Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 187 - Permintaan Maaf Alberto



Sambil tersenyum menatap wajah Aunty Gladys yang sedang merangkul pundaknya itu, Claire sendiri merasa tidak nyaman ketika melihat wajah Gladys yang tidak memiliki rasa takut menghampirinya disaat Claire berbohong tentang ancaman yang diucapkan oleh Axeloe padanya itu. Dan, saat ini Axeloe sendiri sedang berada di dalam ruangan pribadinya untuk melakukan sebuah penelitian yang berhubungan dengan dunia kedokteran.


" Aku harus mencari tahu obat apa yang telah digunakan oleh tim dokter saat menangani Ziya dalam keadaan hamil." Gumam Axeloe sambil membuka monitor ruangannya yang mampu mendapatkan informasi yang sedang dicarinya.


Karena, ruangan ini merupakan ruangan pribadi milik Axeloe, sehingga ruangan ini terlihat seperti sebuah ruangan khusus yang terdapat beberapa alat seperti alat khusus kedokteran dan juga alat khusus untuk mendeteksi informasi yang sedang dicarinya.


Setelah selesai mencari informasi yang berhubungan dengan penahanan terhadap Ziya saat Ziya sedang hamil. Axeloe mencari tahu sendiri obat yang digunakan oleh tim dokter saat menangani Ziya dalam kondisi sedang hamil. Axeloe berpikir sendiri dengan menggunakan metode obat penawar yang bisa menetralisir racun yang terkandung dalam obat yang digunakan untuk Ziya.


" Heemm, kalau aku harus mencari tahu obat apa yang digunakan mereka dalam menangani Ziya. Sepertinya akan menggunakan waktu yang lama untuk mendapatkan buktinya," Gumam Axeloe yang beralih langsung ke metode penelitiannya sendiri.


" Lebih baik sekarang akan aku gunakan obat penawar hasil dari penelitianku sendiri, jika berhasil maka dengan sendirinya memori ingatan Ziya kembali normal." Ucap Axeloe sambil melihat botol-botol obat yang dibawanya dari luar negeri.


Saat ini Axeloe sedang melakukan metode penelitiannya sendiri untuk melakukan sesuatu hal terhadap diri Ziya. Sambil melihat semua botol serum obat yang ada, Axeloe kembali memeriksa semua obat itu.


Sementara itu, Ziya bersama Vena sedang melangkahkan kakinya menuju istana pertama dimana Alberto telah memberitahukan langsung kepada Ziya, bahwa Alberto saat ini juga ingin berbicara langsung pada Ziya dalam suatu hal yang penting.


" Eemm, kira-kira apa yang ingin disampaikan oleh Alberto padaku,," Gumam Ziya dalam hatinya yang merasa penasaran dengan kelakuan Alberto hari ini padanya.


" Nyonya, kalau ada yang dibutuhkan, langsung katakan saja kepada Vena,," Ucap Vena terhadap Ziya.


" Baik Vena,," Jawab Ziya tersenyum.


" Kau tunggu saja disini atau kau bisa menungguku di kamar,," Bilang Ziya terhadap Vena.


Setelah sampai di lantai dua dengan segera Ziya masuk ke dalam kamar pribadi Alberto. Sedangkan Vena sendiri menunggu majikannya ini tepat di pintu luar. Namun, ketika Vena sedang menunggu Ziya di pintu luar, Vena merasa lebih baik saat ini ia menunggu majikannya itu di dalam kamar pribadi Ziya. Dan, Vena segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadi Ziya.


" Heemm lebih baik aku menunggu Nyonya di kamar Nyonya saja,," Gumam Vena sambil melangkah menuju ke kamar Ziya.


Karena, saat diluar Vena merasa kesepian tidak ada orang yang bisa diajaknya untuk berbicara. Jika ada Melly kemungkinan Vena bersedia menunggu Ziya saat ini diluar ruangan. Karena, Melly sedang pergi ke sekolah menemani Tuan Muda Demian, oleh sebab itu Vena sendiri di dalam kediaman lantai dua saat ini.


Saat ini Ziya sendiri sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar pribadi Alberto. Ziya jelas sekali merasa bahwa saat ini cuaca diluar masih dalam keadaan terang benderang dan juga siang. Tapi, kenapa kamar pribadi Alberto dalam keadaan gelap.


" Heemm kenapa gelap,," Gumam Ziya sambil melangkah perlahan ke dalam ruangan.


