Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 203 - Pendeteksian Axeloe



Namun, ketika Vena sedang meletakkan gelas air hangat ke dalam nampan, tidak sengaja Vena melihat ada seorang punggung wanita sedang mengendap-endap di depan sebuah pintu ruangan dan dari pergerakannya itu sangat mencurigakan.


" Siapa itu ?" Tanya Vena merasa curiga terhadap seorang wanita yang sedang mengendap-endap di depan sebuah ruangan.


" Eemmm, dari pergerakannya begitu mencurigakan sekali,," Gumam Vena sambil meletakkan kembali nampan air hangat ke atas meja.


" Untuk lebih jelasnya, aku akan segera memeriksakan keadaan disana,," Ucap Vena sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat sebuah ruangan yang dicurigainya itu.


Karena, merasa penasaran akhirnya Vena meninggalkan nampan minuman hangat yang diseduhkannya lalu segera melangkahkan kaki menyelidiki wanita yang sedang dicurigainya.


Sesampainya tepat di depan ruangan itu, Vena merasa semakin mencurigai seorang wanita yang sengaja masuk ke dalam ruangan penelitian dan ruangan penelitian itu terlihat khusus seperti milik dari seseorang Tuan Besar di kediaman ini mungkin Axeloe atau milik Alberto.


" Ruangan apa ini ?" Tanya Vena dalam hatinya yang tetap perlahan melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dan, Vena semakin tercengang ketika melihat kode khusus untuk memasuki ruangan tersebut memiliki tanda yang menunjukkan jelas bahwa ruangan ini adalah ruangan khusus milik Axeloe.


" Oohh My God, ternyata ini ruang penelitian khusus Tuan Axeloe,," Gumam Vena tercengang sambil menutup mulutnya.


" Siapa wanita itu, kenapa sepertinya terlihat dia sedang mengganti sebuah kode akses di dalam ruangan penelitian ini,," Gumam Vena sambil meneliti wanita di hadapannya yang cukup jauh dari tempatnya bersembunyi.


Disaat Vena sedang tercengang, tak sengaja Vena seperti sedang menyentuh sebuah benda di dalam ruangan penelitian itu sehingga membuat dirinya sendiri kaget dan langsung melangkahkan kakinya keluar menyembunyikan dirinya dari kecurigaan wanita yang sedang dicurigainya itu.


" Oh My God, apa yang aku lakukan,," Ucap Vena cemas ketika sebuah benda sedikit terdorong oleh kakinya.


" Aku harus segera sembunyi,," Seru Vena sambil melangkahkan kakinya perlahan keluar dari ruangan penelitian itu dan bersembunyi di balik pilar besar kediaman Alexandre.


Saat ini Vena telah berhasil keluar dari ruangan penelitian Axeloe dan bersembunyi dengan napas yang memburu di balik pilar besar kediaman Alexandre. Sedangkan wanita yang dicurigai oleh Vena itu, merasa cemas ketika mendengarkan sebuah benda yang terdorong dengan segera juga wanita itu berlari keluar dari ruangan penelitian milik Axeloe.


" Oh God, sepertinya ada orang yang mengetahui tindakanku,," Ucap wanita itu dengan segera keluar dari ruangan penelitian.


Disaat wanita itu keluar dari ruangan penelitian Axeloe dan tidak sengaja melewati persembunyiannya Vena di balik tirai, betapa terkejutnya Vena melihat wanita itu juga keluar dari ruangan tetap menggunakan jubah hitam yang dipakainya. Dan, wanita itu juga terlihat sedang berdiri di dekat persembunyiannya Vena mengambil udara segar untuk mengatur napasnya kembali. Sehingga membuat Vena semakin cemas ketakutan, saat wajah Vena begitu dekat sekali dengan orang yang dicurigainya itu.


