
Karena, mendengar suara ketukan tepat di depan pintu kamarnya, Alberto biasanya menyuruh orang untuk masuk dan menghadap dirinya, tapi kali ini berbeda Alberto sendiri yang melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Sesaat langkah kaki Alberto terhenti karena, mendengar Ziya yang segera mengejarnya.
" Aku ingin ikut,," Ucap Ziya yang segera merangkul lengan Alberto.
" Tapi, kau, belum,," Bilang Alberto mencegah Ziya untuk mengikuti dirinya.
Daniel yang sangat mengetahui kondisi tubuh Ziya menyetujui Ziya untuk mengikuti rencana Alberto.
" Biarkan, dia ikut, Dude,, karena, kesehatannya sudah membaik,," Ucap Daniel yang membuat Alberto mengangguk atas sikap Ziya ini.
Disaat Daniel yang menjadi pengawal depan Alberto membuka pintu kamarnya, Betapa terkejutnya mata Alberto, Daniel dan Ziya saat melihat kondisi Vena yang begitu mengenaskan di atas sofa tepat di depan kamar Alberto.
" Aaakkkhh,, Vena,," Teriak Ziya yang segera keluar dari kamar dan mendekati Vena.
" Zoya,," Teriak Alberto saat melihat Ziya berlari dari samping tubuhnya dan mendekati tubuh Vena.
Ziya sama sekali tidak menghiraukan panggilan Alberto pada dirinya bagi, Ziya saat ini adalah membantu Vena, kenapa keadaan Vena bisa seperti ini.
" Vena, Vena kau kenapa ?" Tanya Ziya yang melihat kondisi Vena dalam pangkuan anak buah Frengky.
Alberto yang tidak bisa sabar melihat Ziya menangisi Vena segera memeluk Ziya agar Ziya bisa bersabar untuk melakukan rencana seperti ini.
" Zoya,, Zoya, relax,, biarkan Daniel yang memeriksanya,," Ucap Alberto kepada Ziya sembari memeluk tubuh Ziya.
Daniel dengan segera memeriksa keadaan Vena yang begitu terlihat bahwa tubuh Vena keracunan.
" Dia keracunan, Alberto,," Ucap Daniel yang memberitahu Alberto.
" Kau seorang dokter, pasti kau tahu apa penawar racun dalam tubuhnya,," Ucap Alberto yang percaya akan kepintaran dari temannya Daniel.
" Racun mematikan ini harus cepat dikasih penawarnya,," Ucap Daniel dengan segera memberitahu keadaan Vena yang sudah kritis.
" Bawa Vena segera ke rumah sakit,," Bilang Alberto yang memerintahkan kepada pengawalnya.
" Akan terlambat Alberto,, jika membawanya ke rumah sakit" Bilang Daniel yang menyanggah perintahan Alberto kepada pengawalnya.
Karena, mendengar ucapan Daniel yang menyatakan bahwa terlambat jika membawanya ke rumah sakit, sontak Ziya yang berada di dalam pelukan Alberto saat itu tercengang mendengarnya.
" Hah! jadi, harus bagaimana Vena,, aku tidak ingin Vena mati,," Bilang Ziya yang membuat Alberto merasa kasihan pada Ziya yang begitu sayang terhadap temannya ini.
" Alberto tolong selamatkan Vena, aku mohon,, hiks, hiks,," Ucap Ziya yang memohon kepada Alberto sambil menangis sesenggukan.
" Iya, Zoya, aku akan membantunya,," Jawab Alberto yang juga pusing harus bagaimana lagi ini.
" Daniel bagaimana,," Tanya Alberto serius dengan Daniel.
Walaupun Daniel serba mengetahui masalah racun tapi, saat ini Daniel cukup bingung dengan penawar racun yang telah ditelan oleh Vena. Cuma dalam jangka waktu sekitar satu jam lebih Daniel harus menemukan penawar racun itu.
" Kita harus segera menemukan siapa yang telah meracuni dia dan apa maksud mereka meracuni Vena ini,," Bilang Daniel yang membuat Alberto ternganga.
Sebenarnya, Alberto tahu Vena telah diracuni oleh Claire, tapi Alberto tidak mau berurusan dengan Claire. Oleh sebab itu, Alberto meminta bantuan temannya ini untuk mendapatkan penawar racun bagi Vena.
" Aku pikir kau bisa menemukan penawar racunnya, Daniel." Bilang Alberto yang tidak percaya atas ucapan Daniel saat itu.
" Heeh!! Alberto ini dalam waktu yang genting, aku belum bisa menemukan penawar racun dalam beberapa menit,," Bilang Daniel yang menjelaskan pemikirannya kepada Alberto.
