
Setelah melihat Martin keluar dari balkon kamarnya, dengan segera Ziya masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu balkon kamar dengan sangat rapat. Ziya takut jika, efek racunnya itu tidak terlalu bereaksi di dalam tubuh Martin.
" Aku harus cepat-cepat masuk, aku takut dia berpura-pura terkena racun yang kuberikan." Ucap Ziya dengan segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon dengan sangat rapat.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Ziya memeriksa lagi keadaan Martin dari kaca kamarnya untuk melihat bagaimana reaksi racun dalam tubuhnya itu. Sambil menarik napasnya dan menghembuskan napasnya, Ziya segela menuju ke arah kaca untuk melihat Martin.
" Uuuuhhhhh untung saja aku cepat melakukannya, kalau tidak, Martin akan menang, karena, sudah mendapatkan aku, tapi, tidak semudah itu untuk mengalahkan aku Martin,," Ucap Ziya sendiri sambil mengatur napasnya kembali normal.
" Lebih baik, aku segera melihatnya, apakah racun itu memang benar bereaksi,," Bilang Ziya sambil melangkah ke arah kaca kecil yang berada di sudut kamarnya.
Ternyata memang benar, racunnya bereaksi dalam tubuh Martin. Martin terlihat sangat sulit untuk melangkahkan kakinya kembali ke ruangannya sendiri.
" Hahahaha, bagus ternyata racunnya bereaksi,," Ucap Ziya sambil tersenyum senang melihat Martin yang cukup sulit untuk melangkahkan kakinya.
Ziya tersenyum puas dengan kelakuannya itu, akhirnya dia berhasil mendapatkan semua bukti dari mulut Martin secara langsung, walaupun identitasnya itu akan ketahuan.
" Akhirnya aku telah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Alberto selama ini," Ucap Ziya sambil mengeluarkan alat perekam dari dalam kantong bajunya.
" Pasti, Martin sudah mengetahui bahwa aku bukanlah Zoya,,," Gumam Ziya yang berpikir akan identitasnya yang sudah seratus persen ketahuan oleh Martin.
" Aaahhh tidak penting, yang penting bagiku adalah bisa mendapatkan bukti valid ini,," Ucap Ziya senang saat tangannya telah memegang alat perekam itu.
Lalu, setelah merasakan keadaan cukup aman Ziya segera menghidupkan kembali alat perekam yang telah disiapkannya itu. Ziya mendengarkan semua ucapan-ucapan yang disampaikan Martin secara langsung pada dirinya.
" Heh!! ternyata dia hanya mengincar semua harta milik Alberto sama seperti Mommynya yang sengaja merusak rumah tangga orang hanya demi harta." Ucap Ziya kesal setelah mengulangi lagi perkataan Martin.
" Oh God, aku tidak bisa membayangkan bagaimana pikiran mereka yang hanya menginginkan harta dan posisi jabatan," Ucap Ziya lagi yang mengumpat kesal terhadap perkataan Martin di dalam alat rekamannya itu.
Lalu, Ziya kembali mendengarkan suara Martin di dalam alat perekamnya itu. Dan, terakhir sebelum insiden Ziya menyemburkan serbuk racun ke wajah Martin. Ziya mendengarkan perkataan Martin yang paling inti bahwa selama ini rahasia tersimpan dengan sangat erat adalah Mommy Martin alias Gladys ialah salah satu orang yang ikut berencana dan ada dalam pembunuhan Friska. Ziya berpikir bukannya Friska adalah Ibunya Alberto dan Mamanya pernah menyebutkan nama seperti itu juga.
" Martin pernah mengatakan bahwa Gladys ikut dalam kelompok mafia kecil untuk membunuh Friska, bukannya Friska adalah Mommynya Alberto,," Bilang Ziya yang mengingat kembali nama Friska itu.
Sesaat Ziya teringat akan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Mamanya dulu, bahwa Mamanya dulu pernah memiliki sahabat yang bernama Friska, apakah sahabat Mamanya itu adalah Mommy kandung Alberto.
" Haaahh!! jangan-jangan Friska Mommy kandung Alberto adalah Friska sahabatnya Mama." Ucap Ziya yang sesaat terpikir akan ucapan Mamanya dulu.
Lalu, Ziya teringat kembali ucapan Alberto yang pernah dikatakannya saat ia berpura-pura tertidur.
