Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 83 - Alberto Kembali !



Zoya yang masih di dalam kamar mandi merasa bahwa dirinya telah bersalah pada Ziya selama ini. Sehingga membuat dirinya sendiri menitikkan air matanya, padahal tubuh Zoya sudah sangat dingin sekali. Karena, sudah cukup lama tubuhnya berendam di dalam bath tub.


" Maafkan aku, Ziya yang telah semena-mena pada dirimu,," Ucap Zoya yang menangis sendiri di dalam kamar mandi.


" Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan dirimu,, tidak menganggap kehadiranmu sebagai saudara kembarku,, tidak menganggap dirimu adalah bagian dari hidupku,," Bilang Zoya yang merasa bahwa dirinya bersalah akan diri Ziya selama ini.


Zoya masih saja menangis sesenggukan sendirian di kamar mandi, karena, baru kali ini Zoya merasakan perasaan bersalah pada saudara kembarnya itu.


Sementara itu,,


Di dalam kamar pribadi Alberto, saat ini Ziya yang masih berpikiran bagaimana cara menghadapi Alberto yang akan kembali ke rumahnya hari ini.


" Sebentar lagi, Alberto akan pulang, bagaimana aku,," Ucap Ziya yang merasa bergetar khawatir saat bertemu dengan Alberto kembali.


Lalu, Ziya teringat akan Vena yang sudah lama tidak kembali ke kamarnya, padahal sebentar lagi cairan infusnya akan habis. Dan, Vena juga harus melepaskan selang infus yang menempel di tangannya itu.


" Dimana, Vena kenapa dia tidak balik-balik, padahal sudah lama diluar,," Bilang Ziya yang merasakan hal lain terjadi pada Vena.


" Eeemmm,, apa aku harus keluar mencari Vena," Ucap Ziya yang berniat untuk keluar mencari Vena.


Tapi, sesaat Ziya melihat bahwa di tangannya saat ini masih menempel selang infus dan tidak mungkin dirinya membawa selang infus itu kemana-mana di area rumah Alberto.


" Tidak mungkin aku mencari Vena seperti ini,," Bilang Ziya yang melihat selang infus masih menempel di tangannya.


Dalam seketika Ziya berpikir, apakah Vena meninggalkan dirinya ?


" Apa mungkin Vena meninggalkan aku,," Ucap Ziya sesaat berpikir bahwa Vena meninggalkan dirinya.


" Aakkhhh itu tidak mungkin baru saja Vena melayaniku dengan baik,," Ucap Ziya yang berpikir sendiri mengapa Vena saat ini lama sekali tidak kembali ke kamarnya.


" Apa mungkin Vena tertekan selama berada disini,," Ucap Ziya yang berpikir sambil bertanya-tanya tentang keberadaan Vena saat ini.


Sementara Ziya sedang berpikir bahwa dirinya bingung berhadapan dengan Alberto, serta berpikir kenapa Vena lama sekali meninggalkan dirinya sendiri di kamar Alberto ini, membuat Ziya semakin bosan dengan keadaan kamar yang begitu sepi sekali seperti ini.


Setelah Frengky mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa Vena sedang keluar dari ruangan kamar Alberto dan sekarang Vena telah dipanggil oleh Claire, membuat Frengky segera melaporkan kepada Alberto.


Alberto secara spontan terpikir akan keselamatan Ziya, pasti saat ini Ziya dalam bahaya, apabila bersangkutan dengan nama Claire dan Gladys. Dengan cepat Alberto memerintah supir pribadinya untuk mengencangkan laju mobilnya.


" Cepatkan, laju mobilnya,," Ucap Alberto yang memerintahkan kepada supirnya untuk mengencangkan laju mobilnya.


Karena mendapat perintah dari Alberto untuk mengencangkan laju mobilnya itu, membuat supir pribadi Alberto segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


" Baik Tuan,," Ucap supir pribadi Alberto dengan segera menjalankan perintah.


Tak terasa akhirnya saat ini, mobil Alberto sudah tiba di depan kediamannya dan Alberto segera turun dari mobilnya. Semua pengawal yang telah ada di kediaman menyambut kedatangan Alberto sambil membungkukkan tubuhnya memberi salam hormat kepada sang Tuan Besar.


Alberto tidak memperdulikan rasa hormat yang telah diberikan oleh semua pengawalnya saat ini, tujuannya adalah Ziya. Ziya orang pertama yang harus ia temukan saat ini.


