Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 117 - Apakah Aku Harus Jujur ?



Setelah merasa cukup tahu dimana tempat Ziya dan Demian berada, Alberto segera mengalihkan pandangannya terhadap Ziya dan Demian yang sedang berada di taman dekat danau. Seketika saat Ziya dan Demian sedang beranjak pergi ke arah tanaman yang berwarna merah itu, membuat Alberto sedikit merasa curiga akan sikap Ziya yang sedang memperhatikan tanaman merah itu.


" Apa yang sedang dilakukannya disana,," Gumam Alberto yang memperhatikan Ziya dari kejauhan.


Seketika Alberto teringat bahwa apa yang dicurigainya selama ini, memang benar keahlian yang tersimpan dari istrinya itu.


" Apa yang selama ini aku curigai padanya adalah benar keahlian yang dimiliki olehnya,," Bilang Alberto lagi yang menyipitkan matanya memperhatikan gerak-gerik Ziya yang sedang berada di sebuah taman yang berisi tanaman berwarna merah.


Terlihat dari tatapan mata Alberto bahwa Ziya saat ini sedang mengambil beberapa lembar daun dari tanaman yang sedang dicermatinya.


" Heemmm, sepertinya dia akan melakukan keahliannya selama ini,," Ucap Alberto yang menaikkan ujung bibirnya menatap kelakuan Ziya dari kejauhan.


" Aku akan biarkan dia untuk melakukan keahliannya itu, karena, aku ingin memastikan apa benar dia adalah putri dari Zalina,," Ucap Alberto yang memiliki rencana untuk Ziya.


" Jika penemuannya itu berhasil berarti benar dia selama ini adalah putri dari Zalina,, dengan itu maka aku akan segera menemui orang tuanya." Bilang Alberto lagi yang menajamkan senyumannya dan berencana untuk segera menemui orang tua Ziya.


Sesaat Alberto melihat bahwa Ziya sudah selesai memperhatikan tanaman merah itu, lalu, dengan segera Ziya mengajak Demian lagi ke arah mobil yang sedang terparkir itu. Karena, melihat Ziya sudah selesai dalam permainannya itu, Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana ia meletakkan laptop dan beberapa video rekaman yang dibawanya dari kantor.


Sementara itu, Ziya dan Demian telah selesai bermain bersama di sebuah danau yang terletak di kawasan istana Alexandre.


" Demi, kita kembali ke rumah ya,," Ucap Ziya yang mengajak Demian untuk kembali ke rumah.


" He'eh, Mom,," Jawab Demian mengangguk.


" Tapi, besok kita main disini lagi ya, Mom,," Pinta Demi pada Ziya, supaya besok bisa bermain bersama lagi di taman ini.


" He'em,, pasti sayang,," Ucap Ziya mengangguk tersenyum.


" Setelah ini, Demian mandi, terus istirahat bobo ya, nak,," Ucap Ziya yang membujuk Demian.


Karena, setelah ini Ziya segera ingin melakukan tahap awal dari penemuannya selama ini. Ziya sudah lama tidak melakukan pembuatan langsung racun hasil dari pengajaran Mamanya selama ini, yang telah dilakukan oleh Ziya sendiri saat mempraktekkan hasil dari pengajaran itu.


" Ok Mom,," Jawab Demian segera beranjak masuk ke dalam mobil.


Setelah merasa tubuh Demian cukup tepat di dalam mobil. Dengan segera Ziya masuk juga ke dalam mobil, lalu memerintahkan beberapa pengawal itu untuk segera kembali ke rumahnya.


" Setelah sampai di rumah nanti, apakah aku bisa membuat ini lagi,," Gumam Ziya dalam hati sambil memikirkan bahan-bahan untuk membuat racun seperti biasa ia lakukan.


Karena, kebetulan Ziya hanya mendapatkan bahan inti dari racun tersebut dan belum mendapatkan bahan lainnya, mungkin masih ada di sekitar taman itu, tapi, Ziya hanya ingin dirinya sendiri yang mencari kesana tanpa adanya pengawal pribadi yang mengikuti dirinya.


Ziya berpikir lebih baik Alberto sendiri saja yang menjadi pengawalnya dibandingkan harus dikawal oleh banyak pengawal.