" Bukannya pada malam itu Alberto pernah mengira dan mengatakan bahwa aku adalah putrinya Zalina. Jika benar Friska Mommy Alberto adalah sahabat Mama dulu berarti kematian yang terjadi pada Friska ada hubungannya juga dengan Mama, karena, Mama pasti mengetahui semua yang telah terjadi,," Gumam Ziya yang mengingatkan ucapan Mamanya.
" Pantas saja Alberto ingin meminta bantuan dariku dan juga saat aku ke taman tanaman merah Alberto jelas mengetahui bahwa aku adalah wanita yang dicarinya selama ini, karena, kehobian yang kumiliki sama seperti keahlian yang dimiliki Mama, Alberto bermaksud bukan mencari diriku, melainkan mencari keberadaan wanita yang menyukai bahan beracun, pasti yang selama ini dicari Alberto adalah Mama." Bilang Ziya lagi yang sedang bolak balik memikirkan perkataan Alberto saat mereka sedang berada di kebun tanaman merah.
Dan, Ziya teringat perkataan Alberto bahwa jika Ziya ingin pergi ke kebun tanaman merah itu, Ziya harus pergi bersama dengannya. Dan, saat ini Ziya baru memahami akan maksud dari perkataan Alberto itu.
" Ooohhh aku baru mengerti, sepertinya Alberto ingin menutupi identitas tentangku, dari orang-orang yang berada di dalam rumah ini, karena, semua orang yang berada di dalam rumah ini adalah musuh besarnya yang tidak terlihat. Ya, aku baru menyadari bahwa Alberto ingin menutupi keahlian yang kumiliki ini dari orang yang telah mengetahui keahlian Mama." Bilang Ziya yang baru menyadari ungkapan yang disampaikan Alberto saat itu.
" Heemmm baik, jika benar Friska yang dimaksudkan Mama adalah Mommynya Alberto, maka, lebih baik secepatnya aku harus mencari waktu yang tepat untuk melakukan rencana selanjutnya demi menuntaskan rahasia yang selama ini tertutup dari Alberto." Ucap Ziya yang segera melangkahkan kakinya ke ruang khusus penelitian racun miliknya.
Ziya segera menyimpan rekaman itu di sebuah tempat yang begitu aman, sehingga apabila pada waktu yang tepat nanti, Ziya akan segera memberitahu Alberto tentang rahasia ini semua.
" Disaat waktu yang tepat aku akan membongkar semua rahasia ini pada Alberto," Bilang Ziya tersenyum setelah melihat alat rekaman itu yang telah disimpannya dengan sangat aman dan rapi.
Ziya segera keluar dari ruangan penelitiannya lalu, melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur dimana saat ini sudah lewat dari tengah malam, namun Alberto belum juga kembali.
" Heeemm, sudah lewat tengah malam, kenapa, Alberto belum kembali," Gumam Ziya yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.
" Sepertinya dia membohongiku, lihat saja akan aku hukum kau besok Alberto." Bilang Ziya lagi yang melihat jarum jam dinding sudah menunjukkan angka tiga.
Karena, tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya akhirnya Ziya merebahkan tubuhnya di samping Demian sambil memeluk tubuh Demian. Ziya sudah berulangkali menguap menahan rasa kantuk di matanya, namun sesaat Ziya lima belas menit kemudian Ziya mendengar ada yang membuka pintu kamarnya. Ziya membuka sedikit matanya dan melihat siapa yang datang ternyata Alberto yang telah masuk ke dalam kamarnya sambil membuka pintu dengan sangat halus.
" Haah!! dia telah pulang aku berpura-pura tidur, supaya dia tidak menggangguku." Ucap Ziya yang segera melakukan sandiwaranya di samping tubuh Demian.
Alberto masuk ke dalam kamarnya Ziya dan tersenyum ketika melihat Ziya yang sudah tertidur sambil memeluk erat tubuh Demian.
" Heeemm kau bilang mau menunggu kepulanganku sayang, tapi nyatanya kau sudah tertidur." Ucap Alberto yang mendekati tubuh Ziya.
Alberto sengaja menciumi semua tubuh Ziya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Membuat Ziya yang berpura-pura tertidur itu bangkit dan segera duduk tepat di hadapan Alberto.
