
Entah saat ini Ziya bisa mendengarkan suaranya atau tidak dan yang pastinya untuk sekarang Alberto dengan cepat memberikan perintah kepada pengawalnya untuk segera menelepon Daniel sang dokter hebat yang selalu diandalkan oleh Alberto dalam memberikan sebuah pelayanan kesehatan terhadap keluarga intinya.
" Calling Daniel,, Hurry up,," Pinta Alberto kepada pengawalnya.
Karena, mendengarkan bunyi tembakan yang begitu kuat dari arah kamar pribadinya Alberto dengan segera Vena berlari ke arah kamar Alberto. Dari lantai bawah hingga lantai atas pastinya cukup jauh sekali bukan. Namun, hal ini tidak membuat hati Vena gentar untuk segera memeriksa keadaan di dalam kamar pribadi tuan besarnya itu karena disana sedang ada Ziya majikannya.
Saat Vena ingin berlari menaiki tangga ternyata semua pengawal Alberto banyak sekali yang turun ke bawah berlarian keluar dari rumah, Vena semakin penasaran memangnya apa yang telah terjadi sehingga membuat semua pengawal di dalam kediaman ini berlarian ke arah luar rumah.
" Memangnya apa yang terjadi, kenapa semua pengawal berlari keluar rumah." Gumam Vena seketika bingung karena melihat tindakan semua pengawal di dalam kediaman besar ini.
Setelah sampai di depan kamar pribadi Alberto, Vena tercengang melihat banyak sekali pengawal yang keluar dari kamar Alberto saat ini. Sebuah kecurigaan saat ini sudah dirasakan oleh Vena ketika melihat kejadian yang sedang terjadi.
" Hah!! apakah sesuatu terjadi pada Nyonya.." Ucap Vena yang menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.
" Tidak, tidak, hal buruk tidak akan mungkin terjadi pada Nyonya,," Ucap Vena yang segera berlari menuju ke ruangan kamar pribadi Alberto sambil memiliki sebuah harapan.
Vena ingin sekali bertanya kepada beberapa pengawal yang ada tapi niat itu diurungkannya, karena, ia ingin segera mengetahui apa yang sedang terjadi. Lalu, seorang pengawal yang melihat kedatangan Vena bertanya kepada Vena, karena, melihat Vena datang dari luar area kamar pribadi Alberto.
Darimana Vena saat majikannya sedang mendapatkan bahaya yang begitu mengenaskan ?
Hanya itu sebuah pertanyaan yang akan ditanyakan oleh para pengawal kepada Vena sehingga membuat Vena cukup kaget atas pertanyaan yang disampaikan oleh pengawal itu padanya.
" Vena, kau darimana,, Hah! Kenapa kau meninggalkan Nyonya sendiri di kamarnya ?" Ucap pengawal pribadi Alberto yang membuat Vena tercengang kaget dan bingung.
" Maksudnya ?" Tanya Vena yang panik dan khawatir.
" Kau lihat saja sendiri, bagaimana keadaan Nyonya saat kau tidak menemaninya di kamar." Ucap pengawal tersebut yang semakin membuat Vena ketakutan dan kecemasan yang timbul begitu mendalam hingga membuat sesak pikiran Vena saat ini.
Semua pengawal Alberto saat ini telah melangkahkan kakinya keluar dari kamar Tuan Besarnya itu dan tinggalah Vena yang merasa takut untuk melangkah masuk ke dalam ruangan tempat tidur kamar pribadi Alberto.
Vena tercengang saat melihat Alberto memeluk Ziya dengan erat. Vena menutup mulutnya dan menangis mendekati Ziya yang keadaannya begitu memilukan saat ini.
" Oh My God,, Nyonya,, Nyonya,," Ucapan yang seketika keluar dari mulut Vena yang begitu cemas akan keadaan majikannya yaitu Ziya.
Betapa kagetnya Vena ketika melihat keadaan Ziya dan hal itu membuat Alberto menjadi marah besar ketika mendengar isak tangis yang dilakukan oleh Vena saat ini tepat di depan matanya.
Ingin sekali Alberto menembak mati Vena yang berada di hadapannya saat ini. Dia begitu mempercayai Vena akan keselamatan Ziya, tapi saat ini Vena malah entah pergi kemana, sehingga menyebabkan Ziya dalam keadaan yang begitu memilukan.
" Kemana kau, Hah!" Teriak Alberto yang wajahnya sangat memerah marah kepada Vena.
Lalu, dengan cepat Alberto mengacungkan pistol tepat di kepala Vena saat ini. Betapa kagetnya Vena ketika melihat aksi Alberto dengan seketika mengacungkan pistol tepat ke bagian keningnya. Dan jika pelatuk pistol itu terlepas maka nyawa Vena pastinya akan melayang, apalagi saat ini begitu terlihat jelas di mata Alberto hanya ada kemarahan dan juga kebencian terhadap kelakuan Vena yang sama sekali tidak menanggapi peraturan darinya.
" Cepat, katakan dimana kau ?" Tanya Alberto yang sangat marah pada Vena.
" Ma, ma, maafkan saya, Tuan,, saya sedang memasak obat untuk Nyonya,," Jawab Vena yang terbata-bata karena, takut atas pistol yang ia lihat tepat menempel di keningnya saat ini.
" Seharusnya, kau menjaga majikan kau di saat dia sedang sakit,," Bentak Alberto pada Vena saat ini karena, tidak lagi berpikir sebenarnya Vena juga sedang disibukkan membuat obat untuk majikannya.
" Ma, ma, maafkan saya Tuan,," Ucap Vena yang bergetar karena, pistol masih berada tepat di kepalanya saat ini.
