
Di dalam kamar Alberto dimana Ziya yang sedang berpikir siapa orang yang telah menolong dirinya itu, tiba-tiba datanglah Vena yang membawa nampan berisi sarapan untuk dirinya. Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya pada Vena yang membawakan dirinya sarapan itu.
" Sarapannya Nyonya,," Ucap Vena yang tersenyum membawakan sarapan untuk Ziya.
" Terima kasih, Vena,," Bilang Ziya sambil mengangguk.
Saat Vena meletakkan nampan sarapan pagi tepat di hadapan Ziya, Ziya melihat sarapannya begitu banyak macam yang membuat sedikit menggugah seleranya, walaupun Ziya mengatakan belum lapar sedikitpun. Tapi, kebetulan sekali Vena membawakan sarapan yang begitu nikmat sekali.
" Silahkan dinikmati, Nyonya,," Bilang Vena yang meletakkan makanan tepat di depan wajah Ziya.
Ziya segera mengajak Vena untuk makan bersama, karena, Ziya tahu Vena juga belum sarapan pagi ini.
" Temani aku makan, Vena,," Ucap Ziya kepada Vena yang berdiri di hadapannya.
" Maaf, Nyonya saya tidak boleh menemani anda makan,," Bilang Vena yang sedikit mengagetkan Ziya.
" Memangnya kenapa,?" Tanya Ziya yang merasa heran atas ucapan Vena, karena tidak boleh menemaninya makan.
" Ya, Karena saya pelayan anda, Nyonya,," Bilang Vena jujur yang membuat Ziya segera menarik tangan Vena dengan lembut.
" Memangnya pelayan bukan manusia,," Ucap Ziya yang sangat kesal sekali mendengar kalau pelayan tidak boleh makan bersama majikannya.
" Come here, kita makan bersama, Vena," Bilang Ziya lembut kepada Vena.
Vena tersenyum melihat kebaikan Ziya yang begitu besar menghargai dirinya. Padahal dirinya hanyalah sekedar seorang pelayan di dalam rumah ini, tapi Ziya menganggapnya sama seperti dirinya. Sehingga Vena sedikit menitikkan air matanya. Karena, masih ada orang sebaik Ziya yang kehidupannya begitu mewah, begitu kaya, apa saja yang diinginkan tinggal perintah, apa saja yang diimpikan tinggal kedip dan tersedia.
Begitu baik sikap dan sifatnya Ziya yang tidak memandang rendah apapun jabatan dan pekerjaan seseorang, membuat dirinya begitu disukai oleh pelayan yang telah mengenal dirinya saat ini.
" Ba, baik Nyonya,," Ucap Vena yang ikut duduk di hadapan Ziya.
Ziya tersenyum kepada Vena, lalu menyodorkan piring yang berisi makanan kepada Vena.
" Ayo makan bersama denganku, Vena. Kau sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri, jadi jangan takut,," Ucap Ziya yang lembut kepada Vena, sehingga Vena mengangguk lembut mendengarkan ucapan Ziya yang sangat baik terhadap dirinya.
" Nyonya, Nyonya sangat baik padaku,, terima kasih banyak, Nyonya,," Ucap Vena yang menitikkan air matanya.
Ziya yang melihat Vena sedikit menitikkan air matanya itu segera mengusap air mata Vena yang mengalir di pipinya itu.
" Jangan menangis, kau selalu bilang padaku, untuk selalu bersabar menghadapi semuanya." Bilang Ziya lembut menatap wajah Vena yang sangat cantik itu.
Vena menitikkan air matanya bukan karena, dirinya menjadi seorang pelayan pribadi Ziya saat ini, melainkan ucapan Ziya yang begitu membuat dirinya terharu.
" Aku sangat merindukan keluargaku, Vena,," Bilang Ziya sambil memasukkan sedikit makanan ke dalam mulutnya.
" Aku sangat merindukan kedua orang tuaku, mereka pasti sangat khawatir denganku,," Ucap Ziya yang membuat Vena bingung.
Vena berpikir kenapa majikannya ini menyebutkan kedua orang tuanya, bukannya orang tuanya hanya tinggal Papinya saja, Sedangkan menurut perkataan Melly Papinya Ziya sering datang berkunjung ke kediaman Alexandre ini.
" Nyonya, jangan bersedih ya dan jangan khawatir, setelah Tuan Alberto pulang nanti, Nyonya bisa meminta izin untuk Nyonya pulang bertemu dengan keluarga Nyonya." Ucap Vena lembut kepada Ziya.