" Oh My God, lindungilah saya, kenapa orang yang kucurigai ini begitu dekat sekali denganku,," Gumam Vena dalam hati sambil berdoa dengan wajah cemasnya melihat orang yang dicurigainya itu ada di depan matanya.


Untung saja, setelah wanita itu telah selesai mengambil napasnya dan mengaturnya menjadi normal kembali, wanita itu langsung saja melangkahkan kakinya menuju ke tempatnya sendiri. Saat wanita yang menggunakan jubah hitam itu telah jauh dari tempat persembunyiannya Vena, barulah Vena bisa keluar dari tempatnya itu sambil mengelus dadanya sendiri.


" Uuuuhhhhh, untung saja tidak ketahuan,," Ucap Vena yang segera keluar dari persembunyiannya itu.


" Siapakah wanita itu ?" Tanya Vena yang kembali mencurigai wanita dilihatnya.


" Sepertinya, aku harus segera melaporkan hal ini pada Tuan Alberto,," Ucap Vena dengan segera melangkahkan kakinya kembali menuju ke ruang dapur.


Dengan segera Vena melangkahkan kakinya kembali menuju ke ruang dapur dan mengambil nampan berisi air hangat yang sudah diseduhkannya itu. Namun, saat Vena ingin melangkahkan kakinya untuk keluar dari dapur, Vena teringat bahwa ia sudah lama meninggalkan nampan minuman hangatnya itu di atas meja.


" Oh My God, minuman hangat ini sudah lama aku tinggal, lebih baik buat yang baru,," Ucap Vena kembali lagi membalikkan tubuhnya ke dapur.


Minuman hangat itupun langsung dibuang oleh Vena dan dengan segera Vena langsung membuat kembali minuman hangat untuk majikannya itu. Setelah selesai membuatnya barulah Vena mengangkat nampan itu langsung keluar dari ruangan dapur.


Sementara itu, Axeloe yang sedang melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadi milik Alberto, seketika mengambil ponsel yang sedang berbunyi di dalam saku jasnya. Tanpa melihat layar ponsel itu, Axeloe langsung saja menerima panggilan yang sedang berlangsung.


" Ya Halo," Jawab Axeloe mengangkat teleponnya.


" Dimana kau Axeloe, aku sudah lama menunggu kedatanganmu,," Ucap Alberto yang terdengar di ponselnya.


Sambil menelan salivanya dan sedikit menyunggingkan senyumannya Axeloe langsung saja menjawab pertanyaan dari kakaknya itu yang tidak bisa bersabar dalam sedetikpun.


" Aku sudah berada di depan pintu kamar pribadimu, brother,," Jawab Axeloe sambil tersenyum simpul.


" Ya sudah langsung masuk, sudah kubuka pintunya dari dalam,," Ucap Alberto langsung menutup ponselnya.


Sambil menaikkan kedua alisnya dan ujung bibirnya, Axeloe mendengar pintu kamar pribadi Alberto baru saja terbuka dan Axeloe langsung saja masuk ke dalam kamar pribadi itu. Saat Axeloe masuk ke dalam kamar, Axeloe melihat ruangan kamarnya Alberto ini sama sekali tidak berubah sedikitpun dari bentuknya dahulu.


Cuma, Axeloe sedikit mengerutkan dahinya ketika melihat sebuah lubang kecil bekas tembakan saat insiden Martin akan memper-kosa Ziya sampai saat ini belum diperbaiki oleh Alberto. Entah kenapa Alberto belum memperbaiki dinding yang berlubang itu, apa karena lubang itu merupakan suatu bukti bagi Alberto atau sebuah tanda insiden yang pernah terjadi kepada wanita yang begitu disayanginya. Di dalam hati Axeloe bertanya-tanya tentang keadaan dinding yang telah berlubang itu.


" Lubang di dinding itu bekas apa ?" Tanya Axeloe penasaran dengan lubang kecil bekas tembakan peluru yang dilakukan oleh Alberto saat menembak kepala Martin, namun mantul dan mengenai dinding.


