
Sementara itu di dalam kamar Ziya merasa bahwa perbuatannya untuk mendapatkan bukti rahasia yang diucapkan oleh Martin itu salah, sehingga saat ini Ziya menangis tanpa henti, karena, telah membuat Alberto marah akan kelakuannya itu.
" Alberto,, hiks, aku minta maaf, kalau aku salah, aku tidak akan mengulanginya lagi, hiks, hiks,," Ucap Ziya yang menangis sesenggukan sendiri di dalam kamarnya.
" Aku berjanji tidak akan melakukan apapun tanpa sepengetahuanmu,, aku salah maafkan aku,," Ucap Ziya lagi yang masih saja menyalahkan dirinya sendiri.
" Jika, aku tahu kalau kau akan marah seperti ini padaku, aku tidak akan berani melakukannya, tolong jangan kurung aku, Alberto aku mohon,, hiks,,, hiks,,, hiks,,," Bilang Ziya lagi yang terduduk lemah di atas lantai sambil berusaha menepuk-nepuk pintu.
Bagaikan anak kecil yang sedang menangis karena, telah dihukum melakukan kesalahan. Karena, sudah terlalu banyak mengeluarkan air matanya dan terlalu berat memikirkan sesuatu akan ucapan yang dilontarkan Alberto padanya itu, sehingga membuat Ziya tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya ini.
" Aaakkkhh, sakit,," Bilang Ziya saat merasakan sakit di kepalanya.
" Mama, tolong Ziya,, sakit, sakit,," Ucap Ziya lagi yang berteriak merasakan sakit yang begitu amat dalam di kepalanya.
Karena, terlalu merasakan sakit di kepalanya, hingga membuat mata Ziya berkunang-kunang dan Ziya seakan melihat sesuatu yang pernah terjadi pada dirinya dulu. Sambil menahan rasa sakit di kepalanya, Ziya seperti merasakan sesuatu yang pernah ada.
Ziya melihat apakah dirinya atau Zoya yang berlari di kejar beberapa lelaki hingga membuat dirinya tertangkap dan akhirnya bisa melawan sedikit perlakuan lelaki yang ingin memper-kosanya itu. Saat itu Ziya seperti melihat bahwa dirinya atau Zoya yang dikejar dan tidak sengaja ditolong, namun, saat ditolong ternyata Ziya melihat sosok laki-laki yang wajahnya mirip dengan Alberto.
Lalu, karena, begitu merasakan sakit yang bertambah membuat tubuhnya menjadi lemah akhirnya Ziya terbaring di atas lantai dan tak sadarkan diri.
Sementara itu, Alberto yang masih berada di ruangan CCTV, melihat yang sedang memperbaiki sistem rekaman CCTV menjadi normal kembali terkejut melihat keadaan Ziya yang terkulai lemah di atas lantai.
" Oh My God Ziya,," Teriak Alberto yang sangat terkejut ketika melihat Ziya terkulai lemah di atas lantai kamarnya.
Alberto teringat akan sesuatu yang pernah terjadi dulu pada Ziya, dimana Alberto dengan sengaja mengurung Ziya di dalam kamar dan saat itu terjadilah peristiwa yang sangat mengenaskan terhadap Ziya.
" Ya ampun, maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk memarahimu,," Bilang Alberto sambil berlari yang merasa cemas akan kondisi Ziya.
Sambil memikirkan kesalahannya terhadap Ziya, Dengan segera, Alberto meninggalkan ruangan CCTV dan berlari sekencang mungkin melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya Ziya.
Semua pengawal Alberto kaget ketika melihat Tuan Besarnya ini yang berlari sekencang mungkin dari ruangan CCTV langsung menuju kamar istrinya itu.
" Ada apa Tuan ?" Tanya salah satu pengawal yang menjaga tepat di depan pintu kamar Ziya.
Alberto sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan yang disampaikan oleh pengawalnya itu dengan segera Alberto membuka pintu kamar Ziya yang terkunci dari luar dan mendorong pintu itu. Alberto terkejut saat melihat tubuh Ziya telah terbaring lemah di atas lantai.
" Oh God sayang, Maafkan aku,," Ucap Alberto yang segera langsung menggendong tubuh Ziya.
" Ada apa Tuan ?" Tanya pengawal Alberto yang ikut masuk ke dalam kamar Ziya.
