
Alberto baru saja ingin terlelap dari tidurnya, tiba-tiba Alberto merasakan bahwa di tubuhnya Ziya banyak sekali mengeluarkan keringat sehingga membuat Alberto merasa penasaran dengan kondisi tubuh Ziya yang seperti ini. Alberto ingin sekali membangunkan Ziya namun, sangat jelas sekali terlihat bahwa Ziya sedang mengalami mimpi buruk. Lalu, Alberto sedikit terbangun saat mendengar suara rintihan dari Ziya yang terdengar menolak dan menangis padahal matanya saat ini sedang terpejam.
" Tidak, tidak, jangan, jangan !!" Ucap Ziya yang mengigau di tengah tidurnya.
" Jangan, aku mohon jangan, jangan,," Teriak Ziya dalam mimpinya.
Di dalam mimpi Ziya merasa bahwa ada beberapa orang yang mengejar dirinya dan ia berlari sekencang mungkin, namun, tetap saja dirinya tertangkap oleh orang itu. Karena, sudah terlalu nyenyak dalam tidurnya, Ziya cukup susah untuk dibangunkan.
" Sayang, sayang apa yang terjadi padamu,," Ucap Alberto yang meras khawatir akan sesuatu terjadi pada Ziya.
Ziya masih saja mengigau dalam mimpinya, hingga suara Alberto yang membangunkannyapun sama sekali tidak membuat tubuh Ziya bergeming untuk bangun, Alberto cemas dan khawatir takut terjadi apa-apa dengan Ziya.
" Ziya kamu kenapa sayang ?" Tanya Alberto yang menggoyang-goyangkan tubuhnya Ziya.
Sesaat Ziya terbangun dari mimpinya karena, Ziya merasakan sangat sesak di dadanya. Padahal sedari tadi Alberto sudah sangat cemas sekali dengan keadaan Ziya yang sangat susah sekali bangun dari tidurnya itu.
" Haaaahhhhh,," Suara Ziya yang terbangun dari tidurnya sambil mengambil napas dengan rasa sesak yang terlalu dalam.
Saat Ziya bangun dari tidurnya dan langsung terduduk membuat Alberto merasa sedikit kaget atas sikap yang terjadi pada Ziya itu. Alberto segera mendekati Ziya dan menanyainya apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya.
" Sayang, kamu tidak apa-apa ?" Tanya Alberto pada Ziya.
Ziya masih saja terdiam dengan mimpi yang seakan nyata baginya itu. Untuk sesaat Ziya masih belum menjawab pertanyaan dari Alberto. Lalu, karena, melihat Ziya terdiam cepat-cepat Alberto mengambil air minum untuknya.
" Sayang kamu kenapa, heemm ?" Tanya Alberto langsung pada Ziya sambil memberikan segelas air putih padanya.
Karena, mendengar sapaan dari Alberto, Ziya segera menoleh ke arah Alberto dan menatapnya.
" Alberto,, apakah aku hanya bermimpi ?" Tanya Ziya yang menatap serius wajah Alberto.
Alberto tidak mengerti akan maksud dari perkataan Ziya itu apa, sehingga membuat Alberto memilih untuk menenangkan Ziya terlebih dahulu.
" Ya, kamu memang bermimpi, jadi minumlah air putih ini dulu, supaya perasaanmu tenang," Ucap Alberto yang menenangkan perasaan Ziya.
Ziya mengangguk dan menerima air putih yang diberikan Alberto padanya. Setelah meminum air putih yang diberikan itu, Alberto segera menerima gelas itu kembali dan meletakkannya ke atas meja. Barulah Alberto duduk kembali dan bertanya kepada Ziya tentang apa yang telah dimimpikannya itu.
" Sayang, apakah perasaanmu sudah merasa tenang ?" Tanya Alberto yang melihat wajah Ziya masih membayangi mimpinya itu.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.
" Memangnya apa yang kau telah terjadi pada mimpimu ?" Tanya Alberto yang begitu serius menatapi wajah Ziya.
