
Vena langsung mengerti dan segera mendekati Ziya. Lalu, Ziya segera membicarakan suatu hal yang telah terjadi padanya dan rencana yang dimilikinya terhadap Martin.
" Vena apa kau mempercayaiku ?" Tanya Ziya kepada Vena dengan tatapan serius.
" Ya, Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.
" Saat kau terkena racun atas ulah yang dilakukan oleh Mommy Gladys dan Claire, apakah kau merasa bahwa Martin ikut campur dengan mereka ?" Tanya Ziya langsung pada Vena.
Karena, saat itu Vena sebagai salah satu saksi mata yang ada dan telah jelas mendengarkan semua ucapan yang disampaikan oleh Gladys dan Claire di dalam ruangannya.
" Maaf Nyonya sebelumnya, Vena sama sekali tidak mendengarkan ucapan mereka bahwa Tuan Martin melakukan sesuatu rencana dan berkomplot dengan mereka, namun sangat jelas sekali terlihat bahwa Nyonya Gladys ingin mengeluarkan Tuan Martin dari penyekapan yang dilakukan oleh Tuan Alberto." Bilang Vena yang baru saja memberitahu kejadian sebenarnya pada Ziya.
Ziya mengangguk mendengarkan ucapan Vena yang menjelaskan kejadian yang telah terjadi pada Vena. Ziya ingin mengetahui apa saja yang telah direncanakan oleh kedua wanita itu selama ini terhadap Alberto.
" Dan, apakah kau mendengar ucapan Mommy Gladys bersama Claire untuk merencanakan sesuatu terhadap suamiku,," Bilang Ziya lagi pada Vena.
Ziya sebenarnya ingin mengetahui semuanya apa saja yang telah terjadi saat itu. Karena, saat itu tubuhnya sangat lemah hingga dirinya bisa dikalahkan oleh Martin, dan Martin dengan sengaja ingin memper-kosa dirinya.
" Tidak Nyonya saya hanya mendengarkan ucapan Nyonya Gladys saat itu sangat jelas sekali, mengatakan bahwa ia sangat ingin membunuhmu Nyonya dan menyingkirkan Tuan Muda Demian dari tempat ini,," Ucap Vena yang menjelaskan secara detail apa saja yang dikatakan oleh Gladys dan Claire saat ia berada di dalam ruangannya itu.
Ziya terperangah mendengar ucapan yang disampaikan oleh Vena padanya. Bahwa dengan sangat jelas Gladys dan Claire ingin menyingkirkan dirinya dan juga putranya. Kalau hanya sekedar berkaitan dengan dirinya, Ziya tidak terlalu marah akan rencana yang dilakukan mereka itu, namun, Ziya sangat marah jika orang lain dengan sengaja mengusik ketenangan dan keamanan putranya itu.
" Apa, mereka ingin menyingkirkan Demian ?" Tanya Ziya langsung pada Vena dengan mata yang membulat sempurna.
" Ya, Nyonya, itu hanya sekilas saja saya dengarkan Nyonya,," Jawab Vena mengangguk dengan penjelasannya secara detail.
" Kurang ajar, percuma saja aku baik dan sopan dengannya, selama ini aku tidak mau membalas kejahatan Gladys karena, ia berusia sama dengan orang tuaku, tapi, karena dia telah bermain dengan putraku, baik aku ingin lihat apakah rencana busuk mereka akan berhasil." Bilang Ziya dengan sangat marah saat mengetahui bahwa Gladys dan Claire berencana mengganggu keselamatan putranya.
" Selama ini, saya tidak memberitahu Nyonya, karena, saya takut akan terjadi apa-apa pada Nyonya apabila Nyonya mengetahui rencana mereka,," Ucap Vena yang merasa khawatir telah memberitahu Ziya tentang semua hal kebenaran yang ada.
" Terima kasih Vena, kau telah menjelaskan semuanya padaku, kau sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri, jadi, jangan takut memiliki saudara sepertiku,," Ucap Ziya yang menguatkan hati Vena.
" Ya, Nyonya Vena mempercayai Nyonya akan tindakan Nyonya ini,, namun, apakah akan terjadi sesuatu pada Tuan Muda jika Nyonya ingin mengetahui rencana buruk dari mereka," Bilang Vena yang menatap bertanya pada Ziya.