" Selamat pagi Tuan,," Ucap Pengawal Alberto yang berada di depan kamarnya.


Alberto hanya mengangguk dan segera membuka pintu kamarnya. Alberto melangkahkan kakinya menuju ke ruang kamar pribadinya dan ia merasa lega saat melihat Ziya sedang terbaring di atas tempat tidurnya.


" Oh God, ternyata dia tidak apa-apa,," Ucap Alberto di dalam hatinya sedikit menaikkan ujung bibirnya.


Alberto menatap Ziya dari kejauhan dengan menyunggingkan senyumannya, Alberto mendekatkan dirinya dengan tubuh Ziya yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya.


Ziya seperti mendengarkan ada seseorang yang ingin mendekati dirinya saat ini, Ziya sangat takut sekali atas kejadian yang pernah menimpanya beberapa hari yang lalu. Saat Ziya membuka matanya dan melihat bahwa ada seseorang yang ingin menciumi puncak kepalanya, Ziya segera menerjang kaki Alberto, Dan disaat itu juga Alberto berteriak merasakan sakit pada kakinya.


" Eeehhh,," Suara Ziya yang keluar dari mulutnya bersamaan dengan kakinya yang menendang kuat kaki Alberto.


" Aaaauuuuwww,," Suara teriakan Alberto yang merasa sakit saat kakinya diterjang oleh kaki Ziya.


" Woooww,, Zoya ini aku, Alberto,," Ucap Alberto yang membuat Ziya kaget.


Karena, mendengar suara Alberto, Ziya membuka matanya dengan lebar dan segera duduk, ternyata benar orang yang ditendangnya adalah Alberto.


" Aaakkkhh,, Alberto Sorry,, aku pikir kau,," Bilang Ziya yang merasa bersalah karena, salah menendang orang.


" Makanya dilihat dulu siapa orang yang datang, jangan asal tendang,," Ucap Alberto yang merasa Ziya memang sengaja melakukan hal ini pada dirinya.


Ziya merasa tidak enak mendengar ucapan Alberto yang berkata seperti itu padanya.


" Hehe,, maaf sakit,," Tanya Ziya yang merasa bahwa saat ini dirinya tidak terlalu canggung berhadapan dengan Alberto.


" Eemmm,, Tidak," Jawab Alberto langsung duduk di samping Ziya.


" Bagaimana keadaanmu, apakah masih terasa sakit di bagian kepala,," Tanya Alberto secara langsung membuat Ziya merasa bahwa Alberto saat ini berperilaku lembut pada dirinya.


Kemungkinan saat ini Alberto tidak lagi mengingatkan suatu hal yang pernah ia lakukan pada Ziya selama ini


" Eemmm,, aku tidak merasakan sakit,," Jawab Ziya menundukkan kepalanya.


Alberto yang melihat wajah Ziya terlihat kembali merasakan takut untuk menatap wajahnya. Sehingga membuat Alberto suka sekali dengan perilaku Ziya seperti saat ini, malu tapi menantang gejolak dalam dirinya. Alberto dengan sengaja menaikkan dagu Ziya menggunakan jari telunjuknya, sehingga terlihatlah wajah Ziya yang begitu menawan di hadapannya saat ini.


" Kalau berbicara denganku,, jangan menunduk ke bawah,," Ucap Alberto yang menatap wajah Ziya secara dekat.


Ziya yang telah mendongakkan wajahnya ke atas dan terlihat jelas tatapan mata Alberto yang menatap wajahnya sangat dekat, membuat jantung Ziya berdebar-debar.


" Sebenarnya, aku, aku,," Jawab Ziya dengan matanya melirik kesana kemari membuat nafsu Alberto meningkat untuk mencari bibir Ziya.


Dengan cepat Alberto menciumi bibir Ziya, sehingga Ziya menjadi kaget dan terkesiap saat Alberto menciumi bibirnya.


" Uuuummmm,," Suara Ziya yang sedikit keluar saat Alberto menciumi bibirnya.


Ziya tidak bisa menolak sedikitpun hanya matanya saja yang berkedip-kedip saat bibirnya dimakan oleh bibir Alberto. Karena, merasa bahwa saat ini Ziya tidak menolak atas perlakuannya itu, membuat Alberto dengan segera menahan tubuh Ziya dan tetap menautkan bibirnya itu.


Ziya teringat akan ucapan Alberto selama ini menghina dirinya dengan perkataan yang membuat Ziya merasa begitu sesak di dadanya, sesaat Ziya menolak keinginan Alberto itu pada tubuhnya.


