
Karena, merasa tubuh Ziya saat ini semakin kuat melawannya, tentu saja pria itu dengan sangat kuat menggigit tubuh Ziya dengan sekuat tenaganya, sehingga menyebabkan luka yang cukup besar serta warna yang kebiruan pada bagian tubuh Ziya itu.
" AARRGGHH SAKIIITTT,," Teriak Ziya yang menahan rasa sakit di dadanya.
Pria itu semakin bertindak kasar supaya Ziya tidak bisa lagi memberikan perlawanan akan tindakannya itu. Karena, semakin lama semakin sering memberikan perlawanan dan akhirnya tubuh Ziya pun melemah karena rasa sakit di bagian dadanya yang begitu membuat dirinya menjadi sangat lemah, dan lemah. Sehingga dengan sangat cepat pria itu membuka kedua kaki Ziya dan ingin segera memasukkan miliknya kepada bagian inti Ziya.
Walaupun telah lemah Ziya masih saja bisa memberikan sedikit perlawanan atas sikap perlakuan kasar dari pria itu terhadap dirinya.
" Al,, ber,, to,, tolong a,, ku,," Ucap Ziya dengan suara lembut dan kondisi yang lemah telah menelusuri semua tubuhnya.
Sehingga pada saat ini juga Ziya tidak bisa lagi memberikan perlawanan atas perbuatan pria tersebut dan hanya bisa pasrah terhadap apapun yang akan dilakukan pria itu padanya. Terlihat dengan jelas bahwa mata Ziya saat itu sudah berkunang-kunang dan begitu bisa dirasakan oleh Ziya bahwa pria itu telah berhasil membuka kedua kakinya dan dengan pak- sa berhasil pula merobek segitiga pengaman penutup bagian bawah milik Ziya.
Ziya tidak bisa melawan lagi akan tindakan yang dilakukan oleh pria itu padanya dan sekarang yang ada di dalam hatinya berharap supaya ada orang dari luar sana yang bisa mendengar suara teriakannya.
Yang mana mungkin bisa terdengar oleh siapapun saat ini, apabila orang itu berada di luar maka tidak akan mendengarkan apapun yang terjadi di dalam kamar. Karena, sistem kedap suara yang telah dipasang di kamar Alberto ini.
" To,, long,, aku,, kumo,, hon, jangan sakiti aku,," Ucap Ziya yang terbata-bata dan mulai mengalirkan air matanya.
Pria itu sama sekali tidak mendengarkan ucapan permohonan yang disampaikan oleh Ziya pada dirinya dan tetap saja melakukan aksinya untuk segera berhasil merobek pak- sa bagian bawah penutup itu.
" Tolong aku,, Alberto,," Ucap Ziya yang tubuhnya telah melemah.
Meskipun saat ini mata Ziya telah berkunang-kunang namun bisa mendengar suara tembakan dari luar yang melesat masuk ke dalam kamarnya itu.
DOORRRR !!
Untuk seketika pria itu terhuyung kaget di atas tubuh Ziya. Tubuh Ziya yang saat ini sudah melemah dan telah samar-samar mendengarkan suara tembakan itu sehingga langsung tak sadarkan diri meskipun masih bisa merasakan ada sesuatu hal yang berat tengah berada di atas tubuhnya dan ternyata pria itu terhuyung lemah di atas tubuhnya.
Mata Ziya yang samar-samar melihat seseorang pria tampan berada tepat di depan matanya menghampiri dirinya dengan senyuman yang indah.
Sehingga membuat Ziya saat ini telah berpikir bahwa dirinya mungkin telah mati tertembak oleh tembakan yang melesat juga pada tubuhnya. Jadi, pastinya sekarang Ziya telah dijemput oleh pria yang merupakan malaikat berwajah tampan.
Yang menyambut dirinya dengan penuh kebahagiaan dan kesenangan yang ada.
Untuk sesaat Ziya tersenyum menatap wajah pria itu dan akhirnya Ziya tidak tahu apa-apa lagi yang telah terjadi padanya. Karena, Ziya juga telah kehilangan kesadarannya untuk sesaat.
Sementara itu,,
Zoya yang merasa bahwa pelayan itu baru menjadi pelayan disana sehingga membuat dirinya merasa sedikit risih dengan kedatangan pelayan baru yang ingin melayani dirinya itu
" Eemmm, bisa kau panggilkan pelayan lain." Pinta Zoya yang merasa risih akan kedatangan pelayan baru itu.
" Baik Nyonya,," Jawab pelayan itu dengan mengangguk.
Dengan membalikkan tubuhnya, pelayan itupun pergi dari hadapan Zoya. Sementara itu Zoya juga segera masuk ke dalam kamarnya lagi dan menutup rapat pintu kamar tersebut.
Zoya berpikir siapakah orang itu,,?
Yang telah membuat dirinya penasaran.
" Siapa dia ?" Tanya Zoya dengan dirinya sendiri di dalam kamar tersebut.