Terlihat Ziya sedikit menaikkan ujung bibirnya. Lalu, menoleh anggun ke arah Vena.
" Mereka tidak akan bisa melakukan hal jahat terhadap putraku, jika satu titik saja mereka melakukan kejahatan terhadap putraku, maka, satu nyawa dari mereka yang akan menjadi korban." Ucap Ziya lembut dengan tatapannya yang tajam.
Vena terperangah melihat keberanian yang ada dalam diri majikannya ini, karena, selama ini, Vena tidak pernah melihat keberanian yang begitu besar dari majikannya yang begitu lembut ini.
Seperti kata pepatah Jangan pernah mengganggu macan yang sedang tidur kalau tidak mau diterkam olehnya.
Vena merasa bangga atas keberanian yang dimiliki oleh majikannya itu, dalam hati, Vena berpikir pantas saja wanita lain tidak akan bisa menjadi istri seperti Tuan Besarnya yang banyak sekali memiliki lawan musuh yang jahat, namun, jika Tuan Besarnya itu memiliki istri seperti majikannya itu, itu baru merupakan suatu pasangan yang sangat tepat sekali.
Lalu, sekilas Ziya teringat akan surat dari Martin, bahwa ia memiliki kejutan terhadap dirinya. Ziya berpikir bahwa Martin melakukan ini semua tidak ada hubungannya dengan kedua wanita ular itu. Berarti Martin melakukan rencananya itu hanya dilakukannya sendiri tanpa sepengetahuan oleh kedua wanita itu.
" Bagus, sepertinya banyak sekali yang bermain licik di kediaman ini,," Ucap Ziya yang menyipitkan salah satu matanya.
" Berarti benar, Martin telah melakukan sesuatu di kamar Alberto, hanya ingin mendapatkan suatu keinginan rahasianya,," Bilang Ziya yang membuat Vena juga bingung dan penasaran.
" Maksud Nyonya ?" Tanya Vena.
" Karena, kau telah mempercayaiku, aku harap kau jangan katakan pada siapapun tentang hal yang telah terjadi padaku hari ini, termasuk suamiku Alberto," Bilang Ziya yang membuat perjanjian kepada Vena.
Vena merupakan tipe orang yang sangat dipercaya akan kesetiaannya itu, sehingga membuat Ziya begitu mempercayai asistennya ini.
" Baik Nyonya, Vena berjanji tidak akan memberitahukan suatu hal yang telah terjadi pada Nyonya kepada siapapun." Ucap Vena mengangguk dan berjanji dengan penuh keyakinan.
Ziya mengangguk pasti dan dengan segera Ziya mengeluarkan kertas surat dari Martin yang baru saja ia baca itu, lalu dengan segera Ziya memberikan kertas surat ini kepada Vena. Vena merasa heran dengan suatu benda yang dikeluarkan Ziya itu, Vena pikir itu merupakan surat wasiat atau surat apa dan Vena tidak mengetahui bahwa itu adalah surat yang telah diberikan oleh Martin kepada Ziya siang tadi.
" Baca ini,," Bilang Ziya yang mempercayai Vena akan surat yang diberikan Martin kepadanya.
" Membacanya, Nyonya ?" Tanya Vena yang menerima surat dari tangan Ziya.
" Ya, kalau kau tidak membacanya kau tidak akan tau maksud dan rencanaku,," Ucap Ziya menjelaskan secara detail apa yang ingin dilakukannya itu.
Dengan perlahan Vena membuka surat itu dan membacanya per kalimat. Saat pertama kali Vena membaca surat itu, Vena terperangah melihat isi surat yang begitu membuatnya terkejut dan panik.
" Hah!! Apa, Nyonya,," Ucap Vena yang terperangah dan sedikit membuat Ziya menatapnya penuh keyakinan.
" Baca saja sampai habis,," Ucap Ziya yang menyuruh Vena untuk menghabiskan isi surat tersebut.
" Baik, Nyonya,," Jawab Vena yang mengulang kembali membaca semua isi surat itu.
Setelah selesai semua membaca isi surat itu, Vena segera berkomentar bahwa isi surat tersebut ancaman untuk Ziya dan juga Alberto. Maksud dan tujuan Martin adalah menginginkan Ziya, agar Ziya mau bersama dengannya jika rencananya berhasil melenyapkan Alberto.
