Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 137 - Sasaran Panah



Setelah mendapatkan izin dari Alberto, dengan segera Ziya mengajak Demian bermain kembali di dekat taman danau, namun, Ziya tidak boleh mengajak Demian mendekati taman tanaman beracun, karena, sudah banyak yang mengetahui bahwa Ziya sudah dua kali pergi kesana.


" Halo, Pak Frengky, bisa bicara dengan Tuan Besar ?" Tanya Vena di dalam teleponnya yang ingin meminta izin dari Alberto untuk Ziya dan Demian.


" Ada apa ?" Tanya Frengky balik kepada Vena.


" Nyonya Zoya dan Tuan Muda Demian ingin meminta izin kepada Tuan Besar untuk pergi bermain bersama,," Ucap Vena yang menjelaskan maksud dan tujuannya menelepon.


" Oh baiklah tunggu sebentar,," Bilang Frengky yang membuat Vena menunggu.


Tak lama kemudian Vena mendengarkan suara dari Alberto yang telah menerima telepon darinya.


" Ada apa, Vena ?" Tanya Alberto langsung pada Vena.


" Begini Tuan, Nyonya dan Tuan Muda meminta izin ingin pergi bermain bersama di taman dekat danau." Ucap Vena yang menjelaskan secara langsung tujuannya menelepon.


" Baik, berikan teleponnya pada majikanmu,," Pinta Alberto yang menyuruh Vena memberikan teleponnya kepada Ziya.


Karena, mendengar ucapan Alberto yang meminta Vena untuk memberikan teleponnya kepada Ziya dengan segera Vena memberikan teleponnya kepada majikannya itu. Ziya mengerti akan maksud Vena, langsung saja Ziya menerima teleponnya.


" Halo,," Suara Ziya yang terdengar dari ponsel Alberto.


" Halo, sayang,," Ucap Alberto yang menyapa Ziya.


Karena, suara dari ponsel Vena terlalu besar, akhirnya Ziya mematikan suaranya dan saat ini hanya Ziya saja yang mendengarkan ucapan Alberto.


" Eemmm,, Daddy apakah kami boleh bermain di dekat danau,," Ucap Ziya yang membuat Vena sedikit tersenyum.


" Boleh, asal kau tidak pergi ke taman tanaman merah,," Ucap Alberto yang memberikan peringatan kepada Ziya.


" Memangnya kenapa ?" Tanya Ziya kepada Alberto sedikit penasaran.


" Bukannya kau sudah tahu, kalau mau kesana hanya bisa bersama denganku, supaya tidak ada yang mencurigai keahlianmu,," Bilang Alberto mengingatkan Ziya.


" Oh baiklah, siap Daddy,," Jawab Ziya tersenyum.


" Bagaimana, Mommy apakah diizinkan oleh Daddy ?" Tanya Demian langsung disela obrolan Alberto dan Ziya ditelpon.


" Boleh sayang,," Jawab Ziya tersenyum.


" Holeee,, thanks Dad,," Ucap Demian kepada telepon yang dipegang oleh Ziya.


" Kami pergi dulu, daaahhh,," Ucap Ziya yang mematikan teleponnya.


" Come, kita pergi sayang,," Bilang Ziya dengan segera melangkahkan kakinya keluar lagi dari rumah.


" Oh ya Vena, perintahkan pada pengawal untuk mengatakan pada Melly, bawa saja makanan Demian ke taman dekat danau." Ucap Ziya yang memberikan pesan kepada Vena.


" Baik, Nyonya,," Jawab Vena dengan segera menemui salah satu pengawalnya untuk menyampaikan pesan majikannya kepada Melly.


Ziya segera melangkahkan kakinya menuju keluar dari rumah dan meminta beberapa pengawal untuk mengantarnya ke taman di dekat danau.


Sesampainya di dekat danau, Ziya yang menggendong Demian turun dari mobil diikuti oleh Vena. Kalau Ziya sudah berapa kali pergi kesini, namun Vena baru saja kali ini dia pergi kesini, selama ini Vena hanya bisa melihat keindahan danau dari kaca jendela kediaman Alberto. Ternyata lebih indah kalau melihatnya dari dekat, sehingga membuat Vena menggelengkan kepalanya menatap kagum atas apa yang ia lihat itu.


" Waaaahhh, Nyonya ternyata indah sekali danaunya,," Ucap Vena yang kagum melihat keindahan danau.


