
Vena yang berjalan kesana kemari di dalam kamar Alberto, saat ini masih disibukkan dengan kewajiban dirinya sebagai pelayan pribadi Ziya, memeriksa keadaan Ziya yang sedikit berangsur-angsur membaik. Mungkin, faktor obat yang telah diberikan oleh master dokter Daniel, sehingga membuat diri Ziya cepat berangsur pulih dari keadaan sebelumnya.
" Sudah memasuki delapan botol cairan infus, Nyonya belum sadar juga,," Ucap Vena yang merasa kasihan terhadap keadaan Ziya.
Lalu, sesaat Vena melirik ke arah tangan Ziya yang dipasangkan selang infus dan seketika melihat selang infus saat itu bergerak. Vena yang sibuk memeriksa cairan infus, seketika tersenyum senang saat melihat edikit demi sedikit jari tangan Ziya bergerak yang diletakkannya tepat di tempat tidur.
" Nyonya,, Syukurlah,," Ucap Vena dengan wajah yang begitu senang sangat terlihat jelas dari matanya saat ini.
Dengan segera Vena memeriksa keadaan Ziya dimulai dari detak jantung Ziya, yang saat ini Vena dengan segera menggunakan stetoskop miliknya, lalu meletakkannya ke atas dada Ziya, Vena mendengarkannya dengan seksama detak jantung Ziya benar-benar berdetak secara normal.
Setelah itu, Vena meletakkan ketiga jarinya tepat di atas pergelangan tangan Ziya dan menyentuh, merasakan denyut nadi yang berdetak di pergelangan tangan Ziya, lalu terukir senyuman nan indah di wajah Vena yang berdiri khas wajah Indonesia ini.
" Syukurlah, semuanya sudah membaik,," Ucap Vena yang tersenyum senang atas usahanya beberapa hari ini merawat Ziya.
Lalu, karena terlihat cuma jari jemari tangan Ziya yang telah bergerak dan mata Ziya sama sekali belum merespon untuk terbuka, Vena cukup tahu akan keadaan Ziya yang memang sudah membaik walaupun matanya masih tertidur faktor obat yang telah diberikan oleh Daniel untuknya itu.
" Aku harus segera, menelepon Tuan Alberto, bahwa Nyonya sudah benar-benar membaik." Ucap Vena gembira dan segera menjauh sedikit dari posisi Ziya saat ini.
Vena pun segera mengambil ponselnya di atas meja troli tempat dimana ia selalu meracik obatnya untuk Ziya sesuai takaran dosis yang diberikan Daniel untuk majikannya itu.
Vena segera melihat layar telepon miliknya ternyata Alberto sudah menelepon dirinya terlebih dahulu untuk menanyakan keadaan Ziya.
" Haaahh,, ternyata Tuan telah meneleponku,," Ucap Vena yang melihat layar ponselnya, dan segera menelepon balik nomor ponsel Alberto.
Dering pertama belum diangkat,,
" Tidak diangkat,, mungkin, Tuan lagi sibuk,, sekali lagi,," Ucap Vena yang merasa Teleponnya belum diangkat itu, segera menelepon nomor hp Alberto lagi.
Dering kedua,, diangkat,,
" Yess,," Ucap Vena tersenyum lega.
" Halo, Tuan,," Ucap Vena yang terlebih dahulu berbicara.
" Ya, Bagaimana keadaan majikanmu,," Tanya Alberto yang belum bisa memanggil nama Ziya yang aslinya.
Karena, mendengar ucapan pertanyaan Alberto yang langsung menjurus ke arah keadaan majikannya itu, membuat Vena secara langsung mengatakan hal yang sebenarnya.
" Syukurlah, Tuan, keadaan Nyonya sekarang sudah membaik," Ucap Vena yang sangat antusias sekali menerangkan keadaan Ziya pada Alberto saat ini.
" Bagus,, laporkan apa saja perkembangan tentang dirinya,, dan, ingat untuk selalu menjaga dia sebelum aku kembali,," Ucap Alberto yang mengingatkan Vena untuk selalu menjaga Ziya.
" Eemm, baik Tuan, terima kasih sudah mempercayakan Vena lagi," Ucap Vena yang sangat berterima kasih pada Alberto yang telah mempercayakan dirinya itu.
