
Dan disaat Ziya sedang bersantai ria menelepon kedua orang tuanya itu, tiba-tiba terdengar suara bel menandakan bahwa saat ini di luar apartemennya kedatangan seseorang yang sedang mengunjunginya. Karena, mendengar suara bel yang terdengar jelas dari tempatnya saat ini, pastinya dengan segera Ziya memutuskan panggilan teleponnya pada kedua orang tuanya itu, hanya karena, adanya tamu yang datang.
TIIIITTTT !! Suara bel yang terdengar begitu jelas sekali.
" Heemm ada tamu,," Gumam Ziya ketika mendengar suara bel.
" Siapa, sayang ?" Tanya Mama dan Papa Ziya secara bersamaan lagi karena juga mendengar suara bel dalam apartemen Ziya.
" Eemmm, belum tahu Ma, siapa,," Ucap Ziya kepada Zalina sambil beranjak bangun dari sofa.
" Ziya putuskan dulu telponnya, Ziya mau lihat dulu orang yang datang,," Bilang Ziya lagi kepada orang tuanya.
" Oh baik sayang, jangan lupa selalu berhati-hati,," Ucap James yang selalu memberikan nasihat dan peringatan kepada Ziya.
" Baik Pa, I love you Ma, Pa, Ziya sayang Mama dan Papa,," Ucap Ziya sebelum menutup teleponnya.
" Iya sayang, Love you too,," Jawab Zalina dan James secara bersamaan yang terdengar jelas oleh Ziya.
" Heemmm, Mama, Papa, ada-ada saja, selalu romantis,," Gumam Ziya terakhir kali setelah menutup teleponnya.
Setelah selesai melakukan panggilan kepada kedua orang tuanya seperti biasa Ziya selalu meletakkan ponselnya ke atas meja dan langsung melangkah menuju ke arah pintu. Saat berada di dekat pintu Ziya melihat wajah orang yang sedang berada di luar ruang apartemennya melalui lobang kecil khusus yang sudah ada pada bagian pintu itu.
" Apa !! Zoya,," Seru Ziya senang ketika melihat seseorang yang berada di luar adalah Zoya kembarannya.
" Zoya !!!" Teriak Ziya penuh kegirangan karena melihat kembarannya yang selama ini jarang ia temui apalagi mengunjunginya.
Dan betapa terkejutnya Vena ketika mendengar majikannya Ziya yang ia kenal selama ini adalah Zoya berteriak menyebutkan nama sendiri yaitu Zoya di dalam ucapannya dengan kondisi tubuh bergetar serta berkeringat dingin.
" Ada apa dengan Nyonya ?" Tanya Vena spontan kepada Axeloe.
Dengan suara datar dan menunjukkan wajah cueknya memberikan sebuah jawaban yang mengejutkan kepada Vena tentang siapa sebenarnya majikannya itu.
" Tidak apa-apa, kau jangan khawatir, kakak ipar sedang mengalami reaksi obat yang kumasukkan dan mengingat kembali bagaimana kehidupannya terdahulu,," Jawab Axeloe secara perlahan dan jelas kepada Vena.
Ketika mendengar jawaban yang disampaikan oleh Axeloe secara jelas, hal itu membuat Vena semakin bingung dan penasaran tentang ucapan Axeloe yang begitu membuatnya semakin bingung.
" Ma, maksudnya Tuan, saya tidak mengerti,," Bilang Vena dengan suara terbata-bata karena, memang Vena belum mengerti akan maksud dari perkataan Axeloe kepadanya.
" Apa ??" Seru Vena kaget ketika mendengarkan ucapan Axeloe tentang keadaan kehidupan Ziya terdahulu.
" Pantas saja, Nyonya terlihat begitu berbeda dengan sifatnya terdahulu, seperti apa yang dikatakan oleh semua orang selama ini,," Gumam Vena dalam hati sambil mengingat kembali bagaimana cara Ziya selama ini pada semua orang.
