
Mentari pagi yang cerah telah hadir menyinari bumi sehingga membuat keriangan dan juga riuh suara kicau burung-burung nan indah serta merdu. Seperti biasa, semua orang apabila sudah terlihat matahari pagi telah terbit pastinya banyak yang langsung melakukan aktivitasnya masing-masing di luar rumah maupun di dalam rumah.
Karena, aktivitas pagi merupakan suatu hal atau kewajiban yang rutin selalu dilakukan. Terlihat pagi ini seperti biasa, karena merasa masih belum memiliki pasangan atau istri, Fandi sedang berkemas untuk melakukan kegiatan yang sering dilakukannya yaitu berburu ke dalam hutan bersama ketiga temannya.
Sembari menunggu ketiga temannya datang, seperti biasa Fandi terbangun dari tidurnya dan tersenyum ketika melihat ufuk matahari pagi yang hampir terlihat namun masih cukup gelap di luaran rumah. Namun hal itu tidak membuat Fandi patah semangat untuk selalu melakukan aktivitasnya setiap hari.
" Hoaaammmm,," Seru Fandi sambil menutupi mulutnya yang tengah menguap dengan menggunakan salah satu tangannya.
Fandi membuka kedua bola matanya dan sambil menguap Fandi melepaskan selimut yang sedang menutupi tubuhnya. Sambil menggeliatkan tubuhnya untuk menarik otot-otot tubuh yang cukup kaku saat tertidur. Akhirnya Fandi memilih merentangkan otot seluruh tubuhnya terlebih dahulu di atas tempat tidur.
" Sudah pagi,," Gumam Fandi sendiri sambil melihat celah ventilasi jendela kamarnya yang terlihat akan sedikit cahaya matahari.
Setelah cukup enak dan nyaman barulah Fandi beranjak bangun dari tempat tidurnya. Setelah selesai merentangkan semua otot tubuhnya membelokkan pinggangnya ke arah kanan dan ke arah kiri barulah Fandi merapikan tempat tidurnya yang cukup terlihat berantakan.
" Aahh, akhirnya selesai juga !" Seru Fandi ketika sudah menyelesaikan pekerjaannya membereskan tempat tidurnya yang cukup berantakan.
" Karena, sudah selesai, lebih baik aku langsung mandi, sebentar lagi pasti ketiga temanku datang,," Gumam Fandi yang telah selesai merapikan tempat tidurnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya membereskan tempat tidurnya itu, dengan segera Fandi mengambil handuk yang ada di gantungan dalam kamarnya dan langsung saja keluar dari kamarnya itu. Fandi bisa melihat bagaimana suasana keadaan di dalam rumahnya yang masih terlihat begitu sepi.
Wajar jika sepi, karena, memang benar di rumah Fandi hanya ada beberapa orang saja yaitu kedua orang tuanya dan juga dirinya. Sebab Fandi adalah anak tunggal dari keluarga yang sangat berada di kampungnya ini. Walaupun Fandi merupakan anak orang yang berada di kampungnya ini, namun, Fandi tidak memiliki sifat sombong ataupun angkuh atas kekayaan serta harta yang dimiliki oleh orang tuanya.
Sehingga hal itu membuat Fandi begitu terkenal di kampungnya ini sebagai sosok pria yang kaya raya, tampan dan juga tidak sombong pastinya Fandi lebih dikenal lagi oleh orang banyak dengan sifatnya yang begitu sopan terhadap semua orang.
Baik orang itu miskin maupun orang itu kaya raya. Fandi tidak pernah membedakan antara orang miskin dan kaya raya, karena, bagi Fandi harta dan kekayaan orang tuanya itu hanyalah sebuah titipan semata dan tidak patut untuk disombongkan. Oleh sebab itu, Fandi dikenal dengan sebutan pria tertampan yang begitu baik.
Sehingga siapapun yang mau berteman dengan Fandi, Fandi tidak pernah menolaknya dan bahkan kedua orang tua Fandi juga terkenal akan kebaikan serta kedermawanan yang mereka lakukan terhadap semua orang.
Ketika, melihat seluruh ruangan di rumahnya masih terlihat sepi, karena, asisten rumah tangga orang tua Fandi belum berdatangan, Fandi hanya bisa tersenyum sendiri ketika mengingat-ingat ucapan yang selalu terngiang di telinganya yaitu ucapan dari Ibunya sendiri yaitu ucapan yang meminta dirinya untuk segera menikah.
" Kapan kamu menikah ?" Tanya Ibu Fandi yang selalu terngiang di telinga Fandi.
Fandi hanya bisa tersenyum dengan permintaan dari ibunya itu, sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum Fandi merasa sedikit tersentuh dengan permintaan Ibunya itu, karena, memang benar, bahwa ibunya itu sudah kepingin sekali segera memiliki cucu. Untuk meramaikan suasana di dalam rumahnya yang cukup besar itu.
Oleh sebab itu, sambil menaruh handuk di atas pundaknya Fandi tersenyum dan melajukan langkahnya menuju ke arah belakang untuk ke kamar mandi. Sebelum melangkah Fandi bergumam sendiri atas apa yang telah disampaikan oleh Ibunya selama ini padanya itu yaitu mengenai pernikahan.
" Heemmm, benar juga yang ibu katakan, sepertinya tanpa adanya anak kecil di dalam rumah ini, maka, rumah ini masih akan terlihat sepi,," Gumam Fandi sendiri sambil memandangi keadaan rumahnya yang masih terlihat sepi.
" Baiklah sepertinya Ibu, sudah ingin sekali memiliki cucu, jika, Fandi sudah ada jodohnya maka, Fandi akan melakukan apa yang diminta oleh Ibu,," Gumam Fandi lagi sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah bagian belakang rumahnya.
Cukup lama Fandi membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, setelah selesai mandi Fandi segera bergegas mengganti pakaiannya yang seperti biasa ia gunakan untuk berburu. Setelah selesai semuanya sambil menunggu kedatangan ketiga temannya itu, Fandi membereskan tas berburunya dan membawa alat serta bekal yang akan digunakan saat ia sedang berada di dalam hutan untuk melakukan perburuannya itu.
" Sambil menunggu mereka datang lebih baik, aku membereskan terlebih dahulu tas ranselku ini, supaya, mereka tidak terlalu lama menunggu ketika mereka sudah tiba,," Ucap Fandi yang memang telah selesai membereskan tas berburunya dari semalam.
