Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 9 - Kegugupan Ziya



Apabila Ziya bisa berhasil menjalankan rahasia besarnya maka untuk sementara dia akan aman dan sejahtera berada di Istana ini. Tapi apabila tidak, maka tahu sendiri konsekuensinya hanyalah kematian yang akan didapatkan oleh Zoya bahkan keluarganya.


Ziya terbangun dari tidurnya, dan ia pun membuka matanya, ia tersenyum melihat Demian yang masih terlelap di sampingnya. Dengan mengecup kening Demian ia pun bingung mau melakukan apa setelah ini.


" Mommy keluar dulu ya sayang,," Bisik Ziya sambil berdiri lalu menciumi pipi Demian.


Ziya melangkahkan kakinya keluar dan menutup kembali pintu kamar Demian.


Ziya hampir kaget saat ia menoleh banyak sekali bodyguard yang berada di depan pintu kamar Demian. Ziya bingung mau menyampaikan pesan apa, karena ia tidak pernah tahu bagaimana Zoya setelah keluar dari kamar anaknya ini.


" Aduh, aku harus ngomong apa,, apa aku harus pergi saja,, tidak tidak aku harus menyampaikan sesuatu.." Gumam Ziya dalam hati.


Ziya pun kembali menghadap para bodyguard dan semua para bodyguard itu membungkuk di hadapan Ziya.


" Jaga Putraku, jangan sampai ada yang menganggu tidurnya." Perintah Ziya kepada para bodyguard.


Bodyguard itu semua pun heran dengan perintah Ziya, karena, tidak seperti biasanya Nyonya Zoya menyampaikan perintah seperti itu.


" Baik Nyonya,," Jawab semua para bodyguard Demian.


Lalu Ziya pun pergi meninggalkan para bodyguard di depan kamar Demian. Saat Ziya ingin melangkahkan kakinya mencari kamar Zoya. Malah ia bertemu dengan Putri kedua Alberto yang bernama Isabelle


" Mau kemana kamu,," Tanya Isabelle yang membuat Ziya sedikit kaget.


Ziya kembali mengingat semua foto yang ditunjukkan oleh Paman Erwin padanya sebelum ia tiba disini.


" Ini pasti Isabelle putri kedua Alberto,," Bilang Ziya dalam hati.


" Hey,, Hai I,," Ucap Ziya yang melangkah untuk mendekati Isabelle, tapi sangat terlihat sekali remaja itu memundurkan langkahnya karena ia tidak menyukai adanya Ziya yang mendekatinya sekarang.


Ziya kagum melihat wajah cantik dari Isabelle ini, tapi sayangnya putri remaja ini sepertinya sangat membenci adanya Zoya di tempat ini.


" Kau, jangan mendekatiku,," Bilang Isabelle menatap tajam pada Ziya.


" Baik aku tidak akan mendekatimu,," Bilang Ziya yang berhenti melangkahkan kakinya mendekati Isabelle.


" Jangan sok baik denganku,," Bilang Isabelle yang sangat ketus.


" Baiklah kalau begitu, aku cuma bertanya, kenapa jam setengah malam seperti saat ini kau belum tidur??" Tanya Ziya dengan tatapan lembut.


" Itu bukan urusanmu.." Ketus Isabelle yang membuat Ziya tersenyum.


" Itu akan menjadi urusanku,, karena kau putriku.." Bilang Ziya yang mendekatkan dirinya pada Isabelle.


Isabelle tak percaya atas ucapan Ziya barusan. Ia pun takjub atas omongan dari seorang ibu tiri seperti Zoya. Karena selama ini Zoya tidak pernah memperhatikannya bahkan tidak ada rasa peduli Zoya terhadap anak tirinya ini.


" Heh!! sejak kapan kau pintar berpura-pura,, selama ini kau tidak pernah peduli padaku,," Bilang Isabelle angkuh menatap Ziya.


Isabelle sangat membenci Ibu tirinya ini, karena Zoya yang selama tinggal di istana Alexandre tidak pernah menunjukkan rasa kepedulian dan kasih sayangnya terhadap putri Alberto.


Oleh sebab itu Putri Alberto ini juga sangat membenci Ibu tirinya ini. Tapi Isabelle sendiri tidak tahu bahwa yang berdiri di depannya sekarang bukanlah Zoya yang selama ini sangat angkuh itu, melainkan wanita lembut Ziya yang sangat mudah sekali untuk memperdulikan orang lain.


" Aku peduli padamu,," Ucap Ziya tersenyum tulus.


" Bohong!! aku benci padamu.." Ucap Isabelle yang melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Ziya.


Ziya kaget melihat tingkah laku Isabelle yang pergi berlalu tanpa sopan santun terhadapnya.


Sepertinya Putri Alberto ini sangat tidak menyukai Zoya. Ziya menghela nafasnya karena kesal atas sikap Zoya kembarannya itu yang membenci orang lain demi mendapatkan apapun yang ia inginkan.


" Apa yang kau lakukan Zoya, kenapa putri Alberto sangat membencimu." Bilang Ziya yang mengelus dadanya.