" Alberto,, aku mohon jangan lakukan ini padaku,," Bilang Ziya yang teringat akan ucapan Alberto menghina dirinya.


" Kenapa, kau, tidak bisa menolak keinginanku, karena kau, istriku,," Jawab Alberto tegas yang telah mengakui Ziya sebagai istrinya itu.


" Karena, aku,," Ucap Ziya yang menjawab tapi omongannya terputus karena, Alberto telah mendahului perkataannya itu.


" Baiklah kalau kau menolak, maka Vena tidak akan lagi menjadi asisten pribadimu,," Bilang Alberto tegas yang membuat Ziya kaget atas posisi Vena yang tidak tahu akan diletakkan dimana.


" Memangnya Vena mau dikemanakan,," Tanya Ziya yang menatap serius wajah Alberto.


" Akan aku pecat dia, karena, dia tidak becus menjagamu,," Ucap Alberto serius pada Ziya.


Karena, mendengar ucapan Alberto yang begitu serius itu, sehingga membuat Ziya merasa ketakutan akan diri Vena yang tidak akan bisa lagi mencari nafkah untuk keluarganya.


" Aakkh,, aku mohon Alberto jangan pecat dia, kasihan dengannya yang begitu bahagia saat dirinya diterima bekerja disini, aku mohon jangan pecat dia, pelayanannya baik terhadap diriku,," Ucap Ziya yang memohon kepada Alberto.


Karena, mendengar ucapan Ziya saat memohon dengan Alberto begitu mempesona membuat Alberto dengan segala kembali melakukan tindakannya untuk memakan tubuh Ziya.


" Baiklah,, kalau begitu permintaanmu, aku tidak akan memecat dirinya, asal kau tidak pernah menolak keinginanku,," Ucap Alberto yang sedikit menyunggingkan senyuman nakalnya pada Ziya.


" Memangnya kau mau apa,," Tanya Ziya dengan wajah polosnya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Alberto segera menerkam bibir Ziya dengan bibirnya itu, membuat Ziya sekali lagi kaget atas sikap Alberto yang selalu tiba-tiba pada tubuhnya.


" Uuummmmppp,, Al,, ber,, to,," Suara Ziya yang terdengar terputus-putus karena, bibirnya telah di bungkam oleh bibir Alberto.


Alberto sangat menyukai tingkah Ziya saat ini seperti seorang perempuan yang baru mengalami malam pertamanya. Disaat Alberto ingin menggapai tangan Ziya, Ziya berteriak merasakan sakit dan perih di tangannya, karena masih ada selang infus yang menempel di tangannya itu.


" Aakkhhh, Alberto sakit,," Ucap Ziya yang membuat Alberto terkejut saat Alberto ingin menggapai tangan Ziya.


Alberto segera melepaskan ciumannya yang telah beredar ke bagian telinga Ziya. Sesaat Alberto melihat wajah Ziya yang meringis kesakitan karena kelakuannya. Alberto tidak mengetahui bahwa di tangan Ziya masih ada sesuatu yang menempel yaitu selang infus.


" Oh God, aku tidak melihatnya." Bilang Alberto saat melihat tangan Ziya sedikit mengeluarkan darah karena, tersenggol oleh perlakuan Alberto yang sangat buas kalau sedang bercinta dengan Ziya itu.


Sesaat Alberto teringat dengan Vena yang memang tidak handal menjaga istrinya. Seperti saat ini, selang infus saja, Vena belum melepaskannya. Padahal memang benar sesuai dengan jadwal yang telah diberikan oleh Daniel sebelum cairan infus itu habis maka selang infusnya akan tetap dipakai oleh Ziya.


" Memang tidak efektif, dia menjadi asisten pribadimu,," Bilang Alberto yang kesal atas kelakuan Vena pada Ziya.


Karena, mendengar ucapan Alberto yang mengatakan Vena tidak efektif menjaga dirinya, dengan segera Ziya membela Vena.


" Pelayanan dia baik Alberto, ini memang masih dipasang, Vena bilang menurut Dokter Daniel, cairan infus yang telah disiapkan harus masuk semuanya ke dalam tubuhku dan ini cairan infus terakhir. Jadi, setelah cairan infus ini habis, barulah Vena membuka selang infusnya." Ucap Ziya yang menjelaskan cairan infus sambil membela Vena di depan Alberto.


" Benarkah,," Tanya Alberto menatap Ziya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


Alberto memperhatikan cairan infus itu tinggal sedikit lagi. Tapi, semenjak dia pulang Vena juga sama sekali belum kembali ke kamarnya.


