
Saat ini Axeloe sudah bisa memastikan keadaan Ziya pada Alberto dengan begitu meyakinkan, hingga membuat Alberto bisa bernapas lega dengan keadaan Ziya. Dan, untuk sementara waktu sambil menunggu Ziya terbangun dadi tidurnya, Alberto bisa melakukan panggilan telepon kepada Zavier.
Dan beberapa menit kemudian dari penungguan yang cukup lama ditunggunya untuk melihat reaksi tubuh Ziya terhadap obat yang dimasukkan oleh Axeloe tersebut akhirnya Alberto menerima panggilan yang dilakukan oleh Zavier. Di tengah keheningan yang ada di dalam kamarnya Ziya, terdengar suara getaran ponsel miliknya Alberto yang berada di dalam saku jasnya.
DEEERRRTTT!! Bunyi getaran ponsel yang terdengar dari dalam saku jasnya Alberto.
Karena, menyadari adanya bunyi getaran ponsel menandakan adanya panggilan masuk, oleh sebab itu, Axeloe segera memberitahukan Alberto bahwa yang menelponnya saat ini adalah Zavier.
" Ada telepon, pasti dia,," Ucap Axeloe di tengah keheningan yang sedang terjadi.
" Aku, akan menerima panggilan ini, jaga Istriku,," Ucap Alberto dengan segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam saku jasnya.
Setelah mendapatkan ponsel yang baru saja ia ambil dalam sakunya, Alberto melihat layar ponselnya ternyata benar bahwa saat ini Zavier sedang melakukan panggilan telepon padanya. Sambil menerima telepon dari Zavier tidak lupa Alberto memberikan pesan lagi kepada Axeloe dan Vena untuk tetap berjaga di dalam kamarnya.
" Ya, tunggu sebentar,," Ucap Alberto saat menerima panggilan dari Zavier.
" Jaga istriku,," Ucap Alberto kepada Vena dan juga Axeloe.
" Baik Tuan,," Jawab Vena sambil menganggukkan kepalanya diikuti oleh anggukan kecil dari Axeloe.
Setelah memastikan keadaan istrinya sedang tertidur pulas seperti apa yang disampaikan oleh Axeloe padanya, dengan segera Alberto melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan lainnya yang suaranya tidak terlalu terdengar oleh Axeloe dan juga Vena dan pastinya tidak mengusik ketenangan Ziya yang sedang tertidur.
" Ya ada apa ?" Tanya Alberto langsung pada Zavier.
" Huuuhh, akhirnya bisa dihubungi juga,," Celoteh Zavier setelah panggilan yang sudah beberapa kali ia lakukan di terima oleh Alberto.
" Aku sedang melakukan sebuah penelitian,," Ucap Alberto memberitahukan kesibukannya saat ini.
" Ya, oke, baiklah aku hanya ingin menyampaikan informasi yang akan membuatmu senang, dude,," Ucap Zavier terdengar cukup serius dari ucapannya.
" Ya, aku mendengarnya, apa yang ingin kau sampaikan ?" Tanya Alberto dengan suara yang terdengar serius juga bagi Zavier.
" Congratulations, Misi di Australia telah berhasil, dude,," Ucap Zavier jelas pada Alberto dengan suaranya yang terdengar begitu senang sekali akan hasil dari proses rencananya selama ini.
" Bagus, thanks Dude,," Ucap Alberto dengan raut wajah yang terlihat begitu senang sekali atas apa yang telah diperintahkan olehnya kepada Zavier dengan hasil yang memuaskan.
" Oleh sebab itu aku mempercayaimu dalam melakukan misi ini,," Sambung Alberto lagi kepada Zavier.
" Seperti apa yang telah kukatakan, bawa wanita itu ke markas besar Alexandre," Ucap Alberto sambil mengingatkan Zavier atas perintah yang telah diberikan olehnya.
" Oke Dude, rencana segera dilakukan seperti apa yang kau inginkan,," Jawab Zavier dengan jelas.
Seperti biasa Zavier selalu memutuskan panggilan telepon yang ia lakukan jika semua informasi sudah selesai disampaikan semuanya kepada orang yang penting agar dapat mengetahui sangat jelas dan detail dari hasil pekerjaannya itu. Dan Alberto sudah mengetahui bagaimana sifat dan karakter dari Zavier salah satu sahabat sekaligus saudaranya ini.