Seketika Ziya tersenyum tipis dan sedikit berdecih!
" Cih!! mana mungkin dia mengizinkanku,," Ucap Ziya yang merasa bahwa Alberto sebelum ini sangat sadis pada dirinya.
Jadi, Ziya berpikir pada diri Alberto hal yang tidak memungkinkan apabila Alberto mengizinkan dirinya untuk kembali dan bertemu kedua orang tuanya.
" Nyonya,, sebenarnya Tuan,," Ucap Vena yang lagi-lagi terputus karena ingin sekali Vena mengatakan bahwa Alberto tidak sejahat yang dipikirkan oleh Ziya saat ini.
" Memangnya kenapa, dia,," Tanya Ziya seketika melihat wajah Vena dan menyelidiki ekspresinya.
" Akh,, tidak ada apa-apa, Nyonya,," Ucap Vena yang sedikit mengernyitkan senyumannya.
Ziya sedikit penasaran dengan ucapan Vena yang selalu terputus saat menyebutkan tentang Alberto, memangnya kenapa dengan Alberto.
Ada kebaikan apa yang dimiliki Alberto sehingga ditutupi oleh Vena ?
Dan apakah Alberto telah melakukan kejahatan ?
Akkhhh,, itu pasti ?
Tidak mungkin seorang seperti Alberto tidak melakukan kejahatan. Karena, dengan diri Ziya saja Alberto bisa sadis memperlakukannya, apalagi dengan orang lain.
Heh!! Tak bisa dibayangkan !!
Karena, telah selesai menyantap sarapan paginya ini, Vena segera mengambil tempat bekas makanan mereka. Setelah membersihkan tempat tidur Ziya, Vena segera mempersilahkan Ziya untuk kembali beristirahat kembali.
" Nyonya silahkan beristirahat !" Ucap Vena tersenyum kepada Ziya.
Ziya merasa bosan jika terus menuruti perintahan Alberto untuk selalu menetap di kamarnya saat ini, Ziya ingin sekali merasakan angin di luar, tapi Ziya tahu jika dirinya di luar maka kemungkinan besar bahaya akan menuntut dirinya lagi.
" Heemm,, aku bosan, Vena, jika aku selalu beristirahat, aku sudah sembuh saat ini, rasanya aku pengen sekali keluar, tapi, aku,,,, Heehh !!" Bilang Ziya yang merasakan dirinya bagaikan terkurung di sangkar emas saat ini.
Ziya ingin sekali bebas, seperti dirinya sebelum masuk dalam kehidupan Alberto saat ini. Ia ingin sekali kembali seperti dahulu, yang bebas kemana saja, bebas pergi kemana saja arah yang dia inginkan, tidak ada orang yang mencegah dan mengatur dirinya.
Tapi, saat ini percuma saja dia menginginkan ini dan itu, karena, semuanya tidak akan bisa ia lakukan tanpa izin dari suami kembarannya itu Alberto.
" Seharusnya bukan aku,, yang menerima perlakuan seperti ini tapi itu dia, kesalahanku apa,,?" Ucap Ziya lagi mengenang kembali permintaan Pamannya yang meminta dirinya untuk menggantikan Zoya.
Pastinya saat itu Vena bingung mendengarkan ucapan yang dilontarkan oleh Ziya saat ini, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ziya itu siapa.
" Nyonya, Nyonya jangan terlalu banyak pikiran, kalau Nyonya banyak berpikir nanti memperlambat proses penyembuhan pada tubuh Nyonya,," Ucap Vena yang mencemaskan keadaan Ziya yang sangat terlihat traumanya terhadap pengekangan Alberto pada dirinya itu.
" Iya, Vena, aku mengerti, terima kasih sudah selalu menjagaku,," Ucap Ziya yang menatap wajah Vena.
" Baiklah, Nyonya istirahat ya,, dan Vena izin keluar sebentar untuk mengantar ini, Nyonya,," Bilang Vena kepada Ziya.
" Heemm,," Jawab Ziya singkat.
Ziya hanya mengangguk dan segera naik ke tempat tidurnya lagi. Dan, melihat bahwa Vena telah melangkah jauh dari tempat tidurnya. Sesaat tubuh Ziya ingin sekali mandi dan melepaskan cairan infus yang masih menempel di tangannya itu.