Fandi sekedar hanya memeriksa kembali peralatan yang akan dibawanya saat berburu, karena, memang dari semalam Fandi sudah membereskan tas serta peralatan berburunya. Disaat Fandi sedang berkemas peralatan berburunya itu, terlihat dari luar kamarnya yang memang pintu kamarnya itu terbuka, sambil tersenyum Ibu Fandi mengetuk pintu kamar putranya dan masuk.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
Bunyi suara ketukan pintu yang dilakukan oleh Ibunya Fandi. Ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya pastinya Fandi langsung menoleh ke arah pintu kamarnya dan melihat bahwa yang masuk ke dalam kamarnya itu yaitu Ibunya sendiri sambil tersenyum yang melihat kesibukan Fandi di pagi hari ini.
" Ibu,," Ucap Fandi ketika menoleh ke arah pintu dan melihat Ibunya yang sedang berada di luar kamar.
" Masuk Bu,," Ucap Fandi kembali pada Ibunya.
" Heeemm, iya,," Jawab Ibu Fandi sambil tersenyum dan melangkah masuk.
" Pagi-pagi sudah sibuk,," Gumam Ibu Fandi sambil melangkah mendekati Fandi yang sedang mengemasi barang berburunya.
" Hehe, Iya Bu, sambil menunggu mereka datang,," Jawab Fandi yang masih mengemasi tasnya.
" Anto, Madi dan Ical ?" Tanya Ibu Rita pada Fandi.
" Heemmm, ya Bu,," Jawab Fandi mengangguk dan terdengar suara napas Ibu Fandi yang sudah mengetahui jawaban dari putranya itu.
Fandi seketika tertawa kecil disaat mendengar suara napas Ibunya yang telah mengetahui jawaban dari dirinya itu. Dan Fandi seolah bertanya pada Ibunya mengenai perihal Ibunya yang mengeluarkan napas panjang walaupun Fandi sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan Ibunya ini padanya.
" Hehehe, Ibu kenapa mendengus seperti itu ?" tanya
Dan dengan jelas saja Fandi menolak tawaran dari Ibunya itu, karena, Fandi tahu bahwa teman akrabnya sangat menyukai wanita yang bernama Rini itu. Ya, walaupun Fandi tahu bahwa Rini terlihat menyukai dirinya namun, karena Fandi ingin menghargai teman satu perburuan dengannya itu. Oleh sebab itu Fandi tidak mau menerima tawaran dari Ibunya itu.
****
Dan dengan jelas saja Fandi menolak tawaran dari Ibunya itu, karena, Fandi tahu bahwa teman akrabnya sangat menyukai wanita yang bernama Rini itu. Ya, walaupun Fandi tahu bahwa Rini terlihat menyukai dirinya namun, karena Fandi ingin menghargai teman satu perburuan dengannya itu. Oleh sebab itu Fandi tidak mau menerima tawaran dari Ibunya itu.
" Oh begitu ya Fan, ya sudah berarti gadis lain saja, kan masih banyak gadis di desa kita ini Fan,," Gumam Ibu Fandi yang sudah mengerti akan keputusan Fandi menolak tawaran darinya itu.
" Iya bu, benar sekali,," Jawab Fandi sambil menganggukkan kepalanya.
" Eeemmm begini saja Fan, kalau ada gadis yang terbaik pasti Ibu akan langsung memberitahukannya padamu,," Bilang Ibu Rita kepada Fandi sambil memikirkan lagi gadis yang ada di desanya itu.
" Hihihi, iya Bu, tapi sebenarnya Fandi memiliki seorang gadis untuk ditanyakan pada ibu,," Gumam Fandi seperti ada seseorang gadis yang ingin diungkapkannya pada Ibunya.
" Aahh benarkah, siapa Fandi ?" Tanya Ibu Rita dengan wajah sumringah karena, ternyata anaknya telah menaruh hati pada seseorang gadis di desanya itu.
" Heemm, coba tebak siapakah dia ibu ?" Tanya Fandi balik pada Ibunya, yang sengaja Fandi lakukan karena, untuk memberikan sebuah teka-teki berat bagi Ibunya.
" Heemm, kamu ini Fan, malah main tebak-tebakan,," Gerutu ibu Fandi sambil memanyunkan mulutnya kembali.
" Hahahaha, bukan main tebak-tebakan ibu, hanya ingin tahu saja apakah isi hati Ibu dan Fandi bisa sama,," Jawab Fandi dengan mengulas senyumnya.
" Baiklah, kalau begitu, ibu akan jawab tebakan ini tapi Fandi dan Ibu jawabnya berbarengan,," Bilang Ibu Rita yang sengaja memberikan tantangan kepada Fandi.
" Oke, Fandi siap kalau begitu teorinya,," Jawab Fandi dengan wajah yang penuh semangat.
" Hehehehe, ya sudah ayo jawab,," Bilang Ibu Fandi yang terlihat juga bersemangat dalam tantangan putranya itu.
Secara bersamaan Fandi dan Ibu Rita menyebutkan nama Aliya yang biasa dipanggil Lia putri dari seorang kepala desa di desanya ini. Namun, Lia adalah seorang gadis yang usianya jauh berbeda dari Fandi, walaupun Lia usianya terpaut cukup jauh dari Fandi, tapi, Lia terlihat seperti gadis yang memiliki pikiran dewasa dan juga parasnya cantik.
" LIA!!!" Ucap Fandi yang bersamaan dengan Ibunya saat menyebutkan nama Lia.
Setelah menyebutkan nama Lia secara bersamaan dengan Ibunya itu, Fandi dan Ibunya terdiam secara bersamaan juga, karena, ucapan mereka kali ini sama-sama terpikir dengan satu orang. Karena, Ibu Rita dan Fandi terdiam bersama akhirnya salah satu dari Fandi dan Ibunya ada yang berbicara terlebih dahulu untuk mencairkan suasana hening yang baru saja terjadi.
" Ooohhh, jadi Aliya anaknya Pak kepala desa desa kita,," Ucap Ibu Rita yang mulai mengeluarkan suara terlebih dahulu di tengah keheningan yang tengah terjadi.
