
Disaat Zoya yang sedang berada di kolam renang, sedang melamunkan sesuatu yang membuat dirinya bertanya-tanya. Karena, terlihat sangat jelas bahwa ia sedang merasakan bertemu dengan Ziya antara mimpi atau nyata, karena, peristiwa itu sudah lama sekali terjadi pada dirinya.
" Kenapa, aku bisa mengingat dia," Ucap Zoya yang sedang berbaring di atas kursi santai tepat di tepi kolam renang.
" Memangnya apa yang telah terjadi saat ini di Perancis,," Pikir Ziya dalam hati.
Ziya tidak mau mengatakan sesuatu apapun saat ia sedang berada diluar kamar. Karena, baginya saat ia berbicara atau mengatakan sesuatu di luar kamar pastinya, semua orang akan mendengarkan ucapannya itu. Jadi, Zoya selalu bisa berpikir atau berbicara sendiri hanya di dalam kamarnya.
Walaupun begitu Zoya juga enggan apabila ia selalu berada di dalam kamar. Oleh sebab itu Zoya memilih duduk di tepian kolam renang untuk memikirkan sesuatu yang terjadi di dalam pikirannya.
" Aku curiga dengan semua pelayan baru yang disampaikan oleh pelayan pribadiku, kemungkinan besar, mereka adalah salah satu mata-mata dari Papi dan juga Alberto,," Ucap Zoya dalam hatinya sambil memandangi pelayan pelayan baru yang bekerja di mansion Jimmy ini.
Zoya saat ini tahu bahwa pelayan baru itu sengaja diganti karena, pelayan lama juga telah dipecat secara langsung. Itu menurut pelayan pribadi Zoya yang menyampaikan keadaan informasi yang sebenarnya.
" Heemmm,, mulai sekarang aku harus berhati-hati, karena, menurut pelayan pribadiku, mereka bekerja disini dengan latar belakang bukan dari pelayan, aku tetap harus berjaga-jaga,," Gumam Zoya sambil menikmati jus jeruknya.
Karena, sehari sebelumnya Zoya telah mendapatkan informasi dari pelayan pribadinya bahwa pelayan baru yang dicurigai Zoya memiliki latar belakang bukan dari pelayan. Zoya masih ingat bagaimana pelayan itu memberitahukan padanya tentang semua pelayan baru yang dicurigai Zoya hanya beberapa pelayan baru yang sangat patut dicurigai oleh Zoya. Karena begitu terlihat bahwa pelayan itu adalah mata-mata dari seseorang.
" Bagaimana dengan hasilnya." Tanya Zoya yang sedang berada di dalam kamarnya sambil menelepon seseorang.
Dan orang yang sedang dihubunginya itu ialah pelayan pribadi Zoya yang begitu sangat dipercaya olehnya.
" Madam, menurut informasi yang kudapatkan, bahwa kelima pelayan baru itu memang benar patut dicurigai." Ucap pelayan Zoya sambil menjelaskan kebenaran yang ada.
Zoya berpikir bahwa tepat sekali tatapan pertamanya melihat bahwa kelima pelayan baru itu sangat patut untuk dicurigai olehnya.
" Benarkah,," Tanya Zoya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Walaupun Zoya mempercayai pelayan pribadinya ini, namun Zoya masih saja tetap merasa bahwa pelayannya ini juga tetap dicurigai Zoya. Zoya sangat sulit untuk mempercayai kepercayaan orang yang didekatnya.
" Aku ingin tahu akan kesetiaanmu pelayanku, walaupun aku percaya pada ucapanmu, tapi tidak semudah itu kau dapatkan kepercayaan dariku,," Gumam Zoya dalam hatinya.
Bahkan Jimmy saja yang sudah beberapa bulan ini membantunya itu, membuat Zoya masih saja tidak bisa untuk mempercayai Jimmy sepenuhnya dan juga tidak bisa membuat dirinya untuk jatuh cinta pada Jimmy.
" Dan bahkan Jimmy yang terlalu baik padaku, juga membuatku merasa kurang yakin dan tidak bisa mencintai dirinya." Ungkap Zoya dalam hatinya yang memikirkan wajah Jimmy.
Memang saat ini Jimmy sedang pergi keluar untuk mengurus semua bisnisnya yang berada di Australia. Jimmy adalah seorang pebisnis muda yang cukup bagus. Karena, kehebatan dirinya itu membuat Jimmy bisa menjadi pebisnis besar seperti saat ini.
" Yes, Madam, hanya beberapa dari mereka yang begitu mencurigakan menurutku,," Ucap pelayan Zoya di dalam teleponnya.