" Heemm, sepertinya disaat aku belum kembali pernah terjadi sesuatu insiden di kamar pribadinya Alberto. Tapi, apakah itu ?" Tanya Axeloe dalam hatinya bergumam sendiri memikirkan suatu hal yang pernah terjadi.


" Lebih baik aku langsung tanyakan hal ini kepada Alberto, tidak mungkin lubang sekecil itu tidak memiliki sebuah peristiwa." Ucap Axeloe lagi sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tempat tidur pribadi Alberto.


Karena, merasa penasaran dengan segera Axeloe melangkahkan kakinya menuju ke ruangan khusus tempat tidur pribadi milik Alberto untuk menanyakan suatu hal yang pernah terjadi disaat ia sedang tidak berada di kediaman Alexandre ini.


Di dalam ruangan tempat tidur pribadi Alberto, sambil tersenyum dengan simpul Axeloe melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Karena, merasa bahwa adiknya ini telah melalaikan sedikit waktu jadi Alberto hanya bisa menampakkan wajah dinginnya kepada adiknya ini.


" Sorry kalau aku sedikit mengulur waktu,," Ucap Axeloe dengan senyuman simpulnya.


" Heh!! bukan sedikit tapi lama," Gumam Alberto yang masih tetap berada di atas tempat tidurnya.


Tanpa mendengarkan perkataan Alberto yang terdengar tajam itu, Axeloe segera melakukan tugasnya sebagai seorang dokter memeriksa langsung kondisi tubuh Ziya yang sedang tertidur dengan pulasnya. Disaat Axeloe sedang memeriksakan keadaan tubuh Ziya, Alberto masih mengizinkan Axeloe untuk menyentuh tubuh istrinya itu, karena, Axeloe masih memeriksa bagian atas tubuhnya.


" Bagaimana dengan keadaannya ?" Tanya Alberto dengan wajah seriusnya pada Axeloe.


" Sebentar, akan aku periksa semuanya terlebih dahulu." Bilang Axeloe yang mulai memeriksa bagian tubuh Ziya yang lainnya.


Setelah selesai memeriksa tubuh Ziya bagian atasnya dan Axeloe saat ini memeriksa keadaan tubuh Ziya di bagian dada dan juga perut Ziya. Dengan segera Alberto langsung melarang tangan Axeloe untuk memasukkan stetoskop ke dalam baju Ziya.


" Sebentar Axeloe, yang sakit di dalam tubuh Ziya adalah bagian kepalanya jadi kau harus memeriksa keadaan tubuhnya bagian atas saja,," Bilang Alberto kepada Axeloe.


Dengan memberikan senyuman simpulnya dan terkekeh kecil Axeloe mulai menjelaskan bagaimana cara seorang dokter dalam memeriksa keadaan tubuh pasiennya.


" Hahahaha, aku ini seorang dokter, jadi kalau memeriksa keadaan pasien pasti seluruh tubuhnya," Jelas Axeloe kepada Alberto dengan wajah seriusnya.


" Ya, aku tahu kalau kau seorang dokter, tapi untuk apa kau memeriksa perut Ziya ?" Tanya Alberto lagi yang masih mencegah tangan Axeloe memasukkan alat ke dalam baju Ziya dan menempel pada kulit perut Ziya.


" Apakah Kakak ipar hari ini mengalami muntah ?" Tanya Axeloe serius pada Alberto.


" Benar,," Jawab Alberto singkat.


" Oleh sebab itu, aku harus memeriksa bagian perutnya,," Bilang Axeloe yang mulai melakukan pemeriksaan terhadap perut Ziya.


" Eeehhh, tapi, ya sudah periksa saja semuanya,," Bilang Alberto yang terlihat sedikit kesal atas tindakan Axeloe dalam hal kepintaran yang ditunjukkannya pada bagian ilmu kedokteran.