" Alberto apa yang kau lakukan,," Bilang Ziya pada Alberto dengan wajah yang terlihat sangat mengantuk dan rambut sedikit acak-acakan.
Alberto tertawa ketika melihat gaya Ziya seperti itu, bagi, Alberto gaya Ziya ini sangatlah lucu.
" Heemmm,, aku tahu kalau kau belum tertidur,," Bilang Alberto sambil duduk tepat di hadapan Ziya dan mengecup lembut dahi Ziya.
" Kenapa kau lama sekali pulangnya ?" Tanya Ziya dengan suara lembut pada Alberto.
Alberto tersenyum melihat wajah Ziya yang terlihat sangat lembut menyambut kedatangannya.
" Karena, banyak sekali tugas yang harus aku selesaikan,," Jawab Alberto mengelus lembut wajah Ziya.
" Oohh begitu," Bilang Ziya mengangguk.
Ziya ingin sekali langsung menyampaikan sesuatu hal yang telah terjadi dengan dirinya beberapa hari ini pada Martin, namun, Alberto terlebih dahulu mengatakan sesuatu yang juga penting bagi Ziya, sehingga membuat Ziya seakan lupa dengan perkataannya itu.
" Sayang, aku boleh bertanya ?" Tanya Alberto langsung pada Ziya setelah melepaskan kemeja putihnya dan ucapannya itu membuat Ziya sedikit kaget.
Ya, Ziya kaget akan pertanyaan yang disampaikan Alberto pada dirinya ini. Karena, Ziya sama sekali baru saja mendapatkan sesuatu hal yang begitu banyak terjadi dengan dirinya. Bahkan masalah besar itu juga bersangkutan dengan Mamanya.
" Apa yang ingin kau tanyakan, Alberto ?" Tanya Ziya dengan wajah santainya.
" Heemm, kenapa kau melakukan ini ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya yang membuat Ziya semakin kaget dan cemas.
" Oh God, apakah Alberto mengetahui bahwa aku sudah melakukan sesuatu terhadap Martin." Gumam Ziya dalam hati sambil menatap Alberto dengan wajah sumringahnya.
" Memangnya aku melakukan apa ?" Tanya Ziya balik pada Alberto sambil tersenyum tipis.
" Heemmm, nanti akan kita bicarakan lagi, aku mau membersihkan tubuhku dulu,," Ucap Alberto yang segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
" Aakkh Alberto tunggu, aku belum selesai,," Bilang Ziya yang sedikit berteriak dan mengejar langkah kaki Alberto.
Alberto tersenyum melihat kelakuan Ziya yang begitu terlihat penasaran akan pertanyaannya saat ini. Dengan segera Ziya melangkahkan kakinya mengejar Alberto untuk mengetahui apa maksud dari pertanyaan Alberto itu padanya.
" Tunggu Alberto,," Bilang Ziya yang mencegah langkah Alberto.
Dengan sengaja Ziya menghalangi pintu kamar mandi saat ini. Demi mengetahui apa maksud dari pertanyaan Alberto padanya itu.
" Sayang, aku mandi, nanti kita bicarakan, ok,," Bilang Alberto sambil menyentuh lembut dagu Ziya.
" Apakah kau mau menemaniku mandi ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya dengan senyuman nakalnya.
" Tidak,,, kau mandi saja sendiri," Ucap Ziya spontan pada Alberto.
" Hihihihihihi,, kau sangat lucu sayang,," Bilang Alberto yang segera masuk ke dalam kamar mandi.
Karena, Alberto sudah masuk ke dalam kamar mandi, Ziya segera melangkah lagi menuju ke tempat tidurnya. Dan, memikirkan maksud dari perkataan Alberto itu.
" Apa maksud dari perkataannya itu,," Gumam Ziya sendiri sambil melangkah menuju ke tempat tidur.
" Apakah dia mengetahui bahwa aku telah berhasil mendapatkan rahasia ini,," Bilang Ziya lagi sambil naik ke atas tempat tidur.
" Aakkhhh tidak mungkin," Ucap Ziya sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi, mungkin saja ia mengetahuinya, karena, di setiap sudut rumahnya ini selalu ada pengintai yang begitu rahasia dan hanya dia yang mengetahuinya." Bilang Ziya yang mengingat kembali akan kepintaran Alberto.