" Begini, aku akan tetap perintahkan kau untuk tetap mengintai mereka." Ucap Zoya yang sengaja memerintahkan pelayannya itu mengintai kelima pelayan baru itu.
" Dan cari tahu latar belakang mereka, sebelum mereka bekerja disini,," Perintah Zoya pada pelayannya.
Dalam seketika, pelayan itu segera menjelaskan kepada Zoya tentang informasi latar belakang kelima pelayan itu yang ingin diperintahkan padanya.
" Tunggu sebentar Madam, aku juga sudah mendapatkan informasi data tentang latar belakang mereka,," Jawab pelayan itu kepada Zoya.
" Aaahh benarkah,," Tanya Zoya seakan wajahnya begitu ceria sekali, karena, pelayan pribadinya itu sudah mendapatkan informasi yang ia inginkan.
" Ya, Madam,," Jawab pelayan pribadi Zoya langsung.
" Bagus Katakan,," Pinta Zoya pada pelayannya itu.
" Baik, Madam,, begini, saat saya melangkah masuk ke dalam ruangan pribadi milik kepala pelayan dengan cara diam-diam tak sengaja saya menemukan sebuah berkas semua lamaran pelayan baru itu. Sekilas saya baca sedikit bahwa saya melihat ada beberapa pelayan yang bekerja disini bukan dari tempat penyaluran pelayan, Madam,," Jelas pelayan pribadi Zoya dengan secara detail.
" Benarkah,," Jawab Zoya dengan mulut yang ternganga.
Di dalam pikiran Zoya berarti ada beberapa pelayan yang sengaja bekerja bukan datang dari lembaga penyalur pelayan.
" Yes, Madam, tapi itu hanya sekilas saya lihat, karena, saat itu saya cepat-cepat keluar dari ruang pribadi kepala pelayan." Jawab pelayan itu.
" Heemmm, baik, kalau begitu aku sendiri yang akan memeriksa informasi data mereka,," Ucap Zoya yang berencana akan melakukan sesuatu dengan tindakannya sendiri.
" Jangan khawatir Madam, saya akan tetap mengintai mereka sesuai perintahan Madam tanpa sepengetahuan siapapun." Ucap pelayan itu pada Zoya.
" Heemmm, baiklah aku mempercayaimu,," Ucap Zoya kepada pelayannya.
" Tapi, jika kau mengkhianati kepercayaan dariku, kau sudah tahu konsekuensinya,," Ucap Zoya yang tegas kepada pelayannya.
" Tenang, Madam, saya sangat setia pada Tuan Jimmy dan saya bekerja dengan Tuan Jimmy sudah begitu lama, jadi saya tidak mengkhianati Tuan saya sendiri." Ucap pelayan pribadi Zoya.
Terdengar memang sepertinya pelayan pribadi Zoya sangatlah jujur, tapi entahlah hanya Zoya yang mengetahui bagaimana pelayan pribadinya itu.
Apakah bisa dipercaya kesetiaannya ?
Atau pelayan itu juga merupakan seorang pengintai dari Alberto atau sahabat-sahabatnya yang telah sengaja diberikan perintah untuk menjadi pelayan pribadi Zoya.
Memang benar, Zoya mulai mempercayai pelayannya ini, semenjak dia dan Jimmy datang ke Australia. Tidak mungkin pelayan ini mata-mata yang telah dikirim untuk dirinya.
Oleh sebab itu, Zoya sedikit mempercayakan semua aktivitas yang akan dilakukan Zoya padanya.
Zoya berpikir sepertinya, dirinya saat ini tidak aman jika tetap berada di mansion Jimmy ini, Zoya ingin mencari tempat lain yang tidak memiliki pelayan sedikitpun. Maksudnya hanya dia berdua saja tinggal bersama di suatu tempat.
Tapi, apakah tempat itu ada ?
Zoya berniat untuk membicarakan hal ini pada Jimmy..
" Oohh sepertinya, Jimmy juga tidak tahu bahwa saat ini sudah ada pelayan yang sangat mencurigakan bagiku," Ucap Zoya yang merasa bahwa dirinya memang patut untuk diintai.
Karena, sebenarnya Zoya kabur dari Perancis menuju Australia salah satu pengalihan dirinya untuk menghindari pengejaran pengawal dan tim bayangan Alberto. Juga disaat itu Zoya bertengkar dengan Erwin atas tindakan Erwin yang selalu menekan dirinya untuk mendapatkan uang, uang, dan uang dari Alberto.