Ziya seakan tidak yakin dengan apa yang telah dimimpikannya itu, ia merasa bahwa beberapa orang telah mengejarnya dan membuat dirinya tertangkap. Namun, di dalam mimpinya itu sangat jelas sekali bahwa ia bisa lepas dari cengkraman orang yang mengejarnya itu dan disaat itu juga kehancuran terjadi dalam hidupnya dimana ia telah dipaksa untuk melayani seseorang dan melampiaskan nafsu hasratnya pada tubuhnya dalam keadaan lemah. Ziya sangat mengenal wajah yang telah melakukan hal buruk itu padanya, namun Ziya tidak percaya bahwa wajah itu yang melakukan hal kejahatan padanya.
" Tidak, aku tidak mungkin menceritakan ini pada Alberto,," Ucap Ziya dalam hati sambil menatap sedikit takut pada Alberto.
" Sayang memangnya apa yang telah terjadi, hah ?" Tanya Alberto lagi yang menatap lembut wajahnya.
" Tidak apa-apa," Jawab Ziya dengan tubuh yang masih gemetar merasa tidak yakin dengan mimpinya itu.
Alberto merasa bahwa sepertinya Ziya sedikit merasakan sesuatu pada dirinya, ada perasaan takut yang terlihat di wajah Ziya. Sehingga membuat Alberto langsung memeluk Ziya dengan erat memberikan ketenangan pada Ziya bahwa jangan takut dengan dirinya.
" Sayang,, kau tidak perlu takut padaku, ada apa hemm ?" Tanya Alberto lagi yang memeluk tubuh Ziya.
Walaupun, sudah dipeluk erat oleh Alberto masih saja perasaan takut itu menghantui pikirannya, seakan bahwa mimpinya itu suatu pertanda kejadian buruk yang pernah ia alami, tapi kejadian itu kapan. Karena, tidak mau menceritakannya akhirnya Ziya sedikit melepaskan pelukan Alberto pada tubuhnya dan mendongakkan wajahnya menatap Alberto.
" Alberto,, kau sudah mengetahui kalau aku bukanlah Zoya, tapi, kenapa kau masih menerimaku,," Tanya Ziya yang membuat Alberto merasa heran.
Alberto masih terdiam tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini pada Ziya. Karena, yang dibutuhkannya saat ini adalah Ziya bukanlah Zoya untuk menjadi Ibu terbaik bagi putranya.
" Walaupun dia kembali, aku tidak akan pernah menerimanya lagi, karena, aku sudah mendapatkan dirimu," Ucap Alberto tegas yang membuat Ziya semakin merasa bersalah terhadap Zoya.
" Tapi, Alberto, aku merasa bahwa aku telah merebut kebahagiaan dari saudaraku sendiri, aku telah merebutmu darinya, aku merasa bahwa aku adalah wanita yang paling buruk, merebut suami saudara kembaran sendiri." Ucap Ziya yang merasa bahwa perbuatannya ini salah.
" Tidak sayang, kau tidak merebut suaminya, tapi, aku merasa dia yang merebut suamimu,," Ucap Alberto yang merasakan akan keyakinan pada dirinya.
Setelah beberapa lama Ziya tinggal di kediamannya ini, Alberto merasa tidak yakin pada diri Zoya yang telah melahirkan putranya, Alberto selama ini menilai bahwa Zoya tidak pernah memperdulikan anaknya sendiri, Zoya lebih memilih untuk bersenang-senang diluar dibandingkan harus bersama dengan Demian. Sedangkan, Ziya lebih mementingkan bermain dengan Demian dibandingkan harus bersenang-senang diluar. Itulah sebabnya Alberto merasa bahwa sepertinya selama ini ia telah ditipu oleh kelicikan Erwin dan Zoya.
Namun, Alberto tidak mengetahui bagaimana rencana yang telah dilakukan oleh Erwin sehingga ia bisa melakukan hal buruk itu pada Zoya.
Ziya yang merasa bingung dengan ungkapan Alberto itu segera menanyakannya.
" Hah, Maksudnya Alberto ?" Tanya Ziya yang menatap serius wajah Alberto.
Lalu, Ziya merasakan sedikit pusing di kepalanya hingga membuat Alberto segera menelepon Daniel.
" Aduuhhh,," Ucap Ziya yang merasakan sakit pada kepalanya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya itu.
" Kenapa sayang, kamu kenapa ?" Tanya Alberto yang cemas melihat kondisi Ziya.
Disaat Ziya merasakan sakit di kepalanya, Samar-samar Ziya seperti melihat akan kejadian yang terjadi di dalam mimpinya itu. Dimana saat itu dirinya dikejar oleh orang banyak dan membuat dirinya tertangkap.