" Tutup pintunya,," Teriak Alberto yang terdengar sangat marah pada pengawalnya ini.
Karena, merasa lengah atas kejadian pada majikannya itu dan sudah mendengar perkataan yang diperintahkan Alberto untuk menutup pintu kamar. Dengan segera pengawal itu keluar dan menutup pintu kamar majikannya ini.
Dengan cepat Alberto menggendong tubuh Ziya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Setelah meletakkannya dengan begitu lembut, Alberto segera naik ke tempat tidur dan sedikit menepuk-nepuk pipi Ziya yang sudah tidak sadarkan diri ini.
" Sayang, sayang, apa yang terjadi padamu" Tanya Alberto sambil mengusap lembut wajah Ziya.
Alberto melihat dengan jelas bahwa Ziya sepertinya menangis merasa bersalah akan perbuatannya itu, namun, Alberto sengaja mengurungnya itu, karena, Alberto takut Ziya dalam bahaya saat melakukan perbuatannya itu tanpa sepengetahuan dirinya.
" Sepertinya dia sudah menangis sangat lama, maafkan aku sayang, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menghukummu, aku hanya takut akan banyak bahaya yang menimpamu,, aku tidak mau kehilanganmu,," Bilang Alberto yang merasa bersalah pada perbuatannya terhadap Ziya.
" Oh Ziya bangunlah, aku mohon, aku berjanji aku tidak akan mengurungmu lagi,, Sayang bangun,," Bilang Alberto yang mengusap-ngusap wajah Ziya.
Oleh sebab itu, Alberto sangat kesal atas kelakuan Ziya ini. Karena, sudah melihat keadaan Ziya yang begitu lemah seperti ini, membuat Alberto juga merasa salah telah menghukum Ziya yang dikurung di dalam kamarnya.
Karena, merasa sudah cukup lama untuk menyadarkan Ziya, tapi, Ziya sama sekali tidak sadarkan dirinya, hingga Alberto segera mengambil minyak khusus yang digunakan untuk tubuh Demian, setelah Demian mandi (minyak telon) di atas meja rias kamar ini.
Alberto segera mengoleskan minyak telon itu tepat dekat cuping hidung Ziya. Namun, Ziya belum juga sadar. Melihat Ziya belum sadarkan diri itu, sehingga membuat Alberto berinisiatif untuk memercikkan sedikit air di wajah Ziya.
" Apa yang harus kulakukan, kenapa Ziya belum sadar juga,," Ucap Alberto panik akan keadaan Ziya yang belum sadarkan diri itu.
" Ya, aku harus mengambil sedikit air untuk menyadarkannya,," Bilang Alberto langsung turun dari tempat tidur dan segera melangkah menuju kamar mandi.
Saat di kamar mandi, Alberto segera mencari sesuatu untuk membawa sedikit air. Alberto melihat ada sebuah cangkir yang selalu digunakan oleh Demian untuk gosok gigi. Dengan menggunakan benda itu, Alberto segera mengisinya dengan air yang cukup dingin, setelah selesai Alberto kembali ke kamar dan naik ke tempat tidur.
" Maafkan aku sayang, jika aku menyiram wajahmu memakai air dingin ini." Bilang Alberto sambil menyiram air tepat di wajah Ziya.
Karena, merasa sensasi yang begitu dingin di wajahnya membuat Ziya sedikit lemas akan air yang masuk ke dalam hidungnya, hingga Ziya tersadar dari pingsannya dan bersin atas perbuatan yang dilakukan oleh Alberto ini.
" Haaacchhiiimm,," Suara Ziya yang spontan bersin, karena, merasa ada air yang masuk ke dalam hidungnya.
Saat Ziya sadar dari pingsannya itu, dengan spontan Alberto langsung memeluk tubuh Ziya dengan sangat erat. Ziya merasa bingung akan tindakan Alberto padanya, Ziya merasa aneh dengan kelakuan Alberto ini, sehingga dengan tubuh lemahnya Ziya hanya bisa mendengarkan semua perkataan yang dikatakan Alberto saat memeluk tubuhnya.
" Aaaahhhhh akhirnya kau sadar juga sayang,," Bilang Alberto yang memeluk tubuh Ziya dengan erat.