" Hehehehe, kau jangan khawatir, Kak, Ziya adalah istrimu jadi sudah ku anggap sebagai Kakakku juga,," Ucap Axeloe sambil tersenyum memberikan penjelasan kepada Kakaknya.


" Ya, ya aku tahu,," Jawab Alberto dengan mata yang begitu serius menatap tindakan pemeriksaan Axeloe.


Setelah selesai memeriksa keadaan tubuh Ziya barulah Axeloe duduk di sofa dekat tempat tidurnya Alberto dan langsung menjelaskan keadaan tubuh Ziya yang sebenarnya pada Kakaknya itu.


" Heemm, jadi seperti itu,," Gumam Axeloe sambil duduk di sofa samping tempat tidur Alberto.


" Bagaimana keadaannya ?" Tanya Alberto dengan wajah seriusnya.


" Keadaan sakit di kepalanya itu masih akan berlanjut, karena, masih banyak ingatan yang hilang di memori otak kecilnya, jadi, kapanpun ingatan itu akan muncul maka kepalanya akan terasah sakit yang begitu luar biasa hingga membuatnya pingsan. Namun, dari rasa sakit kepalanya yang luar biasa terasa sakit itu akan menimbulkan dampak positif pada ingatannya yaitu bisa membantu Ziya sedikit demi sedikit mendapatkan kembali ingatannya yang telah hilang selama ini,," Jawab Axeloe detail kepada Alberto.


Disaat Axeloe menjelaskan tentang keadaan penyakit yang sering dialami oleh Ziya selama ini, Alberto hanya bisa menganggukkan kepalanya mengikuti ucapan dari penjelasan Axeloe.


" Jadi seperti itu, pantas saja setiap kali Ziya merasa sakit di kepalanya itu hingga membuat tubuh Ziya lemah dan pingsan. Namun, Ziya terlihat sedikit takut untuk menjelaskan apa yang telah dirasakannya padaku setelah ia kembali sadar dan tidak merasakan sakit lagi di kepalanya itu." Ucap Alberto yang juga menjelaskan keadaan Ziya disaat penyakitnya sedang kambuh.


" Ya, itu benar adanya,," Jawab Axeloe sambil mengangguk.


" Karena, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dampak rasa sakit itu memiliki sisi positif terhadap ingatannya. Ziya bisa mengingat apapun yang telah terjadi pada dirinya dahulu ketika sakitnya itu kambuh,," Jawab Axeloe kembali memberikan sebuah penjelasan kepada Alberto.


" Ooohh begitu, jadi, bagaimana caranya agar ingatannya cepat bisa kembali normal dan Ziya bisa mengingat apapun yang telah terjadi pada dirinya masa lalu, Axeloe ?" Tanya Alberto serius pada Axeloe.


" Heemmm, baru saja di ruang penelitian obat dosis tinggi yang kumiliki, sepertinya aku sudah memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan semua ingatan Ziya selama ini, Kak," Jawab Axeloe dengan wajah serius juga.


" Namun, aku belum siap melakukannya saat ini karena, aku yakin kau tidak akan sanggup menahan diri untuk melihatnya merasakan kesakitan yang lebih tinggi dibandingkan rasa sakit yang biasa Ziya alami selama ini,," Jawab Axeloe lagi sambil menjelaskan keadaan obat yang telah ditemukannya untuk menetralisir racun obat berdosis tinggi di dalam tubuh Ziya.


" Maksudmu, apakah nanti Ziya akan mengalami penderitaan yang lebih besar daripada biasanya ?" Tanya Alberto lagi dengan tatapan memaksakan Axeloe untuk segera menjawab pertanyaan darinya ini.


" Ya, betul sekali yang kau ucapkan itu, oleh sebab itu hal ini aku tanyakan dulu padamu,," Bilang Axeloe sambil mengangguk.