" Hemm,," Jawab Alberto singkat yang cuma berdehem saja saat itu.
Lalu, Alberto teringat pada Ziya saat itu yang sekilas tersenyum pada dirinya seakan tahu bahwa dirinyalah yang secara cepat telah menolong dirinya.
" Dua hari lagi aku kembali,, jangan katakan padanya apa yang telah aku lakukan,," Bilang Alberto yang sengaja tidak memberitahu Ziya bahwa dirinyalah saat itu, menembak langsung laki-laki yang sengaja mencelakakan dirinya.
Ucapan Alberto mengatakan bahwa dua hari lagi dirinya akan kembali, mungkin kembali ke kamarnya, karena, dia sendiri saja masih berada di ruang lingkup kediamannya saat ini. Karena, sedang memberikan pelajaran kepada orang yang telah mencelakakan diri Ziya.
Alberto pintar sekali dalam melakukan tak tik triknya dalam tugas rencananya itu.
Vena berpikir, kenapa Tuan Besarnya ini tidak mau majikannya itu tahu akan hal kebaikan yang telah dilakukannya pada majikannya itu. Kemungkinan besar Alberto, sudah memiliki rasa terhadap Ziya saat ini. Karena, terlalu banyak kesalahan yang telah ia lakukan kepada Ziya sebelum kejadian mengenaskan ini pada Ziya.
" Baik Tuan,," Jawab Vena yang segera meletakkan ponselnya kembali di atas troli obat.
Vena berpikir dengan sangat dalam tentang ucapannya Alberto pada dirinya saat itu.
" Kenapa, Tuan tidak mau memberitahu bahwa dia yang telah membantu Nyonya,," Bilang Vena dengan wajahnya yang terlalu serius dalam pikirannya itu.
" Heemmm, entahlah kemungkinan cara seperti itu yang diinginkan Tuan untuk Nyonya,, semoga saja Nyonya cepat bangun dan sadar bahwa Tuan saat ini memiliki hati yang manis untuk Nyonya,," Ucap Vena tersenyum sendiri sambil menatap tubuh Ziya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Vena pun kembali mendekati troli obat dan mengambil sebuah jarum suntik lalu, mengambil sebuah botol obat yang telah waktunya untuk disuntikkan pada tubuh Ziya saat ini. Setelah selesai mengambil dosis obat itu sesuai dengan perintah Daniel, Vena pun membawa baki tempat suntikan melangkah ke tempat tidur Ziya.
" Nyonya, Vena tahu kalau Nyonya saat ini sudah membaik, jadi, Vena minta izin untuk menyuntikkan obat ini pada Nyonya, Vena tahu obat ini sedikit pedih,, tapi, Vena hanya menuruti perintah dari Dokter Daniel dan Tuan Alberto untuk menyuntikkan obat ini setelah tubuh Nyonya bergerak dan hari ini tubuh Nyonya berangsur membaik, oleh sebab itu Vena suntikkan obatnya, Nyonya,," Bilang Vena yang panjang lebar pada Ziya saat itu yang masih tertidur.
Vena pun duduk di samping Ziya dengan lembut dan telaten, jarum suntik telah mendarat pada selang infus yang terpasang di tangan Ziya. Vena pun perlahan-lahan menekan syringe jarum suntik untuk mengeluarkan obatnya dan mengalirkan langsung pada tubuh Ziya. Tangan Vena sebelah kanan memasukkan obatnya ke dalam selang infus dan yang satunya lagi menekan cairan infus agar tidak menggangu cairan obat saat dimasukkan ke dalam tubuh.
Seketika Vena melihat bahwa wajah Ziya sedikit meringis merasakan obat yang mengalir ke dalam tubuhnya itu. Tapi, hanya sekedar meringis saja, sama sekali belum membuka matanya saat ini.
" Nyonya, merespon dengan meringis, sepertinya tidak menunggu lama lagi mata Nyonya akan terbuka." Ucap Vena tersenyum melihat wajah Ziya yang meringis merasakan perihnya obat yang telah dimasukkan saat ini.
Lalu, setelah selesai menyuntikkan obatnya, Vena segera menarik jarum suntik itu dari selang infus di tangan Ziya dan mengalirkan kembali cairan infus ke dalam tubuh Ziya saat ini.
