Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 155 - Kelembutan Ziya



Isabelle merasa sangat nyaman ketika Ziya memeluk tubuhnya, terasa hangat dan begitu menyenangkan apabila seorang Ibu memeluk tubuhnya seperti saat ini. Tidak seperti Claire yang mengaku memperdulikan adanya Isabelle, tapi, sekali belum pernah Claire mendekati dan memeluk tubuh Isabelle seperti saat ini. Isabelle membiarkan Ziya memeluk tubuhnya sangat lama, supaya dia bisa mengetahui bagaimana indahnya dipeluk oleh seorang Ibu.


" Terima kasih, karena kau mau menyayangiku, apakah kau menganggapku sama seperti Demian ?" Tanya Isabelle ketika masih di dalam pelukan Ziya.


" Ya, kenapa tidak, kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri, jadi, kau dan Demian sama, hanya ada perbedaan kau perempuan dan Demian laki-laki,," Bilang Ziya yang membuat Isabelle sedikit menyunggingkan senyumannya.


" Benarkah ?" Tanya Isabelle yang perlahan melepaskan pelukannya.


" Heemm,, jadi jangan pernah menganggap saya tidak perduli padamu, sayang,," Bilang Ziya yang membuat Isabelle mengangguk.


" Baiklah,," Jawab Isabelle mengangguk.


Tak lama kemudian, beberapa pelayan masuk ke dalam kamar Isabelle dengan membawa semangkuk bubur hangat dan berbagai macam makanan untuk disantap oleh Nona Mudanya ini.


" Ini Nyonya semua makanan yang telah dipesankan oleh Vena dari Nyonya,," Ucap salah satu pelayan yang meletakkan makanan di atas meja samping tempat tidur Isabelle.


" Heemm, terima kasih,," Bilang Ziya singkat.


Namun, karena, terlalu waspada akan semua orang di dalam kediaman ini, Ziya segera memerintahkan beberapa pelayan itu, untuk mencicipi makanan yang telah dibawa oleh mereka.


" Kalian tidak lupa akan tugas kalian, bukan,," Ucap Ziya yang membuat salah satu pelayan maju untuk mencicipi makanan itu.


Isabelle terharu melihat kewaspadaan Ziya terhadap makanan yang akan disantapnya, begitu terlihat jelas bahwa Ziya saat ini memang sungguh menyayanginya.


" Iya, Nyonya,," Jawab salah satu pelayan maju dan segera mengambil sedikit demi sedikit makanan yang telah disiapkan itu.


Setelah melihat reaksi pelayan yang mencicipi makanan itu tidak bermasalah, Ziya segera mengambil satu mangkuk cukup besar berisi bubur nasi untuk diberikan pada Isabelle. Isabelle sebenarnya mau menolak akan tindakan Ziya yang memberikannya makanan yang begitu banyak sekali.


" Aku tidak bisa makan sebanyak itu,," Ucap Isabelle yang sedikit menolak kelakuan Ziya yang memberikan makan untuknya.


" Heemm, tidak ada penolakan, kau sakit karena, kau kurang makan, jadi harus dimakan,," Bilang Ziya yang terdengar sangat lucu bagi Isabelle.


" Tapi, tapi, aku takut tubuhku akan gemuk,," Ucap Isabelle yang wajahnya sedikit memerah.


" Memangnya kenapa kalau gemuk, malah lebih bagus kau lebih terlihat cantik,," Ucap Ziya yang menjawil pipi Isabelle.


Mendengar ucapan Ziya seperti itu, Isabelle hanya bisa tertawa kecil menatap Ziya. Karena, Isabelle tidak sanggup menyantap makanan sebanyak itu, namun, karena, Ziya yang telah menyuapinya akhirnya Isabelle bersedia menghabiskan makanannya itu, karena, selama ini Isabelle belum pernah merasakan makan disuapi terlebih dahulu oleh seorang Ibu.


" Jadi, ayo dimakan makanannya," Ucap Ziya yang sengaja menyuapi Isabelle.


" Aaaaaa, sayang buka mulutnya,," Bilang Ziya lagi yang menyuruh Isabelle untuk membuka mulutnya.


Dengan, wajah yang sedikit merasa senang, mau tidak mau Isabelle menuruti perkataan Ziya untuk membuka mulutnya. Dengan perlahan Isabelle membuka mulutnya dan dengan lembut Ziya memasukkan satu sendok bubur ke dalam mulut Isabelle.


" Bagus, anak pintar," Ucap Ziya yang memuji Isabelle saat menyantap makanannya.


