Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 84 - Bermain Denganku ?



Daniel yang berada di dalam perjalanan menuju ke istana Alexandre merasa cukup senang dan bahagia, karena, hari ini matanya secara langsung akan melihat siapa Ziya yang sudah sadar itu.


" Bagus,, akhirnya dia sudah sadar,," Ucap Daniel yang menyetir mobilnya dengan cepat.


" Akhirnya aku bisa bertatapan dengan dirinya secara langsung," Bilang Daniel lagi sambil menyunggingkan senyumannya.


" Aku mau lihat apakah dia benar-benar kembaran Zoya, dan apakah benar kembaran Zoya yang sedang berada di Australia." Ucap Daniel lagi sambil mempercepat laju mobilnya.


" Aku merasa bahwa tidak mungkin wanita seperti Zoya yang sangat menyukai kemewahan, mau pergi bersama laki-laki lain yang kekayaannya jauh di bawah Alberto." Ucap Daniel lagi yang menerka keadaan Zoya sebenarnya.


" Tapi, apabila benar Zoya yang berada di Australia, maka, tindakanku benar untuk melakukan semua ini," Bilang Daniel lagi seperti sedang merencanakan sesuatu kepada Ziya dan Zoya.


Daniel dengan cepat meningkatkan aju mobilnya, untuk segera sampai ke tujuannya yaitu kediaman Alberto.


Sementara itu,,


Alberto yang masih berada di kamar pribadinya bersama Ziya, sedikit merasakan kepedihan yang dirasakan di tangan Ziya saat ini, memang salah Alberto terlalu agresif untuk memakan tubuh Ziya. Dengan segera Alberto menghubungi Daniel karena, sedari tadi Daniel juga belum tiba di kediamannya itu.


" Kemana, Daniel,, kenapa sampai saat ini, belum sampai juga,," Ucap Alberto yang merasa kesal pada kelakuan temannya itu.


Ziya bertanya-tanya dalam hati kemana keberadaan Vena saat ini ?


" Kemana Vena, kenapa sampai saat ini dia belum juga kembali,," Tanya Ziya dalam hatinya sangat terlihat sekali dari ekspresi wajahnya yang begitu khawatir dan cemas akan keberadaan Vena.


Alberto segera menelepon Daniel dan memaki-maki Daniel karena, sampai saat ini Daniel belum juga tiba di tempatnya. Dering pertama Daniel segera menerima panggilannya itu.


" Halo,, Dimana kau,?" Tanya Alberto dengan suara kesalnya.


Karena, memang benar Alberto sangat kesal, terlihat saat ini darah mengalir di tangan Ziya. Memang itu kesalahan dari dirinya tapi, Alberto merasa bahwa tindakan Vena dan juga Daniel yang mengulur waktu membuat dirinya semakin kesal atas perilaku dua orang yang saat ini belum tahu dimana keberadaannya.


" Aku,, aku sudah berada di depan kamarmu,," Ucap Daniel yang memberitahu keberadaanya saat ini.


" Dasar,, Hurry up,," Bilang Alberto yang masih saja kesal atas tindakan temannya itu.


" Ok, Dude, relax,," Ucap Daniel yang sedikit terkekeh mendengar suara Alberto yang selalu tidak sabaran menunggu kehadirannya.


Dalam sekejap Alberto meletakkan ponselnya di dalam saku jas yang ia pakai, lalu, segera duduk di samping Ziya sambil memegang tangan Ziya yang berdarah karena, selang infusnya sedikit tertarik. Membuat Ziya merasakan perih di bagian tangannya.


" Heeemmm,, kamu masih bisa menahan rasa perihnya bukan,," Tanya Alberto lembut kepada Ziya sambil menatap wajah polos Ziya yang begitu menawan.


" Yeah, aku masih bisa menahannya,," Jawab Ziya mengangguk.


" Maaf, kalau tindakanku membuat tanganmu terasa sakit." Ucap Alberto setelah kembalinya ini terlihat begitu lembut pada Ziya.


Saat Alberto kembali ke kediamannya ini, Alberto merasa bersalah atas sikapnya kepada Ziya. Sampai-sampai Alberto bisa mengucapkan kata maaf pada seorang perempuan seperti Ziya, yang selama ini telah disakitinya. Ziya adalah sosok perempuan yang berhati lembut, apabila dirinya mendapatkan perlakuan lembut seperti itu dari Alberto, laki-laki yang pernah menyakitinya, pastinya Ziya akan menerima kebaikan yang tulus dari Alberto untuk meminta maaf padanya.