" Maafkan aku, maafkan aku yang telah melakukan ini, aku tidak bermaksud untuk menghukummu sayang, maafkan aku maafkan aku,," Ucap Alberto yang mengelus-elus rambut Ziya dari belakang hingga membuat Ziya bingung atas ucapannya itu.
Karena, merasa heran dengan sikap yang dilakukan oleh Alberto ini dan merasa bingung dengan keadaan dirinya yang tersadar karena, wajahnya disiram oleh Alberto. Dengan suara lemah Ziya memanggil Alberto yang masih memeluknya itu.
" Alberto,," Panggil Ziya dengan nada suara yang terdengar lemah.
" Yeah sayang,," Jawab Alberto yang masih memeluk tubuhnya.
Karena, mendengar ucapan Alberto yang memanggilnya dengan sebutan sayang lagi, Ziya baru tersadar bahwa ia tadi pingsan dan saat ini baru disadarkan oleh Alberto.
" Maafkan aku,," Ucap Ziya dengan suara lembutnya yang masih dalam pelukan Alberto.
" Ssshhhuuttt,, jangan bicara apapun,," Bilang Alberto yang masih memeluk tubuh Ziya.
Karena, merasa tubuhnya masih lemah, akhirnya Ziya hanya bisa terdiam sejenak akan perintahan Alberto yang tidak menyuruhnya bicara. Alberto yang merasa heran kenapa, Ziya terdiam membuat dirinya segera mendongakkan kepalanya dan memastikan keadaan Ziya yang berada dalam pelukannya saat ini.
" Sayang, kau tidak apa-apa ?" Tanya Alberto yang menatap wajah Ziya begitu pucat.
Dengan perlahan Ziya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Alberto padanya itu.
" Aku tidak apa-apa,," Jawab Ziya dengan wajah yang terlihat pucat.
" Maafkan aku, yang telah membuatmu pingsan,," Ucap Alberto yang membuat Ziya sedikit menyunggingkan senyuman manisnya.
" Tidak apa-apa, aku yang salah karena, telah berani ikut campur dalam urusanmu dan melakukannya tanpa sepengetahuanmu,," Jawab Ziya dengan jujur sambil menatap sendu wajah Alberto.
Alberto tersenyum ketika mendengarkan ucapan Ziya seperti ini padanya dan Alberto segera mengambil kedua tangan Ziya dan mengusap lembut tangan yang begitu dingin itu.
" Tidak Ziya, akulah yang bersalah, karena, ego dan rasa cemburuku padamu, membuatku melakukan kesalahan besar terhadapmu, maafkan aku yang telah memarahimu, maafkan aku yang telah menuduhmu berkhianat padaku, maafkan aku yang,,," Ucap Alberto yang mengelus tangan Ziya di wajahnya, namun, sesaat ucapannya itu terputus karena, Ziya menutup mulutnya dengan bibirnya.
CUUPP!!
Ziya mencium lembut bibir Alberto, sehingga membuat Alberto terperangah atas kelakuannya ini.
" Sudah, jangan terlalu banyak meminta maaf atas kesalahan yang kulakukan ini, aku tahu kau marah padaku karena, aku melakukan ini tanpa sepengetahuanmu, tapi, percayalah Alberto aku hanya ingin membantumu,," Bilang Ziya lembut menatap wajah Alberto dengan tatapan sendu.
Alberto tersenyum menatap wajah Ziya yang merasa telah menyesali perbuatannya itu. Namun, Alberto saat ini malah mendukung perbuatannya itu, sehingga membuat Ziya kembali bahagia dan bersemangat lagi.
" Tidak sayang, kau sama sekali tidak salah, dan perbuatan yang telah kau lakukan ini juga tidak salah, oleh sebab itu atas nama keluarga besar Alexandre aku sangat berterima kasih padamu sayang, karena, dengan taktik handalmu ini kau telah mendapatkan sebuah rahasia besar yang selama ini aku cari,," Bilang Alberto sambil memeluk tubuh Ziya lagi.
" Tapi, kenapa kau memarahiku Alberto dan bahkan kau menuduhku,," Ucap Ziya yang merasa bahwa Alberto sangat marah padanya tadi.
" Ssshhhuuttt, aku hanya tersulut emosi sehingga, aku langsung memarahimu, sebenarnya aku cemburu padamu, karena kau telah berani mendekati laki-laki lain tanpa sepengetahuanku,," Ucap Alberto jujur yang merasa sedikit malu terhadap Ziya.