Ziya menyuapi bubur pada Isabelle hingga bubur itu sedikit lagi akan habis, namun, Isabelle sudah merasa cukup kenyang, sehingga Isabelle menolak bubur yang tinggal sedikit itu.


" Aku sudah kenyang,," Ucap Isabelle ketika melihat buburnya tinggal sedikit.


" Eiittss,, buburnya tinggal sedikit jadi harus dihabiskan, supaya kau cepat sembuh, Sayang,," Bilang Ziya lagi yang masih tetap menyuapi Isabelle.


Mau tidak mau, Isabelle menghabiskan semua bubur yang tersisa itu, dengan lembut Ziya mengelap bibir Isabelle menggunakan tisu, sehingga Isabelle menatap Ziya sungguh dalam.


" Bagus anak pintar,," Ucap Ziya sambil meletakkan kembali mangkuk bubur dan mengambil segelas air putih untuk Isabelle.


Lalu, memberikannya langsung pada Belle, setelah itu, Ziya membersihkan mulut Belle yang sedikit belepotan menggunakan tisu.


" Ternyata dia memang sudah berubah, kenapa, dia terlihat sangat baik padaku,," Gumam Isabelle dalam hatinya sambil menatap Ziya yang sedang mengelap mulutnya itu.


Tak lama kemudian, Vena kembali dari luar, dengan membawa semua obat yang telah diberikan resep dari dokter.


" Ini, Nyonya,," Ucap Vena yang memberikan bungkusan berisi obat untuk Isabelle.


" Terima kasih, Vena,," Ucap Ziya yang menerima bungkusan obat dari Vena.


Lalu, Ziya kembali menghadap Isabelle dan mengeluarkan beberapa pil untuk Isabelle. Setelah takaran obatnya telah sesuai dengan resep dari dokter, sambil membawa segelas air putih, Ziya memberikan obat itu pada Isabelle. Untung saja Isabelle sangat mudah menelan obatnya sehingga membuat Ziya hanya bisa tersenyum melihat Isabelle yang telah selesai menelan obat.


" Ini sayang, obatnya, kau harus menelan semua obat ini, supaya kau cepat sembuh," Bilang Ziya sambil memberikan beberapa pil dan segelas air putih kepada Isabelle.


Isabelle hanya mengangguk dan mengambil semua pil yang ada di tangan Ziya dengan sekaligus Isabelle menelan semua pil itu, membuat Ziya tersenyum melihat kelakuannya.


" Bagus, ternyata kau sangat mudah menelan obat sayang,," Ucap Ziya yang memuji Isabelle dan tersenyum padanya.


Setelah melihat Isabelle telah menelan semua obatnya, dengan segera Ziya merapikan tempat tidurnya Isabelle dan menyuruh Isabelle untuk segera beristirahat.


" Sekarang, istirahat ya sayang, jangan melakukan apapun, kalau membutuhkan sesuatu langsung hubungi Vena,," Ucap Ziya yang merapikan tubuhnya Isabelle.


" Apakah esok kau tidak akan berubah padaku ? Dan apakah besok kau akan tetap baik padaku seperti sekarang ?" Tanya Isabelle langsung pada Ziya.


Setelah selesai merapikan tubuh Isabelle dan menyelimutinya, sambil tersenyum Ziya kembali duduk di samping Isabelle dan menjawab semua pertanyaan yang ada.


" Heemmm, aku tidak akan berubah sayang, aku akan tetap seperti ini padamu, aku akan selalu merawatmu dan menyayangimu," Ucap Ziya yang tersenyum tulus pada Belle.


" Benarkah ?" Tanya Belle dengan mata yang berbinar-binar.


" Ya, kau bisa saja bercerita padaku apa saja yang kau suka dan mungkin kita bisa pergi bersama ke suatu tempat yang kau inginkan, asal kau harus meminta izin terlebih dahulu pada Daddy,," Bilang Ziya lembut menatap wajah Isabelle.


Dan, saat Ziya menyebutkan Daddy di depan Isabelle tampaklah wajah sedih Isabelle di hadapan Ziya.


" Daddy membenciku dan Daddy juga tidak menginginkanku,," Ucap Isabelle yang menatap wajah Ziya dengan sendu.


Karena, melihat wajah Isabelle berubah menjadi sendu, Ziya segera membujuk kembali Isabelle supaya tidak terlalu bersedih akan kenyataan yang ada.


" Heemm sayang, Daddy sama sekali tidak membencimu, Daddy sangat menyayangimu, kemungkinan saat ini Daddy masih sibuk dalam pekerjaannya," Bilang Ziya lembut dengan membujuk Isabelle.


