Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 185 - Ingatan Alberto



Dan, saat ini mobilnya Alberto telah sampai di depan gerbang kediaman Alexandre. Sehingga membuat Alberto merasa begitu yakin dan juga bersemangat untuk segera memeluk erat tubuh wanita yang begitu ia cintai. Karena, selama ini Alberto telah banyak melakukan kesalahan yang besar terhadap Ziya.


" Aku harus segera meminta maaf padanya, karena, kesalahan yang telah ku perbuat selama ini begitu banyak pada Ziya,," Ucap Alberto dalam hati sambil memikirkan wajah Ziya yang sedang memberi senyuman padanya.


Alberto tersenyum sendiri ketika mengingat hal itu, dimana Ziya tertawa geli saat Alberto sendiri ingin melakukan sesuatu yang penting pada wanita itu, namun diganggu oleh kedatangan si kecil yang sudah ada di antara mereka yaitu Demian.


Lalu, Alberto kembali teringat dimana masa-masa Alberto selalu menyakiti perasaan Ziya saat dimulainya Ziya masuk ke dalam istananya untuk bersandiwara menggantikan Zoya istrinya itu. Nah disaat itulah Alberto begitu curiga terhadap Ziya dan juga selalu berpikir negatif tentang tujuan Ziya yang rela menggantikan posisi Zoya disaat itu.


" Dimulai dari awal pertemuan kita memang aku telah membantunya, namun, dibalik itu semua aku telah menghancurkan kehidupannya, aku telah merenggut mahkota berharga miliknya, aku telah membiarkannya begitu saja, hingga ia mengalami semua penderitaan yang begitu berat selama ini, aku telah tega meninggalkannya kepada orang yang salah, yang selama ini hanya memanfaatkan dirinya saja." Gumam Alberto menyesal ketika mengingat semua hal yang telah dilakukannya kepada Ziya.


" Aku telah tega meninggalkan dirinya yang sedang mengandung putraku, menjalani hari-harinya dengan penuh penderitaan, menjalani kehidupannya di bawah pengaruh obat bius berdosis tinggi, menjalani hidupnya di bawah penekanan Erwin, Ya, tuhan Ziya kau memang wanita yang begitu kuat, hingga kau mampu untuk tetap melanjutkan perjalanan kehidupanmu yang penuh penderitaan," Gumam Alberto sendiri secara tidak sengaja telah menjatuhkan air matanya sendiri.


Alberto berpikir tentang Ziya selama ini, bagaimana keadaan Ziya saat Ziya mengandung putranya Demian, bagaimana keadaan Ziya saat Ziya melahirkan bayinya Demian dan juga bagaimana keadaan Ziya setelah ia melahirkan itu langsung diberi obat berdosis tinggi hingga ia melupakan semua kejadian yang ada. Alberto tidak habis pikir dengan sikap Erwin yang begitu biadab terhadap keponakannya sendiri demi mendapatkan sebuah kekuasaan yang berlimpah.


Lalu, Alberto kembali teringat suatu hal setelah kejadian di malam itu, memang Alberto langsung bertanggung jawab menikahi Ziya, namun karena, kelicikan Erwin dalam mengatur semua rencananya Alberto sengaja dinikahkan Erwin dengan Ziya dan menggantikan nama Ziya menggunakan nama Zoya. Dan, setelah menikahi Ziya di pagi itu juga Alberto pergi meninggalkan Ziya tanpa diketahui oleh Ziya sedikitpun.


" Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan, kenapa aku sampai hati meninggalkan Ziya sendirian menghadapi semua penderitaan ini, kenapa aku bisa pergi begitu saja disaat itu, kenapa aku sampai tidak mengingat begitu indah pandangan matanya." Gumam Alberto dalam hati yang teringat disaat kejadian malam itu.


" Kenapa waktu itu aku tidak membawanya langsung ke kediamanku dan menjadikannya sebagai permaisuri dalam hidupku." Gumam Alberto lagi dalam hati yang menangis sendiri menyesali perbuatannya.


" Padahal sudah jelas, pertama kali aku melihatnya dan menatap matanya, aku telah jatuh cinta padanya, maafkan aku Ziya, jika selama ini kau menderita karena aku, aku yang terlalu egois terhadapmu selama kau berada di sisiku Ziya," Ucap Alberto dengan wajah sendu menyesali sikapnya yang terlalu mengekang kehidupan Ziya.