" Heemmm,, tidak apa-apa,," Jawab Ziya mengangguk.


Ziya sedikit merasa tenang saat tangannya terluka karena sentuhan yang telah dilakukan Alberto padanya, dengan cara ini Alberto tidak akan teringat lagi untuk memakan tubuhnya. Jadi, untuk sementara Ziya bisa merasa lega atas kejadian yang terjadi di tangannya. Karena, terlihat ekspresi di wajah Ziya begitu lega dan tenang membuat Alberto merasa tertarik untuk memakan bibir Ziya lagi.


" Kenapa,," Tanya Alberto yang melihat ekspresi wajah Ziya begitu lega saat tangannya berdarah.


" Tidak,," Jawab Ziya spontan menggelengkan kepalanya.


Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya hal itu membuat Ziya selalu terpana akan senyuman Alberto.


" Hahahaha,, Zoya, Zoya." Ucap Alberto yang selalu memanggil Ziya dengan sebutan Zoya.


Padahal sebenarnya Alberto sudah mengetahui bahwa perempuan yang berada di hadapannya ini adalah Ziya. Tetapi, masih saja Alberto memanggilnya dengan nama Zoya, entah apa, rencana Alberto untuk Ziya dan Zoya yang ada di dalam pikirannya itu. Karena, mendengar ucapan Alberto yang memanggil Ziya dengan nama Zoya, Ziya merasa Alberto tidak mengerti akan pengakuan dirinya kemarin.


" Alberto, aku bukan," Ucap Ziya yang kata-katanya terputus karena, Alberto telah menutupi bibirnya dengan jari telunjuk.


" Ssssstttt,," Bilang Alberto yang menutup bibir Ziya dengan jari telunjuknya.


Dalam seketika bunyi suara ketukan di pintu kamarnya, membuat Alberto dengan segera menyuruh orang diluar untuk masuk.


" Masuk,," Bilang Alberto kepada orang yang diluar ternyata adalah Daniel.


" Heemm,, kau tidak bisa sedikit sabar, Dude,," Ucap Daniel seloroh kakinya melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Alberto.


Daniel dengan sangat jelas menatap mata Ziya yang begitu indah, terlihat seperti bidadari yang baru turun dari langit. Baru kali ini, Daniel melihat wajah Ziya dengan mata terbuka dan dalam keadaan sadar. Ternyata benar, Ziya begitu cantik bahkan lebih cantik daripada saudara kembarnya Zoya.


" Oh God, ternyata dia lebih cantik,," Ucap Daniel dalam hati yang mulutnya menganga menatap kecantikan dari wajah Ziya aslinya.


Disaat Daniel menatap Ziya seperti itu, membuat Ziya sedikit risih dengan tatapan Daniel seakan banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya itu.


" Kenapa, dia menatapku seperti itu,," Ucap Ziya dalam hati yang merasa risih ditatap Daniel.


" Ternyata benar yang berada di Australia saat ini adalah Zoya,," Gumam Daniel lagi dalam hati.


" Apakah Zoya saat ini telah berubah, lebih memilih laki-laki yang kekayaannya di bawah Alberto,," Pikir Daniel sepintas tentang Zoya.


Memang benar dalam pikiran Daniel saat ini, seorang wanita seperti Zoya yang ia ketahui itu adalah wanita yang sangat menyukai kemewahan di atas segalanya, tapi mengapa kali ini Zoya kabur dengan lelaki lain yang memiliki kekayaan dan kemewahan jauh di bawah Alberto termasuk juga dirinya.


" Berarti, sekarang Zoya,," Ucap Daniel yang lagi-lagi berpikir tentang Zoya.


Daniel sedikit terkejut atas panggilan dari Alberto yang menyapa dirinya.


" Daniel,," Panggil Alberto pada Daniel dan sangat terlihat sekali bahwa saat ini Daniel kaget atas panggilan Alberto itu.


" Yeah,," Ucap Daniel seketika.


" Kau kenapa ?" Tanya Alberto yang curiga dengan tatapan Daniel terhadap Ziya.


" Akkkhhh tidak, tidak apa-apa,," Jawab Daniel tersenyum lalu segera melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Ziya.


Lalu, dengan segera menyapa Ziya yang masih berada di tempat tidur.


" Pagi, Nyonya,," Sapa Daniel pada Ziya dengan menyunggingkan senyumannya.