Ziya pun dibuat kagum, dengan pintu kamar tersebut, karena aksen klasik yang dipadukan dengan kemewahan menjadikan dua buah pintu besar itu sangat indah, sehingga membuat Ziya tidak sadar tersenyum sendiri saat melihat dua buah pintu yang begitu megah. Lalu, karena penasaran Ziya pun melangkahkan kakinya mendekati pintu tersebut. Dan mencoba untuk membuka pintunya.


Karena, pintu tidak terkunci dengan langkah kaki perlahan Ziya pun masuk ke dalam kamar tersebut.


Ziya heran kenapa kamar ini begitu temaram, seperti ruangan yang remang-remang hanya sedikit cahaya. Lalu, Ia pun perlahan-lahan meraba mencari tombol lampu ruangan. Namun sesaat sebelum ia mencapai tombol lampu ruangan, Ziya tersandung sebuah benda yang membuatnya terjatuh. Ia meringis kesakitan.


" Aduhhh,, tombol tidak ketemu, yang ada malah terjatuh.." Umpat Ziya yang meringis sakit pada dengkul kakinya.


Saat Ziya meringis kesakitan tiba-tiba lampu di kamar itu menyala dan membuat dirinya sangat kaget karena, ia melihat seorang laki-laki tampan, yang sedang duduk santai tepat di hadapan Ziya, menatap dirinya dengan tatapan tajam.


Hati Ziya berdegup kencang, napas nya tidak teratur, karena ia tahu laki-laki tersebut adalah Alberto suami kembarannya. Dan jangan sampai dirinya jatuh cinta kepada suami kembarannya itu sendiri.


Karena, memang benar Alberto sangatlah tampan. Tidak mudah bagi seorang wanita untuk mendapatkan sosok suami seperti Alberto.


Selain tampan, ia juga kaya raya sangat menggiurkan bagi wanita yang membanggakan kekayaan tiada tara.


Dengan tersenyum tipis Ziya bangun dari duduknya yang meringis sakit dengkulnya barusan. Ia pun langsung berdiri seolah tidak merasakan sakit sedikitpun.


" Apa yang kau lakukan di kamarku??" Tanya Alberto dengan tatapan datar.


Ziya semakin bingung, harus menjawab apa?


Masa dia harus bertanya dimana kamarnya?


" Apa yang harus kulakukan,," Ucap Ziya dalam hati penuh dengan kecemasan.


Secara tiba-tiba keringat dingin mulai mengucur dan membasahi tubuh Ziya, karena dirinya dalam kecemasan dan kekhawatiran, walaupun di dalam kamar ini suhu ruangannya sangat dingin.


Ziya takut dan cemas karena, ia sangat melihat bahwa Alberto memandangi dirinya dengan tatapan lapar serta pandangan tersebut tidak luput dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan yang sangat dalam.


" Bodoh kau Ziya, kenapa kau harus memeriksa kamar ini.." Gumam Ziya yang masih ketakutan.


Ziya pun langsung bersandiwara karena ia takut ketahuan apabila dirinya secanggung ini.


" Bukannya ini kamar kita,,?" Ucap Ziya yang bersandiwara menjadi Zoya yang tidak tahu malu. Ingin sekali rasanya Ziya muntah bersikap seperti itu.


" Oh ya,,!!" Ucap Alberto yang tersenyum sinis.


Lalu ia pun berdiri mendekati Ziya dan membuat Ziya sangat waspada. Ada perasaan takut, cemas dan khawatir terhadap Alberto yang saat ini mendekatinya. Tapi ia cukup gugup karena Alberto sangat dekat dengannya dan jelas sekali terlihat pancaran wajah tampannya.


" Bodohnya kau Ziya, kau sengaja memancingnya untuk mendekatimu,," Gerutu Ziya dalam hati.


Ziya berniat ingin sekali menghindar, karena ia takut apabila ia ketahuan bukanlah Zoya, maka keluarganya akan terancam mati terbunuh.


" Kemana saja kau selama ini,, hmmm,,??" Tanya Alberto yang mendekatkan wajahnya dengan wajah Ziya.


Saat itu Alberto sangat jelas sekali menatap mata Ziya yang berbeda dengan mata Zoya. Sangat terlihat sekali bahwa mata Ziya kecoklatan biasa sedangkan Zoya terlalu mencolok coklat. Jadi mereka benar-benar berbeda kalau diperhatikan dengan teliti.


" Kau sudah ketahuan, masih saja bersandiwara,," Bilang Alberto dalam hati.


Alberto tersenyum sinis saat ia menatap mata Ziya, ternyata Erwin benar-benar licik kepadanya. Dan dugaannya benar Erwin pasti sedang merencanakan sesuatu untuknya melalui Ziya yang sedang bersandiwara menjadi Zoya.


" Apa yang direncanakan oleh Erwin untukku, hingga mengundangmu masuk ke dalam hidupku.." Sambung Alberto dalam hati.


Dalam hati Alberto ingin sekali ia menembak kepala wanita cantik yang sangat mirip dengan istrinya itu, yang sedang berada tepat dihadapannya ini.


Namun, karena ia mengingat kelembutan Ziya saat bersama putra tunggalnya Demian. Ia mengurungkan niatnya itu, karena baginya untuk sekarang Ziya lebih baik untuk putranya dibandingkan istrinya selama ini.


****