" Walaupun dia tahu itu sangat bagus untuknya tapi, lebih bagus lagi jika aku langsung memberitahukan rahasia ini padanya. Namun, apakah dia mempercayaiku ?" Tanya Ziya sendiri dalam hatinya yang sedikit bingung akan pikirannya itu.
" Heemm, aku harus berani untuk menyampaikan ini semua padanya. Karena, jika aku terlambat memberitahu rahasia ini padanya, kemungkinan besar dua orang itu telah melakukan rencana penyerangan balik pada Alberto." Gumam Ziya dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang penelitiannya itu.
Saat, Ziya ingin melangkahkan kakinya menuju ke ruang penelitiannya itu, tiba-tiba suara Alberto sengaja memanggil dirinya.
" Sayang,," Panggil Alberto langsung dari kamar mandi untuk Ziya.
" Ya,," Jawab Ziya menoleh ke arah kamar mandi.
" Ya, tunggu sebentar." Jawab Ziya dengan segera mengalihkan langkah kakinya.
Ziya ingin segera melangkahkan kakinya menuju keluar kamar, namun, ia juga baru teringat bahwa baju ganti untuk Alberto sudah disediakan oleh dirinya semenjak sore tadi.
" Oh iya aku lupa, bukannya tadi aku sudah menyuruh Vena untuk menyiapkan baju ganti Alberto." Bilang Ziya segera balik lagi ke ruang tempat tidurnya.
Ziya segera mengambil baju ganti Alberto yang diletakkan Vena di atas sofa dalam ruang ganti. Dan, saat Ziya ingin keluar dari ruang ganti, ternyata Alberto sudah masuk ke dalam ruang ganti.
" Ternyata sudah ada,," Bilang Ziya tersenyum melihat tubuh indah Alberto yang masih basah.
" Terima kasih sayang,," Ucap Alberto segera mengambil baju dari tangan Ziya.
" Heemmm, Alberto aku sungguh ingin tahu memangnya kau mengetahui apa yang kulakukan ?" Tanya Ziya dengan suara sedikit manja dan ikut membantu untuk mengeringkan rambut Alberto yang basah.
" Hahaha sepertinya kau sungguh penasaran sayang,," Ucap Alberto pada Ziya yang hanya dibalas anggukan saja oleh Ziya.
" Pastinya aku penasaran karena kau selalu membuatku penasaran,," Gumam Ziya dalam hati.
" Baiklah, aku akan memberitahumu, apa yang kau lakukan di kamarnya Krystal, apa kau berdebat dengannya ?" Tanya Alberto yang membuat Ziya sedikit menghentikan kegiatannya.
" Alberto, kau tahu kalau aku sengaja pergi ke kamar Krystal." Bilang Ziya yang menatap wajah Alberto.
" Heemm,, apa yang kau lakukan disana, apa kau berdebat dengannya ?" Tanya Alberto sambil menaikkan dagu Ziya.
Saat Alberto menaikkan dagu Ziya itu sungguh terlihat betapa cantiknya Ziya di mata Alberto. Sangat berbeda dengan kembarannya itu yaitu Zoya.
" Tidak, aku malah senang jika aku bisa dekat dengan kedua putrimu itu Alberto." Ucap Ziya dengan spontan langsung tersenyum menatap Alberto.
" Benarkah ?" Tanya Alberto lagi.
" Heemm,, Alberto apakah kau mengizinkan aku untuk mengurus kedua putrimu ?" Tanya Ziya lembut pada Alberto.
" Sayang sebenarnya aku sudah lama ingin memberitahumu tentang suatu hal yang ada di dalam kediamanku ini dan aku sudah lama juga ingin memberitahumu tentang kedua putriku itu." Ucap Alberto yang membuat Ziya penasaran dan bingung.
" Memangnya apa yang ingin kau beritahukan padaku, Alberto ?" Tanya Ziya pada Alberto dengan wajah yang begitu penasaran.
Karena, melihat wajah Ziya begitu penasaran dengan senyuman yang terukir di wajahnya itu, Alberto segera memberitahu pada Ziya bahwa kedua putri itu bukanlah anak kandungnya.
" Sebenarnya kedua putriku itu bukanlah putri kandungku,," Ucap Alberto yang membuat mulut Ziya ternganga.
" Apa ?" Gumam Ziya terlihat kaget.
