Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 226 - Pencarian



Dengan tekad kuat yang dimiliki oleh Alberto saat ini begitu jelas sekali terlihat dari sorot matanya. Dan dari tekadnya itu begitu jelas bahwa setelah selesai ia menyembuhkan penyakit Ziya, maka, Alberto sendiri telah bertekad dengan segera bisa menyelesaikan misi rencana selanjutnya dalam menumpas semua orang yang terlibat di dalam pembu.nuhan terhadap Mommynya itu. Itulah sebuah tekad kuat yang telah lama tumbuh dan terpendam di dalam hatinya selama ini.


Sedangkan saat ini Ziya sendiri terlihat cukup membaik dari kondisi tubuhnya yang baru saja muntah-muntah efek dari kehamilan muda pada tubuhnya. Dan kehamilan itu juga belum diketahui oleh Ziya sendiri, karena, memang sebelumnya Ziya sudah pernah mengandung namun, disaat itu Ziya sama sekali tidak tahu bagaimana awal mulanya ia mengandung dan bagaimana ia melewati hari-harinya disaat ia sedang mengandung Demian.


" Vena, menurut informasi yang kau lihat sendiri dari mata kepalamu, kau begitu yakin akan semua hal ini ?" Tanya Ziya sekali lagi untuk memastikan ucapan Vena secara pasti.


" Iya Nyonya, dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat orang itu sedang mengacak atau mengubah suatu sistem peralatan yang ada di dalam ruangannya Tuan Axeloe,," Jawab Vena begitu yakin dengan ucapannya sendiri.


" Baiklah kalau begitu kita harus cepat segera beritahukan informasi ini pada Alberto, supaya Alberto juga tahu apa yang sedang terjadi di dalam kediaman ini, Vena,," Ucap Ziya sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke sebuah ruangan khusus dimana ruangan itu merupakan ruangan pribadi Alberto dalam meneliti suatu hal.


" Iya Nyonya, sebenarnya saya ingin segera memberitahukan hal ini kepada Tuan, namun, saya tidak berani mengatakan secara langsung, Nyonya,," Gumam Vena sambil mengiringi langkah kaki Ziya yang terlihat begitu cepat sekali melangkah menuju ke tempat tujuannya.


" Heemm, tidak apa-apa, yang terpenting saat ini kau memberitahukan hal ini padaku,," Bilang Ziya sambil menoleh ke arah Vena yang sedang mengiringi langkahnya itu.


Dan terlihat saat ini Vena hanya memberikan sebuah anggukan kepada Ziya menandakan bahwa sikapnya itu menyetujui ucapan dan pemikiran Ziya yang terlihat selalu tegas dalam sebuah tindakan. Saat ini, Ziya sendiri sudah sampai di depan sebuah ruangan dimana ruangan itu adalah ruangan pribadi milik Alberto.


Saat sampai di depan ruangan itu, Ziya melihat bahwa beberapa pengawal sedang menjaga di depan pintu ruangan tersebut. Dan dengan gaya seperti biasanya Ziya selalu bersikap anggun namun tegas di depan semua pengawal pribadi Alberto ini.


" Selamat siang Nyonya,," Ucap salah satu pengawal kepada Ziya sambil menundukkan kepalanya memberi hormat kepada istri dari majikannya ini.


" Siang, apakah Suami saya ada di dalam ?" Tanya Ziya kepada salah satu pengawal tersebut.


" Maaf Nyonya, Tuan Alberto sudah tidak berada di dalam ruangan ini lagi dan Tuan Alberto sendiri sudah lama keluar dari ruangan ini,," Jawab pengawal Alberto dengan sopan pada Ziya.


" Tidak ada di ruangan ini lalu Alberto kemana ?" Gumam Ziya sendiri yang merasa penasaran dimana keberadaan Alberto.


Karena, sebelum Alberto keluar dari ruangan pribadinya itu, Alberto sendiri sudah meminta izin kepada Ziya untuk melakukan sesuatu rencana di dalam ruangan penelitiannya itu. Tapi, kenapa saat ini Alberto sendiri sudah tidak berada di dalam ruangannya ini dan pengawal penjaga di depan ruangan Alberto itu juga berkata bahwa Alberto sendiri sudah keluar dari ruangannya ini cukup lama.