Ziya merasa heran dan aneh dengan ucapan yang dikatakan Alberto saat ini, entah harus bagaimana yang dilakukan Ziya saat ini, apakah Ziya merasa senang atau merasa tidak. Namun, yang jelas Ziya melihat bahwa Alberto sedikit memiliki rasa terhadap dirinya, sehingga setelah mendengar ucapan Alberto yang menyatakan bahwa dirinya cemburu itu membuat Ziya sedikit lega.
" Kau cemburu padaku, Alberto ?" Tanya Ziya langsung pada intinya.
Karena, mendengar ucapan Alberto seperti itu sehingga membuat Ziya merasa bahagia dan langsung memeluk erat tubuh yang berada di hadapannya ini.
" Terima kasih Alberto," Ucap Ziya langsung memeluk tubuh Alberto.
Setelah merasa lega dan cukup Ziya melepaskannya dan mengucapkan janjinya pada Alberto.
" Aku berjanji aku tidak akan melakukan suatu hal lain lagi tanpa sepengetahuanmu, aku akan meminta izin terlebih dahulu padamu untuk melakukan apapun,," Ucap Ziya dengan penuh semangat di hadapan Alberto.
Lalu, Ziya kembali memohon pada Alberto untuk tidak memarahinya.
" Tapi, aku mohon jangan pernah memarahiku lagi dan jangan pernah mengurungku lagi, Alberto,, aku takut jika aku sendirian dan kau sengaja pergi meninggalkan aku dalam keadaan marah,," Ucap Ziya yang terlihat tulus memohon pada Alberto.
Melihat wajah Ziya seperti itu, membuat Alberto merasa terlalu keras terhadap Ziya. Sehingga membuat Ziya merasa takut terhadap dirinya, padahal sebenarnya kelemahan dalam diri Alberto saat ini adalah kehadiran Ziya dan juga Demian.
" Iya sayang, maafkan aku yang sudah memarahimu dan mengurungmu, aku berjanji untuk tidak melakukan itu lagi padamu,," Bilang Alberto yang membelai lembut wajah Ziya.
" Heemmm terima kasih,," Jawab Ziya mengangguk.
Karena, merasa kesalahpahaman di antara mereka telah selesai, Ziya ingin bertanya pada Alberto tentang hal suatu bukti yang ia dapatkan, Ziya ingin mengetahui apakah Alberto langsung menangkap mereka atau melakukan suatu rencana besar terhadap mereka tanpa sepengetahuan semua musuh Alberto ini.
" Eemmm Alberto,," Panggil Ziya lembut pada Alberto.
" Ya sayang ada apa,," Jawab Alberto pada Ziya.
" Eemmm apakah aku boleh bertanya ?" Tanya Ziya dengan perlahan.
Alberto tersenyum ketika mendengar ucapan yang disampaikan oleh Ziya terdengar sangat perlahan itu.
" Jangan takut sayang, aku tidak akan pernah memarahimu lagi,," Jelas Alberto pada Ziya.
" Apakah bukti yang kudapatkan itu membuatmu percaya ?" Tanya Ziya yang menatap wajah Alberto.
" Aku percaya sayang, itu semua adalah bukti yang selama ini aku cari dan sangat sulit untuk kudapatkan dari mulut bajingan itu secara langsung, tapi, aku berterima kasih padamu karena, dengan beraninya kau bermain melawan bahaya untuk mendapatkan bukti ini sayang." Jawab Alberto panjang lebar pada Ziya.
" Oh ya aku harus memberimu peringatan,," Ucap Alberto yang membuat Ziya penasaran.
" Peringatan, peringatan apa ?" Tanya Ziya menatap wajah Alberto dengan heran.
" Jangan lagi melakukan hal yang berbahaya ini sendiri, aku tidak ingin kehilanganmu sayang, kau adalah kelemahanku, jika musuhku itu tau bahwa kau adalah kekuatan dan kelemahanku, mereka akan sangat mudah untuk mengalahkanku,, jadi jangan lagi melakukan hal yang berbahaya ini sayang, aku tidak sanggup jika kau dalam bahaya dan kehilanganmu,," Ucap Alberto lembut yang memberikan peringatan halus terhadap Ziya.