" Ini ancaman Nyonya, kita harus segera memberitahu Tuan Alberto tentang hal ini,," Ucap Vena yang segera ingin memberitahukan Alberto tentang surat dari Martin untuk Ziya.
Saat Vena mengatakan ingin segera memberitahu Alberto, dengan segera Ziya menggelengkan kepalanya dan menutup mulut Vena menggunakan telapak tangannya.
Lalu, Ziya segera menyambungkan suatu hal yang ingin disampaikannya itu.
" Aku sudah mempercayakan dirimu Vena, jadi jangan katakan langsung kepada suamiku tentang apa yang telah kau baca ini," Bilang Ziya yang menatap serius wajah Vena.
" Tapi, Nyonya ini ancaman bagaimana dengan keselamatan Nyonya, jika terjadi apa-apa pada Nyonya bagaimana saya harus menjawabnya di depan Tuan Besar." Ucap Vena yang merasa takut atas isi surat dari Martin untuk Ziya.
" Jangan takut Vena, kau percaya padaku bukan, aku memiliki suatu rencana terhadap orang yang ingin mencelakakan suamiku dan keluargaku,," Ucap Ziya langsung pada Vena dengan penuh keyakinan.
Jelas sekali membuat Vena sangat terperangah mendengar ucapan Ziya itu, awalnya Vena takut akan keselamatan majikannya ini, namun, Ziya telah meyakinkan Vena untuk tetap melakukan hal ini.
" Tapi, Nyonya ini sangat mengerikan," Ucap Vena lagi yang masih saja bersikeras untuk mencegah tindakan yang ingin dilakukan oleh majikannya itu.
Ziya tersenyum lembut menatap Vena dan meyakinkan Vena tentang rencananya itu pasti akan membuahkan hasil yang diharapkan.
" Kau jangan takut, Vena, kau cukup mengawasiku dan melindungiku dari kejauhan jangan sampai ketahuan oleh Martin saat kita melakukan rencana ini,," Ucap Ziya yang menyemangati Vena atas rencananya itu.
" Tapi, Nyonya aku takut terjadi sesuatu hal pada Nyonya,," Bilang Vena yang masih saja merasa takut akan rencana majikannya ini.
Ziya melihat betapa khawatir dan cemasnya perasan Vena saat ini, oleh sebab itu, Ziya segera memberikan nasehat kepada Vena, bahwa jangan pernah berpikir takut untuk menghadapi semua orang yang memiliki sifat licik dan jahat seperti Gladys, Claire dan Martin.
" Vena, jangan takut, kau telah bekerja dengan seorang mafia, jadi kau tidak perlu takut, jika kau takut dan selalu takut maka kematian yang tak terlihat akan terjadi," Ucap Ziya yang memberikan nasehat kepada Vena.
" Aku ingin kau yakin akan kekuatan yang kau miliki, jangan pernah merasa kalah sebelum bertindak,," Ucap Ziya lagi menasehati Vena.
" Dan aku harap kau mempercayaiku untuk mendapatkan keberhasilan dari rencanaku ini,," Bilang Ziya tegas pada Vena, sehingga membuat Vena hanya bisa yakin dengan ketegasan dari majikannya itu.
" Baik Nyonya, tapi Vena mohon semoga Nyonya selalu baik-baik saja,," Bilang Vena dengan sengaja memeluk Ziya.
Vena hanya bisa pasrah merasa cemas dan takut untuk melakukan rencana besar dari majikannya itu. Vena cuma berharap semoga rencana besar dari majikannya ini bisa berhasil.
" Ya, Vena, terima kasih sudah banyak mendukungku,," Ucap Ziya yang menepuk pundak Vena dengan rasa semangat yang besar.
Ziya tersenyum melihat kelakuan Vena sangat akrab dengan dirinya, sehingga dengan sangat yakin dan pasti, Ziya bertekad kuat tetap menjalankan misi rahasianya ini. Walaupun tidak melakukannya dengan sendiri, Ziya yakin dan percaya bahwa rencananya ini akan berhasil dengan sempurna.
