
Dalam hati Alberto ingin sekali ia menembak kepala wanita cantik yang sangat mirip dengan istrinya itu, yang sedang berada tepat dihadapannya ini.
Namun, karena ia mengingat kelembutan Ziya saat bersama putra tunggalnya Demian. Ia mengurungkan niatnya itu, karena baginya untuk sekarang Ziya lebih baik untuk putranya dibandingkan istrinya selama ini.
Ziya yang deg-degan saat berada di dekat Alberto dan sangat terasa sekali nafas Alberto mengendus aroma dirinya. Alberto langsung membuat gerakan yang sangat cepat dan membuat Ziya terkejut karena Alberto menarik tubuhnya hingga Ziya berada di dalam pelukan Alberto.
" Aaawwww,," Suara Ziya yang terdengar kaget karena dirinya sekarang berada di pelukan Alberto.
Sesaat Ziya menatap wajah Alberto yang sangat dekat sekali dengan wajahnya. Lalu Alberto mendekatkan bibirnya ke telinga Ziya.
" Jangan pernah lari dari hidupku, kau memutuskan untuk masuk dalam kehidupanku, dan selamanya kau tidak bisa lepas dari genggamanku,," Ucap Albert di telinga Ziya yang sangat jelas sekali Ziya merasa takut atas ancamannya ini.
Tapi, Ziya tidak memperlihatkan wajah takutnya karena dirinya sekarang sedang menjadi Zoya.
Alberto tersenyum sinis, merasa menang bahwa dirinya melihat kegugupan di wajah Ziya. Sepandai-pandai Ziya menyimpan rasa gugupnya masih saja terlihat oleh Alberto.
" Tentu saja sayanggg,," Ucap Ziya yang sesaat membuat Alberto kesal.
Lalu, Alberto mendorong tubuh Ziya dengan kasar hingga terjatuh. Alberto sangat kesal pada Ziya yang saat ini berusaha menjadi Zoya.
" Aduhhh,, kenapa kau mendorongku,," Tanya Ziya yang kaget karena didorong oleh Alberto secara tiba-tiba.
" Dasar bodoh,, penyamaranmu sudah aku ketahui, saat melihat warna bola matamu,," Ucap Alberto yang menatap sinis Ziya.
" Jangan coba untuk merayuku!! Kamarmu ada di sebelah,, dan jangan pernah berpikir untuk menyelinap masuk ke dalam kamarku,," Ucap Alberto yang membuat Ziya berdiri dan melangkah pergi.
Ziya merasa senang, karena secara tidak langsung dirinya bebas dari genggaman Alberto saat ini. Dengan meniru gaya angkuh Zoya, Ziya langsung keluar dari kamar Alberto. Saat sampai di pintu kamar Alberto ia cepat-cepat menutup pintu kamar itu. Lalu melihat ada sebuah kamar lagi tepat di sebelah kamar Alberto dan Demian.
Ya, mungkin itu kamar Zoya,,
Ziya langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditujukan oleh Alberto padanya. Ia pun membuka pintu kamar itu dan memasuki ruangan di balik pintu indah itu.
Ziya cepat-cepat menutup pintu dan mengunci pintu kamarnya. Ternyata benar, ruangan yang dimasukkannya saat ini ialah kamar Zoya.
Saat ini Ziya bersandar tepat di balik pintu, Ia pun menarik nafasnya dengan teratur, karena sejak tadi dirinya, merasakan cemas dan ketakutan yang berlebih saat harus berhadapan dengan Alberto. Jantungnya berdegup kencang apabila ia harus berhadapan dengan Alberto yang sama sekali tidak menyukai Zoya.
" Aku harus bagaimana,,? Aku tidak bisa untuk selalu bersandiwara seperti Zoya,, Ini terlalu sulit untukku,, hikss,,, hikss,,, Aku tidak bisa hidup di tempat orang yang sangat membenciku,, Aku bisa mati kalau begini,," Ucap Ziya sambil menahan tangisnya.
Cukup lama Ziya menangisi dirinya sendiri tanpa ada seorang teman untuk mengadu.
Setelah merasa tenang, Ziya memandang ruangan kamar Zoya yang sangat indah bagi dirinya. Lalu, Ziya pun berdiri melihat semua ruangan-ruangan dan bagian-bagian di dalam kamar Zoya. Terlihat begitu indah bagi seorang perempuan. Karena, di dalam kamar Zoya melebihi dari kata lengkap bagi wanita saat ini.
Ziya melihat sebuah lemari yang sangat besar dan membukanya, lalu terlihatlah semua gaun-gaun indah Zoya yang semuanya dirancang oleh desainer terkenal.