Karena, merasa bahwa tindakan Axeloe untuk mengobati Ziya itu dapat menyebabkan Ziya mengalami penderitaan rasa sakit yang lebih besar lagi. Seketika Alberto menatap wajah polos istrinya yang sedang tertidur di dalam pelukannya itu. Ada rasa tidak ingin bagi Alberto untuk membuat Ziya mengalami penderitaan lagi saat penyakitnya itu kambuh.


" Sayang, aku sudah berjanji untuk tidak membuat tubuh dan perasaanmu menderita lagi, tapi, jika kau selalu mengalami penderitaan rasa sakit itu, aku tidak bisa bertahan saat melihatmu berjuang menahan rasa sakit itu,," Gumam Alberto lembut tepat di telinga Ziya.


" Tapi, jika tidak segera diobati, rasa sakit ini akan selalu membuat tubuhmu menderita sayang,," Ucap Alberto lagi sambil mencium lembut kening Ziya.


Karena, disaat penyakitnya itu kambuh, Ziya terlihat seperti orang yang tidak bisa bertahan untuk hidup lagi, apalagi saat diberikan obat oleh Axeloe maka rasa sakitnya itu akan bertambah lebih besar lagi dibandingkan biasanya.


" Aku harus bagaimana, aku tidak sanggup melihat Ziya mengalami penderitaan saat ia bertahan untuk berjuang menahan rasa sakit di kepalanya,," Gumam Alberto menerawang ke depan seolah Axeloe tidak ada di hadapannya.


Bagaimana Ziya bisa menahan rasa sakit itu, apakah Alberto akan sanggup untuk melihat keadaan Ziya yang sedang mengalami rasa sakitnya itu. Sambil menarik napasnya dan menatap wajah Axeloe, Alberto memberikan sebuah pertanyaan yang lain lagi pada adiknya itu.


" Bagaimana ini, aku bingung Axeloe aku tidak ingin menyakitinya lagi,," Bilang Alberto mulai menatap wajah Axeloe dengan serius.


" Tapi, aku juga menginginkan jika ingatannya bisa kembali lagi normal seperti dahulu,," Gumam Alberto kembali menundukkan wajahnya menatap wajah Ziya yang masih tertidur pulas itu.


Sebenarnya, Axeloe sedikit merasa simpati terhadap perasaan bimbang yang sedang dialami oleh Alberto saat ini, karena, baru kali ini sifat kakaknya itu bisa lembut dan mengerti akan arti dari seorang wanita. Oleh sebab itu, Axeloe memberikan sebuah saran yang terbaik bagi Alberto untuk dipikirkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan seriusnya terhadap pengobatan intensif pada penyakit Ziya.


" Menurutku begini saja Kak, bagaimana jika kau harus memikirkan hal ini terlebih dahulu, jika kau sudah siap untuk melakukannya kepada Ziya, maka aku akan segera melakukan tugasku sebagai seorang dokter,," Bilang Axeloe yang memberikan sebuah saran kepada Alberto.


" Benar juga yang kau katakan, Axeloe, untuk saat ini aku belum sanggup jika mengulangi kembali hanya bisa melihat keadaannya saja tanpa ikut merasakan rasa sakit yang sedang dialaminya." Gumam Alberto mengangguk menyetujui saran yang disampaikan oleh Axeloe.


" Heemm, baiklah jika begitu pilihanmu, maka disaat aku memulai untuk melakukan tugas ini, kau tidak akan terkejut lagi saat melihat kondisi tubuhnya yang sedang mengalami rasa sakitnya itu,," Tambah Axeloe lagi yang menjelaskan prosedur pengobatannya.


" Heemm, aku sangat beruntung memiliki adik seperti kau Axeloe," Ucap Alberto seolah memuji kepandaian adiknya.


" Aku juga sangat beruntung memiliki Kakak sepertimu, Alberto,," Jawab Axeloe sambil tersenyum simpul.