" Dan bahkan saat kau kembali masuk dalam kehidupanku, kenapa aku tetap melakukan kesalahan padamu Ziya, sehingga menyebabkan kau banyak mengalami penderitaan." Sambung Alberto lagi yang mengingatkan semua kelakuannya selama ini pada Ziya.


" Begitu banyak kesalahan yang kulakukan padamu, saat kau datang kembali dalam kehidupanku, maafkan aku jika aku membiarkan mereka semua melakukan tindakan kasar padamu, maafkan aku jika aku membiarkan semua orang mencaci maki dirimu, maafkan aku jika aku juga telah memaksamu kembali untuk memuaskan hasrat nafsuku dan maafkan aku jika aku telah menuduhmu bahwa kau seorang wanita yang liar, maafkan aku jika aku telah mengasari tubuhmu hingga kau terluka atas semua perbuatan ku itu Ziya," Ucap Alberto dengan suara lembutnya sambil menghapus air matanya yang mengalir.


Setelah menghapus air matanya begitu banyak yang mengalir di wajahnya itu, Alberto memiliki niat dalam hatinya, apabila Ziya tulus dan ikhlas memaafkan semua kesalahan yang telah diperbuatnya itu maka, Alberto ingin sekali untuk menjalani kehidupan barunya menjalankan rumah tangga dengan penuh kebahagiaan dan canda tawa, penuh ketentraman di sebuah pulau pribadi miliknya itu.


Alberto ingin sekali membangun rumah tangga kecilnya penuh kebahagiaan dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan dunia yang selalu bersaing dalam kekuasaan. Alberto ingin sekali membawa keluarga kecilnya dalam kehidupan yang tenteram, bahagia dan juga penuh cinta kasih sayang.


" Apakah disaat kau kembali bisa mengingat semua hal yang telah kulakukan padamu, kau akan tetap memaafkan aku, jika kau memaafkan semua kesalahanku sampai kapanpun aku tidak akan pernah untuk membuat dirimu dalam penderitaan lagi Ziya, tapi, aku begitu memaklumi jika kau tidak memaafkan kesalahanku, karena, aku juga tahu bagaimana rasanya menghadapi semua penderitaan ini di dalam kesendirian. Ziya, aku berjanji, aku akan menerima semua konsekuensi darimu setelah kau mengingat semuanya kembali, jika kau tidak akan pernah memaafkan ku dan tetap membenciku maka aku akan tetap menyayangimu. Namun, jika kau bersedia memaafkan semua kesalahanku, maka aku berjanji kita akan selamanya bersama dalam kehidupan yang tenteram dan damai hanya kita berdua dan anak-anak di sebuah pulau yang jauh akan kehidupan yang penuh keramaian ini, aku ingin membawamu ke sebuah tempat dimana tempat itu akan dibangun dari rasa cintaku padamu, Ziya." Ungkap Alberto lagi yang berniat memberikan sebuah kehidupan yang indah untuk keluarga kecilnya terutama Ziya wanita yang selama ini dicintainya.


Kalau mau diingatkan kembali kesalahan yang sudah dilakukan oleh Alberto terhadap Ziya sungguh tidak bisa dimaafkan. Namun, karena, Ziya merupakan wanita yang memiliki hati begitu baik dan juga sempurna, apapun kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alberto pasti akan dimaafkan oleh Ziya sendiri.


Ketika sampai di kediamannya Axeloe kembali mengingatkan kakaknya untuk rencana yang sudah dibuat oleh mereka berdua. Axeloe segera melepaskan headset yang sedang digunakan di telinganya itu dan menyapa Alberto yang sedang melamun memikirkan kesalahannya pada Ziya. Axeloe tersenyum melihat kelakuan Alberto yang sedang melamun memikirkan kesalahannya itu.


" Hahahaha, kau masih melamunkan dia ?" Tanya Axeloe yang membuyarkan lamunan Alberto.


" Heemm, tentu saja, karena, terlalu banyak kesalahan yang selama ini kulakukan padanya." Jawab Alberto sambil menyunggingkan senyumannya.


" Menurut pendapatku untuk saat ini lebih baik kau jangan dulu untuk memberitahukan padanya apa saja kesalahanmu itu, brother,," Ucap Axeloe pada Alberto yang memberikan sebuah saran.