" Aku tidak mau banyak orang yang mengetahui akan kemampuan yang kumiliki ini, kalau sekedar Alberto aku tidak merasa takut,," Gumam Ziya dalam hati.


Ziya berpikir bahwa dia merasa sedikit kurang tenang jika banyak yang mengetahui akan keahliannya itu. Lebih baik hanya ada satu orang yang mengetahui keahliannya itu yaitu Alberto.


" Eemmm, sepertinya aku harus meminta izin dia dulu, untuk melakukan rencana ku ini, tapi,, apakah dia mengizinkanku,," Gumam Ziya lagi saat berpikir untuk meminta izin pada Alberto.


" Tapi, apakah dia mengizinkanku,," Ucap Ziya lagi yang merasa sedikit khawatir akan sikap Alberto padanya.


" Aku harus berani menyampaikan ini, kalau aku tidak meminta izin darinya, maka dia akan curiga padaku, lebih baik aku jujur supaya rencananya Alberto bisa berhasil dan rahasia kehidupannya selama ini berhasil juga dibukanya." Gumam Ziya yang bertekad untuk membantu Alberto.


Dibandingkan harus melakukan sesuatu dengan cara diam-diam dari seorang suami, lebih baik diberitahukan saja, jadi, suami bisa tahu apa yang telah kita lakukan. Lebih baik kita jujur untuk melakukan suatu hal kebaikan supaya rasa curiga di antara seorang istri dan suami tidak akan terjadi.


Ziya akhirnya lebih memilih untuk memberitahu Alberto tentang keahliannya ini dibandingkan harus melakukannya secara diam-diam.


Setelah sampai di depan kediamannya Ziya segera menggendong tubuh Demian dan masuk ke dalam rumahnya segera langsung menaiki tangga menuju ke lantai dua, ternyata di depan tangga sudah ada Alberto yang berdiri di sana. Ziya terkejut saat melihat Alberto sudah ada di atas tangga tepatnya di depan kamar Demian.


" Aaahh,, Alberto," Ucap Ziya gugup saat melihat Alberto yang berdiri tepat di depan kamar itu.


Alberto melihat tubuh Demian seperti sudah tertidur lelap di gendongan Ziya.


" Kenapa kaget,," Tanya Alberto pada Ziya.


Sebenarnya Ziya gugup, karena, kemungkinan Alberto akan marah besar padanya, karena, telah berani membawa Demian bermain di tempat yang jauh sekali, Walaupun masih di dalam kawasan Istananya itu, masih saja mereka berdua salah, karena sebelumnya tidak meminta izin dari Alberto untuk bermain ke tempat yang cukup jauh itu.


" Tidak, tidak apa-apa,," Ucap Ziya yang menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Ziya masuk ke dalam kamar Demian, setelah Melly membukakan pintunya.


" Silahkan, Nyonya,," Ucap Melly setelah membuka pintu kamarnya Demian.


Terlihat Alberto juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Demian. Ziya merasa yakin bahwa sepertinya Alberto akan memarahi dirinya saat ini juga.


" Kenapa dia ikut masuk,," Pikir Ziya merasa cemas dan masih menggendong tubuh Demian


Setelah melangkahkan kakinya ke dalam melihat Ziya dan Demian juga berada di dalam kamar, Alberto segera menyuruh Melly untuk segera keluar dari kamar. Karena, Alberto sengaja ingin menakut-nakuti Ziya, seolah menampakkan sikap wajahnya yang marah besar akan kelakuan Ziya. Tapi, malah sebaliknya Alberto juga mendukung kegiatan Ziya untuk menajamkan kembali keahliannya itu.


" Melly, kau segera keluar,," Bilang Alberto yang memerintahkan Melly untuk keluar dari kamarnya Demian.


Melly yang mendengarkan ucapan Alberto yang memerintahkan dia untuk keluar dengan segera Melly melangkahkan kakinya keluar, padahal Melly sebenarnya ingin membantu Ziya untuk meletakkan Demian di atas tempat tidur atau memandikan Demian setelah Demian bangun. Tapi, nyatanya sang tuan besar telah menyuruhnya untuk segera keluar dari kamar ini.


" Baik, Tuan,," Jawab Melly yang menganggukkan kepalanya dan segera meminta izin dari Ziya untuk keluar.


" Permisi Nyonya, Tuan,," Ucap Melly yang menundukkan wajahnya saat melewati Ziya dan Alberto.