Sementara itu, Ziya hanya tersenyum melihat wajah Vena yang ternganga menatap keindahan danau. Dengan segera Vena melangkahkan kakinya mengikuti Ziya yang sedang menggendong Demian. Saat di dekat danau, Ziya menurunkan tubuh Demian dan seperti biasa Demian bermain melemparkan batu ke danau seperti apa yang diajari oleh Ziya.


" Ayo, Vena," Bilang Ziya yang mengajak Vena.


" Baik, Nyonya,," Jawab Vena mengangguk dengan segera mengikuti langkah Ziya.


Ziya segera mengajak Demian seperti biasanya, saat itu Demian melihat sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari danau dengan tempat yang sangat luas. Sehingga, membuat Demian penasaran dan berlari kesana. Dengan segera Ziya mengejar langkah Demian yang berlari menuju ke taman yang sangat luas itu. Begitu juga dengan Vena yang ikut berlari mengejar kedua majikannya itu.


" Demian,, sayang kamu mau kemana ?" Teriak Ziya yang kaget melihat Demian berlari ke tempat lain.


" Demian mau kesana Mom,," Ucap Demian yang berlari menuju ke taman yang sangat luas itu.


" Demian tunggu Mommy,," Ucap Ziya yang mengejar langkah kaki Demian.


Karena, Ziya menggunakan sepatu heels yang tinggi membuatnya kesulitan untuk berlari, sehingga Ziya berpikir lebih baik sepatu ini dilepaskan saja supaya bisa mengejar langkah Demian.


" Lepaskan saja sepatu ini," Ucap Ziya yang melepaskan sepatunya dan meninggalkan sepatunya itu.


Karena, tidak memakai sepatu lagi, akhirnya Ziya dengan cepat mengejar Demian yang berlari menuju ke sebuah taman yang terlihat luas itu. Namun, dari kejauhan Vena sengaja mengambil sepatu Ziya dan ikut berlari mengejar langkah kaki Ziya yang sudah sampai bersama Demian ke taman yang begitu luas itu.


" Waaauuu Mom, ini pasti tempat latihan Daddy menembak,," Ucap Demian yang melihat taman yang begitu luas dan indah itu dengan wajah yang gembira.


" Hah! tempat Daddy menembak,," Ucap Ziya yang juga melihat tempat itu.


Memang benar saat ini Ziya dan Demian sedang berada di sebuah taman tempat Alberto sering berlatih menembak atau memanah. Demian segera berlari mendekati sebuah tempat yang dikhususkan untuk memanah, Ziya merasa tertarik kembali akan keahliannya dalam bertarung, namun Ziya teringat bahwa dirinya adalah Zoya, tidak mungkin ia menunjukkan keahliannya itu. Niat hati Ziya saat ini menggebu-gebu ingin mengasah kembali keahliannya dalam melempar pisau yang langsung menancap tepat di sasarannya.


" Oh God, kenapa disini ada tempat untuk meningkatkan emosiku dalam memanah dan menancapkan pisau,," Ucap Ziya dalam hati yang sangat ingin sekali melakukan keahliannya lagi.


Dengan segera Ziya mendekati Demian beralasan untuk mengajak Demian tidak bermain disini. Namun, sebenarnya Ziya ingin sekali mengajar Demian apa saja keahliannya itu. Tapi, saat ini waktunya belum tepat, karena, Ziya masih belum mau membeberkan identitas aslinya kepada semua orang di rumah ini.


" Sayang, lebih baik kita kembali ke danau ya," Ucap Ziya yang membujuk Demian untuk kembali ke danau.


" Demian tidak mau Mom, Demi mau main disini, mau main memanah dan menembak sepelti Daddy,," Ucap Demian yang merengek sudah memegang sebuah busur untuk memanah.


" Hehehe, Demian sebenarnya Mommy juga ingin mengasah kembali keahlian Mommy yang sudah lama tenggelam, tapi,," Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum kepada Demian.


" Sayang, kita belum tanya Daddy untuk bermain disini, kita minta izin Daddy dulu ya sayang,," Ucap Ziya yang kembali membujuk Demian.


" Eennggg Mommy,, Demi mau main ini," Ucap Demian yang masih bersikeras untuk bermain dengan busur panah yang dipegangnya itu.


" Baiklah kalau begitu, Mommy ingin lihat, bagaimana kehebatan Demian memainkan busurnya, ayo dimulai,," Ucap Ziya yang sengaja membuat Demian semakin bersemangat.


" Holeee, boleh Mom,," Jawab Demian yang gembira.


" Heemmm,," Jawab Ziya mendekati Demian.