" Kenapa ?" Tanya Alberto dengan wajah yang penasaran.


" Ya, karena untuk saat ini Ziya sama sekali belum bisa mengingat kejadian yang sebenarnya, Kak,," Bilang Axeloe langsung pada Alberto.


" Heemm kau benar juga,," Jawab Alberto mengangguk.


" Tapi, aku harus tetap meminta maaf padanya, karena, walaupun dia belum mengingat semua kejadian yang pernah terjadi padanya, selama beberapa waktu ini saat dia masuk dalam kehidupanku, aku selalu memberikan penderitaan yang besar terhadap dirinya." Bilang Alberto sambil menceritakan semua kelakuannya selama ini terhadap Ziya.


" Oleh sebab itu, aku berniat tetap meminta maaf padanya, Axeloe,," Gumam Alberto sambil tersenyum.


" Heemm, ternyata kau masih memiliki hati nurani Kak,," Gumam Axeloe sambil tersenyum sinis.


" Aku pikir karena, kau sudah lama terjun dalam dunia mafia, selama itu juga kau belum memiliki pikiran dan juga hati nurani." Bilang Axeloe lagi dengan sengaja mencibir kakaknya.


" Heh!! dasar kau, jika mereka adalah musuh maka aku akan menghukumnya tanpa hati nurani, tapi, jika dia adalah wanita yang kau cintai maka hati nuranimu sendirilah yang akan menjadi pedoman untukmu tetap selalu menyayanginya." Jawab Alberto sambil tersenyum senang menoleh ke arah Axeloe.


" Ya, yeah aku tahu itu," Jawab Axeloe yang membenarkan perkataan Kakaknya itu.


" Dan kau pasti bisa mengingatnya bukan bagaimana rasa cinta yang dimiliki oleh Mommy pada Daddy,," Bilang Axeloe pada Alberto yang mengingatkan perasaan Mommynya terhadap Daddynya itu.


" Saat itu usiaku belum terlalu mengerti dalam suatu hal yang berhubungan dengan perasaan atau Cinta." Gumam Alberto sambil tersenyum mengenang sifat Mommynya yang terlalu mencintai suaminya sendiri Vasco Alexandre.


" Baik, aku mengakui jika kau tidak terlalu bisa mengingat bagaimana perasaan Mommy terhadap Daddy, karena, saat itu kau dan aku sudah berpisah, namun, sampai saat ini aku selalu teringat bagaimana perasaan Mommy terhadap Daddy,," Bilang Axeloe kepada Kakaknya sambil menjelaskan kebenaran perasaan Mommynya.


" Heemm, ya, Axeloe kau pasti lebih tahu semuanya bagaimana perasaan Mommy disaat itu terhadap Daddy," Jawab Alberto sambil memberikan dukungan kekuatan pada adiknya itu.


" Jelas aku begitu mengingatnya Kak, walaupun usiaku baru tujuh tahun, tapi, ingatan itu begitu jelas terlihat di mataku ini, karena, perasaan yang dimiliki oleh Mommy, hal itu menyebabkan Mommy pergi meninggalkan kita hanya karena, hati nuraninya yang selalu mencintai Daddy, tapi, apa balasan Daddy untuk Mommy, menikahi seorang wanita yang begitu jelas tidak mencintai Daddy dan wanita itu sengaja menikahi Daddy hanya ingin menggapai semua kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya." Bilang Axeloe yang mengingatkan semua kejadian di matanya dan menjelaskan perasaan Mommynya terhadap Vasco Daddynya itu.


" Heemm, walau bagaimanapun Mommy saat ini sudah bahagia di surga,," Bilang Alberto menepuk pundak Axeloe.


" Yeah Kak," Jawab Axeloe mengangguk.


" Namun, aku tidak akan pernah bisa membiarkan semua pelaku itu lolos dalam genggamanku, karena, selama beberapa tahun ini semua orang yang telah kabur dan bersembunyi itu merasa bahagia, karena merasa telah berhasil membuatku lupa akan perbuatan yang pernah mereka lakukan terhadap Mommy, tapi, sampai saat ini aku tidak akan pernah bisa melupakannya,," Bilang Axeloe dengan tatapan matanya begitu tajam.