" Heemmm, sama seperti yang ibu ucapkan,," Jawab Fandi sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum membenarkan perkataan Ibunya.
" Eeemmm ibu mau tanya padamu Fan, kenapa kamu memilih Lia yang usianya terpaut jauh darimu ?" Tanya Ibu Fandi lagi.
" Bukan memilih Ibu, tapi, sebenarnya Fandi menyukai karakter dan juga sifat Lia yang begitu berbeda dengan gadis lainnya,," Jawab Fandi dengan wajah seriusnya menceritakan sifat dan juga karakter dari Lia.
" Dan juga walaupun usianya terpaut jauh lebih muda dibandingkan Fandi, dia memiliki sifat yang lebih dewasa dari usianya itu Ibu,," Sambung Fandi lagi yang masih menjelaskan bagaimana cara dan kelakuan dari Lia anaknya Pak kades di desa mereka.
" Dan satu lagi selain Lia memiliki sikap yang dewasa, Lia juga tidak sombong seperti para gadis yang lainnya, Bu, padahal dia merupakan putri tunggal dari keluarga yang berada juga Bu,," Ucap Fandi lagi yang masih menjelaskan betapa baiknya sifat Lia.
" Benar juga, Fan, Ibu juga sangat menyukai karakter dan sifat yang lembut dari Lia,," Bilang Ibu Fandi yang juga memuji kebaikan sifat dan juga karakter dari Lia.
" Heemmm bener Bu," Sambung Fandi lagi mengiyakan omongan Ibunya.
" Tapi Fan usianya itu jauh sekali jaraknya denganmu, tapi, kalau masalah usia tidak apa-apa, yang penting dia juga mau sama kamu,," Ucap Ibu Fandi lagi.
" Hehehehe, begini saja Bu, jika Lia mau dengan Fandi dan menikah dengan Fandi serta direstui oleh Ibu dan Ayah, pastinya Fandi bersedia Ibu,," Ucap Fandi yang jelas dan detail kepada Ibunya.
" Heemmm, baiklah kalau kamu mau dan bersedia, ibu dan ayahmu akan ke rumah Pak kepala desa, untuk menanyakannya langsung pada orang tua Lia dan juga Lia,," Ucap Ibu Rita dengan rinci kepada Fandi.
" Heemmm iya Bu, Fandi akan menerima apapun itu keputusannya dari Ibu." Ucap Fandi sambil tersenyum melihat Ibunya.
Disaat Fandi dan juga Ibu Rita sedang mengobrol bersama membahas tentang semua gadis yang ada di desanya itu, akhirnya dari penungguan yang sedang Fandi lakukan teman-temannya Fandi sudah datang menjemput Fandi untuk pergi berburu. Salah satu teman Fandi dari beberapa temannya yang datang itu masuk ke dalam rumah Fandi sambil mengucapkan salam.
" Assalamualaikum,," Ucap Anto mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumahnya Fandi.
" Waalaikumsalam,," Jawab Fandi berbarengan dengan Ibunya.
" Sebentar, to,," Ucap Fandi dari dalam kamar.
" Oke aku tunggu di luar ya Fan,," Bilang Anto sembari melangkah keluar pintu.
" Iya-iya,," Jawab Fandi masih berada di dalam kamar.
Sedangkan, di dalam kamar Fandi yang mendengar suara Anto dari luar segera bergegas mengambil semua peralatan yang telah disiapkan olehnya sedari tadi. Sementara itu, Ibunya Fandi beranjak bangkit dari tempat duduk dan menanyakan suatu hal yang sangat penting sekali hingga dijawab oleh Fandi dengan begitu meyakinkan.
" Kalau berburu harus hati-hati ya nak," Ucap Ibu Fandi sambil membantu Fandi meletakkan peralatan berburu ke punggung Fandi.
" Iya Bu, Fandi selalu ingat pesan ibu,," Jawab Fandi sambil menggendong tempat anak panah.
" Ingat jangan asal-asalan memanah hewan, karena, mereka juga punya keluarga,," Bilang Ibu Fandi lagi yang masih tetap membantu Fandi dalam menyiapkan peralatan.
" Iya Bu, lagian juga Fandi tidak pernah membawa hewan buruan yang asal-asalan,," Jawab Fandi lagi.
" Betul, tapi, sebenarnya Ibu ingin kamu tidak berburu lagi nak, karena jika kamu berburu, ibu selalu terpikirkan dengan keadaanmu, Fan,," Ucap Ibu Fandi lagi seolah memberikan sebuah pertanyaan dan juga perjanjian.
" Hehehehe, ibu tidak usah khawatir, karena ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kepergian Fandi saat berburu,," Jawab Fandi lagi yang sengaja memberikan hiburan kepada Ibunya.
" Iya, ibu tahu, tapi, kapan kamu berhenti berburunya ?" Tanya Ibu Fandi lagi dengan penuh makna.
" Eeemmm sepertinya tunggu Fandi sudah menikah, Bu,," Jawab Fandi sambil tersenyum dan segera menyalami tangan Ibunya.
" Ibu nanya serius Fan ?" Tanya Ibu Fandi lagi.
" Fandi Jawab serius juga Ibu,," Jawab Fandi sambil menyalami tangan Ibunya.
" Ya sudah kalau begitu Fandi pergi berburu dulu ya bu,," Bilang Fandi setelah menyalami tangan Ibunya.
" Heemmm iya Fan, hati-hati ya,," Bilang Ibu Rita lagi yang selalu memberikan pesan kepada putranya itu.
" Iya, Bu,," Jawab Fandi tersenyum.
Setelah bersalaman dengan Ibunya, Fandi segera keluar dari kamar dan langsung menemui temannya yang sudah menunggunya sedari tadi. Sedangkan Ibu Rita sendiri ikut melangkah keluar juga dari kamarnya Fandi mengantar Fandi pergi berburu bersama dengan ke empat temannya yang sudah datang menjemputnya itu.
Setelah bersalaman dengan Ibunya, Fandi segera keluar dari kamar dan langsung menemui temannya yang sudah menunggunya sedari tadi. Sedangkan Ibu Rita sendiri ikut melangkah keluar juga dari kamarnya Fandi mengantar Fandi pergi berburu bersama dengan ke empat temannya yang sudah datang menjemputnya itu.
