatnya untuk menemui kepala sekolah itu langsung. Seketika, Ziya teringat akan kepergian Krystal pagi ini yang memakai seragamnya itu, Ziya berpikir sejenak apakah Krystal pergi ke sekolahnya atau Krystal sendiri pergi ke suatu tempat yang belum bisa dikunjungi oleh wanita seusianya dia.
" Kalau Kepala sekolahnya memberikan surat pemanggilan ini kepada Krystal. Lalu, Krystal kemana ?" Tanya Ziya sendiri dalam hatinya yang merasa penasaran dengan keberadaan Krystal saat ini.
" Apakah dia benar-benar pergi ke sekolah atau ?" Pikir Ziya lagi tentang keberadaan Krystal.
" Vena, apakah kau bertanya dimana keberadaan Krystal saat ini apakah dia datang ke sekolahnya atau tidak, ?" Tanya Ziya lagi pada Vena.
" Kebetulan saya tidak menanyakannya Nyonya,," Jawab Vena langsung akan pekerjaannya tadi.
" Oohhh, Eemm, Vena maukah kau kembali ke sekolah untuk menanyakan keberadaan Krystal saat ini," Bilang Ziya yang meminta Vena untuk kembali lagi ke sekolah.
" Baik Nyonya, saya segera kesana,," Jawab Vena lagi sambil mengangguk dan bergerak keluar dari mobi.
Vena segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah gerbang sekolah itu lagi. Saat, Vena sedang berbicara dengan penjaga sekolah kembali, Ziya melihat amplop pemanggilan orang tua yang tertuju langsung pada dirinya.
" Apa yang telah dilakukan oleh Krystal di sekolah, sehingga kepala sekolahnya langsung yang memberikan hukuman berat kepadanya." Gumam Ziya sendiri sambil memikirkan suatu hal yang dilakukan oleh Krystal.
" Penjaga sekolah itu berkata bahwa Krystal sudah melakukan tindakan kasar pada teman satu kelasnya, tidak mungkin Krystal akan melakukan hal itu jika tidak ada awal permasalahan yang telah terjadi," Ucap Ziya yang berpikir tentang perbuatan Krystal terhadap temannya.
" Apa mungkin, karena, Krystal merasa tidak nyaman dengan kelakuan teman satu kelasnya itu, sehingga membuat Krystal jadi begitu marah dan melakukan tindakan itu, lebih baik aku segera usut masalah ini, karena, aku tahu bagaimana sifat Krystal selama aku berada di kediaman Alexandre," Bilang Ziya lagi sambil bergumam sendiri merencanakan sesuatu terhadap Krystal.
Saat Ziya sedang memikirkan suatu hal yang telah jelas bahwa Krystal bersalah. Tiba-tiba Vena kembali masuk ke dalam mobil dan segera melaporkan sebuah informasi yang sungguh membuat Ziya semakin tercengang.
" Bagaimana Vena ?" Tanya Ziya langsung pada Vena setelah Vena masuk ke dalam mobil dan duduk di tempatnya.
" Menurut perkataan penjaga sekolah bahwa selama satu minggu ini Nona Krystal dilarang oleh kepala sekolahnya langsung untuk datang ke sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasanya, sebelum membawa orang tuanya ke sekolah untuk menyelesaikan semua permasalahan yang telah terjadi, Nyonya,," Ucap Vena yang menyampaikan informasi itu kepada Ziya secara perlahan.
" Apa ?" Suara yang spontan keluar dari mulut Ziya ketika mendengarkan informasi langsung dari Vena.
Walaupun Vena menyampaikan informasi penting tentang keadaan Krystal secara perlahan. Namun, tetap saja membuat Ziya kaget dan langsung terlihat khawatir akan kejadian yang terjadi pada Krystal dalam beberapa hari ini. Jelas Ziya begitu kaget ketika mendengarkan informasi dari Vnea bahwa selama satu minggu ini Krystal selalu pergi menggunakan seragam sekolah, namun ketika ditanyakan pada bagian sekolahnya, Krystal sama sekali dilarang untuk datang ke sekolah. Jadi, sekarang Krystal kemana perginya ? Pikir Ziya saat ini yang dirundung kecemasan atas keberadaan Krystal.