***
Sementara itu, Alberto yang telah berada di ruangan pribadinya khusus untuk dirinya menghukum dan menghajar seseorang yang telah berani mengkhianati dirinya apalagi seperti Martin yang telah berani-beraninya mengganggu Ziya bahkan lebih dari kata mengganggu yaitu mencelakakan kehidupan Ziya, seorang perempuan yang telah masuk ke dalam hatinya saat ini.
Ruangan milik Alberto saat ini sebuah ruangan yang begitu gelap, basah dan juga sangat mematikan pastinya apabila melihatnya secara langsung.
" Jalan,," Ucap Frengky dengan suara garangnya terhadap Martin yang telah ditutupkan matanya menggunakan sehelai kain berwarna hitam.
Martin masih saja berteriak seperti anak kecil yang merengek kepada Ibunya untuk meminta permen ataupun mainan. Karena, ia sangat tahu pasti dirinya tidak akan bisa selamat apabila, sudah masuk ke dalam ruangan Alberto saat ini.
" Aku, tidak mau,, apa salahku ?" Teriak Martin yang membuat Frengky sangat geram saat ini.
" Tuan, apakah, saya,," Tanya Frengky yang terputus karena ingin meminta izin kepada Alberto terlebih dahulu, karena, ia tahu bahwa Martin bukan musuhnya seperti orang lain, melainkan musuh dari dalam keluarganya sendiri.
" Lakukan, puk-ul saja, kalau dia tidak mau diam,," Bilang Alberto yang memotong langsung perkataan Frengky dan memberikan perintah kepada Frengky saat itu dan hanya Frengky yang mendengarkan perkataan Alberto.
" Baik, Tuan,," Ucap Frengky yang mengerti akan maksud dari Tuannya itu.
Karena, mendapatkan perintah dari Tuan besarnya ini membuat Frengky dengan senang hati dan tersenyum untuk segera memukul wajah Martin apabila Martin sengaja tidak mau mengikuti langkahnya itu.
" Sekali lagi, kalau kau tidak menurut untuk jalan, aku akan segera memu-kul mu,," Bilang Frengky tepat di dekat telinga Martin.
Saat itu, Martin dengan beraninya membantah ucapan yang dilontarkan oleh Frengky padanya.
" Heh! aku tidak takut, pada kalian jadi pukul saja kalau berani,," Bilang Martin yang melawan ucapan Frengky padanya.
" Baik,," Ucap Frengky dengan segera memukul wajah Martin tanpa memikirkan panjang lebar lagi.
Karena, dirinya telah mendapatkan perintah dari Alberto. Sehingga dirinya mempunyai hak untuk melakukan ini pada Martin.
BUUGGG,, Pukulan dari Frengky yang telah mendarat di wajah Martin.
Martin pun terhuyung ke lantai, sambil memegang wajahnya dan masih saja bangun sambil menghina semua pengawal Alberto saat ini.
" Berani-beraninya, kau,," Ucap Martin yang saat itu menunjuk asal kemana tangannya berada karena, matanya telah ditutup oleh Frengky.
Lalu, dengan cepat anak buah Frengky menangkap tubuh Martin agar tidak lolos dari mereka.
" Heeh!!,, kau sendiri yang bilang, untuk minta dipukul, jadi aku tidak bersalah telah memu-kul dirimu saat ini." Ucap Frengky sambil tersenyum sinis melihat wajah Martin telah lebam atas pukulannya itu.
" Dasar kalian, manusia rendahan,, anjing penjilat,," Maki Martin kepada siapa saja yang saat ini telah menangkap dirinya.
" Heh!! Ayo jalan,," Ucap Frengky segera mendorong tubuh Martin yang sedari tadi tidak mau berjalan sedikitpun.
Martin pun tetap saja tidak mau jalan dan bahkan saat ini dirinya dipaksa oleh anak buah Frengky sampai anak buah Frengky harus menyeret tubuh Martin agar mau menurut.
Lalu, dengan segera Frengky membuka pintu masuk dan menekan tombol kode untuk masuk ke dalam ruangan berikutnya. Setelah menekan tombol kode terbukalah pintu selanjutnya dan terlihatlah Alberto sedang duduk tenang di sebuah tempat tepat di hadapan Frengky saya ini.