Di dalam pikiran Ziya saat ini, kemana perginya Alberto ?


" Kemana perginya Alberto ?" Tanya Ziya dengan suara lembutnya namun bisa terdengar oleh siapapun yang ada berada di dekatnya.


" Maaf Nyonya, saya tidak mengetahuinya, karena, saya lihat saat Tuan keluar dari ruangan ini dengan langkah kaki yang tergesa-gesa,," Jawab pengawal itu secara langsung walaupun Ziya tidak bertanya dengannya.


Dan suara pertanyaan dari Ziya itu bisa terdengar oleh pengawal serta pengawal itu sendiri langsung saja menyahut ucapan Ziya yang sedang ditanyakan olehnya pada dirinya sendiri, serta saat ini Vena juga bisa mendengar dengan jelas ucapan sebuah pertanyaan dari Ziya sendiri. Dan Vena sendiri menjawab pertanyaan keraguan yang sedang terjadi pada majikannya saat ini.


" Maaf Nyonya, apa mungkin Tuan Besar sedang pergi ke ruangannya Tuan Axeloe,," Sahut Vena yang sedang memberikan sebuah perkiraan pada Ziya tentang perginya Alberto dari ruangannya ini.


" Benar juga, lebih baik kau segera hubungi Alberto saat ini juga Vena,," Ucap Ziya yang menganggap perkiraan Vena itu kemungkinan ada benarnya.


Sehingga dengan segera Ziya memberikan sebuah perintah kepada Vena untuk menelepon Alberto, agar Ziya bisa tahu dimana keberadaan Alberto sekarang. Bukan sepertinya saat ini pergi menuju ke ruangan Alberto namun, sana sekali tidak bisa menemukan Alberto juga. Walaupun Alberto sulit untuk dihubungi pada saat ia sedang sibuk di dalam ruangannya. Tapi, jika Alberto sudah keluar dari ruangannya itu kemungkinan besar siapapun akan mudah untuk menghubunginya.


" Baik Nyonya,," Jawab Vena dengan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Alberto.


Dengan segera Vena menghubungi Alberto dan panggilan pertama Vena tidak terhubung ke dalam ponselnya Alberto. Oleh sebab itu Vena mengulangi kembali panggilannya itu terhadap Tuan Besarnya saat ini. Tapi, sayang sudah beberapa kali Vena menghubungi Alberto, tapi, panggilannya sama sekali tidak bisa terhubung dengan Tuan Besarnya itu. Dengan raut wajah penuh sedikit sendu, Vena langsung memberitahukan keadaannya kepada Ziya.


" Maaf, Nyonya,," Gumam Vena dengan wajah sendunya.


" Ada apa Vena ?" Tanya Ziya dengan raut wajah terlihat sedikit cemas.


" Nomor ponsel Tuan sedang sibuk, mungkin saat ini Tuan sedang melakukan panggilan telepon pada orang lain,," Bilang Vena dengan jujur.


" Uuuhhh, kemana Alberto,," Gumam Ziya dengan suara dengusan napasnya terdengar sangat indah.


" Ya sudah tidak apa-apa,," Bilang Ziya sambil tersenyum melihat Vena.


" Vena, lebih baik kita kembali ke kamar,," Ucap Ziya mengajak Vena untuk segera kembali ke dalam kamarnya.


" Baik Nyonya, tapi, bagaimana dengan Tuan ?" Tanya Vena sambil menunjukkan ponselnya saat menyebut nama Alberto.


" Tidak apa-apa, mungkin saat ini Alberto sedang sibuk, jika Alberto tidak sibuk lagi dengan pekerjaannya, maka pasti dia langsung menemui ku,," Bilang Ziya dengan wajah penuh keyakinan.


" Baiklah Nyonya, mari,," Ucap Vena sambil mengangguk mengerti akan maksud dari perkataan Ziya.


Dengan segera Ziya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan pribadi milik Alberto, namun, seketika Vena teringat akan ucapan majikannya itu terhadap Alberto. Oleh sebab itu, Vena segera menghentikan langkahnya lagi dan memberikan sebuah pesan kepada pengawal di depan ruangan untuk memberitahukan sebuah ucapan dari Ziya untuk Alberto.