Karena, Ziya sudah begitu mengenali ruang sudut kamar pribadi Alberto ini, dengan segera Ziya meraba-raba ke dinding untuk mencari remote control yang mengatur penerangan di dalam kamar ini.


" Heemm, Alberto, kau dimana ?" Tanya Ziya sambil melangkah perlahan mencari keberadaan remote control lampu.


Di dalam ruangan yang begitu gelap itu, Alberto sengaja memang memadamkan semua lampu, supaya Alberto dengan begitu mudah untuk memeluk erat wanita yang begitu ia cintai. Alberto sengaja melakukan suatu tindakan ini karena, Alberto ingin agar Ziya bisa mengingat kembali suasana dimana saat pertama kali ia bertemu dulu. Walau disaat itu ruangan yang mempertemukan mereka dalam keadaan yang terang benderang. Tapi, kali ini Alberto membuat suasana kamar menjadi gelap supaya Ziya merasakan sensasi romantis yang dilakukan oleh Alberto.


" Sayang, kau sedang mencari ku,," Ucap Alberto di tengah kegelapan sehingga membuat Ziya spontan kaget.


" Akkkhhh, Alberto kau dimana ?" Tanya Ziya lagi yang bingung dengan keberadaan Alberto saat ini.


" Aku selalu berada di dalam hatimu sayang,," Ucap Alberto yang memang berada di belakang tubuh Ziya.


" Alberto jangan membuatku takut, aku takut kegelapan,," Bilang Ziya yang memang takut dan trauma saat berada dalam ruangan gelap.


Ketika mendengar ucapan Ziya sepertinya terdengar begitu serius, sehingga dengan segera Alberto memeluk tubuh Ziya dari belakangnya. Dan, hal itu membuat Ziya begitu terkejut akan tindakan yang dilakukan oleh Alberto itu.


" Sayang,," Ucap Alberto dengan spontan memeluk tubuh Ziya.


" Akkhhh Alberto kau mengagetkan ku,," Gumam Ziya sambil memukul tangan Alberto yang sengaja memeluk pinggangnya dengan erat.


" Sayang aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu,," Ucap Alberto yang masih memeluk erat tubuh Ziya.


" Iya aku tahu itu Alberto, tapi tolong nyalakan dulu lampunya,," Bilang Ziya yang masih fokus menginginkan suasana terang.


" Heemm sayang aku ingin memelukmu dalam suasana gelap seperti ini,," Ucap Alberto sendiri yang sengaja mencumbui leher Ziya.


" Alberto aku sudah bilang, kalau aku takut jika berada di dalam ruangan yang gelap seperti ini," Jawab Ziya lagi yang masih bersikeras untuk meminta Alberto menyalakan lampu ruangan.


" Sayang, bolehkah nanti aku membicarakan sesuatu hal yang serius padamu ?" Tanya Alberto sambil memindahkan posisi satu tangannya ke arah dada Ziya.


" Iya boleh, tapi nyalakan dulu lampunya,," Ucap Ziya yang masih berkutat dengan pembahasan lampu.


" Heemm, baiklah,," Jawab Alberto sambil menyalakan lampu menggunakan tangannya yang sedang menggenggam remote control lampu.


Seketika semua lampu menyala dan terlihatlah ruangan kamar pribadi Alberto sungguh indah tidak seperti biasanya. Sepertinya, Alberto sengaja menghiasi kamar ini untuk membuat Ziya merasa bahagia ketika Ziya masuk ke dalam kamarnya ini.


" Waahh, kenapa indah sekali kamar ini ?" Tanya Ziya menoleh ke arah belakang menatap wajah Alberto.


" Untukmu sayang,," Jawab Alberto yang masih memeluk tubuh Ziya dan menautkan dagunya tepat di bahu Ziya.


" Untukku, kenapa ?" Tanya Ziya dengan mata yang berbinar.


" Ku persembahkan kebahagiaan yang tidak terlalu besar ini untuk menebus kesalahan yang pernah kulakukan padamu, Ziya kusayang,," Bilang Alberto dengan nada suara yang lembut dan begitu halus sekali.


Sedikit Ziya menyunggingkan senyumannya, karena, merasa bahwa Alberto sungguh sangat romantis saat ini, mempersembahkan padanya sebuah ruangan kamar yang indah dengan cara yang begitu berbeda. Namun, Ziya merasa heran tentang ucapan yang disampaikan oleh Alberto saat ini.