" Jangan terkejut sayang, mari kita bicarakan hal ini diluar,," Ucap Alberto yang segera menggendong tubuh Ziya.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.
Alberto segera menggendong tubuh Ziya dan membawanya keluar dari ruang ganti, karena, Alberto ingin membicarakan hal serius ini di ruangan yang sedikit terbuka. Setelah sampai di ruang tempat santai kamar Ziya, Alberto segera meletakkan Ziya di atas sofa dan menceritakan hal yang sebenarnya dari kedua putrinya itu.
" Ya, sayang, jangan terkejut atas apa yang telah aku ungkapkan ini, memang benar Krystal dan Isabelle bukanlah anak kandungku," Ucap Alberto mengangguk pada Ziya.
" Jadi, Alberto, Krystal dan Isabelle bukanlah putri kandungmu," Bilang Ziya yang menatap wajah Alberto dengan serius.
" Heemmm,, begitulah,," Jawab Alberto lembut.
" Kenapa bisa begitu ?" Tanya Ziya dengan wajah polosnya.
" Ya tentu saja bisa, karena, istri pertamaku telah hamil duluan sebelum aku menikah dengannya,," Bilang Alberto yang menjelaskan status Putri pertamanya itu.
" Itu tentang Krystal, terus kalau Isabelle bagaimana ?" Tanya Ziya selanjutnya pada Alberto.
Alberto sedikit mengulas senyumannya pada Ziya lalu, menceritakan kembali apa yang telah terjadi pada pernikahan pertamanya dulu.
" Semenjak aku mengetahui bahwa Istri pertamaku dulu telah hamil duluan sebelum menikah denganku, sejak saat itu juga aku tidak pernah menyentuh tubuhnya dan aku sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai istriku,," Bilang Alberto kepada Ziya sambil menjelaskan kebenaran dari hubungan kisah pernikahannya dengan istri pertamanya itu.
" Setelah ia melahirkan Putri pertamanya, Daddy dan Grandma sangat menyukai bayi itu, sehingga aku tidak mempermasalahkannya, setelah kelahiran Krystal Mommynya Krystal dengan sengaja kembali melakukan hal busuk di belakangku, dia telah berani selingkuh dariku, karena, selama ia menikah denganku, aku tidak pernah memperdulikannya bahkan tidak pernah menyentuhnya." Ucap Alberto yang menceritakan kejadian yang terjadi di masa lalu.
Saat Alberto menceritakan kisah kelam pernikahannya di masa lampau, Ziya ternganga mendengarkan cerita itu, sehingga membuat Ziya masih tetap menjadi pendengar setia bagi Alberto yang sedang menceritakan kehidupannya ini.
" Setelah dua tahun kemudian dia hamil lagi dengan lelaki lain, bukanlah Daddy kandung dari Krystal. Karena, aku telah menyuruh orangku untuk membunuh Daddynya, yang berani-beraninya bermain busuk di belakangku." Bilang Alberto jelas dengan Ziya.
Ziya terkejut dengan ucapan Alberto, karena, Alberto memberitahukan bahwa Daddy kandung Krystal saat ini sudah mati terbunuh oleh anak buahnya Alberto.
" Apa ? Jadi, Daddy Krystal sudah meninggal ?" Tanya Ziya yang mulutnya terbuka menganga tidak percaya.
" Dan untuk Daddy Isabelle hingga kini aku belum mendapatkannya, karena, dia telah berani bermain di belakangku dengan orang lain yang merupakan orang suruhan dari seseorang yang sampai saat ini aku belum mengetahuinya. Oleh sebab itu, saat kelahiran Isabelle aku menceraikan dia dan mengambil semua hak asuh darinya, supaya ia tahu bagaimana rasanya jika dikhianati dengan kepolosan dari wajahnya itu." Bilang Alberto lagi yang sedikit membuat Ziya bergidik ngeri.
Ya, memang seperti itu sifat Alberto, jika ia mengetahui seseorang berani berkhianat dengannya, dengan segera Alberto langsung membunuhnya. Tanpa harus memberikan penjelasan lagi padanya.
" Bagaimana aku harus menjelaskan perbuatan yang kulakukan pada Martin,," Gumam Ziya dalam hati merasa takut untuk menceritakan kejadiannya hari ini.
" Tapi, Alberto apakah kedua putrimu itu mengetahui semua hal ini ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto.