Sementara itu, Gladys dan Claire sedang pergi menuju ke suatu tempat di istana Alexandre ini, ya, pastinya selalu ke ruangan Martin untuk melihat bagaimana keadaan Martin saat ini. Gladys dan Claire segera memasuki ruangan yang selama ini disediakan oleh Alexandre kepada siapa saja yang telah tinggal di tempatnya ini.
Namun, orang-orang yang berada di kediaman ini merasa kurang akan pemberian Alberto yang begitu banyak terhadap orang yang telah menumpang itu, merasa kurang puas dengan hal yang diinginkannya.
" Martin,," Panggil Gladys mengetuk pintu kamar Martin.
Martin segera membuka pintu kamarnya dan terlihatlah saat ini Martin sudah sembuh total, karena, sedari pagi tadi, Martin sudah mengunjungi Alexa adik perempuannya itu, namun, Alexa sudah tidak berada di kamarnya dan saat itu juga Martin berpapasan dengan wanita pujaannya itu yaitu Ziya.
" Heemm,, ada apa Mom ?" Tanya Martin saat membuka pintu kamarnya.
" Ada apa, tentu saja menjenguk keadaanmu,," Jawab Gladys melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
" Aku sudah sembuh dan sudah sehat,," Bilang Martin yang merasa bosan jika didatangi oleh Mommynya ini.
Karena, Martin sangat kecewa dengan sikap Mommynya yang selalu melarang dirinya berhubungan gelap dengan Zoya. Padahal Martin memang begitu mencintai dan menyukai Zoya. Tapi, sampai saat ini Martin belum pernah mendapatkan balasan cinta dari Zoya. Karena, selama ini ia hanya berpura-pura menyatakan bahwa Zoya juga menyukainya. Oleh sebab itu, Martin melakukan rencananya sendiri tanpa sepengetahuan Mommynya. Untuk mendapatkan wanita pujaannya itu, namun Martin tidak tahu bahwa wanita pujaannya itu sudah tidak berada di rumah ini lagi.
" Heemmm,, kau ini, bukannya berterima kasih Mommy datang kesini, malah terlihat kau sedang mengusir Mommy,," Bilang Gladys pada Martin.
" Bukan mengusir Mom, tapi, Martin ingin keluar dan pergi, kalau Mommy mau tinggal di kamar ini, ya sudah tunggu saja,," Ucap Martin yang sangat malas sekali berbicara kepada Ibunya.
Saat Claire mendengarkan ucapan Martin seperti itu terhadap Auntynya Claire merasa bahwa Martin memang sangat jelas sedang mengusir Auntynya itu.
" Kau ini, bukannya berterima kasih Aunty datang kesini menjenguk keadaanmu, malah kau sengaja mengusirnya,," Bilang Claire yang jelas-jelas sekali melawan Martin dan membela Gladys.
" Claire, bukannya sudah ku jelaskan bahwa aku ingin keluar,," Bilang Martin yang membela dirinya.
" Sudah, sudah jangan ribut,," Ucap Gladys menengahi perdebatan yang terjadi pada Claire dan Martin.
" Ya sudah kalau kau mau keluar, hati-hati ya sayang,," Ucap Gladys lagi sambil menciumi pipi kiri dan kanan Martin.
" Heemmm, Ya, Mom,," Jawab Martin.
" Heh! Dasar anak tidak tahu diri, jelas-jelas kau bisa bebas karena Aunty, kau malah dengan sengaja beralasan ingin pergi,," Ucap Claire dengan cerewet saat ikut melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Martin.
" Sudah Claire, shut up,," Bilang Gladys yang menengahi perdebatan yang terjadi di antara Martin dan Claire.
" Come let's go,," Ucap Gladys mengajak Claire untuk segera meninggalkan ruangan Martin.
Gladys tahu sikap Martin seperti itu, karena, Gladys juga merasa bersalah dengan putranya itu, demi mendapatkan kekayaan yang besar dan banyak, Gladys pergi meninggalkan suaminya dan lebih memilih menikah dengan laki-laki idamannya yaitu Vasco Alexandre.
Memang waktu itu Vasco belum sekaya dan sebonafid seperti saat ini, tapi, setelah Alberto dewasa dan menjalankan semua bisnisnya dengan sangat rapi, membuat Gladys tergiur untuk merebut kembali apa yang sebenarnya menjadi miliknya yaitu keinginannya untuk mendapatkan Vasco Alexandre.
****