" Kesalahan, memangnya kesalahan apa yang pernah Alberto lakukan padaku ?" Tanya Ziya sendiri dalam hatinya yang begitu penasaran akan ungkapan Alberto saat ini.


" Heemm, terima kasih, Alberto atas persembahannya ini,," Jawab Ziya tersenyum menolehkan wajahnya ke belakang menatap wajah Alberto.


" Tapi, aku bingung memangnya kau melakukan kesalahan apa padaku ?" Tanya Ziya balik pada Alberto sehingga membuat Alberto sedikit menitikkan air matanya.


Alberto semakin merasa bersalah ketika mendengarkan jawaban Ziya yang bingung atas kesalahan yang pernah dilakukan oleh dirinya itu pada Ziya. Alberto merasa bahwa memang benar adanya ingatan Ziya sama sekali belum sepenuhnya pulih dan kembali normal. Sehingga saat ini Ziya belum bisa mengingatkan apa saja kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alberto sendiri padanya itu.


" Maafkan aku sayang, karena kesalahan yang pernah kulakukan padamu itu sehingga kau tidak bisa mengingat semua yang sudah terjadi,," Gumam Alberto dengan segera membalikkan tubuh Ziya dan menghadap langsung dirinya.


Ziya semakin bingung ketika melihat Alberto menangis di hadapannya saat ini. Dengan penuh kelembutan Ziya menghapus air mata yang mengalir deras tepat di wajah tampan Alberto.


" Jangan menangis Alberto, jika benar kau telah melakukan kesalahan kepadaku, aku akan tetap memaafkanmu, apapun kesalahan yang pernah kau lakukan padaku, aku akan menerimanya dan tetap memaafkanmu, asal kau tidak menyuruhku pergi dari kehidupanmu,," Bilang Ziya yang ikut menitikkan air matanya sambil menciumi lembut setiap sudut wajah Alberto dan Alberto sendiri langsung memeluk erat tubuh Ziya.


" Istriku sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi meninggalkanku sendiri. Apapun yang terjadi di antara kita aku akan tetap bersamamu, aku akan selalu melindungimu,," Ucap Alberto sambil menciumi setiap sudut wajah dan tubuh Ziya.


Sungguh terlihat sekali bahwa Alberto begitu menyayangi Ziya, walaupun saat ini Ziya belum bisa mengingat semua kejadian yang dimaksudkan oleh Alberto, namun Ziya bisa teringat akan mimpinya itu, apakah yang dimaksudkan oleh Alberto saat ini adalah arti dari mimpinya itu. Tapi, Ziya sendiri tidak mau menganggap mimpinya itu merupakan bagian dari rasa takut yang telah terjadi pada dirinya.


" Alberto aku juga begitu menyayangimu, walaupun aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu itu, apapun kesalahan yang pernah kau lakukan padaku, sebesar apapun kesalahan itu, aku akan tetap memaafkanmu, Alberto." Ucap Ziya juga memeluk erat tubuh Alberto saat ini.


" Sayang, sebenarnya jika aku memberitahukanmu kebenaran semua tentang kesalahanku itu, maka, aku akan menerima pernyataan darimu jika kau akan membenciku, aku takut untuk kehilanganmu lagi sayang, cukup sekali aku telah kehilanganmu Ziya, aku tidak mau lagi jika hal itu terjadi lagi,," Bilang Alberto dengan perlahan saat menjelaskan kesalahannya itu pada Ziya.


Karena, Ziya mendengar ucapan Alberto begitu serius dan sepertinya pernah terjadi sebelumnya kepada mereka berdua. Ziya langsung memikirkan suatu perkataan yang disampaikan oleh Alberto saat ini.


" Alberto, aku semakin tidak mengerti apa maksud dari perkataan yang kau ucapkan ini,," Gumam Ziya yang menjawab perkataan Alberto itu.


" Apa sebelum ini kita pernah bertemu atau ?" Tanya Ziya lembut pada Alberto.


" Ya, sebelum ini kita memang pernah bertemu sayang," Jawab Alberto sambil mendekap erat wajah Ziya dengan kedua tangannya.


" Namun jika kau bisa mengingat semuanya, maka hal itu akan membuatmu begitu membenciku, karena, saat itu perbuatan yang kulakukan sungguh biadab kepadamu,," Bilang Alberto lagi sambil menundukkan wajahnya di hadapan Ziya.