" Vena,," Panggil Ziya terhadap Vena.
Vena pun berbalik dan menyahut panggilan Ziya.
" Iya Nyonya ada apa,," Tanya Vena lagi.
" Setelah kamu kembali, tolong siapkan air mandi untuk diriku dan bisakah infus ini dilepas hari ini,," Tanya Ziya sesaat memanggil Vena yang sedikit jauh dari dirinya.
" Oh baik Nyonya,, sebentar Vena lihat dulu hasil pemeriksaannya.." Ucap Vena yang meletakkan kembali nampan di atas meja dekatnya berdiri saat ini.
Lalu, Vena segera melangkah ke arah troli tempat obat khusus untuk Ziya. Dan, mengecek kembali hasil laporan pemeriksaan tubuh Ziya.
" Oh baiklah,," Ucap Ziya mengangguk, seakan mengerti maksud perkataan Vena padanya saat ini.
Vena berpikir lebih baik Vena menyiapkan terlebih dahulu air mandi majikannya saat ini. Dan, segera melayani Ziya terlebih dahulu dibandingkan harus keluar mengantar nampan bekas makanan itu.
" Baiklah, Nyonya, Vena siapkan air mandi Nyonya terlebih dahulu." Bilang Vena yang segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
" Heemm,,, Ya Vena,," Ucap Ziya sesaat melihat Vena yang melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
Dalam seketika Ziya sedang menunggu Vena yang menyiapkan air mandinya itu. Ziya melihat ke arah dinding di atas yang sedikit bolong seperti bekas tembusan yang masuk ke dalam dinding itu.
" Bekas apa itu," Ucap Ziya saat melihat dinding yang sedikit bolong itu.
Dan, sepertinya Alberto lupa memperbaiki bolongan dinding bekas pelurunya yang mantul dan tembus ke dinding itu.
" Aku lihat, sebelumnya tidak ada yang berlubang seperti itu, tapi, kapan dinding itu berlubang," Ucap Ziya yang sedikit memicingkan matanya ke arah dinding itu dan menyelidikinya.
Saat Ziya mendekati dinding itu, sedikit kaget atas suara Vena yang memanggil namanya.
" Nyonya, airnya sudah selesai,, mari Nyonya,," Bilang Vena yang mendekati Ziya dan Ziya mengangguk mendengarkan ucapan Vena saat itu.
" Heemm,," Ucap Ziya yang mengikuti arahan dari Vena.
Ziya yang dituntun oleh Vena saat ini melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan Vena segera membantu Ziya untuk mandi. Ziya masih saja merasa sedikit malu saat Vena membantu dirinya mandi. Tapi, apa boleh buat Ziya harus melakukannya, walaupun malu tapi tetap saja dilakukan.
Setelah selesai mandi Vena membantu Ziya menggantikan pakaiannya dan merapikan rambut Ziya. Tidak lupa Vena merapikan selang infus yang masih menempel di atas tangannya dan menggantikan botol cairan infus berikutnya.
" Oh ya Nyonya,, cairan infus ini yang terakhir, setelah ini baru bisa dilepas,," Ucap Vena yang menjelaskan kepada Ziya saat mengganti botol infus.
" Heemm,, Ya, Vena terima kasih,," Bilang Ziya yang mengangguk mengerti atas penjelasan Vena kepadanya.
" Baik Nyonya, Vena tinggal sebentar ya,," Bilang Vena yang segera menutup pintu kamar utama Alberto.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.
Sementara Ziya tinggal sendiri di dalam kamarnya itu, ditinggal Vena pergi keluar sebentar, hanya sekedar mengantarkan bekas makanannya pagi ini.
Ziya kembali memperhatikan ke arah dinding yang telah berlubang itu.
Sementara itu, Vena yang telah keluar dari kamar Alberto saat ini telah diintai oleh kedua wanita ular yang tersenyum senang, karena, benar sekali dengan pemikiran rencana mereka itu.
" Aakkhhh,,, Aunty,, ternyata dia keluar,," Ucap Claire yang terlihat begitu senang saat melihat Vena keluar dari kamarnya.
Terlihat dari mata Gladys sangat senang sekali saat melihat Vena keluar dari kamar Alberto.
" Calm down Baby, benar bukan ucapan Aunty,, kali ini rencana kita akan berhasil." Ucap Gladys yang tajam menatap Vena saat ini.