Karena, pikiran Alberto yang kalang kabut, akhirnya Alberto menekan pelatuk pistol. Dan, pastinya hal itu membuat Vena merasa semakin tegang.
" Maafkan Aku Ibu,," Ucap Vena yang memejamkan matanya saat ia melihat Alberto menekan pelatuk pistol di tangannya itu dan pastinya Vena memikirkan semua keluarga yang akan ditinggalkannya.
PLUSSS
Bunyi pistol Alberto yang tidak ada lagi pelurunya saat itu, sehingga membuat Alberto kesal dan menerjang kasar tubuh kecil Vena.
BRUKKK
AAARRRGGHHHH,,
Teriakan suara Vena yang telah terpental jauh dari tempatnya saat ia memohon maaf pada Alberto.
Vena merasa tubuhnya bukan di tembak melainkan diterjang oleh Tuan besarnya. Vena merasa bersyukur tenyata nyawanya masih ada dan hidupnya tidak berakhir pada hari ini.
Alberto yang masih memeluk erat tubuh Ziya, berteriak dan membentak kesal kepada Vena yang masih memegang nyawanya dan menarik nafasnya saat itu.
" Nyawa kau masih ada, cepat telepon Daniel,," Bilang Alberto yang segera memerintahkan Vena untuk memanggil Daniel saat ini juga.
Vena pun mengangguk dan segera mengeluarkan Handphonenya.
" Ba,, ba, baik Tuan,," Ucap Vena mengangguk.
Vena segera mencari nomor telepon Daniel saat ini, tapi sayangnya nomor yang diminta oleh Alberto itu tidak ada di dalam kontak ponselnya.
" Kenapa lama sekali,,," Teriak Alberto yang terngiang di telinga Vena.
Dengan sangat takut Vena melangkah mendekati Alberto yang masih di tempat tidur.
" Ma,, maaf Tuan, nomor telepon Tuan Daniel tidak ada di dalam kontak ponsel saya,," Bilang Vena yang ketakutan.
Mendengar ucapan Vena yang tidak terlalu penting itu, membuat Alberto semakin kesal dan semakin marah.
" Dasar kau,, Bodoh,, ambil di ponselku,," Bilang Alberto yang semakin membentak Vena.
Alberto segera mengeluarkan ponsel di saku jasnya dan memberikan kepada Vena. Dengan cepat Vena segera menerima ponsel di tangan Alberto dan mencari nama Daniel. Saat Vena ingin memindahkan nomor telepon Daniel dari ponsel Alberto ke ponsel miliknya, membuat Alberto semakin marah, atas sikap Vena yang begitu lamban dalam bertindak.
" Telepon dari ponselku,," Bentak Alberto yang membuat Vena kaget.
" Ba,, baik Tuan,," Ucap Vena dengan segera menelepon Daniel menggunakan ponsel Alberto.
Dering pertama,, belum diangkat,,
Alberto begitu marah akan sikap Daniel yang saat itu tidak segera mengangkat telepon darinya.
" Kemana dia,, terus telepon,," Ucap Daniel yang merasa kesal akan sikap Daniel yang tidak mengangkat teleponnya itu.
Vena pun mengangguk dan mengulangi lagi untuk menelepon Daniel.
Panggilan kedua,, diangkat oleh Daniel.
Ketika sudah terhubung dengan segera Vena langsung mengaktifkan volume pembesar suara di ponsel Alberto.
" Halo, Dude,, Ada apa ?" Tanya Daniel yang menerima telepon dari Alberto.
Alberto melambaikan tangan kepada Vena untuk mendekatkan telepon pada dirinya.
" Kemana kau, kenapa teleponku tidak diangkat ?" Tanya Alberto yang sangat kasar sekali saat ini.
" Aku baru saja selesai mengobservasi pasien,," Jawab Daniel yang begitu santai menjawab akan keadaannya.
" Heh!! Cepat datang ke rumahku sekarang,," Ucap Alberto yang meminta langsung kepada Daniel untuk segera datang ke kediamannya dan terlihat bahwa Alberto saat ini begitu cemas sekali akan keadaan Ziya.
" Dia sakit,,?" Tanya Daniel yang membuat Alberto marah.
" Iya,, datang sekarang dalam lima menit,," Teriak Alberto kesal pada Daniel yang suka sekali memperlambat waktu pergerakannya untuk datang ke rumahnya.
Memang sebenarnya Daniel ini suka sekali melakukan suatu hal yang selalu membuat Alberto merasa kesal dan juga marah. Namun, tidak dalam keadaan darurat pastinya Daniel segera meluncur ke tempat ya meskipun terlambat beberapa hitungan menit saja. Dan juga Daniel suka sekali mengganggu Alberto apabila yang sakit adalah Ziya maka dia akan cepat bergerak meluncur menuju ke rumah Alberto.
" Iya,, iya baik,," Ucap Daniel saat itu segera bergegas meluncur ke rumah Alberto.
Setelah selesai menelepon Daniel, Vena memberikan kembali ponsel itu pada Alberto. Alberto tidak menghiraukannya, karena, yang sekarang di pikirannya adalah menyadarkan Ziya yang sudah sangat lemah saat ini.
" Ini Tuan ponselnya,," Ucap Vena.
Karena, melihat Alberto mengabaikan ucapannya itu akhirnya Vena meletakkan ponsel Alberto ke atas meja di dekat tempat tidur. Dan Vena berinisiatif untuk segera mencari sesuatu hal agar bisa menyadarkan Ziya dari pingsannya itu. Ya meskipun masih ada Alberto Vena sama sekali tidak takut jika nantinya tindakan yang akan dilakukannya itu dicegah oleh Alberto.
****