Lalu, dengan perlakuan yang begitu lembut, Ziya mengangkat dagu Alberto agar Alberto tidak tenggelam dalam penyesalan atas kesalahan yang pernah ia lakukan padanya itu. Saat Ziya sedang mengangkat dagu Alberto untuk kembali menatap wajahnya itu, dengan jawaban yang lembut Ziya seakan memberikan suatu keyakinan pada Alberto.


" Alberto, jika benar kita sudah pernah bertemu, maka ingatan itu akan membuatku merasa bahagia jika aku bisa mengingat kembali semua kejadian yang sudah kau katakan ini, sampai kapanpun aku tidak akan sanggup untuk membencimu,," Bilang Ziya menatap serius wajah Alberto.


" Sayang, aku hanya berharap semoga kau selalu memaafkan semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu,," Ucap Alberto sambil memegang wajah Ziya dengan kedua tangannya.


Terlihat saat ini Alberto begitu mengharapkan suatu harapan yang besar terhadap Ziya. Bahwa supaya Ziya bisa memaafkan semua kesalahannya yang pernah ia lakukan pada seorang wanita yang sedang berada di hadapannya ini. Karena, begitu terlihat jelas bahwa ucapan dan tindakan Alberto saat ini memang sungguh tulus meminta maaf pada Ziya, sehingga dengan lapang dada Ziya tetap memaafkan semua kesalahan Alberto. Walaupun Ziya belum sepenuhnya mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Alberto padanya itu.


" Alberto apakah kau mempercayaiku ?" Tanya Ziya langsung pada Alberto di sela tangisannya itu.


" Heemm, ya sayang,," Jawab Alberto langsung mengangguk.


" Aku berjanji padamu atas namaku sendiri, aku akan memaafkan semua kesalahan yang pernah kau lakukan padaku,," Ucap Ziya menatap lembut wajah Alberto.


Ketika Ziya mengucapkan hal ini pada Alberto, secara langsung Alberto tersenyum sumringah saat mendengarkan ucapan Ziya itu, karena, memang benar bahwa Ziya memiliki sifat yang begitu lembut sehingga siapapun orang yang telah melakukan kesalahan padanya maka Ziya sendiri dengan segera memaafkan semua kesalahan orang itu.


Namun, Alberto terlihat kaget ketika Ziya mengatakan suatu hal yang penting dan hal itu berhubungan dengan Zoya kembarannya sendiri.


" Asal kau bersedia untuk tidak memberikan hukuman mati terhadap Zoya kembaranku Alberto,," Ucap Ziya seketika membuat Alberto tercengang mendengarnya.


" Tapi sayang, Zoya telah melakukan kesalahan yang besar kepadamu, Demian dan juga padaku, kenapa kau memaafkan kesalahannya begitu saja,," Ucap Alberto menatap Ziya serius.


" Karena, Zoya adalah kembaranku sendiri dan kami dilahirkan dalam waktu yang sama serta jantung yang sama, jadi aku tidak akan sanggup melihat wajahnya ketika kau memberikan hukuman padanya,," Gumam Ziya sambil menatap Alberto dengan serius.


" Baiklah sayang, jika itu keinginanmu, aku akan berjanji tidak akan memberikan hukuman padanya,," Jawab Alberto dengan tatapan serius menatap wajah Ziya.


" Asal kau bersedia menerimaku untuk selamanya menjadi suamimu dan memaafkan semua kesalahanku selama ini terhadapmu Ziya." Ucap Alberto terakhir sambil memeluk tubuh Ziya dengan erat.


" Ya, Alberto aku sudah berjanji bahwa aku akan tetap memaafkanmu apapun kesalahan yang pernah kau lakukan padaku." Ucap Ziya sambil membalas pelukan Alberto.


Lalu, Ziya merasa bahwa sepertinya saat ini tindakannya itu salah, karena, secara tidak langsung sudah terbukti bahwa ia telah merebut suami dari kembarannya sendiri yang memang sengaja kabur dari suaminya sendiri.


" Tapi, Alberto aku tidak ingin menyakiti hati dan perasaan kembaranku Zoya, karena, aku telah merebut kau yang masih jelas adalah suaminya,," Gumam Ziya sedikit memundurkan tubuhnya dari tubuh Alberto.