Alberto melihat suasana di sekeliling mobil bahwa saat ini mereka sudah sampai di kediaman. Sebenarnya Alberto ingin segera memberitahukan kepada adiknya Axeloe tentang rahasia besar yang sudah berhasil diperoleh oleh Ziya yang sengaja menjebak Martin. Namun, Alberto belum menceritakannya karena, saat ini waktunya belum tepat untuk Axeloe mengetahuinya.


" Heh! aku suka dengan semangat yang dimiliki oleh kau adikku,," Bilang Alberto yang mengulas senyumannya.


" Dan kau harus ingat kak, jika, kau sudah mengetahui sedikit saja rahasia besar ini, jangan lupa untuk membagikannya denganku,," Gumam Axeloe terlihat sepertinya sudah mengetahui sedikit tentang rahasia besar yang diperoleh oleh Alberto.


" Heemm, tenang saja, setelah masalahku ini selesai, maka kita akan memiliki sebuah permainan besar,," Ucap Alberto yang membuat Axeloe menyunggingkan senyuman sinisnya.


" Aku suka permainan,," Bilang Axeloe tersenyum sinis.


" Baik cepat tuntaskan masalahmu ini, lalu kita akan melakukan permainan yang kau sebutkan itu, Kak,," Ucap Axeloe penuh semangat.


" Thank you, my brother,," Bilang Alberto pada Axeloe.


" Yeah,," Jawab Axeloe mengangguk.


Tak terasa perjalanan panjang yang mereka lakukan itu, akhirnya sudah sampai tepat di depan kediamannya sendiri. Alberto segera turun dari mobil tanpa menunggu Axeloe adiknya itu untuk turun dari tempatnya.


" Heemm, dasar penggila cinta!!" Umpat Axeloe terhadap Alberto yang membuatnya merasa geli sendiri.


Dengan segera Alberto berlari masuk ke dalam kediaman, tanpa menghiraukan ucapan selamat datang dari para pengawal dan juga pelayan yang melintas. Sehingga membuat Alberto terlihat begitu tergesa-gesa menuju ke lantai dua untuk mencari keberadaan Ziya. Namun, ketika Alberto sampai di lantai dua dan memeriksa kondisi kamar Ziya, tidak terlihat jejak Ziya di kamarnya itu.


" Ziya sayang,," Panggil Alberto langsung saat masuk ke dalam kamar pribadi Ziya.


" Ziya," Panggil Alberto lagi pada Ziya saat Alberto membuka kamar mandinya.


" Sayang,," Panggil Alberto lagi ketika masuk ke dalam ruangan penelitian Ziya.


Karena, merasa tidak ada jejak Ziya di dalam kamar ini, Alberto berpikir kenapa istrinya itu tidak ada di kamarnya, karena, biasanya Ziya memang tidak pernah pergi kemana-mana selama ia tinggal di kediaman ini. Bahkan Alberto menyuruhnya untuk tetap tinggal di kamar dan tidak pergi kemana-mana, Ziya selalu menuruti perintahnya itu. Namun, Alberto juga merasa heran kemana Ziya saat ini, bahkan Vena asistennya Ziya juga ikut-ikutan tidak memberikan laporan apapun hari ini kepada dirinya.


" Kemana dia, kenapa tidak ada di kamar,," Gumam Alberto merasa heran dengan keberadaan Ziya saat ini.


Alberto segera melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya Ziya itu dan langsung bertanya kepada pengawal yang ada di depan kamar Ziya.


" Dimana keberadaan istriku ?" Tanya Alberto langsung pada pengawalnya.


" Nyonya Zoya baru saja kembali dari sekolah Tuan Muda Demian, Tuan Besar,," Jawab pengawal itu dengan jelas.


" Tapi, kenapa tidak ada di kamarnya ?" Tanya Alberto lagi.


" Oh iya Tuan baru saja Nyonya Zoya keluar dari kamarnya bersama Vena menuju ke lantai bawah tapi, tidak tahu pergi kemana Tuan," Jawab pengawal itu pada Alberto.


" Kenapa tidak ditanya dia mau pergi kemana,," Bilang Alberto yang terlihat kesal pada pengawalnya itu.