" Sekarang cairan infus sudah hampir habis,, kemana Vena ?" Tanya Alberto kepada Ziya.


" Setelah dia menyiapkan sarapan pagi untukku,, dia keluar dari kamar dan belum kembali sampai saat ini." Jawab Ziya menjelaskan keadaan Vena.


" Ada yang tidak beres, sepertinya benar dengan pikiranku,," Ucap Alberto serius membuat Ziya bingung dan merasa khawatir pada keadaan Vena.


Karena, mendengar ucapan Alberto yang mengatakan ada sesuatu hal yang tidak beres membuat Ziya kaget, cemas dan takut akan suatu hal yang terjadi pada Vena.


" Memangnya kenapa dengan Vena, Alberto, apa yang terjadi padanya." Tanya Ziya dengan wajah cemasnya.


Dalam sekejap Alberto segera menghubungi Frengky untuk mengetahui dimana keberadaan Vena saat ini.


Pengawal yang telah diperintahkan oleh Frengky mengikuti langkah Vena, saat ini telah bertemu dengan Vena dan saat terakhir bertemu dengan Vena pengawal itu merasa bahwa Vena sepertinya sangat terlihat sekali sudah meminum racun yang mematikan.


" Oh God,, ternyata Vena telah meminum racun." Ucap Pengawal itu saat mendekatkan hidungnya tepat di mulut Vena.


Dengan cepat pengawal itu menggendong Vena kembali ke rumah utama. Vena yang tubuhnya langsing dan kecil begitu mudah bagi pengawal itu untuk membawanya sambil berlari kecil menuju ke rumah utama. Vena yang terlihat sangat lemah itu, membuat Frengky kaget saat dirinya bertemu dengan anak buahnya itu.


" Aakkhhh,, Tuan,,, Tuan Frengky,," Panggil anak buah Frengky saat melihat Frengky yang sengaja mencari keberadaannya.


Frengky melihat siapa orang yang berteriak memanggilnya ternyata anak buah yang telah diperintahkan dirinya untuk mengawasi Vena. Frengky segera mendekati anak buahnya itu, karena, terlihat seperti sedang menggendong seseorang.


" Kenapa dengannya,," Tanya Frengky saat dirinya mendatangi anak buahnya dan melihat Vena yang begitu lemah sekali.


" Disaat aku menemukannya, dia sudah terkulai lemah tidak jauh dari paviliun di belakang, Tuan,," Ucap anak buah Frengky menjelaskan keadaan Vena.


" Apa,," Jawab Frengky sambil membelalakkan matanya.


" Terus apa yang terjadi padanya,," Tanya Frengky kepada anak buahnya.


" Sepertinya dia diracuni, Tuan,," Ucap anak buah Frengky yang telah memeriksa keadaan Vena sebelumnya.


Vena yang sedikit sadar dan mendengarkan semua perbincangan antara anak buah Frengky dan Frengky membuat Vena sedikit menguatkan tubuhnya untuk meminta bantuan untuk membawanya langsung menemui Ziya majikannya.


" To,, to, tolong, bawakan aku bertemu Nyonya Zoya,," Ucap Vena yang bertujuan segera meminta bantuan Frengky.


Frengky mendengar semua ucapan Vena padanya, sehingga membuat Frengky dengan segera menyuruh anak buahnya untuk membawa Vena kembali ke rumah utama.


" Cepat bawa dia ke rumah utama dan akan aku laporkan pada Tuan Besar Alberto." Ucap Frengky yang bertindak cepat untuk melaporkan kejadian yang terjadi pada Vena.


" Baik Tuan,," Ucap anak buah Frengky dengan segera menggendong Vena berlari kecil menuju ke rumah utama.


Disaat anak buah Frengky membawa Vena berlari menuju ke ruang utama dan terlihat sekali di mata Frengky bahwa tubuh Vena saat ini sudah sangat lemah dan sedikit membiru di bagian bibirnya. Dengan segera Frengky menghubungi Alberto menggunakan alat yang ada di telinganya.


***


Oh iya Readers,, Author ada Novel Terbaru ya,, Judulnya Driver My Hubby 🥰🥰 Menceritakan kisah cinta seru antara Cinta dan Rio yang terhalang karena perjodohan dari pihak Cinta oleh perjanjian orang tuanya.


Silahkan dinikmati dan dibaca ceritanya ya Readers 😘🤗