" Sayang, aku sudah mengatakan bahwa sebelum ini kita sudah pernah bertemu, tapi pertemuan itu yang membuat perpisahan terjadi di antara kita, aku adalah suamimu yang sah, dan kita juga sudah pernah menikah Ziya dan selama ini kau juga sudah mengand,,," Ucap Alberto perlahan saat menjelaskan kejadian terdahulu pada Ziya.


Ketika Alberto menjelaskan satu persatu kejadian yang pernah terjadi pada Ziya. Dan, terlihat saat ini Ziya sedang memikirkan semua ucapan dari Alberto, sehingga membuat Ziya merasa bingung dan akhirnya rasa sakit di kepalanya itu terulang kembali.


" Aaakkkhh," Teriak Ziya dengan tiba-tiba sehingga membuat Alberto kaget melihat Ziya seperti ini lagi.


Ziya langsung melepaskan tangannya dari tubuh Alberto dan menekan kepalanya sendiri menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya ini. Betapa terkejutnya Alberto ketika melihat penyakit yang selama ini menyerang Ziya kambuh kembali.


" Sayang, sayang kamu kenapa ?" Tanya Alberto pada Ziya dengan wajah yang begitu panik.


" Aakkhh sakit,," Teriak Ziya begitu kuat sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


" Sayang, kamu kenapa ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya.


Sehingga dengan segera Alberto menggendong tubuh Ziya dan membawanya ke tempat tidur. Dengan wajah yang begitu panik dan air mata yang mengalir deras Alberto segera berteriak memanggil siapapun orang yang bisa membantunya.


" Aku harus segera memanggil Axeloe,," Ucap Alberto yang segera berlari dari tempat tidur.


Saat Alberto segera melangkahkan kakinya berlari dari tempat tidur dan berniat memanggil Axeloe, dengan cengkraman tangan begitu kuat, Ziya menarik baju Alberto mencegah perginya Alberto untuk memanggil Axeloe.


" Jangan Alberto, aku mohon," Teriak Ziya pada Alberto.


Saat Ziya menarik baju Alberto, tindakan Ziya itu begitu membuat Alberto semakin sedih melihat kondisi Ziya yang menahan sakitnya namun masih tetap mencegah Alberto untuk memberitahukan kepada semua orang tentang penyakit yang sering dialami oleh Ziya saat ini.


" Sayang tapi penyakitmu ini sudah terlalu parah,," Bilang Alberto sedikit dengan nada suara yang meninggi.


" Aku mohon jangan panggil siapapun," Teriak Ziya pada Alberto.


" Aakkhh sakit," Teriak Ziya lagi menahan sakitnya.


Karena, tidak tega meninggalkan Ziya ketika Ziya sedang menahan rasa sakitnya ini, dengan segera Alberto menaiki tempat tidurnya lagi dan memeluk Ziya.


" Aku akan tetap disini, aku akan memelukmu sayang, walaupun tindakanku ini sama sekali tidak bisa menyembuhkan rasa sakitmu, tapi, aku yakin bahwa kau wanita yang kuat yang mampu melawan semua penderitaan ini,," Ucap Alberto sambil menangis dan memeluk Ziya dengan erat.


" Aaakkkhh,, sakittt,," Teriak Ziya lagi dengan menekan kepalanya sambil menghempaskan tubuhnya sendiri untuk menahan rasa sakitnya itu.


Melihat kondisi Ziya saat ini semakin parah sehingga membuat Alberto tetap memeluk tubuh Ziya dengan erat memberikan sebuah kasih sayang dan juga keyakinan untuk Ziya, supaya Ziya bisa melewati rasa sakit yang sedang menyerangnya itu.


Alberto semakin menangis dan menyalahkan dirinya sendiri ketika melihat keadaan Ziya yang sedang menahan rasa sakit dari efek obat berdosis tinggi atas tindakan yang dilakukan oleh Erwin pada Ziya, sehingga membuat dendam yang begitu besar pada hati Alberto.


Sambil memberikan semangat kepada Ziya, Alberto sendiri menangis sesenggukan, menyesali perbuatannya yang selama ini tega meninggalkan Ziya sendiri mendapatkan penderitaan ini.


" Sungguh biadab kau Erwin, jika kau menginginkan kekuasaan kenapa kau menggunakan dengan cara ini,," Teriak Alberto sambil memeluk erat tubuh Ziya yang meronta-ronta kesakitan.