Lalu, Demian segera mengangkat busur yang sangat besar namun, sayang Demian tidak terlalu sanggup mengangkat busur itu. Sehingga dengan sengaja Ziya menekukkan lututnya untuk menyetarakan persamaan tubuhnya dengan Demian. Lalu, Ziya membantu Demian untuk membidikkan panahnya ke arah yang telah ada tepat di hadapan mereka yang cukup jauh.


Dari kejauhan beberapa mata orang telah melihat kegiatan Ziya yang sedang bermain bersama Demian saat ini, walaupun bermain namun, bagi Christin dan asistennya itu merupakan suatu keahlian yang dimiliki Ziya. Lalu, Vena tertarik untuk merekam kegiatan yang dilakukan Ziya bersama Demian saat ini di taman. Sambil tersenyum, Vena segera mengeluarkan ponselnya.


" Ayo sayang, bagaimana caranya, Mommy mau lihat,," Ucap Ziya dengan posisi setengah menekuk lututnya.


" Oke Mom,," Jawab Demian yang posisi tubuhnya telah membidikkan panahnya ke arah sasaran.


Demian terlihat seperti sedang fokus pada busur serta sasarannya, sepertinya, Demian meniru gaya Alberto yang sedang membidikkan sebuah sasarannya.


" Heemm sayang, ternyata kau terlihat seperti Alberto yang sedang membidik sasarannya." Ucap Ziya dalam hati sambil tersenyum melihat gaya Demian.


Setelah sasarannya merasa tepat, Demian segera melepaskan anak panahnya dan melesat ke arah sasaran, namun tidak mengenai sasaran yang tepat. Walaupun anak panahnya melesat dari sasaran namun dengan usia Demian yang masih kecil bidikan seperti itu termasuk bidikan yang sangat tepat melumpuhkan sasaran.


" Waaauuu,, That's Great sayang,," Ucap Ziya yang memuji kehebatan Demian.


Walaupun mendapatkan pujian dari Ziya, namun tetap saja Demian terlihat cemberut dengan hasil yang telah dilakukannya itu.


" Eennggg, tapi tidak sehebat Daddy,," Bilang Demian yang cemberut.


Karena, melihat Demian cemberut dengan segera Ziya membujuk Demian untuk kembali membidikkan anak panahnya ke arah sasaran. Tujuan Ziya adalah untuk menyemangati Demian supaya pandai dalam hal memanah bukan menunjukkan keahliannya.


" Come sayang, bersama Mommy, mungkin kali ini bisa tepat sasarannya, oke,," Ucap Ziya yang membuat Demian kembali tersenyum dan bersemangat untuk memainkan panahnya itu.


" Hah!! benelan Mom,," Bilang Demian yang matanya berbinar bahagia.


" He'eh sayang, Come,," Jawab Ziya yang kembali mengajak Demian untuk memainkan panahnya.


Lalu, dengan segera Demian kembali memegangi busur panahnya dan Ziya juga ikut memegangi busur dengan sangat benar. Saat memeluk tubuh Demian sambil membimbing Demian, Ziya membisikkan sesuatu kepada Demian yang membuat Demian terperangah bahagia mendengarnya.


" Sayang, jangan katakan pada orang kalau Mommy mengajar Demian memanah ya,," Bisik Ziya pada Demian yang berada dalam pelukannya itu.


" Hah! Mommy bisa memanah ?" Tanya Demian yang menatap wajah Ziya dengan senyuman sumringah.


" He'eh sayang,," Jawab Ziya mengangguk dan tersenyum.


" Holeee,, Mommy hebat,," Teriak Demian yang terlihat sangat bahagia.


" Sssttt,, ingat jangan beritahu siapapun ya sayang,," Bilang Ziya uang yang membujuk Demian.


" He'em Mom janji,," Ucap Demian yang memeluk dan mencium pipi Ziya.


" Ayo kita mulai,," Bilang Ziya yang mengajak Demian untuk memulai aksinya.


Ziya terlihat seperti sedang membimbing Demian dalam memanah, walaupun, terlihat seperti sedang bermain, namun ada beberapa mata yang merasa yakin bahwa Ziya bukan sekedar bermain melainkan keahliannya. Dengan segera Ziya mengajarkan Demian untuk melakukan penelitian sasaran, setelah merasa pas dengan sasarannya barulah Ziya melepaskan anak panah dari busur yang telah dipegangnya itu.


Dan, sangat tepat sekali terlihat bahwa anak panah yang dilepaskan oleh Ziya menancap tepat di sasarannya. Membuat Vena yang merekam kegiatannya itu terbelalak kagum atas keahlian Ziya yang sedang bermain panah itu.