Betapa terkejutnya Vena ketika mendengar penjelasan dari Axeloe yang menceritakan bagaimana suatu peristiwa buruk pernah menimpa kehidupan Ziya. Dan di dalam hati Vena memikirkan suatu hal yang selama ini ia rasakan saat bersama dengan Ziya menjadi asisten pribadi dari Nyonya besar sang mafia.
Setelah mendengar penjelasan dari Axeloe suatu peristiwa besar yang telah menimpa majikannya itu. Di dalam benak pikiran Vena sendiri membayangkan bagaimana sikap dari majikannya selama ini memperlakukan semua orang yang berada di kediaman besar milik keluarga Alexandre ini.
Walaupun Vena baru menjadi asisten pribadi Ziya, namun, Vena sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk orang di dalam kediaman ini terhadap majikannya itu. Sehingga banyak sekali orang-orang yang bermuka dua di dalam kediaman ini, banyak sekali orang-orang yang tidak menyukai adanya majikannya ini dan juga setiap detik dalam pikiran semua orang di dalam rumah ini adalah satu hal yaitu menyingkirkan majikannya dari kehidupan Alberto.
" Suatu peristiwa besar pernah terjadi pada Nyonya ?" Tanya Vena dalam hati dengan dirinya sendiri sambil tetap fokus mengambil alat yang diperintahkan oleh Axeloe padanya.
" Memangnya, peristiwa apa ?" Sambung Vena lagi bertanya dalam hatinya.
Sambil mengambil alat yang akan digunakan oleh Axeloe dalam memeriksa keadaan tubuh Ziya, setelah mendapatkannya dengan segera Vena melangkah secepat mungkin mendekati tempat tidur Ziya dimana Axeloe sedang berada memeriksakan keadaan majikannya.
" Ini Tuan,," Ucap Vena dengan sopan memberikan alat yang sesuai dengan kebutuhan Axeloe.
" Heemm," Jawab Axeloe mengangguk singkat sambil menengadahkan tangannya kepada Vena.
Sambil bergetar dingin, Vena memberikan alat tersebut kepada Axeloe, namun, Axeloe sama sekali tidak tahu bahwa Vena sedang bergetar saat bersama dengannya seperti saat ini. Entah perasaan takut atau perasaan lain yang sedang dihadapi oleh Vena saat bersama dengan Axeloe. Yang pastinya saat ini tubuh Vena bergetar dan berkeringat dingin sama halnya seperti Ziya.
" Aduh, kenapa perasaanku seperti ini,," Gumam Vena dalam hati setelah memberikan alat kepada Axeloe.
" Kenapa saat berdekatan dengan Tuan Axeloe perasaanku jadi begini,," Ungkap Vena kembali saat tubuhnya ia rasa begitu berbeda.
" Aaakkhh,, jangan berpikiran yang tidak-tidak, mungkin saja karena, Tuan Axeloe pendiam makanya aku merasa takut dan juga bergetar apabila saat berada di dekatnya,," Gumam Vena yang memiliki sebuah pemikiran lain dan pikirannya itu membantu perasaannya menjadi sedikit tenang saat ini.
Memang Axeloe terlihat begitu cuek dan juga dingin, karena, selama ia pulang dari Eropa, hanya Madam Christin, Alberto, Alexa, Demian, Ziya, Krystal serta Isabelle saja orang yang dekat dengannya. Sedangkan yang lain Axeloe sama sekali tidak menghiraukan adanya orang itu saat di dekatnya. Karena, bagi Axeloe semua orang yang berada di dalam kediaman ini kebanyakan musuh di dalam selimut dibandingkan yang berhati dewa.
Apalagi dengan para semua pelayannya Axeloe tidak pernah mengajak pelayannya untuk mengobrol sedikitpun hanya Vena saja seorang pelayan ataupun asisten di dalam kediaman ini yang berhasil menyentuh hati Axeloe untuk menyapanya terlebih dahulu.
Dimana saat itu Vena sedang mengambil segelas air jahe untuk Ziya dan berpapasan dengan Axeloe tepat sekali di depan tangga. Dimana saat itu juga Axeloe dengan sengaja menjahili Vena yang terlihat begitu polos sekali sebagai seorang asisten di dalam kediaman keluarga mafia besar seperti dirinya.
****