" Hanya Krystal yang mengetahui kebenarannya, kalau Isabelle dia tidak mengetahui apapun." Jawab Alberto lagi.
" Alberto, aku meminta izin padamu, apakah aku boleh menganggap mereka seperti anakku sendiri dan mengasihi mereka seperti aku mengasihi Demian." Ucap Ziya langsung pada Alberto.
" Heemm,, silahkan sayang, sebenarnya aku menyayangi mereka, tapi, ketika aku mengingat kelakuan busuk dari Mommynya, aku sangat tidak menyukai kehadiran mereka yang ada dalam hidupku, sehingga aku terlihat begitu sangat mengacuhkan mereka berdua. Namun, di dalam hatiku ini sangat tulus menyayangi mereka, karena, mereka telah aku besarkan dari kecil hingga dewasa,," Jawab Alberto dengan wajahnya yang begitu lembut di hadapan Ziya.
Lalu, dengan lembut Ziya meletakkan kepala Alberto di pangkuannya membuat Alberto sangat menyukai sikap Ziya yang begitu membuatnya semakin mencintainya.
" Maafkan aku, jika aku mengingat suatu hal yang telah terjadi padamu waktu dulu, Alberto,," Bilang Ziya sambil menatap wajah Alberto yang berada di pangkuannya.
" Ini bukan kesalahanmu sayang, karena, kau tidak mengetahui sebenarnya tentang mereka,," Bilang Alberto yang mengelus lembut wajah Ziya.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.
" Oh ya, karena, kau telah meminta izin dariku untuk memberikan kasih sayang pada mereka, aku izinkan, tapi, mungkin akan membuatmu sulit jika kau harus membagikan kasih sayangmu terhadap Demian, Krystal Isabelle dan juga aku,," Ucap Alberto yang sengaja menciumi perut Ziya.
Ziya sedikit tergelitik ketika, Alberto menyebutkan namanya sendiri.
" Heemmm,, kau ini,," Bilang Ziya sambil mencubit lembut pipi Alberto.
Ketika suasana sudah tidak lagi menjadi tegang dan dingin, Ziya ingin segera langsung memberitahukan tentang rahasia yang telah disampaikan langsung oleh Martin.
" Eemmm Alberto,," Panggil Ziya pada Alberto yang masih mengusap lembut perutnya itu.
" Heemm, ya sayang,," Jawab Alberto mendongakkan wajahnya menatap Ziya.
" Aku ingin membicarakan sesuatu padamu," Ucap Ziya sambil menguap.
Alberto tertawa melihat Ziya yang berbicara sambil menguap itu. Dengan segera Alberto bangkit dari baringnya lalu, menggendong tubuh Ziya menuju ke tempat tidur.
" Hahahaha, sayang kau ingin berbicara apa lagi, kau saja mengantuk, lebih baik besok saja kau katakan padaku,," Ucap Alberto yang segera mengangkat tubuh Ziya.
" Eehhh Alberto aku serius, aku ingin membicarakan sesuatu penting padamu,," Bilang Ziya dengan tubuhnya yang telah berada di dalam gendongan Alberto.
" Eeemmm sayang besok saja besok aku tidak pergi kemana-mana dan aku akan menjadi pendengar setia cerita yang akan disampaikan olehmu sayang,," Bilang Alberto sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur Ziya.
" Janji ?" Tanya Ziya langsung pada Alberto.
" Yeah, aku berjanji,," Ucap Alberto langsung menjawab pertanyaan Ziya.
" Baiklah, karena kau sudah berjanji untuk tidak pergi kemanapun besok, aku akan menceritakan semua hal yang telah terjadi padamu besok,," Bilang Ziya yang sengaja melingkarkan kedua tangannya di bagian leher Alberto.
" Heemmm, apapun yang ingin kau katakan padaku, katakan saja, sayang,," Bilang Alberto sambil meletakkan Ziya di atas tempat tidur.
Setelah meletakkan Ziya di tempat tidur dengan segera Alberto naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya tepat di samping Ziya. Sambil memeluk erat tubuh wanita yang selalu membuatnya bahagia itu, dengan sangat cepat Alberto memejamkan matanya. Ziya tersenyum melihat wajah Alberto yang begitu tampan dan tidak terlihat kejam ketika sedang tertidur seperti ini.
****