" Waaauuu,, ternyata Nyonya mahir dalam memanah," Gumam Vena yang terbelalak melihat adegan di depan matanya itu.


Dan, sangat jelas terlihat dari beberapa mata bahwa Ziya bukan hanya sekedar bermain namun, itu merupakan salah satu keahlian yang ada dalam dirinya. Terlihat juga dari wajah Demian yang melompat kegirangan, karena, hasil bidikannya telah tepat mengenai di bagian tengah sasaran.


" Holeee,, akhilnya Demi belhasil,," Ucap Demian yang meloncat kegirangan.


" Horee, bagus sayang," Bilang Ziya yang memuji keberhasilan Demian dalam bimbingannya itu.


" Again Mom,," Pinta Demian yang kembali dalam posisinya dan Ziya mengangguk.


Saat Demian kembali masuk ke dalam pelukan Ziya untuk dibimbing memanah lagi, Ziya mengangguk tersenyum melihat kelakuan Demian yang sangat pandai dalam hal apapun setelah diajarkannya.


Saat Ziya bersama Demian yang mengulang kembali permainannya itu, dengan segera Vena mengirimkan video rekaman kepandaian Ziya pada Alberto. Niat Vena untuk membanggakan kehebatan majikannya itu, di depan Tuan besarnya. Namun, beberapa orang juga sedang mengawasi Ziya yang sedang bermain bersama Demian itu.


" Apa,, dia bisa memanah, tapi, selama ini Zoya tidak pernah memperlihatkan keahliannya,," Ucap Christin yang sedari tadi melihat kelakuan Ziya bersama Demian.


" Sepertinya benar dia adalah istri dari Alberto sesungguhnya," Ucap Christin yang tersenyum melihat tingkah laku Ziya bersama Demian di sebuah taman.


" Baiklah, jika benar dia adalah istri sesungguhnya dari Alberto, maka aku akan selalu bersedia untuk membantunya dalam mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik cucuku selama ini." Ucap Christin yang telah berniat untuk membantu Ziya.


Saat Vena, mengirimkan sebuah video rekaman tentang Ziya kepada Alberto. Alberto yang sedang berada di kantor sambil membaca semua berkas-berkas laporan yang telah menumpuk di atas mejanya. Saat pesan masuk Alberto segera membuka pesan itu, Alberto terbelalak kaget melihat pesan rekaman yang dikirimkan oleh Vena.


" Oh, My God, ternyata Ziya mahir memanah,," Ucap Alberto yang melihat video rekaman Ziya dan Demian yang dikirimkan oleh Vena.


Alberto merasa senang jika Ziya pintar dalam segala bidang apapun, karena, Ziya merupakan istri dari seorang pebisnis dan juga mafia sepertinya haruslah kuat dan pandai dalam hal apapun. Alberto kagum melihat keindahan wajah Ziya saat mengajari Demian dalam memanah. Alberto tidak memperdulikan semua orang di rumah mengetahui identitas Ziya, karena, baginya dia sangat bangga apabila memiliki istri yang pintar seperti Ziya.


" Bagus, kalau Ziya banyak keahliannya." Ucap Alberto semakin menyukai Ziya.


Sesaat Alberto teringat akan keadaan Ziya yang sudah tidak memiliki mahkota lagi, itu merupakan pertanyaan terbesar bagi dirinya, siapa yang telah melakukan itu kepada Ziya, sedangkan menurut Daniel Ziya pandai dalam beladiri, tidak mungkin Ziya diper-kosa oleh orang yang menyerang dirinya.


" Tidak mungkin dia diper-kosa orang lain, sedangkan dia pandai dalam beladiri. Tapi, siapa orang yang telah berani menghancurkan hidupnya." Ucap Alberto yang memikirkan sesuatu hal tentang kehidupan Ziya.


" Jika, aku mendapatkan orang itu, aku berjanji dalam hati, bahwa orang itu tidak akan pernah selamat dalam genggamanku,," Ucap Alberto yang begitu membenci orang yang telah menghancurkan kehidupan Ziya.


Lalu, Alberto kembali berpikir tentang kejadian dirinya bisa menikah dengan Zoya. Karena, pads malam itu bukanlah suatu hal yang disengaja dari dirinya, saat itu, Alberto juga sedikit lupa bagaimana bisa dia menarik tubuh Zoya dalam keadaan setengah sadar dan melampiaskan nafsu hasratnya. Sungguh membuat Alberto menyesal atas kejadiannya yang telah terjadi pada dirinya itu.


****