" Pak, jika Tuan Besar kembali ke ruangan ini lagi, tolong sampaikan kepada Tuan Besar bahwa Nyonya Zoya sedang menunggunya saat ini juga di dalam kamar,," Bilang Vena yang memberikan sebuah pesan kepada pengawal penjaga itu.


" Baik Vena, segera saya sampaikan jika Tuan Besar kembali ke ruangan ini,," Jawab pengawal penjaga itu begitu yakin pada Vena.


" Terima kasih,," Ucap Vena sambil menunduk dan memutar tubuhnya dengan segera melangkahkan kakinya mengiringi langkah kaki Ziya.


" Nyonya saya permisi sebentar, saya mau menyiapkan makan siang untuk Nyonya,," Bilang Vena pada Ziya setelah mengantarkan Ziya kembali ke dalam kamarnya.


" Oh iya baik Vena,," Jawab Ziya mengangguk.


Dengan segera Vena melangkahkan kakinya setelah meminta izin kepada majikannya itu. Dan Ziya sendiri melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dan ingin sekali melakukan suatu hal yang bermanfaat saat ini juga seperti melakukan penelitian tentang racun yang selama ini sedang dilakukannya.


" Sambil menunggu Alberto kembali ke kamar, lebih baik aku segera melakukan penelitian lain terhadap jenis racun yang lainnya,," Gumam Ziya dengan wajah penuh semangat dan segera melangkah menuju ke ruangan penelitiannya.


Disaat Ziya akan masuk ke dalam ruangan penelitiannya, Ziya mendengar seperti ada orang yang sedang masuk ke dalam kamarnya itu. Pastinya dengan segera Ziya kembali keluar untuk melihat siapa yang datang ke dalam kamarnya itu.


CEKLEK !! suara yang sedikit terdengar oleh Ziya disaat ia sedang akan melangkah masuk ke dalam ruangannya itu.


" Seperti ada orang,," Gumam Ziya ketika kakinya akan melangkah masuk ke dalam ruangan penelitiannya.


" Apakah Vena kembali lagi ?" Tanya Ziya sendiri dalam wajah santainya.


" Vena,," Panggil Ziya terhadap Vena yang diperkirakan olehnya masuk kembali lagi ke dalam kamarnya itu.


" Vena,," Panggil Ziya lagi terhadap Vena.


Dan ketika Ziya menyebutkan nama Vena saat ia melangkahkan kakinya keluar untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya itu. Namun, betapa terkejutnya Ziya ketika melihat tidak ada Vena yang masuk ke dalam kamarnya melalui pintu depan dan karena, merasa penasaran siapa yang sedang masuk ke dalam ruangannya ini secara bermain.


" Vena tidak ada, lalu siapa yang masuk ?" Tanya Ziya dalam hatinya dengan ekspresi wajah penasaran namun sedikit merasa cemas akan keadaannya sendiri.


Wajar sekali jika Ziya merasa cemas saat ini, karena, ia pernah mengalami suatu hal yang membuat dirinya dalam keadaan bahaya saat tubuhnya sedang sakit dahulu. Tapi, saat ini Ziya yakin bisa menghadapi orang yang sedang ingin bermain dengannya itu dalam kondisi tubuh yang membaik. Oleh sebab itu Ziya memberanikan dirinya untuk mencari siapa orang yang sedang bermain-main dengannya itu.


" Sepertinya, selain Martin siapa lagi yang akan bermain denganku,," Gumam Ziya sambil melangkah ke sebuah tempat di dalam ruangan kamarnya sendiri.


" Alberto,," Panggil Ziya lembut saat ia mengitari kamarnya itu.


Tapi, tetap saja Ziya tidak mendengarkan suara napas maupun suara lainnya. Dan dengan ekspresi wajah santainya Ziya mencari orang yang sengaja masuk ke dalam ruangannya. Dan disaat Ziya ingin melangkahkan kakinya menuju ke sebuah tempat dimana terlihat ada benda yang sedikit membuatnya curiga, Ziya langsung mendekati benda itu.


" Benda apa itu ?" Tanya Ziya dalam hati sambil melangkahkan kakinya perlahan menuju ke sebuah benda di dekat pilar kamarnya.