Vena terlihat sedang memberikan arahan kepada pengawal yang ada di depan kamar Alberto, saat itu Claire dan Gladys begitu jelas memperhatikan gerak-gerik Vena yang masih berada di lantai atas.
" Saya mau keluar sebentar, Jaga Nyonya yang sedang di dalam dan dengarkan apa saja suara dari dalam." Ucap Vena yang selalu itu-itu saja memperingatkan semua pengawal Alberto di depan.
" Baik Vena,," Ucap semua pengawal di depan kamar Alberto.
Vena pun segera melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga dan turun ke lantai bawah. Dengan segera, Vena berjalan menuju ke arah dapur dan sesaat langkah kaki Vena terhenti saat dirinya dipanggil oleh Gladys dan Claire.
" Pelayan,, Come Here,," Panggil Claire kepada Vena.
Vena yang mendengar panggilan pelayan kepadanya itu segera menoleh ke kiri dan ke kanan siapa orang yang dipanggil noleh Claire saat itu.
" Tidak ada orang lain yang disini, berarti saya,," Ucap Vena dengan suara yang kecil hanya dia sendiri yang mendengarkannya.
" Saya Nyonya,," Tanya Vena yang segera menghadap ke arah Gladys dan Claire.
Terlihat sangat angkuh sekali gaya Gladys yang duduk santai di hadapan Vena saat ini. Begitu terlihat bahwa dirinyalah yang sebenarnya Nyonya besar di rumah ini bukan Ziya majikannya itu.
" Ya, siapa lagi pelayan disini selain kamu," Ucap Claire yang begitu angkuh dan sombong itu.
Vena pun melangkah mendekati Gladys dan Claire yang sangat angkuh sekali terlihat dari gaya duduknya saat ini. Vena memikirkan begitu berbeda sekali gaya dari Nyonya besar majikannya dengan gaya Nyonya yang bukan menjadi Nyonya besar di kediaman ini, hanya berangan-angan untuk menjadi Nyonya besar tapi angan-angannya itu tidak pernah kesampaian.
" Ya ada apa, Nyonya,," Ucap Vena yang menundukkan pandangannya terhadap Gladys dan Claire saat ini.
Claire segera berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Vena yang sedang berdiri menundukkan wajahnya tepat di hadapannya saat ini.
" Kamu cantik,," Ucap Claire saat mendekati Vena yang sedang berdiri itu.
Bulu kuduk Vena merinding saat Claire mengatakan dirinya cantik, apa yang akan dilakukan Claire padanya ?
Kenapa Claire mengatakan dirinya cantik !
Apakah Claire akan berniat jahat pada dirinya !
" Mati aku,," Ucap Vena takut dalam hati saat melihat Claire melangkah mendekati dirinya.
" Sayang sekali orang secantik dirimu hanya sebagai pelayan di tempat ini, dan menjadi pelayan wanita rendahan itu." Bilang Claire yang dengan berani menghina Ziya di depan Vena saat ini.
Vena terkejut saat mendengar ucapan Claire yang mengatakan bahwa dirinya seorang pelayan wanita rendahan seperti majikannya itu.
" Maaf Nyonya,, sebenarnya ada apa memanggil saya,," Bilang Vena langsung yang tidak tahan mendengar ucapan Claire menghina Ziya saat itu.
" Heemm,, ternyata kau orangnya berani juga ya,," Bilang Claire yang sedikit melembutkan suaranya tepat di dekat telinga Vena.
" Aku tahu,, orang seperti dirimu bekerja hanya untuk uang,, baik akan aku berikan berapapun yang kau inginkan, asal kau mau mengikuti arahan dari kami,," Bilang Claire yang tersenyum singkat sambil memainkan matanya kepada Gladys.
Vena yang mendengarkan ucapan Claire itu, sangat terkejut sekali akan pendapat Claire tentang dirinya.
Apa yang diinginkan Claire dari dirinya dengan cara memberikan uang sebanyak apapun yang diinginkan oleh Vena saat ini.
Vena bingung dengan keadaan saat ini,,
Apakah dia harus menerima pekerjaan dari Claire yang akan memberikannya uang sebanyak mungkin ?
Ataukah dia tetap bekerja dengan Alberto menjadi pelayan pribadi Ziya ?
Saat ini pastinya di dalam pikiran Vena sangat bimbang !!!
Bagaimana dengan Ziya yang saat ini belum begitu sembuh dan masih dalam keadaan lemah untuk menghadapi bahaya di depannya ?
***