Sementara itu, Ziya sendiri bingung dan khawatir saat Alberto menyuruh Melly keluar, maka hanya tinggal dirinya dan juga Alberto di dalam kamar ini. Ya, walaupun ada Demian di antara mereka, tapi saat ini masih saja Ziya merasa khawatir dan cemas.


" Aduuuhhh kenapa dia menyuruh Melly keluar," Gumam Ziya yang segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur Demian.


" Apakah dia akan memarahiku,," Pikir Zoya lagi yang mengeluarkan keringat dinginnya karena merasa cemas akan sikap Alberto yang begitu mudah sekali berubah.


Emangnya Ninja apa berubah 🤣


Setelah memastikan Melly keluar dari kamarnya Demian, dengan segera Alberto mengaktifkan alat pengaman di kamarnya ini. Lalu, saat Ziya ingin melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur Demian, Alberto segera menghentikan langkah kaki Ziya itu dan menambah kecemasan di wajah Ziya.


Saat mendengar suara Alberto yang mencegah langkah kakinya, dengan segera Ziya menghentikan langkah kakinya dan tetap mendiamkan posisinya di tempat ia berdiri itu.


" Aduuuhhh,, kenapa dia menghentikan langkahku,," Ucap Ziya dalam hati yang memejamkan matanya merasa takut akan sikap Alberto yang selalu tiba-tiba padanya itu.


Melihat posisi Ziya yang masih mematung dengan perlahan Alberto melangkahkan kakinya mendekati Ziya yang berdiri mematung saat ini. Saat posisi tubuh Alberto telah sampai tepat di depan wajah Ziya. Tak menyangka Ziya menelan salivanya sendiri karena, melihat tatapan mata Alberto yang terlihat seperti akan marah besar padanya atau akan menghukum dirinya.


" Mati aku,," Gumam Ziya dalam hati saat melihat tatapan mata Alberto, bagaikan mata singa yang akan segera menerkamnya.


" Apakah berat menggendong tubuh Demian,," Tanya Alberto yang mulai membuka pembicaraannya.


" Heh! tidak,," Jawab Ziya yang terlihat sangat canggung.


" Benar, tidak berat,," Tanya Alberto lagi yang memastikan Ziya.


" He'em,," Jawab Ziya yang mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyumannya.


Seketika Ziya ingin melangkahkan kakinya namun Alberto menahan tubuhnya Ziya.


" Alberto, apa yang kau lakukan, jika kau begini aku berat menggendong Demian." Ucap Ziya secara langsung pada Alberto.


" Sini biar aku yang gendong,," Pinta Alberto sambil mengambil tubuh Demian dari gendongannya Ziya.


" Eehhh,, Alberto biar aku saja yang menggendongnya." Bilang Ziya lagi saat tubuh Demian sudah berada di dalam gendongan Alberto.


" Biar aku saja, aku tahu kalau kau lelah, karena sudah menggendong Demian dari bawah sampai ke atas ini,," Ucap Alberto yang segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur Demian.


" Tapi, aku sama sekali tidak lelah jika menggendongnya,," Jawab Ziya lagi yang membela dirinya.


" Ssssstttt,, diam,," Ucap Alberto yang meletakkan jarinya di bibir Ziya.


Karena, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alberto, sontak Ziya terdiam. Lalu, hanya bisa menuruti langkah kaki Alberto yang menuju ke arah tempat tidur Demian. Dengan perlahan-lahan, Alberto meletakkan tubuh Demian di atas tempat tidurnya. Setelah merasa cukup nyaman untuk tubuh Demian dengan sekali gerakan Alberto sudah menghadap dan memandangi wajah Ziya. Ziya sangat kaget saat wajah Alberto dengan sekali putaran sudah bertatapan langsung dengan wajahnya itu.


" Apakah senang bermain-main hari ini,," Tanya Alberto lagi pada Ziya yang menambah kegugupan di wajahnya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


" Aku lihat kau bermain di dekat,,,," Ucap Alberto yang terputus, karena, Ziya sudah mendaratkan bibirnya tepat di bibir lembut Alberto.


CUP!!


Untuk sesaat Alberto terdiam karena menerima landasan lembut dari bibir Ziya. Alberto membiarkan saja perlakuan lembut Ziya ini padanya. Karena, ini yang diinginkan Alberto dari Ziya.


