Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 70 - Mengelak Semua Pertanyaan



Di dalam ruangan yang begitu gelap, membuat Martin merasa bahwa Alberto yang telah menangkapnya saat ini, seperti seekor ikan yang masuk dalam jaring, tidak bisa keluar dari arah manapun yang ia lihat saat ini.


Setelah, dengan sengaja Alberto memperlihatkan sebuah layar besar yang menandakan bahwa dialah orang yang menjadi pelaku atas diri Ziya, membuat Martin masih bisa berkelit dibalik video rekaman layar tersebut.


" Maksudmu, menangkapku seperti ini, hanya memperlihatkan aku dengan video itu, Hah,," Ucap Martin yang masih melihat video dirinya saat masuk ke dalam ruangan Alberto.


" Alberto,, Kau tidak punya bukti untuk menuduhku, atas tindakan yang kau perlihatkan dalam video rekamanmu itu,," Bilang Martin saat video terakhir memperlihatkan kedua mata besarnya, lalu, Video pertama selesai.


Terdengar suara bunyi hentakan sepatu Alberto yang mendekati Martin saat itu, sambil tertawa mendengar ucapan Martin yang mengatakan bahwa cuma sekedar video rekaman yang diperlihatkan Alberto kepadanya, bukan suatu bukti yang kuat untuk menuduh dirinya sebagai pelaku.


" Hahahaha,," Suara Tawa Alberto tergelak saat mendengar ucapan Martin yang menanyakan bukti kuat atas dirinya itu.


" Apa yang akan kau lakukan,, kalau aku perlihatkan bukti kuat di semua tubuhmu,," Ucap Alberto tajam yang mendekatkan bibirnya di samping Martin.


" Heh,,! Lepaskan aku,, aku tidak melakukan apa-apa,," Teriak Martin seolah-olah supaya orang lain yang berada diluar bisa mendengarkan suaranya.


Alberto tertawa lalu, mengeluarkan semua bukti yang telah ia dapatkan itu.


" Teriak saja, Martin,, Seperti ini teriakan Ziya saat kau menganiaya dirinya,," Ucap Alberto yang berbicara tegas kepada Martin saat itu.


Martin tidak terlalu mendengarkan ucapan Alberto yang menyebutkan nama Ziya saat itu, karena, dalam pikirannya saat ini hanya ingin lolos dari cengkraman Alberto yang sangat kuat itu.


" Aku sudah katakan padamu,, aku bukan pelakunya,," Teriak Martin yang masih saja mengelak atas kelakuannya itu.


" Kau lihat,, ini,," Bilang Alberto yang menunjukkan hasil screening mata miliknya Martin.


" Ini,," Bilang Alberto lagi sambil mengeluarkan bukti air liur saat dirinya menggigit dada Ziya dan hasilnya positif gen milik dirinya.


" Dan ini apa,," Bilang Alberto lagi menunjukkan darah yang telah ia periksa semuanya itu membuat Martin seketika menelan salivanya.


" Semua ini adalah bukti yang aku ambil Martin,," Bilang Alberto yang menatap tajam wajah Martin.


" Kau, masih saja mengelak atas perlakuan dirimu yang telah terbukti,," Bilang Alberto tegas di dekat telinga Martin saat itu.


Lalu, sesaat Alberto menyentuh luka yang ada di kepala Martin saat itu. Dan, menekannya dengan kuat sehingga membuat Martin teriak karena, merasa sangat sakit pada bagian luka yang baru di kepalanya itu.


" Aaaakkhhh,, Alberto, apa yang kau lakukan,," Teriak Martin merasakan sakit di atas kepalanya.


" Sakit,, sungguh pintar istriku, membuat luka dan jejak di kepala ini,," Bilang Alberto geram memandang wajah Martin.


" Jangan kau siksa aku lagi, Alberto, baik aku, akan mengaku,, memang benar aku adalah orangnya,," Bilang Martin yang mengakui dirinya itu yang telah melakukan semua tindakan bodohnya itu.


Lalu, Alberto merasa tidak terlalu puas atas pengakuan dari Martin. Ia ingin sekali mengetahui apa maksud dari Martin yang sengaja menyelinap masuk ke dalam kamarnya itu.


Pasti ada sesuatu yang ingin dilakukannya ?


Saat dirinya sedang keluar dari kamarnya itu. Mencari kesempatan dalam mendayung dua perahu.