Karena, merasa Tuan Besarnya ini berkata begitu kesal sekali, dengan segera pengawal itu menundukkan tubuhnya meminta maaf pada Alberto secara langsung. Karena, merasa takut jika nanti Alberto akan menghukumnya.


" Maafkan saya, Tuan, jika saya telah lalai tidak bertanya langsung pada Nyonya tentang kepergiannya,," Ucap pengawal itu sambil menundukkan wajahnya di hadapan Alberto.


" Sudahlah, bangun,," Bilang Alberto lagi pada pengawalnya.


" Terima kasih, Tuan,," Ucap pengawal itu yang kembali berdiri di hadapan Alberto.


" Kemana dia ?" Gumam Alberto yang bertanya tentang kepergian Ziya.


Alberto segera menghubungi ponsel Vena, karena, Alberto jelas sekali melihat bahwa Ziya selalu meninggalkan ponselnya di dalam kamar. Oleh sebab itu, Alberto selalu menghubungi Vena untuk mengetahui dimana keberadaan Ziya dan juga informasi apapun tentang keseharian Ziya.


Sudah berulang kali Alberto menghubungi Vena, namun ponselnya sama sekali tidak aktif, sehingga membuat Alberto begitu kesal akan tindakan Vena yang selalu membuatnya kesal ini.


" Vena juga kenapa tidak bisa dihubungi,," Bilang Alberto begitu kesal sekali dengan kelakuan Vena yang sama seperti Ziya tidak tahu keberadaannya.


" Kemana dia ?" Gumam Alberto sambil berpikir tentang keberadaan Ziya.


" Lebih baik aku memeriksa keberadaannya di ruang CCTV,," Ucap Alberto dengan segera beralih ke ruang khusus CCTV.


Karena, tidak bisa menghubungi Vena yang sudah berkali-kali Alberto meneleponnya, akhirnya Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan khusus CCTV. Saat masuk ke dalam ruangan CCTV, Alberto segera melihat layar monitor CCTV hari ini sebelum ia pergi tadi.


Alberto melihat Demian baru saja keluar dari kamarnya yang digendong oleh Melly, lalu, terlihat juga Vena masuk ke dalam kamar Ziya dan kembali lagi keluar terus masuk ke dalam kamar pribadinya, Alberto melihat dengan jelas bahwa Vena mengambil beberapa pakaian khusus untuk dirinya tidur dan Vena segera keluar lagi dari kamarnya itu.


Lalu, Alberto juga melihat di depan kamarnya Ziya ada Isabelle yang sengaja menunggu Ziya. Tak lama kemudian, Ziya keluar dari kamarnya dan menghampiri Isabelle langsung. Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya ketika melihat kelakuan Ziya yang begitu lembut pada semua orang. Padahal Ziya sendiri sudah tahu bahwa Isabelle bukanlah putri kandung Alberto, namun Ziya masih saja tetap bersikap lembut terhadap siapapun.


" Heemm, sungguh jelas sikap dan sifatnya begitu lembut dan juga baik,," Gumam Alberto tersenyum ketika melihat wajah Ziya yang berbicara lembut pada Isabelle.


Lalu, dalam CCTV itu juga memperlihatkan Ziya sedang menggendong Demian dan langsung membawa Demian pergi ke sekolah.


" Ternyata benar dia pergi ke sekolah hari ini mengantar Demian." Gumam Alberto yang menyelidiki kelakuan Ziya.


" Heemm, sepertinya aku harus kagum padamu sayangku, karena, Krystal memang paling sulit untuk mendapatkan kelembutan sikapnya, tapi, dengan begitu mudah kau berhasil membuatnya luluh dsn juga merasa nyaman padamu," Gumam Alberto ketika melihat wajah Ziya yang sedang berbicara lembut pada Krystal.


Dan di dalam monitor itu juga terlihat jelas bahwa Krystal selalu mengangguk terhadap Ziya bahkan terlihat bahwa Krystal bisa tersenyum ketika Ziya mengajaknya berbicara.


" Dan kau Krystal, akhirnya kau menemukan orang yang bisa membuatmu bahagia dan tunduk,," Gumam Alberto sambil tersenyum mengingat sifat Krystal yang begitu keras dan juga cuek seakan tidak ada yang bisa berani untuk mendekatinya.


" Tapi, kenapa Krystal cepat sekali pulang ke rumah, padahal seharusnya saat ini ia masih di sekolah," Gumam Alberto yang mencurigai kepulangan Krystal.