" Apa yang kau katakan Vena, Krystal dilarang langsung dari kepala sekolahnya untuk datang ke sekolah jika belum membawa orang tuanya ke sekolah ?" Tanya Ziya dengan suara kagetnya pada Vena yang ingin diperjelas ulang dari asistennya itu.
" Betul Nyonya,," Jawab Vena membenarkan.
" Oh God, sepertinya masalah ini harus segera diselesaikan, jika terlambat maka Krystal akan segera dikeluarkan dari sekolahnya. Kasihan sekali dengannya,," Gumam Ziya dengan nada suara sedikit lembut.
" Baiklah aku akan menemui kepala sekolah itu juga, jika benar kepala sekolah itu menginginkan kedatangan langsung orang tua Krystal dan menyelesaikan masalah yang telah terjadi, maka sebagai orang tua dari Krystal, aku wajib untuk menyelesaikan masalah ini,," Ungkap Ziya yakin atas pendiriannya.
" Kau sudah bertanya kapan aku bisa langsung bertemu dengan kepala sekolah ?" Tanya Ziya lagi kepada Vena.
" Sudah Nyonya, kebetulan besok kepala sekolah itu sudah ada di sekolah ini." Jawab Vena pada Ziya menjelaskan tentang informasi jadwal pertemuannya dengan kepala sekolah di sekolah Krystal.
" Baguslah kalau begitu, besok pagi aku akan kembali ke sekolah ini dan bertemu langsung pada kepala sekolahnya,," Ucap Ziya yang sudah menetapkan jadwalnya besok.
Setelah mendapatkan jadwal pertemuannya dengan kepala sekolah di sekolahnya Krystal ini, tiba-tiba Ziya teringat ucapan Vena yang menyatakan bahwa selama satu minggu ini Krystal dilarang datang ke sekolah. Ziya berpikir saat ia pergi tadi dan berpapasan langsung dengan Krystal, bukannya Krystal sudah memakai seragam sekolahnya seperti biasa dan sudah diantar langsung ke sekolah. Namun di sekolahnya menyatakan bahwa Krystal dilarang datang, lalu, kemana perginya Krystal ? pikiran seperti inilah yang menjadi sebuah pertanyaan besar bagi Ziya saat ini.
" Lalu kemana perginya Krystal, jika dia tidak datang ke sekolahnya ?" Tanya Ziya dalam hatinya sambil berpikir tempat biasa yang sering Krystal kunjungi.
Ziya segera membicarakan tentang keberadaan Krystal bersama Vena, kemungkinan Vena mengetahui dimana tempat yang sering Krystal kunjungi selama ini.
" Oh ya Vena, jika Krystal tidak datang ke sekolahnya, kira-kira kau tahu kemana perginya Krystal saat ini ?" Tanya Ziya langsung pada Vena.
" Eeemmm, saya juga tidak tahu, Nyonya," Jawab Vena yang juga terlihat tidak mengetahui tempat keberadaan Krystal.
" Lalu, kemana perginya Krystal ?" Tanya Ziya sendiri sambil berpikir sejenak.
" Menurutmu apakah kita harus mencarinya ?" Tanya Ziya lagi pada Vena tentang usulannya ini.
" Eeemmm, menurut saya Nyonya jika, Nyonya berpikir saat ini mencari keberadaan Nona Krystal adalah jalan yang terbaik, segera kita lakukan Nyonya, tapi, jika hal itu membuat tubuh Nyonya menjadi lelah lebih baik kita pulang ke kediaman dan di kediaman kita menunggu Nona Krystal pulang." Ucap Vena yang memberikan saran dan pendapatnya untuk Ziya.
" Menurutku yang terbaik saat ini kita harus segera mencari Krystal, karena, jika menunggunya pulang ke rumah, itu pasti tidak akan mungkin mudah untuk menemuinya, seperti biasa Krystal pasti akan pulang terlambat dan terlihat bahwa ia memang benar-benar telah kembali dari sekolahnya." Gumam Ziya yang memutuskan pendapatnya sendiri.
" Baiklah Nyonya, jika itu keputusan mutlak yang ingin dilakukan Nyonya, kita akan segera mencari keberadaan Nona Krystal saat ini juga,," Jawab Vena yang meyakinkan Ziya.
" Heemmm, segera jalan,," Bilang Ziya kepada supirnya.
" Baik Nyonya,," Jawab sang supir sambil menjalankan mobilnya keluar area depan sekolah.