" Aaaahhhhh,," Teriak Ziya yang merasakan begitu sakit di kepalanya.
" Sayang kamu kenapa ?" Tanya Alberto segera memeluk tubuh Ziya.
Dengan cepat Alberto menyambar ponselnya yang diletakkan di atas meja samping tempat tidur dan menghubungi nomor ponselnya Daniel. Namun, tangannya Ziya memegang tangan Alberto dan mencegahnya untuk menelepon Daniel. Saat tangan Ziya memegang tangannya Alberto, otomatis Alberto kaget atas sikap Ziya yang secara tiba-tiba itu.
" Jangan, aku mohon Alberto jangan panggil siapa-siapa,," Ucap Ziya yang melarang Alberto untuk menelepon Daniel.
" Tapi, sayang kau kesakitan,," Bilang Alberto yang bersikeras masih ingin menelepon Daniel.
" Aku mohon jangan panggil siapa-siapa, Alberto, aku tidak apa-apa,," Bilang Ziya yang terdengar sangat keras mencegah Alberto untuk menelepon Daniel.
" Baiklah sayang, kalau itu permintaanmu, jadi, apa yang harus kulakukan sekarang ?" Tanya Alberto memeluk Ziya merasa kasihan akan suatu hal yang terjadi pada Ziya.
" Aku mohon jangan panggil siapapun, aku tidak apa-apa,," Jawab Ziya dengan tubuh melemah sendiri dan terlelap akan tidurnya.
Namun, saat Alberto melihat Ziya terlelap itu membuat Alberto takut dan cemas akan kondisi Ziya yang sangat memerlukan pihak rumah sakit untuk mengobatinya. Dengan segera Alberto menelepon kembali temannya Daniel, namun lagi-lagi Ziya mengetahui kelakuan Alberto yang menelepon Daniel itu. Dengan suara lemah dari tubuhnya Ziya masih saja mencegah Alberto untuk menelepon Daniel.
" Alber, to,, aku mohon jangan sampai orang mengetahui kelemahanku saat ini,," Bilang Ziya yang sedikit membuka matanya menatap lembut wajah Alberto.
Saat, Alberto menatap wajah Ziya yang menggelengkan kepalanya untuk tidak memberitahu siapapun akan penyakitnya itu. Alberto mengangguk dan mencium erat puncak kepala Ziya, merasa bersalah dan begitu kasihan atas apa yang telah terjadi pada Ziya.
" Sayang aku berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapapun, apa yang terjadi padamu saat ini," Ucap Alberto yang memeluk erat tubuh Ziya.
" Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku,, aku mohon Ziya, aku mohon,," Ucap Alberto sedikit menitikkan air matanya saat melihat kondisi Ziya yang sangat lemah sekali.
" Aku berjanji Alberto,," Ucap Ziya mengangguk lemah di pelukan Alberto.
" Apakah masih merasakan sakitnya ?" Tanya Alberto yang bertanya langsung menatap wajah Ziya.
" Sedikit berkurang,," Jawab Ziya sedikit menyunggingkan senyumnya.
" Kita mau kemana apakah ke rumah sakit atau,," Bilang Alberto lembut menatap Ziya.
" Tidak perlu, sebentar lagi aku akan merasa baik, Alberto," Jawab Ziya dengan suara lembutnya.
" Sayang,, aku sangat mencintaimu, jangan pernah takut untuk menceritakan apapun padaku,," Ucap Alberto yang membuat Ziya tersenyum mendengarkan ucapannya itu.
" Terima kasih, karena, sudah memperdulikan keadaanku." Bilang Ziya yang mulai bisa memeluk erat tubuh Alberto.
" Heeemm sayang, Albertomu ini berjanji hanya milikmu seorang Ziya,," Ucap Alberto yang membuat Ziya tersenyum.
Alberto memeluk erat tubuh Ziya dan menciumi puncak kepala Ziya. Alberto tidak memikirkan lagi luka yang ada di tubuhnya, karena, baginya rasa sakit di tubuh Ziya itu lebih sakit yang ia rasakan. Baru kali ini, Alberto melihat keadaan Ziya yang begitu menyakitkan, bagaimana keadaan Ziya saat penyakitnya mulai kambuh.