Saat ini amarah Alberto sungguh besar sekali sehingga Alberto ingin segera menembak mati Erwin berkali-kali yang telah tega memberikan Ziya obat berdosis tinggi yang menyebabkan Ziya mengalami penderitaan begitu banyak dan juga menyakitkan.


" Sayang, maafkan kesalahanku yang telah meninggalkanmu di saat itu, jika aku tidak meninggalkanmu dan membawamu pergi, mungkin kau tidak akan mengalami penderitaan ini,," Gumam Alberto sambil menciumi puncak kepala Ziya.


" Oh God, cepat sembuhkan penyakit istriku, jangan berikan dia penderitaan lagi, cukup aku menerima semua pembalasan penderitaan ini jangan Ziya." Gumam Alberto sambil menangisi keadaan Ziya.


" Sayang, aku berjanji, aku tidak akan membuat hidupmu menderita lagi, aku akan selalu menyayangimu, aku akan selalu menjagamu, aku akan selalu mencintaimu, aku akan selalu memberikanmu kebahagiaan, aku akan selalu menuruti semua permintaanmu, dan kita akan selamanya selalu bersama tidak ada orang lain lagi di antara kita." Ucap Alberto tetap menangis sesenggukan karena, merasa begitu bersalah pada keadaan Ziya yang terlihat seperti ini.


Dan saat ini tubuh Ziya sedikit melemah, karena, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Sehingga Ziya masih saja sempat memberikan sebuah senyuman kepada Alberto bahwa ia tidak mau ditinggal sendirian dalam kondisinya yang sedang sakit ini.


" Alberto, jangan menangis," Ucap Ziya dengan nada suara begitu lembut.


" Aku bisa mengingat semuanya tentang kita ketika aku mengalami rasa sakit ini," Bilang Ziya lagi sambil memberikan senyuman lembutnya pada Alberto.


" Jangan pernah pergi meninggalkanku sendiri, Alberto,," Gumam Ziya perlahan dan Alberto meletakkan telinganya di dekat mulut Ziya.


" Aku sedikit mengingat semua yang kau ucapkan itu padaku," Gumam Ziya dengan napasnya yang tidak teratur.


" Aku ingin kau berjanji untuk tidak menghukum Zoya akan kesalahannya itu," Ucap Ziya lagi masih dengan suara yang lembut.


" Iya sayang aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan selalu bersamamu, aku akan selalu menjagamu,," Jawab Alberto sambil mengecup semua wajah Ziya dengan lembut.


" Terima kasih karena, kau telah menjaga Demian selama ini,," Ucap Ziya lagi yang terdengar jelas oleh Alberto bahwa sepertinya Ziya sedikit mengingat siapa Demian.


" Iya sayang, aku sangat mencintaimu, berjanjilah untuk tidak pergi dari hidupku dan jangan pernah berhenti untuk mencintaiku,," Gumam Alberto yang hanya diberikan anggukan saja dari Ziya.


" Aku selalu mencintaimu selamanya, terima kasih jika kau mencintaiku,," Ucap Ziya terakhir dengan tubuh yang lemah dan sesaat tidak sadarkan diri dalam pangkuan Alberto.


Betapa terkejutnya Alberto ketika melihat keadaan Ziya yang melemah dan terlelap lemah seperti orang yang telah kehilangan nyawanya.


" Ya ampun, Ziya, sayang, sayang,," Panggil Alberto pada Ziya sambil menepuk lembut wajah Ziya.


Alberto terus saja memanggil Ziya dalam kondisi tubuhnya yang begitu lemah sekali. Namun, Ziya masih saja lemah dan tidak merespon sedikitpun panggilan yang sedang dilakukan Alberto terhadapnya itu. Sehingga membuat Alberto semakin panik dan berteriak memanggil nama Ziya.


" Ziya,,, Ziyaaaaaaa,,," Teriak Alberto begitu kencang sekali.


Teriakan yang dilakukan Alberto saat memanggil nama Ziya itu terdengar hingga keluar ruang kamar pribadinya. Biasanya suara yang dikeluarkan dari ruang kamar pribadi Alberto ini sama sekali tidak bisa didengarkan oleh siapapun. Tapi, karena suara Alberto terlalu besar sekali itu sehingga suaranya menggema dan mampu menembus sistem kedap suara dari ruangan itu. Semua pengawal diluar begitu terkejut ketika mendengarkan suara teriakan dari dalam ruangan Alberto ini.


****