" Maaf kalau lama menunggu,," Ucap Anto kepada Fandi yang memang sudah lama menunggu semua temannya.
" Tidak apa-apa, kenapa tidak masuk dulu,," Ucap Fandi mengajak beberapa temannya yang sudah datang menjemputnya itu.
" Nanti kesiangan Fan, ayo berangkat,," Ajak teman Fandi yang sudah menunggu di bagian luar pagar rumah
" Maaf Bu, kami tidak sempat masuk dan mampir, takut kesiangan,," Ucap salah satu teman Fandi lagi yang berada di luar.
" Iya tidak apa-apa," Jawab Ibu Rita sambil tersenyum kepada semua para teman Fandi yang sedang menunggu.
" Baik Bu, Fandi berangkat dulu ya,," Ucap Fandi yang sekali lagi menyalami tangan Ibunya.
" Iya nak, hati-hati ya," Bilang Ibu Fandi yang tidak lupa untuk selalu memberi pesan pada putranya itu.
" Beres Bu,," Jawab Fandi sambil tersenyum.
" Anto juga ya, Bu," Ucap Anto yang juga menyalami tangan Ibu Rita.
Dan semua temannya Fandi yang berada di luar segera masuk ke dalam ikut menyalami tangan Ibu Rita sekaligus berpamitan. Setelah semua menyalami tangannya tidak lupa Ibu Rita memberikan nasehat dan pesan kepada semua teman Fandi yang akan pergi ke tempat perburuan di hutan.
" Iya semoga kalian selalu berhati-hati kalau sedang berburu ya, ingat itu,," Ucap Ibu Rita kepada semua teman Fandi yang ikut masuk ke dalam untuk menyalami ibu Rita.
" Iya Bu, terima kasih doanya, kami semua berangkat ya Bu,," Ucap semua teman Fandi termasuk Fandi juga yang melangkahkan kakinya keluar dari rumah untuk pergi berburu.
" Iya," Jawab Ibu Rita sambil melambaikan tangan kepada putranya dan juga temannya itu.
Setelah selesai berpamitan kepada Ibunya itu tidak lupa Fandi menoleh ke belakang lagi dan melihat ibunya sudah masuk ke dalam rumah kembali. Di dalam perjalanan yang sedang Fandi lakukan bersama temannya ke hutan perburuan menggunakan kuda agar tujuannya cepat sampai di hutan yang akan menjadi lokasi perburuan mereka hari ini.
Di tengah perjalanan, Fandi dan teman-temannya memperlambat langkah kaki kuda untuk diisi dengan obrolan mereka menyangkut masalah Anto dan Rini, karena dari ketiga temannya ini hanya Anto dan Fandi sajalah yang belum menikah. Jadi, hanya Fandi dan juga Anto saja yang perlu dipertanyakan oleh mereka bertiga sebagai temannya itu.
Dimana mereka saat itu sedang pergi berlima ke tempat lokasi perburuan liar yang mereka lakukan hari ini. Karena, seperti biasa Fandi selalu berburu hanya berlima saja dengan ke empat temannya itu yaitu Anto, Ical, Madi, dan juga Wani. Ketiga teman Fandi sudah menikah semua hanya Fandi dan Anto saja yang belum menikah, jadi Ical, Madi serta Wani menanyakan hal yang menyangkut dengan pernikahan kepada Anto, karena, mereka semua sudah mengetahui bahwa Anto saat ini sedang dekat dengan Rini.
" Anto, memangnya kapan kamu akan melamar Rini ?" Tanya Ical yang sedang menunggangi kudanya.
" Iya, bukannya kamu sudah cukup dekat dengan Rini,," Sambung Wani lagi dari pertanyaanya Ical.
" Hihihihihihi, yang sudah mau menikah,," Celetuk Fandi sambil tertawa kecil.
" Kapan ini ceritanya, mau ngundang kita semua ya,," Sambung Fandi lagi masih dengan ketawa kecil yang sengaja ia lakukan untuk memberikan kesan kehangatan dalam hubungan persahabatan di antara mereka berempat.
" Hahahaha, benar sekali Fan,," Sahut Ical yang ikut-ikutan tertawa juga.
" Aakkhh kalian bisa saja ya, mentang-mentang kamu sudah menikah Cal, dan kamu juga Madi, seenaknya menertawakan aku,," Gerutu Anto yang wajahnya terlihat begitu lucu sekali.
Di dalam perjalanan perburuan yang sedang dilakukan oleh Fandi dan ketiga temannya yaitu Anto, Ical dan Madi saat ini mereka berempat sedang seru-serunya membahas masalah kedekatan salah satu temannya itu dengan seorang gadis yang ada di desa mereka. Siapa lagi kalau bukan Anto yang saat ini sedang dekat dengan gadis yang bernama Rini.
" Eehhh, aku jadi lupa bukan aku saja yang belum menikah, tuh orangnya si Fandi yang masih bujangan belum menikah juga,," Celetuk Anto yang tidak mau kalah diperolok oleh ketiga temannya itu.
" Hehehehe, aakkhh kamu An, pintar sekali ya, memutar otak untuk membuat bahan omongan,," Celetuk Fandi yang ikut menyambung pembicaraannya Anto.
" Hahahaha, kalian berdua jangan saling memperolok, karena, sama-sama masih bujangan,," Sambung Madi yang ikut-ikutan menyambung pembicaraan antara Fandi dan Anto.
" Benar sekali Madi, kalau kita berdua sudah ada yang menemani kalau di rumah,," Sambung Ical juga yang membenarkan perkataan Madi terhadap Fandi dan Anto.
" Ya, ya, kalian berdua menang, karena, kalian berdua sudah menikah,," Ucap Anto yang tersenyum kepada dua sahabatnya itu.
" Yang perlu dibahas saat ini adalah Fandi bukan aku, karena, aku sudah ada gadis yang aku suka,," Jawab Anto dengan jawaban yang benar sesuai dengan keadaannya sendiri.
" Nah si Fandi ini nih yang perlu kita bahas, karena, sudah jelas banyak sekali gadis di desa kita yang menyukainya, tapi, satu gadispun tidak ada yang disukai oleh Fandi,," Ucap Anto dengan panjang lebar sambil mengalihkan pembicaraan yang ia lakukan.