Setelah selesai menerima panggilan dari Zavier, barulah Alberto memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya dan mulai melangkah kembali masuk ke dalam ruang tidur khusus milik Ziya. Namun, sebelum melangkah menuju ke kamarnya Ziya, Alberto mulai memikirkan kembali misi dan tujuan utama dari rencana yang akan dilakukannya setelah Zavier membawa Zoya kembali ke Perancis.
" Setelah dia sampai, akan aku lakukan penyiksaan padanya, seperti apa yang telah ia lakukan terhadap Istriku Ziya,," Ucap Alberto dalam hati dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Begitu terlihat sekali bahwa Alberto memiliki sebuah dendam yang mendalam terhadap Zoya dan pastinya Erwin. Karena, tanpa adanya rencana Erwin tidak mungkin Ziya menjadi korban dari perselisihan yang dilakukan oleh mereka selama ini. Dan juga dengan Zoya, apabila Zoya tidak mengikuti arahan dari rencana Erwin maka peristiwa ini semua tidak akan terjadi.
Sedangkan, di dalam kamarnya Ziya terlihat Axeloe dan Vena masih setia menunggu keadaan Ziya yang sedang tertidur dengan pulasnya atas pengaruh dari obat yang sudah dimasukkan oleh Axeloe. Saat ini Axeloe sedang memeriksakan semua bagian penting pada tubuh Ziya, sambil menghembuskan nafas yang sedikit panjang, hal itu membuat Vena memberanikan diri untuk bertanya kepada Axeloe.
" Uuuhhhh,," Suara hembusan nafas yang terdengar dari mulut Axeloe.
" Kenapa sepertinya, Tuan Axeloe terlihat mengeluh,," Gumam Vena dalam hati saat melihat hembusan nafas Axeloe yang cukup panjang.
" Apakah ada sesuatu yang terjadi terhadap Nyonya ?" Tanya Vena dalam hatinya lagi saat melihat Axeloe yang sedang memeriksa keadaan tubuh Ziya.
" Heemmm, apakah tidak apa-apa jika aku bertanya pada Tuan Axeloe mengenai keadaan Nyonya,," Gumam Vena lagi dalam hati masih kebingungan dalam memilih ucapan yang tepat kepada Axeloe.
" Sepertinya, aku harus berani memberanikan diri untuk bertanya,," Ucap Vena lagi dalam hati sambil memberanikan dirinya.
" Supaya aku tahu apa yang harus aku bantu dan akan aku lakukan untuk membantu Nyonya dapat sembuh dari sakitnya,," Ucap Vena lagi dalam hatinya sambil menarik nafas dalam-dalam.
" Huuuuuufffff!!!" Suara tarikan nafas yang dilakukan oleh Vena sebelum bertanya kepada Axeloe.
Setelah menarik nafasnya begitu dalam barulah Vena mulai membuka pertanyaan kepada Axeloe. Karena, bisa dilihat Axeloe tidak jauh berbeda dari Alberto memiliki sifat dan karakter yang sama persis, maklum dua saudara yang memiliki keturunan dari keluarga mafia, jadi begitu terlihat dan kental sekali atas sifat dinginnya itu.
" Ma, maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Vena kepada Axeloe dengan suara lembut dan terbata-bata.
" Tidak ada, kau cukup diam di tempatmu,," Jawab Axeloe dengan suara dinginnya yang melarang Vena untuk mendekati dirinya saat sedang fokus dalam mengobati Ziya.
" Ba, baik Tuan,," Jawab Vena sambil menganggukkan kepalanya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya saat ini.
Setelah mengetahui jawaban dari Axeloe yang terdengar begitu dingin sekali, sehingga hal itu membuat Vena tidak berani lagi untuk bergerak apalagi membuat pertanyaan kembali kepada Axeloe. Dalam beberapa menit Alberto berada diluar ruangan dari kamarnya Ziya, yang masih disibukkan dengan panggilan dari Zavier tiba-tiba tubuh Ziya bergetar dan mengeluarkan keringat yang begitu banyak sekali dari tubuhnya.
****