Karena, melihat Daniel tersenyum padanya sambil menyapa dengan sopan, Ziya tahu bahwa temannya Alberto ini pasti menganggap dirinya adalah Zoya.


" Pagi juga,," Jawab Ziya singkat sambil tersenyum.


Alberto yang merasa bahwa Daniel adalah penjahat wanita, oleh sebab itu, Alberto sangatlah meneliti tindakan yang akan dilakukan oleh Daniel saat memeriksa tubuh Ziya. Terlihat Daniel sedang memasang stetoskop di telinganya lalu dengan segera meletakkannya di atas dada Ziya untuk memeriksa keadaan Ziya saat ini. Alberto terlihat membelalakkan matanya saat Daniel dengan sengaja mendengar detak jantung Ziya.


" Bagaimana keadaannya hari ini, Nyonya,," Tanya Daniel serius pada Ziya.


" Apakah masih ada yang terasa sakit,," Tanya Daniel pada Ziya layaknya seorang pasien.


" Eemmm,, cuma ini,," Ucap Ziya yang menunjuk bagian tangannya dengan ekspresi yang bingung karena, kira-kira dulunya Zoya memanggil Daniel apa.


Daniel melihat di bagian tangan Ziya berdarah dan juga selang infus yang menempel posisinya sedikit miring.


" Kenapa bisa berdarah,," Tanya Daniel menatap Ziya.


Alberto merasa sedikit risih atas sikap Daniel yang begitu lembut pada Ziya segera mendekati tubuh Ziya dan duduk menempel di dekat Ziya, lalu, menjawab pertanyaan Daniel terhadap tangan Ziya yang berdarah, karena itu bekas perbuatan dirinya.


" Karena, aku yang telah menyenggolnya," Ucap Alberto dengan segera menjawab pertanyaan Daniel.


Daniel tersenyum melihat tingkah Alberto, terlihat jelas dimatanya seperti anak remaja yang sedang dimabuk cinta.


" Yeah,, yeah, kalau kau yang menyenggolnya aku tahu itu,," Bilang Daniel terkekeh mendekati Alberto.


Lalu, dengan perlahan Daniel membuka selang infus yang menempel di tangan Ziya, karena, sudah waktunya untuk dilepaskan hari ini.


" Sebentar ya, Nyonya, mungkin akan sedikit perih saat saya melepaskan selang infusnya." Bilang Daniel yang sengaja berlaku lembut pada Ziya.


Daniel sangat ingin sekali melihat respon dari wajah Alberto saat dirinya berlaku lembut pada Ziya.


Apakah Alberto akan cemburu ?


Ternyata benar, Alberto terlihat cemburu saat Daniel dengan sengaja menyentuh lembut telapak tangan Ziya.


" Jangan terlalu lama, melepaskannya, istriku sudah cukup lama, menahan rasa perih di tangannya,," Ucap Alberto yang terlihat sangat cemburu di mata Daniel.


" Hehehehe,, oke Dude,," Jawab Daniel dalam seketika telah selesai melepas selang infus di tangan Ziya.


Lalu, Daniel melihat mencari-cari keberadaan Vena sang asisten pribadi Ziya.


" Dimana, Vena, kenapa dia tidak ada disini,," Tanya Daniel seketika kepada Alberto.


" Semenjak aku sampai dia sudah tidak ada,," Jawab Alberto kesal dengan kelakuan Vena.


Sementara itu,,


Dengan mata kepalanya sendiri Frengky telah melihat dengan jelas bagaimana Vena yang kondisi tubuhnya melemah dan sebagian bibir Vena sedikit membiru, membuat Frengky dengan segera menghubungi Alberto Tuan Besarnya yang sedang berada di rumah utama.


Dengan menggunakan alat yang diletakkan di telinganya itu Frengky segera menekan tombolnya dan langsung terhubung dengan Alberto saat itu juga.


Alberto dengan segera menerima panggilan dari Frengky yang sedang menghubunginya itu.


" Halo, Tuan,," Ucap Frengky yang menghubungi Alberto.


" Ya ada apa,," Jawab Alberto dengan suara khasnya.


" Tuan, baru saja, pengawal kita telah menemukan Vena dalam kondisi yang mengenaskan, sepertinya Vena telah diracuni, Tuan,," Bilang Frengky secara tegas dan langsung kepada Alberto.


Alberto tercengang mendengar laporan dari pengawal pribadinya yang mengatakan bahwa Vena telah ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan dan telah diracuni.