" Aku jadi heran sama kamu, Fan, gadis di desa kita banyak yang cantik-cantik dan menyukai kamu, tapi, tidak ada satupun balasan cinta mereka dari kamu sendiri,," Sambung Anto lagi pada Fandi dengan wajah yang cukup serius.
Karena, di selama perjalanan yang sedang dilakukan oleh Anto dan Fandi serta beberapa temannya itu membahas masalah pasangan mereka masing-masing dan Anto juga sudah menjawab dengan benar dan sesuai dengan keadaan yang ada. Oleh sebab itu, akhirnya Anto bisa mengalihkan pembicaraan yang sedang dilakukan mereka berempat untuk mengisi masa perjalanan perburuan yang sedang mereka lakukan.
****
Karena, di selama perjalanan yang sedang dilakukan oleh Anto dan Fandi serta beberapa temannya itu membahas masalah pasangan mereka masing-masing dan Anto juga sudah menjawab dengan benar dan sesuai dengan keadaan yang ada. Oleh sebab itu, akhirnya Anto bisa mengalihkan pembicaraan yang sedang dilakukan mereka berempat untuk mengisi masa perjalanan perburuan yang sedang mereka lakukan.
" Kalau aku sudah jelas bukan teman-teman, bahwa memang saat ini aku sedang dekat dengan seorang gadis di desa kita,," Ucap Anto lagi dengan begitu yakin dan juga jelas pada semua temannya.
" Namun, aku belum saja menentukan kapan aku dan orang tuaku menemui secara langsung orang tuanya Rini untuk melamar gadis pujaan ku itu,," Ucap Anto lagi dengan begitu jelas dan juga meyakinkan ke empat temannya itu.
" Kenapa memangnya An, bukannya kamu sudah siap dan juga Rini sudah siap menerima lamaran darimu,," Sahut Madi yang sedang menunggangi kudanya dengan perlahan.
" Iya bener yang dikatakan Madi, An,," Sambung Ical lagi yang membenarkan perkataan Madi.
" Butuh waktu dan butuh biaya juga, sobat,," Jawab Anto sambil tersenyum atas pertanyaan dan juga pembicaraan dari kedua temannya itu.
" Benar sekali apa yang dikatakan Anto sobat, bahwa tidak segampang kita seperti membolak-balikkan telapak tangan temanku,," Sahut Fandi yang membenarkan perkataan Anto saat ini.
" Karena menikah itu haruslah kita pikirkan terlebih dahulu dengan sangat matang dalam melangkah,," Sambung Fandi lagi dalam membetulkan perkataan dari temannya yang bernama Anto.
" Dan juga, anak gadis orang tidak bisa kita nikahkan begitu saja, karena, anak gadis orang itu sama seperti ibu kita bahwa seorang perempuan wajib kita hormati dan junjung tinggi akan martabat harga dirinya,," Ucap Fandi lagi dengan jelas kepada tiga temannya itu hingga m membuat Anto, Madi dan juga Ical tepuk tangan dengan sangat riuh atas penjelasan dari Fandi yang begitu detail.
Fandi memang sangat pandai sekali dalam membuat sebuah keputusan terhadap suatu hal apapun. Sehingga membuat ketiga temannya ini salut mendengar penjelasan darinya itu. Karena, memang sangat benar apa yang telah dikatakan oleh Fandi bahwa seorang perempuan itu wajib untuk kita sebagai seorang laki-laki menghormati serta menjunjung tinggi martabat dan harga dirinya.
Apalagi menyangkut dengan masalah pernikahan, sebagai seorang pria yang usianya sudah cukup untuk menikah, maka sebaiknya kita harus menghormati harga diri dari gadis yang akan kita lamar. Karena, seorang gadis yang akan menjadi istri kita itu adalah seorang perempuan yang nantinya akan memberikan kita keturunan serta mendampingi kita sampai akhir hayat nanti.
Tepuk tangan yang riuh telah diberikan oleh ketiga temannya secara bersamaan. Terlihat dengan jelas bahwa Anto sendiri mengacungkan dua jempolnya pada Fandi yang begitu detail dan juga jelas sekali dalam memberikan sebuah perkataan yang memang benar adanya.
" Wah, wah, wah, memang kau sangat cerdas Fan,," Seru Anto yang sengaja memberikan pujian terhadap Fandi.
" Iya, teman kita satu ini memang beda sekali, selain pemikiran yang ia miliki itu sangat berbeda dengan kita bahwa ia memang paling cerdas di desa ini, wajahnya itu menunjukkan siapa karakter asli dari seorang pemuda bernama Fandi ini,," Sambung Madi yang ikut memuji akan kebenaran dan juga kecerdasan yang dimiliki oleh Fandi.
" Hahahaha, kau benar Madi, kalau kita kalah jauh dari pemikiran Fandi ini,," Ucap Ical yang menyambungkan perkataan pujian dari Madi dan juga Anto.
" Kalian semua bisa saja, teman, aku hanya membetulkan pernyataan yang disampaikan oleh Anto, bahwa memang benar sekali yang dikatakan Anto begitu teman-temanku,," Jawab Fandi sambil mengulas senyumnya.
" Yang intinya sebagai seorang teman darimu kami bertiga salut memiliki teman seperti kamu, Fan,," Sambung Anto lagi yang mengatakan bahwa ia sangat salut memiliki teman seperti Fandi.
" Hahahaha, kau bisa saja Anto,," Ucap Fandi sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Anto.
" Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan perburuan ini, supaya kita cepat sampai dan juga mendapatkan hasil dari perburuan yang kita lakukan ini,," Ucap Fandi kepada tiga temannya untuk segera melanjutkan perjalanan ke tempat perburuan yang sedang mereka jalani ini.
" Siap,," Jawab Anto, Madi, Ical secara bersamaan.
Karena, hari sudah semakin siang, oleh sebab itu Fandi mengajak ketiga temannya untuk segera pergi menuju ke tempat perburuan dan melajukan kuda yang sedang ditunggangi oleh mereka bertiga secara sendiri-sendiri dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sehingga membuat perjalanan mereka yang ingin pergi ke tempat perburuan itu cepat sampai.
Saat ini Fandi dan ketiga temannya itu sedang melakukan suatu kesibukan sehari-hari yang seringkali mereka lakukan. Sedangkan di dalam kediaman Fandi sendiri Ibunya Fandi saat ini sedang melakukan kesibukan di dalam rumah bagian tengah. Dan di tengah kesibukan yang sedang dilakukannya itu, Ibunya Fandi masih teringat dengan jelas akan ucapan dari putranya yaitu Fandi.