Dengan segera mobil yang digunakan oleh Ziya dan juga Vena meluncur ke jalanan besar dan memperlihatkan barisan gedung tinggi dan mewah, saat di perjalanan Ziya melihat sebuah tempat seperti tempat hiburan malam bagi orang-orang dewasa. Ziya ingin memasuki tempat itu, karena, Ziya teringat pada Krystal yang tidur di dalam kamar dalam keadaan mabuk.
" Apa mungkin Krystal datang kesini ?" Tanya Ziya dalam hatinya.
" Berhenti,," Ucap Ziya kepada supirnya.
Saat Ziya segera memerintahkan supirnya untuk menghentikan mobilnya tepat di depan tempat hiburan itu, dalam hatinya sendiri mengatakan bahwa sepertinya Krystal tidak akan kesini.
" Sepertinya, tidak mungkin Krystal datang ke tempat ini,," Ucap Ziya yang terdengar oleh Vena.
" Nyonya jika, Nyonya mau mencari tahu kemungkinan Nona Krystal ada disini. Saya akan segera menanyakannya,," Bilang Vena yang memberikan sebuah usulan kepada Ziya.
" Tidak, tidak Vena, tidak perlu, lebih baik kita teruskan pencarian, tidak mungkin Krystal datang kesini,," Ucap Ziya yang begitu yakin akan perasaan Krystal saat ini.
Di dalam benak Ziya berpikir apakah mungkin saat ini Krystal sedang kembali ke rumah Ibu kandungnya. Namun hal itu tidak akan mungkin, karena, selama ini Alberto melarang kedua putrinya itu kembali ke rumah Ibu kandungnya tanpa seizin darinya.
" Apakah mungkin, saat ini Krystal kembali ke rumah Ibunya," Gumam Ziya dalam hati sambil memikirkan tentang keberadaan Krystal.
" Akkhhh, itu tidak mungkin dilakukannya karena, kedua putri Alberto dilarang untuk pulang ke rumah Ibunya kecuali atas izin dari Alberto sendiri." Gumam Ziya lagi dalam pikirannya.
Saat ini Ziya sedang berpikir dimana keberadaan Krystal yang sengaja tidak ada di sekolahnya itu, saat mobil yang dinaiki Ziya ini melintas melewati sebuah tempat keramaian seperti sebuah taman, Ziya melihat ke arah samping kaca dan terlihat disana ada seorang gadis remaja yang sedang duduk melamun sendirian. Ziya begitu mengenal gadis remaja itu karena, anak gadis itu merupakan Krystal yang sedang dicarinya.
" Krystal !" Gumam Ziya saat melihat ke arah samping kaca mobil yang memperlihatkan keadaan sebuah taman.
Karena, Ziya merasa begitu yakin bahwa gadis yang dilihatnya itu adalah Krystal dengan segera Ziya memerintahkan supir pribadinya untuk menghentikan laju mobil di dekat taman.
" Berhenti,," Bilang Ziya yang membuat Vena heran dan menoleh ke arah kursi belakang.
" Ada apa Nyonya ?" Tanya Vena langsung pada Ziya.
" Aku melihat Krystal,," Jawab Ziya singkat.
Secara perlahan mobil itu segera dihentikan oleh supir pribadi Demian dan setelah benar-benar berhenti barulah Ziya keluar dari mobil yang diikuti oleh Vena. Ziya merasa benar akan penglihatannya itu, sehingga dengan langkah kaki yang begitu tergesa-gesa, sedangkan Vena sebagai asistennya Ziya saat ini sedang menggunakan pakaian seragam dengan bawahannya rok jadi cukup sulit bagi Vena untuk mengejar langkah kaki Ziya yang begitu cepat sekali. Dan akhirnya Ziya mencapai ke tempat tujuannya dimana saat ini Krystal sedang berada.
" Krystal !" Sapa Ziya sambil menyentuh pundak gadis remaja itu.
" Kau,," Gumam Krystal ketika melihat Ziya yang berada di belakang tempat duduknya.
Ziya tersenyum senang saat melihat gadis remaja yang sedang duduk itu adalah benar adanya Krystal. Namun, senyuman manis Ziya yang terukir perlahan memudar ketika melihat wajah Krystal memerah seperti orang yang sedang menangis.
" Ada apa, apa yang terjadi ?" Tanya Ziya langsung pada Krystal sambil duduk di kursi itu juga.