" Heemm, sepertinya Krystal melakukan suatu kesalahan, sehingga membuat dia merasa sedih dan akhirnya hanya Ziya yang mampu membantunya,," Ucap Alberto yang menerka keadaan yang terjadi pada Krystal.


" Aku akan mencari tahu tentang masalah yang sedang dihadapi Krystal." Gumam Alberto sambil mengeluarkan ponselnya.


Dengan segera Alberto menghubungi Clifton anak buah handal dari Zavier yang selama ini sudah begitu banyak dan mampu mempelajari semua kepintaran Zavier yang berhubungan dengan pengintaian.


" Ya Tuan, ada apa ?" Tanya Clifton langsung pada Alberto.


" Hari ini aku tugaskan kau untuk segera pergi ke rumah sekolah putriku Krystal dan cari tahu apa yang sedang terjadi pada Putriku saat ia di sekolah,," Bilang Alberto langsung pada Clifton yang memberikan sebuah perintahan darinya.


" Baik Tuan segera saya laksanakan." Jawab Clifton langsung pada Alberto, karena, Clifton sudah mengetahui semua orang penting dalam kehidupan Alberto.


" Heemm, sebenarnya apa yang terjadi pada Krystal ?" Tanya Alberto begitu penasaran.


Setelah selesai menelepon Clifton anak buah handal Zavier, Alberto kembali memperhatikan layar monitor CCTV dan melihat Ziya yang masuk ke dalam kediamannya sambil merangkul Krystal, Alberto jelas sekali melihat bahwa Ziya naik ke atas tangga menuju kamarnya lalu, Krystal sendiri melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya sendiri. Namun saat itu Alberto juga melihat dengan jelas Claire bersembunyi di balik pilar kediamannya itu dan sengaja menghadang Krystal yang akan pergi ke kamarnya.


" Ternyata wanita itu masih ada di dalam kediaman ini,," Bilang Alberto dengan mata yang membulat sempurna ketika melihat Claire masih tinggal di kediamannya ini.


" Kurang ajar, berani-beraninya dia masih ada disini, sudah jelas aku mengusirnya, tapi, kenapa dia masih ada disini, apa aku harus menyeretnya langsung, supaya dia bisa pergi dari tempat ini,," Ucap Alberto kesal ketika melihat wajah Claire di dalam layar monitor.


Tiba-tiba Claire dengan sengaja menghadang langkah Krystal dan juga terlihat sepertinya Krystal sedang bertengkar mulut dengan Claire. Namun, terlihat dengan jelas bahwa awalnya Claire tidak mau kalah terhadap Krystal, tapi akhirnya Krystal sendiri yang berani memaki Claire sambil menunjuk-nunjuk tepat di hadapan Claire.


" Apa yang sedang mereka bicarakan,," Gumam Alberto sambil memperhatikan wajah Claire dan juga Krystal.


" Heemm sepertinya Claire terdiam atas ucapan dari Krystal." Bilang Alberto lagi yang melihat kejadian itu dari CCTV.


Setelah itu, Krystal dengan beraninya menabrak tubuh Claire dan pergi meninggalkan Claire dengan wajah yang tercengang.


" Hahahaha, ternyata Krystal sudah tidak menyukai wanita itu," Bilang Alberto sambil tertawa sendiri melihat kelakuan Krystal yang sengaja membuat Claire tercengang.


Setelah kejadian pertengkaran mulut antara Claire dan Krystal, Alberto melihat Vena keluar dari kamar Ziya dan menuju ke dapur, namun sebelum sampai ke dapur terlihat Vena sedang mendengarkan perbincangan yang terjadi di dalam ruang dapur. Dan, Alberto kembali beralih ke layar monitor berikutnya dimana Vena langsung berlari ke kamar Ziya dan terlihatlah Ziya keluar dari kamar dengan wajah yang panik.


Saat Alberto melihat bahwa Ziya terlihat panik dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kamarnya itu, barulah Alberto mengerti perkataan yang disampaikan oleh pengawalnya barusan.


" Ooohhh, jadi karena hal ini pengawal itu tidak sempat menanyakan kepergian Ziya,," Gumam Alberto sambil mengangguk.