" Heemmm, kapan anak itu bisa di rumah menemani Ibunya yang hanya tinggal sendiri di dalam rumah ini,," Gumam Ibu Fandi sambil membersihkan hiasan guci yang ada di dalam lemarinya.
" Jikalau Fandi cepat menikah pastinya saat ini aku sudah ditemani beberapa cucu-cucuku yang lucu dari Fandi,," Sambung Ibunya Fandi lagi yang masih tetap dengan kesibukannya itu.
Walaupun di dalam kediaman orang tuanya Fandi ini sudah banyak pekerja yang sengaja diberikan pekerjaan oleh orang tuanya Fandi. Namun, Ibunya Fandi yaitu Ibu Rita sama sekali tidak mau bermalas-malasan meskipun sudah ada pembantu di dalam rumahnya.
Memang saat ini kondisi di dalam kediaman Fandi hanya ada beberapa orang yang sudah dewasa tinggal di rumah itu yaitu orang tua Fandi sendiri Ayah dan Ibunya, Fandi serta beberapa pekerja di dalam rumahnya itu. Sehingga tidak ada satupun keramaian dari beberapa anak kecil di dalam kediaman itu.
Pastinya Ibu Fandi yaitu Ibu Rita sudah sangat ingin sekali mendengar suara keramaian anak kecil di dalam kediamannya itu. Karena, Fandi anaknya sudah dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing, jadi, Ibu Rita saat ini memang sungguh merasa kesepian. Oleh sebab itu Ibu Rita ingin putranya yang bernama Fandi cepat menikah agar dirinya cepat menimang cucu dari hasil pernikahan putranya itu.
" Fandi, akan berhenti berburu jika, Fandi sudah menikah Ibu,," Ucapan Fandi yang sepintas lewat di pemikiran Ibu Rita.
" Heemmm, aku baru ingat, Fandi pernah bilang, bahwa ia akan berhenti berburu jika ia sudah menikah,," Gumam Ibu Rita yang sepintas mengingat ucapan Fandi saat mereka sedang mengobrol bersama, sebelum Fandi pergi berburu.
Karena, sudah lama merasa kesepian, tak terasa sepintas telah terlewatkan ucapan Fandi yang mengatakan bahwa ia akan berhenti berburu jika ia sudah menikah. Dan ucapan sepintas yang lewat itu membuat Ibu Rita menjadi bersemangat untuk segera memberitahukan ucapan Fandi itu kepada suaminya serta semua pekerja yang ada di dalam kediamannya itu.
Pastinya dengan segera Ibu Rita yang tadinya sedang melamun sendiri sambil membersihkan hiasan-hiasan yang ada di dalam ruangan tengah rumahnya itu. Membuat semangat pada dirinya itu bangkit sehingga tanpa berpikir panjang lagi Ibu Rita pergi meninggalkan begitu saja hiasan berupa guci yang ada di ruang tengah saat ini.
Sambil mencari keberadaan suaminya yang biasa terlihat di bagian ruang lain, seperti sebuah kantor kecil untuk suaminya melakukan pekerjaan yang biasa dilakukannya yaitu membeli dan menampung semua produk hasil perkebunan serta pertanian yang dihasilkan oleh setiap warga di kampungnya itu.
Dan kedua orang tua Fandi ini dikenal sebagai keluarga yang begitu dermawan serta kaya raya. Walaupun orang tua Fandi ini kaya raya, namun tidak memungkinkan bahwa orang tuanya ini sering dikatakan oleh orang kampung adalah seorang toke atau juragan. Meskipun sering disebut juragan, orang tua Fandi sama sekali tidak pernah berlaku curang kepada siapapun warga yang ingin menjualkan barang hasil dari pertanian mereka kepada orang tua Fandi ini.
Oleh sebab itu, Fandi juga memiliki sifat yang sama seperti orang tuanya yaitu baik, dermawan serta tidak sombong sama sekali. Setiap orang yang ingin berteman dengannya maka Fandi mau untuk berteman dengan orang itu pula. Karena, Fandi sama sekali tidak memilih siapapun yang akan menjadi temannya itu. Asal temannya itu mengajak dirinya menuju ke jalan yang baik bukan jalan yang buruk.
Karena Fandi adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup kaya raya mapan dan juga berada, oleh sebab itu semua anak gadis yang ada di kampungnya ini begitu mengagumi sifat dan kepribadian Fandi yang begitu baik sekali. Sehingga hal itu membuat Fandi sedikit merasa tidak enak dengan apa yang sedang di alaminya yaitu tidak enak hati jika menolak perasaan cinta ataupun suka dari beberapa teman gadisnya itu.
Walaupun di hati Fandi yang terdalam sudah memiliki seseorang gadis baik nan indah serta lembut karakternya. Namun, Fandi sama sekali tidak pernah mengungkapkan keinginannya itu kepada gadis yang telah mengisi ruang terdalam di dalam hatinya. Karena, Fandi hanya ingin jika gadis itu bisa mengetahuinya secara langsung dari kedatangan orang tuanya dalam perihal melamar.
Oleh sebab itu Fandi hanya bersedia memberitahukan isi hatinya ini kepada Ibunya sendiri. Karena, hanya ibunya sajalah yang bisa memahami isi dari hatinya itu. Sepandai-pandainya Fandi menyimpan perasaan yang selama ini ia pendam terhadap Aliyah atau yang sering dipanggil Lia. Namun, selaku orang tua Ibu Rita bisa mengetahui apa yang ada di dalam benak hati dan juga pikiran dari putranya itu.
" Lebih baik, berita bahagia ini aku sampaikan secara langsung kepada Ayah,," Seru Ibu Fandi yang segera meninggalkan pekerjaannya yaitu mengelap hiasan guci di ruang tengah demi menyampaikan perasaan yang selama ini terpendam dari hati putranya itu.
" Pasti Ayah suka dengerinnya, karena, secara tidak sengaja, wanita yang disukai Fandi adalah wanita yang sama disukai Ibu dan juga Ayah,," Ucap Ibu Rita lagi sambil tersenyum-senyum sendiri saat memikirkan suatu hal yang sama dengan putranya sendiri.