" Heemm, baiklah Alberto, aku berjanji aku tidak akan melakukan suatu rencana apapun tanpa sepengetahuanmu,," Bilang Ziya yang membuat Alberto menjawil hidungnya.
" Bagus,," Bilang Alberto sambil menjawil hidung Ziya.
Lalu, Ziya kembali memberikan pertanyaan lagi pada Alberto dan kali ini Alberto memikirkan terlebih dahulu apa yang harus dilakukannya pada musuh yang ada di dalam rumahnya ini.
" Alberto, apakah kau akan menghukum mereka yang sudah jelas terbukti membunuh Mommy ?" Tanya Ziya yang membuat Alberto sedikit berpikir.
" Sayang yang kau tanyakan ini sudah ada dalam pikiranku, aku juga belum bisa mengambil keputusan untuk menghukum mereka yang sudah jelas-jelas terbukti akan kesalahannya itu, namun, aku belum bisa memberikan hukuman langsung kepada wanita ular itu, karena, aku belum mendapatkan bukti yang validnya sayang,," Ucap Alberto yang mengeluarkan semua unek-uneknya.
" Bukti yang valid, maksudmu seperti apa Alberto ?" Tanya Ziya yang bingung akan ucapan Alberto yang mengatakan bahwa ia belum mendapatkan bukti valid yang sesuai dengan keinginannya itu.
" Bukti valid itu berupa barang bukti yang menunjukkan keaslian dari perbuatan mereka sayang,," Bilang Alberto lagi yang menjelaskan secara detail pada Ziya.
" Barang bukti,," Pikir Ziya sejenak.
Alberto melihat Ziya sedang berpikir, sehingga membuat Alberto langsung menutup pembicaraannya ini, karena, takut akan terjadi sesuatu hal pada Ziya lagi.
" Kau baru saja sadar dari pingsanmu sayang, lebih baik kita tidak usah membahas masalah ini,," Ucap Alberto yang sengaja menutup perbincangannya ini.
Karena, mendengar ucapan Alberto seperti itu, Ziya merasa bahwa Alberto tidak ingin membebani dirinya untuk memikirkan suatu hal yang telah terjadi padanya. Sehingga Ziya dengan segera membujuk Alberto untuk tetap melanjutkan pembahasan masalahnya ini.
" Aaahh, Alberto aku sudah merasa baik dan aku tidak merasakan sakit apapun dalam tubuhku,, aku ingin kau membahasnya padaku juga tentang masalah ini, bukannya aku mau ikut campur, tapi, karena, ini menyangkut keselamatanmu, maka dari itu aku harus mengetahuinya juga,," Ucap Ziya yang membujuk Alberto untuk membahas masalahnya.
" Tapi sayang, aku tidak ingin membebanimu,," Bilang Alberto yang merasa peduli pada Ziya.
" Aku sama sekali merasa tidak terbebani,," Jawab Ziya dengan bawelnya membuat Alberto hanya bisa tersenyum pasrah atas kelakuan Ziya padanya.
" Heemmm baiklah, kita akan membahas masalah ini sampai tuntas sayang,," Bilang Alberto yang kembali menjawil hidung Ziya.
" Sebenarnya, aku langsung bisa menangkap dan menghukum mereka serta membunuh mereka, tapi, kalau hanya sekedar ucapan Martin, maka itu belum cukup untuk membuktikan perbuatan mereka selama ini, aku harus mendapatkan barang bukti dari kejahatan yang pernah mereka lakukan pada Mommy,," Ucap Alberto yang menjelaskan suatu keadaan pada Ziya.
" Dan aku harus membuktikan terlebih dahulu kelakuan wanita ular itu pada Daddy, supaya Daddy tahu bagaimana sifat licik dari istrinya itu, Ziya, dan pastinya untuk membunuh mereka tidak semudah yang kubayangkan, karena, Gladys adalah Mommy kandung dari adik perempuanku sendiri, bagaimana perasaannya jika ia tahu bahwa aku membunuh Mommynya karena Mommynya telah membunuh Mommyku,," Bilang Alberto lagi menjelaskan secara detail pada Ziya.
" Benar juga yang kau katakan, Alberto, selain barang bukti, bagaimana dengan perasaan Alexa, saat mengetahui bahwa Mommynya adalah seorang pembunuh,," Ucap Ziya yang juga ikut berpikir akan masalah ini.