" Eemmm, tapi kenapa wajahnya begitu panik,," Gumam Alberto saat melihat wajah Ziya yang sedang melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kamarnya.


" Apa karena laporan dari Vena sehingga ia langsung keluar dan panik, memangnya apa yang dilaporkan Vena sehingga membuat Ziya panik, mau kemana mereka ?" Tanya Alberto penasaran pada sikap Ziya yang terlihat begitu panik itu.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari rekaman CCTV yang sedang Alberto lihat itu, ternyata Ziya saat ini sedang melangkah cepat ke arah lantai bawah dan terlihat sedang menuju ke arah istana kedua dimana istana itu merupakan tempat keberadaan kedua putrinya dan juga adik perempuannya.


" Sepertinya Ziya sedang pergi ke kamar Krystal,," Gumam Alberto sambil melihat tindakan Ziya.


Dan, terkaan Alberto ternyata benar, Ziya langsung saja masuk ke dalam kamarnya Krystal. Karena, sudah jelas Ziya sedang berada di dalam kamarnya Krystal barulah Alberto merasa lega dengan keberadaan istrinya itu.


" Heemm, ternyata dia sedang pergi ke sana,," Gumam Alberto sambil tersenyum.


" Rasa perhatian Ziya begitu besar terhadap siapapun, bahkan rasa perhatiannya itu sengaja ia berikan juga pada Krystal, padahal selama ini Krystal selalu bersikap kasar padanya, tapi, hatinya begitu lembut pada Krystal. Sehingga perlakuan kasar Krystal padanya itupun seolah dilupakannya begitu saja,," Gumam Alberto yang memuji kebaikan Ziya.


" Heemm, sayang aku sangat merindukanmu,," Bilang Alberto saat melihat Ziya sedang berada di dalam kamar pribadi Krystal.


Karena, merasa begitu merindukan sosok istrinya itu, sehingga Alberto segera memerintahkan pengawalnya untuk memanggil Ziya saat ini juga untuk segera datang ke dalam kamar pribadinya. Dengan segera Alberto menghubungi pengawalnya yang sedang bertugas menjaga keamanan di istana kedua.


" Ya Tuan,," Jawab salah satu pengawal yang terhubung oleh Alberto langsung.


Pengawal yang sedang dihubungi Alberto saat ini adalah seorang pengawal yang ditugaskan untuk menjaga keamanan istana kedua dimana istana itu khusus dibuat untuk tiga perempuan yang begitu disayangi oleh Alberto.


" Apakah kau melihat Nyonya Zoya sedang berada disana ?" Tanya Alberto pada pengawalnya.


" Betul Tuan, Nyonya Zoya sedang berada di dalam kamar Nona Krystal." Jawab pengawal itu dengan jujur.


" Katakan pada Vena asisten istriku, katakan pada majikannya sekarang juga segera kembali ke kediaman utama untuk menemui ku,," Bilang Alberto kepada pengawalnya itu.


" Baik Tuan,," Jawab pengawal itu terhadap Alberto.


Setelah selesai memerintahkan pengawalnya itu untuk menyampaikan pesannya kepada Vena, bahwa saat ini Ziya harus segera kembali ke kediaman utama. Namun, Alberto memikirkan kembali suatu ucapan perintahannya itu, masa Alberto harus memerintahkan Ziya menemuinya sedangkan ia ingin minta maaf kepada Ziya sendiri.


" Kenapa aku harus menyuruh Ziya yang menemuiku, seharusnya aku langsung menemuinya,," Gumam Alberto memikirkan kembali tindakannya itu.


Seharusnya dia yang menemui Ziya saat ini juga. Dengan segera Alberto kembali menghubungi pengawalnya yang telah ia berikan perintahannya itu.


" Ya Tuan,," Jawab pengawal yang sedang berjalan menuju ke kamar Krystal.


" Segera kembali, karena, aku sendiri segera kesana,," Bilang Alberto kepada pengawalnya itu.


" Baik Tuan, jadi pesan yang disampaikan Tuan, tidak perlu disampaikan lagi pada Nyonya Zoya." Bilang pengawal itu lagi pada Alberto.


" Ya,"Jawab Alberto singkat.


" Baguslah kalau begitu, aku segera kesana,," Gumam Alberto yang melangkahkan kakinya keluar dari ruangan CCTV.