" What,, Damn it,,?" Ucap Alberto yang membuat Ziya dan juga Daniel sedikit kaget dan bertanya-tanya dengan siapa saat ini Alberto sedang menelepon itu.


" Cepat bawa dia kesini,," Bilang Alberto yang segera memberi perintah kepada pengawalnya.


Karena, mendengar laporan dari pengawal Alberto mengatakan bahwa Vena saat ini telah diracuni membuat Alberto sangat marah di depan mata Daniel dan juga Ziya. Karena, Alberto sendiri tahu bahwa ini adalah pekerjaan yang telah dilakukan Claire dan Gladys, Alberto sudah mengetahui jawabannya dengan cara menjebak Vena mereka berdua akan bisa membebaskan Martin dari tempat tawanannya itu.


" Sepertinya,, mereka ingin bermain denganku,," Ucap Alberto sangat marah dengan orang yang ingin bermain dengannya itu.


Karena, terkejut mendengar ucapan Alberto yang sangat marah itu, membuat Daniel segera bertanya apa yang sedang terjadi.


" Hei,, Dude, memangnya apa yang terjadi,?" Tanya Daniel seketika melihat wajah Alberto sangat marah.


" Bagus kau ada disini, ayo ikut aku, sekarang." Bilang Alberto seakan lupa dengan Ziya yang masih duduk di atas tempat tidur.


Ekspresi wajah Ziya sangat terlihat sekali bertanya-tanya siapa orang yang dimaksudkan oleh Alberto saat ini.


" Tapi, Alberto istrimu,," Ucap Daniel yang membuat Alberto seketika mengingat adanya Ziya di kamarnya ini.


" Oohhh,, God aku hampir lupa,," Bilang Alberto sambil menepuk jidatnya dan segera menoleh ke belakang menatap wajah Ziya yang kebingungan.


" Kau sudah merasa baikan,," Tanya Alberto kepada Ziya.


" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.


" Baiklah, kau bisa aku tinggal sebentar,," Tanya Alberto lagi, yang membuat Ziya semakin bingung.


" Bisa, memangnya apa yang terjadi,," Tanya Ziya yang terlihat sekali kecemasan di wajahnya itu.


" Ada yang ingin bermain denganku, tapi, kau jangan terlalu banyak pikiran, karena, aku bisa menyelesaikannya,," Ucap Alberto begitu yakin atas tindakannya itu.


Namun, Ziya merasa ada yang tidak beres saat ini terjadi pada Alberto, setelah Alberto menerima telepon dari pengawalnya itu, sejak itu juga emosi Alberto meningkat dan segera ingin melenyapkan siapapun orang yang telah bermain dengannya ini.


" Alberto aku ingin ikut,," Ucap Ziya yang terlihat sekali ingin mengikuti rencana Alberto saat ini.


Alberto yang mendengar ucapan Ziya ingin mengikuti rencananya itu, membuat Daniel sedikit tersenyum atas tingkah Ziya berani sekali mengikuti seorang mafia yang sedang ingin berperang.


" Hehehehe, ternyata dia lebih lucu daripada kembarannya selama ini,," Bilang Daniel dalam hati karena, melihat tingkah laku Ziya yang ingin mengikuti Alberto dalam misinya ini.


" Kau tidak bisa ikut, kau baru saja sembuh dari sakitmu,," Ucap Alberto yang mencegah Ziya untuk mengikuti rencananya.


" Aku takut kalau sendirian di kamar, dan Vena juga belum kembali,," Bilang Ziya secara spontan dan jujur itu membuat Alberto sedikit terpukau atas kejujuran Ziya ini.


" Kau, jangan takut, aku tidak akan pergi jauh darimu, dan Vena akan segera kembali," Ucap Alberto meyakinkan Ziya saat ini.


Disaat Alberto sedang meyakinkan Ziya untuk bisa ditinggalkan dirinya sebentar, ternyata pengawal pribadi Alberto anak buah dari Frengky telah tiba tepat di depan kamar Alberto saat ini.


" Tapi, Alberto, aku,," Ucap Ziya dalam seketika membuat omongannya terhenti karena mendengar ketukan pintu di depan kamar Alberto.


Dengan segera pengawal lain yang melihat tubuh Vena lemah itu membantu pengawal itu dalam membawa Vena. Sementara itu, Frengky yang sudah sampai di depan pintu kamar Alberto segera mengetuk pintu kamar Alberto.


Pastinya membuat Alberto dan Daniel di dalam segera bergegas keluar melihat apa yang telah terjadi pada Vena.


***