" Tapi, Aunty Claire berkata bahwa aku bukanlah,," Ucap Belle sesaat Ziya memberikan kode kepadanya untuk tidak menyambungkan perkataannya.


" Shhhuuuttt,, Yang jelas Daddy sangat menyayangimu, sayang, percayalah,," Bilang Ziya sambil meletakkan jarinya di mulutnya sendiri.


" Sayang, jika aku ibu tiri yang jahat, pasti saat ini aku tidak akan mengunjungimu dan pasti juga saat ini aku sudah menjahatimu, tapi, apakah kau merasa bahwa aku sekarang menjahatimu ?" Tanya Ziya lembut pada Isabelle sambil merapikan rambut Isabelle yang terurai di atas bantal.


" Tidak, aku tidak merasa kalau kau menjahatiku," Jawab Isabelle menggelengkan kepalanya.


" Baiklah, apakah kita bisa berteman ?" Tanya Ziya lagi sambil tersenyum.


" Ya,, aku mulai menyukaimu dan kita bisa berteman. Ternyata hanya kau yang memperhatikanku, tidak seperti apa yang diucapkan Aunty Claire,," Bilang Isabelle bangun dari baringnya dan memeluk tubuh Ziya.


Ziya tersenyum melihat kelakuan Isabelle yang suka sekali memeluk tubuhnya, Ziya segera membalas pelukan itu, karena, Ziya tahu pasti selama ini Isabelle tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu.


" Heemm sayang apakah saat ini tubuhmu tidak merasakan sakit lagi ?" Tanya Ziya ketika merasakan suhu tubuh Isabelle tidak lagi panas seperti tadi.


" Eeemmm, tidak,," Jawab Isabelle menggelengkan kepalanya.


" Baiklah, sekarang kau mau berisitirahat atau kita berbicara dulu ?" Tanya Ziya pada Isabelle.


" Eemmm, kalau kau tidak sibuk, aku masih ingin berbicara denganmu,," Bilang Isabelle yang membuat Vena sedikit tersenyum.


Sudah lama, Vena dengan sengaja merekam kegiatan yang dilakukan Ziya saat ini bersama Isabelle. Begitu lembut kelakuan Ziya terhadap Isabelle, sehingga membuat Vena terharu akan kelembutan dari majikannya ini.


" Baiklah, kalau begitu aku boleh bertanya sesuatu,," Bilang Ziya langsung pada Isabelle yang membuat Isabelle penasaran.


" Apa itu ?" Tanya Isabelle menatap Ziya.


" Bagaimana kegiatanmu di sekolah ? Dan siapa saja teman terdekatmu sayang ?" Tanya Ziya pada Isabelle yang membuat wajah Isabelle menjadi ceria.


" Kegiatanku di sekolah baik-baik saja dan aku banyak memiliki teman,," Jawab Isabelle dengan jujur.


" Baiklah, kalau begitu aku boleh bertanya lagi ?" Tanya Ziya lagi yang membuat Isabelle kembali penasaran.


" Ya boleh apa itu ?" Tanya Isabelle balik pada Ziya.


" Apakah saat ini kau sudah merasakan jatuh cinta dan siapa laki-laki yang kau sukai ?" Tanya Ziya sambil menggoda Isabelle.


Karena, pertanyaan Ziya seperti itu, membuat Isabelle merasa sedikit malu dan wajahnya langsung berubah menjadi bersemu merah. Ziya tahu bahwa saat ini, Isabelle pasti sangat malu dan Isabelle juga pasti ada yang disukainya.


" Eemmm, Eemm,," Jawab Isabelle yang terlihat sangat malu.


" Ayolah tidak usah malu, ceritakan padaku, nanti kau bisa mengenalinya padaku,," Bilang Ziya yang masih menggoda Isabelle.


Saat Isabelle mendengarkan ucapan Ziya yang bersedia untuk dikenalkan dengan teman dekatnya itu, Isabelle segera mengalihkan pertanyaan lain pada Ziya.


" Apakah kau mau menjemputku ke sekolah ?" Tanya Isabelle pada Ziya.


Karena, ini merupakan keinginan Isabelle bisa dijemput langsung oleh seorang Ibu ke sekolahnya.


" Tentu saja sayang, jika itu maumu,," Jawab Ziya penuh dengan semangat.


" Baiklah, apakah aku boleh mengenalkanmu sebagai Mommyku kepada teman-temanku ?" Tanya Isabelle lagi pada Ziya.


" Tentu saja boleh, apapun yang kau inginkan, asal kau berjanji tidak akan menangis lagi,," Bilang Ziya sambil memberikan senyuman pada anak gadis yang berada di hadapannya ini.