Dalam seketika Vena merasakan begitu sakit dan begitu menusuk di bagian dadanya. Sehingga membuat dirinya tersadar tapi masih dalam kondisi lemah dan Vena sedikit tersenyum saat dirinya menatap wajah Ziya majikannya menangis di hadapannya itu.
" Nyonya,," Suara Vena terdengar lemah di telinga Ziya.
Karena, mendengar suara Vena yang terkulai lemah di atas sofa, sedangkan Ziya sendiri berada di samping Vena itu membuat Ziya segera mendengarkan ucapan dan perkataan Vena dengan kondisi tubuh yang lemah.
" Ya, Ya Vena aku mendengar suaramu,, ada apa ? apa yang terjadi padamu ? siapa yang telah melakukan ini padamu,?" Ucap Ziya yang terdengar banyak sekali pertanyaannya membuat Vena sedikit melebarkan senyumannya walaupun tubuhnya sebentar lagi akan tiada.
Semua orang berada disana merasa kasihan dengan keadaan Vena dalam waktu genting ini, sementara Daniel sedang memeriksa keadaan Vena, Vena pun dengan segera menyampaikan pesan kepada Ziya agar tidak mengeluarkan Martin dan mau mengikuti arahan dari Claire.
" Nyonya,, syukurlah Nyonya sudah sembuh,, Vena minta maaf kalau Vena banyak melakukan kesalahan, sebelum Vena pergi, Vena mohon jangan pernah membenci Tuan Besar,," Ucap Vena seakan dirinya akan pergi untuk selamanya.
Ziya tercengang mendengar ucapan Vena yang mengatakan jangan pernah membenci Tuan Besar Alberto. Memangnya kenapa dengan Alberto ? Sepintas dalam pikiran Ziya atas ucapan Vena pada dirinya.
" Dan, Tuan jangan pernah melakukan tindakan kasar pada Nyonya, dan jangan pernah melepaskan Tuan Martin,, biarkan Vena mati, asal Tuan jangan membebaskan Martin,," Ucap Vena terakhir dan tersenyum.
Ziya terperangah mendengar ucapan Vena yang menyebutkan nama Martin, Maksud Vena apa menyebutkan nama Martin dalam pesan singkatnya mengingatkan Alberto.
" Martin, maksudnya apa ?" Tanya Ziya dalam hatinya yang merasa bingung dengan ucapan Vena.
Alberto juga yang mendengar ucapan Vena menyebutkan nama Martin sudah tahu maksud dari Vena ini, pasti Vena sudah ditekan dan dipaksa oleh Gladys untuk meminum racun dengan alasan bahwa Vena akan selamat asal Martin keluar dari tahanannya.
" Vena, kau masih bisa bertahan bukan, jelaskan maksudmu mengatakan Martin apa,,?" Tanya Alberto yang tidak sabaran maksud Vena menyebutkan Martin apa.
Kenapa Vena juga bisa tahu kalau Martin adalah sasaran Alberto yang telah mencelakakan Ziya kemarin.
" Ya, Tuan, Vena masih bisa menjelaskannya,, Nyonya Gladys meminta Vena membunuh Nyonya, tapi, Vena tidak bersedia dan karena, Vena tidak bersedia maka racun untuk membunuh Nyonya dipaksakan kepada Vena untuk meminumnya, lalu, dengan alasan keadaan Vena seperti ini, Nyonya Gladys meminta Tuan Besar untuk membebaskan Tuan Martin, tapi, Vena tahu bahwa Tuan Martin bersalah, jadi biarkan Vena mati asal jangan membebaskan Tuan Martin,," Ucap Vena sambil menahan sakit di dadanya dan Ziya tercengang mendengar ucapan Vena, bahwa Vena bersedia menjadi perisai untuk dirinya.
Vena sungguh mulia sekali hatinya, sehingga bersedia menjadi perisai untuk Ziya saat ini.
Alberto yang baru mengetahui bahwa ini adalah pekerjaan utama Gladys dan hanya dijalankan oleh Claire dengan segera Alberto memerintahkan kepada pengawalnya untuk memanggil dua wanita yang selalu meresahkan kenyamanan di kediamannya itu.
" Gladys,, baik," Ucap Alberto dengan tatapan mata yang begitu tajam dan dengan rahang wajah yang sangat marah.
" Mereka ingin membunuh istriku,," Ucap Alberto yang membuat Ziya terperanjat dengan mata yang berbinar-binar.
" Frengky tangkap dua wanita itu dan siksa mereka di dalam ruanganku, sekarang juga,," Perintah Alberto kepada semua pengawalnya.