" Namun, jika Daddy telah sadar dan menyetujui usulanku untuk melenyapkan langsung wanita itu, maka aku tidak akan segan untuk membunuh mereka." Bilang Alberto lagi pada Ziya.
" Jadi, walaupun aku sudah mendapatkan bukti rahasia dari mulut Martin secara langsung, apakah kau akan bisa mendapatkan barang buktinya, Alberto ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto.
" Itu yang sedang kucari sayang, jalan pembuka telah kita dapatkan, setelah Axeloe kembali aku akan melakukan rencana ini dengannya, karena, hanya dia yang mampu membuat wanita itu bertekuk lutut, yang terpenting saat ini kita sudah memegang bukti dari Martin secara langsung." Ucap Alberto yang memeluk tubuh Ziya.
" Aku akan membahas bukti yang kau dapatkan ini kepada Axeloe dan ingat kau jangan melakukan tindakan apapun tanpa izin dariku." Ucap Alberto lagi yang mengingatkan Ziya akan kelakuannya itu.
" Heemm baik Alberto,," Jawab Ziya mengangguk.
Ziya hanya bisa mengangguk atas pernyataan yang diucapkan Alberto padanya, namun, Ziya sedikit merasa penasaran dengan Axeloe yang diceritakan oleh Alberto ini. Sangat terdengar sekali bahwa semua musuhnya itu merasa segan dengan sikap Axeloe.
" Alberto, aku merasa penasaran bagaimana dengan Axeloe,," Ucap Ziya yang berada di pelukan Alberto.
" Hehe, dia sangat tampan, arogan dan pendiam, hanya dengan tatapannya saja musuh di depannya langsung tewas,," Ucap Alberto yang membanggakan kehebatan adiknya itu.
Ziya merasa tubuhnya sedikit bergidik ngeri ketika mendengarkan ucapan Alberto yang sedikit menceritakan tentang keadaan Axeloe. Namun, Ziya sangat mengerti bahwa kedua kakak beradik ini merupakan mafia yang terkenal akan kekejamannya itu.
" Oohh, berarti kau kalah akan dirinya Alberto,," Ucap Ziya yang terdengar memuji kehebatan Axeloe.
" Apa, kau mengatakan apa, aku kalah terhadap Axeloe,," Bilang Alberto yang mendongakkan wajah Ziya.
" Yaah,," Jawab Ziya mengangguk.
" Aku tidak kalah darinya sayang cuma aku hanya mengalah darinya, karena, dia adalah adik satu-satunya milikku yang sedari kecil tidak memiliki Mommy, dan Axeloe juga yang telah melihat bagaimana mayat Mommy terakhir setelah pembunuhan itu,," Bilang Alberto yang menjelaskan panjang lebar pada Ziya.
Ziya hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dari Alberto itu, begitu sayangnya Alberto pada adiknya ini, sehingga membuat Ziya merasa penasaran dengan sikap dan karakter dari Axeloe, ya, walaupun Ziya sudah melihat wajah Axeloe dari fotonya, namun, Ziya masih tetap saja merasa penasaran dengan adik Alberto ini.
Seketika, Ziya mulai bertanya lagi.
" Eeemm,, Alberto apakah aku masih boleh untuk membantumu menyelesaikan masalah ini,," Tanya Ziya lagi pada Alberto dengan perlahan.
" Aku sudah katakan jangan lagi melakukan suatu hal yang bisa membahayakan dirimu titik,," Jawab Alberto tegas pada Ziya.
" Heemmm, baiklah," Jawab Ziya mengangguk pelan.
" Tapi, jika aku ingin pergi ke kebun tanaman merah, boleh ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto.
" Boleh, tapi, untuk sekarang masih tetap pergi bersama denganku,," Jawab Alberto secara detail pada Ziya.
" Oke, berarti aku masih boleh membuat racun lagi," Bilang Ziya tersenyum senang.
Sesaat, Alberto mendapatkan telepon dari sahabatnya yang bernama Zavier. Ziya mendengar suara panggilan itu di ponselnya Alberto. Dengan segera Alberto mengangkat ponsel itu, Ziya tahu sepertinya tidak ada waktu Alberto untuk berisitirahat walaupun cuma satu hari. Karena, begitu jelas terlihat bahwa ia selalu sibuk akan pekerjaan maupun masalah yang ada pada dirinya.
****