Setelah merasa cukup tenang mendengar saran yang telah disampaikan oleh Axeloe, barulah Alberto kembali memberikan kelembutan kepada Ziya yang sedang tertidur pulas di pelukannya itu. Dan, Alberto kembali teringat akan pemeriksaan tubuh bagian lainnya yang dilakukan oleh Axeloe terhadap Ziya, apakah memiliki sebuah hubungan terhadap penyakit di kepalanya itu.


Dan, di dalam keheningan pembicaraan antara Alberto dan Axeloe, Axeloe sebenarnya begitu penasaran dengan kejadian yang pernah terjadi selama ini. Saat Axeloe ingin bertanya sesuatu hal pada Alberto, Alberto juga telah memberikan sebuah pertanyaan pada adiknya itu. Jadi, karena, memiliki sebuah kesamaan dalam suatu hal pertanyaan, Axeloe lebih menghargai pertanyaan Kakaknya dibandingkan pertanyaan darinya itu.


" Oh ya Axeloe,," Ucap Alberto sambil mengangkat wajahnya menatap Axeloe.


" Oh ya Brother,," Ucap Axeloe secara tidak sengaja berbicara bersamaan dengan Alberto.


" Ya sudah kau duluan saja, brother,," Ucap Axeloe mengalah dan menyuruh Alberto untuk berbicara terlebih dahulu dibandingkan dengannya.


" Disaat kau memeriksa bagian perutnya Ziya, apakah penyakit yang sedang dialaminya saat ini ada hubungannya dengan penyakit ingatannya itu ?" Tanya Alberto serius menatap wajah adiknya itu.


Saat Axeloe mendengarkan pertanyaan dari Alberto yang terdengar begitu lucu sekali membuat Axeloe sedikit terkekeh geli sehingga berubalah ekspresi wajah Alberto ketika melihat Axeloe seolah menertawakan dirinya itu.


" Hahahaha, kau ingin bertanya kenapa aku memeriksa bagian perut istrimu,," Gumam Axeloe sambil terkekeh geli.


" Benar, kenapa kau menertawakan pertanyaanku,," Ucap Alberto dengan ekspresi wajah sedikit berubah.


" Saat aku memeriksa keadaan perutnya Ziya, apakah tadi aku menanyakan padamu tentang keadaan Ziya hari ini, apakah hari ini istrimu mengalami muntah-muntah ?" Tanya Axeloe lagi kepada Alberto.


" Ya benar,," Jawab Alberto mengangguk.


" Tidak salah lagi, penyakit barunya ini merupakan rasa sakitnya yang akan membuatmu bahagia," Ucap Axeloe yang sengaja memberikan sebuah ekspresi kebingungan di balik wajahnya Alberto.


" Hah!! Maksudmu ?" Tanya Alberto penasaran.


Ketika melihat wajah Alberto yang memang benar penasaran itu atas ucapan penjelasan menggantungnya, hingga membuat Axeloe lagi-lagi menertawakan sikap kakaknya ini. Karena, dari sikap kakaknya ini begitu terlihat jelas bahwa Alberto sama sekali tidak mengetahui bahwa istrinya sendiri sedang mengandung anaknya.


" Hahahaha, masa kau tidak tahu, padahal istrimu sudah lebih dari dua dan bahkan Ziya yang ketiga masa kau tidak mengerti dengan keadaan seorang wanita yang sedang muntah di pagi hari,," Ucap Axeloe sambil menertawakan diri Kakaknya itu.


" Maksudmu aku sama sekali tidak mengerti dan kau harus ingat ini, Ziya bukan istriku yang ketiga tapi dia yang pertama dan yang terakhir, tidak ada wanita lain lagi selain Ziya yang akan menjadi Istriku selamanya,," Jawab Alberto sambil memberikan sebuah penjelasan kepada Axeloe yang seolah sedang mencibirnya itu.