" Heemm,, sepertinya sebentar lagi aku akan ketahuan,," Ucap Zoya yang bergumam dalam hatinya sendiri.
" Aku tidak mau sampai ditemukan oleh Papi apalagi Alberto, aku takut,," Ucap Zoya takut dan merasa cemas karena, dirinya telah diintai diam-diam oleh Alberto dan juga Erwin.
" Bagaimana aku harus menghadapinya," Ucap Zoya yang seakan bingung terhadap Alberto jika dirinya tertangkap oleh mata-mata Alberto.
Walaupun Zoya telah memberikan semuanya kepada Erwin, seperti halnya tentang apapun yang telah dia dapatkan dari Alberto, tetap masih saja membuat Erwin selalu haus akan uang yang telah dialirkan oleh Alberto melalui Zoya.
" Heeh!! aku seperti ini semua karena permintaan Papi, jika aku tidak mengikuti perintahnya tidak menjalankan kehendaknya tidak mungkin aku jadi seperti ini, terbuang jauh di negara orang lain." Ucap Zoya yang merasa hidupnya hampa sendiri dan merasa sedikit sedih.
Zoya merasa muak akan kelakuan Erwin yang sengaja memperalat dan menggunakan dirinya untuk mendapatkan harta yang berlimpah dari Alberto Alexandre. Namun, percuma saja Erwin menggunakan dirinya untuk mendapatkan semua harta Alberto karena, Zoya sama sekali tidak mencintai Alberto.
Walaupun usaha Erwin itu berjalan denga semulus mungkin membuat Zoya datang ke istana Alexandre itu dengan membawa seorang bayi yang memang benar anak kandung Alberto. Tetap saja membuat hati nurani Alberto tidak terbuka untuk dirinya.
Bahkan Alberto terkesan cuek sama sekali tidak memperdulikan kehadiran Zoya di sampingnya. Bagi Alberto Zoya hanyalah seorang perempuan yang datang dengan membawa anak darinya.
" Hiks,, hiks, hiks aku merasa hidupku saat ini begitu hampa, tidak memiliki kasih sayang orang tua, tidak memiliki kasih sayang dari saudara, tidak memiliki kasih sayang dari orang yang mencintai diriku," Ucap Zoya yang segera mengusap air matanya.
" Hanya Jimmy saat ini yang begitu besar mencurahkan rasa kasih sayangnya padaku,," Gumam Zoya dalam hati sambil tetap memandang kosong ke arah depan.
Karena, merasa dirinya menangis dan merasa sesak di dadanya, Zoya segera berlari melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas dimana itu adalah kamarnya.
Sementara itu,,
Ada beberapa pelayan yang sengaja mengintai Zoya sedari tadi segera melaporkan hasil intaian mereka masing-masing hari ini kepada Tuan mereka masing-masing.
" Tuan, sepertinya sasaran sudah merasa bosan tinggal disini,," Ucap salah satu pelayan pengintai tersebut kepada majikannya.
" Terus intai dia, jangan sampai lepas, karena, dia sungguh pintar,," Ucap seseorang yang terdengar seperti suara laki-laki.
Entah laki-laki itu siapa ?
Yang pastinya laki-laki itu adalah salah satu pengintai yang telah dicurigai Zavier.
Saat ini, Zoya telah kembali ke kamarnya dan segera menutup rapat pintu kamarnya itu.
Lalu, Zoya menangisi dirinya yang telah berpisah dari kedua orang tuanya semenjak ia kecil. Zoya ingin sekali merasakan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya terutama dari seorang Ibu.
" Ma,, apakah Mama, tidak menyayangi Zoya kenapa Mama tega membuang diriku, kenapa Mama tega memberikanku pada Papi Erwin." Ucap Zoya yang menangis sesenggukan.
Memang Zoya merasa sangat sedih dan sakit sekali, karena, dari kecil dirinya telah terpisah dari orang tuanya terutama dari Ibunya. Zoya tidak tahu bagaimana rasanya saat dibelai, disayang dan dicintai oleh seorang Ibu, oleh sebab itu Zoya begitu membenci kedua orang tuanya.
" Zoya benci pada kalian, kenapa kalian tega membuang ku, kenapa kalian pilih kasih lebih menyayangi Ziya daripada aku, apakah aku berbeda dengan Ziya, sehingga kalian lebih memilih Ziya daripada aku,," Ucap Zoya marah dan kesal yang begitu membenci tindakan kedua orang tuanya.
