
Vena hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam ketika mata indahnya itu harus melihat bagian tubuh Axeloe yang begitu indah sekali. Walaupun tertutup dengan perban namun bagian kotak-kotak pada dada serta perutnya Axeloe begitu jelas sekali terlihat. Roti sobek yang membuat semua wanita menatapnya bisa meleleh, namun, Vena tetap fokus dengan pekerjaan yang harus ia lakukan.
" Ya ampun, ini pasti sakit sekali,," Gumam Vena dengan suara kecilnya dan tidak terdengar oleh Axeloe.
Sambil perlahan membuka perban yang menutupi sebagian dada Axeloe, sesekali mata Vena melirik ke arah wajah Axeloe yang sengaja memejamkan matanya. Saat ini Vena bisa melihat bahwa Axeloe sama sekali tidak merasakan sakit pada bagian luka yang tertutup dengan perban itu. Malah Vena menilai bahwa Axeloe sepertinya biasa saja menanggapi luka yang sedang bersarang pada tubuhnya itu.
" Kenapa luka sebesar ini tidak menyebabkan rasa sakit pada tubuhnya ?" Tanya Vena dalam hatinya yang merasa heran dengan reaksi Axeloe saat ini tampak sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun dari wajahnya itu.
" Apakah dia sama sekali tidak merasakan sakit lagi ?" Tanya Vena lagi dalam hatinya pada orang yang sedang berada di hadapannya ini.
Karena, tidak melihat reaksi sakit dari wajah Axeloe dan Axeloe malah mengetahui kelakuan Vena yang sedang menatap wajahnya itu. Akhirnya Vena dikagetkan dengan suara Axeloe yang menegur dirinya itu, sehingga dengan segera Vena kembali fokus melakukan pekerjaannya.
" Aku meminta kau untuk membuka perban di dadaku, bukan untuk menatap wajahku,," Gumam Axeloe yang sengaja mengagetkan tatapan Vena terhadap dirinya hingga Vena menjadi canggung dan langsung melakukan tindakan yang seharusnya ia lakukan yaitu membuka perban di dada Axeloe.
Dengan segera Vena melakukan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan, sambil menggunting sedikit demi sedikit perban yang menutupi bagian dadanya Axeloe. Cukup lama Vena membuang perban yang menutupi bagian dada itu yang terakhir Vena melihat perban khusus untuk yang telah dibubuhkan obat yang sudah mengering masih menempel di bagian luka itu. Sehingga membuat mulut Vena sedikit berdesis disaat ia menarik secara perlahan perban yang menempel di bagian luka.
" Sssshhhhh, Maaf Tuan, mungkin agak terasa sakit,," Ucap Vena sebelum menarik perban yang menempel secara langsung di bagian luka.
" Heemmm, lakukan saja, aku bisa menahannya,," Bilang Axeloe yang masih memejamkan matanya.
" Ba, baik Tuan," Jawab Vena yang ikut merasakan sakit pada bagian luka di tubuhnya Axeloe.
Sambil berdesis Vena membuka perban yang telah melekat pada bagian luka di dadanya Axeloe sehingga membuat Vena secara perlahan membuka perban itu. Karena, Vena tidak ingin membuat Axeloe merasa kesakitan atas dirinya yang telah membuka perban luka ini. Vena jelas selalu melihat bahwa luka di bagian dada itu sedikit mengeluarkan darah mungkin karena, faktor pukulan yang ia lakukan saat dirinya digendong oleh Alberto.
" Ya ampun, lukanya berdarah, pasti karena, perbuatanku, yang telah memukul dadamu ini, Tuan,," Gumam Vena dengan suara kecilnya, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Axeloe.
" Maafkan perbuatan saya Tuan, saya tidak tahu jika di dadanya Tuan ada luka,," Ucap Vena dengan suara yang cukup jelas hingga membuat Axeloe menjawab ucapan itu.
" Tidak apa-apa, kerjakan saja tugasmu ini,," Jawab Axeloe singkat.