" Terima kasih, andaikan kau memang benar Mommyku maka aku sangat bahagia memiliki Mommy sepertimu,," Ucap Isabelle dengan wajah yang penuh harap pada Ziya.


" Sayang, sekarang aku adalah Mommymu, jadi anggap saja aku adalah Mommy kandungmu, bukan hanya Mommy Demian, oke,," Bilang Ziya sambil menjawil hidung mancung Isabelle.


" Terima kasih, mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai Mommyku,," Ucap Isabelle yang kembali memeluk Ziya.


" Maafkan Mommy, kalau selama ini membuatmu membenci Mommy,," Ucap Ziya sambil mengelus lembut punggung Isabelle.


" Heemm,, sebenarnya aku tidak membencimu, hanya karena, aku takut padamu," Jawab Isabelle jujur.


" Mulai sekarang, jangan takut pada Mommy, apapun yang terjadi langsung ceritakan saja pada Mommy, Oke,," Bilang Ziya sambil memberikan jempolnya.


" Heemm terima kasih banyak Mommy,," Ucap Isabelle mengangguk.


" Ya sudah sekarang istirahat, ya dan ingat jangan pernah melakukan apapun yang membuat tubuhmu, menjadi lelah,," Bilang Ziya yang segera menidurkan tubuh Isabelle dan memasang selimutnya.


" Heemm,, baik Mommy," Jawab Isabelle mengangguk.


" Mommy pergi dulu, jika butuh sesuatu kau bisa menghubungi Mommy,," Bilang Ziya sambil memberikan kecupan hangat tepat di keningnya Isabelle.


" Heemm,, baik Mommy, terima kasih,," Ucap Isabelle lagi.


" Selamat istirahat dan cepat sembuh, sayang," Bilang Ziya sambil mengelus lembut pipi Isabelle.


Isabelle tersenyum menatap wajah Ziya, sesaat Ziya yang merasa kasihan pada Isabelle segera memerintahkan salah satu pengawal miliknya untuk menjaga keadaan Isabelle saat ini. Karena, Isabelle sedang sakit jadi Isabelle membutuhkan satu pelayan untuk merawatnya.


Isabelle tersenyum bahagia, karena, telah mendapatkan perlakuan yang begitu lembut dan kasih sayang yang besar dari seorang Ibu, walaupun itu Ibu tiri namun Isabelle merasa Ibu tirinya ini sangat berbeda dengan Ibu kandungnya. Ibu kandungnya sendiri saja sama sekali tidak pernah memperdulikan dirinya, oleh sebab itu Isabelle lebih memilih tinggal bersama dengan Daddynya dibandingkan tinggal dengan Ibu kandungnya yang selalu mementingkan kepentingan sendiri itu.


Walaupun Alberto cuek terhadap Isabelle, namun, Alberto selalu memberikan apa saja keinginan dan kebutuhan yang diperlukan oleh anak yang bukan anak kandungnya ini. Dan, sekarang Isabelle mendapatkan sebuah kasih sayang yang begitu besar dari seorang Ibu yang selama ini sungguh diharapkannya.


Di sisi lain, Martin yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya itu, merasa sangat lelah sekali dengan tubuhnya ini. Martin merasakan hal yang begitu aneh terhadap tubuhnya ini. Martin sedikit membuka matanya, melihat-lihat ruangan yang sangat jelas sekali terlihat bahwa itu adalah ruang kamarnya, sambil memijit pelipisnya Martin mengingatkan kembali apa saja yang telah diucapkannya pada Ziya malam itu.


Lalu, Martin teringat akan sesuatu ucapan yang disampaikannya pada Ziya, bahwa ia telah menyebutkan Mommynya merupakan salah satu dari pelaku pembunuhan itu. Martin sedikit menyesali perbuatannya itu.


" Oh My God apa yang kulakukan," Gumam Martin yang mengusap wajahnya.


" Bagaimana jika Mommy tahu, bahwa aku telah membocorkan rahasia ini kepada Zoya,," Bilang Martin yang telah menyesali perbuatannya itu.


" Bagaimana jika Zoya memberitahu Alberto tentang ucapan yang telah ku sampaikan ini,," Bilang Martin lagi yang merasa sangat takut dan cemas saat ini.


Jelas Martin sangat cemas, karena, kebodohannya sendiri itu membuat dirinya berada di dalam ruangan yang penuh duri, sehingga kapanpun ia bergerak duri itu akan menusuk tubuhnya dan menyakitinya, begitu juga dengan perbuatan yang telah dilakukannya ini.


****