Sambil bergegas menuju ke ruangan suaminya bekerja, Ibu Rita sudah melewati beberapa pelayan yang ada di rumahnya sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Oleh sebab itu, Ibu Rita tidak menanyakan langsung kepada pelayan rumahnya mengenai keberadaan suaminya. Karena seperti biasa suaminya pasti berada di ruang kerjanya.
Dari kejauhan begitu terlihat dengan jelas bagaimana kesibukan dari para petugas serta warga yang sedang melakukan sebuah transaksi dalam area kediamannya itu. Ada warga yang baru saja datang membawa hasil perkebunannya seperti karet, kopi dan banyak macam lainnya lagi. Ibu Rita sendiri bisa melihat bagaimana kesibukan yang sedang dilakukan oleh para petugas suaminya itu dalam membantu pekerjaan yang dilakukan oleh suaminya selama ini.
Sambil tersenyum Ibu Rita melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana suaminya sedang berada. Yaitu pasti berada di dalam ruangan kantor khusus yang selama ini sering digunakan oleh suaminya dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari. Terlihat ada beberapa orang dan juga petugas sedang tersenyum melihat kedatangan Ibu Rita yang sedang menuju ke ruangan suaminya dan ada juga yang secara ramahnya menyapa Ibu Rita saat itu.
" Pagi Bu,," Ucap beberapa warga yang sedang menyeduh kopi di dalam ruangan tersebut setelah menjual hasil pertanian yang mereka lakukan.
" Pagi, juga, bagaimana dengan harinya ?" Tanya Ibu Rita sekilas dengan beberapa orang yang sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
" Baik Bu, hanya saja hasilnya saat ini sedang menipis, maklum musim penghujan,," Jawab salah satu warga yang mendapatkan nafkah dari hasil karet.
" Oh iya, memang benar, kalau lagi musim hujan getah karet berkurang ya ?" Tanya Ibu Rita lagi kepada warga yang telah mencari nafkah melalui menyadap karet.
" Kalau berkurang itu tidak Bu, hanya saja habis jika kita baru saja menyadap karetnya dan turun hujan,," Jawab warga lagi dengan begitu jelas pada Ibu Rita.
" Oh iya benar sekali, tapi, hujan tidak bikin pohonnya jadi buruk kan, Pak ?" Tanya Ibu Rita lagi pada warga yang sedang menjual hasil kebunnya yaitu karet.
" Tidak Bu, hanya saja sayang getahnya kalau barusan sudah disadap terus hujan kan sayang sekali itu Bu,," Bilang warga lainnya lagi pada Ibu Rita.
" Heemmm baguslah kalau seperti itu, yang paling penting masih bisa menyadap getah karetnya dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga dalam kehidupan sehari-hari,," Ucap Bu Rita lagi kepada warga sembari memberikan semangat pada warga yang sedang menyadap karet itu agar tidak merasa kendur dan juga tertekan dalam cuaca sehari-hari.
" Iya Bu, benar sekali terima kasih banyak Bu, atas semangat yang telah diberikan,," Bilang semua warga yang masih berada di dalam area kediamannya itu.
" Ya sama-sama, ya sudah kalau begitu silahkan lanjutkan minum kopinya,," Ucap Ibu Rita yang mempersilahkan semua warga menjual hasil perkebunannya itu pada suaminya untuk menikmati makanan serta minuman yang telah disediakan olehnya itu.
" Ya Bu, terima kasih,," Ucap warga yang terlihat banyak tersenyum kepada Ibu Rita.
" Ya sama-sama,," Jawab Ibu Rita sambil tersenyum pula.
" Kalau begitu saya mau ke ruangan bapak dulu,," Bilang Ibu Rita kepada warga yang sudah berbicara padanya itu.
" Ya, Bu,," Jawab semua warga di tempat.
Setelah cukup panjang melakukan pembicaraan kepada semua warga yang baru saja mengantarkan hasil perkebunannya kepada suaminya itu. Ibu Rita kembali melangkahkan kakinya dengan santai menuju ke ruangan suaminya dalam rangka menyampaikan apa yang selama ini ditunggu-tunggu oleh mereka berdua kepada Fandi putra semata wayangnya itu.
****
Karena, di selama perjalanan yang sedang dilakukan oleh Anto dan Fandi serta beberapa temannya itu membahas masalah pasangan mereka masing-masing dan Anto juga sudah menjawab dengan benar dan sesuai dengan keadaan yang ada. Oleh sebab itu, akhirnya Anto bisa mengalihkan pembicaraan yang sedang dilakukan mereka berempat untuk mengisi masa perjalanan perburuan yang sedang mereka lakukan.
" Kalau aku sudah jelas bukan teman-teman, bahwa memang saat ini aku sedang dekat dengan seorang gadis di desa kita,," Ucap Anto lagi dengan begitu yakin dan juga jelas pada semua temannya.
" Namun, aku belum saja menentukan kapan aku dan orang tuaku menemui secara langsung orang tuanya Rini untuk melamar gadis pujaanku itu,," Ucap Anto lagi dengan begitu jelas dan juga meyakinkan ke empat temannya itu.
" Kenapa memangnya An, bukannya kamu sudah siap dan juga Rini sudah siap menerima lamaran darimu,," Sahut Madi yang sedang menunggangi kudanya dengan perlahan.
" Iya bener yang dikatakan Madi, An,," Sambung Ical lagi yang membenarkan perkataan Madi.
" Butuh waktu dan butuh biaya juga, sobat,," Jawab Anto sambil tersenyum atas pertanyaan dan juga pembicaraan dari kedua temannya itu.
" Benar sekali apa yang dikatakan Anto sobat, bahwa tidak segampang kita seperti membolak-balikan telapak tangan temanku,," Sahut Fandi yang membenarkan perkataan Anto saat ini.
" Karena menikah itu haruslah kita pikirkan terlebih dahulu dengan sangat matang dalam melangkah,," Sambung Fandi lagi dalam membetulkan perkataan dari temannya yang bernama Anto.