Dengan segera semua anak buah Frengky dan juga pengawal Alberto melakukan perintah yang telah diperintahkan oleh Alberto. Tapi, dicegah oleh Ziya, karena, Ziya memiliki rencana lain terhadap orang yang disebutkan oleh Vena barusan.
" Tunggu,," Ucap Ziya kepada semua pengawal Alberto.
Pengawal Alberto untuk sementara menghentikan langkahnya karena, mendengar ucapan Ziya yang mencegah mereka semua.
" Alberto, aku mohon jangan tangkap mereka, kita selamatkan dulu Vena baru mengurus mereka,," Bilang Ziya memohon kepada Alberto.
Tapi, Alberto merasa bahwa dua wanita itu sudah sangat meresahkan sekali kenyamanan di kediamannya ini.
" Tidak, Zoya, aku tidak akan melepaskan mereka,, karena, mereka berencana membunuhmu,," Bilang Alberto yang membuat Daniel terperangah.
" Mereka sudah sering melakukan rencana untuk membunuhku, tapi, semua itu tidak bisa mereka lakukan, karena, aku mendapatkan perlindungan darimu, aku mohon selamatkan dulu, Vena, setelah itu baru mengurus mereka,," Ucap Ziya yang berpikir lebih rasional daripada Alberto.
Daniel yang mengagumi pikiran Ziya menyunggingkan senyumannya setuju atas ucapan Ziya yang lebih memilih menyelamatkan orang yang lebih sekarat dibandingkan hal lainnya dengan segera Daniel mengacungkan jempol untuk Ziya.
" That's right Dude, ucapan istrimu lebih benar,," Ucap Daniel yang meyakinkan Alberto atas sikap dan pemikiran Ziya yang begitu benar sekali.
Alberto untuk sementara berpikir sejenak terhadap pemikiran Ziya, karena, baginya Ziya terlalu baik terhadap orang yang berperilaku jahat pada dirinya. Tapi, yang diucapkan oleh Ziya benar sekali, walau bagaimanapun untuk sekarang lebih baik menyelamatkan Vena terlebih dahulu dibandingkan hal lainnya.
" Baik, aku menyetujuimu," Ucap Alberto yang mengecup kening Ziya, merasakan bahwa Ziya ternyata memiliki pikiran yang matang dibandingkan pemikirannya.
Dengan segera Alberto memerintahkan pengawalnya untuk memanggil dua wanita yang sangat dibenci oleh Alberto.
" Frengky, segera panggil mereka untuk menghadap aku sekarang,," Ucap Alberto yang membuat Frengky segera bertindak.
" Baik, Tuan," Jawab Frengky.
" Aku ingin lihat bagaimana negosiasi dengan dua wanita licik itu,," Ucap Alberto yang penuh semangat dan membuat Ziya sedikit tersenyum.
Dalam pikiran Ziya, ternyata Alberto sama sekali tidak menyukai adanya Claire dalam hidupnya selama ini, bodohnya Zoya lebih memilih kabur dari kediamannya dibandingkan harus mempertahankan suaminya sendiri.
" Aku pikir, kau menyukai adanya Claire di dalam hidupmu,, tapi, ternyata,," Ucap Ziya dalam hati sambil menatap wajah Alberto saat dirinya sedang memerintahkan sesuatu seperti ini.
Tapi, dibalik ucapan Alberto yang memerintahkan kepada Frengky untuk bernegosiasi dengan Gladys dan Claire sementara itu, Vena menggelengkan kepalanya tidak menerima keputusan Ziya yang akan mencelakakan diri Ziya sendiri.
" Ti,, tidak Nyonya, biarkan Vena mati, jangan bebaskan Martin,," Ucap Vena yang mulai menitikkan air matanya.
" Demi keselamatanmu, aku akan bertindak, Vena,, tenang kau jangan khawatir dan tetap harus bertahan,," Bilang Ziya yang menguatkan Vena sehingga ucapan Ziya itu membuat Alberto dan Daniel terperanjat.
Ternyata seorang putri dari keluarga aliran mafia juga memiliki pemikiran yang tajam terhadap tindakan kejahatan. Secara Ziya adalah putri dari James dan Zalina, James sendiri adalah mafia terkenal memiliki usia yang sama dengan Daddy Alberto.
Sementara itu, Zalina juga merupakan seorang putri mafia yang telah ditugaskan untuk membunuh Erwin adik James sendiri karena, skandal kejahatan yang dilakukan Martin terdahulu membuat Zalina ditugaskan untuk membunuh Martin.