" Apakah dia orang suruhan Daddy,, atau,, Al," Ucap Zoya yang seketika terputus karena kaget mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Saat ini Zoya tengah berpikir masalah mengenai pelayan baru itu tapi tiba-tiba Zoya dikagetkan oleh suara ketukan pintu dari seorang pelayan yang datang ke kamarnya.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
" Madam ini saya,," Ucap pelayan yang suaranya begitu dikenali oleh Zoya.
" Oh,, dia,," Bilang Zoya yang segera membuka pintunya.
Karena sudah mengenali suara dari pelayan yang biasa telah melayaninya selama ini di dalam mansion ini dengan segera Zoya membuka pintu kamarnya dan melihat bahwa yang sedang berdiri di depannya saat ini adalah pelayan yang seperti biasa mengambil keperluan yang selalu di perintahkannya itu.
" Ada apa, Madam ?" Tanya pelayan itu kepada Zoya sambil membungkukkan tubuhnya.
" Ambilkan air putih seperti biasa,," Bilang Zoya yang memberikan perintah kepada pelayannya ini.
Tentu saja Zoya telah terbiasa jika ia dilayani oleh pelayan yang ada di hadapannya saat ini. Karena, Zoya telah percaya mengenali dan mengetahui kinerja dari pelayan yang lama ini dibandingkan pelayan yang baru untuk melayani dirinya.
" Baik, Madam,," Jawab sang pelayan yang segera membalikkan tubuhnya dan segera pergi meninggalkan Zoya.
Sesaat Zoya teringat dengan pelayan baru yang sengaja datang menghampirinya saat ia sedang membutuhkan pelayan tadi.
" Eehh tunggu dulu,," Bilang Zoya yang mencegah langkah kaki pelayan itu.
Pelayan itupun berhenti karena, mendengar suara Zoya yang memanggil dirinya. Dan, segera berputar arah kembali melangkah mendekati Zoya lagi.
" Ya, ada apa, Madam ?" Tanya pelayan kepercayaan Zoya itu.
" Eemm,, kau tau siapa pelayan baru di mansion ini,," Bilang Zoya yang wajahnya begitu menyelidiki jawaban yang akan diucapkan oleh pelayan kepercayaannya ini.
Bisa dilihat jelas oleh Zoya bahwa pelayan kepercayaan Zoya itu seperti sedang memikirkan sesuatu hal atas ucapan Zoya yang dilontarkan kepadanya.
" Maaf, siapa orang yang Madam maksud,,?" Tanya pelayan itu memberikan pertanyaan balik kepada Zoya.
Zoya pun merutuki kebodohan dirinya yang tidak menanyakan siapa nama pelayan yang ia maksudkan itu, sehingga ia saja lupa dengan pelayan itu.
" Aduuhhh,, siapa ya,, aku lupa,," Gumam Zoya yang memang benar tidak tahu siapa nama pelayan yang ia maksudkan itu.
" Memangnya ada berapa pelayan baru yang ada di mansion ini ?" Tanya Zoya yang tidak tahu siapa nama pelayan yang baru saja menghampirinya itu.
" Eemm,, Madam maaf, kalau Madam lupa dengan orangnya, apakah Madam ingat siapa namanya,?" Tanya pelayan kepercayaan Zoya itu lagi.
Zoya mendengus kecewa menyesali dirinya sendiri yang seakan lupa dengan wajah pelayan baru itu.
" Huuuuhhhhh,, nah itu aku lupa siapa namanya,," Bilang Zoya yang begitu kesal.
" Lalu, kau belum menjawab pertanyaan dariku,, berapa pelayan yang baru masuk ke dalam mansion ini,,?" Tanya Zoya menyelidik.
" Kalau pelayan yang baru masuk di mansion ini ada lima Madam,," Ucap pelayan tersebut sambil menunjukkan telapak tangannya yang memberi sebuah isyarat angka lima.
Zoya semakin kesal dan mendengus kasar, saat ia mendengar dan mengetahui bahwa ada lima pelayan baru di dalam mansion ini.
" Memangnya kemana pelayan lama, kenapa harus diganti,,?" Tanya Zoya yang tidak mengerti akan adanya pelayan baru yang membuat dirinya risih itu.
" Saya tidak mengetahuinya Madam,, karena, pelayan lama sudah berhenti dan pelayan baru juga cepat menggantikan posisi pelayan lama." Ucap pelayan kepercayaan Zoya itu.
Zoya berpikir sepertinya ada yang tidak beres akan terjadi di dalam mansion ini.
" Siapa yang telah menerima pelayan baru dan menggantikan pelayan lama,,?" Tanya Zoya yang ucapannya itu membuat dirinya aneh sendiri, kenapa sekarang dia mudah sekali curiga terhadap orang yang baru saja masuk ke dalam mansion ini.
" Saya tidak tahu Madam,," Jawab pelayan tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
Zoya yang merasa bahwa pelayannya ini begitu lambat untuk mengetahui suatu hal yang dicurigai dirinya, merasa bahwa dirinya harus berhati-hati akan pelayan baru di mansion Jimmy ini. Karena, ia tidak mau jika pelayan baru ini bisa mendapatkan sebuah rahasia besar dari dirinya.
****