Ziya hanya tersenyum kagum melihat semua barang yang dimiliki oleh kembarannya itu.
Lalu, Ziya melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana semua tas, sepatu, dan aksesoris yang telah diletakkan. Semuanya itu tidak bisa dihitung lagi oleh Ziya.
Ziya hanya menggelengkan kepalanya karena, melihat barang-barang Zoya yang tidak berguna seperti ini.
" Zoya, Zoya hanya dengan barang ini, kau melakukan apapun untuk menjadi keinginanmu.." Ucap Ziya sambil melihat semua barang Zoya.
Ziya pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Ziya kembali takjub melihat kamar mandi Zoya sangatlah mewah, bahkan melebihi kemewahan kamar mandi hotel bintang lima berlipat-lipat 😁.
Lalu, Ziya mengisi air di dalam bathtub dan menaburkan bubuk sabun di dalam tampungan air tersebut. Setelah merasa cukup Ziya membuka bajunya dan ia langsung membaringkan tubuhnya ke dalam bathtub. Cukup lama Ziya berendam di dalam bathtub sehingga membuat dirinya tertidur di tempat itu.
Ziya terbangun karena merasa dirinya sangat dingin, ia pun keluar dari bathtub, dan memandangi wajahnya ke kaca. Dia melihat matanya apakah masih sembab karena ia cukup lama menangis tadi, dan ternyata tidak. Ziya keluar dari kamar mandi dan mengambil baju tidur di lemari khusus milik Zoya. Untung tubuhnya dengan tubuh Zoya satu ukuran, sehingga ia tidak terlalu sulit untuk memilih baju.
Cuma yang membuat Ziya merasa muak dengan pakaian Zoya adalah serba minim dan terbuka.
" Heeemm,, bagaimana aku harus hidup disini, dengan baju yang semuanya terbuka.." Kesal Ziya yang dari tadi memilih baju Zoya yang semuanya terbuka.
Mungkin seperti Lingerie kali ya,,
Akhirnya Ziya mendapatkan baju tidur Zoya yang sedikit tertutup, ya walaupun itu menembus terawang sangat terlihat jelas lekuk tubuhnya.
" Aahh sudahlah,, semuanya serba terbuka dan cuma ini yang tertutup, walaupun tipis tapi tidak apa-apa." Bilang Ziya yang langsung memakai baju tidurnya.
Karena waktu sudah cukup larut, Ziya melepaskan handuk di kepalanya dan meletakkannya di sofa dekat tempat tidurnya.
Ziya pun langsung naik ke atas tempat tidur, lalu ia pun menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Sesaat Ziya hendak memejamkan matanya, ia kaget karena tiba-tiba mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Ziya takut dan cemas siapa malam-malam begini datang ke kamarnya.
" Siapa yang mengetuk pintu,," Ucap Ziya yang cemas karena ada orang yang sedang mengetuk pintu kamarnya.
Lalu, dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu. Ia tidak mendengar sama sekali suara Demian, karena ia sangat tahu kalau Demian sudah tertidur pulas.
Ziya meletakkan telinganya di dekat pintu untuk menyelidiki siapa orang di balik pintu tersebut.
" Buka,, aku tahu kalau kamu belum tidur." Bilang laki-laki dibalik pintu kamarnya.
Ziya kaget karena mendengar suara Alberto yang berada di balik kamarnya.
" Kenapa dia datang ke kamar ini,, bukannya dia tidak menyukai Zoya,," Gumam Ziya yang takut dan khawatir mendengar suara Alberto.
Karena kesal, akhirnya Alberto membuka sendiri pintu kamar itu dengan memasukkan kunci di tangannya ke dalam lubang kunci kamar Ziya. Dan Ziya mendengar bahwa Alberto sedang ingin memasukkan kunci ke dalam lubang pintu kamar.
" Ternyata dia ada kunci,," Bilang Ziya yang semakin cemas.
Lalu, dengan cepat Ziya membuka pintu kamarnya. Dengan gaya menguap supaya terlihat mengantuk Ziya muncul di balik pintu.
" Ada apa??" Tanya Ziya yang pura-pura mengantuk.
" Aku tahu kalau kamu pura-pura,," Ucap Alberto yang membuat kaget Ziya.
Ziya langsung membelalakkan matanya karena, Alberto baru saja bilang ia mengetahui kalau Zoya berpura-pura.
Haduuhhh Ziya mampus deh kali ini, ternyata Alberto selalu menyelidiki dirinya.
****