" Asal Mama tahu, Papi Erwin sama sekali tidak menyayangi diriku, melainkan memanfaatkan diriku dan juga Ziya. Papi Erwin sama sekali tidak pernah memberikan kasih sayangnya padaku, layaknya orang tua, Papi Erwin hanya bisa berpikir bagaimana caranya aku harus bisa menghasilkan dirinya harta yang berlimpah, hiks." Ungkap Zoya sendiri yang membayangkan bahwa di hadapannya saat ini adalah kedua orang tuanya.
" Apakah Mama tahu keadaan kedua putri Mama Zoya dan Ziya bahwa kehidupan kami berdua telah dihancurkan oleh tingkah laku Papi Erwin, Mama tidak menyadarinya bukan," Ucap Ziya yang masih menggerutu kesal pada kelakuan Erwin terhadap dirinya.
" Mama tahu bahwa kehidupan Zoya hancur, semenjak Zoya diper-kosa dan hamil, Zoya tidak mengenal dan tidak mengetahui siapa yang telah memper-kosa Zoya, sampai-sampai Zoya keguguran dan tidak bisa melindungi janin Zoya karena perintahan Papin Erwin yang sengaja menggugurkan kandungan Zoya." Ucap Zoya yang menangis terduduk sambil memeluk kedua kakinya dengan menggunakan kedua tangannya.
" Dan Mama tahu, walaupun Zoya membenci kehadiran Ziya, Zoya merasakan sakit saat tahu rencana Papi Erwin yang tidak bisa menggunakan Zoya untuk rencananya itu dan sengaja menggunakan Ziya. Dan, akhirnya itu menjadi rahasia terbesar bagi Zoya untuk menyimpannya dari Ziya. Saat itu Zoya tidak bisa menolong Ziya, karena, Zoya takut akan ancaman Papi Erwin yang akan membunuh Ziya, jika Zoya menolong Ziya." Ucap Zoya yang semakin menangis sesenggukan sendiri di dalam kamarnya.
" Ma, kehidupan Zoya dan juga Ziya sama hancurnya, karena, kami terlahir hanya untuk dijadikan alat Papi Erwin yang begitu haus akan kekuasaan. Zoya tidak sanggup lagi menahan ini semua, Ma,," Ucap Zoya yang menangis dan merasa sesak di dadanya.
" Zoya rindu sama Mama dan Zoya sangat merindukan Papa, Zoya ingin dipeluk kalian, Zoya ingin bersama kalian," Ucap Zoya yang begitu merindukan kehangatan orang tuanya.
" Apakah kalian juga merindukan Zoya," Tanya Zoya sambil menatap ke depan merasa bahwa di hadapannya itu adalah kedua orang tuanya.
Sesaat Zoya mengingat kembali saat dirinya masih berada di dalam bath tub. Saat itu, ia tertidur atau sedang melamunkan sesuatu. Kenapa, mimpinya itu mengarah ke suatu musibah yang membuat dirinya terjatuh, cuma Ziya yang terlihat menolong dirinya. Bahkan orang lain tidak ada yang memperdulikan dirinya.
" Apa yang telah kurasakan saat itu,," Gumam Zoya sambil berpikir keras akan kejadian yang telah dialaminya.
" Apakah itu nyata atau itu hanya mimpi buruk,," Ucap Zoya yang berpikir akan kejadian sekitar sepuluh tahun yang lalu.
" Tapi sepertinya itu nyata, karena, aku begitu mengingatnya Ziya menghampiri diriku dan aku juga menghempaskan tubuhnya." Gumam Zoya yang mengingatkan kejadian sepuluh tahun yang lalu.
" Tapi, kenapa aku merasa kalau kakiku tidak tersangkut dan saat itu aku juga tidak jatuh." Pikir Zoya akan hal kejadian yang terjadi pada dirinya.
" Dan tidak ada juga Ziya yang menghampiriku, karena, saat itu aku menghempas tubuh Ziya di dalam kolam air pancur dan dia terjatuh disana," Ucap Zoya lagi yang mengingatkan hal yang pernah terjadi padanya.
" Tapi kenapa di dalam ingatanku itu kakiku tersangkut dan aku terjatuh, hanya Ziya yang membantuku saat itu,," Ucap Zoya yang berpikir keras.
Memang kenyataannya saat itu Zoya pergi setelah menghempas tubuh Ziya dan Ziya tergelincir masuk ke dalam kolam air pancur, setelah itu Zoya pergi mengacuhkan keadaan Ziya dan meninggalkannya tanpa sedikitpun untuk menoleh ke arah Ziya.
****