" Kenapa kau kesini dan bagaimana kau tahu kalau aku ada disini ?" Tanya Krystal balik pada Ziya yang terlihat sangat kesal akan tindakan Ziya mencari keberadaannya itu.
" Sebagai seorang Ibu, aku tahu dimana keberadaan putrinya yang sedang sedih sendirian merasakan kesedihan itu," Ucap Ziya yang membuat tangis Krystal menjadi semakin pecah.
" Hiks, hiks, hiks, jangan berpura-pura untuk membohongiku,," Ucap Krystal ditengah tangisannya yang pecah karena terbuai akan ucapan Ziya yang terdengar begitu lembut dan tulus.
" Aku tidak pernah membohongimu, apakah selama ini aku pernah berbohong padamu ?" Tanya Ziya balik pada Krystal.
Setelah mendengarkan ucapan Ziya itu, Krystal merasa bahwa memang benar selama ini Ziya tidak pernah membohonginya. Sedangkan bagi Krystal Ziya saat ini adalah Zoya yang menjadi Ibu tirinya dahulu. Namun, waktu dulu juga Zoya sama sekali tidak pernah membohonginya, sewaktu Zoya tinggal di kediaman Alexandre, Zoya sengaja memang terlihat sangat angkuh dan juga tidak memiliki rasa perduli terhadap siapapun. Oleh sebab itu, sampai saat ini Krystal sungguh enggan sekali berdekatan dengan Ziya dan pastinya Krystal tidak mau untuk memiliki hubungan baik layaknya seorang Ibu dan anak kepada Ziya.
Tapi, semenjak wanita yang begitu mirip dengan Zoya ini, memiliki sifat yang begitu lembut dan juga perhatiannya begitu besar, sehingga hati siapa yang tidak akan luluh jika mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari orang yang terlihat begitu tulus untuk memberikan kasih sayang kepada kita.
Oleh sebab itu, tanpa disadari Krystal yang memiliki sifat keras kepala dibandingkan Isabelle adiknya, akhirnya bisa juga luluh karena, kelembutan dan ketulusan Ziya yang memberikan rasa kasih sayangnya kepada putrinya Alberto ini.
" Memang tidak pernah,," Jawab Krystal spontan.
" Tapi, apakah sikapmu ini tidak berpura-pura terhadapku saat ini ?" Tanya Krystal langsung pada Ziya.
" Krystal, kenapa juga aku harus berpura-pura baik dan lembut padamu, jika, kau masih merasa bahwa selama ini aku tidak pernah memperdulikanmu, mungkin saat itu aku memang harus dibenci oleh kau dan juga Isabelle, tapi, saat ini aku sadar bahwa kau dan juga Isabelle adalah seorang perempuan yang hatinya sama sepertiku, yang menginginkan sebuah kasih sayang, rasa keperdulian, rasa perhatian yang dilimpahkan oleh orang tuanya." Ucap Ziya yang membuat Krystal menatap Ziya dengan tatapan kelembutan.
" Maafkan aku jika selama ini, aku tidak pernah memperdulikanmu dan juga Isabelle Krystal,," Bilang Ziya yang terdengar sangat lembut sehingga membuat Krystal segera memeluk Ziya.
Saat Krystal mendengar ucapan Ziya yang terdengar begitu lembut dan penuh kasih sayang itu membuat Krystal merasa nyaman dan benar-benar sungguh menginginkan Ziya agar bisa menjadi teman ataupun Mommynya yang bisa mendengarkan semua isi hatinya saat ini. Dan, karena kelembutan yang diberikan oleh Ziya itu sehingga membuat Krystal dengan spontan langsung memeluk tubuh Ziya. Ziya seketika kaget melihat Krystal yang menangis sambil memeluknya.
" Hiks, hiks, hiks, apakah ucapanmu ini bisa dipercaya ?" Tanya Krystal yang berada dalam pelukan Ziya.
" Ya ampun Krystal, ternyata dia juga bisa melembutkan sikapnya yang selama ini begitu arogan." Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum lega, ketika melihat Krystal sedang memeluk dirinya itu.
" Itu terserah padamu Krystal, jika kau merasa ingin mempercayai ucapanku, silahkan dan jika hatimu belum merasa yakin akan ucapanku, aku tidak akan pernah merubah sikap dan kasih sayangku padamu,," Bilang Ziya sambil mengelus lembut rambut Krystal.