" Ba, baik Tuan, Tuan tahan sedikit ya, saya akan menarik bagian ujung perban ini yang sangat menempel di bagian kulit luka,," Ucap Vena lagi sambil memberitahukan kondisi luka di dadanya Axeloe.
" Baik Tuan,," Jawab Vena.
Dengan sekali tarikan begitu cepat, akhirnya Vena berhasil membuka perban yang sudah menempel lama di bagian luka Axeloe. Sehingga membuat luka tersebut mengeluarkan darah dan dengan cepat Vena mengelap darah yang mengalir itu. Walaupun, terasa begitu sakit sekali disaat Vena menarik perban yang telah menempel itu, namun, bagi Axeloe sama sekali tidak merasakan rasa sakit sedikitpun.
" Akhirnya darahnya berhenti mengalir,," Gumam Vena seketika tersenyum melihat darah yang keluar begitu deras mengalir berhenti juga.
Karena, luka seperti ini adalah hal biasa yang sering terjadi pada tubuhnya. Saat ini Vena hanya fokus melanjutkan pekerjaannya itu yang masih tetap menahan darah keluar dari bagian luka yang terbuka karena telah tertarik mengikuti perban yang ditarik sebelumnya. Setelah darah itu cukup mengering dan berhenti keluar dari dalam luka barulah Vena meletakkan perban yang sudah dibubuhkan dengan serbuk obat sebelumnya.
" Maaf Tuan jika terasa perih,," Ucap Vena sebelum meletakkan perban yang sudah dibubuhi obat.
" Heemmm," Jawab Axeloe singkat.
Secara perlahan Vena meletakkan perban itu ke atas luka dan menutupi semua area luka yang telah tergores besar itu. Terlihat dari wajah Vena bahwa Vena saat ini sedang meringis merasakan sakit dan juga perih pastinya di luka yang sedang ia rawat saat ini. Namun, tidak untuk Axeloe, sedari tadi, Axeloe tidak memiliki ekspresi sakit sedikitpun. Padahal sudah beberapa kali terdengar Vena berdesis ikut merasakan betapa sakitnya Axeloe saat ini.
" Luka sebesar ini, kenapa bisa dikatakan kecil,," Gumam Vena lagi sambil meletakkan perban di atas luka tersebut.
Setelah selesai meletakkan perban khusus ke atas lukanya Axeloe barulah Vena memasang perban lainnya untuk menutup rapi luka yang menganga itu. Sebenarnya Vena ingin bertanya pada Axeloe tentang luka besar seperti sebuah sab.etan pis.au, namun, hal itu tidak dilakukan Vena karena, Vena takut nanti pertanyaannya itu adalah suatu pertanyaan yang masuk ke dalam masalah pribadi Axeloe. Sehingga membuat Vena hanya bisa terdiam dan bertanya pada dirinya sendiri.
" Luka sebesar ini, bisa-bisanya dia menyebutkan lukanya kecil, heehh aneh memang Tuan yang aneh,," Gumam Vena dalam hatinya sambil perlahan-lahan memasang perban baru.
" Memangnya apa yang telah terjadi pada Tuan Axeloe ?" Tanya Vena lagi dengan wajah yang begitu penasaran atas luka besar di bagian dada Axeloe itu.
" Aaakkhh, aku baru ingat, apakah luka ini ada hubungannya dengan orang misterius yang sengaja masuk secara diam-diam ke dalam ruangan penelitian, Tuan Axeloe,," Gumam Vena dalam hatinya yang sepintas teringat dengan apa yang telah di dapatkannya hari ini.
Dan Vena baru teringat kembali atas apa yang telah ia lihat dan dapatkan hari ini. Bahwa sebenarnya Vena telah melihat seseorang dengan penampilan yang misterius sengaja masuk ke dalam ruangan penelitian Axeloe. Dengan sengaja orang itu melakukan suatu hal di dalam ruangan penelitian Axeloe yang sama sekali tidak dimengerti oleh Vena. Saat itu juga Vena berpikir apakah luka sebesar ini ada hubungannya dengan orang misterius yang sengaja masuk ke depan ruangan pribadi Axeloe.
****