Sesaat, Alberto menekan luka itu kembali sehingga membuat Martin berteriak sekencang mungkin, karena, Alberto dengan sengaja melemahkan tubuhnya saat ini.


" Akkkhh,, Alberto,, lebih baik kau bunuh aku daripada kau menyiksaku seperti ini,," Bilang Martin yang merasa kesakitan atas kelakuan Alberto.


Terlihat senyuman puas dari Alberto, karena dirinya telah berhasil menyakiti tubuh Martin sedikit demi sedikit seperti apa yang dilakukan Martin kepada Ziya sebelum ini.


" Apa,,, kau mau mati, baik akan kulakukan itu,," Bilang Alberto yang segera mengacungkan pistolnya tepat di kepala Martin.


Membuat Martin saat itu memejamkan matanya begitu terlihat sangat ketakutan dari sikapnya itu. Karena, melihat wajah Martin yang begitu ketakutan membuat Alberto senang.


Lalu, hal tersebut tidak dilakukan oleh Alberto karena, ia ingin tahu apa maksud dari Martin yang mau masuk ke dalam kamarnya itu, bukan hanya ingin memperkosa Ziya melainkan hal lain yang telah direncanakan itu.


" Saat ini, aku belum menginginkan nyawamu, dan untuk sementara nyawamu masih ada Martin,," Bilang Alberto yang menarik balik pelatuk pistolnya Sehingga membuat Martin menarik nafasnya dengan lega.


" Cepat katakan,, apa tujuanmu menyelinap ke kamarku,, hah,,!" Tanya Alberto kepada Martin.


" Aku, sudah katakan,, aku hanya ingin bersama Zoya,," Teriak Martin yang keras di depan wajah Alberto.


Seolah tidak percaya, Alberto merasa permasalahan ini tidak akan selesai dengan menanyakan terus menerus kepada Martin yang suka sekali berkelit lidah ini. Lebih baik urusan menanyakan apa maksud dirinya yang sengaja masuk ke dalam kamarnya itu, diserahkan kepada pengawalnya yang lain.


Lalu, Alberto memerintahkan Frengky untuk segera memerintahkan anak buahnya menanyakan apa maksud dari Martin yang sangat ingin sekali masuk ke dalam kamarnya itu.


" Frengky,, perintahkan kepercayaanmu untuk menyiksa dia, kalau dia tidak mau menjawab semuanya dengan jujur." Bilang Alberto yang sudah malas untuk menanyakan langsung kepada Martin saat ini.


Lebih baik, Martin saat ini disekap di ruang tahanannya dulu. Dan, ingin segera mengetahui apa yang dilakukan Martin selain datang untuk memper-kosa Ziya. Pastinya ada hal lain yang ingin dilakukannya itu.


" Baik, Tuan,," Jawab Frengky.


Martin yang mendengarkan tidak bisa berbicara karena, tubuhnya saat ini sudah cukup lelah untuk berteriak dan melawan. Jadi, dengan tubuh yang tidak berdaya itu membuat Martin tergeletak di atas lantai yang sangat dingin dan juga lembab itu.


Sesaat Frengky memerintahkan anak buahnya untuk menanyakan apa yang diinginkan oleh Alberto saat ini. Anak buah Frengky memahami dan menuruti perintah Alberto dan juga Frengky saat itu.


Setelah selesai, Alberto yang diiringi oleh Frengky dan beberapa pengawal lainnya berjalan keluar dari tempat pengungsian yang sangat mematikan bagi seorang pengkhianat di kediaman Alexandre ini.


Sesampainya di luar, Frengky memberikan ponsel milik Alberto yang dipegangnya selalu berdering saat Alberto sedang di dalam tadi. Zavier sang anjing pelacak yang telah menelepon Alberto beberapa kali itu.


" Maaf Tuan,, saat Tuan di dalam,, Tuan Zavier menelepon,," Ucap Frengky yang segera mengeluarkan ponsel milik Alberto yang berada di dalam sakunya.


" Benarkah,," Jawab Alberto yang langsung melihat layar ponselnya.


Ternyata benar, sudah berapa kali Zavier menelpon dirinya. Ia pun segera langsung menelepon Zavier balik. Dan, saat itu cepat sekali diangkat oleh Zavier.


" Ada apa,,?" Tanya Alberto kepada Zavier di dalam teleponnya.


" Aaahh,, Dude, kau kemana saja,, aku ingin memberikan laporan padamu,," Bilang Zavier yang sedikit kesal pada Alberto.