" Maafkan aku, kalau aku mengajak Demian bermain di tempat yang terlalu jauh,," Ucap Ziya setelah melepaskan ciumannya pada bibir Alberto.


Mendengar ucapan Ziya yang diawali dengan permintaan maaf, Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya pada Ziya.


" Ya, karena kau telah mengaku, jadi, aku memaafkanmu,," Jawab Alberto yang membuat wajah Ziya langsung berubah menjadi cerah.


" Tapi,," Bilang Alberto lagi yang membuat wajah Ziya berubah menjadi penasaran.


" Karena, kau tidak meminta izin dariku untuk bermain di dekat danau belakang, maka aku wajib untuk menghukumi dirimu,," Bilang Alberto lagi yang mengagetkan wajah Ziya.


" Aakkhh,, apa kau akan menghukum ku,," Tanya Ziya yang menatap penasaran pada Alberto.


" Ya,, seharusnya, kalau kau ingin bermain disana, cukup kau meminta izin dariku,," Ucap Alberto yang seketika membuat Ziya menelan salivanya.


" Dan cukup aku saja yang menemanimu bersama Demian bermain di sana, tanpa banyak pengawal yang mengikuti kegiatan kau di sana,," Ucap Alberto serius menatap wajah Ziya.


Ziya seakan bingung tidak mengerti akan maksud dari ucapan yang dikatakan oleh Alberto pada dirinya.


" Maksudmu ?" Tanya Ziya dengan suara kecilnya yang bingung akan maksud dari perkataan Alberto.


" Maksud dari perkataanku, tidak banyak orang yang mengetahui tanaman yang kau ambil ini,," Ucap Alberto yang menunjukkan tanaman merah di depan wajah Ziya.


Saat Alberto menunjukkan tanaman merah di hadapan wajah Ziya. Ziya bingung darimana Alberto mengetahuinya bahwa ia dengan sengaja mengambil tanaman merah di dekat danau itu. Ziya menelan salivanya dan berpikir apakah saat ini dirinya harus jujur menyampaikan sesuatu pada Alberto.


" Apakah aku harus jujur,," Ucap Ziya dalam hati.


Sedangkan saat Ziya berpikir seperti itu, sangat terlihat sekali dari wajahnya bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.


" Apa yang kau pikirkan,," Tanya Alberto seketika mengagetkan lamunan Ziya.


" Akkhhh,, Alberto apakah kau telah mengawasi ku dan Demian saat kami bermain di sana,," Tanya Ziya balik pada Alberto.


Saat mendengar ucapan Ziya seperti itu membuat Alberto segera menertawakan pertanyaan Ziya itu. Pastilah seorang Alberto yang mencurigai Ziya dari awal dan sampai saat ini, dalam hal mengawasi gerak-gerik Ziya pasti dilakukannya.


" Hahahaha,, kau bertanya apakah aku mengawasi kalian saat bermain." Bilang Alberto pada Ziya.


" Pasti itu aku lakukan, karena, aku ingin lihat apa saja yang kau lakukan bersama Demian di sana dan ternyata kau membawa ini," Ucap Alberto pada Ziya yang memberitahu kegiatannya saat Ziya sedang bermain tadi.


Saat Alberto memberitahukan kegiatan yang dilakukannya pada Ziya, dengan sengaja Alberto menunjukkan lagi tanaman merah itu tepat di wajah Ziya. Akhirnya Ziya memilih untuk berkata jujur akan keahliannya itu. Karena, Ziya lebih mempercayai Alberto yang telah pasti akan melindungi dirinya dan juga keluarganya itu. Dibandingkan Erwin yang telah mengancam keluarga besarnya selama ini.


" Karena, kau telah melihatku mengambil tanaman ini, maka aku akan berbicara jujur padamu,," Ucap Ziya yang menatap wajah Alberto dengan tatapan serius.


Saat Alberto mendengarkan ucapan Ziya seperti itu, Alberto merasa bahwa Ziya memanglah seorang perempuan yang menjunjung tinggi akan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya.


Apakah kali ini Ziya tidak akan pernah bersandiwara lagi padanya ?


Apakah kali ini Ziya akan memberitahukan keahliannya itu ?


****