" Dan juga, anak gadis orang tidak bisa kita nikahkan begitu saja, karena, anak gadis orang itu sama seperti ibu kita bahwa seorang perempuan wajib kita hormati dan junjung tinggi akan martabat harga dirinya,," Ucap Fandi lagi dengan jelas kepada tiga temannya itu hingga m membuat Anto, Madi dan juga Ical tepuk tangan dengan sangat riuh atas penjelasan dari Fandi yang begitu detail.
Fandi memang sangat pandai sekali dalam membuat sebuah keputusan terhadap suatu hal apapun. Sehingga membuat ketiga temannya ini salut mendengar penjelasan darinya itu. Karena, memang sangat benar apa yang telah dikatakan oleh Fandi bahwa seorang perempuan itu wajib untuk kita sebagai seorang laki-laki menghormati serta menjunjung tinggi martabat dan harga dirinya.
Apalagi menyangkut dengan masalah pernikahan, sebagai seorang pria yang usianya sudah cukup untuk menikah, maka sebaiknya kita harus menghormati harga diri dari gadis yang akan kita lamar. Karena, seorang gadis yang akan menjadi istri kita itu adalah seorang perempuan yang nantinya akan memberikan kita keturunan serta mendampingi kita sampai akhir hayat nanti.
Tepuk tangan yang riuh telah diberikan oleh ketiga temannya secara bersamaan. Terlihat dengan jelas bahwa Anto sendiri mengacungkan dua jempolnya pada Fandi yang begitu detail dan juga jelas sekali dalam memberikan sebuah perkataan yang memang benar adanya.
" Wah, wah, wah, memang kau sangat cerdas Fan,," Seru Anto yang sengaja memberikan pujian terhadap Fandi.
" Iya, teman kita satu ini memang beda sekali, selain pemikiran yang ia miliki itu sangat berbeda dengan kita bahwa ia memang paling cerdas di desa ini, wajahnya itu menunjukkan siapa karakter asli dari seorang pemuda bernama Fandi ini,," Sambung Madi yang ikut memuji akan kebenaran dan juga kecerdasan yang dimiliki oleh Fandi.
" Hahahaha, kau benar Madi, kalau kita kalah jauh dari pemikiran Fandi ini,," Ucap Ical yang menyambungkan perkataan pujian dari Madi dan juga Anto.
" Kalian semua bisa saja, teman, aku hanya membetulkan pernyataan yang disampaikan oleh Anto, bahwa memang benar sekali yang dikatakan Anto begitu teman-temanku,," Jawab Fandi sambil mengulas senyumnya.
" Yang intinya sebagai seorang teman darimu kami bertiga salut memiliki teman seperti kamu, Fan,," Sambung Anto lagi yang mengatakan bahwa ia sangat salut memiliki teman seperti Fandi.
" Hahahaha, kau bisa saja Anto,," Ucap Fandi sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Anto.
" Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan perburuan ini, supaya kita cepat sampai dan juga mendapatkan hasil dari perburuan yang kita lakukan ini,," Ucap Fandi kepada tiga temannya untuk segera melanjutkan perjalanan ke tempat perburuan yang sedang mereka jalani ini.
" Siap,," Jawab Anto, Madi, Ical secara bersamaan.
Karena, hari sudah semakin siang, oleh sebab itu Fandi mengajak ketiga temannya untuk segera pergi menuju ke tempat perburuan dan melajukan kuda yang sedang ditunggangi oleh mereka bertiga secara sendiri-sendiri dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sehingga membuat perjalanan mereka yang ingin pergi ke tempat perburuan itu cepat sampai.
Saat ini Fandi dan ketiga temannya itu sedang melakukan suatu kesibukan sehari-hari yang seringkali mereka lakukan. Sedangkan di dalam kediaman Fandi sendiri Ibunya Fandi saat ini sedang melakukan kesibukan di dalam rumah bagian tengah. Dan di tengah kesibukan yang sedang dilakukannya itu, Ibunya Fandi masih teringat dengan jelas akan ucapan dari putranya yaitu Fandi.
" Heemmm, kapan anak itu bisa di rumah menemani Ibunya yang hanya tinggal sendiri di dalam rumah ini,," Gumam Ibu Fandi sambil membersihkan hiasan guci yang ada di dalam lemarinya.
" Jikalau Fandi cepat menikah pastinya saat ini aku sudah ditemani beberapa cucu-cucuku yang lucu dari Fandi,," Sambung Ibunya Fandi lagi yang masih tetap dengan kesibukannya itu.
Walaupun di dalam kediaman orang tuanya Fandi ini sudah banyak pekerja yang sengaja diberikan pekerjaan oleh orang tuanya Fandi. Namun, Ibunya Fandi yaitu Ibu Rita sama sekali tidak mau bermalas-malasan meskipun sudah ada pembantu di dalam rumahnya.
Memang saat ini kondisi di dalam kediaman Fandi hanya ada beberapa orang yang sudah dewasa tinggal di rumah itu yaitu orang tua Fandi sendiri Ayah dan Ibunya, Fandi serta beberapa pekerja di dalam rumahnya itu. Sehingga tidak ada satupun keramaian dari beberapa anak kecil di dalam kediaman itu.
Pastinya Ibu Fandi yaitu Ibu Rita sudah sangat ingin sekali mendengar suara keramaian anak kecil di dalam kediamannya itu. Karena, Fandi anaknya sudah dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing, jadi, Ibu Rita saat ini memang sungguh merasa kesepian. Oleh sebab itu Ibu Rita ingin putranya yang bernama Fandi cepat menikah agar dirinya cepat menimang cucu dari hasil pernikahan putranya itu.
" Fandi, akan berhenti berburu jika, Fandi sudah menikah Ibu,," Ucapan Fandi yang sepintas lewat di pemikiran Ibu Rita.
" Heemmm, aku baru ingat, Fandi pernah bilang, bahwa ia akan berhenti berburu jika ia sudah menikah,," Gumam Ibu Rita yang sepintas mengingat ucapan Fandi saat mereka sedang mengobrol bersama, sebelum Fandi pergi berburu.
Karena, sudah lama merasa kesepian, tak terasa sepintas telah terlewatkan ucapan Fandi yang mengatakan bahwa ia akan berhenti berburu jika ia sudah menikah. Dan ucapan sepintas yang lewat itu membuat Ibu Rita menjadi bersemangat untuk segera memberitahukan ucapan Fandi itu kepada suaminya serta semua pekerja yang ada di dalam kediamannya itu.
****