" Katakan apa,," Tanya Alberto yang hanya ingin mengetahui intinya saja.


" Ada mata-mata lain yang sengaja dikirim untuk istrimu,," Ucap Zavier dibalik telepon Alberto saat ini.


" Heh,,!! aku sudah mengetahuinya itu,," Jawab Alberto yang membuat Zavier sedikit terdiam.


" Kau, sudah mengetahuinya,," Bilang Zavier singkat.


" Ya, siapa lagi kalau bukan Erwin, yang ingin memata-matai keberadaan Zoya saat ini." Jawab Alberto dengan entengnya.


" Oke, Dude, thanks atas penjelasannya, aku akan beraksi,, aku suka permainan ini,," Ucap Zavier yang mengakhiri teleponnya.


Alberto tersenyum mendengar ucapan Zavier yang merasa suka sekali bermain dengan nyawa, sehingga membuat Alberto membebaskan gerakan Zavier disaat ia sedang berada di luar ini. Terserah Zavier mau melakukan apa ?


Yang terpenting bagi Alberto adalah tindakan Zavier tidak keluar dari rencana yang telah mereka atur itu.


" Bagaimana keadaannya,,?" Ucap Alberto yang penasaran terhadap keadaan Ziya.


Lalu, Alberto teringat akan keadaan Ziya, apakah saat ini Ziya sudah membaik. Dengan cepat, Alberto menelepon nomor ponsel Vena, untuk menanyakan bagaimana keadaan Ziya saat ini.


Beberapa kali, Alberto menelepon Vena tapi, tidak diangkat sedikitpun.


" Kemana, Vena, kenapa teleponnya tidak diangkat sedikitpun." Ucap Alberto yang penasaran terhadap keadaan Ziya saat ini, karena, kenapa Vena tidak mengangkat telepon darinya.


Lalu, Alberto tercekat melihat teleponnya yang berbunyi, karena, telepon dari asisten pribadinya yang berada di luar negeri saat ini.


" Halo,," Ucap Alberto menerima telepon dari asisten pribadinya di luar negeri tepatnya di Jerman.


" Halo, Tuan,, besok kita akan mengadakan rapat dengan Mister Jackson atas proposal permintaannya terhadap Hotel kita yang telah berpartner saham dengannya." Bilang asisten pribadi Alberto yang berada di Jerman


Alberto teringat saat dirinya mau pergi ke kantor, dimana Ziya sedang mengalami hal yang mengenaskan memang dirinya akan melakukan rapat di kantornya untuk membahas tentang masalah saham Hotel miliknya yang berada di Jerman.


" Ooohh,, baik, terima kasih sudah mengingatkan,," Ucap Alberto terakhir dan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah luar untuk segera pergi ke kantornya saat ini.


Lalu, Alberto segera memerintahkan Frengky untuk mempersiapkan kepergian dirinya saat ini juga.


" Frengky, Siapkan semuanya, kita berangkat hari ini,," Ucap Alberto kepada Frengky memerintahkan untuk menyiapkan semua berkas dan kebutuhan yang diperlukan saat rapat di Jerman nanti.


" Baik, Tuan,," Jawab Frengky yang segera melangkah menjalani perintah dari Alberto.


Sesaat Alberto merasakan ponselnya berbunyi kembali dan terlihat di layar Vena sedang menelepon. Alberto tahu bahwa Vena ingin memberikan laporan keadaan Ziya saat ini.


" Bagaimana keadaannya,," Tanya Alberto langsung kepada Vena.


" Syukurlah, Tuan, keadaan Nyonya sekarang sudah membaik." Jawab Vena dibalik telepon Alberto.


" Laporkan terus perkembangan keadaan dirinya kepadaku,, dan ingat jangan pernah mengkhianati kepercayaan dariku,," Bilang Alberto mengingatkan Vena kembali.


" Demi keluarga dan nyawa saya, saya berjanji tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Tuan,," Bilang Vena yang serius membuat Alberto cukup lega atas jawaban dari Vena saat ini.


" Bagus,, tetap jaga dia, dan dua hari lagi aku akan kembali,, jangan katakan apapun tentang diriku padanya,," Bilang Alberto yang memerintahkan Vena untuk tidak memberitahu Ziya tentang dirinya saat Ziya sadar.


" Ba, baik Tuan,," Jawab Vena yang mengikuti perintah Alberto saat itu.