" Ini Tuan, Maaf kalau terlambat,," Bilang Frengky kepada Alberto yang telah menunggunya di dalam saat ini.
" Hemm,, Terima kasih,," Ucap Alberto tersenyum sinis lalu menyibakkan tangannya memberi kode kepada semua pengawalnya untuk segera melempar Martin saat ini ke hadapannya.
Dalam sekejap, tubuhnya Martin terlempar ke dalam ruangan tersebut, Martin kaget saat dirinya sendiri tersadar bahwa ia sekarang sedang berada di dalam ruangan gelap milik Alberto yang terletak masih di dalam kediamannya itu.
BUUGGG,,
Bunyi suara tubuh Martin yang terjatuh karena, terlempar oleh anak buah Alberto saat ini.
" Buka kainnya,," Ucap Alberto memerintahkan anak buahnya untuk membuka kain penutup mata Martin saat ini.
Dengan segera anak buah Alberto membuka kain penutup mata yang dipakai oleh Martin.
Saat penutup mata Martin terbuka, dan melihat bahwa di hadapannya adalah seorang Mafia yang sangat berkelas di dunia membuat Martin menelan salivanya saat ini.
" Halo, Martin,," Ucap Alberto yang tersenyum sinis kepada Martin saat ini.
Martin yang sudah tahu akan nasibnya ini, meronta menanyakan apa kesalahannya sehingga Alberto menahan dirinya tanpa bukti, tanpa penjelasan yang benar sedikitpun itu.
" Apa salahku,, Alberto,,?" Tanya Martin kepada Alberto saat itu.
" Berdirilah,," Ucap Alberto santai yang melambaikan tangannya memberi kode kepada Martin untuk segera berdiri.
Martin menanyakan apa kepada Alberto, malah Alberto mengatakan hal lain pada Martin saat ini. Sehingga membuat Martin segera berdiri saat itu, setelah berdiri, Alberto pun segera bangkit dari duduknya dengan sangat anggun tapi tatapannya itu mematikan.
" Kau, menanyakan apa salahmu,,?" Bilang Alberto yang melangkah perlahan-lahan mendekati Martin saat itu.
" Ya, aku tidak tahu, kenapa kau langsung menuduhku mengganggu istrimu, dan membawaku kesini,, tanpa bukti, tanpa penjelasan apapun,," Ucap Martin yang masih membela dirinya itu di depan Alberto yang melangkah maju ke arahnya saat ini.
" Heheheheh,, ternyata kau juga pintar berkelit, Martin,," Ucap Alberto lembut kepada Martin.
Sesaat Alberto yang telah sampai telat di hadapan wajah Martin memegang leher bagian belakang Martin untuk menahan tubuh Martin saat ini.
" Kau, menanyaiku apa salahmu,," Bilang Alberto yang menekan keras leher belakang Martin saat ini.
" Kau lihat itu,, itu bukti yang kau tanyakan," Ucap Alberto yang keras tepat di telinga Martin saat ini, membuat Martin tercengang atas tangan Alberto yang menunjukkan ke suatu tempat.
Alberto memang sengaja menunjukkan bukti otentik yang telah ia dapatkan terlebih dahulu, serta yang telah ia periksa kebenarannya terlebih dahulu, barulah dengan segera ia menangkap Martin.
" Kau, pikir aku tidak memiliki bukti untuk menangkapmu, Hah!!" Bilang Alberto dengan suara dinginnya tepat di telinga Martin.
Membuat Martin saat itu segera mengeluarkan keringat dingin dan merasa bahwa saat ini jantungnya berdegup dengan kencang.
Kalau dirinya tidak mendapatkan bukti yang kuat untuk menuduh Martin sebagai pelaku, mana mungkin Alberto membawa Martin ke ruangannya yang begitu pribadi ini. Membuat Martin tercengang melihat sebuah layar lebar yang memperlihatkan aksi dirinya saat masuk ke dalam kamar Alberto.
Dimana dalam layar itu sangat terlihat jelas bagaimana dirinya beraksi dalam kamar Alberto yang awalnya hanya untuk meretas sistem keamanan di kamar Alberto, tapi, karena, telah melihat keadaan Ziya yang terkulai lemah di lantai membuat Martin salah melakukan tindakan.