Setelah selesai menghubungi pengawalnya itu dengan segera Alberto pergi menuju ke istana kedua dimana tempat itu dibuat khusus untuk kedua putrinya dan juga adiknya. Dengan langkah kaki yang begitu panjang dan juga lebar membuat Alberto cepat sampai ke tujuannya itu.


Sesampai di tujuannya semua pengawal yang sedang bertugas di sana mengucapkan kata selamat datang pada Tuan Besarnya ini dan Alberto hanya mengangguk saja menanggapi ucapan selamat datang untuk dirinya itu.


" Selamat datang, Tuan !" Ucap semua pengawal yang ada di sana.


Lalu, dengan segera Alberto bertanya pada pengawal yang telah dihubunginya barusan untuk memastikan bahwa Ziya saat ini apakah masih di kamar Krystal.


" Apakah Istriku masih berada di kamar Krystal ?" Tanya Alberto pada pengawalnya.


" Masih Tuan,," Jawab salah satu pengawal yang sudah dihubungi oleh Alberto.


" Heemm," Jawab Alberto dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga.


Karena, tidak terbiasa Alberto mendatangi tempat ini, sehingga membuat Krystal tahu saat mendengarkan suara semua pengawal yang mengucapkan kata selamat datang pada Alberto.


" Eemmm, sepertinya Daddy datang kesini Mom,," Bilang Krystal yang mendengarkan suara semua pengawal.


" Hah! benarkah,," Gumam Ziya menoleh ke arah pintu.


" Hah! benarkah Nona ?" Tanya Vena langsung pada Krystal.


" Iya, Mom, Mommy tidak dengar suara semua pengawal diluar yang menyambut kedatangan Daddy ?" Tanya Krystal pada Ziya yang membuat Ziya heran.


" Heemm,," Jawab Ziya yang bingung dengan pertanyaan Krystal.


Dengan segera Vena melangkahkan kakinya keluar ruang kamar Krystal karena, menurut Krystal bahwa Alberto sedang mengunjungi tempatnya ini.


Ziya berpikir sepertinya Alberto tidak terlalu sering datang ke tempat ini. Sehingga membuat Krystal justru mengenali akan kedatangan Alberto ke istana ini. Namun, saat Ziya menoleh ke arah pintu, Alberto sama sekali belum terlihat di depan pintu kamar Krystal.


Tak lama kemudian, Alberto muncul dari arah tangga sedang melangkah menuju ke arah Vena yang sedang berdiri di depan pintu kamar Krystal.


" Selamat datang, Tuan,," Bilang Vena menyambut kedatangan Alberto.


" Heemm, apakah majikanmu ada di dalam ?" Tanya Alberto langsung pada Vena.


" Iya betul Tuan,," Jawab Vena mengangguk.


Dengan segera Alberto masuk ke dalam kamar Krystal dan melihat Ziya sedang duduk berhadapan dengan Krystal, terlihat wajah Krystal sedikit menunduk ketika melihat Alberto datang masuk ke dalam kamarnya.


" Ada apa ?" Tanya Ziya langsung sambil tersenyum pada Alberto ketika Alberto masuk ke dalam kamarnya Krystal.


Ketika melihat wajah Ziya yang tersenyum menoleh dan menyapanya itu, dalam hati Alberto sebenarnya langsung segera memeluk tubuh wanita yang menyapanya itu.


" Apakah kedatanganku saat ini mengganggu pembicaraan di antara kalian ?" Tanya Alberto langsung pada Ziya.


" Sama sekali tidak,," Jawab Ziya singkat sambil tersenyum dan sementara itu Krystal sendiri masih terdiam menutup mulutnya.


" Jika tidak, aku ingin membicarakan suatu hal yang penting padamu,," Bilang Alberto dengan gaya dinginnya terhadap Ziya.


Sedikit Ziya menyipitkan matanya saat mendengar perkataan Alberto yang terdengar begitu serius sekali. Namun, hal itu membuat Ziya merasa penasaran hingga Ziya tertantang untuk mengikuti kehendak Alberto yang tidak pernah menemui Ziya secara langsung seperti ini.


" Heemm baiklah,," Jawab Ziya mengangguk sambil tersenyum.


Ketika melihat kelakuan Alberto yang menemui dirinya langsung itu, Ziya merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Alberto saat ini padanya.


****