Setelah selesai, menelepon dan memerintahkan Vena Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke luar rumahnya dan segera menaiki mobil yang telah menunggunya di luar.


Sementara itu, Alberto yang tidak mengetahui bahwa sang adik Alexa telah memberitahu Gladys Ibunya tentang keadaan Martin saat ini. Bahwa Martin telah ditangkap dan disekap oleh Alberto yang mana posisi penyekapan itu sama sekali tidak diketahui oleh siapapun saat ini.


" Mommy,, Mommy,," Suara Alexa terdengar mengelilingi semua sudut tempat dimana biasanya Mommynya dan Claire kumpul bersama merencanakan sesuatu di dalam rumah ini.


Sesaat Alexa, tidak menemukan jejak dimana keberadaan Mommy Gladys saat ini. Lalu, Alexa segera mengambil ponselnya dan menelepon ponsel Mommy Gladys yang tidak tahu dimana keberadaannya saat ini.


" Mommy,, dimana,,?" Bilang Alexa yang sedang berada di kamar Mommynya saat ini.


" Ada apa,, Honey,, Mommy sedang bersama Claire di taman,," Jawab Gladys yang memberitahu keberadaanya saat ini.


" Mommy cepat kembali,, Kak Martin ditangkap Kak Alberto sekarang,," Bilang Alexa secara langsung pada Mommynya.


" Hah!! Apa,," Ucap Gladys yang terdengar sangat kaget di telepon Alexa saat ini.


" Maksudmu, apa Alexa,,?" Tanya Gladys yang terdengar tidak mengerti maksud dari Alexa saat ini.


" Mommy, cepat kembali biar Alexa jelaskan semuanya,," Ucap Alexa yang menginginkan Gladys kembali ke kamarnya saat ini juga.


Bukan penjelasan dari telepon, Alexa ingin memberitahu secara langsung keadaan dan apa yang telah terjadi pada Martin saat ini.


Sementara itu,,


Di sebuah taman tempat dimana dua wanita yang selalu berdua merencanakan sesuatu hal keburukan sedang duduk santai sambil menikmati teh yang telah disuguhkan itu membuat mereka berdua semakin santai untuk merancang sebuah rencana yang ingin dilakukannya saat ini.


" Jadi,, kapan kita akan melakukannya Aunty,," Tanya Claire pada Gladys yang sedang duduk santai tepat di hadapannya saat ini.


" Heemm,, setelah dia pergi, kita akan segera melakukannya, Claire,," Ucap Gladys tersenyum sinis sambil menaikkan kedua alisnya, menatap wajah Claire dengan tersenyum kemenangan.


" Terima kasih, Aunty," Ucap Claire dengan menampakkan senyum kemenangan.


" Aku sudah tidak sabar, untuk mengeluarkan ja-lang itu dari rumah ini,," Bilang Claire yang sangat tidak menyukai kedatangan Ziya ke dalam rumah ini.


Karena, semenjak kedatangan Ziya itu, membuat Alberto saat ini sangat jauh dari dirinya. Karena, terlihat dari sikap Alberto yang begitu memperhatikan keadaan Ziya saat ini.


" Kau pikir kau saja, yang tidak sabar untuk segera membuang wanita ja-lang itu, aku juga,, kau pikir, aku tidak merasa sabar, akan keputusannya saat ia mengatakan ingin memberi kepemimpinan kepada adik laki-lakinya yang gila itu." Ucap Gladys yang merasa tidak suka atas keputusan Alberto yang memang sengaja mengatakan bahwa Axelo yang lebih berhak atas kepemilikan dan kepemimpinan perusahaannya yang berada di Group A itu.


" Ya, itu karena, dia merasa kurang suka dengan sepupuku Martin, oleh sebab itu, dia memilih adiknya untuk menjadi pemimpin di perusahaannya bagian Group A." Ucap Claire yang merasa bahwa keputusan Alberto hanya berpihak sebelah saja.


" Tapi, tenang, Aunty, setelah aku mendapatkan dirinya, maka semuanya akan kita kendalikan,," Ucap Claire yang tersenyum penuh kemenangan itu.


Sesaat, Gladys dan Claire yang tersenyum penuh kemenangan itu akan rencana yang akan ia lakukan. Sesaat, kemudian, ponsel milik Gladys berbunyi dan Gladys melihat bahwa putrinya Alexa sedang meneleponnya saat ini.


***