" Sayang apa yang telah terjadi padamu, apakah selama ini rasa sakit di kepalamu selalu kambuh,," Ucap Alberto yang memeluk tubuh Ziya dengan erat.
Alberto merasakan sangat takut kehilangan Ziya, karena, ia merasakan bahwa dirinya belum mendapatkan siapa orang yang telah berani memperlakukan Ziya hingga hidupnya seperti ini.
Karena, merasa diperlakukan begitu lembut oleh Alberto. Akhirnya Ziya bisa tertidur dengan pulas, namun Alberto yang menatap wajah Ziya yang tertidur di pelukannya itu, membuat Alberto tetap berniat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Ziya saat ini.
" Sayang, walaupun kau melarangku untuk memberitahu kepada siapapun tentang penyakitmu ini, tapi, aku akan tetap mencari tahu tentang apa yang telah terjadi dengan dirimu saat ini Ziya,," Ucap Alberto dalam hati sambil memposisikan tubuh kembali ke tempat tidur.
Alberto meletakkan Ziya dengan lembut ke atas bantalnya dan Alberto juga membaringkan tubuhnya tepat di samping Ziya. Alberto menatap wajah Ziya dengan tatapan lembut.
" Siapa kau sebenarnya, sayang, kenapa kau hadir dalam hidupku melalui Erwin, apakah kau termasuk salah satu komplotan Erwin atau kau memang benar korban dari kejahatan mereka,," Ucap Alberto lembut menatap wajah Ziya.
" Jika benar kau adalah korban dari kebiadaban mereka, apakah kau akan membenciku jika aku membunuh mereka semua Ziya,," Ucap Alberto lagi sambil mengelus lembut wajah Ziya.
" Aku sangat mencintaimu sayang, aku akan mencari tahu tentang kau dan Ziya setelah Axeloe kembali, aku merasakan bahwa kaulah Ibu kandung dari Putraku Demian." Ucap Alberto yang menatap lembut wajah Ziya.
Alberto sama sekali tidak memperdulikan luka yang ada di tangannya, baginya saat ini adalah dapat memeluk Ziya dalam tidurnya, luka itu sudah tidak terasa sakit lagi. Karena, sakit yang Ziya rasakan lebih sakit lagi dibandingkan lukanya saat ini. Akhirnya Alberto bisa tertidur dengan pulas sambil memeluk tubuh Ziya dengan erat.
Keesokan paginya Alberto terbangun dari tidurnya dan melihat ponselnya yang bergetar seperti sedang ada yang menelepon. Alberto melihat bahwa Zavier yang sedang meneleponnya saat ini. Alberto segera mengangkat teleponnya.
" Ya, ada apa ?" Tanya Alberto saat ia terbangun dari tidurnya.
" Dude, aku sudah memilih beberapa pengawal untuk melindungi dan mengawasi adikmu Alexa," Ucap Zavier yang memberitahu langsung pada Alberto.
" Heemmm,, bagus, jangan sampai ketahuan Lexa, kalau kau telah mengawasi dirinya." Ucap Alberto yang bangkit dari tidurnya.
" Tenang saja, semua pasukanku terlatih, Lexa tidak akan tahu jika dia sudah diawasi." Ucap Zavier yang merasa percaya akan kehebatan pasukannya itu.
Setelah selesai menyampaikan informasi kepada Alberto, seperti biasa Zavier selalu memutuskan teleponnya. Lalu, Alberto membalikkan tubuhnya menatap wajah Ziya yang masih tertidur pulas dalam selimutnya itu. Alberto segera mendekati wajahnya dengan wajah Ziya dan mengecup lembut puncak kepala Ziya.
" Aku berharap semoga penyakit yang kau rasakan ini tidak akan terulang lagi sayang,," Ucap Alberto setelah mengecup lembut puncak kepala Ziya.
Setelah selesai memberikan doa harapannya kepada Ziya, Alberto segera beranjak bangun dari tempatnya dan mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Tak lama kemudian, Alberto telah selesai mandi dan menggantikan pakaiannya sebelum pergi ke kantornya Alberto mengecup lembut kening Ziya kembali barulah Alberto keluar dari kamarnya. Sebelum keluar seperti biasa Alberto selalu mengaktifkan alarm pengaman di kamar ini. Dan, seperti biasa juga Alberto selalu berpesan kepada semua pengawal yang telah ditentukannya untuk selalu menjaga Ziya.
****