" Aku mempercayai ucapanmu sekarang, tapi, aku ingin kau berjanji tidak akan lagi bersikap seperti selama ini yang tidak pernah memperdulikanku,," Bilang Krystal yang meminta sebuah perjanjian kepada Ziya.
" Iya Krystal, segenap hatiku berjanji aku tidak akan pernah lagi bersikap seperti selama ini padamu,," Jawab Ziya tetap mengusap lembut rambut Krystal dan semakin menambah pecah tangisan yang sedang dilakukan oleh Krystal.
" Hiks, hiks, hiks, terima kasih jika kau mau menyayangiku,," Gumam Krystal ditengah tangisannya.
" Heemmm, sama-sama, apakah saat ini kita bisa berteman ?" Tanya Ziya lembut pada Krystal.
Saat Ziya menanyakan apakah saat ini mereka bisa berteman dengan segera Krystal melepaskan pelukannya dan mendongakkan wajahnya yang penuh akan air mata mengalir, langsung mengangguk dan tersenyum kepada Ziya.
" Ya, aku mau,," Jawab Krystal dengan anggukan yang pasti.
" Terima kasih,," Bilang Ziya tersenyum senang.
Dengan segera Ziya menghapus air mata Krystal yang mengalir lembut di wajahnya, sehingga membuat Vena tersenyum melihat kelembutan yang diperlakukan Ziya terhadap Krystal.
" Oh God, ternyata Nyonya sungguh tulus menyayangi semua orang, walaupun Nona Krystal selalu bersikap buruk dan kasar terhadap Nyonya. Namun, Nyonya tidak pernah mempermasalahkannya, melainkan saat ini Nyonya begitu lembut memberikan kasih sayangnya terhadap kedua putri Tuan Besar." Gumam Vena saat baru sampai di tempat yang tidak terlalu jauh dari keberadaan Ziya bersama Krystal.
" Heemm, lebih baik, aku merekam kegiatan yang sedang dilakukan Nyonya dan mengirimkannya untuk Tuan Besar, supaya hubungan percintaan Nyonya dan Tuan Besar semakin bertambah erat kemesraannya, hihihi,," Gumam Vena sambil tertawa sendiri dengan kelakuannya ini.
Vena selalu menyukai sikap Ziya yang terlihat lembut kepada siapapun, oleh sebab itu dengan segera Vena merekam kelakuan Ziya terhadap Krystal dari kejauhan. Bahwa memang benar Ziya merupakan seorang wanita dan Ibu yang begitu baik.
" Apa yang telah membuatmu bersedih seperti ini, Krystal ?" Tanya Ziya lembut ketika sedang menghapus air mata Krystal.
" Sebelum aku menceritakan isi hatiku ini, maafkan sikap dan kelakuanku yang selalu kasar padamu,," Bilang Krystal sambil menundukkan wajahnya di hadapan Ziya.
" Heemm, aku tidak pernah merasa jika sikapmu kasar padaku, mungkin saat itu kau memang begitu kesal padaku, karena, sikap burukku yang terlebih dahulu tidak memperdulikanmu,," Ucap Ziya lembut sambil tersenyum.
" Heemmm, terima kasih jika kau memang benar mau menyayangiku dan Bella,," Bilang Krystal lagi pada Ziya yang ingin memastikan kepedulian Ziya terhadap mereka.
" Iya sama-sama,," Jawab Ziya lembut.
" Sekarang, apa yang menyebabkanmu menangis sendirian di tempat ini ?" Tanya Ziya lagi pada Krystal dengan tujuan bahwa Ziya ingin mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi oleh Krystal sendiri tanpa diberitahukannya pada orang lain.
" Baiklah, aku akan menceritakannya padamu, karena, aku telah mempercayaimu,," Ucap Krystal yang mulai membuka cerita permasalahannya.
" Namun, apakah aku boleh memanggilmu sama seperti yang dilakukan Isabelle saat memanggil dirimu ?" Tanya Krystal dengan suara kecil dan masih malu untuk mengungkapkan keinginannya itu pada Ziya.