Jadi, jika pemikiran Ziya dalam dunia kejahatan juga muncul di saat kepalanya terluka karena, benturan keras yang dilakukan oleh Gladys dan Claire, menimbulkan rasa keberanian dalam hidup Ziya yang terdahulu.
" Aku tidak menyangka, ternyata istrimu lebih berpikir rasional daripada kau, Dude,," Bisik Daniel di dekat telinga Alberto.
" Kau tidak tahu dia putri siapa ?" Jawab Alberto yang suaranya tidak terdengar oleh Ziya dan Vena.
" Yeah, jelas aku tahu dia putri Erwin,," Ucap Daniel yang sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Heh! kau belum tahu siapa orang tua dari Ziya sebenarnya,," Jawab Alberto yang membuat Daniel harus mencari tahu maksud dari Alberto.
Memang benar, Daniel hanya mengetahui bahwa Ziya dan Zoya putri kandung dari Erwin bukan dari James dan Zalina. Karena, selama ini Zalina dan James hidup dalam keadaan yang tertutup, jadi, semua orang tidak mengetahui siapa sebenarnya orang tua asli dari Zoya Andricha yang begitu terkenal di dunia entertainment.
" Kau harus bertahan Vena, demi aku, aku mohon,," Ucap Ziya yang mengelus rambut Vena dengan lembut.
Karena, tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya akhirnya Vena melemah dan merasakan bahwa matanya ingin tertidur. Karena, melihat mata Vena yang ingin tertidur itu membuat Daniel segera mendekati Vena dan mencegah Vena untuk tertidur.
" Vena kau harus kuat,, kau jangan tertidur." Ucap Daniel sambil memberikan sesuatu kepada Vena.
" Berikan ini padanya, agar dia bisa memuntahkan sedikit racun yang masuk ke dalam tubuhnya,," Ucap Daniel kepada Ziya setelah ia meracik obat-obatan yang dibawanya itu.
Sedari tadi Daniel belum memberikan bantuan kepada Vena. Karena, Daniel ingin meneliti secara kilat racun apa yang sudah ditelan oleh Vena. Untuk sementara ini Daniel sudah mengetahui racun itu dan Daniel mencoba memberikan sementara racikan penawar racun buatannya secara langsung di rumah Alberto tanpa penelitiannya lagi.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk dan segera memberikan cairan ke dalam mulut Vena.
" Vena, kau dengar bukan, jangan tertidur dan telan ini" Ucap Ziya yang menerima penawar racun sementara dari Daniel.
" Ini hanya sementara, hanya untuk mengeluarkan sedikit racun di dalam tubuhnya,," Ucap Daniel menjelaskan penemuannya yang secara langsung di dalam rumah Alberto.
" Ya, walaupun sementara, tapi, ini bisa membantu menghilangkan rasa sesak dan sakit di bagian dadanya,," Ucap Daniel lagi yang begitu serius menatap dan melihat kondisi Vena.
" Baik, Vena telan cairan ini dan jangan tertidur, aku akan membantumu untuk mengeluarkan sedikit racun dalam tubuhmu,," Ucap Ziya yang segera membangunkan separuh tubuh Vena.
Untung saja Vena masih sadar dan menuruti kata-kata dari Ziya. Ziya teringat akan ucapan Mamanya saat menolong seseorang yang sedang dalam keadaan darurat meminum racun harus menepuk punggungnya sehingga mengeluarkan cairan racun yang telah masuk ke dalam pencernaannya itu.
Setelah Vena meminum cairan yang begitu sangat tidak enak di mulutnya membuat Vena bergejolak untuk segera memuntahkan sesuatu yang ada di dalam perutnya.
" Muntah kan,," Ucap Ziya yang mendominasi Vena untuk segera memuntahkan sesuatu di dalam perutnya.
Saat Vena bangkit dari baringnya itu dengan segera Ziya menepuk punggung Vena sehingga membuat Vena memuntahkan semua isi di dalam perutnya, membuat Alberto merasa bahwa Ziya sungguh seorang wanita yang luar biasa berbeda dengan Zoya istri aslinya.
" Wuueeekkk,," Suara Vena yang seketika terdengar mengeluarkan isi dalam perutnya.
" Bagus Vena kau sudah mengeluarkannya,," Bilang Ziya yang tersenyum kepada Vena.
Vena merasa lebih lemah lagi saat perutnya telah memuntahkan cairan racun itu. Terlihat sekali di dalam muntahan Vena terdapat banyak cairan yang berwarna hitam. Daniel segera memperhatikan muntahan Vena itu dan menelitinya secara langsung, akhirnya Daniel yang mengetahui Vena terkena racun jantung membuat Daniel sedikit geram terhadap perlakuan Claire yang memaksa Vena untuk meminumnya.
****