Dan ketika Ziya sudah melangkahkan kakinya dengan perlahan, secara spontan Ziya menarik kain yang sengaja menutupi seluruh tubuh seseorang yang sedang sengaja bersembunyi di balik pilar tepat di dekat jendela. Setelah Ziya berhasil mendapatkan helain kain yang menjuntai menutupi seluruh tubuh orang tersebut betapa terkejutnya Ziya hingga membuatnya berteriak dan spontan kehilangan keseimbangan pikirannya.


" Oh God,," Seru Ziya kaget ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat pilar kamarnya itu dengan jubah yang telah berhasil dibukanya.


Karena, Ziya melihat seseorang yang berada di balik jubah itu betapa terkejutnya Ziya sehingga membuat kepalanya itu sendiri merasa sedikit dan akhirnya kehilangan keseimbangan dari tubuhnya. Orang itu jelas sekali melihat bahwa Ziya mengetahui akan dirinya, karena, ia melihat sendiri bahwa Ziya saat ini sedang terjatuh di atas lantai. Dengan segera orang itu mencari tahu sebuah informasi dari seorang Ziya yang sudah lama tinggal di kediaman Alexandre ini.


" Oh God, wanita ini pingsan,," Gumam orang itu ketika menyadari bahwa Ziya kaget ketika melihat keberadaan dirinya.


" Lebih baik aku harus segera mendapatkan sesuatu darinya yang sedang pingsan ini, mumpung tidak ada siapa-siapa di dalam kamar ini,," Ucap orang itu dengan cepat melakukan suatu hal terhadap tubuhnya Ziya.


Namun, karena merasa sedikit panik, bukannya mendapatkan sebuah informasi dari keinginannya itu, malah orang itu segera berlari keluar melalui jendela balkon kamarnya Ziya. Karena, ia tahu sistem keamanan di dalam kediaman Alexandre ini sudah berhasil ia retas sebelum melakukan suatu rencana besarnya ini.


CEKLEK!!


Suara pintu yang terdengar karena telah dibuka oleh seseorang.


" Ya, aku tahu itu, terima kasih,," Suara Vena yang terdengar sedang mengobrol dengan seseorang pengawal di luar pintu kamar.


" Gawat, jika aku ketahuan, maka aku bisa mati,," Seru orang itu ketika mendengarkan suara Vena yang sedang berbicara dengan seseorang pengawal


Ketika orang itu akan meletakkan sesuatu alat dalam tubuh Ziya, tiba-tiba dari pintu kamar Ziya terdengar ada suara Vena dan juga seorang pengawal masuk ke dalam kamar Ziya. Karena, Vena sudah meminta izin terlebih dahulu pada Ziya untuk menyiapkan makan siangnya. Sehingga, karena, adanya suara Vena itu membuat orang yang sedang melakukan sesuatu pada tubuh Ziya dengan cepat orang ini kabur melalui jendela.


" Aku harus lewat jendela ini lagi, untung saja, aku sudah meretas sistem keamanannya,," Ucap orang itu dengan segera keluar melalui jendela dan pastinya turun melalui balkon yang ada di kamarnya Ziya.


Saat ini Vena sedang masuk ke dalam kamar Ziya sambil membawa nampan yang berisikan beberapa makanan dan diikuti oleh beberapa pengawal yang sengaja mengiringi Vena untuk membantu Vena dalam membawa makanan tersebut.


Vena sengaja meletakkan makanan itu ke atas meja yang ada, begitu juga dengan pengawal yang sedang membantunya dalam membawa beberapa makanan ke dalam kamarnya Ziya. Setelah selesai meletakkan makanan dengan senyumannya Vena mengucapkan kata terima kasih kepada pengawal yang sudah membantunya.


" Terima kasih,," Ucap Vena kepada pengawal yang telah membantunya.


Setelah Vena mengantarkan pengawal itu keluar dari kamar majikannya ini, dengan segera Vena mencari keberadaan Ziya. Karena, seperti biasa Ziya akhir-akhir ini selalu berada di dalam ruangan penelitiannya itu, dengan langkah kakinya yang pasti Vena langsung saja menuju ke ruangan itu.


****