Jelas Ziya begitu senang hatinya, ketika mendengarkan ucapan Krystal yang meminta izin darinya untuk melakukan hal yang sama seperti Isabelle saat sedang memanggil Ziya dengan sebuah panggilan yang terdengar akrab dan juga hormat yaitu Ibu atau Mommy. Pastinya Ziya menyetujui permintaan yang disampaikan langsung dari Krystal padanya saat ini.
" Tentu saja sayang kau bisa memanggilku Mommy, atau apa saja menurut kata hatimu sendiri,," Bilang Ziya sambil menatap Krystal dengan lembut.
" Terima kasih, baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Mommy, karena, kau adalah istri dari Daddyku maka kau juga Mommyku,," Ucap Krystal sambil tersenyum malu.
" Terserah padamu sayang, jika kau merasa nyaman memanggilku dengan panggilan Mommy, maka hal itu begitu membuatku merasa bahagia,," Jawab Ziya membalas senyuman Krystal yang juga terukir di hadapannya.
" Karena, kau sudah menganggapku sebagai orang tuamu, apakah aku boleh untuk mengetahui kesulitan apa yang saat ini sedang kau alami ?" Tanya Ziya lagi yang sungguh ingin mengetahui permasalahan Krystal.
" Boleh, tapi, Mommy harus berjanji jangan pernah menceritakan hal ini kepada Daddy, karena, aku takut jika Daddy tahu permasalahan yang sedang ku hadapi maka, Daddy akan marah besar padaku, karena, aku telah melakukan kesalahan yang bukan kesalahan diriku sendiri." Ucap Krystal yang terdengar begitu takut jika permasalahannya ini sampai diketahui oleh Alberto.
Krystal sangat mengenali bagaimana sikap dan sifat dari Daddynya itu. Bahwa selama ini Alberto tidak mau memperdulikan dan memperhatikan kedua putrinya yang sedang tumbuh remaja ini, agar putrinya bisa melakukan suatu hal yang baik tanpa menggunakan nama Alberto Alexandre untuk bisa menjadi anak yang kuat dan bisa membanggakan dirinya. Namun, saat ini Krystal sendiri telah melakukan kesalahan yang begitu besar sehingga membuat Krystal sendiri takut dan khawatir jika permasalahannya ini sampai diketahui oleh Alberto, oleh sebab itu, Krystal tidak pernah membawa surat pemanggilan orang tuanya kembali ke rumah.
Karena, Krystal tidak mau jika Alberto sampai tahu akan permasalahannya ini. Oleh sebab itu, saat Krystal sudah dilarang dari Kepala sekolahnya langsung untuk tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya, Krystal membuat suatu tindakan yang tidak terlihat dan tidak ketahuan oleh Alberto bahwa setiap harinya Krystal terlihat pergi ke sekolah, namun saat mobil yang mengantarkan Krystal telah berlalu pergi menjauhi sekolahnya barulah Krystal pergi ke sebuah taman yang begitu ramai dengan pengunjung.
Tujuannya untuk menghilangkan rasa sedihnya yang sedang menghadapi permasalahannya itu.
" Memangnya kenapa sayang ?" Tanya Ziya lembut dengan memastikan keadaan Krystal.
" Krystal mohon Mom, Krystal takut pada Daddy, jika Daddy tahu bahwa Krystal telah melakukan kesalahan maka Daddy tidak akan segan menghukum Krystal." Bilang Krystal dengan wajahnya yang terlihat begitu ketakutan.
" Baiklah, baiklah jangan takut, ceritakan saja pada Mommy, kemungkinan Mommy bisa membantu Krystal keluar dari permasalahan ini,," Ungkap Ziya yang memberikan perasaan lega kepada Krystal.
" Heemmm terima kasih Mom,," Ucap Krystal yang membuat Ziya mengangguk.
" Sebenarnya Krystal sudah merusak semua benda milik salah satu teman kelas Krystal yang begitu membuat Krystal kesal akan ucapan dan fitnahannya terhadap Krystal." Ucap Krystal perlahan yang membuka isi permasalahannya pada Ziya.
Ketika mendengarkan ucapan yang disampaikan oleh Krystal tentang permasalahannya itu. Awalnya Ziya sedikit bingung atas ucapan Krystal padanya. Sehingga membuat Ziya meminta Krystal untuk mengulangi kembali perkataannya.
" Maksudnya sayang, Mommy tidak mengerti," Ucap Ziya yang masih bingung.