" Iya, iya, iya aku tahu, Kak Ziya yang pertama dan yang terakhir,," Jawab Axeloe sambil mengiyakan ucapan Alberto.


" Nah terus apa maksud perkataanmu yang seolah mengatakan bahwa aku tidak mengerti dengan keadaan seorang wanita yang sedang muntah di pagi hari ?" Tanya Alberto lagi pada Axeloe.


" Heemmm, apakah aku harus memberitahu hal ini padamu, Brother,," Ucap Axeloe yang hanya melirik saja ke arah Alberto.


" Harus, katakan saja Axeloe jangan membuatku penasaran,," Ucap Alberto yang sengaja mendesak Axeloe.


" Kau penasaran tanyakan saja pada istrimu,," Jawab Axeloe sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadi Alberto.


" Axeloe, aku tidak bisa langsung menanyakan hal itu padanya, dia saja tidak tahu apa yang sedang dialaminya,," Panggil Alberto yang masih mendesak Axeloe.


Karena, melihat Axeloe melangkahkan kakinya akan keluar dari kamarnya itu, bertepatan juga dengan kedatangan Vena yang sedang membawa nampan dari dapur. Sehingga membuat pertanyaan dari Alberto sedikit terhenti dan Axeloe seolah tidak melihat kedatangan Vena saat masuk ke dalam kamarnya Alberto.


" Selamat siang Tuan,," Ucap Vena saat berpapasan dengan Axeloe seolah memberikan hormat kepada Tuan Besar lain di kediaman ini.


Dan, Axeloe hanya memberikan sebuah lirikan sekilas kepada Vena tanpa menjawab salam darinya itu. Tapi, hal itu sama sekali tidak membuat Vena merasa tersinggung, karena, baginya ia bekerja disini hanya untuk majikannya yang bernama Alberto dan juga Ziya.


Sehingga Vena langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan tempat tidur pribadi Alberto setelah Axeloe melewatinya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Dan, memberikan hormat kepada majikannya sambil meletakkan nampan minuman hangat bagi Ziya.


" Ini Tuan minuman hangat untuk Nyonya,," Bilang Vena sambil meletakkan nampan minuman hangat ke atas meja.


" Heemm,," Jawab Alberto mengangguk dan masih merasa kesal dengan kelakuan Axeloe yang sengaja memberikannya sebuah rasa penasaran.


Saat melihat Vena yang sedang meletakkan nampan minuman hangat untuk Ziya, seketika Ziya terbangun dari tidurnya dan Alberto langsung saja menyuruh Vena memberikan minuman hangat itu kepada dirinya.


" Sayang kau sudah bangun ?" Tanya Alberto pada Ziya sambil tersenyum.


" Heemm, aku haus,," Gumam Ziya masih dengan wajah kantuknya.


" Iya ini minuman hangat khusus untukmu sayang, supaya kau tidak merasa mual lagi,," Bilang Alberto sambil meminta minuman hangat kepada Vena.


Dengan segera Vena memberikan minuman hangat itu kepada Alberto dan Alberto sendiri meminumnya sedikit sebelum diberikan langsung kepada Ziya. Sesaat Ziya tersenyum melihat kelakuan Alberto yang begitu memproteksi dalam hal sebuah makanan ataupun minuman.


" Ini sayang,," Ucap Alberto yang memberikan minuman hangat itu kepada Ziya.


" Terima kasih,," Gumam Ziya menerima gelas minuman hangat dari Alberto.


Vena, tersenyum ketika melihat keharmonisan yang sedang terjadi di antara kedua majikannya ini. Dan, Vena sendiri sebenarnya Vena ingin menyampaikan sebuah informasi kepada Alberto tentang apa yang telah dilihatnya. Hal itu diurungkannya terlebih dahulu karena, terlihat Alberto sedang menyibukkan dirinya dengan merawat Ziya. Sehingga Vena harus menyimpan rahasianya terlebih dahulu untuk saat ini.


****