" Begini Mom, ada salah satu teman perempuan yang satu kelas dengan Krystal dengan sengaja telah membuat fitnahan besar terhadap Krystal. Awalnya Krystal tidak memperdulikan perkataannya, namun, karena, melihat Krystal yang mengacuhkannya itu, semakin lama orang itu semakin sering untuk mencemooh Krystal. Karena, Krystal sudah tidak sanggup lagi mendengar fitnahan dan juga cemoohan yang dilakukannya pada Krystal akhirnya dengan sangat kesal Krystal sengaja membakar semua barang milik orang itu yang selama ini ia letakkan dalam lemari sekolah. Oleh sebab itu, orang itu marah dan mengadukan semua tindakan Krystal pada Kepala sekolah. Padahal semuanya itu bukanlah kesalahan Krystal semua, melainkan kesalahan mereka yang selalu mencemooh Krystal hingga Krystal kesal, Mom, hiks hiks,," Ucap Krystal dengan perlahan yang menceritakan semua permasalahannya kepada Ziya.
" Dan kepala sekolah juga memberikan hukuman kepada Krystal untuk membawa orang tua Krystal ke sekolah agar bisa membahas permasalahan yang dilakukan Krystal kepada orang itu. Karena, orang itu sudah memberitahukan kepada orang tuanya bahwa orang tuanya meminta Krystal untuk dikeluarkan dari sekolah itu, Mom,," Ucap Krystal lagi yang menjelaskan masalahnya.
" Oleh sebab itu, Krystal dilarang masuk ke sekolah jika Krystal belum membawa orang tua untuk segera menyelesaikan permasalahan yang telah ditimpakan semua kesalahannya pada Krystal sendiri Mom,," Bilang Krystal lagi semakin membuatnya menangis.
Setelah mendengarkan semua penjelasan Krystal tentang masalahnya itu, barulah Ziya mengerti akan kejadian yang telah terjadi. Ziya memahami akan posisi yang sedang dialami oleh Krystal, sebenarnya kepala sekolahnya itu telah melakukan tindakan hukuman secara sepihak yang hanya memberatkan Krystal saja. Oleh sebab itu Ziya juga kesal dengan kelakuan yang telah dilakukan oleh Kepala Sekolah Krystal kepada muridnya ini.
" Jadi karena itu Krystal sampai tidak datang ke sekolah dan duduk disini ?" Tanya Ziya lagi pada Krystal yang hanya dibalas anggukan saja.
" Ya ampun sayang, kenapa selama ini tidak cerita pada Mommy,," Gumam Ziya sambil memeluk Krystal dan mengelus lembut lengan putrinya itu.
" Karena, Krystal takut jika ketahuan Daddy Mom,," Jawab Krystal singkat.
" Daddymu tidak akan marah, jika kau melakukan suatu hal demi membela kebenaran sayang," Ucap Ziya yang meyakinkan Krystal.
" Tapi, apakah Kepala sekolahmu sudah mengetahui semua yang kau lakukan ini, itu semua karena kesalahan mereka yang sengaja membuatmu marah sehingga melakukan perusakan itu ?" Tanya Ziya lagi ingin memastikan sikap yang dimiliki kepala sekolah terhadap Krystal.
" Sudah semuanya Mom, bahkan Krystal juga menceritakan kerusakan pada semua benda Krystal yang ada di lemari sekolah sebelum Krystal membalas perlakuan mereka, tapi, tetap saja kepala sekolah tidak percaya dan masih tetap melarang Krystal untuk datang ke sekolah sebelum orang tua Krystal sendiri yang datang menghadap kepala sekolah dan meminta maaf,," Ucap Krystal yang memberitahukan sikap dan tindakan kepala sekolahnya kepada Ziya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Krystal, Ziya cukup memahami sepertinya kepala sekolah di tempat sekolah Krystal ini dengan sengaja ingin melakukan sesuatu hal yang memalukan pada Krystal sendiri, padahal kepala sekolah itu sendiri sudah mengetahui siapa sebenarnya yang salah dan siapa sebenarnya yang benar, namun dengan tutup mata kepala sekolah itu seolah tidak adil dan memihak teman sebaya Krystal tidak melakukan kesalahan, melainkan kesalahan ini hanya tertuju pada Krystal seorang. Ziya sungguh geram dengan perlakuan dari tindakan kepala sekolah yang tidak adil seperti ini.
****